𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟕 𝐒𝐢𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐋𝐞𝐥𝐚𝐤𝐢 𝐈𝐭𝐮❓

Tiara masuk kamar, wajahnya yang ditutupi cadar terlihat lelah namun bahagia. Ia melepas cadar dan hijabnya, menyisakan rambut hitamnya yang tergerai. Aku melihatnya, ia tidak menyadari bahwa aku sedang mengamatinya, bahwa aku baru saja menyaksikan sebuah rahasia yang ia simpan dariku.

Aku baru keluar dari kamar mandi, berpura-pura baru sampai rumah dan bersih-bersih badan. Aku ingin menanyakan tentang siaran pribadi itu, tentang Bims, dan tentang mengapa ia tidak jujur padaku. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak punya bukti. Aku hanya punya mataku dan sebuah pintu yang sedikit terbuka. Aku memutuskan untuk membiarkan rahasia ini tetap di dalam dadaku. Aku akan menanyakan hal lain, hal-hal yang kulihat di siaran publiknya.

Tiara meletakkan hijab dan cadarnya, lalu duduk di ranjang. "Mas," sapanya, suaranya parau. "Mas sudah lama pulang?"

"Baru aja," jawabku, suaraku terdengar kaku. Aku mencoba tersenyum, tapi rasanya sulit. "Tadi aku nonton kamu live."

Tiara mengangguk, matanya berbinar. "Alhamdulillah, Mas. Tadi ramai banget. Banyak yang beli."

"Kamu tadi kok pakai gamis yang ketat itu?" tanyaku, mencoba terdengar santai, tapi suaraku bergetar. "Bukankah kita sepakat kamu ganti baju?"

Tiara menunduk, memainkan ujung gamisnya. "Iyaa, Mas, maaf. Tadi Adek terlalu senang. Habis itu langsung Adek ganti kok. Mas nonton, kan?"

"Iya, aku lihat kok sayang," jawabku. Aku tidak menonton sampai habis. Aku hanya melihat sampai dia ganti baju. "Tapi... banyak komentar aneh, Dek. Ada yang minta kamu goyangin badan, ada yang bilang nonton sambil coli."

Tiara tertawa kecil. Tawa yang sama yang kudengar di siaran langsungnya. Tawa yang dulu membuatku cemburu, kini membuatku muak. "Ah, Mas mah, mereka cuma iseng. Enggak usah dipikirin. Toh, mereka cuma di sana. Mereka enggak kenal aku, enggak tahu aku di dunia nyata." jawabnya sambil bangkit memelukku.

Aku tidak membalas pelukannya. Aku hanya diam, membiarkan dadaku dipenuhi dengan gejolak amarah dan kebohongan.

Ia memelukku erat, dan pada saat yang sama, ia merasakan sesuatu yang menekan perutnya. Ia terdiam, pelukannya mengendur. Ia melepaskan pelukan itu dan menatapku, matanya yang indah dipenuhi rasa terkejut. "Ih, Mas, kenapa ngaceng?" bisiknya, tawanya pecah. Tawa yang sama yang sering kudengar saat ia sedang live streaming.

Tiara tersenyum, lalu dengan lembut, ia menyentuh penisku. Jantungku berdebar kencang. Ia membuka celanaku membelai penisku, merasakan kekerasan yang tak terduga ini. Ia mengangkat wajahnya, mencium bibirku, ciuman yang lebih dalam, lebih menuntut. Aku membalasnya, menciumnya dengan ganas, merasakan kehangatan dan kebasahan bibirnya.

Ia menuntunku ke atas ranjang dengan senyum menggoda. Setelah pintu tertutup rapat, ia membuka gamisnya perlahan, memperlihatkan kulitnya yang mulus yang membangkitkan gairah. Ia merebahkan diri, menantang dengan tatapan matanya. Aku menatap tubuhnya, hasrat langsung membakar diriku. Aku membelai payudaranya yang kenyal dan besar itu, menciumi lehernya yang jenjang, merasakan setiap debaran nadi istriku yang kini terasa begitu liar.

Aku menindihnya, bibir kami bertemu dalam ciuman panas dan lapar. Lidah kami bertautan, saling menjelajahi. Tanganku bergerak ke bawah, meremas pinggulnya, merasakan lekuk tubuhnya yang sempurna. Namun, di tengah ciuman yang memabukkan ini, bayangan Tiara di layar ponsel kembali menghantuiku. Gamis putih ketat, bra merah menyala, dan bisikannya yang menggoda.

Aku memposisikan diriku di antara kedua pahanya yang terbuka lebar. Ia meraih penisku yang sudah tegang, mengarahkannya tepat ke vaginanya yang basah. Dengan satu dorongan mantap, aku memasuki tubuhnya. Ia mendesah keras, mencengkeram bahuku erat. Aku mulai menggenjotnya perlahan, menikmati setiap gesekan kulit kami.

"Ahh... Mas... enak banget..." bisiknya, suaranya serak penuh hasrat.

Aku mempercepat gerakanku, ritmenya semakin cepat dan dalam. Setiap hentakan pinggulku membangkitkan gelombang kenikmatan yang liar. Aku memejamkan mata, dan fantasiku semakin menjadi-jadi. Tiara, istriku, dengan gamis putihnya yang menantang, tersenyum penuh arti ke arah kamera. Aku membayangkan "Mas Bims" dan ratusan mata lainnya menyaksikan setiap gerak tubuhnya, membayangkan mereka memuaskan diri sambil melihatnya.

"Kamu nakal banget sih, Dek, bikin aku mikir yang enggak-enggak," bisikku di telinganya, suaraku bergetar karena hasrat dan kecemburuan yang bercampur aduk.

Tiara mendongak, menatapku dengan mata penuh gairah. "Emang,. Tapi nakal buat Mas aja kok," balasnya, lalu mencium bibirku dengan ganas. "Tapi kalau ada yang lain yang ikut nikmatin, salah mereka dong, pikirannya kotor."

Kami kembali berciuman, gerakanku semakin cepat, semakin brutal. Aku melampiaskan semua kecemburuan, ketakutan, dan hasrat gelap yang kupendam selama ini. Aku tidak peduli lagi. Aku ingin merasakan puncak kenikmatan ini, meskipun pikiran tentang "mereka" terus menghantuiku.

"Ahh... mass... kamu hari ini enak banget. Kasar, Aku sukaa... aku enakkk..." rintih Tiara, suaranya tercekat.

Aku semakin cepat menggenjotnya, melampiaskan segalanya. "Ahh... ahh... Mas keluar, Dek!"

Tiara memelukku erat, menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Jangan dulu, Mas, Adek masih mau... Ahh!"

Aku mencoba menahan diri, tapi gelombang orgasme sudah di ambang batas. Nafasku memburu, tubuhku menegang. "Mas nggak kuat, Dek... crottt..."

Aku merasakan spermaku memuncrat di dalam rahimnya, sensasi panas yang melegakan sekaligus menyesakkan. Aku ambruk di atasnya, menempelkan wajahku di lehernya yang basah oleh keringat, terengah-engah. Setelah beberapa saat, aku berguling ke sampingnya, lelah dan linglung.

Aku memejamkan mata. "Dek... maaf Mas keluar duluan."

Tiara tersenyum, mengelus rambutku dengan lembut. "Gpp, Mas, Adek juga udah puas kok." Namun, aku tidak yakin dengan ketulusan ucapannya. Ada sesuatu yang mengganjal di hatiku, sebuah pertanyaan yang belum terjawab.

Tiara bangkit, mengambil gamisnya yang tergeletak di lantai, lalu berjalan ke kamar mandi. Pintu tertutup, dan aku hanya bisa mendengar suara gemericik air. Keheningan terasa begitu berat, hanya ada suara napas dan detak jantungku yang berpacu kencang. Aku menoleh, mataku menangkap ponsel Tiara yang tergeletak di atas meja rias, seolah memanggilku.

"Aku harus melihatnya," batinku, hatiku diliputi gelombang dorongan yang tak tertahankan.

Perlahan, aku bangkit, berjalan mengendap-endap, dan meraih ponselnya. Layarnya menyala, dan seperti dugaanku, terkunci. Aku mencoba beberapa pola acak bentuk hati, huruf T tapi tidak berhasil. Frustrasi, aku meletakkan ponselnya, namun sebuah notifikasi dari WhatsApp muncul. Mataku membelalak, membaca nama pengirimnya: "Mas Bims."

Pesan itu terpampang jelas, menusuk mataku.

Mas Bims: Gimana, Dek, sensasinya? Seru kan live tadi? Kamu harus lebih PD. Besok kamu,..... chatnya terpotong, tak bisa ku baca semua di notifikasi.

Emosiku campur aduk. Amarah dan cemburu membakar dadaku. Ia tidak hanya live secara pribadi; ia juga membicarakan dan merencanakan keintiman lebih lanjut. Aku ingin membanting ponselnya. Namun, di sisi lain, sebuah sensasi aneh menjalar di bawah perutku. Sensasi jijik, tapi juga gairah yang tak terhindarkan. Pria ini melihat istriku, ia tahu apa yang Tiara lakukan, dan ia menyemangatinya untuk menjadi lebih liar.

Tiba-tiba, suara pintu kamar mandi terbuka. Jantungku melonjak. Tiara akan keluar! Aku buru-buru meletakkan ponselnya kembali di tempat semula. Aku berjalan cepat ke arah kamar mandi, masuk ke dalamnya, dan menutup pintu.

Aku menyalakan shower, membiarkan air dingin membasahi tubuhku. Aku membersihkan diriku, melakukan mandi wajib dengan perasaan yang hancur. Setelah itu, aku menunaikan sholat Maghrib yang tertunda, lalu sholat Isya. Pikiranku masih dipenuhi bayangan Tiara di depan kamera, dengan gamis putih dan bra merahnya, serta pesan dari "Mas Bims" yang terukir jelas di benakku.

Setelah aku mandi dan membersihkan diri, aku kembali ke kamar. Tiara sudah menungguku. Kami salat Maghrib berjamaah, kemudian makan malam dengan hidangan yang sudah Tiara siapkan. Suasana di meja makan terasa lebih ringan. Kami berbicara tentang hari yang telah kami lalui, tentang jualan Tiara, dan tentang rencana kami di akhir pekan. Setelah makan, kami salat Isya berjamaah.

Selesai salat, kami kembali ke kamar. Tiara sudah berbaring di ranjang, ia menepuk tempat di sebelahnya. Aku mematikan lampu, lalu merebahkan diri di sampingnya. Tiara memelukku.

"Mas, tadi Adek hampir pingsan saking senangnya," bisiknya. "Tadi ada yang transfer hadiah besar banget, Mas."

Ia tidak perlu menyebut nama. Aku tahu itu Bims. Aku tahu hadiah itu untuk siaran pribadi yang ia lakukan, untuk setiap tawa, setiap gerakan, dan setiap bisikan genit yang kulihat. Perutku mual, amarah yang kupendam terasa seperti api. Di balik gamis putih dan bra merah itu, ada sebuah transaksi yang membuatku merasa jijik.

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Lidahku terasa kelu. Aku hanya memeluknya, membiarkan diriku terlelap dalam kelelahan yang luar biasa, dengan rahasia yang tersembunyi di antara kami, membakar hatiku dalam diam.

Bersambungg...


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com