Hari itu, aku terbangun dengan perasaan yang sedikit berbeda. Hari Sabtu, hari libur. Pikiranku tidak perlu diselimuti kecemasan kantor atau kekhawatiran tentang live streaming Tiara. Kami sarapan, dan aku melihatnya tersenyum di balik cadar.
"Mas, hari ini Adek enggak live," katanya, suaranya lembut. "Hari ini Adek mau fokus beres-beres rumah."
Rasa lega yang hangat mengalir di dadaku. "Syukur deh, Sayang," balasku, hatiku sedikit menghangat. Sebuah ide muncul di kepalaku. "Gimana kalau kita jalan-jalan aja? Ke mall? Adek bisa belanja apa pun yang Adek mau, bebas."
Tiara mengangguk, matanya berbinar. "Mau, Mas!"
Setelah istriku beres-beres rumah, kami pergi ke mall. Tiara terlihat senang, ia melihat-lihat hijab dan gamis di toko-toko. Aku membiarkannya memilih apa pun yang ia suka. Setelah puas belanja, kami makan di sebuah restoran. Di tengah makan, Tiara tiba-tiba pamit. "Mas, Adek ke toilet sebentar ya, adek mau pipis."
Aku mengangguk. Namun, satu menit berlalu, lalu lima menit, sepuluh menit. Ia tak kunjung kembali. Perasaan gelisah mulai merayap. Pikiranku mulai melayang, membayangkan hal-hal yang tidak-tidak. Kenapa lama sekali?
Setelah hampir tiga puluh menit, Tiara kembali. Ia duduk di hadapanku, tersenyum. Tapi aku tidak bisa mengabaikan hal lain, gamis yang ia kenakan terlihat sedikit kusut. Khususnya di bagian dadanya. Aku menatapnya, kecurigaan kembali menusuk dadaku.
"Dek, kok gamisnya kusut?" Pertanyaan itu meluncur dari bibirku, suaraku terdengar lebih tegang dari yang kuinginkan.
Tiara tersentak. Senyumnya pudar sesaat, matanya menunduk menatap gamisnya sendiri, lalu ia mengangkat wajahnya, memaksakan sebuah tawa kecil. "Oh, ini. Tadi Adek BAB, Mas. Jadi harus buka gamis, mungkin kusut karena harus buka baju."
Penjelasannya terdengar masuk akal, tapi ada yang salah. Jawabannya terlalu cepat, tawanya terasa hampa. Aku tahu ada sesuatu yang mengganjal. Mengapa ia harus membuka gamisnya hanya untuk buang air? Sebuah kejanggalan kecil itu memicu lonceng peringatan di kepalaku. Kecurigaan yang semula hanya bisikan, kini berubah menjadi raungan. Aku harus mendapatkan bukti. Sekarang.
"Mas ke toilet sebentar ya, Dek," ucapku, berpura-pura santai.
Aku tidak benar-benar ke toilet. Langkah kakiku membawaku ke lorong sepi yang menghubungkan area toilet wanita dan pria. Aku mengintip, mencari jejak, apa pun yang bisa membenarkan atau menyangkal dugaanku. Di dalam toilet wanita, tidak ada siapa pun. Tapi, dari toilet pria, samar-samar kudengar suara bisikan dan tawa.
"...Gila, enggak nyangka ya, cewek tadi. Bercadar tapi gampang banget digodain pake kontol kita! Hahaha!"
"Hoki seumur hidup kita sudah kepake, bro!"
Jantungku serasa berhenti berdetak. Dunia di sekelilingku memudar. Otakku membeku, hanya satu kalimat yang terus berputar: mungkin yang mereka maksud adalah istriku. Amarah dan kepanikan meledak. Aku tidak bisa membiarkannya. Dengan langkah cepat, aku mendekati sumber suara. Dua pria muda terkejut melihat kehadiranku.
"Bang," suaraku serak. "Tadi saya dengar kalian bicara tentang cewek bercadar. Kalian habis ngapain sama dia?"
Salah satu pria itu, yang memiliki tato di lengan, menatapku dengan mata lebar. Wajahnya langsung pucat. "Oh, enggak, Bang! Tadi dia... dia cuma kepleset di depan pintu toilet wanita. Kami cuma bantuin berdiri doang, kok."
Aku tahu dia berbohong. Mata yang menghindari pandanganku, keringat dingin di dahinya. Cerita yang disampaikannya terlalu datar dan terkesan dihafal. Aku tidak akan mendapatkan informasi apa pun dari mereka. Mereka terlalu takut. Aku menatap mereka dengan tatapan dingin, lalu berbalik pergi.
Aku tidak kembali ke restoran. Aku berjalan cepat, aku harus membeli kamera CCTV. Aku harus memantau istriku. Aku harus tahu apa yang sebenarnya ia lakukan di rumah, saat aku tidak ada. Hanya dengan CCTV aku akan mendapatkan jawaban yang pasti. Bukti yang akan mengakhiri semua kecurigaan, ketakutan, dan kegilaan yang kini menguasai diriku.
Aku berjalan cepat, bagai dikejar bayangan. Tujuan utamaku jelas: toko elektronik. Pikiranku kalut, dipenuhi bisikan-bisikan tuduhan dan potongan percakapan yang kudengar. Aku butuh bukti. Segera.
Aku menemukan toko, dan tanpa banyak bertanya atau mempedulikan harganya, aku membeli satu unit kamera CCTV kecil yang tersembunyi. Kotaknya yang ringkas dengan mudah kumasukkan ke dalam kantong belanjaan, di bawah tumpukan pakaian. Alat ini, aku yakin, akan menjadi mataku di rumah. Mataku yang akan menyingkap semua rahasia yang selama ini Tiara sembunyikan.
Ketika kembali ke food court, Tiara masih duduk di meja kami, menungguku. Raut wajahnya dipenuhi kekhawatiran.
"Mas, kok lama? Adek pikir Mas kenapa-kenapa," tanyanya, suaranya terdengar cemas.
"Iya, Dek, maaf," jawabku, memaksakan senyum. Aku berusaha keras agar suaraku tidak bergetar. "Tadi mules. Aku ke kamar mandi dulu, lama banget."
Tiara mengangguk, napasnya terdengar lega. "Yaudah, mau pulang atau jalan-jalan lagi, Mas?" tanyanya. "Bentar lagi sudah Ashar."
"Pulang aja, Dek," balasku. Hatiku terasa berat. Aku tidak bisa lagi bersenang-senang, tidak setelah apa yang baru saja kualami.
Suasana di dalam mobil terasa berbeda. Hening, tetapi penuh dengan ketegangan yang tidak terlihat. Tiara menoleh padaku, senyumnya begitu lembut dan tulus.
"Mas," bisiknya pelan.
"Kenapa, Dek?" jawabku, berusaha menyembunyikan badai di dalam dadaku.
"Aku senang deh," katanya, "Senang karena Mas mau ajak aku jalan-jalan. Senang karena Mas dukung Adek jualan."
"Tentu saja," balasku, kata-kata itu terasa pahit di lidahku. Ia tidak tahu bahwa hatiku remuk, bahwa setiap kata-katanya kini terasa seperti kebohongan.
Tiba-tiba, tangannya mengulur, menyentuh pahaku dengan sentuhan lembut namun berani. Jantungku berdebar kencang. Ia mengusapnya perlahan. "Mas, semalam enak," bisiknya, suaranya parau. "Kamu jadi beda dari biasanya. Adek suka kalau Mas ngajak main yang kayak gitu."
Aku tidak menjawab. Tanganku di kemudi gemetar. Ia tahu. Ia tahu aku menikmati setiap momen itu. Ia tahu aku terhanyut dalam permainan panas itu.
"Tapi... Adek belum puas," bisiknya lagi, suaranya kini terdengar menggoda.
Aku menelan ludah. "Maaf, Dek," bisikku, tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Enggak apa-apa kok, Mas," ia tertawa kecil, tawa yang penuh rahasia dan membuatku merinding. "Nanti, Adek aja ya yang di atas. Biar Adek yang atur. Mas harus bisa puasin Adek malam ini."
Aku menatapnya, mataku melebar. Pikiranku kalut. Amarahku meluap, tetapi pada saat yang sama, hasratku ikut membuncah. Ini bukan lagi istriku yang dulu, yang pendiam dan pemalu. Tiara yang sekarang lebih terbuka, berani menuntut, dan penuh gairah. Namun, aku tidak bisa memungkiri, aku menyukai perasaan ini. Terperangkap dalam perpaduan antara kemarahan dan hasrat, aku hanya bisa mengangguk.
"Tentu saja, Dek."
Malam itu, setelah makan malam, Tiara bangkit dari meja makan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berjalan lurus ke kamar. Aku tetap duduk di sana, membiarkan pikiranku kembali pada percakapan kami di mobil. Aku tahu ia telah berubah, tetapi aku tidak tahu seberapa jauh.
Satu menit, dua menit, tiga menit. Pintu kamar terbuka. Napasku tertahan, mataku membelalak. Di ambang pintu, Tiara berdiri, bukan lagi dalam balutan gamis yang menutupi seluruh tubuhnya, melainkan dengan lingerie yang sangat terbuka. Jilbab dan cadarnya sudah tidak ada.
Lingerie itu begitu transparan, hanya terdiri dari bra nerawang dan celana dalam bertali, dengan renda yang nyaris tidak menutupi apa pun. Aku bisa melihat payudaranya yang besar, putingnya yang menonjol di balik bra tembus pandang itu, dan garis vaginanya yang sedikit tercetak di balik celana dalam transparannya. Aku membeku. Ini bukan Tiara yang kukenal. Ini adalah fantasi yang tiba-tiba menjadi nyata, sebuah sisi liar yang ia simpan rapi dariku.
Tiara tersenyum, senyum yang begitu nakal dan menggoda. "Mas..." bisiknya, suaranya parau, penuh hasrat. "Adek mau godain Mas. Biar Mas makin liar seperti semalam. Ayo, Mas... kita bersenggama."
Jantungku berdebar kencang. Ia mengulurkan tangannya, dan aku, tanpa pikir panjang, meraihnya. Tangannya terasa panas, dan sebuah sensasi aneh menjalar di seluruh tubuhku. Ia menarikku, dan aku mengikutinya, seperti boneka yang digerakkan oleh tali. Aku tahu, ia sudah tidak lagi patuh. Ia kini mengambil alih kendali.
Ia menuntunku ke kamar kami, ke tempat tidur. Di sana, di bawah cahaya lampu, ia terlihat seperti dewi. Aku hanya bisa menatapnya, membiarkan diriku tenggelam dalam amarah, gairah, dan ketidakpercayaan yang membingungkan. Ini adalah Tiara yang baru, Tiara yang kulihat di layar ponselku, dan kini, ia berdiri di depanku, siap untuk menari.
Tiara menarikku ke dalam kamar. Senyum nakal masih menghiasi bibirnya. Ia menuntunku ke ranjang, mendorongku hingga aku terduduk di tepinya. "Duduk yang manis, Mas," bisiknya, suaranya parau. "Malam ini, Adek yang akan jadi bintang untuk mas."
Bersambung...
