Tiara menarikku ke dalam kamar. Senyum nakal masih menghiasi bibirnya. Ia menuntunku ke ranjang, mendorongku hingga aku terduduk di tepinya. "Duduk yang manis, Mas," bisiknya, suaranya parau. "Malam ini, Adek yang akan jadi bintang untuk Mas."
Jantungku berdebar kencang. Tiara berdiri di depanku, membiarkan rambutnya yang tergerai jatuh di bahunya. Ia mulai bergerak pelan, goyangan pinggulnya seolah menari mengikuti irama yang tak terdengar. Lingerie merah menyala yang dikenakannya bergerak bersamanya, memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya. Aku menelan ludah, tidak bisa berkata-kata. Ia begitu berani, begitu genit.
"Mas suka Adek yang kayak gini?" bisiknya, matanya yang indah menatapku, penuh godaan. "Mas suka kalau Adek joget untuk Mas?"
Aku mengangguk, tidak bisa berbohong. Aku membayangkan Tiara, istriku, yang menari di depan kamera, kini menari hanya untukku. Sensasi jijik dan hasrat bercampur jadi satu.
Tiara mendekat, bibirnya menyentuh telingaku. "Adek akan buat Mas ke enakan," bisiknya, lalu tertawa kecil. Tawa itu, tawa yang sama yang kudengar di siaran langsungnya, membuatku merinding.
Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku menariknya, menciumnya dengan ganas. Tiara membalasnya dengan ciuman yang tak kalah panas. Tangannya merayap, melucuti pakaianku satu per satu. Ia mendorongku hingga aku berbaring tak berdaya. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku tenggelam dalam amarah, gairah, dan ketidakberdayaan yang membingungkan.
Tiara membuka celana dalamnya yang sewarna dengan bra, lalu naik ke atasku. Ia melumat bibirku dengan ciuman yang panas dan menuntut, kemudian mengarahkan penisku ke vaginanya. Dengan satu dorongan, ia masuk.
"Ahh..." desahnya, suaranya parau, penuh kenikmatan.
Ia mulai bergerak, pelan-pelan, ritmis, kemudian semakin cepat. Ia begitu beringas. Gerakannya begitu kuat, begitu menuntut, seolah ingin melampiaskan semua hasratnya yang terpendam. Aku hanya bisa berbaring, membiarkan dirinya mengendalikan. Aku memejamkan mata, dan yang terbayang di benakku bukan hanya Tiara. Aku membayangkan Tiara, istriku, yang menari di depan kamera. Aku membayangkan para penontonnya coli sambil melihat istriku. Aku membayangkan mereka melihatku ngentot dengan istriku.
Tiara menciumku, tangannya menangkup wajahku. "Mas.. enak banget.." bisiknya.
"Ahhh... kamu nakal banget, Dek," desahku, suaraku serak, bercampur dengan napasku yang memburu.
Tiara berada di atasku, menguasai. Rambutnya tergerai, menutupi wajahnya yang penuh keringat. Ia menggenjot dengan beringas, penuh hasrat. Aku merasakan tubuh kami berdua melayang, menyatu dalam satu gelombang gairah yang tak terkendali. Aku mencengkeram pinggulnya erat, mendorongnya ke bawah, menikmati setiap hentakan yang liar dan ganas.
"Ahh... Mas... enak..." rintihnya, mencengkeram bahuku erat. "Lebih cepat, Mas... Adek suka kayak gini... Ahhh!"
Aku tidak bisa menahannya lagi. Setiap hentakan terasa begitu dalam, memicu gelombang kenikmatan yang tak tertahankan. Aku merasakan diriku akan mencapai puncak. Aku memejamkan mata, dan yang terbayang di benakku bukan hanya Tiara, tapi juga bayangan Tiara di depan kamera, mengenakan gamis putih ketat, menari untuk pria bernama "Mas Bims".
"Ahh ahh... Mas keluar, Dek!" rintihku.
Aku merasakan spermaku memuncrat di dalam rahimnya, sensasi panas yang melegakan sekaligus menyesakkan. Setelah itu, tubuhku lemas. Tiara ambruk di atasku, napasnya masih terengah-engah. Namun, tak ada desahan kenikmatan yang keluar dari bibirnya. Ia mengangkat kepala, menatapku, dan sorot kekecewaan jelas terlihat di matanya. Aku memejamkan mata, badanku terasa kelelahan yang luar biasa.
"Mas..." bisiknya, suaranya lemah. "Kok sudah?"
"Aku... aku minta maaf, Dek," ucapku.
Rasa bersalah dan malu menyelimutiku. Ia turun dari tubuhku, berjalan turun dari ranjang, dan mengambil ponselnya. Layarnya menyala, memperlihatkan notifikasi dari WhatsApp. Mataku mengikuti gerakannya, tak bisa berpaling. Aku kembali memejamkan mata, badanku terasa kelelahan yang luar biasa. Aku ingin tidur.
Tiara mulai mengetik, jarinya bergerak cepat. Ia kembali ke ranjang, duduk di sampingku, dan menatapku dengan wajah datar. "Mas, Adek enggak puas," katanya, suaranya kini dingin. "Mas enggak bisa puasin Adek."
"Aku... aku minta maaf, Dek," gumamku, menunduk.
Ia tidak menjawab. Ia kembali fokus pada ponselnya, jarinya menari di atas layar. Tiba-tiba, ia berbisik pada dirinya sendiri, "Mas Bims bilang, dia bisa bikin Adek puas..."
Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku mendongak, menatapnya, tetapi ia tidak menatapku. Tatapannya kosong, seolah-olah pikirannya melayang jauh. Ia sudah tidak lagi ada di sini, bersamaku. Ia sudah berada di dunia yang lain, bersama pria itu.
"Siapa 'Mas Bims', Dek?" tanyaku, suaraku bergetar.
Tiara tersentak. Ia menoleh ke arahku, ekspresinya berubah. "Kenapa, Mas?"
"Adek... Adek ngapain dengan dia?"
Tiara tidak menjawab. Ia tersenyum, senyum yang sama yang kulihat saat ia menari untukku. Senyum penuh rahasia dan godaan. "Mas mau tau?" bisiknya. "Mas harus lebih liar lagi. Mas harus bisa puasin Adek."
Ia bangkit dari ranjang, mengenakan kembali lingerie-nya yang kusut, lalu dilapis gamis, jilbab, dan cadar. Ia berjalan ke arah pintu, lalu menoleh padaku, senyumnya masih ada di bibirnya yang tertutup cadar.
"Adek mau live," katanya, suaranya semakin parau. "Adek mau cari yang bisa puasin Adek."
Jantungku serasa jatuh ke perut. Ia berjalan keluar kamar, dan aku hanya bisa berbaring, tak berdaya. Aku tahu, ia sudah tidak lagi patuh. Ia kini mengambil alih kendali sepenuhnya. Ia sudah menjadi miliknya, dan aku, suaminya, hanya bisa menontonnya dari jauh.
Aku mendengar suara pintu studio tertutup, lalu bunyi klik dari kunci. Ia mengunci diri. Aku merangkak ke pintu studio, menempelkan telingaku di sana. Samar-samar, aku mendengar suaranya. Suara yang dulu hanya kudengar dalam bisikan lembut, kini terdengar lantang dan penuh hasrat.
"Halo, Mas-Mas Adek semuanya," sapa Tiara, suaranya parau, penuh gairah. "Malam ini Aku mau main lebih liar. Malam ini Aku lagi pengen basah." bisiknya di kamera, penuh gairah. "Mas Bims, Aku kangen... Aku mau kontol mas bims"
Jantungku serasa dihantam palu. Ia tidak hanya live streaming, ia juga berinteraksi dengan pria itu, memanggilnya dengan sebutan mesra yang tidak pernah ia gunakan untukku. Bahkan berani bicara seperti itu ke Bims. Amarah dan rasa sakit membakar dadaku. Aku ingin mendobrak pintu itu, menyeretnya keluar, dan menuntut penjelasan. Tapi aku tidak bisa. Aku terlalu lemah, terlalu hancur.
Tiba-tiba, suara Tiara berubah. Ia tertawa, tawa yang sama yang kudengar di siaran langsungnya. Tawa itu seperti pisau, menusuk-nusuk hatiku.
"Mas Bims, Adek mau joget ya... Adek mau buka baju ya... Adek mau Mas lihat Adek basah"
"Ahhh... Mas Bims, Adek suka ya, kalau Mas lihat Adek kayak gini," bisiknya, suaranya parau. "Mas bilang Adek seksi kan? Adek suka kalau Mas bilang kayak gitu..."
Aku melihat dari lubang kunci, Jantungku serasa jatuh ke perut. Aku melihat istriku melucuti gamisnya, lalu melemparkannya ke lantai. Ia kini hanya mengenakan lingerie merahnya, yang nyaris tidak menutupi apa pun. Jilbab dan cadarnya masih menempel di kepala. Ia berbalik, membelakangiku, dan melambaikan tangannya. Aku melihat punggungnya yang mulus, dan ia mulai menari. Goyangan pinggulnya begitu sensual, begitu menggoda.
Aku menutup mataku, membayangkan Tiara di depan kamera, melakukan semua yang ia janjikan. Aku membayangkan para penontonnya bersorak, memberikan uang, dan memuji setiap gerakannya. Aku membayangkan "Mas Bims" yang tersenyum, melihat istriku menari telanjang untuknya.
Air mata mengalir dari mataku. Aku menangis, bukan karena sakit hati, tapi karena rasa jijik. Jijik pada diriku sendiri, yang tidak bisa memuaskan istriku. Jijik pada istriku, yang memilih pria lain. Dan jijik pada dunia, yang membuat semua ini terasa benar.
"Mas," bisik Tiara, "bangun, Mas... Kamu kenapa?"
Aku terbangun, jantungku berdebar kencang. Napasku memburu. Aku menatap ke sekelilingku. Kamar kami terang. Ini sudah pagi hari. Tiara ada di sampingku, tangannya menyentuh wajahku dengan lembut. Ia menatapku dengan mata penuh kekhawatiran.
"Mas, kamu mimpi buruk?" tanyanya, suaranya lembut, tidak ada jejak gairah atau kemunafikan.
Aku memejamkan mata, lalu membukanya lagi.
"Aku... aku mimpi buruk," bisikku, suaraku serak.
Tiara memelukku erat. "Enggak apa-apa, Mas," bisiknya. "Adek di sini. Adek enggak akan ke mana-mana."
Aku membalas pelukannya. Aku tahu, ini hanyalah mimpi. Semua ketakutan, amarah, dan kecurigaan itu tidak pernah terjadi. Tapi, meskipun hanya mimpi, rasa sakitnya begitu nyata. Aku tahu, di dalam lubuk hatiku, ada ketakutan tersembunyi. Ketakutan akan kehilangan istriku. Ketakutan bahwa ia akan berubah, dan bahwa aku tidak akan pernah bisa memuaskannya.
Aku memeluknya lebih erat, membiarkan diriku tenggelam dalam kehangatan yang sesungguhnya. Aku tahu, aku harus lebih menghargainya, lebih mencintainya, sebelum mimpi buruk itu menjadi kenyataan.
Bersambung
