𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟏𝟎 𝐀𝐰𝐚𝐥 𝐃𝐚𝐫𝐢 𝐏𝐞𝐫𝐮𝐛𝐚𝐡𝐚𝐧

POV Tiara.
Namaku Tiara, 25 tahun. Jika kalian melihatku sekarang, dengan gamis panjang dan cadar yang menutupi separuh wajah, Kalian pasti percaya aku pernah menjadi seorang santriwati teladan. Aku lulusan terbaik di pesantren, hafal beberapa juz Al-Qur'an, dan mimpiku dulu adalah mengabdikan hidup sepenuhnya untuk agama. Sampai akhirnya, takdir membawaku ke jalan yang berbeda. Aku menikah dengan Dimas, seorang pria yang dijodohkan denganku. Bukan karena cinta yang membara, tapi karena kesepakatan dua keluarga.

Dimas pria yang baik. Saleh, bertanggung jawab, dan mapan. Selama dua tahun pernikahan, kami belum dikaruniai anak. Namun, itu tidak mengubah pandangan orang-orang tentangku. Mereka memujiku, menyebutku "istri idaman."

"Sudah cantik, seksi, salehah lagi," kata mereka.

Aku tersenyum, mengangguk. Ya, aku bangga menjadi istri Dimas. Secara fisik, kami sangat cocok: Mas Dimas yang tampan dan tinggi, dan aku dengan wajah cantik yang kata orang teduh. Ditambah lagi, aku memiliki tubuh yang jadi idaman para pria. Payudaraku sangat besar, 36D, sampai-sampai gamisku tak sanggup menyembunyikan ukurannya. Kulitku putih bersih, perutku ramping, dan pantatku kencang menonjol. Di balik kain-kain longgar yang kupakai, aku tahu aku adalah Tiara yang berbeda, Tiara yang seksi, Tiara yang diinginkan. Dan sejujurnya, aku mulai menikmatinya.

Aku menjalankan semua kewajibanku dengan sempurna. Rumah selalu bersih, makanan selalu terhidang, dan setiap kali Dimas pulang, ia selalu disambut senyum hangat. Namun, di balik semua kesempurnaan ini, ada satu perasaan yang terus menggerogoti: kehampaan.

Hidupku terasa seperti sebuah lingkaran yang tak berujung. Pagi hari, bangun sebelum subuh untuk shalat tahajud dan menyiapkan sarapan. Setelah Dimas berangkat kerja, aku akan membersihkan rumah, lalu membaca buku-buku agama atau mendengarkan ceramah. Sore hari, aku menyiapkan makan malam, menunggu Dimas pulang, lalu kami shalat Maghrib dan Isya berjamaah. Malam tiba, kami tidur. Begitu seterusnya. Rutinitas yang sama setiap hari, setiap minggu, setiap bulan.

Aku tahu, banyak wanita di luar sana yang menginginkan hidup sepertiku. Hidup yang tenang, damai, dan penuh keberkahan. Tapi entah mengapa, aku merasa ada sesuatu yang hilang. Aku merasa seperti sebuah boneka porselen yang cantik, terpajang di etalase, dikagumi semua orang, tapi tidak pernah benar-benar hidup. Aku merindukan gairah. Aku merindukan api yang dulu membakar semangatku. Aku merindukan perasaan damba.

Hubungan kami terasa dingin, seperti dua orang asing yang tinggal di bawah satu atap. Kami berbicara, tapi hanya tentang hal-hal sepele: tagihan listrik, menu makan malam, atau jadwal berobat ke dokter kandungan. Kami tidak pernah berbicara tentang mimpi kami, ketakutan kami, atau hasrat kami. Aku mencoba. Aku mencoba untuk membuka diri. Tapi Dimas selalu menjawab dengan seadanya, seolah-olah ia tidak mengerti apa yang aku rasakan.

"Mas, apa Mas merasa hidup kita sudah sempurna?" tanyaku suatu malam, saat kami sedang duduk di ruang keluarga.

Dimas meletakkan ponselnya, menatapku dengan bingung. "Maksudmu, Sayang? Bukankah kita sudah punya segalanya? Kita punya rumah, mobil, dan insya Allah, Allah akan segera mengkaruniai kita anak. Alhamdulillah, kita tidak kekurangan apa-apa."

"Bukan itu, Mas," kataku, suaraku bergetar. "Maksudku, apa Mas tidak merasa... ada sesuatu yang kurang?"

Dimas hanya tersenyum. "Apa yang kurang, Sayang? Kalau kamu ingin sesuatu, bilang saja. Insya Allah, kalau Mas punya uang, Mas akan belikan."

Aku terdiam. Percuma. Ia tidak akan pernah mengerti. Ia tidak pernah mengerti bahwa apa yang aku inginkan bukan materi. Yang aku inginkan adalah koneksi. Yang aku inginkan adalah perasaan dicintai.

Intimasi fisik kami juga tidak pernah memuaskan. Kami melakukannya karena kewajiban, bukan karena hasrat. Setiap kali kami berhubungan, rasanya seperti sebuah tugas yang harus diselesaikan. Cepat, tanpa gairah, tanpa desahan. Aku tidak pernah merasakan apa-apa. Aku hanya merasakan sebuah kehampaan yang semakin dalam.

Aku mencoba. Aku mencoba untuk membuat kami lebih intim. Aku membeli lingerie baru, mencoba berbagai macam gaya, tapi semua usahaku sia-sia. Dimas hanya menganggap itu sebagai hal biasa, tidak lebih. Ia tidak pernah mencoba untuk memelukku, menciumku, atau membuatku merasakan gairah. Ia hanya... melayaniku. Dan aku, hanya... melayaninya.

Aku ingin merasakan sebuah gairah yang membara. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai, dikejar, didamba. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi wanita yang paling diinginkan di dunia. Tapi aku tahu, itu hanya mimpi. Mimpi yang tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Suatu siang, aku menelepon sahabatku, Silmi. Silmi, adalah satu-satunya orang yang tahu kehidupanku di luar media sosial. Silmi adalah orang yang selalu ada untukku. Dia selalu mendengarkan keluh kesahku, tanpa menghakimi.

"Sil," kataku, suaraku terdengar lemas. "Aku bosan."

Silmi tertawa kecil. "Bosan kenapa lagi, Tiara?"

"Hidupku," kataku. "Aku bosan dengan rutinitas ini. Aku merasa seperti robot. Bangun, masak, bersih-bersih, tidur. Begitu terus."

"Aku mengerti," kata Silmi, suaranya lembut. "Tapi... bukankah itu hidup yang kamu inginkan, Tiara? Hidup yang damai, tanpa masalah."

"Aku ingin masalah," kataku, suaraku terdengar seperti sebuah bisikan. "Aku ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuatku merasa hidup kembali."

Silmi terdiam sejenak. "Kenapa kamu tidak coba jualan online, Tiara? Seperti aku. Siapa tahu kamu suka."

Aku terdiam. Jualan online? Aku? Aku yang selama ini hanya mengurus rumah tangga? Rasanya mustahil. Tapi di sisi lain, ada sebuah dorongan kuat. Sebuah dorongan untuk mencoba sesuatu yang baru.

"Aku nggak tahu apa-apa, Sil," kataku. "Aku nggak punya modal, nggak punya pengalaman."

"Nggak apa-apa," kata Silmi. "Modal bisa kita urus nanti. Yang penting, kamu punya niat. Kamu bisa jualan apa saja. Makanan, baju, jilbab, apa pun yang kamu suka."

Aku berpikir keras. Mungkin, ini adalah jawabanku. Mungkin, ini adalah jalan keluar dari kehampaan yang selama ini kurasakan. Mungkin, ini adalah caraku untuk menemukan kembali diriku. Aku tidak akan bilang kepada Dimas. Aku akan melakukannya di belakangnya, sebagai rahasia kecilku, yang bisa kurasakan, dan kutemukan sendiri.

"Baiklah," kataku, suaraku bergetar. "Aku akan coba."

Silmi tersenyum. "Bagus! Kamu tidak akan menyesal, Tiara. Percayalah. Jualan online itu seru. Kamu bisa kenalan dengan banyak orang, belajar banyak hal, dan yang paling penting... kamu akan menemukan kembali semangatmu."

Aku mengakhiri panggilan, dan merebahkan diriku. Aku menatap langit-langit, pikiranku penuh dengan rencana baru. Aku akan mulai besok. Aku akan mulai dengan jualan mukena. Aku akan meminta Silmi untuk membimbingku, membantuku, sampai aku bisa melakukannya sendiri. Aku tahu, ini akan menjadi sebuah petualangan yang baru. Dan aku, tidak sabar untuk memulai.

Aku merasa sedikit gembira. Perasaan yang sudah lama hilang. Sebuah harapan kecil yang muncul di tengah kegelapan. Aku merasa seperti seorang wanita yang kembali menemukan dirinya. Dan aku tahu, ini baru permulaan.

Bersambung


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com