𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟏𝟏 𝐃𝐮𝐧𝐢𝐚 𝐁𝐚𝐫𝐮 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐞𝐧𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧

 

Aku merasa sedikit gugup. Tangan yang menggenggam cangkir teh di depanku gemetar. Hari ini, aku berencana meminta izin Dimas untuk mulai berjualan online. Bukan hal yang besar, sebenarnya. Tapi bagiku, ini adalah langkah pertamaku keluar dari sangkar emas yang selama ini memenjarakanku. Langkah pertama menuju sebuah kehidupan yang berbeda.

Dimas baru saja pulang kerja, meletakkan tasnya di sofa, dan melonggarkan dasinya. Aku memberanikan diri. "Mas," panggilku, suaraku sedikit tercekat.

Dimas menoleh, menatapku dengan tatapan bingung. "Ya, Sayang? Ada apa?"

Aku menarik napas dalam-dalam. "Aku... aku mau coba jualan online," kataku. "Silmi menyarankan aku untuk coba jualan gamis dan hijab. Boleh, Mas?"

Aku menunggu jawabannya dengan hati berdebar. Aku membayangkan Dimas akan menolak, mengatakan bahwa pekerjaan rumah sudah cukup, atau bahwa aku tidak perlu bekerja. Tapi, yang kudengar adalah hal yang sama sekali berbeda.

"Tentu saja, Sayang," jawabnya, suaranya lembut. "Kenapa tidak? Jika itu bisa membuatmu bahagia, kenapa tidak? Mas akan dukung."

Aku terdiam, tak bisa berkata-kata. Air mataku menetes. Bukan karena sedih, tapi karena bahagia. Dimas mengizinkanku. Ia tidak menolak, ia tidak menghakimi. Ia mendukungku.

Malam itu, setelah makan malam dan shalat Isya, kami kembali ke kamar. Aku memeluknya dari belakang. "Mas, terima kasih," bisikku. "Terima kasih sudah mendukungku."

Dimas membalikkan badan, memelukku erat. "Sama-sama, Sayang. Mas senang kalau kamu senang."

Ia mencium bibirku. Sebuah ciuman yang berbeda dari biasanya. Ciuman yang penuh gairah, penuh hasrat. Aku merasakan tangannya menyentuhku, meraba setiap lekuk tubuhku. Aku merasakan hasratku yang sudah lama terpendam kembali bangkit. Aku membalas ciumannya, mencengkeram bahunya erat, merasakan kehangatan tubuhnya yang membara. Ia menggendongku, membaringkanku di ranjang. Kami berhubungan, tapi kali ini, rasanya berbeda. Penuh gairah, penuh desahan. Namun, meskipun begitu, aku tetap tidak bisa mencapai puncak. Ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang tak bisa kugenggam.

Aku tidak tahu apa itu. Aku hanya tahu, bahwa aku masih merasa ada yang kurang. Seolah-olah, ada sebuah jurang di antara kami, yang tidak bisa kami jembatani.

Keesokan harinya, aku memulai petualangan baruku. Aku meminta Silmi untuk membimbingku. Ia membantuku membuat akun, mengambil foto-foto produk, dan mengajariku bagaimana cara berinteraksi dengan pembeli. Awalnya, aku merasa canggung. Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap. Aku hanya mengunggah foto-foto, menunggu, dan berharap ada yang membeli. Tapi, sehari, dua hari, seminggu, tidak ada yang membeli.

"Kenapa ya, Sil? Nggak ada yang beli," keluhku pada Silmi.

Silmi tersenyum. "Sabar, Tiara. Jualan online itu butuh proses. Kamu harus lebih aktif. Kenapa kamu nggak coba live streaming?"

Aku terdiam. Live streaming? Aku? Aku yang selama ini hanya di rumah, tidak pernah berinteraksi dengan orang asing? Rasanya mustahil. Tapi di sisi lain, aku tahu, ini adalah satu-satunya cara untuk membuat bisnisku maju.

"Aku nggak bisa, Sil," kataku. "Aku malu. Aku nggak tahu harus bicara apa."

"Nggak apa-apa," kata Silmi. "Coba saja dulu. Anggap saja ini sebagai latihan. Kamu bisa mulai dengan santai, perkenalkan produkmu, jawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Santai saja, Tiara."

Aku berpikir keras. Aku tidak mau menyerah. Aku sudah mengambil langkah pertama. Aku tidak akan kembali. Aku harus terus maju.

"Baiklah," kataku, suaraku bergetar. "Aku akan coba."

Siang itu, Dimas sibuk dengan kerjaan nya di kantor, aku masuk ke studio kecilku. Aku mengenakan gamis yang paling cantik, hijab yang paling bersih, dan mengambil ponselku. Jantungku berdebar kencang. Aku menekan tombol Live.

Aku melihat angkanya. Nol. Lalu satu. Lalu dua. Jantungku berdebar kencang. Ada yang menonton. Aku mencoba tersenyum, lalu memperkenalkan diri. "Halo, nama saya Tiara. Hari ini, saya mau memperkenalkan gamis dan hijab koleksi terbaru saya."
Aku merasa sangat canggung. Suaraku bergetar. Aku tidak tahu harus bicara apa. Tapi, perlahan, ada yang mulai berkomentar.

"Kakak cantik sekali, masya Allah."

"Masya Allah, mukenanya bagus banget!"

Aku tersenyum. "Terima kasih," kataku. "Mukena ini terbuat dari bahan katun, adem, dan nyaman dipakai."

Aku mulai berinteraksi dengan mereka. Menjawab pertanyaan mereka. Menjelaskan detail produk. Perlahan, rasa canggungku hilang, digantikan oleh rasa nyaman. Aku mulai menikmati interaksi dengan mereka. Aku menyapa mereka, menanyakan kabar mereka, dan mendengarkan cerita-cerita mereka.

Penjualanku mulai meningkat. Aku bisa menjual dua, tiga, bahkan lima gamis dalam sehari. Aku merasa sangat gembira. Aku merasa... hidup.

Suatu malam, setelah aku selesai live, aku melihat ada pesan masuk dari sebuah akun.

"Kakak cantik. Bajunya bagus banget. Boleh kenalan?"

Aku tersenyum. Aku tidak membalasnya. Tapi entah mengapa, aku merasa senang. Aku merasa diinginkan. Perasaan yang sudah lama hilang. Perasaan yang tidak pernah kurasakan dari Dimas.

Aku tidak tahu, ini akan menjadi sebuah permainan berbahaya. Aku tidak tahu, ini akan membawaku ke sebuah jalan yang gelap. Aku hanya tahu, bahwa aku sudah menemukan apa yang selama ini hilang. Dan aku, tidak akan melepaskannya.

Bersambungg...


Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com