Penjualan semakin meningkat, dan aku mulai dikenal di komunitas penjualan online. Namun, ada satu nama yang selalu mengorbit di pikiranku, sosok yang paling kuingat, yang paling membuatku penasaran, Mas Bims. Ia adalah penonton setiaku, hampir di setiap sesi live, ia selalu ada. Komentarnya selalu paling menarik, dan hadiah yang ia berikan selalu yang paling besar.
Suatu hari, setelah aku selesai live, ia mengirimiku pesan di aplikasi.
"Kakak, makasih ya sudah live," tulisnya. "Aku suka sekali melihat Kakak. Kakak itu cantik bagaikan bidadari."
Aku tersenyum. Hatiku menghangat. Sudah lama sekali aku tidak mendengar pujian seperti ini. Aku merasa dihargai, didamba, diinginkan, sebuah perasaan yang sudah lama kering, yang tidak pernah lagi kudapatkan dari suamiku sendiri.
"Masya Allah, terima kasih, Mas Bims," balasku, jariku mengetik dengan cepat. "Aku cuma berusaha jualan kok."
Ia membalas dengan emoji hati dan senyum, lalu dia minta nomor WhatsApp dengan alasan agar lebih enak kalau belanja. Aku pun memberinya. Percakapan kami berlanjut, dari sekadar bisnis menjadi percakapan pribadi. Ia bertanya tentang hariku, tentang keluargaku, tentang apa yang aku suka. Ia membuatku merasa spesial.
Lambat laun, percakapan kami berubah. Mulai dari obrolan ringan, menjadi obrolan yang lebih nakal. Ia mulai menggodaku.
"Kakak, aku penasaran deh," tulisnya. "Kenapa Kakak selalu pakai cadar? Kenapa tidak dibuka saja? Pasti wajah Kakak cantik sekali."
Jantungku berdebar kencang. Aku tahu, ini adalah sebuah godaan, sebuah godaan yang harus kutolak.
"Maaf, Mas Bims," balasku, mencoba untuk tetap sopan. "Ini sudah menjadi bagian dari diriku. Aku tidak bisa membukanya."
Ia tidak memaksaku. Ia hanya tersenyum. "Iya, aku mengerti, Kakak. Aku hanya penasaran. Tapi, boleh tidak... Kakak pakai baju yang lebih ketat? Supaya aku bisa lihat lekuk tubuh Kakak. Aku penasaran, Kakak pasti punya badan yang bagus. Nanti pasti lebih laris juga jualannya karena banyak yang nonton."
Aku terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Di dalam diriku, rasa marah karena direndahkan bertarung melawan rasa jijik pada diriku sendiri, namun di bawah semua itu, ada hasrat terlarang yang mulai menyala. Aku tidak tahu, mana yang harus kuikuti. Aku mengabaikan pesannya. Namun, pikiran tentang gamis ketat dan lekuk tubuh terus menghantuiku.
Suatu hari, aku pergi ke sebuah toko pakaian. Aku melihat sebuah gamis putih yang begitu cantik. Tepat di sebelahnya, tergantung sebuah bra berwarna merah, warnanya begitu terang, begitu berani, seolah berteriak menantang. Warna itu, yang selama ini tabu bagiku, kini terasa memanggil, memancing. Aku membelinya. Aku tidak tahu, ini adalah awal dari sebuah permainan berbahaya.
Saat aku live, aku memutuskan untuk mengenakan gamis putih itu dan bra merah yang baru kubeli. Aku menyukai warna ini. Aku menyukai bagaimana warna ini membuat kulitku terlihat lebih terang. Aku menyukai bagaimana warna ini membuatku merasa lebih berani.
Saat aku live, Mas Bims mengirimiku hadiah elang yang sangat besar, hadiah termahal yang pernah kuterima. Jantungku berdebar kencang. Ia lalu mengirimkan pesan di komentar.
"Kakak, boleh enggak hijabnya ke atasin, tunjukin hatinya? Aku penasaran."
Aku tahu, apa yang ia maksud. Ia meminta aku membuka hijabku, menunjukkan dadaku yang besar menonjol dibalik gamis. Aku terdiam. Aku merasa sangat bingung. Di satu sisi, aku ingin menolaknya. Di sisi lain, aku ingin mendapatkan lebih banyak hadiah dan pujian. Aku mencoba untuk tersenyum. "Maaf ya, Mas Bims. Hati Kakak cuma buat suami Kakak. Kakak gak bisa tunjukin ke yang lain."
Tak lama kemudian suamiku Chat menyuruhku untuk ganti pakaian, karena pakaian yang aku kenakan terlalu kecil, terlalu mencetak jelas bentuk badanku, aku pun berganti pakaian. Di sisi lain aku merasa sudah melakukan kesalahan besar. Kemudian aku mengakhiri sesi live-ku dengan alasan yang tidak jujur. Aku mengatakan kepada penonton bahwa aku merasa tidak enak badan. Aku tahu, ini adalah sebuah kebohongan, sebuah kebohongan yang kulakukan untuk menyelamatkan diriku dari godaan.
Aku merebahkan diriku, pikiranku masih dipenuhi dengan pesan dari Mas Bims. Tiba-tiba, ada notifikasi WhatsApp masuk.
"Kakak, makasih ya tadi sudah menuruti mauku. Kamu tahu, kan? Aku suka gamis putihmu. Apalagi bra merahnya."
Aku terdiam. Jantungku berdebar kencang. Bagaimana ia tahu aku memakai bra merah? Aku langsung panik, membuka galeri ponselku. Aku memutar ulang video live tadi, memperbesar setiap detail. Di balik kain gamis putih yang transparan, samar-samar terlihat lekuk bra merah yang kupakai. Aku merasa malu, tapi juga merasa aneh, ada sensasi yang aneh.
Mas Bims mengirimkan hadiah, transferan bank dengan jumlah yang lebih besar.
"Ini hadiah buat Kakak. Kamu harus lebih PD. Kamu cantik, Kak. Kamu pantas untuk dihargai."
Pesan itu membuatku merasa dihargai. Ia tidak hanya melihatku sebagai seorang penjual, tapi sebagai seorang wanita. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku menyukai perhatian ini. Aku tahu, ini adalah sebuah kesalahan. Tapi aku ingin tahu, sejauh mana aku bisa melangkah. Aku ingin tahu, apa yang akan terjadi jika aku mengikuti kemauan Mas Bims.
Malam itu, setelah Dimas terlelap, aku berbaring di sampingnya. Kehangatan tubuhnya tidak mampu menghapus kekecewaan yang kurasakan. Kami baru saja bersenggama, tapi seperti biasa, semuanya berakhir begitu cepat. Aku tahu ia sudah puas, tapi aku tidak. Aku masih merasa kosong, hasratku tidak pernah terpuaskan.
Dorongan itu kembali datang, kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Tanpa ragu, aku bangkit, masuk ke studio live-ku, dan menutup pintu dengan perlahan. Aku menyetel kamera. Aku melepaskan pakaianku dan mengenakan gamis putih, lalu menutupi tubuhku dengan bra merah yang begitu kontras.
Aku menarik napas dalam-dalam. Lalu, dengan jari yang bergetar, aku membuat sesi live privat. Hanya satu nama yang bisa melihatnya Mas Bims.
Ia langsung bergabung. Aku menyapanya, suaraku bergetar, "Halo, Mas Bims. Maaf ya, Kakak tadi buru-buru. Sekarang, Kakak cuma buat Mas Bims, kok."
Mas Bims tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengirimkan emoji senyum, lalu emoji tangan seperti menunjuk ke arah payudaraku.
"Aku mau lihat Kakak goyangkan dadanya," tulisnya. "Buat aku."
Jantungku berdebar kencang. Aku ingin menolak, tapi di sisi lain, aku ingin melakukannya. Aku ingin ia melihatku. Aku ingin ia tahu, aku bisa melakukan apa pun. Aku mengangguk. Dengan malu-malu, aku mulai menggerakkan bahuku, menggerakkan payudaraku, membuat gamis putih itu bergerak mengikuti irama.
"Suka, Mas?" bisikku, suaraku parau, penuh hasrat.
"Suka banget," balasnya, ia mengirimkan hadiah Singa yang sangat besar.
Aku terdiam, membeku di depan kamera. Jantungku berdebar tak karuan. Ini adalah jumlah yang sangat besar, lebih dari yang pernah kubayangkan. Rasa kaget, gembira, dan takut bercampur aduk.
Mas Bims lalu mengirimkan pesan lagi. "Sekarang, buka cadar kamu, ya? Aku pengen lihat wajah cantikmu."
Aku menggeleng, meskipun ia tak bisa melihatnya. "Maaf, Mas Bims. Aku enggak bisa. Aku janji enggak akan buka cadar."
Ia tidak memaksaku. Ia hanya mengirimkan pesan lain, yang membuatku menahan napas. "Yaudah. Kalau gitu, naikin jilbabnya, Dek. Remas payudaramu dari luar gamis."
Aku ragu. Tanganku gemetar. Permintaan itu terlalu vulgar, terlalu intim. Ini sudah jauh melampaui batas. Aku mencoba menolak.
Tiba-tiba, ada notifikasi WhatsApp masuk. Itu dari Mas Bims. Ia mengirimkan sebuah foto. Mataku membelalak melihat apa yang ada di sana. Penisnya. Sangat besar, dua kali lipat dari milik suamiku.
Mas Bims: Aku lagi coli, Dek. Please, kasih suguhan yang bagus. Aku mau crot sambil lihat kamu.
Darahku berdesir. Aku merasa jijik, tapi pada saat yang sama, sebuah hasrat aneh menyelimuti diriku. Aku mematikan notifikasi itu, kembali ke layar live, dan menatap mata Mas Bims di layar. Aku tahu, aku tidak boleh melakukannya. Tapi, dorongan untuk menyenangkan orang yang baru saja memberiku hadiah besar itu begitu kuat, terlebih karena aku masih menyimpan kekosongan dari ketidakpuasan dengan suamiku tadi.
Dengan tangan gemetar, aku menarik jilbabku ke atas, memperlihatkan bagian atas payudaraku yang tertutup gamis. Perlahan, aku mengelus dadaku lembut, merasakan sensasi aneh yang belum pernah kurasakan. Sentuhan itu tidak hanya di kulit, tapi juga di hatiku, sebuah sensasi yang membuatku merasa diinginkan.
Aku melakukannya hanya sebentar. Kemudian aku berkata, "Udah ya, Mas. Cukup segini aja. Jangan minta lebih lagi. Besok-besok aja, kalau Mas kirim gift lagi, baru lebih. Tapi jangan minta aku buka cadar ya."
Di layar, Mas Bims tidak membalas dengan teks. Suara seraknya terdengar melalui fitur suara di whatsapp, "Jangan dulu, Sayang, aku mau lihat kamu remas-remas lagi... Please aku mau keluar, ahh..."
Suara itu, dengan perpaduan antara hasrat dan keputusasaan, membuatku bingung. Ini terlalu jauh. Ini bukan aku. Semua ini terasa asing, seperti aku sedang menonton film dengan diriku sendiri sebagai pemeran utamanya.
"Maaf, Mas, aku enggak bisa. Ini sudah terlalu malam..." ucapku, suaraku memohon. "Aku enggak mau Mas minta lebih. Itu aja, ya?" Nada bicaraku berubah, menjadi suara yang sama yang pernah kudengar dari diriku sendiri saat aku menguping pembicaraan masa lalu. "Nanti ya, kalau Mas sudah kirim hadiahnya... Adek janji... Adek kasih yang lebih dari itu. Tapi sekarang, jangan minta lebih ya, Mas... yang lain hanya untuk suamiku..."
Aku mengakhiri live pribadiku, mematikan ponselku, dan terdiam. Aku tersenyum, lalu tertawa kecil, tawa hambar yang terasa asing di telingaku. Aku merasa bersalah. Aku merasa kotor. Aku tahu, aku sudah jauh melangkah, menyeberangi batas yang seharusnya tak pernah kulewati. Tapi, di sisi lain, aku merasa hidup. Aku merasa diinginkan, dihargai, dan punya kendali..
Bersambungg...
