Pria tua itu meletakkan ponselnya kembali ke tripod, tetap dalam mode merekam, dengan fokus kamera pada tubuh telanjang Tiara. Setelah itu, ia berbalik ke Tiara, memegang bahunya dan membalikkan tubuhnya hingga menghadap tembok membelakangi cctv ku. Tiara memejamkan mata, kepalanya tertunduk.
Dari layar ponselku, aku melihat punggung Tiara yang mulus. Pria tua itu tersenyum puas, lalu mulai mengelus punggungnya dari atas ke bawah. Tangan kekarnya turun perlahan, menyentuh pinggang Tiara, lalu berhenti di pantatnya yang besar. Ia mengelus pantat Tiara, meremasnya pelan, lalu menamparnya. Suara tamparan itu terdengar keras, tapi Tiara tidak bersuara. Ia hanya mendesah, tubuhnya bergetar.
Tiara mendesah, "Ahhh… Iyahhh… Ahhh…”
"Kau suka?" bisik pria tua itu serak. "Pasti Mas Bims suka melihatmu seperti ini di video nanti."
"Mas Bims… ahhh… iyah suka..." jawab Tiara.
Pria tua itu tersenyum puas, lalu memegang bahu Tiara. Ia menurunkannya perlahan hingga Tiara berlutut di lantai. Pria itu menempelkan tubuhnya dari belakang, menggesek-gesekkan penisnya ke pantat Tiara. Sesekali, ia memukulkan penisnya ke pantat Tiara.
"Ahhh.. enak, Pak," desah Tiara, suaranya serak. "Terus... lebih kencang..."
Pria tua itu semakin brutal. Ia menampar pantat Tiara, lalu mencium dan menjilatinya. Tiara mendesah, menikmati setiap sentuhan. Pria tua itu kemudian membisikkan sesuatu pada Tiara.
"Mas Bims minta yang lebih," bisiknya. "Dia mau kamu melayaniku, dia mau kontol besar ini masuk ke memek kamu."
Tiara menggeleng, air matanya mengalir deras. "Tidak," bisiknya. "Aku tidak mau."
Pria itu tersenyum. "Mas Bims bilang, dia akan bayar mahal. Lima ratus juta."
Mata Tiara membelalak. Pria tua itu mendekatkan bibirnya ke telinga Tiara, dan membisikkan sesuatu. Tiara terdiam, lalu perlahan mengangguk.
Aku menatap layar ponselku, duniaku seolah berhenti berputar. Tiara perlahan jongkok, wajahnya kini sejajar dengan penis pria tua itu. Aku tidak bisa melihat apa yang sedang ia lakukan karena tubuh pria itu menghalangi, tapi aku tahu apa yang terjadi. Tangannya bergerak-gerak, mengocok penis pria itu. Pria itu mendesah tertahan, kepalanya mendongak, matanya terpejam.
"Ahh… Ahhh… lebih kencang," desah pria itu. "Tanganmu lembut banget… ahhh…"
Tanganku mengepal, hasrat dan jijik bercampur aduk. Aku tahu, aku telah kehilangan kendali, tapi aku menyukai ini. Aku menyukai permainan ini.
Pria itu kemudian menggunakan tangan kirinya untuk memegang belakang kepala Tiara. Sementara itu, tangan kanannya memegang penisnya sendiri, menggesekkan penisnya ke cadar Tiara. Aku bisa melihat keringat membasahi dahi pria itu, dan ia terus mendesah, mengontrol setiap gerakan.
"Ahh… enak sayang… lebih cepat…" bisik pria itu, suaranya serak. "Pasti Mas Bims suka ini… Ahh…"
Kemudian, tangan kanan pria itu beralih ke payudara istriku, meremasnya. Penisnya terus dikocok oleh istriku, dan sesekali di usap-usapkan ke wajahnya. Mereka berdua terlihat sangat menikmati, tenggelam dalam perbuatan mereka.
"Gimana, sayang, kontolku?" bisik pria tua itu, suaranya serak. "Kamu suka enggak?"
Tiara mengangguk, napasnya tersengal. "Besar sekali," bisiknya.
Pria itu menyeringai. "Gimana kalau kontol besar ini masuk ke memek kamu? Pasti kamu keenakan."
Tiara menggeleng, air mata mengalir dari matanya. "Aku enggak bisa, Pak. Aku takut."
"Ayolah, sayang," bisik pria itu, suaranya penuh rayuan. "Aku akan pelan-pelan. Aku akan membuatmu merasa keenakan. Tenang aja gak akan sakit, kamu akan ketagihan."
Pria itu semakin brutal, tangan kanannya meremas payudara Tiara semakin kencang, lalu mencium dan menjilatinya. Tiara mendesah, menikmati setiap sentuhan. Kemudian, tangannya memegang penisnya, menamparkannya ke wajah istriku, dan mengusap-usapkan ujung penisnya ke mata istriku.
Tiara menggeleng, "Enggak bisa, Pak. Udah gini aja, ya... Ini sudah terlalu jauh," bisiknya, suaranya parau.
Pria tua itu menghentikan gerakannya. Ia menatap Tiara dengan mata penuh nafsu, lalu tersenyum. "Sayang, ini belum terlalu jauh. Ini masih permulaan... nanti akan lebih nikmat dari ini kalau kamu mau," bisiknya.
Tiara menggeleng lagi. "Enggak bisa, Pak. Aku... aku takut."
"Jangan takut," bisik pria itu, suaranya lembut. "Aku enggak akan memaksa kamu, tenang aja."
Tiara terdiam, menatap pria itu dengan tatapan kosong. Pria itu menyentuh dagunya, mengangkat wajahnya, lalu mencium bibirnya dibalik cadar. Tiara tidak melawan. Ia hanya memejamkan mata, membiarkan dirinya pasrah.
Aku mengelus penisku dari luar celana. Aku ereksi lagi, meskipun tadi sudah ejakulasi dengan Evelyn. Hatiku sangat penasaran dan menyukainya, seakan menyuruh Tiara untuk mau melakukan apa pun yang pria tua itu mau. Fantasiku yang paling gelap kini menjadi kenyataan, dan aku tidak mau menahannya.
aku melihat pria tua itu memegang tangan Tiara, menyuruhnya berdiri. Tiara menurut, dan dengan gerakan gemetar, ia menendang celana dalamnya yang tadi berada di lutut hingga terlepas sepenuhnya. Ia kini benar-benar telanjang, hanya mengenakan jilbab lebar dan cadar yang menutupi wajahnya.
Pria itu kemudian membalikkan badan Tiara, membuatnya menghadap tembok. Ia memeluk Tiara dari belakang. Tangan kanannya merengkul ke payudara, meremasnya dengan brutal. Tangan kirinya turun, merangkul ke vagina istriku. Kedua tangannya bergerak, meremas payudara dan mengelus vagina Tiara.
"Ahhh.. enak, Sayang?" bisik pria tua itu, suaranya serak. "memekmu sudah basah sayang"
Tiara tidak menjawab, hanya mendesah. "Ahhh.. ahhh.. Iyahh. lebih kencang, Pak.. Ahhh.."
Pria itu menyeringai, "Ahhh.. aku suka.. ahhh.. baru gini aja udah ke enakan banget yaa."
Pria itu kemudian mencium leher Tiara yang dibalut jilbab. Bibirnya bergerak turun ke pundak, lalu menyusuri punggungnya yang mulus. Tiara mendongakkan kepala ke atas, menikmati perbuatan pria itu. Tangannya yang tadinya meremas payudara kini beralih ke pantat Tiara yang besar. Menampar pantatnya kemudian memegang penis besarnya untuk di gesek-gesekan ke pantat mulus tiara.
"Ahh.. ahhh..," desah Tiara. "Enak.. Pak.. ahhh.."
aku melihat pria itu terus menggesekkan penisnya ke pantat istriku. Tangan kirinya masih terus mengelus vagina istriku, dan Tiara tidak menolak. Ia hanya mendesah, menikmati setiap sentuhan yang diberikan. Terkadang, pria itu menampar-namparkan penisnya ke pantatnya, membuat suara "plak...plak...plak" terdengar nyaring.
"Bayangin kontol ini masuk ke dalam memek sempit kamu ini," bisik pria tua itu, suaranya serak. "Memekmu sudah basah banget ini, minta dikontolin."
Tiara tidak menjawab, hanya mendesah. "Ahhh.. ahhh.. Ahhh.."
Pria itu menyeringai, "Ahhh.. aku suka.. ahhh.. pantat kamu nikmat banget."
Pria tua itu tersenyum puas saat melihat Tiara pasrah. Dengan perlahan, ia melebarkan sedikit kaki Tiara, dan aku melihatnya memposisikan penisnya yang besar dan tegang di antara paha istriku. Aku yakin penisnya pasti bergesekan langsung dengan bibir vagina Tiara. Ia mulai memaju-mundurkan penisnya dengan gerakan pelan dan ritmis. Tiara tidak melawan, ia hanya mendesah pelan. Kepalanya mendongak, matanya terpejam, dan aku bisa melihat air mata mengalir dari sudut matanya, bercampur dengan ekspresi kenikmatan yang tak bisa disembunyikan.
"Ahhh... ahhh...," desah Tiara, suaranya serak. "Enak... ahhh... terus Pak... ahhh..."
Pria itu menyeringai, "Memekmu sudah basah banget ini, sayang," bisiknya, suaranya serak. "Minta dikontolin ya?"
Tiara tidak menjawab, hanya mendesah. Tangan kiri pria itu masih mengelus vaginanya dari depan, sambil memposisikan penisnya agar tetap menggesek bibir vagina istriku. Sementara itu, tangan kanannya meremas payudara besar Tiara yang tak tertutup bra. Gerakan itu kasar, tapi Tiara tidak melawan. Ia hanya mendesah, menikmati setiap sentuhan.
"Kalo aja kamu mau kontol ini dimasukin," bisik pria tua itu, suaranya serak. "Pasti kamu bakal keenakan."
"Ahhh... ahhh... Iyahh Pak... Ahhh... Pasti enak banget, ahhh... Tapi jangan pak. aku gak mau," desah Tiara, suaranya serak.
Pria itu tertawa pelan. "Iyaa sayang. tenang aja aku gak bakal maksa kamu. kata Mas Bims gak boleh maksa kamu."
Aku menyaksikan semuanya dari layar ponselku, dan aku tidak bisa mengalihkan pandanganku. Gairah, kecemburuan, dan amarah bercampur menjadi satu, membuatku gila.
Pria tua itu terus memaju mundurkan pingulnya, menggesekkan penisnya ke sela-sela paha Tiara. Gerakannya yang lambat dan disengaja membuat Tiara mendesah, suaranya semakin keras. Ia memejamkan mata, kepalanya mendongak, seolah menikmati setiap gesekan itu.
"Ahhh... ahhh... lebih kencang, Pak," bisik Tiara, suaranya serak. "Aku suka..."
Pria itu menyeringai. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Dengan satu tangan, ia mengangkat kaki Tiara sedikit lebih tinggi. Kini, bibir vagina Tiara yang basah semakin memudahkan pria itu untuk eksplore lebih lanjut, bibir vagina nya bergesekan langsung dengan kepala penis pria itu.
"Ini yang Mas Bims mau, Sayang," bisiknya. "Melihatmu keenakan seperti ini."
"Ahhh... Ahhh... Iyahhh," desah Tiara, suaranya bergetar. "Ini... nikmat... Ahh... terus Pak... Ahhh..."
Aku terus mengamati layar ponselku sambil mengelus penisku, mataku terpaku pada setiap gerakan pria tua itu. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku, Gairah dan amarah yang saling berbenturan di dalam diriku kini mencapai puncaknya.
Pria itu terus memaju-mundurkan pinggulnya, menggesekkan penisnya yang tegang ke sela-sela paha Tiara. Kepala penisnya yang besar membelah bibir vagina istriku yang basah, sementara tangan kanannya meremas payudara Tiara dengan brutal. Pria itu menyeringai, senyum kemenangan terukir di wajahnya.
"Ahhh... ahhh... iyahh, Pak,. Aku suka...". desah Tiara.
Gerakannya semakin cepat, dan Tiara membalasnya dengan desahan yang semakin keras. Ia memutar pinggulnya, seolah ingin lebih. Aku bisa melihat air mata mengalir dari sudut matanya, tapi ekspresi kenikmatan di wajahnya tidak bisa disembunyikan.
"Ini yang Mas Bims mau, Sayang," bisik pria itu, suaranya serak. "Melihatmu keenakan seperti ini.".
Tiara tidak menjawab, hanya mendesah. "Ahhh... Ahhh... Iyahhh," desahnya, suaranya bergetar. "Ini... nikmat... Ahh... terus Pak... Ahhh...".
Aku mengelus penisku dari luar celana, merasa gila dengan setiap gerakan yang kulihat. Fantasiku kini menjadi kenyataan, dan aku tidak bisa menahannya lagi. Pria tua itu tertawa puas, dan dengan satu tangan, ia mengangkat kaki Tiara sedikit lebih tinggi. Kini, bibir vagina Tiara yang basah semakin memudahkan pria itu untuk bereksperimen lebih jauh.
"Ahhh... ahhh... Aku mau... aku mau... Ahhh..." desah Tiara.
Pria itu menyeringai, "keluarkan sajaa... " bisiknya, suaranya serak.
Tiara tidak menjawab, tubuhnya bergetar hebat. Desahannya semakin panjang, dan ia mulai menjerit pelan, "Ahhh... ahhh... Mas Bims... ahhh... aku... ahh..."
Tiba-tiba, tubuh Tiara menegang. Kepalanya mendongak, matanya terpejam, dan ia melengking, "Ahhhhhh!" Aku bisa melihat tubuhnya kejang, pinggulnya bergerak tak terkendali. Ia terengah-engah, lemas, lalu jatuh terduduk di lantai.
Pria tua itu tersenyum puas, menepuk bahu Tiara pelan. "Lihat, 'kan? Kamu suka, Sayang," bisiknya, suaranya dipenuhi kemenangan. "Ini baru permulaan."
Aku menyaksikan semuanya dari layar ponselku. Tiara duduk di lantai, bersandar pada tembok, tubuhnya lemas. Wajahnya yang memerah, rambutnya yang basah oleh keringat, dan desahan yang masih keluar dari bibirnya... Semua itu membuatku gila.
Pria tua itu tersenyum, senyum penuh kemenangan. "Ini baru permulaan, Sayang," bisiknya, suaranya serak. "Nanti, aku akan membuatmu lebih nikmat dari ini."
Tiara terengah-engah, tubuhnya masih bergetar. Ia mengangkat tangannya yang gemetar, mencoba menutupi payudaranya yang terpampang di depan kamera. "Hahhh... sudah, Pak... sudah..." suaranya terdengar seperti bisikan yang nyaris tidak terdengar.
Pria itu mendekat, menunduk, dan mengusap air mata yang mengalir di mata Tiara. "Kenapa? Kamu takut?" bisiknya. "Kamu tidak perlu takut. Aku tidak akan memaksamu. Aku hanya ingin membuatmu puas. Pesan Mas Bims harus bisa bikin kamu puas. Karena selama ini kamu tidak pernah puas kan?"
Tiara menggelengkan kepalanya pelan, air matanya terus mengalir. "Aku tidak... aku tidak mau sejauh itu..."
Pria itu tertawa pelan, lalu mengambil tangan Tiara yang gemetar dan meletakkannya di penisnya yang masih tegak. "Lihat kontolku Sayang," bisiknya, suaranya serak. "Kamu jangan berbohong ke dirimu sendiri. Kamu menginginkan ini kan."
Tiara memejamkan mata, isak tangisnya semakin kencang. "Tidak... aku tidak..." bisiknya, suaranya parau.
Pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga Tiara, dan membisikkan sesuatu yang membuat Tiara terdiam. Tiara menatap pria itu dengan mata yang penuh kebingungan, tapi ia tidak lagi menolak. Ia hanya duduk diam, membiarkan pria itu melakukan apa pun yang ia inginkan.
Kemudian, pria itu mengangkat tubuh Tiara dan menggendongnya keluar dari studio, dia tidak membawa hp nya yang dari tadi buat merekam mereka, hp nya di tinggal di studio. Aku tidak tahu ia akan membawanya ke mana. Aku segera mengecek kamera CCTV yang lain. Ternyata, ia membawanya ke kamar. Kamarku. Kamar yang biasa kugunakan bersama istriku. Tubuh istriku direbahkan di ranjang.
Jantungku berdegup kencang saat melihat pria itu merebahkan tubuh Tiara di ranjang. Ia meletakkan tubuhnya sejajar dengan kepala istriku. Aku tidak bisa melihat wajah Tiara, hanya jilbab lebarnya di kepala dan tubuhnya yang pasrah.
Tangan kirinya mulai mengelus vagina Tiara yang basah. Tangan kanannya memegang penisnya sendiri, mengusap-usapkannya ke cadar istriku yang masih menutupi wajahnya.
"Ahhh... ahhh..." desah Tiara, suaranya serak.
Pria itu menyeringai, "Ahhh... Aku suka, Sayang. Ini nikmat banget."
"Ini... ini salah, Pak..." bisik Tiara, suaranya parau.
"Salah? Tapi kamu menikmatinya," bisik pria itu, suaranya penuh kemenangan. "Kamu membohongi dirimu sendiri. Kamu menginginkan ini. Kamu ingin merasakan kontol ini masuk ke dalam dirimu kan, bilang aja jangan malu..."
"Ahhh... iyahh. ahhh... Aku ingin... ahhh..." desah Tiara.
Bersambung....
