Evelyn terus mengocok penisku dengan ritme yang semakin cepat. Mataku terpaku pada layar ponsel, menyaksikan pemandangan yang tak bisa kubayangkan. Aku melihat Tiara, istriku, kini berani melepaskan branya. Ia hanya menutupi putingnya dengan tangan, sementara pria tua suruhan Mas Bims terus memotretnya.
"Ahh.. aku gak tahan," desahku. "Sepong, Evelyn... sepong..."
Evelyn mengangguk, lalu ia melahap penisku. Aku memegang kepalanya, tangan kananku meremas payudaranya yang tidak terlalu besar. Sensasi itu, perpaduan antara melihat istriku menjadi fantasi, dan merasakan sentuhan Evelyn, membuatku gila. Aku tahu, aku telah kehilangan kendali, tapi aku menyukai ini. Aku menyukai permainan ini.
"Sepongan saya lebih enak, kan Pak?" bisiknya di antara isapannya. "Atau Bapak ingin saya tiru istri Bapak?"
Aku tidak menjawab. Hanya desahan yang semakin keras. "Ahh.. ahh.. lebih... kencang..."
Aku tahu, aku telah kehilangan kendali, tapi aku menyukai ini. Aku menyukai permainan ini. Aku menyukai bagaimana ia perlahan-lahan memenuhi fantasiku yang paling gelap.
Aku menatap layar ponselku, dan yang kulihat membuat jantungku berdegup kencang. Istriku, Tiara, kini semakin berani. Ia tidak lagi menutupi putingnya dengan tangan. Ia berdiri di sana, di hadapan pria tua itu, dengan payudara yang terpampang jelas. Gairah, kecemburuan, dan amarah bercampur menjadi satu, membuatku gila. Aku tahu, aku telah kehilangan kendali, tapi aku menyukai ini. Aku menyukai permainan ini.
Evelyn terus melahap penisku, dan aku menyuruhnya untuk melihat layar ponselku. Ia melakukannya. Matanya membelalak, ekspresinya dipenuhi keterkejutan. Namun, ia tidak berhenti. Ia terus melakukannya, sambil melihat layar.
"Pak," bisiknya, suaranya serak. "Istri Bapak... gila."
"Iya," jawabku, tanpa sadar. "Dia gila. Dan aku menyukai itu."
Evelyn terus melahapku, dan aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak melakukan lebih jauh. Aku ingin menerkam Evelyn. Aku mengangkat tangan Evelyn supaya berdiri, "Berdiri," bisikku.
"Pak... apa yang Bapak lakukan?" bisiknya, di antara isapannya.
"Aku... aku gak tahan," jawabku, jujur. "Aku... ingin main sama kamu di sini."
Aku tahu, aku sudah gila. Aku tahu, aku telah mengkhianati istriku. Tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin melanjutkan permainan ini. Aku menurunkan celana Evelyn, dan memposisikannya menunduk dengan tumpuan meja.
Aku mengamati Evelyn yang kini menunduk, bertumpu pada meja. Pantatnya yang tidak sebesar milik Tiara, namun terlihat padat dan berwarna putih bersih, menarik perhatianku. Tanpa ragu, aku memainkan celah vaginanya dengan jari-jariku. Vagina Evelyn ini sangat bagus, pink, dan masih cukup rapat.
"Aahh... enak, Pak... teruss..." desahnya, suaranya serak.
"Gimana, Evelyn... enak?" tanyaku.
"Enak, Pak... Terus, Pak... Ahh..." bisiknya. "Aku suka... masukin kontol Bapak... Ahh..."
Aku tersenyum, lalu memposisikan penisku di depan vaginanya, kemudian memasukkannya. Gerakannya yang lambat membuatku ingin lebih. Aku mempercepat gerakanku, dan ia membalasnya dengan desahan yang semakin keras. Kami berdua hanyut dalam sensasi itu, dalam fantasi yang kini menjadi kenyataan.
"Ahh... aahh... lebih cepat, Pak... Aku... ahh... Enakk..." desahnya.
Aku semakin mempercepat gerakanku, mencengkeram erat pinggul Evelyn. Di setiap dorongan, ia membalas dengan lengkingan yang tertahan, memanggil namaku.
"Ahh... Pak... Ahh... lebih dalam...!" bisiknya, suaranya serak.
Mataku masih terfokus pada layar ponsel, di mana aku melihat Tiara yang kini semakin berani. Gairah ini, yang berawal dari kecemburuan, kini berubah menjadi sensasi baru yang tak bisa kugambarkan. Fantasiku tentang Tiara yang dinikmati orang lain, kini berpadu dengan kenyataan di hadapanku.
"Nikmat, Pak... Ahh... aku... ahh..." desah Evelyn.
Aku tidak peduli. Aku menyukai bagaimana ia perlahan-lahan memenuhi fantasiku. Aku merasakan ketegangan memuncak dalam diriku, sebuah desakan yang tak tertahankan. Aku meraih ponselku dan meletakkannya di atas meja, di samping kepala Evelyn. Ia menoleh, menatap layar, lalu kembali menatapku. Ia tersenyum, sebuah senyuman yang penuh dengan pengertian.
"Sama-sama gila, Pak," bisiknya. Aku menatap layar ponselku, menyaksikan istriku menjadi objek foto oleh orang suruhan Bims itu, sementara Evelyn menjadi objek kenyataanku di sini.
Sambil terus menggenjot Evelyn, aku melirik layar HP-ku. Kini gamis istriku sudah terlepas semua di lantai. Ia hanya memakai celana dalam, hijab, dan cadarnya. Ia berpose semakin berani di depan kamera.
Di tengah desahan dan dorongan yang semakin cepat, aku merasakan ketegangan memuncak. Pandanganku tak bisa lepas dari layar ponsel, di mana istriku, Tiara, kini berdiri hampir telanjang di hadapan orang lain. Fantasi dan kenyataan kini menyatu, menciptakan sensasi yang membuatku gila.
"Ahh.. Evelyn, aku mau keluar! Aku gak kuat! Ahh..," desahku, menyerah pada kenikmatan yang memabukkan.
Aku merasakan diriku mencapai puncaknya, dan aku menarik penisku dari dalam vaginanya. memuntahkan sperma di pantat Evelyn. Panas, lengket, dan memuaskan. Evelyn membalasnya dengan desahan yang panjang, dan ia memutar kepalanya ke belakang, menatapku. Ia tersenyum, lalu mengangkat tangannya, mengusap sperma dari pantatnya.
"Enak, Pak?" bisiknya, suaranya serak. "Punya saya lebih enak gak daripada istri bapak?"
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya, dengan perasaan malu, hasrat, dan kelegaan yang bercampur menjadi satu. Aku telah kehilangan kendali. Aku telah mengkhianati istriku. Tapi aku tidak peduli. Aku menyukai permainan ini.
"Ambil tisu, bersihkan dirimu," pintaku pada Evelyn, suaraku masih serak. Ia mengangguk, bangkit, lalu mengambil beberapa lembar tisu untuk membersihkan dirinya dan pantatnya. Setelah itu, ia memakai celananya kembali.
Aku tidak menunggu lebih lama. Aku keluar dari ruanganku, berjalan cepat menuju kamar mandi. Di sana, aku membersihkan penisku, mencoba menghapus semua jejak perbuatanku. Aku menatap diriku di cermin, dan yang kulihat adalah bayangan seorang pria yang telah kehilangan dirinya.
Aku kembali ke ruanganku. Ruangan itu kosong, tidak ada Evelyn. Aku duduk di kursi, merenung. Semua yang terjadi terasa seperti mimpi. Bayangan istriku di layar ponsel, fantasi yang menjadi kenyataan. Lalu Evelyn, yang melayani hasratku. Aku menutup mata, dan yang kulihat adalah bayangan istriku dan Evelyn, menyatu dalam satu fantasi.
Aku tersentak dari lamunan. Ponselku! Jantungku berdebar kencang saat mencarinya di atas meja. Syukurlah, ada. Layarnya masih menyala, memancarkan cahaya yang terasa dingin dan menusuk. Di sana, di layar itu, istriku masih terlihat.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku terhanyut dalam fantasi gelapku bersama Evelyn. Namun, pemandangan di layar itu membuatku kembali ke kenyataan. Istriku, Tiara, kini berlutut. Pria tua itu kini sudah tak mengenakan jaketnya. Dengan santai, ia memotret Tiara dari berbagai sudut. Tubuh istriku terlihat begitu pasrah, seolah-olah ia telah menyerah.
Rasa jijik, gairah, dan amarah membanjiri diriku. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku. Setiap detik terasa seperti satu jam, dan setiap gerakan yang kulihat terasa seperti pukulan. Aku melihat pria itu tersenyum, seolah-olah ia telah menang.
Aku tahu, aku harus mengakhiri ini. Aku harus mengakhiri permainan gila ini. Tapi di saat yang sama, aku tidak bisa menghentikan diriku. Aku ingin melihatnya. Aku ingin melihat seberapa jauh ia berani melangkah. Dan di dalam kegelapan itu, aku menemukan sebuah gairah yang tak bisa kutolak. Aku menyukai permainan ini. Aku ingin ia terus melakukannya.
Aku menutup mata, membayangkan Tiara mengambil ponsel pria tua itu, dan menelanjangi dirinya, di depan pria lain. Dan di dalam ruangan itu mereka melakukan persetubuhan, aku menemukan sebuah gairah yang tak bisa kutolak. Aku menyukai permainan ini. Aku ingin ia terus melakukannya. Ahhh..
Aku kembali menatap ponselku, mataku terpaku pada layar. Pria tua suruhan Mas Bims membisikkan sesuatu pada Tiara, dan Tiara mengangguk. Pria itu tersenyum puas, lalu mengambil tripod dan memasang ponselnya. Ia berjalan ke arah Tiara dan ikut berpose di belakangnya.
Awalnya, kedua tangannya hanya memegang pinggang Tiara. Dari layar, aku bisa melihat matanya terpaku pada lekuk pantat istriku. Namun, gerakannya menjadi semakin berani. Tangan pria itu perlahan naik, mengelus perut rata Tiara, lalu berhenti di bawah payudaranya. Tiara tidak menolak. Ia hanya tersenyum canggung ke arah kamera, sementara pria itu memotret mereka berdua.
Setelah itu, pria itu melepas tangannya dari perut Tiara. Satu tangan meraih bahu Tiara yang masih tertutup jilbab lebar. Namun, yang ia lakukan adalah membelai leher Tiara dengan lembut. Jemarinya turun ke punggung, mengelusnya dengan gerakan naik turun. Tiara menunduk, wajahnya memerah. Aku tahu ia malu, tapi ia tidak menghentikan pria itu. Ia bahkan memiringkan kepalanya, seolah memberi pria itu akses lebih leluasa.
Aku mengepalkan tangan, gairah dan amarah bercampur menjadi satu. Aku tidak bisa mengalihkan pandangan.
Adegan di layar ponsel itu semakin menggila. Pria itu kini memeluk Tiara dari belakang. Kepalanya berada di pundak Tiara, dan tangannya kini meremas payudaranya yang besar dan tak tertutup bra. Gerakan itu kasar, tapi Tiara tidak melawan. Ia hanya memejamkan mata, seolah menikmati sensasi itu. Gairah dan amarah bercampur menjadi satu, membuatku gila. Aku tahu, aku telah kehilangan kendali, tapi aku menyukai ini. Aku menyukai permainan ini.
Kemudian, pria itu mulai menciumi leher Tiara. Bibirnya bergerak turun ke pundak, lalu menyusuri punggungnya yang mulus. Tiara mendongakkan kepala ke atas, menikmati perbuatan pria itu. Tangannya yang tadinya meremas payudara kini beralih ke pantat Tiara yang besar. Pria itu mencium dan meremas pantatnya dengan penuh nafsu, sementara Tiara hanya berdiri pasrah, tubuhnya bergetar pelan.
Aku menelan ludah, menahan napas. Pria itu kini membalik tubuh Tiara, mendorongnya hingga menempel ke dinding studio. Ia mencengkeram pinggang Tiara dengan satu tangan, sementara tangan yang lain naik ke payudaranya, meremasnya dengan brutal. Pria itu kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Tiara, membisikkan sesuatu yang tak bisa kudengar. Tiara tersentak, tapi ia tidak melawan. Ia bahkan mendorong payudaranya ke depan, seolah ingin lebih.
Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku. Duniaku seolah berhenti berputar. Aku melihat istriku, yang selama ini kupikir polos dan lugu, kini menjadi objek fantasi pria lain. Gairah, kecemburuan, dan amarah bercampur menjadi satu. Aku tahu, aku harus menghentikan ini. Tapi di saat yang sama, aku tidak ingin. Aku menyukai permainan ini. Aku ingin tahu seberapa jauh ia berani melangkah.
Aku tahu, aku harus menghentikan ini. Tapi di saat yang sama, aku tidak ingin. Aku menyukai permainan ini. Aku ingin tahu seberapa jauh ia berani melangkah. Rasa penasaran menggerogoti. Apa yang dibisikkan pria tua itu? Apa yang membuatnya begitu patuh? Seolah bisa mendengar pikiranku, pria itu melepaskan pelukannya, dan Tiara menatapnya dengan mata kosong.
Pria tua itu melepaskan pelukannya, dan seketika ia mencopot pakaiannya sendiri. Mataku membelalak melihat apa yang terjadi di layar ponselku. Tubuhku terasa kaku saat menyaksikan Tiara melihat penis pria itu yang sangat besar. Matanya membelalak, tangannya menutup mulutnya, penuh keterkejutan.
Pria itu kemudian ke arah ponselnya di tripod dan mengubahnya ke mode rekaman. Jantungku berdebar kencang. Ia tidak lagi memotret, tapi merekam. Ia kembali ke Tiara.
Tiara terkejut. Matanya masih membelalak, terfokus pada kemaluan pria itu yang kini telanjang di hadapannya. Tangannya gemetar saat ia melepaskan tangannya yang tadi menutupi mulutnya.
Tiara terdiam, menatap tangan pria itu yang kini menggenggam tangannya. Napasnya tercekat saat pria itu menuntun jemari Tiara untuk menyentuh penisnya yang menjulang besar. Awalnya Tiara mencoba melawan, tapi genggaman pria itu terlalu kuat. Ia memejamkan mata, wajahnya memerah padam, tubuhnya bergetar. Aku menyaksikan dari layar ponselku, seolah terlempar ke dalam jurang antara hasrat dan jijik.
Pria itu tersenyum puas, melihat Tiara pasrah. Tanpa menunggu, ia meraih payudara besar Tiara dengan tangan kirinya. Ia meremasnya dengan brutal, sementara tangan Tiara kini sudah dengan sendirinya mulai mengusap-usap penisnya. Tiara memejamkan mata lebih erat, kepalanya mendongak. Di layar ponselku, aku bisa melihat ekspresinya yang campur aduk antara malu, takut, dan entah mengapa, kenikmatan.
Pria itu mendekat, menunduk, dan mulai mengulum puting payudara Tiara. Gerakan lidahnya yang kasar dan isapannya yang kuat membuat Tiara melenguh pelan. Pada saat yang sama, ia menuntun tangan Tiara untuk mengocok penisnya. Gerakan tangan Tiara yang awalnya ragu, kini mulai mengikuti irama yang diciptakan pria itu. Pria itu melepaskan isapannya, menatap Tiara.
"Enak, kan?" bisiknya, suaranya serak. "Kata Mas Bims, dia suka kamu yang semakin berani." Kini, suaranya terdengar jelas dari ponselku.
Tiara tidak menjawab, hanya mendesah pelan. Matanya masih terpejam. Pria itu kembali melanjutkan aksinya, mengulum puting payudara Tiara dengan lebih intens. Tangan Tiara yang mengocok penisnya pun kini semakin cepat. Aku menatap layar, merasa gila dengan setiap gerakan yang kulihat. Fantasiku kini menjadi kenyataan, dan aku menyukai ini. Aku menyukai permainan ini, tak peduli seberapa jauh ia akan melangkah.
"Mas Bims minta yang lebih, Dek," ucap pria tua itu, suaranya serak. "Dia suka yang berani. Dia minta kamu lebih berani dari ini."
Tiara terdiam. Pria itu kemudian mengangkat satu kakinya dan meletakkannya di antara paha Tiara. Tangannya mulai mengusap paha bagian dalam Tiara. Tiara tersentak.
"A-apa yang Mas Bims mau?" tanya Tiara, suaranya bergetar.
"Mas Bims bilang... dia mau kamu buka celana dalam kamu," jawab pria tua itu. "Dan videoin semuanya, payudara kamu, memek kamu nanti di zoom di video biar jelas."
Tiara menggeleng. "Tidak. Tidak mau. Aku tidak mau."
Pria itu tersenyum. "Mas Bims bilang... dia mau bayar mahal. Lima puluh juta."
Tiara terdiam. Matanya membelalak. Pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga Tiara lagi. "Dia juga bilang... kalau kamu mau sampai ngentot sama aku sekarang terus divideo, akan dikasih 100 juta."
Tiara terdiam. Aku melihat ia menelan ludah. Ia tidak lagi menolak. Ia hanya berdiri, pasrah.
"Aku gak mau sampai bersetubuh, Pak… jangan yang itu yaa… sama aku gak mau buka cadar dan jilbab," ucap Tiara, suaranya memohon.
Pria tua itu tersenyum, lalu meraih tangannya. "Kalau begitu, buka celana dalammu. Itu sudah cukup."
Tiara menggeleng, air mata mengalir dari matanya. "Tidak..."
Namun, pria itu tidak mendengarkan. Ia menuntun tangan Tiara ke pinggang celana dalamnya. Tiara mencoba melawan, tapi tenaganya tidak sekuat pria itu. Ia pun pasrah, dan dengan tangan gemetar, ia perlahan menurunkan celana dalamnya.
Di layar ponselku, adegan itu berlanjut. Pria tua itu meraih ponsel yang terpasang di tripod, mengarahkannya ke Tiara dengan lebih dekat. Jantungku berdebar kencang, dan aku tidak bisa mengalihkan pandanganku. Dengan tangan gemetar, Tiara menurunkan celana dalamnya hingga ke lutut. Pria itu tersenyum puas, lalu mulai merekamnya. Aku bisa melihat dengan jelas dia menyorot kamera ke setiap lekuk tubuh Tiara, setiap inci kulitnya, yang selama ini hanya bisa kulihat, kini menjadi objek rekaman untuk pria lain.
Pria itu merekam dari atas kepala istriku, menampilkan matanya yang indah, turun ke payudara. Ia menyibakkan jilbab Tiara, lalu merekam payudara besar itu sambil meremasnya pelan. Kamera terus turun ke perut, lalu ke vagina istriku. Vagina yang ditumbuhi bulu halus itu terlihat sangat indah. Vagina yang seharusnya hanya aku yang bisa melihat.
Tiara memejamkan mata, air mata mengalir dari sudut matanya. Ia berdiri pasrah, membiarkan dirinya menjadi objek fantasi yang mengerikan. Pria itu memutar tubuh Tiara, menyorot bongkahan pantat istriku yang besar dan mulus menggoda. Dia merekam dari berbagai sudut. Ia merekam dari depan, belakang, dan samping, memastikan setiap detail tubuh istriku terekam dengan jelas. Tiara tidak menolak. Ia hanya berdiri di sana, sebuah boneka yang pasrah.
Bersambungg...
