𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟐𝟑 𝐉𝐞𝐛𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐌𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐍𝐲𝐚𝐭𝐚

Aku terus mengelus penisku, mataku terpaku pada layar ponsel. Payudara Tiara yang besar dan padat itu diremasnya sendiri, kini menjadi satu-satunya fokusku. Aku tidak mendengar apa-apa. Aku tidak menyadari apa-apa. Aku tenggelam dalam fantasiku, dalam gairah yang sudah menguasai diriku sepenuhnya.

Tiba-tiba, suara pintu terbuka dan tertutup membuatku tersentak. Aku langsung menarik tanganku dari penisku dan mencoba menutupi diriku dengan cepat. Namun, sudah terlambat.

Evelyn berdiri di ambang pintu, matanya membelalak. Wajahnya pucat pasi, dan ia terlihat sangat terkejut. Ia melihatku, melihat celanaku yang terbuka, dan aku langsung mematikan ponselku.

"Pak...?" bisiknya, suaranya gemetar. Ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.

Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan apa yang baru saja ia lihat. Aku hanya bisa menatapnya, dengan perasaan malu yang luar biasa. Pikiranku kalut, mencoba mencari alasan yang bisa menutupi perbuatanku. Namun, sebelum aku sempat berucap sepatah kata pun, Evelyn memecah keheningan yang canggung.

"Pak," bisiknya, suaranya kini terdengar tenang, seolah apa yang baru saja ia saksikan adalah hal yang biasa. Ia menutup pintu, lalu mendekat, tatapannya lekat. "Biar saya bantu, Pak."

Aku menelan ludah, tidak percaya dengan apa yang kudengar. Di saat yang sama, rasa malu dan nafsu yang sudah memuncak membuatku tidak bisa menolak. Aku sudah kepalang basah. Otakku yang waras kalah oleh gejolak yang tak terkendali.

"Yaudah... sini, Evelyn," bisikku, suaraku serak.

Evelyn tersenyum tipis. "Kenapa coli sendiri sih, Pak? Kangen istri di rumah ya?" tanyanya, suaranya pelan. Tanpa menunggu jawabanku, ia merangkak ke bawah meja kerjaku, berlutut, dan dengan lembut memegang penisku. Tangannya terasa hangat. Aku menutup mata, membiarkan diriku tenggelam dalam sensasi itu, saat ia melahap penisku.

"Mmm, enak, Pak?" bisiknya di antara isapannya. "Atau lebih enak sepongan istri Bapak?"

Aku tidak menjawab. Di kepalaku, bayangan Tiara di layar ponselku, yang sedang meremas payudaranya, berbaur dengan sensasi yang Evelyn berikan. Fantasi dan kenyataan kini menyatu menjadi satu.

"Evelyn..." desahku, tanpa sadar. "Enak... aahh... lebih kencang... lagi..."

Evelyn tersenyum, lalu kembali melahap penisku dengan ganas. Gerakannya yang cepat dan terampil membuatku semakin tak terkendali. Di tengah kenikmatan yang memabukkan, aku tidak bisa memungkiri, fantasi gelapku tentang Tiara kini terasa hambar. Aku menginginkan yang nyata. Aku menginginkan Evelyn.

"Ahh.. Ahh.. Evelyn, aku mau keluar," bisikku serak.

"Iya, Pak, keluarin di mulut Evelyn," jawabnya, suaranya serak.

"Ahh.. Ahh.. Crott.. Crott.." Aku merasakan diriku mencapai puncaknya. Spermaku keluar, membanjiri mulutnya. Aku mengawasinya evelyn menelan setiap tetesnya, kemudian di hisap lagi untuk menyedot sisa-sisa sperma yang tertinggal di dalam penisku, rasa ngilu, malu dan hasrat bercampur menjadi satu, membuatku gila.

Aku merebahkan diriku di kursi, tubuhku lemas. Evelyn bangkit, senyum puas terukir di wajahnya.

"Terima kasih, Evelyn," bisikku, suaraku serak.

"Sama-sama, Pak," jawabnya lembut, mengusap sisa-sisa sperma dari dagunya. Ia membenarkan pakaiannya, lalu menatapku dengan mata yang penuh makna. "Saya ke sini karena mau cek Bapak, orang-orang kantor sudah pada pulang, tinggal Bapak saja."

Aku tersentak. Aku melirik jam dinding, dan mataku membelalak. Waktu menunjukkan pukul 17.30. Aku tadi terlalu asyik menonton Tiara live, sampai aku lupa waktu. Kantor sudah sepi, hanya ada kami berdua. Fantasi gelapku, kini menjadi kenyataan yang jauh lebih rumit.

Kami berjalan keluar kantor yang sudah sepi. Evelyn berpamitan, senyumnya menyimpan rahasia di antara kami. Aku mengangguk, lalu bergegas masuk mobil, melaju menuju rumah dinas.

Sesampainya di rumah dinas, aku langsung menuju kamar mandi. Air dingin membasuh tubuhku, seolah ingin membersihkan setiap noda dan kebohongan yang menempel pada diriku. Setelah itu, aku mengambil air wudhu dan menunaikan salat Magrib, lalu Isya. Pikiranku masih kacau, namun tubuhku terasa jauh lebih ringan.

Selesai makan malam, aku merebahkan diri di kasur. Ponselku masih menyala di meja samping tempat tidur. Aku tahu, aku harus memeriksa apa yang terjadi di siaran langsung Tiara setelah aku mematikan ponselku tadi. Namun, tubuhku terlalu lelah untuk itu. Di antara bayangan Tiara di layar ponsel dan sentuhan Evelyn, aku menutup mata dan membiarkan diriku jatuh ke dalam tidur yang lelap, penuh dengan mimpi-mimpi yang aneh.

Pagi itu, aku terbangun. Udara subuh yang sejuk terasa menyegarkan, seolah mencuci bersih semua kekacauan dari semalam. Setelah salat, aku merasa sedikit lebih tenang. Pikiranku kembali pada Tiara. Aku ingin tahu apa yang terjadi setelah aku terpaksa mematikan ponsel. Rasa bersalah karena telah mengkhianatinya, bercampur dengan rasa penasaran yang menggebu.

Tepat pukul enam, aku meraih ponselku dan meneleponnya. Aku ingin mendengar suaranya, melepas rindu, dan tentu saja, mencari jawaban atas apa saja yang terjadi ketika aku menutup live-nya kemarin sore.

"Halo, Mas?" suaranya lembut, terdengar baru bangun.

"Iya, Dek. Mas ganggu ya?" tanyaku, mencoba terdengar santai.

"Enggak, Mas. Kenapa, Mas? Kangen ya?" Ia tertawa kecil.

"Tentu saja. Mas kangen banget sama Adek," jawabku tulus. "Oh ya, Mas lihat live Adek kemarin. Rame banget. Mas Bims sampai kasih gift singa, ya?"

Ada jeda sejenak di seberang telepon. "Iya, Mas. Enggak nyangka Adek," jawabnya, suaranya terdengar sedikit canggung. "Terus Mas Bims minta Adek ganti gamis sama... joget."

"Oh iya, Mas. Kenapa Mas nyuruh aku ngikutin permintaan mereka? Bukannya dulu Mas ngelarang aku pakai baju kayak gitu pas live, ya?" tanyanya, suaranya dipenuhi kebingungan.

Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Semua yang kulakukan terasa begitu aneh, begitu tidak masuk akal. "Enggak tau, Dek. Mas kayak suka aja kamu seperti itu. Gak tau kenapa," jawabku, jujur, tapi sekaligus penuh dengan rahasia.

"Mas aneh, ihh," jawabnya, suaranya kini terdengar seperti anak kecil yang merajuk. Aku tersenyum tipis, merasa senang karena ia telah memasuki permainan fantasiku.

"Dek, selain joget sama remas-remas payudara, Adek disuruh ngapain lagi kemarin?" tanyaku, suaraku tercekat. Aku tahu aku tidak seharusnya bertanya, tapi rasa penasaran dan hasrat yang tak terkendali sudah menguasai diriku. Aku ingin tahu setiap detail, setiap momen yang kulewatkan.

Ada jeda lama di ujung telepon. "Mas... kok tanya gitu?" suaranya bergetar, terdengar ragu.

"Jawab saja, Dek," desakku. "Mas cuma mau tahu."

"Setelah Adek remas... Mas Bims kasih gift lagi, Mas. Terus... terus dia minta Adek buka kancing depan gamis Adek," bisiknya, suaranya hampir tidak terdengar.

Duniaku serasa berhenti berputar. "Buka... apa, Dek?" tanyaku, suaraku nyaris tak terdengar.

"Buka kancing gamis Adek," jawabnya. "Tapi Adek enggak mau. Adek bilang enggak bisa, Mas. Adek mau nangis."

Dadaku berdesir. Antara rasa lega karena ia menolak, dan rasa kecewa yang luar biasa. "Terus... kamu enggak buka?"

"Enggak, Mas. Adek langsung matikan live-nya. Adek takut."

Aku menghela napas. Fantasiku hancur berantakan. Ia tidak melakukannya. Ia tidak seberani yang kukira. Rasa kecewa ini lebih menyakitkan daripada kecemburuan.

Tiba-tiba, ia kembali berbicara. "Tapi... sebelum Adek matikan, Mas Bims bilang... 'Kalau besok buka ya, Dek. Jangan sekarang.'"

Jantungku berdebar kencang. "Apa maksudnya itu, Dek?"

Tiara terdiam. Aku bisa mendengar ia menelan ludah. "Mas Bims bilang... dia mau kasih gift langsung, Mas. Dia bilang... akan dikirim di depan rumah. Nanti orang suruhannya ke sini buat anterin gift dan minta bukti foto buka kancing."

Napas terhenti di tenggorokanku. Semua kecurigaan dan fantasiku, kini menjadi kenyataan yang jauh lebih gila. Ia tidak hanya bermain-main di live, tapi juga di dunia nyata.

"Dan kamu... mau?" bisikku.

"Adek bingung, Mas. Adek takut... Tapi... Adek juga penasaran," jawabnya. "Adek cuma bilang iya. Adek enggak tahu harus ngapain."

Aku tersenyum. Senyuman yang penuh dengan kegilaan. Aku tahu, aku telah menemukan apa yang kucari. Dan aku tidak sabar untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Boleh kalau Adek mau," bisikku, suaraku dipenuhi hasrat terlarang. "Kapan orang suruhannya ke rumah, Dek?"

"Nggak tahu, Mas, mungkin nanti siang," jawabnya, suaranya terdengar ragu.

"Yaudah, Dek. Nanti kabarin, ya. Ngapain aja sama orang suruhan Mas Bims. Aku pengen tahu," desakku.

"Iya, Mas," jawabnya singkat.

"Yaudah, Dek. Aku persiapan berangkat kerja dulu, ya."

Aku menutup telepon, senyum gila terukir di wajahku. Aku tahu, hari ini akan menjadi hari yang panjang, penuh dengan ketegangan, gairah, dan ketakutan. Aku tidak bisa menghentikannya. Aku tidak ingin menghentikannya.

Setelah sampai di kantor, pikiranku tidak bisa fokus. Evelyn menatapku bingung. "Ada masalah, Pak?" tanyanya.

"Tidak, tidak," jawabku, mencoba menyembunyikan kegelisahanku. "Hanya... ada masalah di rumah."

Evelyn mengangguk, namun matanya tetap menatapku dengan curiga.

Aku meraih ponselku, dan aku bisa merasakan tanganku bergetar, aku tidak bisa menunggu. Aku harus selalu mendapatkan update dari Tiara langsung.

"Dek... sudah datang orang suruhannya?" tanyaku.

"Belum, Mas. Adek takut," jawabnya, suaranya bergetar.

"Jangan takut, Dek. Aku ada di sini. Aku akan menemani kamu," bisikku, sebuah kebohongan yang terasa begitu tulus. Aku tidak peduli lagi. Aku hanya ingin ia terus melanjutkan permainan ini.

"Mas... Adek takut," ulangnya lagi, "Tapi Adek... juga penasaran."

Aku juga penasaran. “tenang aja dek, mas gpp kok, adek jangan takut”. Aku ingin tahu seberapa jauh ia berani melangkah. Aku ingin tahu seberapa jauh ia akan menuruti permintaan pria lain. Aku ingin melihatnya.

Kerjaanku hari itu terasa begitu santai. Evelyn selalu ada di sisiku, sesekali membantuku, sesekali mengajakku bercanda. Kami mengobrol tentang banyak hal, mulai dari pekerjaan hingga rencana akhir pekan. Di permukaan, semua terlihat normal, tapi di dalam diriku, pikiran tentang Tiara tak pernah benar-benar pergi.

Saat makan siang, aku melihat jam di dinding. Pukul 12.00. Jantungku berdebar kencang. Orang suruhan Mas Bims... apakah dia sudah datang? Aku merasakan gelombang panas menjalar ke seluruh tubuhku. Aku harus tahu.

Aku meraih ponselku, dan jemariku gemetar saat membuka whatsapp. Aku chat istriku.

"Dek... sudah datang orang suruhannya?" ketikku.

Tak lama kemudian, balasan masuk. "Mas... dia sudah datang," jawabnya, suaranya terdengar begitu ketakutan dari getaran tulisan di layar.

"Dek... kamu baik-baik saja, kan? Apa yang dia berikan?" tanyaku, mencoba mengendalikan diriku.

"Dia kasih ini, Mas," jawabnya, mengirimkan sebuah foto. Foto itu menunjukkan sebuah kotak kecil di atas meja, dan sebuah surat.

"Apa isi suratnya, Dek?" desakku.

"Mas Bims minta dia... fotoin payudaraku, Mas... sebagai ucapan terima kasih," jawabnya.

Aku membeku. Fantasiku... kini menjadi kenyataan yang jauh lebih gila. Aku menelan ludah, tidak bisa berkata-kata. "Dan kamu... mau?"

"Adek enggak tahu, Mas. Adek takut... Tapi... Adek juga penasaran," jawabnya. "Kotak ini isinya perhiasan emas, Mas. Mas Bims bilang... dia mau kasih yang lebih... kalau Adek izinin dia foto."

Napas terhenti di tenggorokanku. Aku tahu, aku harus menghentikan ini. Tapi di saat yang sama, gairah gelapku sudah menguasai diriku sepenuhnya.

"Mas... apa yang harus Adek lakukan?" tanyanya,

Aku menutup mata, membayangkan Tiara mengambil ponselnya, dan mengambil fotonya... untuk pria lain. Dan di dalam kegelapan itu, aku menemukan sebuah gairah yang tak bisa kutolak.

"Lakukan saja, Dek," ketikku, jemariku bergetar. "Kirim fotonya... ke Mas Bims."

Tiara tidak membalas pesanku. Aku tahu, ia sedang berada di titik terendah. Ia bingung, takut, tapi di sisi lain, ia juga penasaran. Aku merasakan sensasi yang aneh. Aku ingin berada di sana, melihatnya, mendengar suaranya, dan merasakannya, saat ia menyerahkan dirinya. Aku mengambil ponsel, dan aku mengirimkan pesan ke Tiara lagi.

"Dek," ketikku, "Mas akan terus bersama Adek. Adek jangan takut, Mas gak akan ninggalin Adek."

Tidak ada balasan. Aku tahu, ia masih bingung. Aku harus bertindak. Aku harus memastikan ia tetap dalam kendaliku. Aku harus memastikan ia tetap dalam permainan ini. Aku harus memastikan ia akan melakukannya.

Aku menutup mata, membayangkan Tiara mengambil ponselnya, dan menelanjanginya, di depan pria lain. Dan di dalam kegelapan itu, aku menemukan sebuah gairah yang tak bisa kutolak. Aku menyukai permainan ini. Aku ingin ia terus melakukannya.

Di tengah kebingunganku tidak mendapat balasan dari istri, aku teringat akan CCTV-ku. Dengan tangan bergetar, aku membuka aplikasi. Aku mengecek kamera di ruang tamu, kosong. Dapur, kosong. Kamar, kosong. Jantungku berdebar kencang, firasat buruk menyergapku. Aku mengecek kamera di studio.

Duniaku runtuh. Aku melihatnya. Istriku, Tiara, di dalam studio, bersama seorang pria tua yang memakai jaket. Pria itu memegang kamera ponsel, menyorot tubuh istriku, dan yang kulihat membuat napasku tercekat. Tiara berdiri di sana, hanya mengenakan pakaian dalam, dengan gamis putih yang hanya menutupi bagian bawahnya, tersingkap sampai paha. Pakaian dalamnya masih menutupi payudara dan vaginanya, tapi payudaranya yang besar dan pantatnya yang sempurna, yang selama ini hanya bisa kulihat, kini terpampang jelas, menjadi objek bagi pria lain. Gairah, kecemburuan, dan amarah bercampur menjadi satu, membuatku gila. Aku menatap layar, tidak bisa mengalihkan pandanganku. Permainan yang kurancang, kini menjadi kenyataan yang jauh lebih gila.

"Ada apa, Pak, kok sepertinya tegang banget mukanya?" tanya Evelyn, yang dari tadi sudah berada di depanku. Aku bahkan tidak menyadari ia ada di sana. Aku menatapnya, dengan perasaan malu yang luar biasa, tidak tahu harus menjawab apa.

Wajahku pucat pasi. Aku tak bisa mengalihkan pandangan dari layar ponsel yang menampilkan pemandangan mengerikan itu. Evelyn, yang tadinya santai, kini menatapku penuh selidik.

"Pak...?" ia memanggilku lagi, suaranya mengandung nada khawatir.

Aku menelan ludah, berusaha keras mengendalikan diri. "Tidak, Evelyn. Tidak ada apa-apa," jawabku serak, mencoba mematikan layar ponselku, tapi tanganku gemetar.

"Bapak bohong," bisiknya, suaranya kini dingin dan penuh tuduhan. Matanya melirik layar ponselku yang masih menyala. "Itu... istri Bapak?"

Aku membeku. Ia tahu. Ia melihatnya. Perasaan malu dan amarah membanjiri diriku. Aku tidak bisa menyangkal. Aku hanya bisa mengangguk, tanpa suara.

Evelyn tak berkedip, menatapku, lalu ke layar ponselku, dan kembali menatapku. Ia menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan pengertian yang mengerikan. "Oh... Bapak suka yang seperti ini?"

"Apa... maksudmu?" tanyaku, suaraku nyaris tak terdengar.

"Bapak suka melihat istri Bapak dengan pria lain?" Ia mendekat ke samping meja kerjaku, mengelus penisku dari luar celana. "Bapak suka melihat istri Bapak... dinikmati orang lain?"

Aku tidak menjawab. Hanya desahan berat yang keluar dari mulutku. Di dalam diriku, rasa jijik dan hasrat yang tak bisa kutolak saling berperang. Aku tahu, ia benar. Aku menyukai ini. Aku menyukai permainan ini. Dan aku menyukai kenyataan, bahwa aku telah menemukan seseorang yang bisa memahaminya.

Evelyn tersenyum, membuka resleting celanaku, mengeluarkan penisku, lalu ia mengocoknya..

Bersambung...


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com