Pagi di Bali disambut dengan sinar matahari yang hangat. Aku segera berangkat ke kantor cabang, disambut oleh Evelyn, sekretaris baruku. Ia berusia sekitar 23 tahun, dengan senyum ramah dan pembawaan yang cekatan. Selama di kantor, Evelyn selalu berada di sisiku, membantu setiap pekerjaan dan mengenalkanku pada staf yang lain.
Pekerjaan di sini jauh lebih santai dari yang kubayangkan. Udara tropis yang nyaman, pemandangan laut dari jendela kantorku, dan suasana yang tidak terlalu tegang membuatku terlena. Aku bahkan sempat terhanyut dalam pembicaraan ringan dengan Evelyn saat makan siang, membahas tempat-tempat wisata yang wajib dikunjungi di Bali. Kami tertawa, bertukar cerita, dan aku merasa beban yang selama ini kupikul perlahan menghilang.
Tiba-tiba, aku melirik jam di pergelangan tanganku. Pukul 15.00. Jantungku mencelos. Aku langsung teringat Tiara. Ia bilang akan live siang ini, dan aku sudah berjanji akan menontonnya. Aku melupakan segalanya karena terhanyut dengan suasana kantor yang nyaman, juga karena obrolan santai dengan Evelyn.
"Maaf, Evelyn," kataku, bangkit dari kursi. "Saya harus memeriksa sesuatu."
Evelyn menatapku bingung. "Ada apa, Pak? Ada masalah?"
"Tidak, tidak. Hanya urusan pribadi," jawabku tergesa-gesa. Aku segera masuk ke ruanganku, menutup pintu, dan mengambil ponsel. Jemariku gemetar saat membuka aplikasi media sosial yang biasa digunakan Tiara untuk live. Aku mencari akunnya, dan yang kutemukan adalah sebuah siaran langsung yang sudah berjalan selama kurang lebih dua jam. Aku langsung bergabung, jantungku berdebar kencang. Aku harus tahu apa yang sudah kulewatkan. Aku harus melihat apa yang terjadi di sana.
Wajahku langsung cemberut. Di layar ponselku, Tiara tampak sedang berbicara dengan para penonton, menjelaskan detail gamis yang ia kenakan. Gamis itu bukan gamis ketat yang kuminta, melainkan gamis lebar dengan motif bunga yang biasa ia pakai. Ia terlihat begitu normal, begitu santun, persis seperti istri yang kukenal.
Rasa kecewa itu menghantamku begitu keras. Aku sudah menanti-nanti momen ini. Menunggu drama yang akan dimulai. Menunggu pengkhianatan yang akan membuatku jijik sekaligus bergairah. Namun, semua itu tidak terjadi. Ia hanya seorang penjual online yang sedang bekerja, seperti wanita pada umumnya.
Aku mengamati layarnya. Jumlah penontonnya melonjak, dan komentar-komentar yang masuk mulai terlihat. Jari-jariku mengeklik, membaca satu per satu.
"Kak Tiara makin semok aja," tulis seseorang.
"Aduh, bidadari surga," tulis yang lain.
Ada juga yang lebih berani, "Semoga jodohku kayak Kak Tiara, ya. Syar'i tapi juga menggoda iman."
Aku mengepalkan tangan. Amarah mulai memuncak. Meskipun Tiara tidak mengenakan gamis ketat, para penonton itu masih bisa melihatnya sebagai objek fantasi. Mereka membayangkannya, memujinya dengan kata-kata yang penuh makna tersembunyi.
Aku melihat Tiara tertawa, membaca komentar-komentar itu. Ia terlihat begitu polos, seolah tidak menyadari betapa liarnya pikiran orang-orang di luar sana. Tawa itu, bagiku, adalah sebuah penyiksaan. Ia tidak tahu bahwa setiap pujian itu terasa seperti belati yang menusukku. Ia tidak tahu bahwa setiap komentar itu membuatku ingin berteriak dan mematikan siaran itu.
Tetapi, aku tidak melakukannya. Aku tetap menonton, dan aku membiarkan diriku tenggelam dalam amarah dan kekecewaan. Aku ingin tahu lebih banyak. Aku ingin melihat apa lagi yang akan mereka katakan. Dan di balik semua kemarahan itu, aku menemukan sebuah gairah yang aneh.
Aku melihat komentarnya, dan aku mulai membayangkan apa yang akan terjadi jika ia menuruti permintaanku. Bagaimana jika ia benar-benar memakai gamis ketat? Bagaimana jika ia benar-benar berinteraksi dengan para penonton yang lebih nakal?
Pikiranku berkecamuk. Antara rasa jijik dan gairah, aku menatap layar ponselku, sebuah permainan baru dimulai. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi aku tahu, aku tidak bisa menghentikannya.
Di tengah kebisingan komentar, tiba-tiba sebuah notifikasi muncul di layar. Mas Bims telah bergabung dengan siaran langsung. Jantungku berdegup kencang. Aku menahan napas, mataku terpaku pada layar.
"Mas Bims! Masya Allah, Mas Bims nonton juga. Terima kasih sudah mampir," sapa Tiara, suaranya terdengar ramah dan penuh senyum.
Seketika, kolom komentar menjadi heboh. Semua penonton, yang tadinya sibuk memuji Tiara, kini beralih menyapa Mas Bims. "Mas Bims! Gift dong! Gift paus, biar Kak Tiara goyang..." tulis salah satu komentar. Yang lain ikut-ikutan. "Iya, Mas Bims! Kasih gift biar seru..."
Tiara tertawa melihat komentar-komentar itu. "Wah, jangan gitu, teman-teman. Mas Bims kan cuma mampir," katanya, tapi di balik senyumnya, aku bisa melihat ada sedikit rasa canggung.
Namun, yang terjadi selanjutnya membuatku tercekat. Tepat setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya, sebuah notifikasi besar muncul di layar. "Mas Bims mengirimkan Gift Paus!"
Aku terdiam, mataku membelalak. Sebuah tanda bahwa Mas Bims tidak hanya mampir, tapi juga ingin menunjukkan sesuatu.
"Masya Allah, Mas Bims! Terima kasih banyak!" kata Tiara, suaranya dipenuhi rasa gembira. Ia terlihat begitu bahagia, begitu bersemangat. Ia tidak tahu, atau tidak peduli, bahwa setiap gift yang ia terima, setiap senyum yang ia berikan pada Mas Bims, terasa seperti belati yang menusukku.
Aku menatap layar ponselku, hatiku berkecamuk. Semua kecurigaanku kini kembali muncul. Mas Bims. Gift paus. Komentar-komentar yang heboh. Ini bukan kebetulan. Ini adalah drama yang kuinginkan, dan sekarang ia berada di depan mataku. Dan di balik semua rasa sakit itu, aku tidak bisa menyangkal, sebuah gairah gelap kembali membakar di dalam diriku. Permainan ini baru saja dimulai. Aku akan mengawasi setiap pergerakan mereka.
Kemudian, sebuah komentar baru dari Mas Bims muncul. "Kak, ayo goyangin dong dadanya," ketiknya, terang-terangan.
Aku membeku. Nafasku tercekat di tenggorokan. Ini bukan lagi sekadar godaan. Ini adalah sebuah perintah. Sebuah permintaan yang vulgar. Aku menatap Tiara, menunggu reaksinya. Aku ingin tahu apa yang akan ia lakukan.
Napas terhenti di tenggorokanku. Aku menatap Tiara, menunggu reaksinya atas komentar vulgar dari Mas Bims. Sejenak, ia hanya tersenyum canggung, mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia meraih sebuah gamis lain dari rak, berpura-pura ingin menunjukkan detailnya. "Kalau yang ini warnanya lebih..."
Namun, kata-katanya terhenti saat ia melirik komentar-komentar yang terus membanjirinya. Permintaan agar ia bergoyang semakin banyak, dan mereka bahkan menyebut-nyebut gift paus dari Mas Bims. Tiara menelan ludah, senyumnya memudar. Aku bisa melihat kegelisahan di matanya.
Kemudian, sesuatu yang tak terduga terjadi. Dengan gerakan yang ragu, Tiara melangkah mundur, sedikit menjauh dari sorotan lampu, seolah ingin menyamarkan dirinya. Ia menunduk sebentar, lalu, di hadapan ribuan mata yang menonton, ia mulai menggoyangkan tubuhnya dengan pelan.
Tidak ada musik. Tidak ada tawa. Hanya gerakannya yang pelan dan hati-hati. Meskipun tersembunyi di balik gamis longgarnya, payudaranya yang besar terlihat bergoyang, mengikuti irama yang tak terlihat. Pantatnya yang besar semakin tercetak ketika bergoyang. Gerakan itu tidak vulgar, namun keindahan lekuk tubuhnya yang tercetak jelas di balik kain itu membuatku tercekat.
Kolom komentar langsung meledak.
"Wihh,.. Kak Tiara goyang, Seksi banget.." tulis seseorang.
"Ahh.. aku ngacengg.." yang lain ikut-ikutan.
Komentar-komentar itu semakin nakal, dan aku tahu, aku telah menemukan apa yang kucari.
Gairah gelapku yang sempat padam, kini kembali menyala. Aku menatap istriku di layar ponsel, dengan hati yang campur aduk antara rasa jijik, marah, dan hasrat yang tak bisa kutolak. Permainan ini, yang berawal dari sebuah kecurigaan dan kini menjadi sebuah pertunjukan, baru saja dimulai. Aku menyukai ini, dan aku akan mengawasinya, tidak peduli seberapa jauh ia akan melangkah.
Aku mengelus penisku, merasakan gairah yang membakar di dalam diriku. Mataku terpaku pada layar, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tepat setelah Tiara selesai bergoyang, sebuah notifikasi lain muncul. Bims mengirimkan Gift Roket!
Kolom komentar kembali heboh, dan kali ini, Mas Bims menulis sesuatu yang membuatku tercekat. "Ayo buka cadarnya, Kak. Biar penonton makin banyak."
Aku menahan napas, menunggu reaksi Tiara. Ia terdiam, wajahnya menunjukkan keraguan. "Jangan, Mas Bims. jangan buka cadar ya, wajahku hanya buat suamiku" jawabnya, suaranya terdengar memohon. "Selain buka cadar aja, ya, Mas Bims."
Namun, Mas Bims tidak menyerah. "Oke kalau gitu. Ganti gamis putih yang ketat kayak dulu itu aja," ketiknya lagi, ia tahu persis apa yang bisa memicu sensasi viewers.
Aku melihat Tiara semakin bingung. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah mencari seseorang. Kepalanya tertunduk, dan aku tahu ia sedang memikirkan apa yang harus ia lakukan. Aku tidak bisa membiarkannya ragu. Aku harus membantunya. Aku harus membuatnya melangkah ke dalam permainan ini.
Dengan jemari bergetar, aku mengetik pesan ke nomornya. "Enggak apa-apa, Sayang. Lakukan aja. Biar viewers-nya makin rame."
Aku sudah gila. Aku tahu itu. Aku mendorong istriku untuk berbuat hal yang seharusnya tidak ia lakukan. Tapi, aku tidak bisa menghentikan diriku. Gairah ini, hasrat terlarang ini, sudah menguasai diriku sepenuhnya.
Aku melihat Tiara membaca pesanku. Matanya membelalak, ekspresinya dipenuhi kebingungan. Namun, kemudian, ia mengangguk pelan. "Oke, teman-teman, tunggu sebentar, ya," katanya.
Ia melangkah keluar dari frame kamera, meninggalkan layar kosong. Aku tahu ia pergi untuk mengganti pakaian. Dadaku berdebar kencang, dan aku tidak bisa menahan diriku untuk mengelus penisku lagi. Aku tahu, ketika ia kembali, tontonan akan semakin berani. Dan aku menyukai itu.
Tidak ada suara. Layar ponselku kosong, hanya menayangkan ruang studio yang hening. Setiap detik terasa seperti satu jam. Penantian ini, yang dipenuhi gairah dan kecemasan, terasa sangat menyiksa. Kolom komentar pun ramai dengan penonton yang tak sabar, mendesak Tiara untuk segera kembali.
Kemudian, ia muncul.
Napas tertahan di tenggorokanku. Tiara kembali ke dalam frame, namun kini ia tampak berbeda. Gamis longgar yang ia kenakan sebelumnya telah diganti dengan gamis putih ketat. Kainnya membalut tubuhnya dengan sempurna, menampilkan setiap lekuk yang selama ini tersembunyi. Jilbabnya yang lebar kini diganti dengan jilbab kecil, yang hanya menutupi setengah bagian atas payudaranya.
Aku menatapnya lekat-lekat, hatiku berdebar kencang. Ia terlihat begitu berani, begitu memikat. Aku mencoba mencari bra merah yang biasanya ia pakai, tapi aku tidak bisa menemukannya. Mataku tertuju pada lekukan payudaranya, dan di antara kedua payudaranya, terlihat sebuah gundukan kecil yang menonjol. Apakah itu... putingnya?
Aku hampir tidak percaya. Istriku... ia berani sekali. Di hadapan ribuan orang, ia menampilkan dirinya dengan cara yang begitu provokatif. Aku menatapnya, tidak peduli dengan semua komentar yang membanjiri layar. Aku hanya melihatnya.
Gairah yang selama ini kurasakan kini meluap tak terkendali. Aku membuka celanaku, tanganku bergerak mengelus penisku yang sudah tegang. Aku tidak peduli lagi. Aku hanya ingin melihatnya, dan aku ingin ia tahu, bahwa aku menyukai ini. Aku menyukai drama ini, aku menyukai permainannya. Aku menyukai bagaimana ia perlahan-lahan memenuhi fantasiku yang paling gelap.
Meskipun sudah terbiasa dengan komentar-komentar nakal, permintaan yang vulgar membuatku tercengang. "Remas payudaranya, Kak!" ketik salah satu komentar. Yang lain segera mengikutinya. "Iya, remas, Kak."
Aku menahan napas, menunggu reaksi Tiara. Ia tersenyum tipis, senyuman yang penuh dengan kerahasiaan. "Mas Bims kasih gift singa dulu, ya," katanya, matanya menatap tajam ke arah kamera. "Baru Adek remas."
Aku membeku. Istriku... ia berani sekali. Ia tidak menolak. Ia bahkan mengajukan syarat. Seolah-olah semua ini adalah permainan, dan ia tahu bagaimana cara memainkannya.
Tak lama kemudian, sebuah notifikasi besar muncul di layar. Bims mengirimkan Gift Singa!
"Terima kasih banyak, Mas Bims," bisik Tiara, suaranya terdengar serak.
Ia tidak menunggu lagi. Ia mengangkat tangannya, lalu dengan gerakan perlahan, ia meremas payudaranya yang besar. Gerakan itu terasa begitu intim, begitu provokatif. Ia melakukannya di hadapan ribuan mata, di hadapan suaminya sendiri.
Aku menatap layar ponselku, tanganku bergerak tak terkendali. Gairah ini, kecemburuan ini, hasrat terlarang ini, sudah menguasai diriku sepenuhnya. Aku menyukai permainan ini, dan aku ingin ia terus melakukannya.
Bersambung...
