šˆš¬š­š«š¢š¤š® š”š¬š­šššš³ššš” š€š„š¢š¦ šš€š šŸšŸ ššžš¦š¢šœš® š‡ššš¬š«ššš­ š“šžš«š„ššš«ššš§š ​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​

Aku membuka mata. Ia mulai bercerita tentang pertemuannya. Suaranya terdengar antusias, matanya berbinar. Ia menceritakan bagaimana ia bertemu dengan para penjual online lainnya, tentang teknik-teknik baru dalam promosi, dan bagaimana ia bahkan sempat bertukar nomor dengan beberapa dari mereka.

“Seru banget, Mas. Adek jadi banyak ide buat bikin video,” katanya, senyumnya begitu tulus.

Aku hanya mendengarkan, tapi tidak memercayai satu kata pun. Setiap detail yang ia ceritakan, setiap ekspresi yang ia tunjukkan, terasa seperti naskah yang sudah ia siapkan. Seolah-olah ia sedang berakting, berusaha keras meyakinkanku bahwa ia adalah istri yang baik, yang hanya fokus pada bisnisnya.

Di dalam kepalaku, suara “Pak!” masih terngiang-ngiang. Ia bisa saja menceritakan apa pun. Ia bisa saja menyebutkan nama siapa pun. Tapi aku tahu, apa yang ia ceritakan sekarang adalah kebohongan. Ini adalah sandiwara terakhirnya sebelum aku pergi, sebuah upaya untuk menutupi semua jejak. Aku hanya bisa menghela napas, menahan semua amarah yang mendidih di dalam diriku.

Aku terus mendengarkan ceritanya, mengangguk, dan sesekali berdehem. Kepalaku terasa berat, dan mataku mulai memberat. Aku tahu ia sedang berbohong, tapi entah mengapa, kebohongan yang ia sampaikan dengan begitu meyakinkan justru membuatku semakin lelah. Aku tidak lagi memiliki tenaga untuk menahannya. Aku terperangkap di antara kebohongan dan kelelahan, dan pada akhirnya, kelelahanlah yang menang.

Sambil memejamkan mata, aku merasakan napas Tiara di sampingku. Aku bisa merasakan kehadirannya, kehangatan tubuhnya yang begitu dekat, namun terasa begitu jauh. Semua kecurigaan, kemarahan, dan rencana yang sudah kubuat perlahan memudar. Gelombang kantuk yang tak terbendung akhirnya menelanku, membawa semua kekacauan dalam pikiranku ke dalam kegelapan yang pekat. Aku terlelap, tetapi aku tahu, ketika aku bangun nanti, semua masalah itu akan kembali, menungguku.

Pagi itu, jam tiga dini hari, aku terbangun. Otakku langsung menyala, seolah-olah alarm di dalam diriku berbunyi. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Dengan hati-hati, aku bangkit dari kasur, berusaha tidak membangunkan Tiara.

Kuambil CCTV yang kubeli semalam. Aku memasang satu di sudut kamar, tersembunyi di balik tumpukan buku di rak meja rias istriku. Posisinya strategis, bisa menangkap seluruh ruangan. Kemudian, aku pindah ke studio mini Tiara. Aku sembunyikan di rak-rak barang. Sekarang jadi total lima kamera yang ada di rumah, hampir setiap sudut rumah kini berada di bawah pengawasanku.

Setelah selesai, aku merasa lega sekaligus muak pada diriku sendiri. Ini bukan lagi sekadar kecurigaan, ini adalah bukti nyata dari kegilaan yang sudah menguasai diriku. Aku harus tahu kebenarannya.

Dengan hati yang berat, aku pergi mandi. Air dingin membasuh tubuh, seolah-olah membersihkan segala kekotoran yang kurasakan. Setelah itu, aku menunaikan salat Subuh. Aku berdoa, tapi bukan untuk ketenangan. Aku berdoa untuk kekuatan, untuk bisa menghadapi apa pun yang akan kulihat nanti.

Usai salat, aku kembali ke kamar. Aku melihat Tiara masih terlelap. Aku menghela napas, lalu membangunkan istriku dan mengguncang bahu istriku pelan. “Dek, bangun. Sudah Subuh,” bisikku.

Tiara menggeliat, lalu membuka matanya. Ia menatapku dengan mata setengah sadar, lalu tersenyum tipis. “Mas, sudah lama bangun?” tanyanya, suaranya serak. Aku hanya mengangguk. Ia bangkit, mengambil air wudu, lalu menunaikan salatnya.

Aku duduk di tepi kasur, mengawasinya. Gerakannya begitu tenang, khusyuk.

Setelah selesai, ia kembali mendekatiku. “Mas, Adek mau buat sarapan. Mas mau makan apa?”

“Terserah Adek saja,” jawabku. Aku mengikutinya ke dapur. Ruangan ini, yang seharusnya menjadi tempat yang nyaman, kini terasa seperti medan perang. Aku bersandar di ambang pintu, mengawasinya. Ia mengambil wajan, memotong bawang merah, dan mulai memasak nasi las a. Semuanya terlihat normal.

“Mas, jangan bengong. Ayo duduk,” ajaknya, tanpa menoleh.

Aku mengambil tempat di meja makan. “Dek, nanti setelah Mas berangkat, Adek mau ngapain?” tanyaku, mencoba terdengar santai. Ini adalah pertanyaan jebakan. Aku ingin tahu apakah ia akan mengulangi kebohongannya.

“Nanti Adek mau bersihin rumah, terus mau balas-balas chat pelanggan. Setelah itu, paling Adek mau istirahat,” jawabnya santai.

Tidak ada “pertemuan komunitas” atau “Ustadzah Silmi” kali ini. Alasan itu ia gunakan hanya untuk kemarin. Hari ini, ia kembali pada rutinitasnya sebagai istri yang baik. Aku memandangi gerakannya yang cekatan saat mengaduk nasi las a. Di mataku, setiap gerakannya adalah sebuah las a yang sempurna. Aku tahu, ia tidak akan pernah mengatakan yang sebenarnya.

Setelah sarapan, aku mengecek kembali barang-barangku yang sudah kumasukkan ke dalam koper. Aku memastikan semua dokumen kantor dan pakaian sudah lengkap. Tanganku menyentuh laptop, lalu beralih ke ponselku. Aplikasi CCTV sudah siap sedia. Alat-alat itu adalah satu-satunya jembatan yang akan menghubungkanku dengan rumah ini selama seminggu ke depan.

Tepat pukul 05.30, aku sudah siap berangkat. Tiara mengantarku sampai ke depan pintu. Wajahnya terlihat begitu sedih, seolah ia benar-benar berat hati berpisah denganku. Aku tidak tahu apakah kesedihan itu tulus atau hanya sandiwara lainnya.

“Mas, hati-hati di jalan ya,” bisiknya, matanya menatapku lekat-lekat.

Aku menatapnya kembali, sebuah senyum tipis terukir di wajahku. “Iya, Dek. Adek juga, jaga diri baik-baik,” ujarku, suaraku terdengar lembut.

Setelah itu, aku berbalik, masuk ke dalam mobil. Aku melirik spion, melihat Tiara masih berdiri di depan pintu, melambaikan tangannya. Aku membalas lambaiannya, lalu melajukan mobilku meninggalkan rumah. Perjalanan ke Bali baru saja dimulai, tapi aku tahu, petualangan yang sesungguhnya akan terjadi di sini, di rumah ini dan aku menunggunya.

Setelah sampai di Bandara Ngurah Rai, aku disambut oleh seorang pria. Udara hangat Bali langsung menyelimuti, namun, pikiranku tidak ada di sana. Pikiranku masih di rumah, ribuan kilometer jauhnya.

Pria itu memperkenalkan diri sebagai staf dari kantor cabang, lalu mengarahkanku ke sebuah mobil. Sepanjang perjalanan, ia terus menjelaskan seluk-beluk pekerjaan yang harus aku awasi. Aku hanya mengangguk dan menjawab seadanya. Aku tidak bisa las . Setiap kata yang ia ucapkan bagai suara latar yang jauh. Di kepalaku, hanya ada bayangan Tiara.

“Kita sudah sampai, Pak,” kata pria itu, menghentikan mobil di depan sebuah rumah yang terlihat nyaman dan bersih. “Ini rumah dinas Bapak selama di sini. Kalau ada yang dibutuhkan, langsung hubungi saya.”

Aku mengucapkan terima kasih dan segera masuk ke dalam. Rumah itu kosong dan sunyi. Pemandangan di depanku terasa begitu asing. Aku melangkah cepat ke kamar, menjatuhkan koper di lantai. Hal pertama yang kuambil bukan pakaian, melainkan ponselku.

Aku mengambil ponsel, membuka aplikasi telepon, dan mencari kontak Tiara. Jemariku ragu sejenak, tapi aku harus melakukannya. Aku harus mendengar suaranya, mencari nada kebohongan di sana. Aku menekan tombol panggil.

“Mas?” jawab Tiara, suaranya terdengar ceria, seolah tidak ada yang terjadi.

“Iya, Dek. Lagi ngapain?” tanyaku, mencoba terdengar santai.

“Lagi nonton TV, Mas. Mas gimana? Sudah sampai di Bali?”

“Sudah, Dek. Ini baru sampai rumah dinas. Kamu di rumah baik-baik saja, kan? Enggak ada teman yang main, kan?” tanyaku, pertanyaanku terasa seperti jebakan.

“Baik, Mas. Adek di rumah sendirian kok. Enggak ada yang main,” jawabnya, suaranya tetap tenang.

“Syukurlah. Mas jadi tenang kalau Adek baik-baik saja di rumah. Mas kerja dulu ya,” kataku, lalu menutup telepon.

Hatiku terasa berat. Tidak ada nada aneh. Tidak ada kegelisahan. Ia terdengar begitu normal. Aku kembali menatap layar CCTV, mengamatinya. Ia kembali duduk di sofa, menonton TV, seperti istri yang kesepian menunggu suaminya pulang.

Aku merasa aneh. Aku berharap menemukan sesuatu yang salah, tapi ia hanya menjadi istri yang baik. Kekosongan itu lebih menyakitkan daripada kecemburuan.

Malam itu, di Bali, aku memandangi layar ponselku, hatiku terasa hampa. Setelah berjam-jam memutar rekaman, aku tidak menemukan apa pun yang mencurigakan. Tiara benar-benar hanya menonton TV, membalas chat pelanggan, lalu sesekali masuk ke studio untuk memeriksa barang-barang. Tidak ada pria lain. Tidak ada “Bapak.” Tidak ada desahan. Semua kecurigaan yang membuatku gila ternyata hanya ilusi yang kubuat sendiri.

Rasa lega seharusnya las a, tapi yang kurasakan justru sebaliknya. Sebuah kekecewaan dingin menyelimuti. Pikiranku langsung berputar. Kenapa dia tidak melakukan apa-apa? Apakah ia sudah sadar ada yang mengawasinya? Atau… jangan-jangan, ia memang tidak pernah melakukan hal-hal itu? Tapi, lalu bagaimana dengan suara-suara malam itu? Bagaimana dengan bekas merah di lehernya?

Aku mengepalkan tangan. Tidak. Ini tidak mungkin. Semua ini pasti hanya taktiknya. Ia menunggu. Ia tahu aku tidak ada di rumah, tapi ia tetap menunggu, seolah-olah menguji seberapa jauh aku akan mengawasinya. Ia sengaja membuatku frustrasi, membuatku ragu, lalu ia akan bertindak.

Namun, di balik semua pembenaran itu, ada bisikan lain yang lebih gelap, lebih jujur. Aku tidak menemukan apa yang kucari, bukan karena Tiara terlalu cerdas menyembunyikannya, tapi karena ia tidak melakukannya. Dan kenyataan itu, entah mengapa, terasa pahit. Aku telah menyiapkan diriku untuk sebuah drama, untuk pengkhianatan yang akan memicu hasrat terlarangku. Aku telah menanti-nanti sebuah pemandangan yang akan membuatku jijik sekaligus bergairah.

Dan kini, semua itu hancur. Ia hanya seorang istri yang baik.

Aku merasa bodoh. Semua amarah, semua pengawasan rahasia, semua kebohongan yang kubuat… untuk apa? Untuk menemukan bahwa istriku adalah wanita yang tulus dan jujur? Aku menertawakan diriku sendiri. Tawa yang hambar, tanpa kebahagiaan.

Malam itu, aku mencoba tidur, tapi mataku terus terbuka. Aku memejamkan mata, dan bayangan Tiara di studio mini muncul. Ia sedang berdiri, lalu ia melepas gamisnya, dan… tidak. Tidak ada orang lain di sana. Hanya dirinya, yang sedang mencoba pakaian lain, atau mungkin… tidak melakukan apa-apa.

Frustrasi ini lebih buruk daripada kecemburuan. Kecemburuan memberiku tujuan, memberiku las an untuk bertindak. Frustrasi ini membuatku merasa kosong. Aku telah merencanakan permainan ini, tapi aku tidak punya lawan.

Tiba-tiba, ponselku bergetar. Pesan dari Tiara.

“Mas, besok Adek mau live lagi. Mau jual baju gamis baru. Doain ya, Mas,”

Aku membaca pesannya, dan sebuah ide aneh muncul di benakku. Mungkin… ini adalah kesempatanku. Aku tidak bisa mengawasi secara fisik, tapi aku bisa melihatnya secara langsung, secara live. Aku bisa melihat interaksinya dengan penontonnya yang komen nakal itu. Aku bisa melihat siapa yang menonton keindahan tubuhnya dibalik gamis.

Aku menunggu, dengan hati yang berdebar kencang, menanti besok. Aku akan berpura-pura menjadi penonton, mencari tanda-tanda, mencari “Bapak” itu. Mungkin, di sana aku akan menemukan apa yang kucari. Mungkin, di sana, drama yang kuinginkan akan dimulai.

Aku membalas pesannya, “Tentu, Dek. Semoga laris ya.”

Jemariku berhenti, sebuah ide gila melintas. Aku menambahkan kalimat lagi, mencoba terdengar santai, padahal jantungku berpacu kencang. “Besok pake baju yang agak ketat aja, Dek, biar banyak yang nonton. Hehe.”

Tak lama kemudian, balasan Tiara masuk. “Kok gitu, Mas? Nanti Mas marah kalau Adek pake baju ketat.”

“Enggak kok, Dek. Kan biar jualan Adek laris,” balasku, menutupi hasrat gelapku dengan las an yang logis. Aku hanya ingin melihatnya. Melihatnya tampil di depan ribuan mata, memicu kecemburuanku, memicu gairah terlarang yang selama ini kurasakan.

“Oke deh, Mas. Liat besok yaa,” jawabnya, suaranya terasa begitu polos, seolah tidak menyadari permainan yang sedang kumulai.

Aku menutup mata, berharap besok akan membawa jawaban. Aku tidak peduli lagi apakah jawaban itu akan menghancurkanku atau tidak. Aku hanya ingin tahu gimana rasanya jika beneran istriku di nikmati orang lain di hadapanku.

Bersambung...


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com