𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟐𝟎 𝐊𝐞𝐛𝐨𝐡𝐨𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐀𝐭𝐚𝐮❓

Namun Tidak ada balasan. Aku menunggu, menatap layar ponselku yang sepi. Satu menit terasa seperti satu jam. Aku mencoba lagi. Tetap tidak ada balasan.

Jemariku gemetar menekan tombol panggil. Telepon ala mini… satu kali… dua kali… tiga kali… nada panggil itu terdengar seperti sindiran, mengolok-olok diriku. Ia tidak mengangkatnya. Deringan itu berhenti, digantikan oleh suara operator yang membosankan. Aku mencoba lagi. Dan lagi. Dan lagi.

Ia tidak mengangkat.

Kemarahan mengalir deras dalam nadiku, panas dan membakar. Ia sengaja tidak mengangkat. Ia sengaja tidak membalas pesanku. Ia pasti sedang sibuk, terlalu sibuk dengan “Bapak” itu. Kecerobohan ini sudah keterlaluan. Ia bahkan tidak repot-repot menyembunyikannya lagi.

Aku melempar ponselku ke sofa. Semua kecurigaanku kini menjadi keyakinan mutlak. Semua keraguanku musnah. Ia benar-benar mengkhianatiku. Ia sedang di luar sana, dengan pria lain.

Aku hanya bisa pasrah. Semua amarah dan kecurigaan yang membakar kini berubah menjadi kelelahan yang luar biasa. Aku menjatuhkan diriku di sofa, menatap langit-langit yang kosong. Tubuhku terasa berat, seperti terbebani ribuan pertanyaan tanpa jawaban.

Menjelang magrib, aku bangkit. Kumasuki kamar mandi, mencoba membersihkan diri dari kegelisahan. Air wudu terasa dingin di kulit, seolah membasuh semua kekotoran yang ada di dalam hatiku. Setelah itu, aku menunaikan salat. Aku mencoba khusyuk, tapi pikiranku terus melayang, memikirkan Tiara dan kebohongannya.

Usai salat, aku kembali ke sofa membuka ponselku. Sebuah pesan baru masuk. Dari Tiara.

“Sayang, habis ini adek pulang.”

Kata “sayang” itu terasa begitu hambar. Sebuah kata manis yang kini terasa pahit dan penuh dusta. Aku membaca pesannya berulang-ulang, mencoba mencari makna tersembunyi. Habis ini? Habis melakukan apa?

Aku tidak membalas. Aku hanya duduk, menunggu. Kebingungan dan kepasrahan yang tadi kurasakan kini digantikan oleh ketegangan yang dingin. Aku ingin tahu apa yang akan ia ala min. Aku ingin menatap matanya, mencari kebohongan di sana. Permainan ini belum berakhir.

Malam itu, setelah membaca pesan dari Tiara, pikiranku tidak tenang. Besok pagi aku harus berangkat ke Bali. Perasaanku tidak enak, seperti ada firasat buruk yang menggerogoti. Selama aku pergi, ia pasti akan lebih leluasa dan berani. Bayangan itu membuatku gelisah. Aku tidak bisa membiarkannya.

Aku harus tetap mengawasinya. Aku harus tahu apa yang dia lakukan di setiap sudut rumah. Aku butuh bukti yang tidak terbantahkan. Tanpa ala panjang, aku bangkit dari sofa, mengambil kunci mobil, dan langsung keluar. Aku pergi ke ala elektronik yang masih buka dan membeli dua kamera CCTV lagi. Aku tidak peduli harganya. Aku hanya butuh jawaban.

Dengan tergesa, aku memasang beberapa kamera di studio mini Tiara, menyembunyikannya di balik rak buku dan dekorasi. Satu lagi di kamar kami, tersembunyi di balik lampu tidur. Aku yakin, tidak ala min satu pun yang ia sadari.

Tepat pukul 20.00, aku kembali ke rumah. Aku membuka pintu dengan hati-hati. Keheningan menyambutku. Aku melangkah masuk, dan jantungku berdegup kencang saat melihat Tiara.

Ia baru selesai mandi, masih melilitkan handuk di tubuhnya. Rambutnya basah dan menempel di lehernya. Ia terlihat begitu polos dan rapuh. Namun, di mataku, kerapuhan itu terasa seperti topeng. Ia menoleh ke arahku, terkejut. “Mas, kok baru pulang?” tanyanya, suaranya lembut.

Aku mematung. Di balik handuk itu, aku bisa membayangkan bekas merah yang sama seperti malam itu. Rasa jijik dan gairah kembali bercampur aduk, kini diperburuk oleh kebohongan yang jelas. Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya, dengan semua kecurigaan yang ada di dalam kepalaku.

Aku memaksakan senyum. “Iya, Dek. Tadi Mas habis makan di luar,” jawabku, sebuah kebohongan yang terasa dingin di lidah. Aku balas menatapnya, mataku mencari celah di balik kepolosannya. “Adek habis dari mana?” Suaraku terdengar lebih tenang dari yang kurasa. Pertanyaan itu adalah sebuah jebakan, sebuah percobaan untuk melihat apakah ia akan berbohong lagi.

“Adek habis dari pertemuan komunitas penjual live online, Mas,” jawabnya tenang, seolah apa yang dia ala min adalah hal paling biasa di dunia. Ia menarik handuknya sedikit lebih erat. “Sama Ustadzah Silmi juga kok, jadi Adek berani.”

Mataku tak berkedip. Komunitas penjual live online? Sejak kapan ada komunitas seperti itu? Dan ia berani menggunakan nama Ustadzah Silmi lagi? Alasan itu terlalu mulus, terlalu rapi. Kata-kata “berani” itu menusukku. Berani melakukan apa? Berani pergi dengan pria itu? Dengan Pak RT? Dengan Mas Bims?

Aku tahu ia berbohong. Ia tidak akan pernah bisa menatapku seperti itu, dengan kepolosan yang dibuat-buat, jika ia mengatakan yang sebenarnya. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti belati yang mengiris. Ia tidak hanya mengkhianatiku, tapi juga menganggapku bodoh.

Aku hanya mengangguk pelan. Tidak ada yang bisa kukatakan. Jika aku bertanya lebih jauh, ia akan tahu aku sedang mengawasinya. Biarkan ia merasa aman. Biarkan ia berpikir ia berhasil menipuku. Aku akan membiarkannya bermain dalam kebohongannya,

Aku menatapnya dalam diam, mencoba mencerna setiap kata kebohongan yang ia ucapkan. Ia mengangguk pelan, lalu berbalik, berjalan masuk ke dalam kamar. Aku mengikutinya, pikiranku berkecamuk.

Di dalam kamar, Tiara mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Baju tidur itu berwarna merah muda, terbuat dari bahan satin yang lembut. Lekuk tubuhnya yang indah terlihat jelas. Rambutnya yang masih basah tergerai, membuat penampilannya semakin memikat.

Ia terlihat begitu cantik, begitu menggoda. Aku tidak bisa menahan diriku. Bayangan istriku yang secantik ini dinikmati oleh orang lain menghantamku seperti ombak, membuat hasratku memuncak. Gairah dan kemarahan bercampur menjadi satu. Aku mendekatinya dari belakang, memeluk pinggangnya.

“Dek,” bisikku serak. “Mas mau sekarang.”

Tiara terkejut, mencoba melepaskan pelukanku. “Mas, jangan sekarang. Adek capek,” ucapnya pelan. “Adek baru pulang, mau istirahat.”

Permintaannya, penolakannya, bagaikan api yang membakar amarahku. Ia bisa memberikan dirinya pada pria lain, tapi tidak padaku? Pada suaminya sendiri? Penolakan itu terasa lebih menyakitkan daripada kebohongannya. Aku melepaskan pelukanku, mundur selangkah. Kata-kata sudah tidak lagi bisa keluar dari mulutku. Aku hanya berdiri di sana, menatapnya, dengan hati yang hancur dan dendam yang mulai tumbuh.

Setelah keheningan yang canggung, aku memutuskan untuk menyampaikan berita itu. “Dek,” ujarku, suaraku terdengar kaku. “Tadi sore aku dapat telepon dari kantor pusat.”

Tiara menatapku, matanya yang tadi terlihat lelah kini dipenuhi rasa ingin tahu. “Ada apa, Mas?”

“Mereka minta aku ke Bali. Ada cabang baru di sana,” jelasku. “Aku harus jadi mentor dan mengawasi operasional di cabang baru.”

Wajahnya berubah. Kerutan halus muncul di keningnya. “Lama enggak, Mas?” tanyanya, suaranya terdengar cemas.

“Satu minggu,” jawabku singkat.

Ekspresi Tiara langsung menunjukkan kegelisahan. “Mas, lama banget seminggu? Terus Adek di rumah sendirian dong seminggu?”

Mataku mengamati setiap detail di wajahnya. Ada kecemasan, tapi bukan kecemasan seorang istri yang akan ditinggal suami. Itu adalah kegelisahan seorang penipu yang takut rencananya akan terganggu.

Aku mengganti pakaianku dengan baju tidur, lalu rebahan di kasur. ala mini, aku harus tidur lebih awal. Besok pagi-pagi sekali aku sudah harus berangkat ke bandara. Pikiranku masih kacau, tapi tubuhku benar-benar lelah. Aku memejamkan mata, berharap bisa mengusir semua kecurigaan dan rasa sakit yang menggerogoti.

Tak lama kemudian, Tiara ikut merebahkan diri di sampingku. Kehangatan tubuhnya terasa asing. Ia memiringkan badannya, menghadap ke arahku.

“Mas,” bisiknya pelan, “Adek mau cerita.”

Bersambung...


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com