𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟏𝟗 𝐀𝐩𝐢 𝐏𝐞𝐫𝐦𝐚𝐢𝐧𝐚𝐧

Pagi itu, aku bangun lebih awal, dipenuhi energi yang tak biasa. Subuh yang sunyi terasa seperti kesempatan sempurna untuk memulai rencanaku. Aku mengambil dua kamera CCTV yang kubeli kemarin, lalu memasangnya di tempat-tempat tersembunyi. Satu di ruang keluarga, tersamar di balik pot hiasan, dan satu lagi di dapur, disembunyikan di rak bumbu. Aku yakin Tiara tidak akan menyadarinya. Aku ingin memasang satu lagi di studio mini miliknya, tapi aku urungkan niatku, takut kamera itu ketahuan dan merusak semua rencana.

Setelah selesai, aku mengambil air wudu dan menunaikan salat Subuh. Pikiranku masih dipenuhi bayangan Tiara di studio, dan suara desahannya yang memanggil "Bapak" masih terngiang-ngiang. Aku berharap CCTV ini bisa memberikan jawaban yang pasti. Setelah salat, aku kembali ke kamar. Tiara sudah bangun, wajahnya terlihat begitu polos, tanpa beban. Ia tersenyum, lalu bergegas mengambil wudu dan salat.

Setelah selesai, ia kembali ke dapur untuk memasak sarapan. Aku duduk di meja makan, mengawasinya dari jauh. Ia terlihat begitu normal, seperti istri pada umumnya. Kami sarapan pagi bersama, tanpa ada kecanggungan. Namun, aku tahu, ada sesuatu yang berbeda. Ada jurang yang tersembunyi di antara kami.

"Mas, kenapa?" tanya Tiara, suaranya lembut. Ia meletakkan sendoknya, menatapku dengan mata yang penuh perhatian. "Mas kelihatan capek. Ada masalah di kantor?"

Aku menelan suapan nasi gorengku, yang terasa hambar di lidah. Aku memaksakan senyum. "Enggak, Dek. Enggak ada apa-apa kok. Cuma banyak kerjaan aja."

"Oh," dia mengangguk, kembali menyendok makanannya. "Kalau ada masalah, cerita ya, Mas. Jangan dipendam sendiri."

Aku hanya mengangguk, tidak bisa menjawab. Setiap kata darinya terasa seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, ia tampak begitu peduli, begitu tulus. Di sisi lain, aku tidak bisa melupakan suara-suara dan bayangan dari malam sebelumnya.

Keheningan kembali menyelimuti kami, hanya ada suara dentingan sendok di piring. Aku meliriknya lagi. Di balik gamis sederhananya, ia terlihat begitu polos. Namun, aku tahu, di balik kepolosan itu, ada sisi lain yang bersembunyi. Sisi yang liar dan penuh rahasia. Sisi yang membuatku tidak bisa tidur.

"Sayang, btw kamu kenapa kemarin enggak live?" tanyaku, mencoba terdengar santai, mencoba mengorek informasi tanpa terlihat mencurigakan.

Tiara tersenyum lembut. "Aku sekarang jarang live, Mas. Karena jualan Adek sudah laku banyak. Pengin ambil libur beberapa hari aja, Mas, menikmati waktu," jawabnya.

Jawaban itu terdengar logis, tapi entah mengapa, aku tidak bisa sepenuhnya mempercayainya.

Setelah sarapan, aku berpamitan pada Tiara. "Mas berangkat dulu, Sayang," kataku. Aku mencium keningnya, dan entah mengapa, ciuman itu terasa dingin. Ada jarak tak terlihat di antara kami. Aku menatap matanya, dan ada sesuatu yang asing terpancar dari sana. Sesuatu yang tak bisa kumengerti.

Aku tahu, hari ini adalah hari yang penting. Aku akan mendapatkan jawaban. Aku akan tahu apa yang Tiara lakukan saat aku tidak di rumah. Aku akan tahu apakah kecurigaan dan kegilaanku selama ini adalah kenyataan, atau hanya bayangan yang kuhancurkan sendiri.

Aku keluar dari rumah, masuk ke mobil, dan melaju ke kantor. Pikiranku tak bisa fokus. Aku terus memikirkan Tiara. "Sabar," kataku pada diriku. "Nanti aku bisa melihatnya." Aku ingin tahu. Aku ingin melihat apa yang akan ia lakukan. Permainan ini baru saja dimulai.

Setelah sampai di kantor, aku bekerja seperti biasa, tapi pikiranku terus terbagi. Aku terus mengecek jam. Pukul 10.00, 11.00, 12.00… aku menahan diri untuk tidak membuka aplikasi CCTV. Aku ingin melihat segalanya sekaligus. Pukul 14.00, aku tidak tahan lagi. Aku segera membuka ponselku, lalu membuka aplikasi CCTV. Namun, yang kudapati adalah kekosongan. Ruang keluarga kosong, dapur kosong. Aku tidak melihat istriku sama sekali.

Aku merasa bingung dan gelisah. Aku tidak tahu di mana Tiara berada. Aku memutuskan untuk memutar ulang rekamannya, dari awal, perlahan. Aku mulai memutar rekaman dari pukul 06.30, saat aku berangkat kerja. Aku melihat istriku menyapu. Kemudian, pada pukul 08.00, ia keluar rumah memakai gamis dan cadar lengkap. Sekitar 20 menit kemudian, ia masuk lagi ke rumah, membawa kantong plastik. Aku yakin itu sayuran, sepertinya ia pergi ke tukang sayur atau pasar untuk berbelanja.

Aku terus memutar rekaman. Setelah kembali dari tukang sayur, Tiara meletakkan belanjaannya di kulkas dapur. Setelah itu, ia bergegas masuk ke studio, menutup pintunya dari dalam. Aku memperbesar tampilan layar ponselku, mengamati pintu itu dengan saksama, berharap bisa melihat celah.

Lama sekali dia di sana. Pikiranku berkecamuk. Ia sedang apa? Mengapa di studio? Aku menahan napas, dadaku berdebar kencang. Aku mempercepat rekaman, melewati menit-menit yang terasa seperti jam.

Pukul 11.00. Pintu studio terbuka, dan Tiara keluar. Ia berjalan cepat menuju kamar.

Aku menghentikan rekaman. Mataku membelalak. Ia masuk studio memakai gamis putih lebar, tapi sekarang ia keluar dengan pakaian yang berbeda. Gamis merah muda bermotif bunga, sangat ketat, sama persis seperti gamis putih yang ia kenakan kemarin. Bentuk tubuhnya tercetak jelas di balik kain itu. Jilbab lebarnya tidak bisa menutupi sepenuhnya payudaranya yang besar, yang terlihat menonjol dan menantang.

Aku menanti. Beberapa menit kemudian, ia keluar lagi dari kamar, mengenakan jilbab lebar dan cadar. Pakaian itu seharusnya bisa menyembunyikan lekuk tubuhnya, tapi payudaranya yang besar itu tetap terlihat menonjol. Di bawah cadar, ia terlihat begitu polos, seolah tak ada rahasia yang ia sembunyikan. Namun, aku tahu ada sisi lain dari dirinya yang sedang bermain-main.

Aku melihatnya keluar dari rumah dan masuk ke mobil. Jantungku berdebar kencang. Ke mana dia pergi? Apakah ia akan bertemu dengan Pak RT atau Mas Bims? Apakah ia akan melakukan hal yang sama seperti yang kudengar dari balik pintu studio? Atau bahkan lebih?

Aku mengepalkan tanganku. Pertanyaan-pertanyaan itu menggerogoti pikiranku. Aku harus tahu. Aku harus mendapatkan jawaban yang pasti.

Aku terus mempercepat rekaman, tapi istriku belum juga pulang. Perasaan gelisahku semakin memuncak. Tidak biasanya dia keluar rumah tanpa izin. Aku mengambil ponsel, jemariku bergerak cepat mengetik pesan.

"Dek, lagi apa?"

Tak lama, balasan masuk. "Mas, aku keluar sebentar ya. Diajak Ustadzah Silmi ngafe mendadak jadi aku enggak sempat izin, maaf ya Mas."

Aku terdiam. Ustadzah Silmi... teman lama Salma saat masih di pesantren. Aku tahu mereka berteman, tapi kenapa Tiara tidak pernah menyebutkannya lagi selama ini?, aku kira mereka sudah tidak akrab lagi, Kenapa ia baru sekarang bertemu dan harus mendadak seperti ini? Alasan itu terdengar begitu dibuat-buat, begitu janggal. Seakan-akan ia sengaja menutupi sesuatu. Aku membalas pesannya, mencoba terdengar santai meskipun ada badai di dalam diriku.

"Iya udah Dek, enggak apa-apa."

Aku menaruh kembali ponselku, tatapanku kosong pada rekaman. Aku tidak percaya. Kecerobohannya berbohong membuatku yakin, apa yang kuduga selama ini adalah kenyataan. Tiara tidak pergi dengan Ustadzah Silmi. Ia pergi menemui "Bapak" itu atau justru mas bims.

Tiba-tiba, ponselku berdering. Panggilan dari kantor pusat. Ada perasaan tidak enak yang menyelimuti diriku saat melihat nama bos di layar.

"Dim, kamu besok langsung ke Bali. Cabang baru kita di sana butuh mentor untuk mengawasi operasional. Saya yakin kamu yang paling cocok," ujarnya, tanpa basa-basi.

Kenapa harus aku? Rasanya aku ingin berteriak menolak. Tapi aku tahu, tawaran ini adalah perintah. Aku tidak bisa membantah. Semua rencanaku untuk mengawasi Tiara runtuh seketika. Aku hanya bisa menjawab, "Iya, Pak. Baik."

"Bagus. Berangkat besok pagi. Tiket sudah saya kirimkan ke email kamu."

Sambungan terputus. Ponselku terasa berat di genggaman. Perasaan frustrasi dan marah memuncak. Aku tidak bisa mengawasi Tiara. Aku tidak bisa mendapatkan jawaban yang pasti.

Sore itu, langkahku terasa berat saat tiba di depan pintu rumah. Aku membuka pintu dengan kunci yang terasa dingin di tanganku. Tidak ada suara, tidak ada sambutan. Hanya keheningan yang menyesakkan. Sendal Tiara tidak ada di rak. Hatiku langsung mencelos.

"Dek...?" panggilku, tapi hanya gema suaraku yang menjawab.

Kemarahan kembali menguasai diriku. Ia belum pulang, masih di luar. Alasan Ustadzah Silmi itu hanya kebohongan. Ia pasti pergi menemui pria itu. Pikiranku langsung melayang ke bayangan yang selama ini menghantuiku. Mataku melirik jam di dinding. Sudah pukul 16.30.

Aku segera mengambil ponselku. Jemariku bergetar saat mengetik pesan, perasaanku campur aduk antara cemburu, marah, dan keinginan untuk mengendalikan situasi. Aku harus tahu di mana ia berada.

"Dek, aku sudah sampai rumah. Kamu di mana?"

Bersambung...


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com