𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟏𝟖 𝐏𝐮𝐧𝐜𝐚𝐤 𝐊𝐞𝐜𝐮𝐫𝐢𝐠𝐚𝐚𝐧

 

Setiap noda merah itu seperti cap pengkhianatan, bukti bisu dari apa yang baru saja terjadi. Aku sentuh bekas itu dengan ujung jariku, merasakan campuran antara kemarahan dan hasrat yang bergejolak di dalam diriku.

"Apa ini?" tanyaku, suaraku serak.

Tiara menatapku dengan mata penuh ketakutan. "Mas... itu... tadi digigit semut terus Adek garuk, jadi merah."

Aku menatap bekas merah di dadanya, dan jawaban "gigitan semut" itu terdengar begitu palsu. Aku bisa saja marah, berteriak, atau menuntut kebenaran. Tapi anehnya, aku tidak melakukannya. Aku hanya melanjutkan apa yang sedang kulakukan. Rasa jijik dan gairah masih bercampur aduk, kini diperburuk oleh kebohongan yang jelas. Aku tidak ingin tahu kebenarannya dari mulutnya, aku ingin melihatnya sendiri.

Aku teruskan cumbuanku, dengan setiap sentuhan yang lebih dalam, aku membayangkan apa yang terjadi di belakang rumah. Setiap desahannya, setiap rintihannya, membuatku bertanya-tanya: apakah ia memikirkan Pak RT saat ini? Apakah ia menikmati sentuhanku sama seperti ia menikmati sentuhan pria itu?

Aku tidak peduli lagi. Aku dengan cepat meremas payudara istriku yang besar itu. Putingnya yang berwarna merah muda begitu menggoda, dan aku yakin Pak RT pasti sudah melihatnya. Aku kemudian berdiri, melucuti semua pakaianku. Tiara duduk di kasur, lalu dengan nada menggoda, ia berkata, "Mas, sini penisnya."

Tanpa aba-aba, ia langsung memegang penisku dan mengulumnya. Dalam hatiku, aku bertanya-tanya, "Sejak kapan dia mau mengulum penisku?"

"Ahh, enak banget, Dek. Mas gak tahan," ujarku.

Aku segera merebahkan istriku. Aku masukkan penisku ke dalam dirinya dan memompanya lebih kencang.

"Ahh, enak banget, Dek. Vagina kamu enak banget, sempit banget," erangku.

"Ahh, iya Mas, vagina Adek hanya buat Mas," balas Tiara, suaranya terengah.

Aku memompa lebih cepat, tak peduli dengan apa yang terjadi sebelumnya. Aku hanya ingin tenggelam dalam sensasi ini. Tiara mengimbangi setiap gerakanku, desahannya semakin nyaring. Aku bisa merasakan ia menikmati setiap sentuhan, setiap dorongan. Di puncak gairah, aku berbisik, "Dek, kamu yang terbaik."

Tiara mengangguk, matanya terpejam. "Mas... Adek sayang Mas," bisiknya lirih.

"Dek, Mas mau keluar... ahh..."

"Bentar dulu, Mas, Adek masih enak. Tahan dulu," pintanya.

"Mas gak kuat deh... ahh... crot... crott..." Aku mengeluarkan spermaku di dalam vaginanya. Aku rebahan di samping istriku yang masih terengah-engah.

Kemudian, Tiara bangkit dari kasur. "Mau ke mana, Dek?" tanyaku.

"Mau ke kamar mandi luar mas. Mas bersih-bersih di kamar mandi dalam aja," jawabnya.

Aku terdiam, mengawasi Tiara yang berjalan keluar dari kamar. Aku tahu dia pasti berbohong. Pikiranku langsung kacau. Pasti dia mau menghubungi Mas Bims. Dia pasti akan pergi ke studio mininya untuk live streaming, tapi bagaimana mungkin? Dia masih telanjang. Bayangan itu membuatku gelisah dan napasku memburu.

Perbuatan itu memicu sensasi aneh yang tak hanya membuatku marah, tapi juga membuatku bernafsu membayangkan hal itu benar-benar terjadi. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya kecurigaanku, tapi fakta yang terjadi sebelumnya terlalu kuat. Aku tidak peduli lagi. Lebih baik aku tidur.

Aku membaringkan diriku, berusaha memejamkan mata. Namun, bayangan Tiara di depan kamera, dengan tubuhnya yang telanjang, terus menghantuiku. Aku tidak bisa tidur. Aku tahu, aku tidak akan bisa tidur sampai aku tahu apa yang sebenarnya terjadi.

aku bergegas masuk ke kamar mandi. Aku membersihkan diri dengan cepat, pikiran dan perasaanku campur aduk. Setelah selesai, aku memakai baju dan bergegas keluar. Aku mencari istriku, dan benar saja, ia ada di studio.

Tepat di depan pintu, aku mendengar suaranya yang parau. "Ahh Ahh..pak Ahh.."

Aku terkejut. Dia sedang apa? Aku mencoba mengintip dari celah kunci pintu, tetapi lubang itu tertutup. "Ahh pak gede baget punya bapak ahh.. masukin pak masukin ke vagina rapet ku ini pak. ahh"

Aku mematung di depan pintu, mendengarkan setiap desahan yang keluar dari balik pintu studio. Suara Tiara terdengar parau, penuh gairah. "Ahh pak gede baget punya bapak ahh.. masukin pak masukin ke vagina rapet ku ini pak. ahh." Aku mencoba mencerna setiap kata, mengulanginya di kepalaku. Siapa "Bapak" itu? Bukan "Mas Bims", itu sudah pasti. Tapi siapa lagi yang bisa membuat istriku begitu liar, begitu berani? Siapa yang ia panggil "Bapak"? Tidak mungkin Bims, karena ia selalu memanggilnya "Mas". Apakah mungkin Pak RT? Pertanyaan itu menusuk-nusuk pikiranku.

Pikiranku langsung melayang ke Pak RT. Bayangan tangannya di paha Tiara kembali menghantuiku, diperkuat oleh suara yang kudengar saat ini. Aku mengepalkan tanganku, amarahku meluap. Namun, ada sensasi lain yang menyusup, sensasi jijik yang bercampur dengan hasrat yang tak terhindarkan. Aku merasa seperti sedang menonton sebuah film porno, dengan istriku sebagai bintang utamanya.

Aku kembali menempelkan telingaku di sana. Suara Tiara terdengar semakin jelas. Ia tertawa, lalu suaranya kembali parau, "Ahh pakk. Kencengin pak. Tiara mau keluarr ahh..."

"Tiara keluar pakk. Ahh." Istriku sepertinya orgasme. Aku kembali ke kamar. Besok aku harus memasang CCTV-ku dan melanjutkan mata-mata ku lagi.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Tiara masuk dengan telanjang bulat, mendapati aku yang belum tidur. "Mas, kok belum tidur?" tanyanya lembut, seolah tidak terjadi apa-apa.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Tiara masuk, mendapati aku yang belum tidur. "Mas, kok belum tidur?" tanyanya lembut, seolah tidak terjadi apa-apa.

Aku terdiam, memandang wajah Tiara yang polos, seolah tidak terjadi apa-apa. "Habis dari mana, Dek?" tanyaku, suaraku terdengar lebih tenang dari yang kurasa.

Ia nampak kaget. Ia menunduk, tidak berani menatap mataku. "Maaf, Mas, tadi aku masturbasi," ucapnya pelan. "Maafkan Adek, Mas, tapi Adek tidak bisa seperti ini terus. Adek butuh puas ketika bersenggama, jadi Adek memutuskan buat masturbasi, Mas. Jangan marah, ya, Mas."

Pengakuannya membuatku membeku. Mataku membelalak. Bukan amarah yang kurasakan, melainkan sebuah kejutan yang tak bisa kudeskripsikan. Ia mengakuinya? Dengan begitu mudah?

"Adek... Adek ngapain di sana?" tanyaku, suaraku serak, tidak lagi bisa menyembunyikan keterkejutanku.

Tiara menatapku, matanya dipenuhi kejujuran yang menenangkan. "Adek... Adek nonton film, Mas. Film yang vulgar. Tapi Adek cuma nonton, Mas. Adek enggak melakukan apa-apa. Cuma... Adek jadi terangsang. Terus mastrubasi sambil nonton film"

Aku terdiam. Penjelasannya terdengar masuk akal, tapi juga sangat aneh. Ia berani menonton film vulgar dan melakukannya sendiri di kamarnya. Ini adalah sisi lain dari Tiara yang belum pernah kutemui.

"Lalu... kenapa Adek panggil 'Bapak'?" tanyaku, berusaha mengendalikan suaraku.

Tiara menunduk, pipinya memerah. "Itu... itu cuma... itu cuma dari filmnya, Mas. Adek cuma ikutin suaranya."

Aku merasa bodoh. Apakah semua ini hanya kecurigaanku? Apakah aku hanya terlalu memikirkan semua hal? Aku menatapnya, mencari kebohongan di matanya, tapi aku tidak menemukannya. Ia terlihat begitu tulus, begitu jujur.

Aku menghela napas, rasa lega yang aneh menyelimutiku. "Ya sudah, Dek. Mas maafkan." Aku memeluknya erat, menempelkan daguku di bahunya. "Maafkan Mas ya, gak bisa puasin Adek. Mas izinin Adek masturbasi, asal gak cari kepuasan dari cowok lain ya."

Tiara mengangguk, lalu memelukku lebih erat. "Makasih, Mas. Mas baik banget."

Malam itu, kami tidur dengan damai. Namun, aku tahu, kebohongan kecil itu masih mengganjal. Aku tidak bisa sepenuhnya percaya. Di dalam kepalaku, suara Tiara yang memanggil "Bapak" masih terngiang-ngiang. Aku harus memasang cctv ku. Aku harus mendapatkan jawaban yang pasti, bukti yang akan mengakhiri semua kecurigaan, ketakutan, dan kegilaan yang kini menguasai diriku..


Bersambungg… 


Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com