๐ˆ๐ฌ๐ญ๐ซ๐ข๐ค๐ฎ ๐”๐ฌ๐ญ๐š๐๐ณ๐š๐ก ๐€๐ฅ๐ข๐ฆ ๐๐€๐ ๐Ÿ๐Ÿ• ๐๐ž๐ค๐š๐ฌ ๐Œ๐ž๐ซ๐š๐ก ๐ƒ๐ข ๐ƒ๐š๐๐š ๐ˆ๐ฌ๐ญ๐ซ๐ข๐ค๐ฎ

 Keesokan harinya di kantor, pikiranku kalut. Bayangan dari rekaman CCTV semalam terus berputar: tatapan Pak RT, senyum Tiara, dan lambaian tangan mesra itu. Setiap detailnya bagai racun yang menyebar, membakar amarah dan kecemburuanku. Namun, di balik semua itu, ada sensasi aneh yang tak bisa kupungkiri hasrat yang membara. Aku tidak tahu apa itu, tapi aku tahu aku menginginkan lebih dari sekadar mengawasi. Aku harus tahu apa yang terjadi di balik kamera, dan yang lebih penting, apa yang akan terjadi jika Tiara merasa bebas.

Sebuah ide gila muncul di kepalaku. Aku akan mengujinya. Aku akan memberinya kesempatan untuk bertindak, dan aku akan mengawasi setiap geraknya.

Aku meraih ponsel, lalu meneleponnya. "Halo, Dek," kataku. "Mas mau bilang, malam ini ada rapat dadakan di kantor. Kayaknya Mas bakal pulang larut."

Aku mendengar suaranya sedikit kecewa. "Yah, padahal Adek mau masak makanan spesial buat Mas."

"Maaf, Sayang," jawabku. "Tapi Adek bisa siapkan makan malam, kan? Mas pulang nanti, kita bisa makan berdua."

"Iya, Mas. Gak apa-apa," jawabnya. "Hati-hati, ya."

Sore itu, setelah salat Asar, aku masih berada di kantor, sendirian di ruanganku. Aku menatap cctv di layar ponsel, jantungku berdebar tak karuan. Di sana, Tiara, istriku, sedang duduk di ruang tamu. Ia mengenakan mukena dan cadar, sibuk dengan ponselnya sambil sesekali tersenyum. Senyum itu terasa asing, sebuah rahasia yang tidak aku ketahui.

Jantungku semakin berdegup kencang saat Tiara bangkit, berjalan ke pintu depan, dan membukakannya. Di sana berdiri Pak RT. Aku terkejut melihat mukena tipis yang dipakai Tiara. Saat tertimpa cahaya, mukena itu seolah transparan, menampakkan lekuk tubuhnya. Aku tidak tahu apa tujuan Pak RT datang, namun aku bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam pertemuan ini.​

Mereka duduk di ruang tamu, dan tawa renyah Tiara terdengar, tawa yang tidak pernah kudengar saat bersamaku. Mereka bercanda, lalu berbisik-bisik. Aku melihat Tiara mengangguk, senyumnya jelas terlihat di balik cadar. Kemudian, tangan Pak RT bergerak, menyentuh paha Tiara.

Darahku mendidih. Aku ingin berteriak, ingin menghancurkan ponselku, tapi aku tidak bisa. Aku hanya bisa menonton. Tangan Pak RT bergerak perlahan, meraba paha Tiara. Istriku hanya tersenyum, seolah sudah terbiasa. Tiara sedikit menggeser duduknya, merapatkan kaki, lalu tangannya menutupi tangan Pak RT. Namun, alih-alih menyingkirkannya, Tiara justru membiarkan tangan itu di sana, seolah menuntunnya untuk mengusap lebih intens.

Aku tidak bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas. Namun, dari sedikit yang kudengar, aku membayangkan percakapan itu. Aku membayangkan suara Tiara yang berbisik genit, "Pak... kita kan lagi di rumah."

Kemudian, balasan Pak RT terdengar parau, "Aku tahu, tapi aku gak bisa nahan."

"Aku takut ada yang lihat," bisik Tiara, suaranya semakin pelan.

"Gak ada yang lihat, sayang. Tenang aja," Pak RT meyakinkan.

Tangan Pak RT kini bergerak naik, semakin dalam ke pangkal paha istriku. Tiara mendesah pelan. Aku terdiam, membeku. Aku merasa jijik, tapi pada saat yang sama, sebuah sensasi aneh menjalar di bawah perutku, perpaduan antara jijik dan gairah yang tak terhindarkan. Pria ini melihat istriku, tahu apa yang ia lakukan, dan bahkan menyemangatinya untuk menjadi lebih liar. Di sisi lain, aku juga ingin melihat lebih, ingin tahu sejauh mana Tiara berani bertindak. Tanpa sadar, tanganku mulai mengelus penisku dari luar celana.

Aku tak tahan. Jari-jariku bergerak lincah mengetik pesan, "Dek, kamu lagi apa di rumah?" Aku mengamati layar, menunggu.

Tiara terlihat kaget saat membuka ponselnya, tetapi tangan Pak RT tidak berhenti. Dengan tangan yang lain, Tiara sibuk membalas pesanku. "Lagi di rumah, Mas. Ada tamu, Pak RT ke rumah, Mas, minta kopi," balasannya muncul di layar. "Katanya kopi bikinan Adek kemarin enak, jadi Pak RT minta lagi sekarang. Gak apa-apa kan, Mas? Pintunya Adek buka kok. Kalau Mas gak boleh, Adek suruh Pak RT pulang saja."

Aku terperangah. Aku tahu ini tidak pantas, tetapi anehnya aku menyukai sensasi ini. Jantungku berdebar kencang. Aku mengetik balasan, "Gak apa-apa kok, Dek."

Tiara membaca pesanku dan tersenyum, senyum yang membuatku semakin penasaran. Tak sampai di situ, ia kemudian menuntun tangan Pak RT yang satunya ke perutnya. Pemandangan itu membuat penisku semakin tegang. Aku segera membuka celanaku, tanganku bergerak mengelus penisku yang sudah mengeras.

Tangan Pak RT di perut istriku terus mengusap-usap. Tangan di pahanya juga. Aku melihat tangan yang di perutnya bergerak semakin naik, hampir menyentuh payudara istriku. Tiara mendesah pelan.

"Pak..." bisik Tiara, suaranya tercekat. "Nanti ketahuan..."

Pak RT hanya terkekeh pelan. "Tenang aja, sayang. Pintu rumahmu terbuka. Nanti kalau ada orang kita pura-pura enggak terjadi apa-apa aja. Bukankah begitu?" bisiknya, suaranya parau.

"Pak... tapi Bapak awasin juga yaa..." balas Tiara, suaranya semakin pelan, seolah berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk berani.

Aku melihat tangan Pak RT di perutnya kini naik, memijat payudaranya dari luar mukena. Aku tak tahan. Aku mengetik pesan, "Pak RT sudah pulang, Dek?"

Tiara membaca pesanku, lalu mengetik balasan. "Belum, Mas. Aku lagi bantuin Pak RT, dia lagi curhat dan tanya-tanya soal agama, kan Adek dulunya ustadzah. Boleh kan Mas Pak RT di rumah agak lama? Aku ingin menuntunnya."

Aku terdiam. Aku tahu Tiara berbohong, namun dia tidak menghentikan perbuatannya. Dia justru seolah menantangku. Sensasi aneh menjalar di bawah perutku. Aku membalas pesannya, "Boleh, Dek."

Tiara tertawa kecil setelah melihat pesanku. Senyumnya terukir jelas. Ia kembali mengobrol dengan Pak RT. Aku melihat Pak RT memijat payudaranya, dan Tiara mendesah. Aku tak bisa menahan diri lagi. Aku segera membuka celanaku, mengelus penisku yang sudah tegang. Aku membayangkan, akulah yang kini di sana. Akulah yang kini memijat payudara istriku, menyentuhnya, dan merasakan desahannya.

Istriku, dengan senyum tipis di balik cadarnya, terlihat menikmati setiap sentuhan Pak RT. Tangan yang tadinya memijat paha dari luar mukena, kini mulai bergerak perlahan masuk ke dalam. Aku melihat jari-jari Pak RT menyingkap kain tipis itu, lalu menyentuh langsung kulit paha mulus istriku.

Tiara mendesah, suaranya terdengar lebih parau dari sebelumnya. "Pak… ini… ini enggak bisa," bisiknya, tetapi suaranya penuh keraguan.

"Kenapa, sayang?" balas Pak RT, suaranya serak dan menenangkan. "Enggak ada yang lihat. Aku janji, aku juga enggak akan cerita ke siapa-siapa."

Aku menelan ludah, seluruh tubuhku menegang. Aku melihat Tiara mengangguk pelan, seolah menyerah pada godaan. Ia membiarkan tangan Pak RT meremas payudaranya, memijatnya dengan lembut namun penuh gairah. Pemandangan itu membuatku, tanpa sadar, menggerakkan tanganku lebih cepat pada penisku.

"Aahhh..." rintih Tiara, suaranya nyaris tak terdengar.

Aku tahu, ia menikmatinya. Ia tidak lagi peduli dengan mukena atau cadar yang ia kenakan. Ia hanya peduli dengan sensasi yang ia rasakan.

"Tiara..." bisik Pak RT, "kamu cantik. Kamu terlalu cantik untuk disia-siakan."

Aku melihat Tiara tersenyum tulus. Senyum penuh arti. Aku tahu, ia telah jatuh ke dalam permainan ini. Dan anehnya, aku menyukai itu.

Aku memejamkan mata melihat perbuatan mereka, tanganku semakin cepat mengocok penisku. Aku tidak lagi peduli dengan apa yang mereka lakukan. Aku hanya ingin merasakan kenikmatan yang memuncak dari pemandangan yang aneh dan menjijikkan ini. Aku hanya peduli dengan sensasi yang kurasakan. Aku membayangkan perbuatan mereka lebih jauh.

Tak lama kemudian, aku mengerang, memuntahkan sperma yang berceceran di tanganku. Setelah membersihkan tanganku dengan tisu, aku kembali melihat CCTV. Yang kulihat hanyalah Pak RT. Posisi duduknya sudah berganti, sekarang dia duduk di kursi, membelakangi kamera, sendirian. Namun anehnya, Pak RT mendesah. Mengerang. Kepalanya naik turun. "Dek kamu hebat banget. Aku gak nyangka," aku mendengar suaranya.

"Iya dong Pak. Aku bisa lebih hebat dari ini kalau Bapak mau," aku mendengar suara istriku, tapi aku tidak bisa melihat di mana dia berada.

"Emang Bapak mau dia apain, Dek?" suaraku berbisik.

"Sini, Pak, kita ke belakang aja," bisik Tiara.

Aku melihat Tiara muncul dari bawah, tepat di depan Pak RT. Ia berdiri, menggandeng tangan Pak RT, lalu menuntunnya beranjak ke belakang rumah. Rekaman CCTV di ruang tamu hanya menampilkan kekosongan. Kamera tidak menjangkau area belakang, dan aku hanya bisa menebak-nebak apa yang terjadi di sana. Sensasi cemas dan gairah campur aduk di dadaku. Tanganku yang tadinya mengelus penis, kini mengepal kuat. Aku merasa seperti seorang sutradara yang kehilangan adegan paling penting dari filmnya sendiri.

Aku mencoba menenangkan diri, tapi pikiran liarku terus membayangkan hal-hal yang tidak seharusnya. Apakah mereka akan lebih jauh? Apakah Tiara benar-benar sudah melangkah sejauh itu? Pertanyaan-pertanyaan itu membuatku gelisah. Aku memutuskan untuk mengambil tindakan. Aku harus melihatnya. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku harus pulang.

Dengan tergesa-gesa, aku membereskan barang-barangku. Aku mengirimkan pesan ke Tiara. "Dek, Mas sudah selesai rapat. Ini mau pulang."

Aku menunggu balasannya. Jantungku berdebar tak karuan. Setiap detik terasa seperti jam. Akhirnya, balasan itu muncul. "Oh, udah Mas? Ya udah, Adek tunggu di rumah ya. Hati-hati di jalan."

Pesan itu terdengar begitu normal, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, aku tahu ada sesuatu yang tidak beres. Aku tahu ada rahasia di balik balasan itu. Aku mempercepat langkahku. Aku ingin pulang. Aku ingin melihat apa yang terjadi di belakang rumahku, yang tidak bisa kulihat dari kamera.

20 menit. Itu adalah waktu yang aku berikan padanya. Waktu yang cukup untuk istriku melakukan hal-hal aneh dengan Pak RT. Biasanya perjalanan dari kantor ke rumah hanya butuh 10 menit, tapi aku memutuskan untuk singgah di toko elektronik. Aku sengaja memperlambat diri, memberi mereka lebih banyak waktu untuk bermain. Aku ingin tahu seberapa jauh Tiara berani.

Otakku sibuk membayangkan berbagai skenario. Aku membayangkan Tiara dan Pak RT di area belakang rumah, di area yang tak terjangkau kamera. Apakah mereka sedang berbisik-bisik, merencanakan hal-hal kotor? Atau apakah mereka sudah melangkah lebih jauh, tenggelam dalam hasrat yang membara?

Tanganku mencengkeram setir. Aku merasakan campuran antara gairah dan jijik. Aku benci perbuatan mereka, tapi di sisi lain, aku menyukai sensasi ini. Sensasi menjadi pengamat, sensasi mengontrol permainan. Aku bisa menghentikannya kapan saja. Tapi aku tidak mau.

Aku ingin tahu. Aku ingin melihat apa yang akan terjadi jika aku tidak ada di sana. Aku ingin melihat sisi lain istriku, sisi yang tidak pernah ia tunjukkan padaku. Sisi yang liar dan penuh rahasia. Aku merasa seperti seorang peneliti yang sedang mengamati spesimen langka. Aku membiarkan mereka, dan aku menunggu.

Aku sudah membeli dua CCTV tambahan di toko, barang-barang itu terasa berat di jok belakang, seolah menambah beban di pikiranku. Aku ingin segera sampai rumah, tapi pada saat yang sama, aku takut dengan apa yang akan aku temukan.

Akhirnya, mobilku berhenti di depan rumah. Aku melihat sandal Pak RT tergeletak di depan pintu. Pintu depan rumahku terbuka, persis seperti yang Tiara katakan. Aku mematikan mesin mobil dan duduk sejenak. Jantungku berdebar sangat kencang. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Permainan ini akan segera berakhir. Dan aku akan tahu siapa pemenangnya.

Aku turun dari mobil, kantong berisi CCTV tambahan sudah masuk ke saku jaketku. Dengan langkah perlahan, aku masuk ke dalam rumah. Pemandangan pertama yang kulihat membuatku terdiam. Istriku, Tiara, dan Pak RT duduk di ruang tamu.

Tiara sudah berganti pakaian. Ia memakai gamis, jilbab, dan cadar. Tampilannya begitu rapi, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, mataku tidak bisa dibohongi. Napas mereka berdua masih memburu, naik-turun tak beraturan seperti habis lari maraton. Ada hawa aneh dan tegang yang mengisi ruangan.

Aku tersenyum, menyembunyikan kegelisahanku. "Dek, Mas pulang," sapaku dengan nada ceria yang dipaksakan. "Eh, ada Pak RT juga."

Tiara dan Pak RT sontak menoleh. Mereka terlihat kaget sesaat, tapi dengan cepat mengendalikan ekspresi. Tiara tersenyum menyambutku. Sementara Pak RT hanya mengangguk canggung.

"Mas, sudah pulang? Rapatnya cepat sekali?" tanya Tiara, suaranya terdengar sedikit gemetar.

"Iya, Dek. Rapatnya selesai lebih cepat dari perkiraan," jawabku, pandanganku tidak lepas dari mereka.

Aku berjalan melewati mereka, menuju kamar. Kantong CCTV kuletakkan di lemari baju. Kembali ke ruang tamu, aku menyapa Pak RT. "Pak RT, maaf ya kalau mengganggu. Saya tadi ada rapat mendadak, jadi pulang lebih sore dari biasanya," kataku, berusaha menjaga nada suaraku tetap santai.

"Ah, tidak, Mas. Saya sudah mau pulang," balas Pak RT. "Cuma tadi mampir sebentar, ngobrol-ngobrol sama Tiara."

Aku melirik jam di dinding. Belum ada 20 menit sejak aku pergi. Mereka pasti baru saja selesai melakukan sesuatu. Entah apa, tapi aku tahu ada rahasia di balik napas yang memburu itu.

Setelah itu, Pak RT berpamitan pulang. Aku mengantarnya sampai ke pintu, dan setelah ia pergi, aku kembali masuk. Suasana kembali hening, namun ketegangan masih terasa.

Malam harinya, setelah salat Isya, aku dan istriku makan malam. Selama makan, aku tak henti-hentinya memperhatikan Tiara. Pikiranku terus berputar, mengingat kembali apa yang baru saja terjadi. Wajahnya, tawa renyahnya, desahan yang kudengar dari rekaman... semua itu memicu sensasi aneh yang tak bisa kukendalikan.

Setelah selesai makan, aku mengajaknya ke kamar. Tanpa banyak bicara, aku langsung mencumbunya. Aku menciumnya dengan rakus, tanganku menjelajahi setiap inci tubuhnya. Aku teringat apa yang kulakukan di kantor tadi sore, saat aku membayangkan diriku di posisinya, menyentuh dan merasakannya.

"Mas... pelan-pelan," bisik Tiara, kaget dengan sikapku.

Aku tidak mendengarkannya. Aku semakin bringas. Sentuhanku menjadi lebih kasar, ciumanku lebih menuntut. Aku ingin tahu. Aku ingin mencari tahu, apa yang ia rasakan bersama Pak RT. Apakah sensasinya sama seperti denganku? Atau lebih? Aku tak peduli, yang aku inginkan hanyalah kepuasan.

Aku lucuti semua pakaiannya, menanggalkan setiap lapisannya dengan tergesa-gesa. Aku rebahkan dia di kasur, lalu mataku tertuju pada sesuatu yang membuatku membeku: bekas-bekas kemerahan di dadanya.

Aku menatapnya lekat-lekat, hatiku mencelos. Apakah ini bekas cupang dari Pak RT?

Setiap noda merah itu seperti cap pengkhianatan, bukti bisu dari apa yang baru saja terjadi. Aku sentuh bekas itu dengan ujung jariku, merasakan campuran antara kemarahan dan hasrat yang bergejolak di dalam diriku.

"Apa ini?" tanyaku, suaraku serak..

Bersambungg...


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com