POV Dimas.
Pagi itu, hari Senin. Aku bangun seperti biasa, jam 5 subuh. Kulihat ke samping, Tiara masih tidur, terlelap dalam kelelahan yang entah dari mana asalnya. Aku bangkit, mengambil air wudhu, dan shalat Subuh.
Setelah shalat, teringat cctv yang kubeli kemarin. Perasaan cemas semalam mendorongku untuk melakukannya. Diam-diam, aku membukanya dan memasangnya di ruang tamu. Kumasukkan kamera kecil itu ke dalam pot yang ada di rak hiasan, menyamarkannya di balik semak-semak bunga plastik. Aku yakin, Tiara tidak akan menyadarinya. Aku ingin tahu, apa saja yang ia lakukan saat aku tidak di rumah.
Kemudian aku kembali ke kamar. Tiara sudah bangun. Aku tersenyum. "Subuh, Sayang," bisikku.
Ia hanya mengangguk. Ada sesuatu yang berbeda darinya. Wajahnya terlihat lelah, dan ada jarak yang tak terlihat di antara kami. Aku mencoba mengabaikannya, berharap itu hanya kelelahan biasa.
Kami sarapan. Tiara memasak nasi goreng, makanan kesukaanku. Tapi aku tidak bisa menikmatinya. Pikiranku terus-menerus kembali ke kejadian semalam. Tiara begitu buas, begitu liar, seolah ingin melampiaskan seluruh amarahnya. Aku menyukai sisi barunya itu, tapi pada saat yang sama, aku merasa takut. Aku tidak pernah melihatnya sebuas itu.
Setelah sarapan, aku berpamitan. "Mas berangkat dulu, Sayang," kataku.
Aku mencium keningnya. Entah mengapa, ciuman itu terasa dingin. Ada jarak yang tak terlihat di antara kami. Aku menatap matanya. Sesuatu yang asing terpancar dari sana. Sesuatu yang tidak bisa kumengerti.
Di kantor, pikiranku tidak bisa fokus. Aku terus memikirkan Tiara. Apa yang terjadi padanya? Mengapa ia berubah? Mengapa ia begitu liar semalam?
Aku mencoba meneleponnya, tapi tidak diangkat. Aku mengiriminya pesan, tapi tidak dibalas. Aku merasa cemas, tapi berusaha menenangkan diri. "Sabar," kataku pada diriku. "Nanti aku bisa melihatnya live. Pasti dia sedang sibuk." Aku bersabar. Hari Senin terlalu banyak pekerjaan, sampai-sampai waktu istirahatku kugunakan untuk bekerja.
Pukul dua siang, akhirnya aku bisa istirahat. Aku langsung membuka ponsel, tapi Tiara tidak sedang live. Rasa cemas muncul lagi. Aku membuka aplikasi cctv yang baru kupasang, tapi tidak ada pergerakan apa pun yang mencurigakan. Aku memutuskan untuk memutar ulang rekaman, dan mataku terpaku pada waktu pukul sebelas.
Tiara sedang menyapu di dalam rumah, seperti biasa, ia tidak memakai cadar. Ia hanya mengenakan daster atau baju tipis dan rok. Semua terlihat normal. Lalu, pukul dua belas, aku melihat istriku membuka pintu. Ia memakai rok, baju tunik lebar, dan tak lupa, cadar. Tamunya adalah Pak RT. Sepertinya, ia datang untuk menagih iuran air bersih.
Tidak ada yang aneh, tapi percakapan mereka berlangsung sangat lama. Lebih lama dari seharusnya. Aku mulai curiga. Apa yang mereka bicarakan? Mengapa begitu lama?
Kemudian, istriku menyuruh Pak RT masuk ke dalam rumah. Gila. Istriku berani memasukkan laki-laki ke dalam rumah tanpa aku di sana. Darahku mendidih, namun di sisi lain, ada sensasi aneh yang menjalar. Aku merasa aneh, tapi dalam hati kecilku aku merasa suka istriku dikagumi orang lain.
Aku mempercepat rekaman. Pukul setengah dua belas, Pak RT keluar. Mereka di dalam rumah selama 1,5 jam. Aku melihat istriku tersenyum, melambaikan tangan, lalu ia masuk kembali ke rumah. Semuanya terlihat normal. Tapi aku tahu, ada sesuatu yang tidak beres. Istriku tidak pernah melambaikan tangan seperti itu pada orang lain, bahkan pada teman-temannya. Ia melambaikan tangannya seperti... seorang kekasih yang baru saja berpisah.
Aku curiga. Apakah ada yang terlewat ketika aku mempercepat tadi? Aku putar ulang rekaman CCTV itu. Mataku tidak berkedip, memperhatikan setiap detail.
Rekaman kembali ke saat Tiara menyuruh Pak RT masuk. Pintunya dibiarkan terbuka sedikit, seolah untuk menghindari fitnah. Pak RT duduk di kursi tamu, dan Tiara pergi, mungkin ke dapur. Tak lama kemudian, ia kembali.
Jantungku berdebar kencang. Ia sudah berganti pakaian. Ia tidak lagi memakai baju tunik lebar dan rok. Ia hanya mengenakan gamis putih ketat yang pernah kulihat saat ia live. Di tangannya, ada secangkir kopi.
Tiara memberikan kopi itu pada Pak RT. Mereka duduk, mengobrol, dan tawa Tiara terdengar renyah, tawa yang tidak pernah kulihat saat ia bersamaku. Mereka berbicara sangat dekat, hampir berbisik. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi aku bisa melihat wajah Tiara yang memerah.
Aku menjeda rekaman itu. Wajahku memanas. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku ragu untuk melanjutkan rekaman ini, tapi aku ingin tahu apa yang ia sembunyikan dariku. Perasaanku campur aduk antara amarah dan hasrat yang aneh. Aku takut, tapi aku juga penasaran.
Aku memutar ulang rekaman cctv itu, hati berdebar tak karuan. Mereka tertawa-tawa. Lalu, Pak RT seperti membisikkan sesuatu. Tiara mengangguk, lalu bangkit dari kursi. Ia pindah duduk ke samping Pak RT, melewati celah sempit antara sofa dan meja.
Mataku membelalak. Tatapan Pak RT tidak lepas dari pantat Tiara. Jantungku berdebar kencang, tapi bukan karena marah. Ada sensasi aneh yang menjalar. Tiba-tiba, tangan Pak RT menepuk pelan pantat Tiara. Istriku hanya tersenyum, seperti merelakan dan sudah biasa.
Darahku mendidih, tapi pada saat yang sama, penisku menegang. Perasaanku campur aduk. Aku tidak tahu harus marah atau terangsang. Aku merasa cemburu, tapi juga ada rasa suka yang aneh. Rasa suka melihat istriku dikagumi orang lain, disentuh orang lain.
Mereka duduk berdekatan. Tangan Pak RT kini melingkar di bahu Tiara, meremasnya lembut. Tiara hanya tersenyum. Ia terlihat begitu nyaman, begitu akrab. Berbeda dengan saat ia bersamaku.
Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku meraih ponselku, membuka aplikasi, dan merekam adegan itu. Aku merasa jijik, tapi pada saat yang sama, aku merasa sangat bergairah.
Aku mempercepat rekaman. Sampai pada saat Tiara berdiri, kemudian dia berjalan ke belakang rumah, menghilang dari pandangan kamera. Hatiku berdegup kencang. Lalu, tak lama kemudian, Pak RT menyusul, berdiri, dan berjalan ke arah yang sama dengan Tiara.
Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan di sana. Pikiranku langsung dipenuhi dengan bayangan-bayangan kotor. Aku membayangkan Tiara membiarkan Pak RT menyentuhnya, membelainya, bahkan mungkin... melakukan hal yang lebih jauh. Perasaan campur aduk antara amarah dan hasrat membakar dadaku.
Jam 1:50, mereka keluar, dengan tawa renyah yang menggelegar. Tawa yang tidak pernah kulihat saat ia bersamaku. Aku merasa cemburu, tapi juga ada rasa suka yang aneh. Rasa sedikit suka melihat istriku dikagumi orang lain, disentuh orang lain.
Kemudian, Pak RT berjalan ke pintu. Tiara mengantarnya. Ia melambaikan tangan dengan mesra, sebuah lambaian yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Ia melambaikan tangannya seperti... seorang kekasih yang baru saja berpisah.
Aku mematikan rekaman itu, wajahku memanas. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku ingin pulang, ingin membongkar semua ini, ingin tahu apa yang ia sembunyikan dariku. Tapi aku takut. Aku takut jika aku bertanya, ia akan membohongiku, ia akan menyangkalnya. Aku merasa bingung, campur aduk antara amarah dan hasrat.
Aku memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa. Aku lebih baik menyembunyikan ini, dan tetap memata-matai istriku.
Sore itu aku pulang ke rumah. Aku parkir mobil seperti biasa, berjalan ke pintu depan, dan membuka pintu. Aku mendengar suara tawa Tiara dari dapur. Aku merasa aneh. Tawa itu, tawa renyah yang kulihat di cctv, kini kudengar di depan mataku.
Aku masuk, meletakkan kunci di meja, dan berjalan ke dapur. Tiara menoleh, tersenyum. "Mas sudah pulang? Kok cepat?" tanyanya.
"Iya, Dek. Ada kerjaan yang harus diselesaikan di rumah," jawabku. Aku mencoba tersenyum, tapi rasanya kaku. "Kamu masak apa? Bau harum sekali."
"Sup ayam," jawabnya. "Kesukaan Mas."
Kami makan malam. Suasana terasa canggung. Aku tidak bisa menikmati makananku. Pikiranku terus-menerus kembali ke rekaman cctv. Tawa Tiara, lambaian mesranya, dan percakapan rahasianya dengan Pak RT.
"Mas kenapa?" tanya Tiara, suaranya terdengar cemas. "Mas tidak suka sup ayam buatan Adek?"
"Suka, Dek. Cuma lagi tidak lapar," jawabku.
Tiara terdiam. Aku melihatnya menunduk, memainkan sendoknya. Aku merasa bersalah. Aku tahu, aku harus menghentikan ini. Aku harus menghentikan kecurigaan ini.
Setelah makan malam, kami duduk di ruang tamu. Aku mencoba untuk memulai percakapan. "Kamu tadi siang ngapain, Dek?" tanyaku, mencoba terdengar santai.
"Cuma di rumah, Mas. Beres-beres, nonton TV," jawabnya, suaranya terdengar polos.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tahu ia berbohong. Tapi aku tidak bisa menunjukkannya.
Aku memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Aku hanya memeluknya, membiarkan diriku terlelap dalam kelelahan yang luar biasa, dengan rahasia yang tersembunyi di antara kami, membakar hatiku dalam diam.
Bersambungg.....
