𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟏𝟓 𝐏𝐞𝐭𝐮𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐃𝐢 𝐓𝐨𝐢𝐥𝐞𝐭 𝐏𝐫𝐢𝐚 𝟐


 Pov tiara

Revan kini memelukku dari belakang. Sebuah tangan kekar membelai punggungku, sementara tangan yang lain bergerak ke bawah. Jari-jarinya meraba pahaku, lalu menekan lembut ke arah vaginaku dari balik kain gamis. Aku tersentak, seluruh tubuhku menegang, tetapi tidak ada perlawanan. Aku bisa merasakan setiap gesekan dan tekanan, dan sensasi itu membuatku semakin basah, tak bisa lagi bersembunyi.

"Memek kamu basah, Ukhti," bisiknya, suaranya serak dan penuh kemenangan. "Kamu suka kita sentuh gini, kan? Kamu mau kita entot pakai kontol gede kita? Ukhti cantik sepertimu, dengan tatapan nakal itu, cocok banget sama kontol gede kita."

Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku suka. Aku suka bagaimana mereka memujiku, bagaimana mereka membuatku merasa diinginkan dan seksi. Ini adalah sesuatu yang tidak pernah kudapatkan dari suamiku.


"Ahhh... sudah kocokinnya," bisik Dion sambil melepaskan tangan kiriku dari penisnya. "Aku mau kamu sepong aku. Aku mau kamu sepong aku sampai aku crot di cadar kamu."

Aku menunduk, jantungku berdebar tak karuan. Ragu. Ini adalah sebuah kesalahan yang terlalu jauh, sebuah garis yang tidak pernah terpikirkan akan kulewati. Namun, di sisi lain, sebuah dorongan kuat menguap dari dalam diriku. Aku belum pernah melakukan hal seperti ini, sebuah tabu yang menakutkan sekaligus memikat. Sebuah rasa penasaran yang luar biasa mengalahkan ketakutanku, mendorongku untuk melangkah lebih jauh, untuk mengetahui apa yang akan terjadi jika aku menyerah pada keinginan gelap ini.

"Aku belum pernah melakukan itu, Mas," kataku, suaraku bergetar, jujur.

"Nggak apa-apa, sayang," kata Dion, suaranya melembut. "Nanti aku tuntun, pelan-pelan."

Aku menunduk, jantungku berdebar tak karuan. Tangan Dion yang terus membelai payudaraku, suaranya yang membujukku untuk melakukan hal yang tak pernah terpikirkan, semua itu membuatku terombang-ambing antara penolakan dan rasa penasaran. Aku ingin menolak, tapi bagian lain dari diriku terasa ingin menyerah, ingin tahu.

"Kamu nggak usah khawatir, Sayang," bisik Dion, suaranya melembut, seakan bisa membaca keraguanku. "Ini cuma antara kita. Rahasia kita bertiga. Nggak ada yang tahu."


Tiba-tiba, Revan memegang pundakku. Sentuhannya lembut, tapi tegas. Ia menuntunku untuk duduk di lantai yang dingin. Aku menurut, kakiku terasa lemas. Mereka berdua kini berdiri di depanku, tubuh mereka yang besar menjulang, membuatku merasa kecil dan tak berdaya.

"Pegang kontol kita," perintahnya, suaranya serak.

Aku menatap mereka bergantian. Di satu sisi, ada rasa takut yang menusuk. Ini adalah batas terakhir, sebuah tindakan yang akan mengubah segalanya. Tapi di sisi lain, dorongan aneh yang tak bisa dijelaskan membuatku ingin melakukannya. Aku ingin tahu, ingin merasakan kenikmatan yang mereka janjikan.

"Ayo, Ukhti," bisik Dion, lututnya sedikit menekuk agar penisnya sejajar dengan wajahku. Ia menjulurkan penisnya yang tegang ke arah wajahku. "Rasakan. Kamu bakal ketagihan."

Aku memejamkan mata. Di dalam kepala, bayangan Dimas terlintas. Wajahnya yang datar, sentuhannya yang hambar. Semua itu membuatku marah. Aku membuka mata, menatap penis Dion yang besar. Rasa marah itu kini berubah menjadi dorongan, sebuah keinginan kuat untuk membalas, untuk merasakan apa yang tidak pernah diberikan Dimas. Tanganku terangkat.

Tanganku yang gemetar perlahan meraih penis Dion. Sensasi panas penisnya membakar telapak tanganku. Rasanya keras, padat, dan besar, jauh lebih besar dari suamiku. Aku mengatupkan jari-jari, melingkupi seluruh batangnya, dan mulai menggerakkannya naik-turun dengan kaku.

"Pelan-pelan, Ukhti," bisik Dion, suaranya parau, matanya terpejam. "Enak banget... tangan kamu lembut."

Aku tidak lagi memikirkan apa yang kulakukan. Fokusku hanya pada sensasi yang mengalir dari tangan ke seluruh tubuhku. Di saat yang sama, Revan yang berdiri di sampingku juga menjulurkan penisnya. Aku menelan ludah, menatap Revan, lalu kembali menatap Dion.

"Mau coba punya saya?" tanya Revan, suaranya serak. "Sama-sama enak kok, Sayang."

Tanpa sadar, tangan kiriku terangkat, meraih penis Revan. Aku kini mengocok keduanya, satu demi satu. Gerakanku semakin cepat, semakin berani. Aku sudah jauh dari titik di mana aku bisa kembali.

"Kamu suka, kan?" bisik Dion, lalu mendesah.

"Ah... aku suka kamu... aku mau nambah lagi, Sayang," bisikku, dan desahku kini terdengar nakal, penuh kemenangan.

"Ahhh... kamu nakal banget ya sekarang," bisik dion, suaraku terdengar penuh kemenangan.

"Ahh, iyaa aku butuh kontol gede. Kontol suamiku enggak bisa muasin aku... Ahh!" desahku tak karuan.
Dion tersenyum, senyum penuh kuasa. "Kamu tahu apa yang pantas buat mulut ukhti nakal kayak kamu?" ucapnya, suaranya parau. "Sekarang, kecup ujung kontolku, Sayang. Cium, rasakan, nikmati."

Aku menelan ludah, bingung. "Enggak mau... udah gini aja ya," kataku, mencoba menolak, meskipun aku tahu itu hanya bibirku yang berbicara.

Tangan Dion yang besar dan kuat meraih tengkukku. Ia menuntun kepalaku ke depan, perlahan namun pasti. Cadarku menyentuh ujung penisnya yang keras dan hangat. Aku memejamkan mata, merasakan sensasi itu merayap ke seluruh tubuhku. Rasa panas itu begitu kuat, seolah menembus kain tipis yang menutupi wajahku.

"Jangan ditahan, Ukhti," bisik Revan, suaranya serak. Ia menekan lembut pipi kananku hingga menempel pada penisnya yang juga tegang. "Ini rahasia kita. Kamu cantik, Ukhti. Kami butuh kamu."

Aku merasa sangat nakal, pengalaman pertama menyentuh penis orang lain, dan langsung dua penis sekaligus. Pipi kiriku menempel pada penis Dion, dan pipi kananku menempel pada penis Revan. Aku membiarkan diriku hanyut dalam sensasi itu, mencium kontol mereka dari luar cadarku, bergantian.

Sensasi yang kualami membuat hasratku memuncak. Aku tidak lagi peduli pada rasa malu. Aku hanya ingin merasakan lebih, melangkah lebih jauh, sampai hasratku terpuaskan.

Tiba-tiba, suara langkah sepatu yang berat terdengar mendekat, menggema di koridor toilet. Kami bertiga terdiam, saling bertukar pandang. Wajah para pria itu berubah tegang, seringai nakal mereka hilang, digantikan oleh ekspresi panik yang nyata.

"Sial! Ada orang!" bisik Dion, suaranya tercekat. "Keluar, cepat!"

Aku tidak berpikir dua kali. Dengan panik, aku menarik diri dari mereka, buru-buru merapikan gamisku dan memastikan cadarku terpasang dengan benar. Jantungku berdebar kencang, tidak lagi karena hasrat, tapi karena ketakutan yang menusuk. Aku takut tertangkap basah, takut semua yang kulakukan akan terungkap. Tanpa menoleh, aku berlari keluar dari toilet pria, seolah dikejar setan.

Sebelum kembali ke suami, aku membelok ke toilet wanita. Aku melepas cadarku yang sudah basah dan bernoda. Aku mencuci tanganku berulang kali, mencoba menghilangkan jejak sentuhan mereka, tapi sensasi itu masih melekat di kulitku. Setelah itu, aku memakai cadar bersih yang kubawa di tas, menarik napas dalam-dalam, dan berusaha menenangkan diri.

Aku kembali ke meja makan, wajahku pucat. Dimas menatapku dengan bingung. "Dari mana saja, Sayang? Kok lama banget?" tanyanya, suaranya terdengar cemas.

Aku hanya tersenyum, mencoba terlihat tenang. "Maaf, Mas. Tadi antre."

Kami pulang, suasana di dalam mobil terasa canggung dan hening. Aku hanya bisa menatap jalanan yang lengang, memikirkan apa yang baru saja terjadi di toilet mal. Ketika sampai di rumah, suamiku, Dimas, memarkirkan mobil. Aku buru-buru keluar lebih dulu, seolah ada sesuatu yang menungguku.

Benar saja, di depan pintu ada sebuah paket. Aku melihat penerimanya, dan itu namaku. Aku bingung, karena aku tidak pernah merasa memesan apa pun. Tiba-tiba, mataku terbelalak saat melihat nama pengirimnya: Bims. Aku langsung panik. Dengan cepat, aku meraih paket itu dan menyembunyikannya di balik tubuhku, sebelum Dimas sempat melihatnya.

Aku segera masuk, jantungku berdegup kencang. Setelah Dimas masuk, aku buru-buru ke studio live-ku. Aku membuka pintu, menguncinya, lalu meletakkan paket itu di atas meja. Tanganku gemetar saat membuka bungkusnya. Di dalamnya, ada sebuah lingerie hitam tipis dan beberapa sex toys.

Aku terkejut. Bims benar-benar mengirimkan barang-barang ini. Dengan tangan gemetar, kuambil ponselku dan membuka WhatsApp.

Aku mengetik pesan, "Mas, kok ngirim barang seperti ini, buat apa?"

Tak lama, balasan dari Bims masuk. "Itu barang bagus, Sayang. Untuk memuaskan kamu. Kamu pakai lingerie-nya buat seks sama suami kamu. Pasti suami kamu semakin suka dan bergairah. Nantinya kamu pasti puas waktu berhubungan sama suami kamu."

Aku menelan ludah. "Lalu kok ada sex toys juga, Mas?" tanyaku lagi, mencoba menyembunyikan rasa penasaran.

"Itu buat kalau kamu tidak puas," balasnya cepat. "Nanti hubungi aku, Sayang. Nanti akan aku ajarkan cara pakai sex toys-nya biar kamu puas."

"Tenang aja, kamu pasti puas malam ini," pesannya.

Aku terdiam, bingung dengan perasaanku sendiri. Mas Bims tidak hanya memancingku dengan uang dan perhatian, dia juga mencoba memecahkan masalahku dengan Dimas. Namun, caranya begitu kotor, begitu melanggar batas. Aku ingin menolaknya, tapi di sisi lain, dorongan untuk merasakan kepuasan itu begitu kuat. Malam ini, aku akan mencoba. Aku akan mencoba memakai lingerie itu dan melihat apakah Dimas akan terpengaruh…

Bersambung

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com