Pov tiara
Revan kini memelukku dari belakang. Sebuah tangan kekar membelai
punggungku, sementara tangan yang lain bergerak ke bawah. Jari-jarinya
meraba pahaku, lalu menekan lembut ke arah vaginaku dari balik kain
gamis. Aku tersentak, seluruh tubuhku menegang, tetapi tidak ada
perlawanan. Aku bisa merasakan setiap gesekan dan tekanan, dan sensasi
itu membuatku semakin basah, tak bisa lagi bersembunyi.
"Memek kamu basah, Ukhti," bisiknya, suaranya serak dan penuh
kemenangan. "Kamu suka kita sentuh gini, kan? Kamu mau kita entot pakai
kontol gede kita? Ukhti cantik sepertimu, dengan tatapan nakal itu,
cocok banget sama kontol gede kita."
Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku suka. Aku suka bagaimana
mereka memujiku, bagaimana mereka membuatku merasa diinginkan dan seksi.
Ini adalah sesuatu yang tidak pernah kudapatkan dari suamiku.
"Ahhh... sudah kocokinnya," bisik Dion sambil melepaskan tangan kiriku
dari penisnya. "Aku mau kamu sepong aku. Aku mau kamu sepong aku sampai
aku crot di cadar kamu."
Aku menunduk, jantungku berdebar tak karuan. Ragu. Ini adalah sebuah
kesalahan yang terlalu jauh, sebuah garis yang tidak pernah terpikirkan
akan kulewati. Namun, di sisi lain, sebuah dorongan kuat menguap dari
dalam diriku. Aku belum pernah melakukan hal seperti ini, sebuah tabu
yang menakutkan sekaligus memikat. Sebuah rasa penasaran yang luar biasa
mengalahkan ketakutanku, mendorongku untuk melangkah lebih jauh, untuk
mengetahui apa yang akan terjadi jika aku menyerah pada keinginan gelap
ini.
"Aku belum pernah melakukan itu, Mas," kataku, suaraku bergetar, jujur.
"Nggak apa-apa, sayang," kata Dion, suaranya melembut. "Nanti aku tuntun, pelan-pelan."
Aku menunduk, jantungku berdebar tak karuan. Tangan Dion yang terus
membelai payudaraku, suaranya yang membujukku untuk melakukan hal yang
tak pernah terpikirkan, semua itu membuatku terombang-ambing antara
penolakan dan rasa penasaran. Aku ingin menolak, tapi bagian lain dari
diriku terasa ingin menyerah, ingin tahu.
"Kamu nggak usah khawatir, Sayang," bisik Dion, suaranya melembut,
seakan bisa membaca keraguanku. "Ini cuma antara kita. Rahasia kita
bertiga. Nggak ada yang tahu."
Tiba-tiba, Revan memegang pundakku. Sentuhannya lembut, tapi tegas. Ia
menuntunku untuk duduk di lantai yang dingin. Aku menurut, kakiku terasa
lemas. Mereka berdua kini berdiri di depanku, tubuh mereka yang besar
menjulang, membuatku merasa kecil dan tak berdaya.
"Pegang kontol kita," perintahnya, suaranya serak.
Aku menatap mereka bergantian. Di satu sisi, ada rasa takut yang
menusuk. Ini adalah batas terakhir, sebuah tindakan yang akan mengubah
segalanya. Tapi di sisi lain, dorongan aneh yang tak bisa dijelaskan
membuatku ingin melakukannya. Aku ingin tahu, ingin merasakan kenikmatan
yang mereka janjikan.
"Ayo, Ukhti," bisik Dion, lututnya sedikit menekuk agar penisnya sejajar
dengan wajahku. Ia menjulurkan penisnya yang tegang ke arah wajahku.
"Rasakan. Kamu bakal ketagihan."
Aku memejamkan mata. Di dalam kepala, bayangan Dimas terlintas. Wajahnya
yang datar, sentuhannya yang hambar. Semua itu membuatku marah. Aku
membuka mata, menatap penis Dion yang besar. Rasa marah itu kini berubah
menjadi dorongan, sebuah keinginan kuat untuk membalas, untuk merasakan
apa yang tidak pernah diberikan Dimas. Tanganku terangkat.
Tanganku yang gemetar perlahan meraih penis Dion. Sensasi panas penisnya
membakar telapak tanganku. Rasanya keras, padat, dan besar, jauh lebih
besar dari suamiku. Aku mengatupkan jari-jari, melingkupi seluruh
batangnya, dan mulai menggerakkannya naik-turun dengan kaku.
"Pelan-pelan, Ukhti," bisik Dion, suaranya parau, matanya terpejam. "Enak banget... tangan kamu lembut."
Aku tidak lagi memikirkan apa yang kulakukan. Fokusku hanya pada sensasi
yang mengalir dari tangan ke seluruh tubuhku. Di saat yang sama, Revan
yang berdiri di sampingku juga menjulurkan penisnya. Aku menelan ludah,
menatap Revan, lalu kembali menatap Dion.
"Mau coba punya saya?" tanya Revan, suaranya serak. "Sama-sama enak kok, Sayang."
Tanpa sadar, tangan kiriku terangkat, meraih penis Revan. Aku kini
mengocok keduanya, satu demi satu. Gerakanku semakin cepat, semakin
berani. Aku sudah jauh dari titik di mana aku bisa kembali.
"Kamu suka, kan?" bisik Dion, lalu mendesah.
"Ah... aku suka kamu... aku mau nambah lagi, Sayang," bisikku, dan desahku kini terdengar nakal, penuh kemenangan.
"Ahhh... kamu nakal banget ya sekarang," bisik dion, suaraku terdengar penuh kemenangan.
"Ahh, iyaa aku butuh kontol gede. Kontol suamiku enggak bisa muasin aku... Ahh!" desahku tak karuan.
Dion tersenyum, senyum penuh
kuasa. "Kamu tahu apa yang pantas buat mulut ukhti nakal kayak kamu?"
ucapnya, suaranya parau. "Sekarang, kecup ujung kontolku, Sayang. Cium,
rasakan, nikmati."
Aku menelan ludah, bingung. "Enggak mau... udah gini aja ya," kataku,
mencoba menolak, meskipun aku tahu itu hanya bibirku yang berbicara.
Tangan Dion yang besar dan kuat meraih tengkukku. Ia menuntun kepalaku
ke depan, perlahan namun pasti. Cadarku menyentuh ujung penisnya yang
keras dan hangat. Aku memejamkan mata, merasakan sensasi itu merayap ke
seluruh tubuhku. Rasa panas itu begitu kuat, seolah menembus kain tipis
yang menutupi wajahku.
"Jangan ditahan, Ukhti," bisik Revan, suaranya serak. Ia menekan lembut
pipi kananku hingga menempel pada penisnya yang juga tegang. "Ini
rahasia kita. Kamu cantik, Ukhti. Kami butuh kamu."
Aku merasa sangat nakal, pengalaman pertama menyentuh penis orang lain,
dan langsung dua penis sekaligus. Pipi kiriku menempel pada penis Dion,
dan pipi kananku menempel pada penis Revan. Aku membiarkan diriku hanyut
dalam sensasi itu, mencium kontol mereka dari luar cadarku, bergantian.
Sensasi yang kualami membuat hasratku memuncak. Aku tidak lagi peduli
pada rasa malu. Aku hanya ingin merasakan lebih, melangkah lebih jauh,
sampai hasratku terpuaskan.
Tiba-tiba, suara langkah sepatu yang berat terdengar mendekat, menggema
di koridor toilet. Kami bertiga terdiam, saling bertukar pandang. Wajah
para pria itu berubah tegang, seringai nakal mereka hilang, digantikan
oleh ekspresi panik yang nyata.
"Sial! Ada orang!" bisik Dion, suaranya tercekat. "Keluar, cepat!"
Aku tidak berpikir dua kali. Dengan panik, aku menarik diri dari mereka,
buru-buru merapikan gamisku dan memastikan cadarku terpasang dengan
benar. Jantungku berdebar kencang, tidak lagi karena hasrat, tapi karena
ketakutan yang menusuk. Aku takut tertangkap basah, takut semua yang
kulakukan akan terungkap. Tanpa menoleh, aku berlari keluar dari toilet
pria, seolah dikejar setan.
Sebelum kembali ke suami, aku membelok ke toilet wanita. Aku melepas
cadarku yang sudah basah dan bernoda. Aku mencuci tanganku berulang
kali, mencoba menghilangkan jejak sentuhan mereka, tapi sensasi itu
masih melekat di kulitku. Setelah itu, aku memakai cadar bersih yang
kubawa di tas, menarik napas dalam-dalam, dan berusaha menenangkan diri.
Aku kembali ke meja makan, wajahku pucat. Dimas menatapku dengan
bingung. "Dari mana saja, Sayang? Kok lama banget?" tanyanya, suaranya
terdengar cemas.
Aku hanya tersenyum, mencoba terlihat tenang. "Maaf, Mas. Tadi antre."
Kami pulang, suasana di dalam mobil terasa canggung dan hening. Aku
hanya bisa menatap jalanan yang lengang, memikirkan apa yang baru saja
terjadi di toilet mal. Ketika sampai di rumah, suamiku, Dimas,
memarkirkan mobil. Aku buru-buru keluar lebih dulu, seolah ada sesuatu
yang menungguku.
Benar saja, di depan pintu ada sebuah paket. Aku melihat penerimanya,
dan itu namaku. Aku bingung, karena aku tidak pernah merasa memesan apa
pun. Tiba-tiba, mataku terbelalak saat melihat nama pengirimnya: Bims.
Aku langsung panik. Dengan cepat, aku meraih paket itu dan
menyembunyikannya di balik tubuhku, sebelum Dimas sempat melihatnya.
Aku segera masuk, jantungku berdegup kencang. Setelah Dimas masuk, aku
buru-buru ke studio live-ku. Aku membuka pintu, menguncinya, lalu
meletakkan paket itu di atas meja. Tanganku gemetar saat membuka
bungkusnya. Di dalamnya, ada sebuah lingerie hitam tipis dan beberapa
sex toys.
Aku terkejut. Bims benar-benar mengirimkan barang-barang ini. Dengan tangan gemetar, kuambil ponselku dan membuka WhatsApp.
Aku mengetik pesan, "Mas, kok ngirim barang seperti ini, buat apa?"
Tak lama, balasan dari Bims masuk. "Itu barang bagus, Sayang. Untuk
memuaskan kamu. Kamu pakai lingerie-nya buat seks sama suami kamu. Pasti
suami kamu semakin suka dan bergairah. Nantinya kamu pasti puas waktu
berhubungan sama suami kamu."
Aku menelan ludah. "Lalu kok ada sex toys juga, Mas?" tanyaku lagi, mencoba menyembunyikan rasa penasaran.
"Itu buat kalau kamu tidak puas," balasnya cepat. "Nanti hubungi aku,
Sayang. Nanti akan aku ajarkan cara pakai sex toys-nya biar kamu puas."
"Tenang aja, kamu pasti puas malam ini," pesannya.
Aku terdiam, bingung dengan perasaanku sendiri. Mas Bims tidak hanya
memancingku dengan uang dan perhatian, dia juga mencoba memecahkan
masalahku dengan Dimas. Namun, caranya begitu kotor, begitu melanggar
batas. Aku ingin menolaknya, tapi di sisi lain, dorongan untuk merasakan
kepuasan itu begitu kuat. Malam ini, aku akan mencoba. Aku akan mencoba
memakai lingerie itu dan melihat apakah Dimas akan terpengaruh…
Bersambung
