Suatu siang, aku dan Dimas pergi ke mall. Kami berjalan bersisian, tangannya sesekali menyentuh punggungku. Dari luar, kami tampak seperti pasangan sempurna yang sedang menikmati waktu bersama. Namun, di dalam hatiku, ada kekosongan yang menggerogoti. Aku tidak datang ke sini untuk berbelanja; aku datang untuk sebuah petualangan, untuk melihat apakah keberanian yang kurasakan di dunia maya bisa termanifestasi di dunia nyata.
"Mas, aku ke toilet sebentar, ya," kataku pada Dimas, mencoba menyembunyikan getaran dalam suaraku. Ia mengangguk sambil menatap layar ponselnya, tanpa menaruh curiga sedikit pun. Aku melangkah pergi, menuju pintu toilet wanita, tapi di detik terakhir, aku berbelok arah menuju toilet pria. Rasanya seperti melompat ke dalam jurang, tapi aku tidak bisa menahannya.
Saat melangkah masuk, kakiku terpeleset. Aku terjatuh, dan seketika dua sosok besar dan bertato muncul. Mereka hendak masuk ke bilik, tapi menoleh melihatku. Tanpa ragu, mereka membantu mengangkat tubuhku. Tangan-tangan kokoh itu seperti sengaja menyentuh payudaraku yang padat, menembus kain gamis yang kupakai. Desahan tak sadar lolos dari bibirku. Itu hanya sentuhan singkat, namun cukup untuk menyulut api dalam diriku yang sudah lama redup.
"Hati-hati, Ukhti," kata salah satu dari mereka, suaranya serak. Mereka tersenyum tipis, lalu melanjutkan langkah ke bilik toilet.
Aku terdiam sejenak, menata napas. Tiba-tiba, jantungku berdebar kencang. Aku ingat pesan dari Mas Bims, kenalan dari dunia maya: "Jangan takut, jadilah dirimu. Biarkan hasratmu memimpin." Dengan keberanian yang asing, aku melangkah keluar dari bilik.
Di area wastafel, salah satu dari mereka, yang bertubuh lebih besar, menoleh. "Assalamualaikum, Ukhti. Nama saya Revan," sapanya, senyumnya ramah tapi matanya penuh makna. "Ini Dion." Mataku melirik ke arah Dion, yang sedang buang air di urinoir. Tanpa bisa kutahan, mataku terpaku pada penis pria itu yang sangat besar dan tegang.
Revan tertawa pelan, menyadari tatapanku. "Suka ya lihat punya dia?" godanya dengan seringai nakal. "Sini, coba pegang punya saya." Ia mengambil tanganku, menuntunnya untuk menyentuh tonjolan di balik celana pendeknya.
Gila, sentuhan itu seperti sengatan listrik. Benda di balik celana itu begitu keras dan besar, membakar setiap inci hasrat yang selama ini kupendam. Aku mencoba menarik tanganku, tapi Revan menahannya dengan lembut.
"Ayo, sayang, jangan malu," bisiknya, suaranya serak. "Punya kita dijamin bikin kamu ketagihan."
Dion, yang kini sudah berada di samping kami, ikut tersenyum. "Yakin kamu nggak mau cobain? Ukhti kayak kamu belum pernah nyobain kontol sebesar ini kan?"
Kata-kata itu membuatku menunduk. Aku mencoba mengendalikan diri, tapi tanganku yang berada di tangan Revan tak kuasa kutarik. "Nggak, aku nggak bisa," bisikku, suaraku nyaris tak terdengar. "Aku punya suami."
"Suamimu nggak di sini, kan?" tanya Revan, nada suaranya lembut tapi memaksa. "Kita cuma main-main. Sebentar aja."
"Jangan takut, sayang," bujuk Dion. "Kita nggak bakal nyakitin kamu. Kita cuma mau bikin kamu puas."
Kata "puas" itu seperti sihir. Sebuah kata yang terasa begitu jauh, sesuatu yang bahkan tidak pernah bisa aku rasakan bersama suamiku. Bayangan Dimas yang selalu terburu-buru dan tidak pernah memuaskanku kembali terlintas. Bayangan itu membuatku marah, dan kemarahan itu berubah menjadi gairah yang membara. Tanpa sadar, aku mengangguk pelan.
Revan tersenyum penuh kemenangan. Ia menggerakkan tanganku, dari atas ke bawah, di balik celananya. Aku tidak lagi mencoba melawan. Aku sudah terlalu hanyut. Dion mendekat. Tanpa menutup celana pendeknya, ia langsung mengambil tangan kiriku dan mengarahkannya ke penisnya yang sangat besar itu. Aku menelan ludah, tidak lagi mencoba melawan.
"Punyaku lebih gede dari dia," bisik Dion, suaranya berat. "Pegang aja, nikmatin. Jangan takut."
Aku menatap kedua tanganku yang memegang kedua benda itu. Tidak ada lagi Dimas. Tidak ada lagi dosa. Hanya ada gairah yang membakar, yang sudah lama terpendam. Malam ini, aku akan menemukan kepuasan yang tidak pernah diberikan oleh suamiku.
Kemudian Revan membuka celana pendeknya, dan aku tersentak. Penisnya tak kalah besar dari Dion.
"Kocokin, Ukhti," bisiknya, matanya menyala. "Tangan kamu lembut banget."
Saat itu juga, sebuah tangan melingkar dan meremas payudaraku. Aku tersentak, mataku terbuka lebar. Itu tangan Dion. Ia melakukannya dengan lembut, namun penuh hasrat. Aku tidak menolak. Justru, sebuah desahan lolos dari bibirku. Itu adalah perasaan aneh. Seharusnya aku merasa jijik, merasa hina, dan segera pergi, tapi yang kurasakan hanyalah kenikmatan. Aku memejamkan mata, membiarkan hasrat menguasai diri.
Aku semakin bersemangat mengocok penis mereka naik turun, tanganku bergerak cepat, melayani mereka berdua.
"Ahh… sayang," bisik Dion, suaranya parau. "Kamu cantik banget. Nenenmu gede. Aku suka."
"Ahh, nggak nyangka bisa dikocokin akhwat bercadar gini. Mimpi apa semalam," timpal Revan, tawanya terdengar puas.
Aku tahu itu adalah hinaan. Mereka menjadikan statusku sebagai "akhwat bercadar" sebuah fantasi, sesuatu yang tabu dan tidak seharusnya disentuh, tapi justru itulah yang membuat mereka semakin menginginkanku. Anehnya, aku menyukai itu. Aku suka bagaimana mereka memandangku dengan nafsu yang terlarang.
Kini, mereka berdua meremas payudaraku dengan lebih keras. Tanganku tetap bergerak, namun fokusku beralih pada sensasi yang membanjiri tubuhku. Aku mendesah, tak bisa lagi menahan hasrat.
"Gila! Tetek cewek bercadar ini bagus banget teteknya..." desah Dion, suaranya tercekat.
Aku merasa kotor, tapi pada saat yang sama, sebuah sensasi aneh yang luar biasa menjalar di bawah perutku, membuatku semakin menginginkan lebih.
Dion melepaskan remasan tangannya. Ia menunduk, bibirnya menyentuh cadarku, lalu mulai mencium pipiku. Sensasi basah dan panas dari lidahnya menjilati kelopak mataku yang tertutup, kemudian berpindah ke telingaku. Ia menggigit lembut daun telingaku yang terbungkus jilbab lebar, mengirimkan sengatan listrik ke seluruh tubuh.
Aku mendesah, "Ahh... jangan, Mas..." Suaraku parau, lebih seperti bisikan yang memohon daripada penolakan.
"Kenapa, Dek? Kamu suka, kan?" bisiknya, suaranya penuh godaan, membuat bulu kudukku berdiri. "Aku bisa kasih lebih dari ini, Sayang."
Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam kenikmatan. Tiba-tiba, tangan Dion yang lain menelusup ke sela jilbabku. Jari-jarinya yang lincah dengan mudah menemukan dan membuka kancing atas gamisku. Aku tersentak, menahan napas, namun tubuhku tidak bisa berbohong, aku membiarkannya. Tangannya langsung masuk, meremas payudaraku yang terasa penuh. Ia menelusup ke dalam bra, dan dengan gerakan lembut namun pasti, jari-jarinya memelintir putingku hingga menegang, membuatku melengkung karena sensasi itu.
"Ahh, Mas... sudah, ini terlalu jauh..." Aku memohon, tetapi suaraku malah terdengar seperti bisikan yang pasrah.
Dion menarik bibirnya dari telingaku dan menatapku, matanya tajam dan penuh hasrat. "Kamu nggak perlu khawatir, Dek. Kita jamin kamu bakal pulang dengan senyuman."
Aku menggeleng, mencoba menolak, tetapi tubuhku tidak bisa berbohong. Jantungku berdebar tak karuan, hasrat yang selama ini terpendam kini meledak tak terkendali. Aku merasa terbelah, sebagian diriku menjerit ketakutan, ingin segera melarikan diri dari tempat ini, kembali ke kehidupan lamaku. Namun, sebagian yang lain, menuntut lebih, ingin menyerah sepenuhnya pada kenikmatan yang memabukkan ini...
Bersambungg...
