"Ini... ini salah, Pak..." bisik Tiara, suaranya parau.
"Salah? Tapi kamu menikmatinya," bisik pria itu, suaranya penuh kemenangan. "Kamu membohongi dirimu sendiri. Kamu menginginkan ini. Kamu ingin merasakan penis ini di dalam dirimu kan, bilang aja..."
"Ahhh... iyahh. ahhh... Aku ingin... ahhh..." desah Tiara.
"Iya, Sayang," bisik pria itu, suaranya serak. "Aku tahu kamu ingin. Aku akan membuat kamu lebih merasa nikmat dari tadi. Aku akan masukkan kontol ini ke dalam memekmu yang basah."
"Tidak... tidak... jangan pak," bisik Tiara.
Pria itu terus mengusapkan penisnya ke cadar. "Kamu pernah sepong kontol sayang?"
"Belum, Pak," jawab Tiara.
"Bapak ajarin, ya..." bisik pria itu, lalu menekan kepala penisnya ke bawah. Tangannya yang tadinya mengusap penisnya kini beralih memegang kepala Tiara, mendorongnya untuk mencium penisnya dibalik cadar. Tiara memejamkan mata.
Pria itu menyeringai, "Ah, posisi ini kurang enak, Sayang." Ia melepaskan genggamannya dari kepala Tiara, lalu berdiri. "Kamu duduk saja, ya..." bisiknya. Tiara menurut, dan dengan gerakan gemetar, ia duduk di ranjang. Pria itu menatapnya, lalu turun dari kasur berdiri di hadapannya.
"Nah, begini lebih enak," bisiknya, suaranya serak. Ia meraih tangan Tiara, lalu menuntunnya untuk memegang penisnya yang masih tegak. "Pegang, Sayang... Pelan-pelan..." sambil pria itu meremas payudara istriku.
"Udah siap nyepong?" tanya pria itu, matanya menyorot tajam.
Tiara mengangguk.
"Buka cadarnya ya," perintah pria itu.
"Gak mauu..." jawab Tiara, suaranya pelan.
"Yaudah singkap aja," kata pria itu.
Tiara mengangguk, lalu mengangkat sedikit ujung cadarnya. Pria itu menyeringai puas, melihat bibir Tiara yang samar-samar terlihat. Ia lalu memegang kepala Tiara, mengarahkannya ke arah penisnya yang tegang.
"Cium kepala kontolnya, sayang," bisiknya. "Aku ingin merasakan bibirmu."
Sementara itu, tangan kanan Tiara masih menggenggam penis pria itu. Ia memejamkan mata, dan dengan perlahan, ia memasukkan ujung penisnya ke sela cadarnya. Bibirnya mengecup kepala penisnya yang basah, sebuah kecupan yang terasa begitu dingin di tengah semua fantasi gila ini.
"Mmm..." desah pria itu, matanya terpejam. "Enak... bibirmu lembut sekali, Sayang."
Ia kembali meremas payudara Tiara, kali ini lebih kencang. "Gimana? Kamu suka, kan?" bisiknya. "Tidak usah berbohong lagi. Aku tahu kamu suka."
Kemudian, pria itu menarik kepala penisnya sedikit ke belakang, menatap Tiara dengan mata yang penuh nafsu. "Keluarkan lidahmu, Sayang... Jilatin kontolku, rasakan... Seperti kamu jilatin es krim."
Tiara terdiam, menatap pria itu. Ia menggeleng, menolak. "Tidak... Aku tidak bisa..." bisiknya, suaranya parau.
Pria itu menyeringai, seolah ia telah menemukan titik lemah Tiara. "Kenapa? Tidak perlu takut," bisiknya penuh kemenangan. "Aku tidak merekam lagi, ponselku tertinggal di studio. Jadi, aman, Mas Bims tidak akan melihatnya, tenang saja." Ia menunduk, lalu mengecup leher Tiara yang tertutup jilbab.
Tiara terdiam, tubuhnya bergetar. Ia tahu, ia tidak punya pilihan. Ia sudah terjebak dalam permainan gila ini. Dengan tangan gemetar, ia perlahan menyibakkan cadarnya kesamping, membuka mulutnya, dan dengan gerakan yang ragu, ia menjulurkan lidahnya. Ia menjilati kepala penis pria itu, merasakan rasanya yang dingin dan basah.
"Ahhh..." desah pria itu, suaranya serak. Ia mendongakkan kepala, matanya terpejam. "Iya... begitu, Sayang... sekarang jilatin batangnyaa... Aku suka... Ahhh..."
Tiara menjilati batang pria itu. Dari kepala sampai ke pangkal. Ia melakukannya dengan gerakan ragu-ragu, seolah ia adalah robot yang diprogram untuk melakukan hal ini. Pria itu menyeringai, matanya terpejam, menikmati setiap jilatan yang diberikan Tiara. Ia kembali meremas payudara Tiara, kali ini lebih kencang, seolah ingin membalas setiap jilatan itu dengan sentuhan yang lebih dalam.
Kemudian, pria itu menghentikan gerakan Tiara. Ia menarik kepala penisnya sedikit ke belakang. "Masukkan, Sayang," bisiknya. "Aku ingin merasakan mulutmu."
Tiara terdiam. Ia menatap pria itu, lalu menunduk. Dengan gerakan gemetar, ia membuka mulutnya, dan dengan perlahan, ia memasukkan kepala penis pria itu ke dalam mulutnya. Pria itu mendesah, kepalanya mendongak. "Ahh... begitu... Ahhh... Enak, Sayang... sangat enak..."
Ia mulai menggoyangkan pinggulnya, memaju-mundurkan penisnya di dalam mulut Tiara. Gerakan itu dari pelan sampai kasar dan cepat, tapi Tiara tidak melawan. Ia hanya memejamkan mata, membiarkan dirinya pasrah. "Hisap, Sayang... Hisap yang kencang... Aku ingin kamu merasakan setiap inci dari kontolku... Ahhh... Lebih dalam...!" desah pria itu, suaranya serak.
Tiara tidak menjawab. Ia terus mengulum, mengikuti setiap irama yang diberikan pria itu. Pria itu semakin brutal, ia menekan kepala Tiara, memaksanya untuk menelan penisnya lebih dalam. Tiara mendesah, kenikmatan. Ia sudah tidak peduli lagi.
Tiara memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam perbuatan yang menjijikan ini. Ia menjilati, mengulum, dan menghisap penis pria itu, mengikuti setiap perintah pria itu. Ia sudah tidak peduli lagi. Ia hanya ingin semua ini berakhir. Ia sudah lelah, dan ia hanya ingin pasrah.
Sementara itu, pria itu terus mendesah, tangannya meremas payudara Tiara. "Enak, Sayang... Sangat enak..." bisiknya.
Aku menatap layar ponselku, dan aku merasa gila. Aku telah menciptakan monster. Aku telah menciptakan monster yang kini menghisap kehidupan dari istriku. Dan di dalam kegilaan itu, aku menemukan sebuah gairah yang tak bisa kutolak. Aku menyukai permainan ini. Aku ingin ia terus melakukannya.
Pria itu menyeringai, "Ahhh... kamu mau lebih, Sayang?"
Tiara menatapnya dengan bingung. "Lebih gimana, Pak?" tanyanya, suaranya parau.
Pria itu tersenyum, senyum penuh kemenangan. Ia tahu, ia telah berhasil mengendalikan Tiara sepenuhnya. "Bapak pengen jilat memek kamu, Sayang," bisiknya.
Tiara terlihat bingung, menatap pria itu dengan tatapan kosong.
Pria itu menunggu, menatapnya. "Tenang aja, Sayang... Kamu pasti akan suka?" bisiknya. "Sekarang, biarkan Bapak jilat memek kamu."
Tiara mengangguk. Sebuah anggukan yang terasa seperti sebuah pengakuan, sebuah pengakuan bahwa ia telah menyerah, bahwa ia telah membiarkan dirinya tenggelam dalam kegilaan yang tak bisa ia kendalikan. Pria itu tersenyum puas, lalu ia jongkok, berlutut di depan Tiara. Posisi Tiara masih duduk di tepi ranjang.
"Nah, begitu..." bisiknya. "Sekarang, buka kakimu, Sayang..."
Tiara menurut, membuka sedikit kakinya. Ia tidak melawan. Pria itu menyeringai, ia tahu ia telah menang. Ia perlahan mendekat, menunduk. Dengan ujung jari-jarinya, ia membuka vagina Tiara. Vagina yang basah dan berbulu halus itu terpampang jelas di hadapannya.
"Ahhh... Ahhh..." desah Tiara, matanya terpejam. "Cantik sekali memek kamu Sayang..." bisik pria itu, suaranya serak.
Tiara memejamkan mata. Ia tidak bisa menghentikan dirinya. Ia hanya bisa pasrah. Pria itu perlahan mendekat, menjulurkan lidahnya. Ia mulai menjilati vagina Tiara, gerakannya lambat dan hati-hati, seolah-olah ia sedang mencicipi sebuah hidangan yang lezat.
"Ahhh... ahhh... Enak, Sayang..." bisik pria itu, suaranya serak. "Manis sekali..."
Ia terus menjilati, gerakannya semakin cepat, lebih intens. Ia mengisap bibir vagina Tiara, lalu menjilati klitorisnya. Tiara mendesah, tubuhnya menegang. Ia mencoba menahan desahannya, tapi ia tidak bisa. "Ahhh... ahhh... iyaahh enakk.. teruss.." desahnya, suaranya parau. Ia tidak bisa menyangkal, ada kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Pria itu tersenyum, ia tahu ia telah berhasil. Ia terus menjilati, lalu ia mengangkat kepalanya. "Mau lebih, Sayang?" bisiknya. "Aku akan membuatmu merasa keenakan."
Tiara menggeleng. "Tidak... tidak... sudah..." bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar.
Pria itu kembali menjilati Tiara, lebih intens dari sebelumnya. Tiara mendesah, tubuhnya menegang. Ia mencoba menahan desahannya, tapi ia tidak bisa. "Ahhh... ahhh... Iyahhh..." desahnya, suaranya serak. "Terus... lebih kencang... ahhh..." Ia memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam kegilaan ini. Ia sudah tidak peduli lagi. Ia sudah lelah, dan ia hanya ingin semua ini berakhir.
Pria itu menyeringai, ia tahu ia telah berhasil. Ia terus menjilati, lalu ia mengisap klitoris Tiara. Gerakan itu membuat Tiara menjerit, "Ahh.. Ahhhh!" Tubuhnya kejang, pinggulnya bergerak tak terkendali. Ia terengah-engah, lemas, lalu jatuh terduduk di lantai, bersandar pada ranjang.
Pria itu tersenyum puas, menepuk bahu Tiara pelan. "Lihat, 'kan? Kamu suka kan Sayang," bisiknya, suaranya dipenuhi kemenangan.
Pria itu kemudian bangkit berdiri, menyibak cadar Tiara yang sudah basah oleh keringat. Bibir Tiara terpampang jelas. Pria itu menyeringai, menatapnya, lalu ia menunduk, mencium bibir Tiara. "Enak, Sayang..." bisiknya. "Manis sekali bibir kamu..."
Tiara tidak melawan. Ia hanya memejamkan mata, membiarkan dirinya pasrah. Pria itu kemudian melepaskan ciumannya, lalu ia memegang penisnya yang masih tegang dengan tangan kirinya. Kemudian tangan kanannya memegang paha Tiara, membukanya lebih lebar. Ia lalu menggesek-gesekkan penisnya ke bibir vagina Tiara yang basah.
"Ahhh... ahhh... Iyahhh..." desah Tiara, suaranya serak. "Terus... apa itu pak di vaginaku... ahhh..."
Pria itu menyeringai. "Ini kontol sayang, aku gesek-gesekkan ke memek kamu yaa.." Ia tahu ia telah berhasil. Ia terus menggesek-gesekkan penisnya, gerakannya semakin cepat.
Tiara mendesah terus. "Ahhh... ahhh... Iyahhh... terus Pak... Ahhh..."
"Ahhh... enak banget penis Bapak di gesek ke vaginaku, terus Pakk, ahh.." desah Tiara, matanya terpejam, menikmati setiap gesekan yang diberikan pria itu.
"Kalau lebih enak lagi di masukin sayang.. gimana? Mau gak?" bisik pria itu, suaranya serak. Ia tahu, ia telah berhasil menguasai Tiara sepenuhnya.
Tiara diam, hanya mendesah. Ia terlihat bingung, matanya menatap kosong ke depan. Ia tidak menjawab, seolah-olah ia sedang memikirkan tawaran pria itu. Namun, "jangan pakk Ahh.. jangan dimasukin. Ahh.. gini aja pak.."
"coba dulu aja sayang gimana. kalo gak enak nanti stop in aja."
Tiara bingung lagi, seperti sedang memikirkan sesuatu. Lama dia tidak menjawab. Pria tua itu terus menggesekkan kepala penisnya. Kulihat kepala istriku mendongak ke atas, seolah menikmati.
Tiba-tiba, "tok tok tok," pintu kantorku diketuk. Evelyn masuk. Aku langsung mematikan ponselku. Aku tidak mau dia melihat istriku terlalu jauh. Aku tidak mau dia tahu apa yang sedang terjadi.
"Pak, sudah jam 5 sore, Bapak gak pulang?" ujar Evelyn.
Aku mematung. Mataku melirik jam tangan. Pukul 17.00. Waktu yang terasa begitu singkat, namun penuh dengan kekacauan. Aku menghela napas, menyembunyikan getaran di tanganku saat aku memasukkan ponsel ke saku celana. Evelyn menatapku, senyumnya tipis, menyimpan rahasia di antara kami.
"Iya, aku pulang kok, Evelyn," jawabku, suaraku terdengar kaku. Aku mencoba terdengar normal.
"Bapak kenapa? Wajahnya pucat sekali," tanyanya, suaranya dipenuhi nada khawatir. Aku tahu ia peduli, tapi di mataku, kepedulian itu terasa seperti sebuah jebakan. Ia sudah tahu terlalu banyak.
"Tidak, tidak apa-apa," jawabku, mencoba memaksakan senyum. "Hanya... lelah."
Ia mengangguk, namun matanya tetap menatapku dengan curiga. "Kalau begitu, hati-hati di jalan, Pak. Saya juga mau pulang."
Aku mengangguk, lalu bergegas keluar. Di dalam mobil, pikiranku terus berputar. Adegan di layar ponselku terus terbayang. Tiara, istriku, yang pasrah di hadapan pria tua itu. Desahannya, gerakannya, dan ekspresi kenikmatan di wajahnya... semua itu membuatku gila. Tapi di sisi lain aku menyukai ini.
Aku menyalakan mobil, menginjak gas, dan melaju ke rumah dinas. Sepanjang perjalanan, aku terus memikirkan apa yang terjadi. Apa yang akan kulakukan? Akankah aku marah? Akankah aku memaafkannya? Atau akankah aku... terus membiarkan permainan ini berlanjut?
Setibanya di rumah dinas, aku segera masuk ke kamar. Aku duduk di tepi ranjang. Aku mengambil ponselku, dan aku bisa merasakan tanganku bergetar saat aku membuka aplikasi CCTV. Aku harus melihatnya. Aku harus tahu apa yang terjadi setelah aku mematikan ponselku tadi.
Pikiranku kalut saat aku melihat layar CCTV. Kulihat kini pria itu tiduran telentang, sementara Tiara berada di atasnya. Pantatnya bergoyang maju mundur, tapi tertutup selimut. Aku tidak bisa melihat apakah penis pria itu benar-benar masuk ke vagina istriku, tapi dari gerakan Tiara yang maju mundur, sepertinya ia sedang melakukan dry humping saja.
Aku tidak bisa mengalihkan pandangan. Aku melihat Tiara menunduk, kepalanya mendongak, matanya terpejam, dan aku bisa melihat air mata sedikit mengalir dari sudut matanya, bercampur dengan ekspresi kenikmatan yang tak bisa disembunyikan.
"Ahhh... ahhh..." desah Tiara, suaranya serak. "Enak... ahhh... terus Pak... ahhh..."
Pria itu menyeringai, "Memekmu basah banget ini, Sayang," bisiknya, suaranya serak. "Enakk bangett.. Ahh.."
Tiara terus memaju-mundurkan pinggulnya di atas pria tua itu, mendesah dengan suara serak, "Ahh... iya, Pak. Penis Bapak besar banget... Ahh...". Gerakannya semakin cepat dan berani.
Pria itu menyeringai penuh kemenangan. Ia tahu Tiara menikmati permainan ini. "Kamu suka, Sayang?" bisiknya, tangannya meremas payudara Tiara. "Aku akan buat kamu ketagihan."
"Iya, Pak... aku suka... Ahh... terus Pak... Ahhh..." desah Tiara, suaranya dipenuhi kenikmatan. Ia mendongakkan kepalanya, membiarkan pria itu melakukan apa pun yang ia inginkan.
Kemudian pria itu bangkit, membalikkan posisi Tiara. Kini, Tiara telentang di bawahnya, masih tertutup selimut. Aku tidak bisa melihat perbuatan mereka dengan jelas, tapi terlihat siluet di selimut. Pinggang pria itu maju mundur
"Ahh, enak banget, Sayang," desah pria itu.
"Iya, Pak, enak banget," balas Tiara. Tangan nya mencengkram bantal di atas kepalanya.
"Aku mau keluar, Sayang... ahh..."
"Sama, Pak, Ahh… " jawab Tiara, suaranya serak.
"Ahhh.. Aku keluarr...." suara pria itu. Ku lihat sepertinya dia sudah orgasme.
Kemudian, aku melihat pria itu ambruk di atas istriku. Kulihat, istriku juga terlihat lemas. Pria itu bangkit, merebahkan diri di samping istriku, dengan selimut menutupi mereka berdua.
Pikiranku bingung. Kulihat mereka berdua tertidur. Aku mematikan ponselku dengan keadaan pusing. Aku merebahkan diriku di kasur. Memikirkan semua ini.. ku biarkan tubuhku terlelap.. menyimpan semua kegila an hari ini..
Bersambunggg....
