Setelah salat Isya dan makan malam, aku dan Mas Dimas duduk di ruang keluarga. Pikiranku masih berkecamuk. Paket dari Mas Bims, sebuah lingerie hitam tipis dan beberapa sex toys, tersembunyi rapi di studio live ku. Aku teringat pesannya, "Itu barang bagus, Sayang. Untuk memuaskan kamu. Kamu pakai lingerie nya buat seks sama suami kamu. Pasti suami kamu semakin suka dan bergairah. Nantinya kamu pasti puas waktu berhubungan sama suami kamu."
Aku bingung. Di satu sisi, ide itu terasa begitu kotor dan salah. Ini adalah hadiah dari pria lain untuk sebuah tujuan yang jelas-jelas tidak pantas. Namun, di sisi lain, bayangan Mas Dimas yang liar dan bergairah tadi malam, ketika aku sedikit nakal, terus menghantuiku. Aku ingin sisi liarnya itu kembali. Aku ingin merasakan kepuasan yang ia janjikan.
Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku ingin melihat apakah lingerie itu benar-benar bisa membuat perbedaan. Aku ingin melihat apakah aku bisa mengubah Mas Dimas. Aku bangkit dari sofa, ke studioku mengambil lingerie, kemudian berjalan ke kamar. Aku meninggalkan Mas Dimas sendirian di ruang makan.
Aku menutup pintu kamar, jantungku berdegup kencang. Dengan tangan gemetar, aku membuka dan mengeluarkan lingerie hitam tipis itu. Bahan sutra yang halus terasa dingin di kulitku. Aku melepas gamis dan semua pakaianku, lalu mengenakan lingerie itu. Aku menatap diriku di cermin. Lingerie itu begitu transparan, hanya terdiri dari bra nerawang dan celana dalam bertali, dengan renda yang nyaris tidak menutupi apa pun. Payudaraku yang besar dan putingku yang merah muda menonjol terlihat jelas di balik kain tembus pandang itu. Aku merasa berani. Aku merasa seksi. Ini bukan lagi Tiara yang alim dan pendiam. Ini adalah Tiara yang baru, yang berani dan penuh gairah.
Aku kembali ke ruang keluarga. Mas Dimas sedang melamun, ekspresinya terlihat lelah. Ia menoleh ke arahku, dan matanya membelalak. Mulutnya sedikit terbuka, dan aku bisa melihat keterkejutan di matanya. Aku tersenyum nakal, sebuah senyum yang penuh dengan godaan dan rahasia.
"Mas," bisikku, suaraku parau. "Adek mau godain Mas malam ini."
Aku berjalan ke arahnya, merasakan setiap langkahku dipenuhi keberanian. Aku tahu, malam ini, aku yang akan memimpin. Malam ini, kami akan bermain dalam sebuah permainan baru, permainan yang telah Mas Bims mulai, tapi yang kini sepenuhnya berada di tanganku.
Aku mengulurkan tanganku, dan Mas Dimas, tanpa pikir panjang, meraihnya. Tangannya terasa panas, dan sebuah sensasi aneh menjalar di seluruh tubuhku. Aku menariknya, dan aku menuntunnya ke kamar kami. Ia mengikutiku.
Sesampainya di kamar, aku mendudukkannya di tepi ranjang.
"Mas, malam ini Adek yang akan jadi bintang untuk Mas," bisikku, suaraku penuh godaan. Aku berdiri di hadapannya, membiarkan rambutku yang tergerai jatuh di bahuku. Aku mulai bergerak pelan, goyangan pinggulku seolah menari mengikuti irama yang tak terdengar. Lingerie yang ku kenakan bergerak bersamaku, memperlihatkan setiap lekuk tubuhku. Aku begitu berani, begitu genit.
"Mas suka Adek yang kayak gini?" bisikku, mataku yang indah menatapnya, penuh godaan. "Mas suka kalau Adek joget untuk Mas?"
Mas Dimas mengangguk, tidak bisa berbohong. "Adek akan buat Mas keenakan," bisikku, lalu tertawa kecil.
Mas Dimas tidak bisa menahannya lagi. Ia menarikku, menciumku dengan ganas. Aku membalasnya dengan ciuman yang tak kalah panas. Tanganku merayap, melucuti pakaiannya satu per satu. Aku mendorongnya hingga ia berbaring tak berdaya.
Aku membuka lingerieku, lalu naik ke atasnya. Aku melumat bibirnya dengan ciuman yang panas dan menuntut, kemudian mengarahkan penisnya ke vaginaku. Dengan satu dorongan, ia masuk.
"Ahh..." desahku, suaraku parau, penuh kenikmatan.
Aku mulai bergerak, pelan-pelan, ritmis, kemudian semakin cepat. Aku begitu beringas. Gerakanku begitu kuat, begitu menuntut, seolah ingin melampiaskan semua hasratku yang terpendam. Mas Dimas hanya bisa berbaring, membiarkanku mengendalikan nya.
Aku memejamkan mata, dan yang terbayang di benakku bukan hanya Mas Dimas. Aku membayangkan aku, yang menari di depan kamera. Aku membayangkan para penontonku coli sambil melihatku. Aku membayangkan mereka melihatku bersetubuh dengan Mas Dimas.
Mas Dimas menciumku, tangannya menangkup wajahku. "Mas.. enak banget.." bisikku.
"Ahh... kamu nakal banget, Dek," desah Mas Dimas, suaranya serak, bercampur dengan napasnya yang memburu.
Aku berada di atasnya, menguasai. Rambutku tergerai, menutupi wajahku yang penuh keringat. Aku menggenjot dengan beringas, penuh hasrat. Aku merasakan tubuh kami berdua melayang, menyatu dalam satu gelombang gairah yang tak terkendali.
Aku mencengkeram bahunya erat. "Ahh... Mas... enak..." rintihku, mencengkeram bahunya erat. "Lebih cepat, Mas... Adek suka kayak gini... Ahhh!"
"Ahh… Mas, keluar, Dek!" rintih Mas Dimas.
Aku merasakan cairan hangat menyembur di dalam vaginaku. Tubuh Mas Dimas ambruk di atasku, terengah-engah. Namun, di dalam hatiku, yang kurasakan bukanlah kepuasan, melainkan kekecewaan. Ia sudah selesai. Seperti biasa. Aku mencoba menahan napas, menahan ke kecewaan di hatiku.
"Mas, kok sudah?" bisikku, suaraku nyaris tak terdengar.
"aku minta maaf dek.." ucapnya, ia terbaring lemas, napasnya memburu. Aku bangkit, merasa begitu kosong. Aku berjalan ke sisi ranjang, mengambil ponselku. Layarnya menyala, dan notifikasi WhatsApp dari Mas Bims terpampang jelas: "Kalau kamu gak puas kabarin, aku akan bikin kamu puas." Kalimat itu bagai sihir, memanggil-manggilku. Aku tahu, ini adalah sebuah kesalahan. Tapi, nafsu yang belum terpuaskan sudah menguasai diriku.
Aku mengetik pesan, "Mas Bims, aku gak puas."
Tak lama, balasan darinya muncul. "Ke studio live sekarang, Sayang. Aku akan bikin kamu puas."
Gila. Apa yang ia inginkan? Apa yang akan ia suruh aku lakukan? Perasaanku campur aduk. Ada rasa takut, tapi di saat yang sama, rasa penasaran itu begitu kuat. Mas Dimas sudah tidur terkapar di kasur, terlihat sangat kelelahan. Aku tidak ingin membangunkan atau mengganggunya. Aku hanya ingin pergi.
Dengan tangan gemetar, aku memakai kembali lingerie tipis itu, lalu melapisinya dengan gamis lebar, lengkap dengan jilbab dan cadar. Aku menatap diriku di cermin. Di balik pakaian yang alim ini, aku adalah wanita yang berbeda, wanita yang haus akan kepuasan.
Aku berjalan ke studio liveku. Pintu itu terasa berat. Aku menghela napas, lalu membukanya, Aku melangkah masuk ke dalam studio, menutup pintu, dan menguncinya. Jantungku berdebar tak karuan. Di hadapanku, ponselku menyala, menampilkan pesan terakhir dari Mas Bims. Aku tahu, ini adalah sebuah permainan, dan aku sudah masuk ke dalamnya. Dengan tangan gemetar, aku mengetik balasan.
"Aku sudah di studio, Mas Bims. Sekarang aku harus apa?"
Tak lama kemudian, sebuah panggilan video masuk dari Mas Bims. Aku menarik napas dalam-dalam dan mengangkatnya. Mas Bims tidak memperlihatkan wajahnya, hanya kegelapan yang terlihat di layar.
"Sex toys yang aku kirim mana?" suaranya terdengar serak, sebuah nada yang penuh gairah dan menuntut. "Kita gunakan itu."
Aku menelan ludah. "Ada, Mas, ini…" Aku menunjukkan barang-barang itu satu per satu. Ada dua benda yang terlihat jelas. Satu mirip penis laki-laki yang sangat besar, dan satu lagi melengkung mirip kecebong, berwarna merah muda. Lalu, sebuah bola kecil dengan kabel dan remote. Aku merasa malu, tapi entah mengapa, aku juga merasakan sensasi aneh yang menjalar di tubuhku.
"Kita pakai satu-satu ya," kata Mas Bims, suaranya kini terdengar penuh kemenangan. Ia tahu ia telah berhasil. Ia tahu, aku tidak akan menolak. Ia tahu, aku akan melakukan apa pun yang ia perintahkan.
"Gimana cara pakainya, Mas?" tanyaku, suaraku sedikit bergetar.
"Coba pakai yang bola kecil dulu. Masukkan bola kecilnya ke dalam memekmu, lalu pencet remote-nya." ucap mas bims.
Gila. Permintaan itu begitu vulgar, begitu intim. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Ada rasa takut, tapi di saat yang sama, rasa penasaran itu begitu kuat.
Dengan tangan gemetar, aku menaruh hp ku di tripod menampilkan wajahku yang tertutup cadar dan setengah badanku saja di layar, kemudian aku mengambil bola kecil itu. Ia terasa dingin di tanganku, sebuah sensasi yang terasa begitu asing. aku memasukkan benda itu ke dalam gamisku lewat bawah. Aku memejamkan mata, dan dengan hati-hati, aku memasukkan bola kecil itu ke dalam vaginaku. Rasanya aneh, dingin, dan sedikit nyeri. Aku menekan tombol di remote. Tubuhku tersentak, sebuah getaran aneh menjalar di seluruh tubuhku. Aku mendesah, "Ahh.. mas bims" tak bisa menahan diri. Getaran itu semakin kencang, semakin dalam. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku tenggelam dalam sensasi itu.
Mas Bims tidak berkata apa-apa. Ia melihatku, ia mendengar setiap detail desahanku, dan perbuatanku. Aku merasa malu, tapi anehnya, aku juga merasa bergairah. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku tidak bisa menahannya. Aku terus menekan tombol di remote, dan setiap getaran membuatku menjerit pelan, "Ahh... ahh...".
Aku tahu, aku sudah jauh melangkah. Aku sudah menyeberangi batas yang seharusnya tak pernah kulewati. Tapi, di sisi lain, aku merasa hidup. Ada sesuatu yang tidak pernah aku dapatkan dari siapa pun, bahkan dari suamiku.
Aku mengamati layar ponselku. Mas Bims menginstruksikan aku untuk mundur. Aku menurut, menggeser tubuhku, mundur dari kamera hingga seluruh tubuhku terlihat. Aku duduk di kursi, kaki sedikit terbuka, dan getaran dari telur kecil di dalam vaginaku semakin terasa kuat. Aku memejamkan mata, menggigit bibirku, menahan desahan
"Dek, aku undang dua orang temanku buat lihat kamu, ya," kata Mas Bims, suaranya serak. "Bayangin kamu live penontonnya adalah kami bertiga."
Aku terkejut. Belum sempat aku menjawab, notifikasi lain muncul. Dua nama asing telah bergabung. Kini, tiga pasang mata mengawasiku. Aku merasakan panas menjalar di wajahku. Malu, tapi pada saat yang sama, ada sensasi aneh yang membuatku semakin bergairah. Mereka melihatku, mereka menginginkanku. Perasaan ini begitu memabukkan.
"Wih, Pak Bims, ada tontonan bagus, nih, ternyata," suara asing lain terdengar dari ponsel. Aku tahu, ini adalah salah satu temannya. Suara yang lain menyusul, "Gila, seksi banget, Pak. Bercadar pula, Masih perawan, enggak, nih?"
Aku menahan napas, dadaku berdegup kencang. Getaran di dalam vaginaku semakin kuat, semakin intens. Tanganku meremas paha, berusaha menahan desahan yang ingin keluar.
"Puas, Sayang?" bisik Mas Bims, seolah ia bisa membaca pikiranku. "Nikmatin aja, Sayang. Jangan malu. Kami semua suka lihat kamu."
Aku tidak bisa berkata-kata. Aku hanya bisa mengangguk, lalu mendesah pelan. "Mmmhh... ya, Mas... enak..."
"Terus, Dek, jangan berhenti," bisik teman Mas Bims yang lain. "Kasih kami tontonan yang lebih bagus. Goyangin lagi, Dek. Goyangin pinggul kamu, ahh... aku sudah ngaceng nih."
Aku tersentak. Getaran di dalam vaginaku semakin kuat, seolah merespon permintaan mereka. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku bergerak sendiri. Pinggulku maju mundur, perlahan, lalu semakin cepat. Aku mendongakkan kepala, air mata sedikit mengalir dari mataku. Ini bukan lagi sekadar permainan. Ini adalah pertunjukan. Pertunjukan yang kumainkan untuk tiga pria asing, sambil membiarkan diriku tenggelam dalam kenikmatan yang memabukkan.
"Ahh... ahh... Enak banget Mas..." rintihku, suaraku parau. "Aku suka... Ahhh... rasanya... enak banget..."
Aku tidak peduli lagi. Aku hanya ingin semua ini berakhir, tapi di saat yang sama, aku ingin lebih. Aku ingin sensasi ini terus berlanjut. Aku ingin tahu, sejauh mana aku bisa melangkah. Aku ingin tahu, seberapa dalam aku bisa jatuh. Dan, aku tahu, ini baru permulaan.
"Jangan berhenti, Sayang," bisik Mas Bims, suaranya serak. "Terus, Sayang... Terus sampai kamu puas. Ahhh..."
"Buka kancing gamis kamu, Sayang," bisik Mas Bims, suaranya serak dan menuntut. "Pakai lingerie-nya."
Aku menelan ludah. Jantungku berdebar tak karuan. Getaran dari telur kecil di dalam vaginaku semakin intens, seolah merespons perintahnya. Aku tahu, ini adalah sebuah ujian. Apakah aku akan menyerah pada rasa malu, atau akan melangkah lebih jauh?
"Aku sudah pakai lingerie di dalam gamis, Mas," bisikku, suaraku bergetar. "Tapi jangan... aku malu..."
"Jangan malu, Sayang," sahut suara asing yang lain. "Kami suka lihat kamu. Kami suka bagaimana kamu berani. Buka saja. Kami janji tidak akan bilang siapa-siapa."
Aku menunduk. Malu, tapi pada saat yang sama, ada sensasi aneh yang membuatku semakin bergairah. Sensasi ini begitu kuat, begitu nyata, dan aku tidak bisa menahannya. Aku perlahan mengangkat tanganku, meraih kancing teratas gamisku. Tanganku gemetar, tapi aku terus melakukannya. Aku membuka satu kancing, lalu dua, dan seterusnya.
Mas Bims dan kedua temannya mendesah. "Ahhh... iya, Sayang... pelan-pelan bukanyaa.. Buka terus sampe bawahh." bisik Mas Bims.
Aku menarik napas dalam-dalam. Di balik gamis itu, lingerie hitam tipis yang kupakai terlihat jelas. Lingerie itu begitu transparan, hanya terdiri dari bra nerawang dan celana dalam bertali, dengan renda yang nyaris tidak menutupi apa pun terlihat ada kabel masuk ke dalam vagina ku, itu adalah kabel sex toys yang mas bims berikan. Payudaraku yang besar dan putingku yang merah muda menonjol terlihat jelas di balik kain tembus pandang itu. Aku merasa berani. Aku merasa seksi. Ini bukan lagi Tiara yang alim dan pendiam. Ini adalah Tiara yang baru, yang berani dan penuh gairah.
"Ahhh... Sayang... payudaramu indah sekali," bisik teman Mas Bims. "Pengin ku remas. Gila..."
Aku mendesah, tak bisa menahan diri. Getaran dari telur kecil di dalam vaginaku semakin kuat, seolah merespons setiap sentuhan yang mereka rasakan dari kejauhan. Aku memejamkan mata, menggigit bibirku, menahan desahan yang nyaris lolos. Sensasi ini begitu aneh, begitu asing, namun tak bisa kutolak.
Tiba-tiba, suara salah satu teman Mas Bims terdengar lagi. "Lepas aja, Dek, gamisnya. Tanggung amat!"
Aku tersentak. Rasa malu kembali menyelimutiku. Melepaskan gamis berarti aku akan sepenuhnya terlihat, hanya dengan lingerie yang nyaris tak menutupi apa pun. "Jangan, Mas, aku malu..." bisikku, suaraku bergetar.
Namun, suara teman yang lain menyusul. "Udah, Lepas aja, Sayang. Kita pengen lihat kamu. Pengen lihat semua keindahanmu."
Aku menunduk, tidak bisa lagi menahan getaran di tubuhku. Perasaan ini begitu memabukkan. Mereka menginginkanku, mereka menuntut lebih, dan aku, entah mengapa, ingin memberikannya. Aku ingin melihat sejauh mana aku bisa melangkah. Aku ingin tahu, seberapa dalam aku bisa jatuh.
Dengan tangan gemetar, aku perlahan mengangkat gamisku. Kain itu meluncur ke bawah, jatuh di kakiku. Aku berdiri di sana, di hadapan tiga pria asing, hanya dengan lingerie hitam tipisku. Payudaraku yang besar dan putingku yang menonjol terlihat jelas di balik kain nerawang itu. Celana dalam bertali yang kupakai membuat garis vaginaku terlihat. Aku kembali duduk di kursi, aku bersandar di sandaran, kaki ku sedikit ku buka, ku remas payudaraku sendiri, wajahku mendongak menikmati semua kenikmatan ini.. "Ahhh... Enak bangett.Ahh..," Desahku.
"Ahhh... Sayang... kamu cantik banget," bisik salah satu teman Mas Bims. "Gila... aku nggak bisa tahan lagi."
Aku semakin mendesah, tak bisa menahan diri. Getaran dari telur kecil di dalam vaginaku semakin kuat, seolah merespons setiap sentuhan yang mereka rasakan dari kejauhan. Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku bergerak sendiri. Pinggulku maju mundur, perlahan, lalu semakin cepat. Aku mendongakkan kepala. "Ahh... ahh... lebih kencang, Mas..." rintihku sambil meremas payudaraku, suaraku parau. "Aku suka... Ahhh... rasanya... enak banget..."
Di hadapan tiga pria asing, hanya dengan lingerie hitam tipisku. Payudaraku yang besar dan putingku yang menonjol terlihat jelas di balik kain nerawang itu, aku terus meremasnya. Celana dalam bertali yang kupakai membuat garis vaginaku terlihat. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. Getaran dari telur kecil di dalam vaginaku semakin kuat.
Tiba-tiba, satu per satu dari mereka mulai mendesah. Mas Bims, lalu kedua temannya. Suara erangan mereka terdengar nyaring dari ponsel, seolah mereka berada di sini, di sampingku. Mereka mengerang, mendesah kencang, memanggil namaku, "Tiara... ahh... Tiara. Buka kaki kamu.. aku mau keluar di memek kamu... Ahh. Ahhh..".
Aku tahu apa yang sedang terjadi. Mereka semua mencapai puncaknya, hampir bersamaan. Dan aku, aku adalah penyebabnya. Perasaan itu begitu aneh, begitu memabukkan. Aku telah berhasil. Aku telah membuat mereka menginginkanku, membuat mereka gila.
"Wih, Pak Bims, hebat banget ini istri orang ya!" suara salah satu temannya terdengar, suaranya parau. "Gila, ini pengalaman terindah seumur hidupku."
Aku tersenyum, lalu tertawa pelan. Aku telah menemukan diriku yang baru, yang berani, yang liar.
Mas Bims, setelah terdiam sejenak, kembali bersuara. "Sekarang giliranmu, Sayang," bisiknya, suaranya serak. "Biarkan kami lihat kamu mencapai puncak. Biarkan kami lihat seberapa hebat kamu."
Aku menelan ludah. Getaran di dalam vaginaku sudah tak tertahankan. Aku tidak bisa lagi menahannya. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut. Aku mulai menggoyangkan pinggulku lebih cepat, menggerakkan tanganku ke atas, mengelus payudaraku sendiri, meremasnya pelan.
"Ahhh... ahh... yaaah... enakkk..." rintihku, suaraku parau.
"Terus, Sayang... terus," bisik Mas Bims. "Jangan berhenti, lebarkan kaki kamu. Elus memek kamu.."
Aku mendongakkan kepala, Aku mengikuti semua perintahnya, Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Aku menjerit, "Ahh.. Ahhhh!" Tubuhku kejang, pinggulku bergerak tak terkendali. Aku merasakan gelombang kenikmatan membanjiri seluruh tubuhku, sebuah sensasi yang tidak pernah kurasakan dengan Mas Dimas. Aku orgasme hebat, sebuah ledakan kenikmatan yang begitu kuat, begitu nyata.
"Gila... seksi banget...." bisik salah satu teman Mas Bims.
"Masya Allah, memeknya rapet banget kayak perawan," suara yang lain menimpali.
Aku terengah-engah, tubuhku lemas. Setelah gelombang kenikmatan itu surut, aku merebahkan diri ke sandaran kursi, membiarkan diriku tenggelam dalam kelelahan yang luar biasa. Kemudian aku pencet tombol di remot, Getaran dari telur kecil itu perlahan mereda. Aku membuka mata, Di layar ponselku, ketiga pria itu menatapku dengan mata yang penuh kekaguman. Mereka tidak lagi mendesah, tapi napas mereka masih memburu. Aku tahu, mereka sama lemasnya denganku.
"Tiara… kamu benar-benar hebat," bisik Mas Bims, suaranya serak. "Aku enggak pernah lihat wanita seberani kamu."
"Gila... kamu kayak bidadari dari surga," timpal salah satu temannya. "Di balik gamis dan cadar, ternyata kamu sembunyikan keindahan tubuhmu yang luar biasa."
Aku tersenyum, lalu tertawa kecil, Tawa itu membuatku bangga. Aku telah menemukan diriku yang baru, yang berani, yang liar. Aku telah berhasil. Aku telah membuat mereka menginginkanku, membuat mereka gila.
"Iya, Mas," balasku, suaraku parau. "Aku... aku puas banget. Aku suka bagaimana kalian memujiku. Aku suka bagaimana kalian membuatku merasa diinginkan."
"Ahhh... Sayang, kamu manis banget," bisik Mas Bims, "Kamu harus sering-sering live begini. Aku jamin, kamu akan mendapatkan lebih dari ini. Kamu akan menjadi ratu di sini."
Aku mengangguk, lalu tersenyum. "Mas, aku izin pakai gamisku lagi ya," kataku. "Aku sudah puas."
"Jangan dulu, Sayang, aku masih mau lihat kamu," bisik salah satu temannya. "Ayo, joget lagi, Dek."
Aku menggeleng. "Sudah, Mas. Aku sudah capek. Aku ingin istirahat."
"Ya sudah," kata Mas Bims, suaranya melembut. "Istirahatlah, Sayang. Jangan lupa, kamu hebat. Kamu bisa hubungi kami lagi kapan saja."
Aku mengangguk, lalu melambaikan tanganku ke kamera. "Terima kasih banyak, semuanya," kataku, suaraku tulus. "Terima kasih sudah bantu aku mencapai kenikmatan. Aku... aku tidak tahu harus bilang apa lagi. Kalian... kalian hebat."
Kemudian, satu per satu dari mereka keluar. Layar ponselku kembali kosong, hanya menampilkan wajahku yang kelelahan, dan tubuhku yang masih bergetar. dan terdiam. Aku tersenyum, Aku merasa kotor. Aku tahu, aku sudah jauh melangkah, menyeberangi batas yang seharusnya tak pernah kulewati. Tapi, di sisi lain, aku merasa hidup. Aku merasa diinginkan, dihargai, dan punya kendali. Perasaan ini, perasaan diakui, adalah sesuatu yang tidak pernah aku dapatkan dari siapa pun, bahkan dari suamiku.
Setelah mereda, aku bangkit ke kamar mandi. Aku membersihkan diri, kemudian memakai gamisku. Setelah selesai, aku keluar dan meraih ponselku. Kulihat, ada chat baru dari Mas Bims. Jantungku berdebar kencang. Aku membukanya.
"Sayang, kayaknya kamu harus mendapat kepuasan dari orang langsung secara nyata, biar gak online terus. Pasti lebih enak rasanya, aku jamin..."
Aku terdiam. Duniaku serasa berhenti berputar. Aku menatap pesan itu berulang kali. Perasaan jijik dan takut membanjiri diriku. Aku tidak bisa. Aku tidak akan pernah berani. Cukup sudah. Aku hanya akan nakal di dunia maya. Aku hanya akan nakal di depan kamera. Jangan sampai ke dunia nyata.
Aku berjalan kembali ke kamar, ke tempat tidur kami. Mas Dimas sudah terlelap, napasnya terdengar teratur. Aku membaringkan diriku di sampingnya, memejamkan mata, berharap bisa melupakan semua yang baru saja terjadi. Namun, bayangan Mas Bims dan kedua temannya terus menghantuiku. Suara-suara mereka, desahan mereka, dan pujian mereka terus terngiang-ngiang di kepalaku.
Tiba-tiba, sebuah suara membuatku tersentak. Suara tangisan. Aku menoleh ke sampingku, dan mataku membelalak. Mas Dimas menangis dalam tidurnya, air mata membasahi pipinya. Aku mematung, kaget. Apa yang terjadi padanya? Mengapa ia menangis?
Dengan tangan gemetar, aku mengusap air mata di pipinya. "Mas, bangun, Mas... kamu kenapa?" bisikku.
Mas Dimas menggeliat, lalu membuka matanya. Ia menatapku dengan mata yang penuh ketakutan dan kelelahan. Aku memegang wajahnya, mengusapnya dengan lembut. "Mas, kamu mimpi buruk?" tanyaku.
Ia mengangguk, suaranya serak. "Aku... aku mimpi buruk," bisiknya. "Aku takut..."
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku hanya bisa memeluknya, membiarkan diriku tenggelam dalam kehangatan yang sesungguhnya. Aku ingin ia tahu, aku ada di sini, untuknya.
"Enggak apa-apa, Mas," bisikku. "Adek di sini. Adek enggak akan ke mana-mana."
Aku memeluknya lebih erat, membiarkan diriku terlelap dalam kelelahan yang luar biasa, kami berdua terlelap dengan rahasia yang tersembunyi di antara kami, membakar hatiku dalam diam.
Bersambungg...
