Pagi itu, aku terbangun. Mataku mengerjap, menyesuaikan diri dengan cahaya subuh yang masuk dari jendela. Mas Dimas sudah bangun. Ia terduduk di tepi ranjang, terlihat sedang merenung, "selamat pagi mas". sapaku. Setelah aku bangun, aku mengambil wudu dan shalat Subuh, mencoba menenangkan hati yang masih terasa campur aduk apa yang aku alami semalam.
Selesai shalat, aku langsung ke dapur. Hari ini aku memasak nasi goreng, makanan kesukaan Mas Dimas. Suara wajan bergesekan dengan spatula memenuhi keheningan, sebuah rutinitas yang terasa begitu damai. Kami sarapan berdua, duduk di meja makan yang sama, dengan percakapan ringan yang biasa kami lakukan.
"Mas, ini sarapan nya, dimakan ya," kataku sambil menyajikan sepiring nasi goreng.
"Terima kasih, Sayang," jawabnya, suaranya terdengar lembut. "Mas jadi semangat kalau sarapan bikinan Adek."
Setelah sarapan, Mas Dimas bersiap-siap untuk berangkat kerja. Sebelum pergi, ia mengecup keningku, sebuah sentuhan yang terasa dingin di kulitku. Ia tersenyum tipis, lalu melambaikan tangan, dan mobilnya melaju, meninggalkanku sendirian di rumah.
Setelah Mas Dimas berangkat, aku kembali pada rutinitas pagiku. Aku memakai baju tunik lebar, rok panjang, dan cadar yang selalu menyertai penampilanku di luar. Aku mulai membersihkan rumah, menyapu, mengepel, lalu membersihkan halaman. Semua terlihat normal, seperti istri pada umumnya.
Setelah semua pekerjaan selesai, aku merebahkan diri di sofa ruang tamu. Aku melepaskan cadarku. Aku meraih ponselku, dan langsung membuka aplikasi pesan. Sebuah notifikasi dari Mas Bims masuk. Dan ada pesan semalam yang belum kubalas, Jantungku berdebar kencang. Aku mulai membalas pesannya, sesekali tertawa kecil.
"Terima kasih, Sayang semalam," ucapnya.
"Sama-sama, Mas," balasku, "Aku senang kalau mas juga puas, aku juga terimakasih ke mas bims."
Percakapan kami berlanjut, dari sekadar bisnis menjadi percakapan yang lebih intim. Ia bertanya tentang hariku, tentang perasaanku, dan tentang apa yang aku lakukan. Aku merasa dihargai, didamba, diinginkan, sebuah perasaan yang sudah lama kering, yang tidak pernah lagi kudapatkan dari suamiku sendiri.
Aku terus membalas pesannya, lalu sesekali aku bangkit dari sofa untuk mengecek ketersediaan barang jualanku di studio kecilku. Nge packing barang jika ada pesanan.
Tiba-tiba, sebuah chat baru dari Mas Bims masuk yang mambuat Jantungku berdebar kencang. Aku membukanya, dan pesan itu membuat napasku tercekat.
"Sayang, kayaknya kamu harus mendapat kepuasan dari orang langsung secara nyata deh, biar dapat kepuasan yang langsung nyata dan asli, bukan virtual seperti semalam..." tulisnya.
Aku terdiam. Perasaan jijik dan takut membanjiri diriku. Apa maksudnya ini? Aku tidak bisa. Aku tidak akan pernah berani. Cukup sudah. Aku hanya akan nakal di dunia maya. Aku hanya akan nakal di depan kamera. Jangan sampai ke dunia nyata. tapi di sisi lain aku juga penasaran dengan ucapan mas bims.
Aku mengetik balasan, jemariku gemetar. "Emang gimana caranya, Mas? Mas Bims mau nyamperin aku?" tanyaku. Aku berharap ia akan menolak. Aku berharap ia akan mengatakan bahwa itu hanya lelucon.
Namun, balasan yang kubaca adalah hal yang sama sekali berbeda.
"Kalau Mas gak bakal bisa nyamperin kamu, Sayang," balasnya. "Mas sekarang tinggal dan bisnis di luar negeri. Kalau kamu mau, Aku bisa suruh temanku buat puasin kamu. Ku jamin kamu pasti puas, kontol dia gede banget, kamu pasti ketagihan kalo udah ngerasain punya dia."
Duniaku serasa runtuh. Ia tidak hanya mencoba untuk membujukku, ia juga mengirimkan foto temannya, memperlihatkan kemaluannya yang sangat besar dan tegang. Jantungku berdebar. Aku ingin berteriak, ingin membanting ponselku, tapi aku tidak bisa. Aku hanya bisa menatap pesan itu.
Aku terdiam, tak bisa mengalihkan pandangan dari ponselku. Di layar itu, terpampang pesan dan foto dari Mas Bims. Foto teman nya, Foto seorang pria paruh baya, sekitar 40 tahunan, dengan kemaluan yang sangat besar dan berurat. Aku menatapnya lekat-lekat, sebuah sensasi aneh menjalar di tubuhku. Aku membayangkan, apakah benda ini bisa membuatku puas seperti kata Mas Bims?
"Ahhh... tidak," bisikku pada diriku sendiri. "Aku tidak mau."
Pikiranku kembali pada Mas Dimas, suamiku. Ia adalah pria yang baik, sholeh, dan bertanggung jawab. Aku harus setia padanya. Aku harus kembali ke kehidupanku yang dulu, yang damai dan tenteram. Cukup sudah kejadian di toilet mall tempo hari. Aku tahu itu adalah kesalahan, sebuah kesalahan yang seharusnya tidak pernah kulakukan.
Aku meyakinkan diriku bahwa cukup nakal secara online saja, yang tidak akan menimbulkan konsekuensi nyata. Aku bisa melakukan apa pun di depan kamera, dengan cadar dan gamis yang menutupi identitasku. Itu adalah duniaku, duniaku yang aman, duniaku yang penuh rahasia.
Aku memberanikan diri, mengetik balasan. "Gak bisa, Mas Bims, aku gak bisa seperti itu."
Tak lama kemudian, balasan darinya masuk. "Iya, Sayang, aku tahu hal seperti ini terlalu cepat buat kamu. Kamu bisa coba nakal ke orang terdekat dulu aja, misal ke satpam komplek atau ke tamu yang datang ke rumah. Ini namanya eksibisionis, seperti yang aku ajarkan dulu eksibisionis di dunia maya kayak Tinder. Sekarang bedanya di dunia nyata aja. Kamu bisa pakai pakaian yang lebih seksi dan ditunjukkan ke orang-orang sekitar kamu."
Jantungku berdebar kencang saat membaca pesan itu. Eksibisionis? Di dunia nyata? Aku tidak pernah membayangkan diriku melakukan hal seperti itu, apakah seperti kejadian di toilet mall dulu?. Namun, ide itu, anehnya, terasa membebaskan pikiranku. Sebuah pintu baru terbuka, sebuah pintu menuju dunia yang lebih liar, lebih berani. Aku merasa bingung. Aku ingin menolaknya. Aku ingin mengatakan tidak. Tapi, aku tidak bisa. Aku terlalu penasaran. Aku terlalu ingin tahu.
Aku mengetik balasan, jemariku gemetar. "Yaudah, Mas Bims, kapan-kapan kalau ada kesempatan aku coba. Tapi aku enggak janji."
Tak lama kemudian, balasan dari Mas Bims masuk. "Oke, Sayang," tulisnya. "Aku tunggu. Aku yakin kamu pasti suka. Kamu akan menemukan dirimu yang baru, yang lebih liar, yang lebih berani. Dan kamu pasti akan mendapatkan kepuasan."
Jantungku berdebar kencang saat membaca pesan itu.
Aku membiarkan ponselku tergeletak di sofa, menolak untuk membalas pesan terakhir dari Mas Bims. Rasanya campur aduk. Ada rasa jijik, tapi pada saat yang sama, ada juga rasa penasaran yang aneh. Aku bangkit, melangkahkan kaki yang terasa berat menuju studio live-ku. Aku harus melakukan sesuatu, harus mengalihkan pikiranku dari pesan dan foto itu.
Di dalam studio, aku menyalakan lampu. Cahaya yang terang terasa asing, seolah menelanjangi semua rahasia yang kusembunyikan. Aku duduk di meja, membuka laptop, dan mulai mengecek pesanan. Notifikasi pesanan yang masuk membuatku sedikit lega. Aku mulai memprosesnya satu per satu, mengecek stok barang, dan mulai mengemasnya. Aku memotong selotip, membungkus paket dengan rapi, dan menempelkan label pengiriman. Semua rutinitas ini terasa menenangkan.
Namun, di dalam kepalaku, suara Mas Bims terus terngiang-ngiang. "Eksibisionis... di dunia nyata... ke satpam komplek atau ke tamu yang datang ke rumah." Kata-kata itu berputar-putar, seperti sebuah mantra yang memanggil-manggilku. Aku mencoba mengusirnya, tapi ia terus kembali.
Setelah semua paket selesai dikemas, aku mengambilnya dan berjalan ke depan rumah. Aku meletakkannya di dalam wadah yang biasa kusediakan untuk kurir pick up, sebuah kotak plastik besar di samping pot bunga. Aku menatapnya. Paket-paket itu, yang berisi pakaian syar'i, terasa ironis. Di dalamnya ada gamis, jilbab, dan cadar, pakaian yang seharusnya melambangkan kesucian, kini menjadi objek dari sebuah permainan kotor.
Aku kembali ke dalam rumah, menutup pintu. Keheningan terasa mencekam. Aku tidak bisa mengabaikannya lagi. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku tahu mungkin aku akan melakukannya. Tapi tidak tahu kapan, dan aku tidak tahu kepada siapa. Tapi, aku akan melakukannya. Aku akan mencoba. Arghh.. pikiranku dipenuhi bisikan-bisikan kotor itu.
Daripada terus-terusan memikirkan semua itu, aku memutuskan untuk mandi. Aku masuk ke kamar mandi, membuka pakaianku satu per satu, lalu menyalakan air. Aku menyabuni badanku, meratapi setiap lekuk tubuhku yang selama ini diidam-idamkan banyak pria ketika jualan. Badanku, yang seharusnya hanya dilihat oleh suamiku, kini sudah menjadi tontonan publik, mulai dari teman-teman di Tinder hingga Mas Bims dan kedua temannya.
Aku merenung, membiarkan air membasuh tubuhku. Bagaimana bisa hidupku berubah menjadi seperti ini? Aku yang dulu seorang santriwati teladan yang kemudian menjadi ustadzah di pesantren, kini menjadi wanita yang berani melakukan hal-hal berani yang tidak pernah kubayangkan. Setelah selesai mandi, aku memakai handuk lalu aku keluar dari kamar mandi membawa pakaianku lalu ku lempar pakaianku ke kasur, aku mengaca. Ku lihat kembali tubuh indahku di cermin. Payudara yang besar dengan puting berwarna merah muda ku elus-elus pelan, vaginaku yang sempit dengan bulu tipis, serta pantatku yang besar, putih, dan tanpa cacat. Aku memejamkan mata, membayangkan bagaimana rasanya jika tubuh ini dipamerkan kepada orang lain secara nyata, bagaimana jika ada lelaki lain yang menikmati tubuhku ini.
Bayangan-bayangan itu membuatku bergidik, tapi pada saat yang sama, ada sensasi aneh yang menjalar di bawah perutku. Sensasi jijik, tapi juga gairah yang tak terhindarkan. Aku menggelengkan kepala, berusaha mengusir pikiran-pikiran kotor itu. Aku meraih tunik, rok, dan jilbab yang tadi kupakai, lengkap dengan cadar, lalu mengenakannya kembali. Pakaian ini terasa seperti perisai, melindungiku dari dunia luar, dari nafsu para pria, dan yang paling penting, dari diriku sendiri.
Setelah memakai semua pakaianku, aku kembali ke ruang tamu. Aku merasa lelah, rasanya tidak sanggup untuk live hari ini. Aku merebahkan diri di sofa, meraih ponselku. Aku mencoba untuk mengalihkan pikiranku, tapi bayangan pesan dan foto dari Mas Bims kembali menghantuiku. Aku tidak bisa menahannya. Aku membuka galeri ponselku, dan mataku langsung tertuju pada foto pria paruh baya itu. Aku menatapnya, terpana oleh kemaluannya yang sangat besar dan berurat.
Aku menghela napas, lalu tanpa sadar, tanganku bergerak mengelus payudaraku sendiri dari luar gamis. Sensasi itu begitu aneh, tapi pada saat yang sama, begitu memabukkan. Aku mendesah pelan, memejamkan mata. Pikiranku mulai melayang, membayangkan hal-hal yang tidak-tidak. Aku menaikkan kakiku ke sofa, melebarkannya, persis seperti yang diajarkan Mas Bims semalam. Aku mengelus payudara dan vaginaku dari luar pakaian, sambil memandangi foto pria itu.
Aku teringat sex toys yang dikirim Mas Bims. Aku tahu, benda itu namanya dildo. Aku bangkit, berjalan ke studio, lalu mengambilnya. Aku kembali ke ruang tamu, jantungku berdebar kencang. Dildo itu terasa dingin di tanganku, sebuah sensasi yang terasa begitu asing, tapi entah mengapa, terasa begitu nyata. Aku memejamkan mata, membayangkan dildo ini adalah penis asli, penis pria yang ada di foto itu.
Aku menggesekkan dildo itu ke payudaraku di luar baju, merasakannya yang keras dan padat menekan payudaraku yang kenyal. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. Aku kemudian menggesekkan dildo itu ke vaginaku dari luar rok yang kupakai. Kakiku yang sudah terbuka memudahkan perbuatanku. Aku mendesah, "Ahh... ahh... enak... Ahhh...". Suaraku parau, penuh kenikmatan.
Aku terengah-engah, tubuhku panas. Dildo itu terasa begitu nyata, begitu memuaskan. Aku menggeseknya di vaginaku dari luar rok, meremas payudaraku yang besar, dan mendesah. "Ahh... ahh... enak banget... Ahhh...". Suaraku parau, penuh kenikmatan. Aku lalu menggesekkan dildo itu di mukaku yang tertutup cadar, terkadang menepuknya pelan, aku membayangkan jika ini adalah penis di foto itu, aku menikmati setiap sensasi yang aneh dan memabukkan. "Ahh... aku tidak tahan, aku ingin dipuasi penis asli..." bisikku pada diri sendiri. Pikiranku melayang, membayangkan dildo ini adalah penis laki-laki asli. "Ahh... ahh..."
Aku lalu memasukkan dildo itu ke dalam rokku, mengelus kepalanya di bibir vaginaku dari luar celana dalam. Aku membayangkan, jika ini adalah penis asli sedang menggesek vaginaku, betapa nikmatnya. Desahanku semakin tak tertahan. Aku ingin penis asli... Ahhh... desahku semakin keras.
Tiba-tiba, sebuah ketukan pintu yang keras membuatku tersentak. Aku membeku. Suara ketukan itu begitu nyata, begitu keras, seolah menarikku kembali dari dunia fantasiku. Jantungku berdebar kencang. Aku panik, dengan cepat menyembunyikan dildo itu di saku tunikku, lalu menutupinya dengan jilbab lebarku yang sepinggang.
Tubuhku penuh keringat, napasku memburu. Aku berjalan ke pintu, dengan langkah yang gemetar. Siapa yang datang? Kenapa di saat seperti ini? Aku membuka pintu, dan yang kulihat membuatku terdiam. Di sana, berdiri Pak RT. Ia menatapku dengan mata penuh selidik. Aku tidak tahu, apakah ia melihat sesuatu yang aneh, atau ia hanya datang untuk menagih iuran.
"Ada apa, Pak RT, siang-siang ke sini?" tanyaku, suaraku sedikit bergetar.
"Ini, Ustadzah, lagi narik iuran air PDAM," jawabnya, suaranya pelan dan serak. Aku bisa merasakan matanya melirik ke dadaku yang besar. Pandangan itu terasa begitu menelanjangi.
"Oh, iya, Pak, silakan masuk, duduk dulu, saya ambilkan uangnya," ucapku, mencoba terlihat santai. Aku mengajaknya masuk, aku membiarkan pintu depan terbuka untuk menghindari fitnah, dan ia duduk di sofa ruang tamu yang baru saja kupakai berbuat tadi. Aku duduk di kursi samping kirinya, menghadap ke Pak RT. Jarak kami cukup jauh.
"Saya ambil uangnya, ya, Pak," kataku, suaraku terasa kaku. "Iya, Ustadzah," jawabnya, matanya tidak lepas dariku. Aku bangkit, berjalan ke kamar, dan mengambil uang iuran. Setelah kembali, aku menyerahkannya padanya.
"Terima kasih, Ustadzah, uangnya saya terima, ya. Saya catat dulu," katanya. Ia mencatat di buku, dan aku duduk kembali.
"Ustadzah kok kayak kecapekan gitu, habis ngapain?" tanyanya, suaranya terdengar penuh selidik.
Aku terkejut, panik. Jantungku berdebar kencang. Aku tidak mungkin bilang, aku baru saja... melakukan itu. Aku memaksakan sebuah tawa kecil. "Habis bersih-bersih rumah, Pak, sama ngemas jualan. Jadi agak capek," jawabku, sebuah kebohongan yang terasa hambar di lidahku. Aku bisa melihat senyum tipis di bibirnya, seolah ia tahu aku berbohong.
"Pak, mau aku buatkan minum? Mau kopi atau teh?" tanyaku, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kopi aja, Ustadzah," jawab Pak RT, suaranya serak, matanya tak lepas dari dadaku yang besar yang menonjol dibalik baju dan jilbabku.
"Baik, Pak," balasku, lalu berbalik, melangkah ke dapur.
Di dapur, aku menyeduh air, menunggu sampai mendidih. Pikiranku masih kacau, digerogoti oleh gairah yang belum hilang. Aku masih merasa sangat bernafsu, berharap bisa berbuat dengan penis asli. Apakah aku goda Pak RT saja? Ide itu gila, tapi sangat menggoda. Eksibisionis... seperti yang dikatakan Mas Bims. Apakah aku memamerkan tubuhku ke Pak RT saja? Aku penasaran gimana rasanya. Ahh... pikiranku semakin liar, nafsuku semakin membara. Aku harus mencoba sekarang.
Tapi bagaimana caranya? Aku teringat sesuatu. Aku pergi ke kamar. Aku membuka semua pakaianku, membiarkan tubuhku yang penuh keringat terpapar udara dingin. Aku membuka lemari, mengambil gamis ketat berwarna putih yang pernah kupakai saat live streaming. Lalu, aku mengambil dalaman celana dalam merah dan bra merah menyala. Aku memakainya, lalu memakai jilbab kecil, dan terakhir, cadar.
Aku menatap diriku di cermin. Di balik pakaian ini, aku adalah wanita yang berbeda, yang berani, yang penuh gairah. Aku merasa nakal sekali, tapi anehnya, aku menyukai perasaan ini. Aku tahu, ini adalah sebuah kesalahan. Tapi, dorongan untuk melangkah lebih jauh, untuk mengetahui seberapa dalam aku bisa jatuh, terlalu kuat untuk kutahan. Aku kembali ke dapur, mengambil cangkir, dan menuangkan kopi. Lalu, dengan langkah yang mantap, aku berjalan kembali ke ruang tamu, siap memulai permainan gila ini.
Aku membawa secangkir kopi untuk Pak RT. Langkahku terasa mantap, penuh dengan keberanian yang baru kutemukan. Aku menyajikan kopi di meja, dan mataku tak bisa mengalihkan pandangan dari Pak RT. Ia menatapku tanpa berkedip, matanya membelalak, seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat. Aku tahu, penampilanku yang baru, gamis putih ketat, bra dan celana dalam merah menyala, serta cadar yang menutupi wajahku, telah berhasil. Aku merasa malu, tapi anehnya, aku juga menyukai sensasi ini. Sensasi menjadi objek fantasi, sesuatu yang tidak pernah kurasakan dari suamiku.
"Pak, ini kopinya," kataku, mencoba terdengar santai, suaraku sedikit bergetar. "Silakan diminum, jangan melototin aku terus, hehe," godaku, sebuah tawa kecil yang terdengar nakal.
Pak RT tidak menjawab. Ia hanya terus menatapku, matanya seperti menelanjangiku. Ia mengambil cangkir kopi, tapi tangannya gemetar. "Ustadzah..." bisiknya, suaranya serak. "Ustadzah seksi banget..."
Aku menelan ludah. Kata-kata itu terasa begitu vulgar, begitu intim. Aku tahu, aku telah melangkah terlalu jauh. Tapi, aku tidak bisa menahannya. Aku ingin tahu, seberapa jauh ia berani melangkah. Aku ingin tahu, seberapa dalam aku bisa jatuh. Aku tersenyum, lalu duduk di kursi tadi, sebuah sensasi yang terasa begitu nyata.
"Ustadzah kok pakai baju yang ketat sekali?" tanyanya, suaranya semakin serak.
"Ini... ini cuma baju biasa, Pak," jawabku, sebuah kebohongan yang terasa hambar di lidahku. Aku bisa melihat senyum tipis di bibirnya, seolah ia tahu aku berbohong. Ia menunduk, lalu meneguk kopinya, matanya tak lepas dari payudaraku yang besar yang tercetak jelas di balik gamis putihku.
"Bapak lihat apa? Kok matanya melotot gitu, hehe," godaku.
"Eng… enggak, Ustadzah, aku lihat Ustadzah cantik banget pakai baju ini. Seksi banget."
"Masa sih, Pak? Ingat istri di rumah loh... hehe," balasku, lalu kami pun melanjutkan obrolan ringan yang terasa begitu tegang.
Aku melirik ponselku yang tergeletak di sofa di samping kanannya. Layarnya mati, untung saja. Sebuah ide gila muncul di kepalaku. Aku harus mengambil ponsel itu. Aku bangkit dari dudukku, memutuskan untuk melewati celah sempit di antara sofa tempat pak rt duduk dan meja.
"Permisi, Pak, aku mau ambil HP," ucapku sambil lewat.
Aku sengaja membelakangi Pak RT, melangkah perlahan. Aku ingin ia melihat pantatku yang besar dan kencang ini lebih dekat. Aku melambatkan gerakanku, membiarkan beberapa detik terasa seperti selamanya. Tiba-tiba, tangannya meremas pantatku. Aku terkejut, tapi anehnya, aku juga merasa bergairah. Aku gak nyangka ia sangat berani.
Aku berhasil mengambil ponselku, tapi aku tidak kembali ke kursiku. Aku duduk di sofa di sampingnya, kini jarak kami begitu dekat. permainanku yang tadinya hanya di dunia maya dan di dalam fantasiku, kini menjadi nyata, dengan konsekuensi yang tidak bisa kuprediksi.
"Ustadzah... saya nggak tahan," bisiknya, suaranya serak dan penuh gairah. "Ustadzah seksi banget pake baju ini."
Aku menelan ludah. "Jangan, Pak... ini... ini salah," bisikku, suaraku parau. "Ada suamiku di kamar..."
"Aku tau Suamimu lagi kerja jam segini, Ustadzah," bisiknya. "Dia nggak ada di sini. Aku tau.."
Tangan Pak RT semakin berani. Ia mulai membelai pahaku semakin intens. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. Sensasi sentuhan itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku tidak bisa menolaknya. "Ahh... ahh... Pak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.
Ia menunduk, bibirnya mendekat ke telingaku. "Kamu suka, kan ustadzah?" bisiknya. "Kamu suka sentuhan ini. Aku tahu kamu mau menggodaku dengan pakaian ini kan.".
Bersambung...
