"Jangan, Pak... jangan seperti itu," bisikku, suaraku parau.
Pak RT tersenyum, lalu mendekatkan bibirnya ke telingaku. "Nikmati saja, Ustadzah, cuma elus-elus doang kok," bisiknya, suaranya penuh godaan. "Aku tahu kamu suka."
Elusannya semakin intens di luar gamisku. Tangan kekarnya mengusap, lalu membelai paha dalamku. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. Sensasi sentuhan itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku tidak bisa menolaknya. "Ahh... ahh... Pak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.
Ia menunduk, bibirnya mendekat ke telingaku. "Kamu suka, kan ustadzah?" bisiknya. "Kamu suka sentuhan ini. Aku tahu kamu memancingku."
Tangan kekarnya terus mengusap paha dalamku, membuatku mendesah, tak bisa menahan diri. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku tidak bisa menolaknya. "Ahh... ahh... iya, Pak, aku suka," rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan. "Aku tak tahan lagi, aku suka di sentuh seperti ini." Kata-kata itu seperti otomatis keluar dari mulutku, sebuah pengakuan yang tak bisa kuingkari.
Tiba-tiba, tangan kanan Pak RT diangkat dari pahaku. Aku mengira ia akan berhenti, tapi tidak. Ia memelukku dari belakang, tangan kanannya melingkar di pundakku. Aku memejamkan mata, merasakan tubuhnya yang panas menempel di punggungku. Sensasi itu begitu aneh, begitu memabukkan. Tangan kirinya kini berpindah, menggantikan tangan kanannya, mengusap pahaku, membelainya dengan lembut. Aku menelan ludah, menatap celananya. Ada sesuatu yang menyembul, besar sekali. Aku tahu, itu adalah penisnya. Ia sudah ereksi.
Ia terus mengusap pahaku, lalu mendekatkan bibirnya ke telingaku. "Ustadzah, dada kamu besar banget," bisiknya, suaranya serak. "Aku boleh gak pegang, please aku sange banget lihat tetek Ustadzah, bagus banget gede dan gak kendor."
"Jangan, Pak... udah gini aja. Jangan minta aneh-aneh," bisikku, mencoba menolaknya. Namun, suaraku tidak terdengar meyakinkan. Aku ingin menolak, tapi bagian lain dari diriku terasa ingin menyerah.
Seperti tanpa mengindahkan permintaanku, tangannya perlahan bergerak ke bawah, mengusap samping payudaraku. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. Sensasi sentuhan itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku tidak bisa menolaknya. "Ahh..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.
Kemudian, tanpa aba-aba, tangannya tiba-tiba menangkup payudara kananku. Aku mendesah, tak bisa menolak. Ini terlalu nikmat. "Ahh, Pak," desahku.
Ia mengelusnya pelan, dan perpaduan elusan di payudaraku dan pahaku membuatku semakin kacau. Napasku memburu, tubuhku panas. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku tenggelam dalam sensasi itu. Tiba-tiba, tangan kirinya menyentuh tangan kiriku, menuntunnya ke celananya. Aku tidak melihat, tapi aku tahu apa yang akan terjadi. Tanganku menyentuh benda keras, besar sekali. Dia menaruh tangan kiriku di atas penisnya. "Remas kontolku, Ustadzah," bisiknya, suaranya serak.
Aku mencengkeram benda itu. Sensasinya begitu memabukkan. Rasanya besar, jauh lebih besar dari punya suamiku, Mas Dimas. Aku mulai meremasnya, naik-turun dari luar celananya, mengikuti irama desahanku. Aku mendongakkan kepala
Aku semakin terhanyut. Tangan Pak RT yang kekar kini meremas payudaraku dengan lebih berani, lebih keras. Desahanku semakin tak tertahankan, suaranya parau, "Ahh... Pak...". Ia menyeringai, "Ahhh... Ustadzah suka ya?" bisiknya, suaranya serak, penuh kemenangan. "Aku suka remas payudara ustadzah yang besar ini. Bagus sekali, kenyal banget...".
Kemudian, tanpa menunggu persetujuanku, tangan kirinya bergerak melebarkan kakiku. Aksesnya kini lebih leluasa, dan jari-jarinya yang kasar mulai meraba paha dalamku dengan gerakan yang semakin dalam dan intens. Aku memejamkan mata, merasakan setiap sentuhannya, dan desahanku berubah menjadi rintihan, "Ahh... ahh... lebih dalam, Pak... terus...".
Kepalaku mendongak ke atas, mataku terpejam, dan aku bisa merasakan air mata mengalir dari sudut mataku, bercampur dengan ekspresi kenikmatan yang tak bisa disembunyikan. Sensasi ini, kenikmatan yang dijanjikan Mas Bims, begitu nyata, begitu memabukkan. "Sangat nikmat, Pak... sangat nikmat," bisikku, suaraku parau. "Aku suka... Ahhh... terus...".
Pak RT tertawa pelan, tawanya penuh kemenangan. Ia tahu ia telah berhasil. Ia terus mengelus pahaku, gerakannya semakin cepat, dan aku, entah mengapa, tidak bisa menghentikannya. Aku hanya bisa pasrah, membiarkan diriku tenggelam dalam perbuatan ini.
Kemudian Tangan kiri Pak RT berhenti mengelus pahaku. Dengan jantung berdebar, aku melihatnya membuka kancing dan ritsleting celananya. Perlahan, penisnya yang besar dan hitam ia keluarkan. Aku sangat terkejut, penisnya hitam dan besar, tak sebesar dildo yang diberikan Mas Bims, tapi jauh lebih besar dari punya Mas Dimas. Pemandangan itu justru membuatku semakin bergairah.
"Pak... kenapa dikeluarkan penisnya?" bisikku, suaraku parau, penuh keterkejutan. Pak RT tidak menjawab. Ia menuntun tanganku , dan aku hanya bisa pasrah. Ia meletakkan tangan kiriku di penisnya , lalu menggerakkannya naik turun. "Sentuh, Ustadzah, kocokin.." bisiknya, suaranya serak. "Remas kontolku, Ustadzah". Sentuhan itu, sensasi yang kurasakan, membuatku gila. "Ahh... nikmat... penis Bapak besar sekali..." rintihku, tak bisa menahan diri.
Tangan kirinya kembali ke pahaku, melebarkan kakiku semakin lebar, dan rabaannya semakin dalam menuju ke area vaginaku, semakin intens. Aku mendesah, kepalaku mendongak, merasakan sensasi itu menjalar ke seluruh tubuhku. Tangannya kini menyentuh vaginaku dari luar gamis. Aku terkejut, "Ahh.. Pakk.. " tapi aku tidak bisa menolak. Rasanya seperti tersetrum, sebuah sensasi yang sangat nikmat. Aku semakin mendesah, suaraku parau, sambil mengocok penisnya yang besar.
"Ustadzah suka.?" bisiknya, suaranya penuh kemenangan.
"Ahh... iya, Pak, aku suka... ini enak pak...Ahh. terus..." desahku, tanpa sadar. Gerakanku mengocok penisnya semakin cepat, seiring dengan desahanku yang semakin tak terkendali.
Remasan tangan Pak RT di dadaku semakin kasar, penuh dengan kemenangan yang membuatku mendesah, "Ahhh... ahhh... Pak..." Ia mendesah, suaranya serak, "Gila ustadzah... enakkk banget kocokan ustadzah. Ahh.."
Kemudian Tanpa aba-aba, ia menyibak gamisku dari bawah, sedikit ke atas, lalu memasukkan tangan kirinya ke dalam. "Pak, jangan!" jeritku, tapi ia tidak peduli. Jantungku berdebar kencang, perasaanku campur aduk.
Tangannya membelai bibir vaginaku dari luar celana dalamku, sensasinya begitu nyata, begitu kuat. "Ahh... ahh..." rintihku. "Pak, rasanya... aneh...". Ia tersenyum, "Aneh tapi suka kan, Sayang? Aku tahu kok..." bisiknya. "Aku akan buat kamu lebih enak habis ini."
Jari-jarinya kini bergerak, membelai bibir vaginaku semakin dalam, membuatku semakin basah. "Ahh... ahh... Pak, aku... aku basah..." desahku, tak bisa menahan diri. Ia tertawa, "Lihat kan? Kamu suka kan ustadzah."
Aku hanya bisa pasrah, membiarkan tangannya menyentuh vaginaku. Aku tidak bisa menolak. Aku hanya bisa memejamkan mata, membiarkan diriku tenggelam dalam sensasi yang begitu aneh, begitu asing, tapi entah mengapa, terasa begitu memabukkan.
Aku hanya bisa mendesah semakin keras. Tangan kanan Pak RT terus meremas payudaraku bergantian, sementara tangan kirinya mengusap-usap bibir vaginaku dari luar celana dalam. Tanganku terus mengocok penisnya yang hitam dan besar, sebuah perpaduan sensasi yang membuatku merasakan gejolak aneh di dalam vaginaku, seolah ada sesuatu yang akan keluar.
"Ahhh Pak, terus Pak... enak..." rintihku, tak bisa lagi menahan diri.
"Iya, Ustadzah, kocok terus... aku juga enak... ahh..." desahnya.
Sensasi itu begitu nyata, begitu kuat, dan aku tidak bisa menahannya lagi. "Ahh Pak, aku mau keluar! Ahhh..." jeritku, dan tubuhku mulai bergetar hebat. Vaginaku berkedut, mengeluarkan cairan orgasme yang membasahi celana dalamku. "Ahh.. Ahhh..." desahku, tubuhku lemas.
Pak RT tersenyum puas, melihatku terengah-engah. "Gimana, Ustadzah? Enak enggak?" tanyanya, suaranya serak.
"Iya, Pak, enak banget..." jawabku, suaraku parau.
Ia tertawa, tawa penuh kemenangan. Ia tahu ia telah berhasil. Ia tahu ia telah membawaku ke sebuah titik yang belum pernah kucapai sebelumnya. Ia melepaskan remasannya, lalu menatapku. "Itu baru main dari luar ustadzah," bisiknya. "Kalau dari dalam, aku jamin kamu akan lebih keenakan. Apalagi kalau kontol ini masuk ke memek ustadzah pasti ustadzah makin puas"
"Ahhh jangan, Pak. Ini saja sudah terlalu jauh. Sudah, jangan lagi ya, Pak..." rintihku, suaraku masih parau. Aku mencoba bangkit, badanku gemetar, kakiku terasa lemas. Setelah agak tenang, aku berdiri. Kulihat Pak RT masih di sana, mengelus-elus penisnya yang masih berdiri tegak.
"Aku ke kamar mandi dulu ya, Pak, mau bersihkan badanku. Bapak pulang duluan saja ya," ucapku, mencoba meyakinkannya.
Aku bergegas menuju kamar mandi yang ada di dapur, menutup pintu di belakangku. Aku merenung, aku mengangkat gamisku sampai pinggang. kemudian Aku melepas celana dalamku yang basah, membersihkan vaginaku yang terasa nyeri, tapi juga anehnya, terasa sangat puas. "Ya Allah... apa yang aku perbuat?" bisikku pada diriku sendiri. Namun, di sisi lain, bayangan penis Pak RT yang besar dan sentuhannya yang brutal terus menghantuiku, membuatku kembali merasa bergairah.
Setelah membersihkan vaginaku, aku tidak memakai lagi celana dalamku yang basah. Aku hanya menurunkan gamisku, merasakan sejuknya kain menyentuh kulitku yang telanjang di bawah. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, lalu membuka pintu kamar mandi. Dan di sana, di hadapan pintu, berdiri Pak RT sambil mengocok penisnya.
"Pak RT, kenapa di sini?" tanyaku, suaraku tercekat. Ia tidak menjawab. Matanya menatapku, penuh gairah yang tak bisa disembunyikan. Tubuhnya yang besar langsung menubrukku, mendorongku kembali ke dalam kamar mandi. Aku terkejut, tapi tidak melawan. Ia mendorongku hingga punggungku menempel ke dinding, dan ia menciumku dengan ganas, mengunci bibirku diluar cadar dengan ciumannya. Tanganku yang tadinya memegang dadanya kini jatuh lemas ke samping. Aku pasrah.
Tubuhku menempel ke dinding, dan Pak RT meremas payudaraku dengan brutal. Napasku tercekat, dan ia seolah kesetanan. Tanganku yang tadinya lemas kini dituntun untuk kembali mengocok penisnya yang besar dan tegang. Aku hanya bisa pasrah, memejamkan mata, dan membiarkan diriku tenggelam dalam permainan gila ini. Sentuhan tanganya pada payudaraku dan sentuhan tanganku pada penisnya membuatku mendesah. Aku tahu ini salah, tapi aku tidak bisa menolak. Aku mulai menikmati kenikmatan yang memabukkan ini.
"Ahh... Pak... terus... lebih kencang. Remas terus.." rintihku, suaraku serak, penuh gairah.
Ia tertawa, tawa penuh kemenangan. " Enak ustadzah?," bisiknya, suaranya parau. "Aku akan bikin kamu lebih enak lagi habis ini."
Tanpa aba-aba, ia melepaskan tanganku dari penisnya, lalu melepas celananya sepenuhnya. Tubuhnya yang besar kini merapat ke tubuhku. Aku bisa merasakan panas penisnya yang keras menembus gamisku dan menekan tepat di depan vaginaku. Sebuah sensasi yang begitu nyata, begitu kuat, dan aku tidak bisa menolak.
"Ahhh... Pak... jangan..." bisikku, tetapi suaraku lebih terdengar seperti desahan. Ia tidak peduli. Ia terus mendorong penisnya diluar gamisku, menggeseknya di depan vaginaku. Gerakan itu, setiap gesekan, membuatku semakin basah, semakin menginginkan lebih. Aku mendongakkan kepala, membiarkan tubuhku hanyut dalam kenikmatan yang memabukkan ini. "Terus, Pak... Ahhh... aku suka..." desahku, tanpa sadar.
"Baru gesekan dari luar aja udah seenak ini, Ustadzah," bisik Pak RT, suaranya serak, penuh kemenangan. "Apalagi kalau kontol ini beneran masuk ke memek Ustadzah. Pasti bikin Ustadzah ketagihan."
Aku menggeleng, air mata mengalir dari mataku. "Jangan, Pak... aku tidak mau seperti itu..." rintihku, suaraku parau. Namun, ia tidak peduli. Ia menyibakkan jilbab dan cadarku ke pundak, lalu membuka kancing gamisku dari depan. Tangannya masuk, meremas payudaraku dari luar bra. "Ahh..." desahku, tak bisa menahan diri. Ia mencoba memasukkan tangannya ke dalam bra, tapi kesulitan karena posisinya.
Ia sedikit menjauh, lalu berjongkok. Tangannya meraih ujung gamisku, lalu mengangkatnya. "Jangan, Pak... jangan dilepas..." bisikku, air mata mengalir.
"Jangan bohongi dirimu sendiri ustadzah," bisiknya, suaranya melembut, penuh rayuan. "Aku tahu kamu menginginkan ini. Aku akan membuatmu merasa lebih nikmat dari ini. Aku janji, kamu akan ketagihan."
"Aku tidak bisa, Pak..." bisikku, suaraku serak, "Aku takut..."
"Tidak perlu takut ustadzah," bisiknya, "Aku hanya ingin membuatmu puas. Kamu tidak perlu takut."
Aku terdiam, tubuhku gemetar. Aku tahu, ia benar. Aku menginginkan ini. Aku ingin merasakan kenikmatan yang ia janjikan. "Yaudah, Pak..." bisikku, pasrah. "Lakukan saja..." Ia tersenyum penuh kemenangan, lalu dengan perlahan, ia melepaskan gamisku ke atas. Aku berdiri di sana, kini aku hanya dengan bra dan jilbab dan cadarku, tubuhku gemetar.
Tubuhku gemetar, menanti apa yang akan dilakukan Pak RT selanjutnya. Ia memandangiku, tatapannya menyapu setiap lekuk tubuhku yang kini hampir telanjang di hadapannya. "Tubuhmu bagus sekali, Ustadzah," bisiknya, suaranya serak, penuh kekaguman. "Aku tidak menyangka bisa melihat tubuh Ustadzah yang selalu tertutup gamis lebar, ternyata dalamnya sangat seksi."
Ia melangkah mendekat, perlahan namun pasti. Tangannya mengangkat bra-ku ke atas, menyingkap payudaraku yang besar. Ia meremasnya dengan brutal, lalu menunduk dan mencium putingku, mengulumnya dengan ganas. Aku mendesah tak karuan, "Ahhh... Pak... Ahhh..." Sensasi itu begitu kuat, begitu memabukkan. Aku tidak lagi bisa mengendalikan diriku, membiarkan tubuhku hanyut dalam kenikmatan.
Kemudian, ia melebarkan kakiku, menempatkan kaki kananku berpijak di kloset. Posisi kakiku kini agak mengangkang, dan vaginaku yang tidak mengenakan celana dalam terlihat jelas di hadapannya. "Bagus banget memek kamu Ustadzah, seperti memek perawan" bisiknya. Tangannya bergerak ke sana, jari-jarinya menyentuh bibir vaginaku, menggeseknya perlahan. Aku mendesah semakin keras, "Ahhh... ahhh...Iyahh.. Terus, Pak... enak..." Suaraku parau, penuh kenikmatan. Ia tersenyum puas, "Kamu pasti suka ustadzah..," bisiknya, suaranya penuh kemenangan. "Aku akan buat kamu lebih keenakan dan bikin kamu ketagihan."
Pak RT terus menggesekkan jarinya di bibir vaginaku, gerakannya semakin cepat, semakin intens. "Ahhh... ahhh... terus, Pak... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan. Ia mendongakkan kepalanya, matanya terpejam, menikmati setiap desahanku. "Memekmu basah banget ustadzah," bisiknya, suaranya serak. "Pasti memek ustadzah jarang disentuh suami kamu kan? Aku suka memek ustadzah bagus banget seperti perawan..."
Aku menggelengkan kepalaku, air mata mengalir dari mataku. "Tidak... ini tidak perawan..." bisikku, suaraku nyaris tidak terdengar. Aku mencoba menahan rintihanku, tapi tidak bisa. Sensasi itu terlalu kuat. "Ahhh... ahhh... lebih cepat, Pak... aku suka... Ahhh..." rintihku, suaraku parau.
Pak RT menyeringai, ia tahu ia telah berhasil. Tangannya terus menggesek vaginaku, lalu tiba-tiba ia memasukkan satu jarinya. Aku tersentak, menjerit, "Ahhh!.." Tanganku mencengkeram bahunya, kakiku gemetar. Sensasi itu begitu aneh, begitu asing, tapi entah mengapa, terasa begitu memabukkan.
"Ini baru satu jari ustadzah, belum di masukin kontol," bisiknya, suaranya penuh kemenangan. "Kalau ustadzah mau dimasukin kontolku, Kamu akan ketagihan... Aku janji..."
Jarinya terus keluar masuk di vaginaku yang sempit, sementara bibirnya tak henti mengulum puting payudaraku. Sensasi itu begitu kuat hingga desahanku semakin tak karuan, "Ahhh... Pak... terus... enak... Ahhh!" Aku mendongakkan kepala, air mata mengalir dari sudut mata, bukan karena sedih, tapi karena kenikmatan yang memuncak. "Kamu suka, ya? Aku tahu," bisiknya, suaranya serak, penuh kemenangan.
Kemudian, ia melepaskan jarinya dan berjongkok di sela-sela kakiku. Aku menatapnya, bingung, tapi tidak bisa menolak. Ia menunduk, dan dengan satu tangan, ia membuka bibir vaginaku. Lidahnya menyentuh klitorisku, sebuah sensasi yang begitu asing dan berbeda, tapi sangat nikmat. Aku menjerit, "Ahhh... Pak... Ahhh!" Tubuhku menegang, pinggulku bergerak tak terkendali.
Ia terus menjilati dan mengisap klitorisku, gerakannya semakin cepat, semakin intens. "Enak, Sayang? Manis sekali," bisiknya. Aku hanya bisa mendesah, tak bisa berkata-kata. "Ahhh... ahhh... terus, Pak... lebih cepat... Ahhh!" Suaraku parau, penuh kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini. Ini adalah sebuah kenikmatan yang begitu nyata, begitu memabukkan, dan aku tidak bisa menolaknya.
Aku merasakan gejolak yang semakin dalam, gejolak yang tak bisa kutahan lagi. Tubuhku menegang, pinggulku bergerak tak terkendali. Aku merasakan gelombang kenikmatan membanjiri seluruh tubuhku, sebuah sensasi yang begitu kuat, begitu nyata, dan aku menjerit, "Ahhh... Ahhhh!" Tubuhku kejang, lalu lemas. Aku terengah-engah, terduduk di kloset, bersandar pada tembok.
"Lihat, 'kan? Kamu suka kan ustadzah, kamu puas kan?" bisik Pak RT, suaranya serak, penuh kemenangan. Ia berdiri di depanku, mengocok penisnya yang masih tegang, lalu menepuk-nepuk penisnya di cadarku. "Pasti kamu suka kontolku kan Ustadzah... ahhh..." bisiknya lagi. Aku memejamkan mata, isak tangis bercampur dengan desahan yang masih keluar dari bibirku. Aku merasa sangat kotor, tapi pada saat yang sama, aku merasakan kenikmatan yang memabukkan. Ia terus menepuk-nepuk penisnya di cadarku, membuatku mendesah. "Ahhh... ahhh... Pak... sudah..Aku lemas banget." rintihku, suaraku parau.
Ia tertawa, tawa yang penuh kemenangan. "Ini baru permulaan ustadzah," bisiknya, suaranya serak. "Nanti, aku akan membuatmu lebih nikmat dari ini."
Pak RT memegang bahuku, menuntunku untuk berdiri, membalikkan badanku hingga menghadap tembok. Tanganku bertumpu di sana, kemudian dia melepas pengait bra ku di punggung, lalu dengan cepat dia lepaskan bra ku, kini aku hanya tinggal memakai jilbab dan cadar di hadapannya, membelakanginya. sementara ia memposisikan pantatku menungging. Aku hanya bisa pasrah, tubuhku terasa lemas setelah orgasme. "Bapak mau ngapain?" bisikku, suaraku nyaris tak terdengar.
"Bapak mau bikin Ustadzah enak," jawabnya serak, "tenang saja, kontol Bapak pasti bikin Ustadzah ketagihan."
"Jangan, Pak... aku tidak mau sampai seperti ini," rintihku, mencoba menolak.
Ia tidak peduli. Ia terus merayuku sambil menepuk-nepukkan penisnya yang besar dan tegang di pantatku. Suara tamparan kulit beradu kulit itu membuatku merinding, namun di saat yang sama, sensasi itu membuatku semakin basah. "Ahhh... ahhh..." desahku, tanpa sadar.
tubuhku pasrah menungging ke arahnya, Pak RT mulai menggesek-gesekkan kepala penisnya di bibir vaginaku dari belakang. Sentuhan itu membuatku bergetar hebat. "Ini yang kamu mau, kan? Jangan bohongi dirimu sendiri," bisiknya penuh kemenangan. Aku tidak bisa menolaknya lagi. Tubuhku yang lemas tidak bisa berbohong.
Ia tersenyum, lalu dengan perlahan, ia mulai memajukan pinggang nya, memasukkan kepala penisnya ke dalam membelah bibir vaginaku. Aku mendesah tak karuan, sebuah desahan yang penuh dengan rasa sakit di vaginaku, tapi juga kenikmatan.
"Ahh... ahhh... Pak sakitt.. jangan di masukin." rintihku, air mata mengalir dari mataku.
"Kenapa enggak boleh, Ustadzah? Tanggung banget," jawabnya, suaranya dipenuhi nada menggoda.
"Jangan, Pak... aku belum siap... jangan masukin, ya, Pak, kumohon," bisikku, suaraku parau.
Pak RT tertawa pelan. "Iya udah, Ustadzah. Aku gesek-gesekkan gini enggak apa-apa, kan?" ucapnya sambil terus menggesekkan kepala penisnya yang tegang ke bibir vaginaku yang sudah basah.
"Iya, Pak, enggak apa-apa... ahh..." jawabku, tidak bisa menahan desahan yang lolos dari bibirku.
Dia terus menggesekkan penisnya, dan tangan kanannya meraih payudaraku, meremasnya dengan brutal. "Ahh... enak banget, Ustadzah," desahnya. Perpaduan sensasi itu membuatku semakin gila. Aku mendongakkan kepala, membiarkan diriku tenggelam dalam kenikmatan yang memabukkan.
Ia terus menggesekkan kepala penisnya yang tegang di bibir vaginaku, sementara tangannya meremas payudaraku dengan lebih kuat, memlintir puting ku. Aku mendesah, tak bisa lagi menahan diri. "Ahh... ahh... Pak... terus... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.
"Memekmu udah basah banget ustadzah," bisiknya, suaranya serak. "Pasti kamu suka kontol Bapak kan?"
"Iya, Pak... aku suka..." desahku, tanpa sadar. "Terus... lebih cepat geseknya..."
Ia tertawa pelan, tawa penuh kemenangan. "Aku akan bikin kamu ketagihan, Sayang," bisiknya, lalu mempercepat gerakannya.
Aku hanya bisa memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam sensasi itu. Fantasiku kini menjadi kenyataan, dan aku tidak bisa menolaknya. "Ahh... ahh... lebih kencang, Pak... aku suka..." rintihku, suaraku parau. "Enak banget..."
Ia terus menggesekkan penisnya, dan tangan kanannya meremas payudaraku, lalu mencium putingku, mengulumnya. "Ahh... Sayang... Aku suka... Ahhh..." desahnya, suaranya serak. "Kamu milikku sekarang..."
Dalam gerakannya, sesekali Pak RT menekan kepala penisnya, mencoba memasukkannya, namun selalu meleset. Setiap dorongan yang meleset itu membuatku merintih kesakitan. "Ahhh... Pak... sakit..." rintihku, suaraku parau.
"Tahan, Sayang," bisiknya, suaranya serak. "Tapi enak, kan?.."
Aku hanya bisa memejamkan mata, merasakan gejolak dalam diriku yang semakin memuncak. Aku tahu ini adalah sebuah kesalahan, tapi aku tidak bisa menolaknya. Aku hanya bisa pasrah, membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini.
"Ahh... ahhh... Pak... terus... enak..." rintihku, suaraku parau. Aku tidak bisa menyangkal, di balik rasa sakit ketika dia mendorong penisnya itu ada kenikmatan yang begitu memabukkan. Setiap sentuhan yang ia berikan, setiap dorongan yang ia lakukan, membuatku semakin menginginkan lebih.
Aku merasakan gejolak dahsyat di dalam vaginaku. Rasa itu begitu kuat, begitu memabukkan, dan aku tak bisa menahannya lagi. Desahanku berubah menjadi jeritan panjang, "Ahh... Ahhhh!" Tubuhku kejang, pinggulku bergetar hebat. Aku orgasme lagi..
Namun, Pak RT tidak berhenti. Ia semakin brutal, gerakannya semakin cepat. Kepala penisnya menyundul-nyundul ke bibir vaginaku "Ahh... aku keluar, Sayang... aku keluar di pantatmu yang indah..." desahnya, suaranya serak. Aku merasakan cairan hangat membanjiri pantatku, sebuah sensasi yang terasa jijik, tapi juga terasa memuaskan.
Setelah itu, ia membalikkan tubuhku hingga aku menghadapnya. Ia memelukku erat, menempelkan tubuhnya yang basah oleh keringat ke tubuhku. Aku hanya bisa pasrah. Tangannya meremas payudaraku, lalu mencium putingku, mengulumnya dengan ganas. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahhh... ahhh..." rintihku. Kemudian, ia mulai mencupang payudaraku, membuat tanda merah di sana.
"Ini milikku, Sayang," bisiknya, suaranya serak. "Semua orang akan tahu, kamu milikku. Kamu hanya milikku."
Aku hanya bisa menangis, air mata mengalir dari mataku.
Dengan sisa tenaga yang kupunya, aku mendorong tubuh Pak RT. Air mata mengalir deras membasahi pipiku. "Pak... sudah... cukup... pulanglah..." rintihku, suaraku serak penuh permohonan. "Aku mohon... jangan lagi..."
Pak RT tersenyum puas, senyum penuh kemenangan. Ia tidak menjawab, hanya menepuk pantatku pelan sebelum bangkit. "Baik ustadzah," bisiknya, suaranya parau. Ia mengambil celananya, memakainya kembali, lalu merapikan bajunya. Ia berbalik, menatapku, matanya masih dipenuhi gairah. "Nanti kapan-kapan lagi yaa ustadzah, aku ketagihan sama tubuh ustadzah." bisiknya lagi, lalu ia berjalan keluar. Aku tidak bisa menjawab, hanya bisa melihat punggungnya yang menghilang dari pintu kamar mandi.
Aku terduduk lemas di kloset. Air mata terus mengalir, membasahi wajahku. Aku merenung, memikirkan semua yang baru saja terjadi. "Ya Allah... apa yang telah aku perbuat?" bisikku pada diriku sendiri. Aku, seorang ustadzah, seorang mantan santriwati teladan, telah berbuat sejauh ini. Rasa malu, rasa jijik, dan rasa bersalah membanjiri diriku.
Tapi, di sisi lain, ada sensasi aneh yang tak bisa kuingkari: kepuasan. Aku merasa sangat puas. Orgasmeku sampai tiga kali yang meledak-ledak, sentuhan brutalnya, dan penisnya yang besar... semua itu membuatku merasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Aku bangkit, berjalan ke shower, dan menyalakan air. Air dingin membasuh tubuhku, seolah ingin membersihkan setiap noda dan kebohongan yang menempel padaku. Aku menggosok tubuhku berulang kali, mencoba menghilangkan jejak sentuhan Pak RT, tapi sensasi itu masih melekat di kulitku. Aku mencium putingku, merasakan aroma mulutnya yang masih tertinggal. Aku menyentuh vaginaku, merasakan bekas jarinya. Aku menangis di bawah shower meratapi apa yang barusan aku lakukan dengan nya..
Bersambungg...
