Setelah membersihkan diri, aku mengeringkan tubuhku dengan handuk. Sensasi itu masih menempel di kulitku, meninggalkan jejak-jejak yang terasa kotor, tapi anehnya, juga terasa memuaskan. Aku keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan handuk, dan berjalan ke kamar. Di depan lemari, aku memilih-milih gamis. Mataku tertuju pada gamis yang biasa kupakai, yang lebar dan longgar, yang selama ini menjadi perisai bagiku. Aku mengenakannya, melapisinya dengan jilbab lebar dan cadar. Pakaian ini terasa seperti benteng yang melindungiku, mengembalikan diriku yang dulu, Tiara si santriwati.
Aku merebahkan diri di kasur, mencoba menenangkan pikiranku yang kacau. Kata-kata Mas Bims tentang "ekshibisionis" kembali terngiang-ngiang. Aku menyadari betapa berbahayanya permainan ini. Aku hampir saja disetubuhi oleh Pak RT. Tubuhku bergetar hebat. Aku tahu, ini adalah batas terakhir, sebuah garis yang tidak boleh kulewati lagi. Aku harus berhenti.
Aku teringat ponselku. Aku berjalan ke ruang tamu, dan kulihat pintu sudah tertutup, sepertinya tadi Pak RT keluar sambil menutupnya. Aku mengambil ponselku dari sofa, dan membukanya. Notifikasi dari Mas Bims terpampang di sana, mengunduhku ke dalam sebuah permainan yang begitu memabukkan. Jantungku berdebar kencang. Aku tahu, aku harus membalasnya. Aku harus mengakhiri semua ini. Aku harus kembali ke kehidupanku yang dulu.
Aku mengambil ponsel, membuka pesan dari Mas Bims. Jemariku gemetar. Ada pesan semalam yang belum kubalas. Jantungku berdebar kencang saat aku mulai mengetik.
"Mas Bims... aku enggak bisa seperti ini lagi," ketikku, mencoba terdengar tegas. "Tadi aku hampir... terlalu jauh."
Tak lama, balasan dari Mas Bims masuk. "Sayang, enggak apa-apa. Jangan takut. Itu adalah sebuah petualangan, sebuah pengalaman yang membuatmu lebih hidup. Jangan lari dari dirimu sendiri. Aku tahu kamu suka kan, kamu puas kan?"
Pesan itu membuatku terdiam. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku suka. Ada sensasi aneh yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Aku mengetik lagi, "Tapi... aku hampir disetubuhi, Mas... aku takut."
"Itu konsekuensi dari petualanganmu, Sayang," balasnya. "Tapi jangan khawatir, aku akan selalu ada untukmu. Aku akan menjagamu dari jauh."
Ia mengirimkan sebuah foto, memperlihatkan dirinya yang sedang mengocok penisnya. "Ini untukmu, Sayang," tulisnya. "Sebagai hadiah. Sebagai pengingat, kamu tidak sendirian. Kamu punya aku."
Aku menelan ludah, tidak bisa mengalihkan pandanganku dari foto itu. Jantungku berdebar kencang. Ia tahu, ia tahu aku lemah. Ia tahu aku membutuhkan perhatian ini.
Aku: Mas, kamu gila...
Mas Bims: Iya, aku gila. Dan aku suka kegilaan ini. Aku suka bagaimana kamu bereksperimen, bagaimana kamu menjadi lebih berani.
Aku: Tapi, aku punya suami...
Mas Bims: Suamimu enggak bisa memuaskanmu, kan? Aku bisa. Aku bisa membuatmu merasa lebih dari ini. Kamu harus lebih berani, Sayang.
Aku terdiam, tak bisa berkata-kata. Ia benar. Aku tidak bisa menolaknya lagi. Ia telah menguasai diriku sepenuhnya. Aku hanya bisa memejamkan mata, membiarkan diriku tenggelam dalam permainan gila ini.
Aku tak tahu lagi harus berkata apa. Jemariku gemetar, mengetik balasan. "Aku enggak tahu, Mas. Sebenarnya aku enggak mau sejauh itu. Tapi, nafsuku... nafsuku enggak bisa aku kendalikan."
Tak lama, balasan dari Mas Bims masuk. "Aku mengerti, Sayang. Jangan bohongi dirimu sendiri. Kamu menginginkan ini. Kamu ingin merasakan kenikmatan yang selama ini tidak bisa kamu dapatkan dari suamimu. Dan itu enggak salah."
Aku membacanya berulang kali, kata-katanya menusuk, tapi pada saat yang sama, terasa begitu membebaskan. Ia benar. Aku ingin ini. Aku ingin kenikmatan itu. Aku ingin merasakan sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Aku mengetik lagi, "Tapi, Mas... aku takut. Aku takut kalau aku terus begini, aku akan jatuh terlalu dalam, aku takut kalau aku ketagihan."
"Jangan takut, Sayang," balasnya. "Aku ada di sini untuk menemanimu. Aku akan memastikan kamu tidak jatuh terlalu dalam. Aku akan menjadi jembatan antara kamu dan suamimu. Kamu bisa pakai temanku yang aku kirim fotonya kemarin sebagai pelampiasan hasratmu, dan setelah itu, kamu bisa kembali ke suamimu."
Pesan itu terasa begitu aneh, begitu gila, tapi entah mengapa, terasa begitu tulus dan masuk akal. Ia tidak hanya ingin memanfaatkan aku, ia juga ingin "membantuku." Aku tidak tahu harus percaya atau tidak. Aku hanya tahu, aku sudah terlalu jauh melangkah. Aku sudah menyeberangi batas yang seharusnya tak pernah kulewati. Dan sekarang, aku tidak bisa kembali. Aku hanya bisa pasrah.
"Jadi, kamu mau main sama temanku?" ketiknya. "Aku akan tunjukkan kamu hal-hal yang lebih liar dari yang kamu bayangkan. Kamu akan menemukan dirimu yang baru, yang lebih berani, yang lebih liar. Kamu pasti akan meraih kepuasan duniawi yang belum pernah kamu rasakan sama suami kamu"
Aku tidak bisa menjawab. Hanya desahan yang masih tersisa. Aku tahu, aku telah kehilangan kendali, dan aku tidak bisa menghentikannya. Aku hanya bisa pasrah. "Iya, Mas," ketikku pada ponselku. "Aku mau.."
"Kamu kapan mau aku suruh temanku datang? Kapan kamu ada waktu?" tanya Mas Bims, suaranya terdengar tidak sabar.
"Aku enggak tahu, Mas Bims, kapan aku bisa. Aku masih ragu juga," balasku, jemariku gemetar.
"Enggak apa-apa, Sayang, pelan-pelan saja," bujuknya. "Kamu enggak harus ngentot sama dia. Kalian cuma main-main aja kok. Yang penting kamu puas"
"Beneran enggak harus bersenggama, kan, Mas? Aku takut nanti dia maksa," jawabku.
"Enggak bakal maksa, kok, Sayang. Kalau dia maksa, nanti kamu bilang ke aku. Aku bakal hajar dia," jawab Mas Bims penuh kemenangan.
Aku terdiam, sedikit lebih yakin dengan kata-katanya. "Baiklah, Mas Bims. Kalau aku ada waktu senggang, aku kabari," janjiku.
"Oke, Sayang," balasnya singkat.
Aku menutup percakapan itu, hatiku dipenuhi perasaan campur aduk. Di satu sisi, ada rasa takut yang menusuk. Tapi di sisi lain, dorongan untuk melangkah lebih jauh, untuk mengetahui apa yang akan terjadi jika aku mengikuti kemauan Mas Bims, terlalu kuat. Aku menatap jam. Sudah sore. Sebentar lagi Mas Dimas, suamiku, akan pulang kerja. Aku harus segera merapikan diriku. Aku harus terlihat normal, seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah aku hanyalah seorang istri yang baik, yang setia menunggu suaminya pulang.
Beberapa menit kemudian, aku mendengar suara mobil Mas Dimas. Aku bangkit, merapikan gamisku, dan berjalan ke depan. Aku menyambutnya dengan senyum, mencium tangannya, dan ia membalasnya dengan kecupan di keningku yang terasa dingin. Setelah itu, ia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu kami salat Magrib berjamaah. Aku mencoba untuk khusyuk, tapi pikiranku terus kembali ke kejadian di kamar mandi tadi.
Setelah salat, kami makan malam dengan sup ayam yang sudah kusiapkan. Mas Dimas terlihat lelah, tatapannya kosong, dan ia hanya mengaduk-aduk supnya. "Mas kenapa?" tanyaku lembut. "Mas tidak suka sup buatan Adek?"
Ia tersentak, lalu memaksakan sebuah senyum. "Suka, Dek. Cuma lagi tidak lapar saja," jawabnya, suaranya terdengar kaku.
Aku terdiam, membiarkan keheningan menyelimuti kami. Pikiranku terus bertanya-tanya, apakah ia tahu? Apakah ia curiga? Tiba-tiba, ia kembali berbicara, "Tadi seharian ngapain saja, Dek? Tadi tidak live, ya?"
Aku terkejut. Kenapa ia menanyakan itu? Aku mencoba mengendalikan diriku, memaksakan senyum. "Tadi Adek di rumah saja, Mas. Beres-beres, nonton TV," jawabku, sebuah kebohongan yang terasa hambar di lidahku.
"Tadi tidak ada tamu ke rumah, Dek?" tanyanya lagi, matanya menatapku lekat-lekat.
Jantungku berdegup kencang. Aku teringat Pak RT. Aku tidak bisa membohonginya lagi. Aku menghela napas, "Ada, Mas. Tadi Pak RT ke rumah untuk menagih iuran PDAM. Adek kasih uangnya, lalu Adek bikinkan kopi di ruang tamu, tapi pintunya Adek buka kok, jadi aman. Enggak apa-apa, kan, Mas?" tanyaku, suaraku sedikit bergetar.
Mas Dimas menatapku, matanya mencari kebohongan, tapi aku bisa melihat sebuah senyum kecil di bibirnya. "Iya, enggak apa-apa, kok, Dek," jawabnya, suaranya terasa begitu tenang.
Kami melanjutkan makan malam dengan keheningan yang canggung, namun aku tahu, di balik tatapan kosong Mas Dimas, ada sesuatu yang tersembunyi. Setelah makan, kami duduk di ruang keluarga. Dia meraih ponselnya, sementara aku hanya bisa diam, memikirkan semua yang telah terjadi. Kenapa aku menikmati permainan ini.
"Mas, Adek capek," bisikku, mencoba mengakhiri keheningan. "Ayo, kita tidur."
Ia mengangguk, lalu bangkit dan berjalan ke kamar. Aku mengikutinya, jantungku berdebar kencang. Di kamar, kami membersihkan diri, mengganti pakaian tidur, lalu merebahkan diri di kasur. Ia mematikan lampu, dan keheningan kembali menyelimuti kami. Aku bisa merasakan kehadirannya di sampingku, begitu dekat, namun terasa begitu jauh. Aku menoleh, menatap punggungnya. Aku ingin ia memelukku, menciumku, dan mengatakan semuanya baik-baik saja.
Perlahan, aku mengulurkan tanganku, menyentuh bahunya. Tidak ada respons. Aku menyentuh lehernya, memastikan napasnya teratur. Aku yakin dia sudah tidur. Aku membalikkan badanku, membelakangi Mas Dimas, dan memejamkan mata. Namun, aku tidak bisa tidur. Bayangan Pak RT, sentuhannya, dan kata-katanya terus menghantuiku. Aku merasa kotor, tapi anehnya, aku juga merasa sangat puas. Aku tahu, aku telah menyeberangi batas yang seharusnya tak pernah kulewati.
Tiba-tiba, aku merasakan sebuah tangan memelukku dari belakang. Jantungku berdebar kencang. Itu tangan Mas Dimas. Ia memelukku erat, menempelkan wajahnya di leherku. Aku terkejut, tapi tidak menolak. Aku hanya bisa membiarkan diriku tenggelam dalam kehangatan yang sesungguhnya, kehangatan yang halal. Aku ingin aku kembali. Aku ingin aku menjadi Tiara yang dulu, yang polos dan lugu. Tapi aku tahu, aku tidak bisa kembali. Aku sudah terlalu jauh. Aku hanya bisa memejamkan mata, membiarkan diriku terlelap dalam kelelahan yang luar biasa, dengan rahasia yang tersembunyi di antara kami, membakar hatiku dalam diam.
Aku terbangun, merasakan guncangan lembut di bahuku. "Dek, subuh," bisik Mas Dimas, suaranya parau. Aku membuka mata, melihatnya sudah rapi dengan baju koko. Aku mengangguk, lalu bangkit, mengambil wudu, dan shalat Subuh. Setelah itu, aku langsung ke dapur. Hari ini seperti biasa aku memasak nasi goreng, makanan kesukaan Mas Dimas. Suara wajan bergesekan dengan spatula memenuhi keheningan, sebuah rutinitas yang terasa begitu damai, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi semalam.
Kami sarapan berdua, duduk di meja makan yang sama, dengan percakapan ringan yang biasa kami lakukan. "Mas, ini sarapannya, dimakan ya," kataku sambil menyajikan sepiring nasi goreng. "Terima kasih, Sayang," jawabnya, suaranya terdengar lembut. "Mas jadi semangat kalau sarapan bikinan Adek."
Setelah sarapan, Mas Dimas bersiap-siap untuk berangkat kerja. Sebelum pergi, ia mengecup keningku, sebuah sentuhan yang terasa dingin di kulitku. Ia tersenyum tipis, lalu bertanya, "Dek, nanti live jualan?"
Aku terdiam sejenak. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku masih trauma dengan kejadian di kamar mandi, dengan sentuhan Pak RT yang brutal. Di satu sisi, aku ingin live, ingin kembali ke dunia fantasiku, dunia yang membuatku merasa diinginkan dan berharga. Tapi di sisi lain, aku takut. Aku takut jika aku live, aku akan kembali terjerumus ke dalam permainan kotor ini.
"Enggak tahu, Mas," jawabku, suaraku sedikit bergetar. "Kalau enggak capek, Adek live. Kalau capek, Adek enggak live."
"Oke, Dek. Mas berangkat dulu ya," ujarnya. Ia tersenyum, lalu melambaikan tangan, dan mobilnya melaju, meninggalkanku sendirian di rumah. Setelah ia pergi, aku masuk, membersihkan rumah. Aku melakukan rutinitas pagiku, menyapu, mengepel, dan mencuci piring. Semua terlihat normal, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.
Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, aku melangkah ke kamar mandi. Di dalam, aku menyalakan shower, membiarkan air membasuh tubuhku. Aku menyabuni setiap lekuk tubuhku, meratapi betapa ironisnya, tubuh yang selama ini aku jaga kini bisa dinikmati oleh orang lain. Aku merasa kotor, tapi anehnya, sensasi itu juga terasa memuaskan.
Usai mandi, aku mengenakan gamis lebar, jilbab, dan cadar. Pakaian yang melambangkan kesucian, kini menjadi perisai yang menyembunyikan semua rahasia dan kegilaan yang baru saja terjadi. Aku merebahkan diri di kamar, mengambil ponsel, dan mulai menggulir video pendek, mencoba mengalihkan pikiranku dari semua hal yang telah kualami. Tapi bayangan Pak RT dan sentuhannya terus menghantuiku.
Aku memutuskan untuk pindah ke ruang tamu dan menyalakan TV. Namun, pikiranku tetap tidak bisa tenang. Aku bangkit, pergi ke studioku, dan mengecek pesanan. Ada beberapa notifikasi pesanan masuk. Aku memprosesnya satu per satu, mengepaknya dengan rapi, dan menempelkan label pengiriman. Semua rutinitas ini terasa menenangkan, sebuah cara untuk kembali ke duniaku yang lama, dunia yang aman dan damai.
Setelah semua paket selesai dikemas, aku mengambilnya dan berjalan ke depan rumah. Aku meletakkannya di dalam wadah yang biasa kusediakan untuk kurir, sebuah kotak besar di samping pot bunga. Aku menatapnya. Paket-paket itu, yang berisi pakaian syar'i, terasa ironis. Di dalamnya ada gamis, jilbab, dan cadar, pakaian yang seharusnya melambangkan kesucian, kini menjadi objek dari sebuah permainan kotor. Aku kembali ke dalam rumah, menutup pintu, dan merebahkan diri di sofa, merasa lelah, rasanya tidak sanggup untuk live hari ini.
Sepanjang hari aku habiskan dengan bermalas-malasan, hingga akhirnya waktu Ashar tiba. Aku bergegas sholat. Kulepas gamis dan jilbabku, lalu berganti memakai mukena, namun cadar tetap menutupi wajahku. Setelah selesai sholat, tiba-tiba ada ketukan pintu. Jantungku berdebar kencang. Dengan langkah ragu, aku berjalan ke pintu depan. Saat kubuka, aku terkejut melihat Pak RT berdiri di sana.
"Pak RT, ada apa?" tanyaku.
"Ini, Ustadzah, aku mau ngopi," jawabnya, suaranya serak. "Kopi bikinan Ustadzah kemarin enak, boleh enggak Bapak minta kopi lagi?"
Aku terdiam, bingung. Pikiranku langsung melayang ke kejadian kemarin, ke sentuhan dan desahan kami. Aku tahu, permintaannya ini bukan hanya tentang kopi. Aku berpikir sejenak, lalu akhirnya mengangguk. "Boleh, Pak. Silakan duduk."
Aku membiarkan pintu depan terbuka, dan ia masuk ke ruang tamu. Aku kembali berdua saja dengannya di rumah ini. Perasaanku campur aduk. Ada rasa takut, tapi di saat yang sama, ada juga rasa penasaran yang aneh. Aku tahu, permainan ini belum berakhir.
Bersambungg...
