Aku berjalan ke dapur, jantungku berdebar tak karuan. Pikiranku dipenuhi bayangan dari kejadian kemarin. Aku menyeduh air, menunggu hingga mendidih, lalu menuangkan bubuk kopi ke dalam cangkir. Setiap gerakan terasa begitu lambat, begitu penuh makna. Aku tahu, kopi ini bukan hanya sekadar minuman, melainkan sebuah undangan. Aku kembali ke ruang tamu, membawa cangkir kopi yang mengepul. Pak RT sudah menungguku, matanya menatapku dengan tatapan yang sama seperti kemarin, penuh gairah yang tak bisa disembunyikan.
Aku meletakkan cangkir di meja. "Ini kopinya, Pak," kataku, suaraku sedikit bergetar.
"Terima kasih, Ustadzah," jawabnya, suaranya serak. "Silakan duduk disini." Jawabnya sambil menepuk sofa di sebelah kanan nya.
Aku duduk di sofa yang sama seperti kemarin, di samping kananya, dengan jarak yang cukup jauh. Namun, aku tahu, jarak itu akan segera hilang. Ia mengambil cangkir kopi, menyesapnya sedikit, lalu menatapku. "Kopi bikinan Ustadzah memang enak," katanya, matanya tak lepas dari mukenaku yang longgar.
Aku menunduk, malu, tapi pada saat yang sama, aku merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku tahu, permainan ini akan kembali dimulai. "Syukurlah kalau Bapak suka," bisikku, suaraku parau.
Ia tertawa pelan. "Ustadzah, kok kelihatan capek?" tanyanya, suaranya penuh selidik. "Mau kubuat Ustadzah lebih segar?"
Aku menelan ludah. Aku tahu apa yang ia maksud. Ia berbicara tentang hasrat, tentang nafsu, tentang kenikmatan.
"Memangnya bagaimana caranya, Pak, biar lebih segar?" tanyaku, suaraku sedikit bergetar, mencoba terdengar polos.
Pak RT menyeringai, senyumnya penuh arti. Ia bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekatiku. "Dengan ini, Ustadzah," bisiknya, tangannya meraih payudaraku yang besar dari luar mukena. "Sentuhan ini yang bisa bikin Ustadzah lebih segar."
Aku mendesah, tak bisa menahan diri. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku tidak bisa menolaknya. "Ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan. Ia menunduk, bibirnya mendekat ke telingaku. "Kamu suka, kan, Ustadzah? Jangan bohongi dirimu sendiri."
"Aku tidak bisa, Pak... ini... ini salah," bisikku, suaraku parau.
"Salah? Tapi kamu menikmatinya kan ustadzah," bisiknya, suaranya penuh kemenangan. Ia terus meremas payudaraku, dan aku hanya bisa memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini. Aku tahu, ia benar. Aku menikmatinya. Dan di balik kenikmatan itu, ada sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku, sebuah sensasi yang terasa begitu memabukkan.
"Ahhh iya, Pak, aku menikmatinya..." rintihku, suaraku parau, penuh pengakuan.
"Tentu saja kamu menikmatinya, Sayang," bisik Pak RT, suaranya serak dan penuh kemenangan. Ia terus meremas payudaraku, gerakannya semakin brutal. "Ini baru permulaan, Sayang. Aku akan buat kamu lebih keenakan."
Aku tidak bisa menolaknya lagi. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku tidak bisa menolaknya. "Ahh... ahh... terus, Pak... enak..." desahku, tanpa sadar.
"Pak, aku mau... tapi Bapak harus janji jangan sampai kelewatan, ya. Aku enggak mau sampai bersenggama," bisikku, suaraku bergetar.
"Kenapa enggak mau, Ustadzah? Padahal enak loh ngentot," jawabnya, suaranya serak. "Ustadzah pasti suka dientot kontol gede Bapak."
"Ishh, Pak, bahasanya jorok. Jangan begitu," rintihku, mencoba menolak.
"Enggak apa-apa, biar Ustadzah terbiasa," jawabnya, menyeringai.
Tangan kirinya meremas payudaraku dari luar mukena. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku tidak bisa menolaknya. "Tetek Ustadzah memang terbaik," bisiknya. "Sudah gede, mulus, kenceng lagi... Boleh aku isap, enggak, Ustadzah?"
"Boleh, Pak. Ahh," jawabku, suaraku parau, tak bisa lagi menolak.
Dengan sigap, Pak RT menyingkap mukena bagian atasku. Tangan kekarnya masuk, melingkar ke punggungku, dan dengan terampil, ia melepaskan pengait braku. Aku terkesiap, dadaku berdebar kencang. Kemudian, ia melepaskan braku sepenuhnya. Kemudian mukena atasku ia sampirkan ke pundakku, Tubuh bagian atasku kini telanjang di hadapannya, hanya ditutupi oleh mukena yang sudah di sampirkan ke pundak dan cadar yang masih ku pakai.
Kedua tangannya menangkup payudaraku yang besar, meremasnya dengan penuh nafsu. "Sumpah, bagus banget tetek Ustadzah," bisiknya serak, suaranya penuh kekaguman. "Belum menyusui, pantes bagus dan kencang banget."
Aku hanya bisa mendesah, tak bisa berkata-kata. "Ahh..." rintihku, memejamkan mata. Ia menunduk, bibirnya mengulum putingku yang menegang, menghisapnya dengan ganas. Sensasi itu begitu kuat, begitu memabukkan. "Ahh... iya, Pak... enak..." desahku, suaraku tercekat, penuh kenikmatan. Ia terus mengulum dan menghisap, sementara tangannya meremas payudaraku. Aku tahu, aku telah kehilangan diriku, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku hanya bisa pasrah, membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini.
Tiba-tiba, aku tersentak. Sekarang jam sudah sore, dan sebentar lagi Mas Dimas akan pulang. "Pak, sudah, Pak. Sebentar lagi Mas Dimas pulang," bisikku, panik. Aku melirik ponselku di meja, melihat jam sudah menunjukkan pukul 15.30. Jantungku berdebar kencang saat ponselku berdering. Panggilan dari Mas Dimas. Aku memberi isyarat pada Pak RT untuk diam.
"Halo, Dek," sapa Mas Dimas. "Mas mau bilang, hari ini Mas ada rapat dadakan di kantor. Kayaknya Mas pulang larut."
Rasa lega yang aneh menyelimutiku. "Yahh, padahal Adek mau masak makanan kesukaan Mas," kataku, berusaha menyembunyikan getaran dalam suaraku.
"Maaf, Sayang," jawabnya. "Tapi Adek bisa siapkan makan malam, kan? Nanti Mas pulang, kita bisa makan berdua."
"Iya, Mas, enggak apa-apa. Bisa kok, Mas," balasku.
"Oke, Dek. Mas tutup dulu, ya," ujarnya, lalu menutup telepon.
Aku menatap Pak RT. Ia tersenyum penuh kemenangan. "Suami kamu lembur, ya, Ustadzah?" tanyanya.
"Iya, Pak," jawabku.
"Sepertinya memang Tuhan berkehendak buat kita melakukan ini, Ustadzah, hahaha," bisiknya, suaranya serak.
"Ingat, ya, Pak... jangan kebablasan," bisikku, mencoba mengingatkannya pada janjinya.
Namun, ia tidak peduli. Ia kembali meremas payudaraku, mencium leherku, dan mengulum putingku. "Ahh... ahh... iya, Pak... enak..." rintihku, tak bisa menahan diri. Aku tahu, aku telah kehilangan kendali, dan aku tidak bisa menghentikannya. Aku hanya bisa pasrah, membiarkan diriku tenggelam dalam perbuatan ini.
Dengan tangan kirinya, ia mulai mengelus perutku, gerakannya perlahan turun ke bawah. Jantungku berdebar tak karuan, dan aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam sensasi itu. Ia menyeringai, "Ahhh... perut Ustadzah mulus banget."
Jari-jarinya yang kasar perlahan menyelinap ke sela karet rok mukenaku, menuju ke vaginaku. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. Napasku memburu, tubuhku panas. "Ahh... Pak... jangan ke situ..." rintihku, mencoba menolak, tapi suaraku lebih terdengar seperti desahan.
Ia tidak peduli, terus menyentuh dan menggesek bibir vaginaku dari luar celana dalamku. "Ahhh... iya, Pak... itu iyahh.. enak... Ahhh..."
Tangannya langsung masuk ke dalam celana dalamku, menyentuh vaginaku yang basah. Aku terkesiap. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku tidak bisa menolaknya. "Ahh... yaa... Pak... enak banget Pak... Ahhh!"
"Kenapa, Ustadzah? Kamu suka, kan? Memek kamu udah basah banget ustadzah," bisiknya, suaranya serak, penuh kemenangan. Ia mulai memasukkan satu jarinya. Aku mendesah, menjerit, dan merintih, tak bisa menahan diri. "Ahh... ahh... Pak... lebih cepat... Ahhh!"
Aku melebarkan kakiku, mempermudah perbuatannya. Kepalaku mendongak, mataku terpejam, tubuhku bergetar hebat. Sensasi itu begitu kuat, begitu memabukkan. "Ahh... ahh... terus... terus... enak... Ahhh!"
"Iya, Sayang, Ustadzah... nikmatin aja... aku akan buat kamu puas... Ahhh!" bisiknya, suaranya serak. "Memek Ustadzah sempit banget, aku suka. Aku akan buat kamu ketagihan."
Ia terus menggerakkan jari-jarinya di dalam vaginaku, mencium leherku, lalu mengulum putingku. Aku mendesah tak karuan, tak bisa menahan diri. "Ahh... ahh... iya, Pak... aku suka... Ahhh... terus..."
"Enak, kan, Ustadzah? Ini belum seberapa, Sayang... Nanti kalau kontolku masuk ke memek ustadzah akan lebih keenakan dari ini... Ahhh!" bisiknya.
Aku mengangguk, air mata mengalir dari mataku. "Iya, Pak... aku mau... aku mau..." rintihku, suaraku parau, penuh pengakuan. "Aku mau kontol Bapak... Ahhh!"
Ia tertawa, tawa penuh kemenangan. "Ya sudah ustadzah... jadi bapak boleh ngentot ustadzah kan? Bapak pasti akan buat kamu puas... Ahhh!"
Ia terus menggerakkan jarinya, membuatku mendesah semakin keras. "Ahhh... ahhh... iyaa Pak. Bolehh.. Ehh jangan pakk. Ahh.. aku mau keluar... Ahhh... ahh... Aku mau keluar..." rintihku.
Tiba-tiba, Pak RT menghentikan gerakan tangannya. Napasku tercekat, dan aku membuka mataku. "Pak... kenapa berhenti?" tanyaku, suaraku nyaris tak terdengar.
Pak RT berdiri, lalu dengan cepat melepas celana dan celana dalamnya. Penisnya yang besar dan tegang kini terpampang jelas di hadapanku. Jantungku berdebar tak karuan. Ia mengelusnya pelan. "Ustadzah, kalau mau lanjut, pakai ini," ujarnya, suaranya serak.
Aku menggeleng, mencoba menolak. "Jangan, Pak... kan tadi Bapak sudah janji."
"Aku enggak akan masukin kok, Ustadzah, kalau Ustadzah enggak minta duluan," bujuknya. "Kita gesek-gesek seperti kemarin saja... gimana?"
Aku terdiam, nafsuku kembali menguasai diriku. "Yaudah, Pak... ayo kita ke studioku saja, biar lebih nyaman," kataku, suaraku parau. "Tutup pintu depannya, Pak."
Ia menyeringai, lalu menutup pintu depan rumah. Ia mengikutiku ke studio yang biasa aku pakai live. Di sana, di dalam ruang kecil itu, aku merasa lebih aman, lebih bisa mengendalikan diri.
Aku terdiam di tengah studio. Pak RT, tanpa celana, hanya berdiri di sana, mengelus penisnya yang tegang. "Terus ini gimana, Pak?" tanyaku, suaraku masih bergetar.
Ia tersenyum, senyum penuh kemenangan. Ia tahu aku sudah terjebak. Ia tahu aku tidak bisa lagi menolak. "Sini, Ustadzah, duduk di kursi," perintahnya, suaranya serak. Aku menurut, melangkah ke kursi, dan duduk di sana. Aku menatapnya, bingung, apa yang akan ia lakukan.
Ia mendekat, lalu berdiri di depanku. Ia meraih tanganku, lalu menuntunnya untuk menyentuh penisnya yang besar dan tegang. "Sentuh, Sayang... Rasakan... Ini yang akan membuatmu puas."
Aku memejamkan mata, merasakan sensasi itu. Penisnya begitu besar, begitu keras. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku menyukai ini. Aku mulai mengocoknya, perlahan, lalu semakin cepat, mengikuti ritme desahanku.
"Ahhh... ahhh... lebih cepat ustadzah... Aku suka..." desahnya, suaranya serak, penuh kemenangan.
Ia kemudian menyingkap mukena bagian atasku, di sampirkan ke pundakku, lalu mencium puting payudaraku, mengulumnya, sementara tanganku terus mengocok penisnya. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... ahh... iya, Pak... terus... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.
Kepala Pak RT berhenti menghisap putingku. Ia menegakkan tubuhnya sedikit, tangan kanannya meraih penisnya yang masih tegang. Aku menahan napas, dadaku berdebar kencang. Ia mengarahkan penisnya ke wajahku yang tertutup cadar, menggesek-gesekkannya di pipiku.
"Rasakan, Sayang," bisiknya, suaranya serak. "Rasakan kontol gede Bapak. Ini yang akan membuatmu puas nanti."
Aku hanya bisa pasrah, memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini. Sensasi penisnya yang hangat dan keras terasa begitu aneh, begitu asing, tapi entah mengapa, terasa begitu memabukkan. "Ahhh... ahhh... Pak..." rintihku, suaraku parau.
Ia tertawa pelan, tawa penuh kemenangan. "Aku tahu kamu suka, Sayang. Jangan bohongi dirimu sendiri." Ia terus menggesekkan penisnya di wajahku, dan terkadang memukulkan penisnya di pipiku, Ahh.. dan aku mendesah, tak bisa menahan diri.
Pria itu menghentikan gerakannya. Ia memegang daguku, mengangkat wajahku, dan menatapku dengan mata penuh nafsu. "Ustadzah, Bapak penasaran banget, Ustadzah pernah nyepong kontol enggak?" bisiknya, suaranya serak. "Aku pengen banget di sepong mulut Ustadzah yang tertutup cadar tiap hari ini. Gimana yaa rasanya."
Aku menggeleng. "Enggak mau Pak. Aku belum pernah seperti itu," rintihku, suaraku parau.
"Coba yuk Ustadzah," bujuknya, suaranya melembut, penuh rayuan. "Nanti Bapak ajarin pelan-pelan. Ustadzah pasti suka."
Ia menunduk, mencium leherku, kemudian beralih ke bawah mencium puting payudaraku, lalu mengelus vaginaku dari luar mukena dengan tangannya. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. Sensasi itu begitu kuat, begitu memabukkan. "Ahh... ahh... iya, Pak... terus..." rintihku, suaraku parau.
"Yukk.. kita coba belajar nyepong yaa ustadzah."Ia terus membujukku, merayuku, hingga akhirnya aku menyerah. "Yaudah, Pak..." bisikku, suaraku nyaris tak terdengar. "Tapi pelan-pelan ya ajarinnya..."
Ia menyibakkan cadarku ke samping, hanya sedikit, memperlihatkan bibirku yang gemetar. "Masya Allah, Ustadzah, bibirnya bagus banget, tipis, kayak artis," bisiknya, suaranya penuh kekaguman. "Pasti rasanya enak nih di sepong pake bibir ustadzah."
Ia memegang kepalaku, mendorongnya perlahan ke arah penisnya. Aku mencoba melawan, tapi tenaganya terlalu kuat. Aku memejamkan mata, isak tangis bercampur dengan desahan yang masih keluar dari bibirku.
"Buka mulutmu, Ustadzah," bisiknya. "Aku ingin merasakan bibir Ustadzah yang lembut."
Ia menggesek-gesekkan kepala penisnya di bibirku yang tertutup cadar. "Rasakan, Sayang... Rasakan kontol gede Bapak ini," bisiknya, suaranya serak. "Kontol Ini yang akan bikin kamu puas ustadzah."
Aku hanya bisa pasrah. Aku membuka mulutku, dan dengan perlahan, ia memasukkan kepala penisnya ke dalam mulutku. Aku terkesiap. Rasanya begitu aneh, begitu asing, tapi entah mengapa, terasa begitu memabukkan.
"Jilatin lubang pipisnya Ustadzah, terus hisap kepala kontolnya.. Ahhh.. iyahh..," perintahnya, suaranya tercekat. Ia menekan kepalaku, membuatku semakin dalam. Aku memejamkan mata, menjulurkan lidahku, dan dengan ragu, aku menjilati lubang kecil di ujung penisnya.
"Ahhh... iya, Sayang... begitu... Ahhh... Enak banget... Manis sekali..." desahnya, kepalanya mendongak, matanya terpejam. "Terus... hisap... hisap yang kencang..."
Aku menurut, mengulum kepala penisnya dengan lebih dalam, menghisapnya dengan ganas. Sensasi itu begitu aneh, begitu asing, tapi entah mengapa, terasa begitu memabukkan. Napasku memburu, tubuhku panas. Aku menjilati, mengulum, dan menghisap penis pria itu, mengikuti setiap perintahnya.
"Ustadzah... Ahhh... Enak banget, Sayang... hisapanmu... Ahhh... gila..." bisiknya, suaranya serak. "Aku enggak pernah merasakan ini dari istriku... Kamu memang terbaik..."
Kata-kata itu membuatku mendesah, tak bisa menahan diri. Sebuah sensasi aneh, antara rasa jijik dan kenikmatan, membanjiri diriku. Aku tahu, aku telah menyeberangi batas, tapi di balik semua itu, ada sebuah perasaan yang memuaskanku. Perasaan diakui, perasaan didamba.
Ia kembali menekan kepalaku, memaksaku menelan penisnya lebih dalam sampai tenggorokanku. Aku tersedak, tak bisa menahan diri. "Ahh... ahh... Pak... lebih dalam... Ahhh..." rintihku, suaraku parau.
"Tahan, Sayang... terus hisap... terus... Aku mau keluar..." desahnya. "Ahhh... ahhh... keluar, Sayang... Aku mau keluar di mulut Ustadzah... Ahhh..."
Ia menggenjot dengan lebih cepat dan brutal, memaju-mundurkan penisnya di dalam mulutku. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam kenikmatan yang memabukkan ini. Aku merasakan cairan hangat membanjiri mulutku.
Mulutku penuh dengan spermanya, dan aku memuntahkan sperma Pak RT ke lantai. Ia menyeringai, lalu mencium bibirku yang basah oleh cairan spermanya itu. "Ahhh... enak, Sayang... enak banget mulut ustadzah..." bisiknya.
Kemudian, tangannya membelai perutku, gerakannya perlahan turun ke bawah. Jantungku berdebar tak karuan, dan aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam sensasi itu. Tangannya kemudian memegang karet rok mukenaku. "Ustadzah, angkat pantatnya," bisiknya, suaranya serak. "Aku mau lepasin ini."
Aku hanya menurut, kuangkat pantatku. Dengan mudah dia melepas rok mukenaku. Kini aku hanya memakai celana dalam. Ia menyeringai puas, menatapku, lalu ia jongkok, memposisikan wajahnya di depan vaginaku. Ia menciumi vaginaku dari luar celana dalam, gerakannya begitu lembut, penuh dengan nafsu. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... Pak... enak..." rintihku.
Ia menjilati vaginaku dari luar celana dalam, gerakannya semakin cepat, semakin intens. "Ahhh... ahhh... iya, Pak... itu enak... Ahhh..." rintihku, suaraku parau.
Ia mengangkat kepalanya, menatapku, matanya dipenuhi gairah. "Ustadzah, celana dalamnya ganggu," bisiknya. "Aku pengen cium langsung, aku pengen jilatin memek Ustadzah yang basah. Boleh, ya? Lepas, ya? Ahh... aku gak tahan lagi..."
Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku tahu, ini adalah batas terakhir, sebuah garis yang tidak boleh kulewati. Tapi, dorongan untuk melangkah lebih jauh, untuk mengetahui seberapa dalam aku bisa jatuh, terlalu kuat untuk kutahan. "Gak mau, Pak... aku malu..." rintihku.
Ia tersenyum. "Jangan malu, Sayang. Aku tahu kamu suka. Kan kemarin sudah pernah juga kann.. ustadzah ke enakan kan.."
Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut. Ia menunduk, lalu dengan perlahan, ia menarik celana dalamku. "Ahhh... jangan, Pak..." rintihku, tapi suaraku lebih terdengar seperti desahan. Ia tidak peduli. Ia terus menariknya, dan celana dalamku terlepas. Kini bagian bawahku benar-benar telanjang.
Ia tersenyum, menatap vaginaku yang basah dan berbulu halus. "Masya Allah, Ustadzah... cantik banget memek Ustadzah," bisiknya. Ia mendekat, melebarkan kakiku kemudian menjulurkan lidahnya, dan mulai menjilati vaginaku. Aku menjerit, tubuhku kejang. "Ahhh... Ahhhh!" rintihku, suaraku parau.
Sensasi itu begitu kuat, begitu memabukkan. Aku tidak bisa menahan diri, membiarkan diriku hanyut. "Ahhh... ahhh... terus, Pak... enak... Ahhh..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan. Ia terus menjilati, mengulum, dan menghisap, gerakannya semakin cepat, semakin intens.
Pria itu terus menjilati vaginaku, gerakannya semakin cepat dan intens. Ia mengisap bibir vaginaku, lalu menjilati klitorisku dengan ganas. Aku mendesah, tubuhku menegang. Aku mencoba menahan rintihanku, tapi tidak bisa. Sensasi itu terlalu kuat. "Ahhh... ahhh... terus, Pak... enak... Ahhh..." rintihku, suaraku parau.
"Ahhh, Iyah Ustadzah, enak banget," bisiknya, suaranya serak. "Memek Ustadzah manis sekali... Aku suka..."
Ia terus menjilati, gerakannya semakin cepat. Aku mendesah, tak bisa lagi menahan diri. "Ahh... ahh... Pak... aku mau keluar! Ahhh..." jeritku, suaraku parau, penuh kenikmatan.
"Iya, Sayang, keluarkan... Ahhh... keluarkan saja... Ahhh!" bisiknya, ia terus mengisap klitorisku dengan ganas. Aku menjerit, "Ahhh!.. Ahhhh!.." Tubuhku kejang, pinggulku bergerak tak terkendali. Aku merasakan gelombang kenikmatan membanjiri seluruh tubuhku, sebuah sensasi yang begitu kuat, begitu nyata. Aku orgasme hebat. "Ahhhhhhh!..."
Setelah gelombang kenikmatan itu surut, tubuhku lemas. Aku terengah-engah, bersandar di sandaran kursi, kakiku gemetar. Aku merasa sangat puas, tapi pada saat yang sama, aku juga merasa sangat kotor. Aku tahu, aku telah menyeberangi batas.
Pak RT tersenyum puas, senyum penuh kemenangan. Ia berdiri, lalu menatapku, matanya dipenuhi gairah. Ia menunduk, mencium bibirku, lalu berbisik, "Lihat, 'kan? Kamu suka kan ustadzah. Kamu puas, 'kan? Aku sudah bilang, aku akan buat kamu ketagihan."
Aku hanya bisa mengangguk, air mata mengalir dari mataku. Aku merasa sangat malu, tapi pada saat yang sama, aku tahu ia benar. Aku telah jatuh terlalu dalam.
Pak RT berdiri dan dengan cepat melepas bajunya, memperlihatkan tubuhnya. Ia mengelus penisnya yang kembali menegang. "Kalau pakai ini pasti lebih enak, Ustadzah. Mau coba enggak?" bujuknya, suaranya serak, penuh godaan.
Aku terdiam, hatiku terbelah. Di satu sisi, aku takut. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika penis sebesar itu masuk ke dalam vaginaku. Pasti akan sangat nikmat, seperti yang dijanjikan. Tapi akal sehatku masih berjalan. "Jangan, Pak... aku enggak mau," rintihku, mencoba menolak. "Ingat janji Bapak tadi."
Pak RT tidak menyerah. Ia kembali merayu, suaranya melembut, penuh janji. "Ustadzah Sayang... enggak apa-apa. Bapak cuma akan gesek-gesekkan saja, kok. Enggak akan kumasukkan kalau ustadzah enggak minta. Aku janji, kamu pasti akan lebih keenakan dari tadi. Percayalah."
Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku tidak bisa menolaknya. Aku tahu ini salah, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku hanya bisa pasrah, membiarkan diriku tenggelam dalam perbuatan ini. "Yaudah, Pak... tapi jangan dimasukkan, ya..." bisikku, suaraku parau.
Pak RT tersenyum penuh kemenangan. "Siap ustadzah Sayang," bisiknya. "Aku akan buat kamu ketagihan." Ia kembali mendekat, menggesekkan penisnya di vaginaku, dan aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... ahh... iya, Pak... terus... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.
Pak RT terus menggesekkan penisnya yang tegang di sela-sela bibir vaginaku, sementara tangannya meremas payudaraku dengan brutal. Ia menunduk, bibirnya mengulum putingku, menghisapnya dengan ganas. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... ahh... Pak... terus... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.
"Ini baru di gesek, Sayang," bisiknya, suaranya serak. "Gimana kalau kontol ini beneran masuk ke memek Ustadzah? Pasti lebih enak."
Aku menggeleng, air mata mengalir dari mataku. "Tidak, Pak... aku tidak mau..." rintihku, tapi suaraku lebih terdengar seperti desahan.
Ia tidak peduli, terus mengulum putingku. Kemudian, ia mencupang payudaraku, membuat tanda merah di sana. "Ini milikku, Sayang," bisiknya. "Semua orang akan tahu, kamu milikku."
Aku hanya bisa menangis, isak tangis yang bercampur dengan desahan yang semakin keras. Aku tahu, aku telah kehilangan diriku, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku hanya bisa pasrah, membiarkan diriku tenggelam dalam perbuatan yang begitu kotor, tapi entah mengapa, terasa begitu memabukkan. "Ahh... ahh... iya, Pak, aku suka..." desahku..
Bersambungg...
