Pak RT menghentikan gerakannya. Napasnya memburu, dan aku bisa merasakan penisnya yang tegang dan basah berada tepat di depan bibir vaginaku. Jantungku berdebar kencang. "Kenapa berhenti, Pak?" rintihku, suaraku parau.
"Aku enggak tahan, Ustadzah," bisiknya, suaranya serak. "Aku mau masukin kontol ini. Boleh ya, Ustadzah."
"Jangan, Pak... aku tidak mau," rintihku, mencoba menolak, tapi suaraku lebih terdengar seperti desahan.
Ia tidak peduli. Ia perlahan mendorong penisnya, dan aku merasakan kepala penisnya yang besar membelah bibir vaginaku. Rasa sakit yang tajam itu menyentak kesadaranku. "Ahhh... Pak! Sakit! Jangan!" rintihku, suaraku parau, dipenuhi ketakutan yang nyata.
Kepalaku yang tadinya mendongak kini menoleh ke depan. Aku tatap wajah Pak RT, air mata mengalir deras. Otakku seperti tersadar dari mimpi buruk. Ini bukan lagi permainan. Ini nyata. Rasa sakit itu, sensasi itu, semua ini terlalu jauh.
Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku mendorong tubuh Pak RT. "Jangan, Pak... Kumohon, jangan masuk!" teriakku, suaraku tercekat.
Pak RT terkejut, gerakannya terhenti. Penisnya yang besar dan tegang kini hanya menempel di bibir vaginaku. Ia menyeringai. "Kenapa, Sayang? Padahal enak loh kalau sudah masuk..." bisiknya, suaranya serak. "Tanggung banget."
"Aku tidak mau, Pak! Cukup!" bentakku, mencoba mengumpulkan kekuatan.
Ia menatapku, matanya dipenuhi nafsu yang membara, tapi ia tidak lagi mencoba mendorong. Ia melepaskan genggamannya dari pinggulku. "Iya, iya, Sayang. Bapak enggak akan maksa," bisiknya, ia tertawa pelan, tawa yang terdengar sangat kejam di telingaku.
"Yaudah, Ustadzah, kalau gitu kita ganti gaya, yaa. Ustadzah di atas," bisiknya, suaranya serak. Ia tersenyum penuh kemenangan, seolah telah merencanakan ini. "Ustadzah yang gerak."
Aku menelan ludah, bingung. "Gimana caranya, Pak?" tanyaku, suaraku parau.
"Sini, Ustadzah, turun dulu dari kursi." Aku turun dari kursi, berdiri di sampingnya, tubuhku masih gemetar. Ia kemudian duduk di kursi yang tadi aku duduki. Matanya menatapku, penuh godaan. "Sekarang, duduk di atas penis Bapak. Menghadap ke arah Bapak."
Aku terkejut, tapi tidak bisa menolak. Aku hanya bisa pasrah. Aku membalikkan badanku, dan dengan perlahan, aku duduk di atasnya, merasakan penisnya yang besar dan tegang berada tepat di bawah bibir vaginaku. Aku mendesah, napasku memburu. "Ahh... Pak..."
Ia menyeringai, lalu dengan satu tangan, ia meraih pinggangku, dan tangan yang lain mencengkeram payudaraku. Ia memajukan pinggangku, lalu memundurkannya, mengajarkanku cara melakukan nya. "Iya ustadzah, begitu... Pelan-pelan dulu... Ahhh... Enak..." desahnya.
Aku terus memaju mundurkan pinggulku, merasakan urat-urat penisnya yang tegang bergesekan di bibir vaginaku. Sensasi itu begitu kuat, membuatku mendesah tak terkendali. "Ahh... ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.
Sambil aku bergerak, Pak RT menciumi payudaraku, lalu mencupangnya lagi, meninggalkan tanda-tanda merah di kulitku. "Tetek ini milikku sayang," bisiknya, suaranya serak, penuh kemenangan. Gerakanku semakin berani, semakin cepat. Aku tidak lagi peduli dengan apa yang kupikirkan. Aku hanya ingin kenikmatan itu terus berlanjut.
Tiba-tiba, Pak RT menghentikan gerakanku. Napasnya memburu, Tangan kirinya mengarahkan kepala penisnya ke lubang bibir vaginaku. "Maju mundur pelan ustadzah. Aku mau merasakan kamu."
Aku menurut, memajukan pinggulku, lalu memundurkannya, membuat kepala penisnya membelah bibir vaginaku. Sensasi itu begitu aneh, begitu asing, terasa begitu memabukkan. "Ahh... ahh... Pak... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.
"Memekmu basah banget ustadzah," bisiknya, suaranya serak.
"Iya, Pak... aku suka..." desahku, tanpa sadar.
Ia tertawa pelan, tawa penuh kemenangan. "Aku akan bikin kamu ketagihan, Sayang," bisiknya. Gerakanku semakin cepat. Tangan nya mengarahkan pinggulku, membuatku bergerak dengan ritme yang lebih brutal. Ia mencium leherku, lalu mengulum puting payudaraku, sementara tangannya meremas payudaraku dengan ganas.
Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam sensasi itu. Aku merasakan gejolak dahsyat di dalam diriku. Aku tidak bisa menahannya lagi. Tubuhku menegang, pinggulku bergerak tak terkendali. Aku menjerit, "Ahhh... Ahhhh!" Tubuhku kejang, dan aku merasakan sebuah gelombang kenikmatan membanjiri seluruh tubuhku. Aku orgasme.
Setelah gelombang kenikmatan itu surut, tubuhku lemas. Aku ambruk, bersandar pada tubuh Pak RT. Ia menyeringai, senyum penuh kemenangan. Ia tidak berhenti, justru ia mengambil alih kendali. Ia mengangkat tubuhku sedikit, memposisikan pinggulnya. Napasnya memburu, ia mulai menggenjot, memaju-mundurkan penisnya di antara vaginaku. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... ahh... Pak..." rintihku, suaraku parau.
"Aku akan buat kamu lebih keenakan, Sayang," bisiknya, suaranya serak. "Ahhh... aku mau keluar... Ahhh..." Ia menggenjot dari bawah dengan lebih cepat dan brutal, memaju-mundurkan penisnya di antara paha dan vaginaku. Aku merasakan cairan hangat membanjiri paha dan luar vaginaku. aku merasakan sebuah sensasi aneh menjalar di seluruh tubuhku. Ia orgasme. Tubuh kami saling menempel, terengah-engah. Aku hanya bisa pasrah, membiarkan diriku tenggelam dalam perbuatan ini.
Setelah tenagaku pulih, aku perlahan turun dari pangkuan Pak RT. Tubuhku terasa lemas, namun sensasi dari perbuatan tadi masih terasa. Aku menatapnya, air mata mengalir dari mataku. "Pak... sudah..." bisikku, suaraku parau. "Pulanglah, Pak... kumohon... sudah mau Maghrib."
Pak RT menyeringai, senyum penuh kemenangan. Ia bangkit, mengambil mukenaku dan memakainya kembali di tubuhku. Ia merapikan jilbab dan cadarku, lalu mengelus pipiku. "Enak, kan, Ustadzah?" bisiknya, suaranya serak. "Kamu ketagihan kontol Bapak, kan?"
Aku hanya bisa mengangguk, air mata mengalir dari mataku. Aku tahu ia benar. Aku menyukai kenikmatan itu. "Bapak harus pulang sekarang..." bisikku, mencoba mengumpulkan kekuatan.
"Iya, Bapak pulang, Ustadzah. Kapan-kapan Bapak ke sini lagi, ya," bisiknya, lalu berjalan keluar. Aku hanya bisa pasrah, membiarkan diriku tenggelam dalam perbuatan ini. "iya pak..."
Aku berdiri mematung di ambang pintu studio, menyaksikan Pak RT berjalan pergi. Tubuhku terasa lemas, namun aku mengikuti di belakangnya. Aku menunggu hingga ia keluar, lalu dengan cepat, aku menutup pintu rumah. Aku menyandarkan punggungku di pintu, memejamkan mata, merasakan gejolak dalam diriku yang semakin memuncak. Aku tahu ini salah, tapi aku tidak bisa berhenti. Aku hanya bisa pasrah, membiarkan diriku tenggelam dalam perbuatan ini.
Aku berjalan ke kamar mandi, membuka mukena kotor ini, lalu menyalakan air. Air dingin membasuh tubuhku, seolah ingin membersihkan setiap noda dan kebohongan yang menempel pada diriku. Setelah selesai mandi, aku mengambil air wudu, dan menunaikan salat Magrib.
Aku mencoba untuk khusyuk, tapi pikiranku terus melayang, memikirkan Pak RT. Bayangan penisnya yang besar dan tegang terus menghantuiku.
Setelah selesai shalat, aku langsung ke dapur. seperti biasa aku memasak nasi goreng, makanan kesukaan Mas Dimas. Suara wajan bergesekan dengan spatula memenuhi keheningan, sebuah rutinitas yang terasa begitu damai.
Tak lama kemudian, aku mendengar suara mobil. Jantungku berdegup kencang. Aku mengambil napas dalam-dalam, mencoba terlihat normal. Pintu terbuka, dan Mas Dimas masuk. "Sudah pulang, Mas?" sapaku. menyambutnya di depan pintu.
"Sudah, Dek, rapatnya sudah selesai," jawabnya, suaranya terdengar lelah.
"Yuk, makan, Mas."
Kemudian kami makan. Kami duduk di meja makan yang sama, dengan percakapan ringan yang biasa kami lakukan. Tapi aku tahu, ada sesuatu yang berbeda. Ada jurang yang tersembunyi di antara kami.
Setelah makan, Mas Dimas langsung menggandeng tanganku. Ia menuntunku ke dalam kamar, menciumku dengan ganas. Ciumannya begitu menuntut, begitu liar, berbeda dari biasanya. Tangannya menjelajahi setiap inci tubuhku, meremas payudaraku dari luar gamis.
"Ahh, Mas... pelan-pelan," bisikku, suaraku parau.
Ia tidak peduli, terus menciumku dengan rakus, tangannya semakin brutal. Ia melepaskan gamisku, lalu bra dan celana dalamku. Aku hanya bisa pasrah. "Mas... kenapa begini?" tanyaku, suaraku bergetar.
"Aku kangen Adek," bisiknya, suaranya serak. "Mas ingin Adek. Mas ingin merasakan setiap inci tubuh indah Adek ini."
Ia mendorongku hingga aku berbaring tak berdaya di atas ranjang. Matanya menatapku, penuh gairah, sebuah tatapan yang terasa asing, namun juga begitu memabukkan. Perlahan, tangannya membuka gamisku, menyingkap setiap lapisannya. "Adek cantik banget," bisiknya, suaranya serak. "Mas mau lihat kamu tanpa sehelai benang pun."
Ia melepaskan gamisku, kemudian tangannya menyentuh jilbab dan cadarku. "Mas suka Adek yang alim," bisiknya lagi, "tapi Mas lebih suka Adek sedikit lebih nakal, yang bisa buat Mas gila." Ia melepaskan jilbab dan cadarku, lalu bra dan celana dalamku. Aku kini telanjang di hadapannya, tubuhku gemetar. Ia menindihku, bibirnya mencium leherku, lalu mengulum putingku, menghisapnya dengan ganas. Sensasi itu begitu kuat, begitu memabukkan, tapi entah mengapa, terasa hambar. Bayangan Pak RT, sentuhannya, dan penisnya yang besar terus menghantuiku.
Ia berhenti. Matanya menatap dadaku, menunjuk bekas merah di sana. "Apa ini, Dek?" tanyanya, suaranya terdengar dingin.
"Itu... itu tadi digigit semut, Mas. Terus Adek garuk, jadi merah..." alasanku, suaraku bergetar.
Ia menyeringai, senyum penuh arti. "Digigit semut? Semutnya nakal banget, ya, Dek." Ia tidak peduli. Ia kembali menunduk, mengulum putingku, menghisapnya dengan ganas, sementara tangannya meremas payudaraku. Aku mendesah tak karuan, tak bisa menahan diri. "Ahh... ahh... iya, Mas... terus... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.
"Ahh... Sayang... Aku suka... payudara Adek memang idaman semua lelaki. Ahhh..." desahnya, suaranya serak. "Aku suka melihat Adek keenakan seperti ini... Ahhh.."
Aku terkejut, kenapa Mas Dimas mengucapkan hal seperti itu. "Sama, Mas... aku juga... Ahhh... aku suka jadi idaman semua lelaki..." rintihku, suaraku parau.
Mas Dimas mengangkat tubuhnya dariku, napasnya memburu. Ia melepaskan semua pakaiannya, menampakkan tubuhnya yang telanjang, kekar dan tampan, Pemandangan itu seharusnya membangkitkan gairahku, tapi pikiranku masih dipenuhi bayangan Pak RT.
ia kembali menindihku, lalu tangannya memegang penisnya yang tegang. Ia menyeringai, lalu tanpa aba-aba, ia langsung memasukkan penisnya ke dalam vaginaku. Aku mendesah, napasku tercekat. Sensasi itu begitu aneh, begitu asing, tapi entah mengapa, terasa begitu hambar.
"Ahh... Sayang... enak banget," desahnya, suaranya serak. Ia mulai menggenjot, pelan-pelan, ritmis. "Ahh... ahh... terus... enak..."
Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut. Aku berusaha untuk menikmati sentuhannya, tapi sensasi itu terasa begitu... biasa. Tidak ada sensasi brutal yang diberikan Pak RT, tidak ada kejutan, tidak ada gairah yang membakar.
"Mas... ahh... terus..." rintihku, mencoba terdengar penuh gairah.
"Aku suka, Sayang," bisiknya, ia terus menggenjot. "Aku suka memek Adek yang sempit ini. Aku suka payudara Adek yang idaman semua lelaki..."
Aku terkesiap. Kenapa Mas Dimas mengucapkan hal yang sama seperti Pak RT? Apakah ia tahu? Aku merasa takut, tapi pada saat yang sama, aku merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku. Rasa takut itu berubah menjadi gairah, sebuah gairah yang begitu gelap, begitu liar.
"Sama, Mas... aku juga... Ahhh... aku suka jadi idaman semua lelaki..." rintihku, suaraku parau, penuh pengakuan.
Gerakannya semakin cepat, semakin brutal. Ia menggenjotku dengan penuh nafsu. Aku mendongakkan kepala, memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut. "Ahh... ahh... lebih cepat, Mas... Ahhh! Enakkk!"
"Aku suka, Sayang," bisiknya. "Aku suka melihat Adek keenakan seperti ini... Ahhh... aku mau keluar..."
Ia menggenjot dengan lebih cepat, lebih brutal "Ahh.. Aku keluar.. Ahhh..." rintih Mas Dimas, suaranya serak. Aku merasakan cairan hangat menyembur di dalam vaginaku. Tubuh Mas Dimas ambruk di atasku, terengah-engah.
Namun, di dalam hatiku, yang kurasakan bukanlah kepuasan, melainkan kekecewaan. Ia sudah selesai. Seperti biasa. Aku mencoba menahan napas, menahan kekosongan di hatiku. Aku tidak orgasme. Aku hanya mendesah karena sensasi yang ia berikan, tapi ia tidak pernah bisa membawaku ke puncak.
Mas Dimas ambruk di sampingku, napasnya memburu. Ia telah mencapai puncaknya, tetapi aku masih terbaring hampa, tanpa orgasme. Aku menatap langit-langit, bingung harus berbuat apa. Di benakku, bayangan Pak RT kembali muncul, sentuhannya yang brutal dan penisnya yang besar. Aku memikirkan tawaran Mas Bims, sebuah tawaran yang terasa begitu kotor tapi juga begitu memikat.
Aku bangkit, dengan keadaan masih telanjang. "Mas, aku pakai kamar mandi luar," bisikku. "Mas bersih-bersih di kamar mandi dalam saja."
Ia hanya mengangguk, terlalu lelah untuk membalas. Aku mengambil ponselku, lalu keluar dengan cepat, menuju studio live-ku. Aku mengunci pintu, jantungku berdebar kencang. Dengan tangan gemetar, aku membuka WhatsApp dan mengetik pesan untuk Mas Bims.
"Mas Bims," ketikku.
Tak lama, balasan darinya masuk. "Iya, Sayang? Kenapa?"
"Aku habis bersenggama sama suami, tapi dia keluar duluan," balasku, suaraku parau.
"Gimana tawaran Mas kemarin? Mau enggak dipuasin teman Mas yang kontolnya gede itu?" tanyanya, suaranya serak, penuh godaan.
Aku terdiam, bingung harus membalas apa. "Emm, gimana ya, Mas..." jawabku, jemariku gemetar, tak bisa menahan diri. Aku tahu ini salah, tapi aku tidak bisa menghentikannya. Aku ingin kenikmatan itu, kenikmatan yang belum pernah kudapatkan dari suamiku.
"Gimana Sayang?" balas Mas Bims penuh godaan. "Mas jamin kamu bakal puas kalau dientot kontol dia. Kamu harus percaya sama aku. Aku enggak pernah bohongin kamu, Sayang."
Aku membaca pesannya, air mata mengalir dari mataku. Aku tahu ini salah, tapi aku tidak bisa menolaknya. Aku menginginkan kenikmatan itu, kenikmatan yang belum pernah kudapatkan dari suamiku. Jemariku gemetar saat aku mengetik. "Aku enggak mau, Mas. Aku enggak bisa... aku enggak mau sejauh itu..." rintihku.
"Kenapa, Sayang?" bujuknya, suaranya melembut, penuh rayuan. "Aku tahu kamu menginginkan ini. Jangan bohongi dirimu sendiri. Kamu harus berani, Sayang. Kamu harus mencoba hal-hal baru."
Aku terdiam, nafsuku kembali menguasai diriku. Aku tahu, ia benar. Aku menginginkan kenikmatan itu. Aku perlahan mengangguk, dan dengan gemetar, aku mengetik. "Yaudah, Mas... aku mau ketemu dia, tapi jangan sampai bersetubuh ya, mas, aku enggak mau..." balasku.
"Bagus, Sayang," balasnya, suaranya penuh kemenangan. "Enggak apa-apa kalau kamu enggak mau ngentot sama dia, tapi kalau besok ternyata kamu mau, jangan malu-malu buat minta dientot dia, ya."
Aku membaca pesannya, jantungku berdebar tak karuan. Ia tahu, ia tahu aku lemah. Ia tahu aku membutuhkan perhatian ini. Aku kembali mengetik. "Iya, deh, Mas... aku enggak akan minta disetubuhi."
"Hehehe... Mas yakin nanti kamu pasti minta." Kemudian Mas Bims mengirim sebuah video. Di layar, seorang pria paruh baya yang sama seperti di foto kemarin menggoyangkan penisnya yang sangat panjang dan tegang. Aku terkejut, tak bisa menahan diri. Aku membelai vaginaku dari luar, merasakan gejolak dalam diriku yang semakin memuncak.
Aku mengambil sex toys yang dikirimkannya. Telur kecil itu terasa dingin di tanganku, sebuah sensasi yang terasa begitu asing, tapi entah mengapa, terasa begitu nyata. Aku memasukkannya ke dalam vaginaku, lalu menekan tombol di remote. Tubuhku tersentak, sebuah getaran aneh menjalar di seluruh tubuhku. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... Iyahh pak... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.
Setiap getaran membuatku menjerit pelan, "Ahh... ahh...". Aku tahu ini salah, tapi aku tidak bisa menghentikannya. Aku ingin kenikmatan itu terus berlanjut. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini. "Ahh... ahh... iya, Mas, aku suka..." desahku, suaraku parau, penuh pengakuan.
Aku terus mendesah, merasakan getaran dari telur kecil itu yang semakin kuat di dalam vaginaku. Mataku terpaku pada layar ponselku, di mana pria paruh baya itu menggoyangkan penisnya yang sangat besar dan tegang. Aku membelai vaginaku dari luar, merasakan gejolak dalam diriku yang semakin memuncak.
Kemudian, kuambil dildo. Kucium kepala penis dildo itu, sambil terus menonton video yang dikirim Mas Bims. Aku membayangkan dildo ini adalah penis Bapak itu. Sensasi dingin dan keras dari dildo itu di bibirku, berpadu dengan bayangan penis di layar, membuatku mendesah. "Ahh... gede banget punya Bapak..."
Aku terus mendesah, merasakan getaran dari telur kecil itu. Dildo itu kemudian kuselipkan di antara payudaraku yang besar. Aku menggesek-geseknya di sana, sambil meremasnya. Sensasi itu begitu kuat, begitu memabukkan. Napasku memburu, tubuhku panas. Aku mendongakkan kepala, memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini.
"Ahh... iyyaahh Pak... masukin, Pak... masukin penis Bapak ke vagina sempitku ini, Pak.. Ahhh..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan. Aku terus membayangkan jika aku disetubuhi oleh penis besar punya Bapak di video itu.
Aku memaju-mundurkan dildo itu di antara payudaraku, semakin cepat, semakin brutal. Aku merasakan putingku menegang, dan getaran dari telur kecil di dalam vaginaku semakin kuat. "Ahh... ahh... terus, Pak... enak... Ahhh!" rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan. Aku membayangkan bapak itu menggenjotku, mengentotku, dengan penisnya yang besar dan brutal. Aku membayangkan ia membuatku menjerit keenakan.
"Ahh... ahh... lebih cepat, Pak... Ahhh! Enakkk!" rintihku, suaraku parau.
Aku terus menggesekkan dildo itu, dan getaran di dalam vaginaku semakin kuat. Aku menjerit, "Ahhh... Ahhhh!.. Tiara keluar pak. Ahhh.." Tubuhku kejang, pinggulku bergerak tak terkendali. Aku merasakan gelombang kenikmatan membanjiri seluruh tubuhku. Aku orgasme hebat, sebuah ledakan kenikmatan yang begitu kuat, begitu nyata, dan begitu memabukkan. Setelah itu, aku terengah-engah, lemas, dan ambruk di kursi…
Aku mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk bangkit dari kursi. Tubuhku lemas, tapi hatiku diliputi kepuasan yang luar biasa. Aku kembali menyimpan sex toys ku, Kemudian Aku berjalan terhuyung-huyung ke kamar mandi yang berada di dapur. Di sana, aku menyalakan shower, membiarkan air dingin membasuh setiap lekuk tubuhku, Setelah bersih, aku hanya melilitkan handuk di tubuhku. Kemudian aku berjalan menuju kamar.
Dengan handuk yang masih membalut tubuhku, aku membuka pintu kamar. Aku terkejut, Mas Dimas ternyata belum tidur. Ia terbaring miring menghadap pintu, menatapku dengan mata yang redup. Aku mencoba bersikap santai, memaksakan senyum. "Mas, kok belum tidur?" sapaku, suaraku sedikit bergetar.
Mas Dimas tidak menjawab. Tatapannya lurus menusuk ke arahku. Aku melangkah ke arah ranjang, berusaha mengabaikan tatapannya, tapi aku tidak bisa. Rasanya seperti ia tahu segalanya.
"Adek dari mana?" tanyanya, suaranya serak, penuh selidik.
Bersambungg...
