𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟑𝟑 𝐆𝐨𝐝𝐚𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐧𝐣𝐮𝐚𝐥 𝐒𝐚𝐲𝐮𝐫

Jantungku berdebar kencang. Aku tahu, ia tidak akan percaya jika aku mengatakan aku hanya pergi ke kamar mandi. Aku harus berbohong lagi. "Dari kamar mandi, Mas. Adek habis mandi," jawabku, sebuah kebohongan yang terasa hambar di lidahku.

Ia membelai pipiku yang basah oleh air mata, suaranya terdengar begitu tenang, tapi matanya penuh selidik. "Bapak yang kamu sebut tadi siapa, Dek?" tanyanya, suaranya serak.

Aku terkesiap, tubuhku membeku. Mataku membelalak. Ia tahu. Ia mendengar. Jantungku berdegup kencang, perasaanku campur aduk antara ketakutan dan rasa malu. Aku menunduk, tak berani menatap matanya. Aku tahu, aku tidak bisa berbohong lagi.

"Maaf, Mas, Adek tadi masturbasi di studio..." rintihku, suaraku parau, penuh pengakuan. "Maaf, Mas, tapi Adek enggak bisa gini terus. Adek butuh kepuasan ketika bersenggama, jadi Adek putuskan buat masturbasi tadi, maaf ya, Mas. Mas jangan marah yaa..."

Ia tidak menjawab. Ia hanya terus membelai pipiku, membiarkan air mataku membasahi tangannya. "Adek tadi masturbasi sambil ngapain?" tanyanya, suaranya terdengar lebih tenang dari yang kurasa.

Aku menelan ludah. Aku tahu, ia benar-benar ingin tahu. Aku harus jujur, tapi tidak sepenuhnya. "Adek nonton film, Mas," jawabku, suaraku bergetar. "Masturbasi sambil nonton film porno."

Ia mengangguk, seolah itu adalah jawaban yang ia harapkan. "Lalu kenapa Adek ada panggil kata Bapak?"

Jantungku berdebar kencang. Ini adalah titik yang paling berbahaya. Jika aku mengatakan yang sebenarnya, semuanya akan hancur. Aku memaksakan sebuah kebohongan yang terasa hambar di lidahku. "Itu adegan di filmnya, Mas. Adek cuma ngikutin suaranya."

Ia menghela napas, lalu memelukku erat. Aku terkejut, tubuhku membeku, tapi ia tidak melepaskannya. "Yaudah, Dek, Mas maafkan," bisiknya, suaranya serak. "Maafkan Mas ya, Dek, Mas enggak bisa puasin Adek. Mas izinin Adek masturbasi, Mas izinin Adek cari kepuasan. Asal enggak sama cowok lain ya, Dek."

Aku terdiam, tak bisa berkata-kata. Ia mengizinkan. Ia mengizinkan aku melakukan hal yang kusembunyikan darinya. Aku tidak tahu harus merasa bersalah atau lega. Aku hanya bisa menangis di pelukannya, membiarkan air mataku membasahi bahunya.

"Makasih, Mas... Mas baik banget..." bisikku, suaraku parau, penuh pengakuan. Aku memeluknya lebih erat, membiarkan diriku tenggelam dalam kehangatan yang sesungguhnya.

Setelah aku terlelap dalam kelelahanku, pagi harinya seperti biasa aku bangun. Mas Dimas sudah bangun, ia terlihat sedang merenung. Setelah itu aku sholat subuh, kemudian aku langsung ke dapur, memasak sarapan, nasi goreng kesukaan Mas Dimas. Suasana terasa begitu damai. Setelah sarapan, Mas Dimas bersiap-siap untuk berangkat kerja. Ia mengecup keningku, lalu melambaikan tangan, dan mobilnya melaju, meninggalkanku sendirian di rumah.

Aku mulai bersih-bersih rumah. Menyapu, mengepel, lalu mencuci piring. Semua terlihat normal, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi. Namun, pikiranku terus kembali ke kejadian semalam, ke sentuhan Pak RT, dan kekosongan yang kurasakan setelah Mas Dimas keluar duluan.

Tiba-tiba, aku mendengar teriakan tukang sayur, "Sayuurr... sayuurrr!" Suaranya terdengar nyaring dan familiar. Aku bergegas ke depan rumah, memanggilnya. "Pak, mau sayur!"

Pedagang itu berhenti di depan rumahku. Ia adalah seorang pria muda, sekitar 30 tahunan, dengan senyum yang ramah. "Iya, Bu Ustadzah, mau sayur apa?" tanyanya, suaranya serak.

Aku tersentak, suaranya mengingatkanku pada Pak RT. Aku menunduk, malu, tapi pada saat yang sama, aku merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku. "Bentar pak aku ambil dompet dulu" Aku kembali ke kamar, mengambil dompetku, lalu kembali ke depan rumah dengan sedikit berlari.

"Mau sayur apa, Bu Ustadzah?" tanyanya lagi. Ia menatapku, matanya tak lepas dari payudaraku yang besar yang tercetak jelas di balik gamisku yang longgar.

"Mau... sayur kangkung sama bayam, Pak, pilihin yang seger ya, Pak," jawabku, suaraku sedikit bergetar.

Ia menyeringai. "Iyaa, Ustadzah, ini kupilihin sayur yang paling seger seperti Ustadzah, apalagi kangkungnya. Masih basah banget kayak Ustadzah kalau malam-malam sama suami, basah hehe," ucapnya dengan suara penuh godaan. Aku terdiam, jantungku berdebar tak karuan. Pikiranku langsung melayang ke kejadian kemarin, ke sentuhan Pak RT yang brutal dan penisnya yang besar membuat vaginaku basah.

"Pak, ihh, emang Bapak suka godain istri orang di komplek sini yaa... jadi takut belanja lagi," kataku, suaraku sedikit bergetar, mencoba terdengar kesal, tapi di dalam hatiku, ada sensasi aneh yang tidak bisa kuingkari.

Pedagang itu tertawa pelan. Ia menyeringai, senyumnya penuh arti. Ia menunduk, lalu mendekatkan bibirnya ke telingaku. "Enggak, Bu Ustadzah," bisiknya, suaranya serak, penuh godaan. "Bapak cuma godain Ustadzah aja. Abisnya Ustadzah seksi banget, pakai daster longgar gitu. tapi masih nyembul sebesar itu". ucapnya. aku tau yang di maksud adalah payudaraku.

"Ihh, Bapak jangan aneh-aneh yaa."

"Iya Ustadzah. Ustadzah mau sayur apa lagi?" tanyanya, matanya tak lepas dari dadaku yang besar.

"Hmm, apa yaa... bingung mau masak apa."

"Mau terong enggak? Terongku besar loh, Ustadzah."

"Mau, Pak." Kemudian Aku melihat-lihat terong di gerobaknya.

"Sini Ustadzah, terong yang besar aku simpan di sini." Aku mengangguk, lalu ku lihat tukang sayur itu. Dia menunjuk celananya. Aku membelalak. Dia mengelus penisnya dari luar celana. Mataku tersentak. Aku bisa melihat penisnya yang besar dan panjang, menegang, mencetak jelas di balik kain celananya yang tipis. Besar sekali penisnya.

"Gimana, Ustadzah? besar kan terongku?" ucapnya, suaranya serak, penuh kemenangan. "Ustadzah suka, kan, lihatnya, pegang aja kalau ustadzah mau."

Seperti terhipnotis, aku melangkah ke arahnya. Pikiranku kalut, akal sehatku berteriak, tapi kakiku seolah memiliki kehendak sendiri. Aku clingak-clinguk, memastikan tidak ada orang di sekitar. "Tenang aja, Ustadzah. Sepi kok," bisiknya. Aku kembali menatap tukang sayur itu. Senyumnya penuh arti, seolah tahu aku sudah tak berdaya.

Kemudian, tanpa aba-aba, dia menurunkan celana kolornya. Mataku membelalak. Terpampang jelas di hadapanku, penisnya yang sangat besar dan panjang, lebih besar dari punya Pak RT. Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Pemandangan itu begitu mengejutkan.

"Terong yang Ustadzah pegang tadi enggak ada apa-apanya, kan, dibanding ini?" bisiknya, ia menyeringai. Ia meraih tanganku, menuntunnya ke penisnya yang tegang. Aku hanya nurut ketika tangannya menuntunku untuk menyentuh penisnya.

"Ahh... halus banget tangan Ustadzah," desahnya, suaranya serak, matanya terpejam. "Gimana, Ustadzah, terongku? besar kan?"

"Iyaa... besar, Pak..." rintihku, suaraku parau.

"Aku suka tangan Ustadzah yang lembut ini. Kocokin, Sayang... Kocokin kontol Bapak.. "

Aku memejamkan mata, merasakan sensasi menggenggam penisnya itu. Penisnya begitu besar, begitu keras. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku menyukainya. Ia menuntun tanganku, mulai mengocoknya, perlahan, lalu semakin cepat.

Ia melepaskan tangannya yang menuntunku. Tanganku tetap mengocok penisnya, mengikuti irama desahanku. Ia menyeringai, lalu mendekatkan bibirnya ke telingaku. "Ahh, Ustadzah... hebat banget..." desahnya. sementara tanganku terus mengocok penisnya.

"Ustadzah, boleh aku pegang dadanya ustadzah, enggak?" rayunya, suaranya serak, penuh godaan. "Aku pengen banget rasain payudara Ustadzah yang besar itu."

" jangan, Pak. Ini di samping jalan. Nanti dilihat orang," bisikku, Aku ingin menolak, suaraku parau, dipenuhi ketakutan yang nyata.

Ia tersenyum. Kemudian Ia menuntunku masuk di balik pagar rumahku. "Nahh, di sini Ustadzah aman. Gak bisa dilihat dari jalan. Karena ketutupan tembok pagar," bisiknya, suaranya serak.

Aku hanya diam menatap penisnya. Pikiranku kalut, akal sehatku berteriak, tapi tubuhku seolah memiliki kehendak sendiri. Kemudian kupegang lagi penisnya. Ku kocok. Sensasi itu begitu kuat, penis nya yang sangat besar begitu memabukkan.

"Ahh, Ustadzah...kocokanmu hebat banget," desahnya, suaranya serak, matanya terpejam. "Enak, Sayang... terus..."

Kemudian, tangannya memegang payudaraku. Ia meremasnya, gerakannya begitu kasar, penuh dengan nafsu. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... iya, Pak... terus... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

"Ahh... besar banget susu Ustadzah. Kenceng banget..." bisiknya. "Aku suka. Aku suka payudara Ustadzah yang besar ini."

Ia terus meremas payudaraku dengan kasar, sementara tanganku terus mengocok penisnya. Gerakan itu, setiap remasan, setiap kocokan, membuatku mendesah semakin keras. "Ahh... ahh... terus, Pak... enak... Ahhh!" rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

Aku terus meremas penisnya, dan aku, entah mengapa, tidak bisa menghentikan perbuatan ini. Aku hanya bisa pasrah, membiarkan diriku tenggelam dalam perbuatan ini. "Ahh... ahh... iya, Pak... terus... enak..." rintihku,

Kemudian, tangan kirinya mengangkat gamisku. Tanganku yang tadinya mengocok penisnya kini ku lepaskan mencegah perbuatan nya. "Jangan, Pak... ahh..." rintihku, mencoba mencegah tangan kirinya yang mengangkat gamisku, tapi tenagaku tidak kuat. Ia berhasil mengangkat gamisku sampai pinggang. Tangannya masuk, mengelus paha, lalu perlahan hinggap di depan vaginaku yang masih memakai celana dalam. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... ahh... iya, Pak... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

Ia menyeringai, senyumnya penuh arti. "Memek Ustadzah... Bapak suka... Ahhh..." desahnya, suaranya serak. Ia terus meremas payudaraku, mencium leherku dari luar jilbab, lalu mencium payudaraku dari luar gamis. Aku mendesah tak karuan, tak bisa menahan diri. Rangsangan nya begitu nyata"Ahh... ahh... iya, Pak... terus... enak..." rintihku,

Pria itu menyeringai, senyumnya penuh kemenangan. Tangan kirinya masih mengelus paha dalamku dan Vaginaku dari luar celana dalam, sementara tangan kanannya kini melepaskan remasan dari payudaraku, dengan kasar tanpa menunggu persetujuanku, kedua tangannya meraih karet celana dalamku. Aku terkesiap. "Jangan, Pak... aku mohon jangan di lepas ini ku..." rintihku, tapi suaraku hanya terdengar seperti bisikan yang putus asa.

Ia tidak peduli. Dengan gerakan cepat, ia menurunkan celana dalamku hingga ke lutut. Tubuhku kini telanjang dari pinggang ke bawah. Rasa malu yang membanjiri diriku bercampur dengan gairah aneh yang tak bisa kuingkari. Sensasi setengah telanjang di luar rumah begitu membuat ku hilang kendali.

Ia menyeringai, "Ahhh... Ustadzah... memek Ustadzah basah banget..." bisiknya, suaranya serak. Ia menunduk, matanya menatap vaginaku yang basah dan berbulu halus. "Bagus banget memek Ustadzah... Aku suka banget. Memek terbaik yang pernah ku lihat."

Ia melebarkan kakiku, lalu dengan jari-jarinya yang kasar, ia mulai menggesek-gesek bibir vaginaku. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku tidak bisa menolaknya. "Ahh... ahh... iya, Pak... terus... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

Ia tertawa, tawa penuh kemenangan. "Ustadzah, Aku akan buat Ustadzah ketagihan," bisiknya. "Aku janji. Ustadzah akan ketagihan sama kontolku ini.."

Kemudian ia memasukkan satu jarinya. Aku tersentak, menjerit, "Ahh... Pak, sakit!" Suaraku parau, dipenuhi rasa sakit yang tajam, tapi anehnya, ada sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku.

Ia menyeringai, senyumnya penuh kemenangan. Ia terus menggerakkan jarinya di dalam vaginaku yang sempit. "Sempit banget memek Ustadzah," bisiknya, suaranya serak, penuh nafsu. "Gak sabar Bapak mau ngentotin memek sempit ini pake kontolku."

Aku menggeleng, air mata mengalir dari mataku. "Ahh, jangan, Pak, jangan... Aku enggak mauuu..." rintihku, suaraku parau, penuh permohonan. Aku mencoba menahan tangan nya, tapi tenaganya terlalu kuat.

Ia tertawa, tawa penuh kemenangan. Ia menunduk, mencium leherku, lalu berbisik, "Ustadzah pasti ketagihan kalau sudah nyoba kontolku.."

"Jangan, Pak," bisikku, suaraku bergetar. Aku tahu ini salah, tapi aku tidak bisa menghentikannya. Ia terus menggerakkan jarinya, dan aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... ahh... iya, Pak... terus... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

Pria itu menyeringai, senyumnya penuh kemenangan. Ia kemudian membalikkan badanku, memposisikan pinggangku untuk menungging. "Nungging, Ustadzah," ucapnya sambil mengarahkan badanku untuk sedikit menunduk. Tangannya masuk ke gamisku, meraih pengait braku di punggung, dilepaskannya. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... Pak... jangan..."

Ia tidak peduli, merangkulku dari belakang. Kedua tangannya meremas payudaraku dengan brutal. "Ahh... besar banget susu Ustadzah... enak..." desahnya, suaranya serak. Ia menempelkan pinggangnya ke pantatku, aku bisa merasakan penisnya yang besar dan tegang itu menggesek-gesek sela-sela pantatku. "Ahh... ahh... iya, Pak... terus... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

Ia bergoyang seperti sedang menggenjot, gerakannya semakin cepat dan brutal. Aku bisa merasakan penisnya yang besar itu menggesek-gesek pantatku, membuatku mendesah semakin keras. "Ahh... ahh... lebih cepat, Pak... Ahhh! Enakkk!" rintihku, suaraku parau.

"Aku suka, Sayang," bisiknya, suaranya serak. "Aku suka melihat Ustadzah keenakan seperti ini... Ahhh... aku mau keluar..."

"Sama, Pak... aku juga... Ahhh... Aku sukaa penis besar.. Ahh.." rintihku, suaraku parau.

Ia bergoyang seperti sedang menggenjot, gerakannya semakin cepat dan brutal. Aku bisa merasakan penisnya yang besar itu menggesek-gesek pantatku, membuatku mendesah semakin keras. "Ahh... ahh... lebih cepat, Pak... Ahhh! Enakkk!" rintihku, suaraku parau.

Kemudian, tangan kirinya turun menuju vaginaku, menyelipkan jari-jarinya di celah bibir vaginaku. Aku terkesiap, tubuhku membeku. "Ahh... Pak... jangan..." bisikku, suaraku parau.

Ia tidak peduli. Ia terus menggesek-gesekkan penisnya di pantatku, sementara tangannya mencari-cari lubang vaginaku. "Aku akan buat kamu lebih enak, Sayang," bisiknya, suaranya serak di telingaku. "Aku janji."

Tiba-tiba, ia memasukkan jarinya ke dalam vaginaku. Aku menjerit, "Ahhh!..." Kepalaku mendongak, mataku terpejam, tubuhku bergetar hebat. Sensasi itu begitu kuat, begitu memabukkan. "Ahh... ahh... iya, Pak... terus... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

Ia tertawa, tawa penuh kemenangan. "Ustadzah suka, kan?" bisiknya. "Aku tahu Ustadzah suka di mesumin gini kan, ustadzah aslinya binal kan.."

Aku hanya bisa mengangguk, " Iyahh.. Suka pak..Ahh.." air mata mengalir dari mataku. Aku merasa sangat malu, tapi pada saat yang sama, aku tahu ia benar. Aku telah jatuh terlalu dalam, tidak bisa mengendalikan tubuh indahku ini untuk di nikmati orang lain selain suamiku.

"Ahh, Ustadzah, aku enggak tahann... aku mau entot memek Ustadzah!" bisiknya serak, suaranya penuh nafsu yang tak tertahankan.

"Jangan, Pak, aku enggak mau kalau sampai begitu," rintihku, suaraku parau, dipenuhi ketakutan yang nyata. Aku mencoba mendorong tubuhnya, tapi ia tidak peduli.

Dengan kasar, ia melepas tangannya dari vaginaku dan payudaraku. Tangan kirinya memegang pinggangku, meremasnya kuat-kuat. Tangan kanannya menuntun kepala penisnya yang sangat besar dan tegang menuju bibir vaginaku. "Nikmatin, Sayang... aku janji kamu bakal suka," bisiknya, suaranya serak.

Aku melawan, mencengkeram pinggang nya, mencoba mendorongnya ke belakang, tapi tenagaku tidak sebanding dengannya. Aku tidak bisa melawan. Ia memegang kepalaku, mencium bibirku dari balik cadar, lalu perlahan menggesekkan penisnya ke bibir vaginaku, lalu perlahan mendorong penisnya. Aku merasakan rasa sakit yang begitu dahsyat. Kepala Penisnya membelah bibir vaginaku. Penis yang sangat besar itu berusaha masuk ke dalam vagina sempitku.

"Ahhh! Pak! Sakitttt!" jeritku, air mata mengalir deras dari mataku. "Jangan... Pak... jangan dimasukkan..." rintihku, suaraku parau.

Bersambungg...


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com