Aku merasakan kepala penisnya membelah bibir vaginaku, dia mendorongnya masuk perlahan. Aku mulai pasrah dengan perbuatannya. Kepalaku mendongak, mataku terpejam, air mata mengalir deras. Desahan yang tadinya kupaksa kini keluar begitu saja, bukan lagi karena kenikmatan, melainkan perpaduan rasa sakit, takut, dan pasrah. "Ahh... Pak... Ahhh..."
Tiba-tiba, suara nyaring dari gerobak sayur di luar pagar memecah keheningan yang mencekam itu. "Sayur! Sayurrr! Mana nih tukang sayurnya, kok hilang?!"
Kami berdua kaget, tubuhku menegang seketika. Aku mendorong tubuhnya dengan sisa kekuatan yang ada. Pak tukang sayur itu juga tersentak, dengan cepat menarik kembali penisnya dari depan vaginaku. Kami berdua terdiam, napas kami memburu, jantungku berdegup tak karuan.
"Sial!" desis tukang sayur itu, suaranya penuh kekesalan. Ia segera merapikan celananya. "Ada ibu-ibu belanja, haduh sialan, ganggu banget. Sebentar ya ustadzah."
Ia melirik ke arah pintu pagar, lalu berbisik padaku, "Ustadzah, Aku layani orang beli dulu ya. Ustadzah sembunyi sebentar, ya. Nanti Bapak kembali."
Aku hanya mengangguk, tak bisa berkata-kata. Aku segera bersembunyi di balik pagar rumahku. Jantungku berdebar kencang, perasaanku campur aduk antara rasa malu, takut, dan lega.
Aku menunduk, mataku terpaku pada vaginaku yang basah. Jantungku berdebar tak karuan. Aku bisa mendengar suara tukang sayur itu yang melayani ibu-ibu.
"Maaf, Bu, habis buang air kecil barusan di rumah Ustadzah," ujar tukang sayur itu, suaranya terdengar begitu santai, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ohh, iya, Pak, enggak apa-apa," balas ibu-ibu itu.
"Mau beli apa, Bu?" tanya tukang sayur itu.
"Ini, Pak, mau beli sayuran sop, sama Masako," jawab ibu-ibu itu.
Tiba-tiba, akal sehatku kembali. Tubuhku tersentak, rasa malu yang luar biasa membanjiri diriku. Aku, seorang ustadzah, seorang mantan santriwati teladan, hampir saja melakukan perbuatan hina di depan rumahku sendiri. Aku segera menaikkan celana dalamku, memakainya kembali. Tanganku gemetar saat mengaitkan braku. Aku merapikan gamis, jilbab, dan cadarku, berusaha sekuat tenaga agar tidak ada satu pun yang terlihat mencurigakan.
Setelah merasa cukup rapi, aku kembali ke gerobak. "Ehh, Ustadzah Tiara," ucap ibu-ibu itu. Aku terkejut, ternyata itu adalah Bu Romlah, tetangga samping kanan rumahku.
"Ehh, Bu Romlah, belanja sayur, yaa," balasku, suaraku sedikit bergetar.
"Iya, Ustadzah," jawabnya sambil tersenyum.
Aku segera mengambil belanjaanku yang tadi sudah kupilih. Aku tidak berani menatap wajah tukang sayur itu, hanya bisa menunduk, malu.
"Sudah, Pak, ini," kataku, suaraku parau. "Berapa totalnya?"
Tukang sayur itu menatapku, matanya dipenuhi gairah yang masih tersisa. Ia menyeringai, lalu menjawab, suaranya kaku, "Ehh... eee... 7 ribu aja, Ustadzah."
Ku serahkan uang 10 ribu. "Kembaliannya ambil aja, Pak," kataku, lalu aku masuk ke rumah dengan langkah yang cepat. Ku tutup pintu rumah, ku kunci, dan aku langsung menaruh sayuran itu dalam kulkas.
Setelah itu, aku berjalan terhuyung-huyung ke arah studio. Aku duduk di kursi, menggenggam ponselku, dan membayangkan kejadian tadi. Aku merasa kotor, sangat kotor, tapi pada saat yang sama, ada sensasi aneh yang tidak bisa kuingkari, kepuasan dan sensasi baru, berbuat mesum di luar ruangan, ternyata cukup menyenangkan.
Aku mencoba mengalihkan pikiranku dari kejadian tadi. Aku mengecek video-video pendek, membalas chat-chat pelanggan, dan mulai mengemas pesanan-pesanan yang masuk. Rutinitas ini terasa menenangkan, seolah menarikku kembali ke duniaku yang lama, dunia ku sebagai tiara yang dahulu.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi pesan muncul dari Ustadzah Silmi. Kemudian aku membuka pesannya.
"Assalamualaikum, Tiara," ketiknya. "Kamu mau ikut enggak? Ada acara kopdar komunitas para penjual online. Biar tambah pengalaman jualan, dan sharing-sharing sama senior."
Aku terdiam. Ini adalah kesempatan emas. Sebuah jalan keluar dari kegelapan yang baru saja aku masuki. Sebuah kesempatan untuk kembali menjadi Tiara yang dulu, yang lurus dan fokus pada hal-hal baik. Aku tidak mau lagi terjebak dalam permainan kotor ini.
Aku membalas pesannya dengan cepat, jemariku gemetar. "Aku mau ikut dong ustadzah Silmi," ketikku. "Nanti jemput aku di rumah, yaa. Biar berangkat bareng ajaa.."
"Yaudah nanti aku jemput jam 11 yaa," balasnya.
Aku melihat jam di ponselku. Pukul 10.30. Aku masih punya waktu. Aku bangkit dari kursi, melangkahkan kaki ke kamar mandi. Aku harus membersihkan diri, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara mental. Aku ingin membuang semua kotoran yang menempel padaku.
Aku menyalakan shower, membiarkan air dingin membasuh tubuhku. Aku menggosok tubuhku, mencoba menghilangkan jejak sentuhan tukang sayur itu, tapi sensasi itu masih melekat di kulitku.
Setelah mandi, aku mengenakan gamis merah berenda seperti batik yang sederhana, jilbab lebar, dan cadar yang senada dengan gamisku. Aku ingin tampil sempurna dan stylish, seperti Tiara yang dulu. Aku ingin kembali menjadi Tiara yang dikenal sebagai ustadzah, bukan Tiara yang baru saja hampir berbuat maksiat di depan rumahnya sendiri.
Aku duduk di kursi studioku, menanti kedatangan Silmi. Pikiranku masih kacau, tapi hatiku sedikit lebih tenang.
Tak lama, ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Ustadzah Silmi. " ustadzah Tiara, aku sudah di depan rumahmu," ketiknya.
Aku bergegas ke depan rumah, dan kulihat sebuah mobil berhenti di depan pagar. Ustadzah Silmi melambai dari pintu kursi penumpang depan, senyumnya begitu cerah. "Ustadzah Tiara! Ayo cepat!" serunya.
Aku melangkah ke arah mobil. Ketika aku mendekat, ia menyuruhku duduk di kursi belakang. Aku mengangguk dan membuka pintu. Namun, aku terkejut. Di kursi belakang, ada seorang laki-laki yang duduk santai. Aku mematung sejenak, tapi Silmi mendorongku dengan ucapan nya. "Ayo, duduk saja. Nanti aku kenalin."
Aku masuk dan duduk di samping laki-laki itu. Tubuhku terasa kaku, mencoba menjaga jarak. Ustadzah Silmi menoleh ke belakang, senyumnya masih ada di bibirnya. "Ustadzah Tiara, kenalin, ini pacarku, Arif, yang nyetir," ujarnya. Lalu menunjuk laki-laki di sampingku, "Dan ini Rian, temannya."
"Assalamualaikum, Ustadzah," sapa Rian, suaranya serak. Ia menatapku, matanya tak lepas dari lekuk tubuhku terutama dadaku. Aku menunduk, malu, tapi pada saat yang sama, ada sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku, aku merasa bangga.
"Iya, Waalaikumsalam," jawabku, suaraku sedikit bergetar. "Maaf, aku tidak tahu kalau ada laki-laki. Ku kira Cuma ustadzah silmi yang jemput."
Arif tertawa, "Enggak apa-apa, Ustadzah. Justru bagus kalau ada kami. Biar kamu enggak kesepian, ada temen ngobrol di jalan."
Rian menyeringai. "Iya, Ustadzah. Kami akan buat Ustadzah nyaman kok bergaul sama kami. Tenang aja."
Aku hanya diam, tidak tahu harus membalas apa. Pikiranku kalut, mencoba mencerna semua yang baru saja terjadi. Kemudian, Arif menjalankan mobilnya, melaju meninggalkan halaman rumahku. Silmi di depanku tampak santai, seolah tidak menyadari ketegangan di antara kami.
Tiba-tiba, Rian kembali berucap. Suaranya serak, penuh godaan. "Masya Allah, Ustadzah... di balik gamis dan cadar yang Ustadzah pakai, ternyata Ustadzah menyimpan keindahan yang luar biasa. Cantik banget." Ia menyeringai, matanya melirikku dari spion tengah. "Ditambah pakai gamis ini jadi makin cantik deh."
Aku melihat gamisku, dan aku kaget, aku baru sadar ternyata gamis yang aku pakai cukup ketat. Kainnya membalut lekuk tubuhku dengan sempurna, menampilkan setiap lekuk tubuhku. Jilbab lebarku terlihat sangar, menonjolkan payudaraku yang besar di baliknya. Pantes saja Rian komentar seperti itu. Jantungku berdebar kencang, perasaanku campur aduk. Ada rasa malu yang menusuk, tapi anehnya, aku juga suka mendengar pujiannya.
"Ihh, Rian, bisa aja deh," ucapku, suaraku sedikit bergetar, terdengar malu-malu.
Arif, yang tadinya diam, kini ikut berkomentar, tawanya terdengar renyah. "Gak bohong emang si Rian. Tiara memang cantik. Pasti disana nanti banyak yang naksir."
Silmi menoleh ke belakang, menatapku, lalu tertawa. "Iya, Ri, dia memang cantik. Makanya aku ajak dia gabung di komunitas. Biar banyak yang terinspirasi dari penampilan dia."
Rian, yang duduk di sampingku, kembali berucap. Ia menyeringai, matanya melirik ke arah dadaku. "Banyak yang terinspirasi atau banyak yang naksir, nih?" godanya. "Aku rasa sih, yang kedua, haha," ucapnya, suaranya serak. "Apalagi Ustadzah Tiara se seksi ini, laki-laki mana yang enggak naksir."
"Kamu jangan aneh-aneh ya, Rian," sahut Silmi, mencoba menginterupsi. "Ustadzah Tiara itu sudah punya suami, tau!"
"Wahh, serius nih?" Rian memasang wajah pura-pura terkejut. "Waduh, patah hati aku. Huhu."
Arif, pacar Silmi yang sedang menyetir menimpali sambil tertawa. "Gak apa-apa kan baru punya suami, jadi pacar kan bisa. haha"
"Huss, itu namanya selingkuh!" ucap Silmi, suaranya terdengar tegas.
Aku terdiam, hatiku berdebar kencang. Meskipun aku tahu ini salah, anehnya aku suka mendengar percakapan mereka. Aku merasa bangga. Aku merasa diperebutkan banyak laki-laki. Perasaan ini begitu memabukkan, Aku menunduk, menyembunyikan senyum banggaku yang tak bisa kutahan.
Rian menoleh ke arahku mendekatkan dirinya ke arahku, suaranya berbisik ke telingaku pelan. "Suami Ustadzah pasti beruntung punya istri yang seksi kayak Ustadzah," katanya.
"Kalo aku yang jadi suami ustadzah pasti aku betah banget di rumah, Ahhh... aku jadi penasaran. Boleh gak nanti aku chat Ustadzah yaa."
Aku terkesiap, tubuhku membeku. "Jangan, Rian... itu... itu salah," bisikku, suaraku parau.
"Enggak salah, kok, Ustadzah," balasnya, " Kan aku sama Ustadzah cuma sharing aja. Sharing tentang apa yang Ustadzah suka. Tentang jualan online. Sharing tentang... betapa seksi Ustadzah, haha."
Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku menyukai sensasi ini. Aku suka dipuji, suka dianggap seksi. Ia telah berhasil menarikku ke dalam permainannya, permainan yang lebih berbahaya dari yang pernah kubayangkan.
"Ustadzah, boleh minta nomor HP enggak?" tanya Rian, penuh godaan. "Biar kita bisa sharing-sharing lebih banyak."
Aku terdiam, ragu. Memberikan nomor teleponku adalah langkah yang terlalu jauh. Itu berarti aku akan memberinya akses ke duniaku yang paling pribadi. Itu berarti aku akan membiarkannya masuk lebih dalam ke dalam kehidupanku yang penuh rahasia ini.
"Jangan, Rian... itu... itu salah, Aku sudah punya suami" bisikku, mencoba menolak.
"Enggak salah, kok, Ustadzah," balasnya. "Ustadzah kita cuma sharing aja, kok."
Arif, yang tadinya diam, kini ikut menimpali. "Iya, Ustadzah Tiara. Kasih aja. Dia itu orangnya baik kok. Cuma suka bercandaan aja."
Aku menunduk, mataku menatap lantai mobil. Aku tahu, mereka tidak akan menyerah. Mereka akan terus merayuku sampai aku menyerah. Dan aku, entah mengapa, menginginkan itu. Aku menginginkan mereka untuk terus merayuku. Aku menginginkan mereka untuk terus membuatku merasa diinginkan.
Dengan tangan gemetar, aku meraih ponselku. Aku mengetik nomor teleponku, lalu memberikannya pada Rian.
"Makasih, Ustadzah," bisiknya, suaranya penuh kemenangan. "Aku akan pastikan Ustadzah enggak akan nyesel kenalan sama aku."
Tak terasa perjalanan kita sampai di sebuah gedung seminar. Kami berempat antri untuk masuk, disambut dengan keramaian yang sudah ada di dalam. Acara sepertinya sudah dimulai, dan kami harus mencari tempat duduk. Kami berjalan perlahan, mencoba tidak mengganggu para peserta yang sudah fokus mendengarkan pembicara.
Di sana acaranya sudah mulai. Pembicaranya adalah para penjual dengan omset yang besar, katanya. Kami berempat kebagian duduk di paling belakang. Posisinya, aku diapit Rian di kananku, Arif di kiriku, kemudian Ustadzah Silmi di kirinya Arif. Jadi aku benar-benar diapit Rian dan Arif. Tubuhku terasa kaku, mencoba menjaga jarak dari mereka berdua, tapi kursi yang sempit membuat itu mustahil.
"Nah, begini, Ustadzah, kita bisa lebih fokus kalo duduk di belakang gini," bisik Rian, suaranya serak, menusuk telingaku. Aku bisa merasakan paha kirinya menempel di paha kananku. "Apalagi kalau diapit begini, Ustadzah akan merasa aman."
Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku menunduk, tak berani menatapnya. Di sisi kiriku, Arif juga tidak tinggal diam. Ia menyeringai, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga kiriku. "Rian benar, Ustadzah. Kami akan pastikan Ustadzah nyaman di sini," bisiknya. Aku bisa merasakan tangannya yang hangat menyentuh paha kiriku.
"Pembicaranya bagus, ya, Ustadzah?" bisik Rian lagi, tapi tangannya yang tadinya diam kini bergerak, meraba pahaku. "Tapi lebih bagus lagi kalau mandang Ustadzah," bisiknya. "Lebih indah."
Aku menelan ludah, seluruh tubuhku menegang. Napasku memburu, jantungku berdebar kencang. Rian menyibakkan sedikit gamisku keatas dengan tangannya, membiarkan jemarinya mengelus paha dalamku. "Pembicaranya bagus, ya, Ustadzah?" bisiknya, suaranya serak. "Tapi lebih bagus lagi kalau mandang Ustadzah," bisiknya lagi, gerakannya semakin berani. "Lebih indah.". tapi kemudian aku menepis tangan nya dan membetulkan kembali gamis bawahku.
Deretan tempat duduk di samping kami benar-benar kosong, membuatnya makin berani. Aku menoleh ke Ustadzah Silmi, dan mataku membelalak. Aku melihat tangan kiri Arif juga mengelus-elus pangkal paha Ustadzah Silmi. "Gilaa," pikirku. Mereka berani sekali melakukannya di tempat umum. Aku yang tadi pagi belum puas ketika di mesumin penjual sayur, sekarang jadi mudah terangsang.
Rian menyeringai, suaranya serak. "Ustadzah suka diginiin?" tanyanya, tangannya kini naik ke pinggangku dari luar gamis, meremasnya lembut.
Aku tidak bisa menolaknya lagi. Ia benar. Aku menyukainya. Aku menyukai sensasi ini. Aku menyukai bagaimana ia memandangku dengan nafsu yang terlarang, bagaimana ia membuatku merasa diinginkan dan seksi. "Iya, Rian... aku suka," rintihku, suaraku parau, penuh pengakuan. "Aku suka digodain kamu."
Arif, yang tadinya fokus ke Silmi, kini ikut menimpali. Tangan kanan nya kembali menelus paha kiriku, Aku terkesiap, merasakan sentuhan yang tak terduga itu. Ia berbisik, "Kalau Ustadzah suka, nanti ustadzah ikut kita ya, ke rumahku. Kita senang-senang disana nanti sore."
Jantungku berdebar kencang. Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Pikiranku kalut, akal sehatku berteriak. Tapi, sensasi sentuhannya membuatku mendesah pelan. "Enggak tahu... aku harus izin suamiku," rintihku, mencoba menolak.
Rian dan Arif tertawa pelan, tawa penuh kemenangan. "Iya, coba izin aja, Ustadzah," bisik Rian. "Aku yakin, pasti boleh kok."
Aku mengambil ponselku. Ku lihat ada chat dari Mas Dimas. "Dek, kamu lagi apa?" tanyanya. Jantungku berdebar tak karuan.
Aku mengetik balasan. "Mas, aku lagi keluar. Diajak Ustadzah Silmi mendadak tadi, jadi aku enggak sempat izin, maaf ya, Mas." Sebuah kebohongan yang terasa hambar di lidahku.
Tak lama, balasan dari Mas Dimas masuk. "Iya, sudah, Dek. Gak apa-apa." Aku terdiam, membaca pesannya berulang kali. Ia mengizinkan. Ia membiarkan aku masuk ke dalam permainan ini.
Kemudian, ku sampaikan ke mereka kalau aku sudah izin ke suamiku. Rian dan Arif menyeringai, senyumnya penuh kemenangan. Ustadzah Silmi, yang tadinya diam, kini ikut menimpali. "Ustadzah Tiara, tenang aja. Sama mereka dijamin puas, hahaha."
Aku kaget. Sejauh apa Ustadzah Silmi sama mereka? Apa yang ia maksud dengan puas? Pikiranku kalut
"Maksudnya, Ustadzah Silmi?" tanyaku, suaraku parau. "Ustadzah sudah sering main sama mereka?, main apa?"
Silmi menoleh ke arahku, menatapku, lalu tertawa renyah. "hehe. Ah, Tiara," katanya, suaranya terdengar begitu santai. "Namanya juga senang-senang. Kita kan juga butuh hiburan." Ia menoleh ke arah Arif, lalu berbisik, "Kami sering kok begituan. Ya kan, Sayang?"
Arif, yang menyetir, tertawa pelan. "Ustadzah Silmi memang paling mengerti, Top juga main nya jago banget sekarang, sejak kita ajarin. haha" ucapnya. Ia melirikku, senyumnya penuh arti. "Sekarang giliran Tiara yang perlu kita ajarin."
Rian, yang duduk di samping kananku, kembali berucap. Ia menyeringai, tangannya meremas pahaku dengan lebih berani. "Iya, Ustadzah. Tadi Ustadzah bilang kan suka digodain, Nah, nanti kalo ustadzah ikut, kami akan membuat Ustadzah lebih dari sekadar digoda. Kami akan membuat Ustadzah keenakan dan jadi jago main seperti Ustadzah Silmi."
Aku terkesiap, tubuhku membeku. Pikiranku kalut, akal sehatku berteriak, tapi sensasi sentuhan Rian di pinggangku membuatku mendesah pelan. "Ahh... Rian... jangan..." rintihku, suaraku parau.
"Maksudnya jago apa? Jago gimana? Aku enggak paham... Ahhh..." tanyaku, suaraku tercekat, penuh kebingungan yang bercampur dengan hasrat.
Arif tertawa pelan. "Kasih paham, Sayang," jawabnya, menyuruh Ustadzah Silmi yang duduk di sampingnya.
Bersambungg...
𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟑𝟒 𝐀𝐣𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐒𝐢𝐥𝐦𝐢
Categories
- 𝟏𝟎𝟎𝟏 𝐊𝐈𝐒𝐀𝐇 𝐔𝐒𝐓𝐀𝐙𝐀𝐇
- 𝐀𝐤𝐮 𝐆𝐮𝐫𝐮 𝐁𝐞𝐫𝐡𝐢𝐣𝐚𝐛 𝐓𝐚𝐩𝐢 𝐁𝐢𝐧𝐚𝐥
- 𝐀𝐤𝐮 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐜𝐚𝐫𝐧𝐲𝐚
- 𝐀𝐤𝐮 𝐌𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐌𝐞𝐧𝐢𝐤𝐦𝐚𝐭𝐢 𝐏𝐞𝐫𝐬𝐞𝐥𝐢𝐧𝐠𝐤𝐮𝐡𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐦𝐚𝐡𝐤𝐮 𝐃𝐚𝐧 𝐓𝐞𝐦𝐚𝐧𝐤𝐮
- 𝐀𝐤𝐮 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐢𝐛𝐚- 𝐭𝐢𝐛𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐥𝐞𝐬𝐛𝐢𝐚𝐧
- 𝐀𝐭𝐚𝐬𝐚𝐧𝐤𝐮 𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐂𝐚𝐧𝐭𝐢𝐤
- 𝐁𝐨𝐝𝐲 𝐌𝐚𝐦𝐚 𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐝𝐮𝐡𝐚𝐲
- 𝐂𝐚𝐥𝐨𝐧 𝐌𝐞𝐫𝐭𝐮𝐚 𝐃𝐚𝐧 𝐂𝐚𝐥𝐨𝐧 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢
- CERPEN
- 𝐂𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐓𝐚𝐤 𝐁𝐢𝐚𝐬𝐚
- 𝑪𝒐𝒓𝒓𝒖𝒑𝒕𝒊𝒐𝒏
- 𝐃𝐞𝐦𝐢 𝐀𝐥𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐬𝐞𝐡𝐚𝐭𝐚𝐧
- 𝐃𝐨𝐬𝐚 𝐓𝐞𝐫𝐢𝐧𝐝𝐚𝐡
- 𝐆𝐚𝐢𝐫𝐚𝐡 𝐓𝐞𝐫𝐥𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠
- 𝐆𝐞𝐠𝐚𝐫𝐚 𝐌𝐚𝐛𝐮𝐤
- 𝐈𝐛𝐮 𝐌𝐞𝐫𝐭𝐮𝐚𝐤𝐮 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐧𝐭𝐢 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮
- 𝐈𝐛𝐮 𝐬𝐚𝐡𝐚𝐛𝐚𝐭𝐤𝐮
- 𝐈𝐛𝐮𝐤𝐮 𝐓𝐞𝐥𝐚𝐡 𝐁𝐞𝐫𝐮𝐛𝐚𝐡
- 𝐈𝐁𝐔𝐊𝐔 𝐓𝐄𝐑𝐋𝐀𝐋𝐔 𝐁𝐀𝐈𝐊
- 𝐈𝐊𝐇𝐖𝐀𝐍 𝐏𝐀𝐑𝐓𝐍𝐄𝐑 𝐒𝐖𝐈𝐍𝐆
- 𝐈𝐧𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫
- 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐀𝐧𝐚𝐤 𝐀𝐭𝐚𝐬𝐚𝐧𝐤𝐮
- 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐤𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐓𝐊𝐖
- 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐞𝐭𝐚𝐠𝐢𝐡𝐚𝐧
- 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐉𝐚𝐝𝐢 𝐁𝐢𝐧𝐚𝐥 𝐎𝐥𝐞𝐡 𝐓𝐞𝐦𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚
- 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮
- 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐏𝐚𝐬𝐫𝐚𝐡 𝐃𝐢𝐭𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐊𝐚𝐧𝐠 𝐏𝐢𝐣𝐚𝐭
- 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦
- 𝐉𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧 𝐇𝐚𝐬𝐫𝐚𝐭 𝐔𝐤𝐡𝐭𝐢 𝐙𝐚𝐡𝐫𝐚
- Kasih Terlarang Keluarga
- 𝐊𝐀𝐓𝐑𝐈𝐍
- 𝐊𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐠𝐚 𝐁𝐚𝐡𝐚𝐠𝐢𝐚
- 𝐊𝐞𝐦𝐛𝐚𝐥𝐢 𝐏𝐮𝐥𝐚𝐧𝐠
- 𝐊𝐞𝐧𝐚𝐤𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐦𝐚
- 𝐊𝐢𝐬𝐚𝐡 𝐂𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐌𝐞𝐧𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐃𝐚𝐧 𝐌𝐞𝐫𝐭𝐮𝐚
- 𝐊𝐢𝐬𝐚𝐡 𝐃𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐊𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐠𝐚
- 𝐊𝐢𝐬𝐚𝐡 𝐊𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐓𝐞𝐦𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐣𝐚𝐰𝐚𝐭
- 𝐊𝐢𝐬𝐚𝐡𝐤𝐮 𝐃𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐦𝐚𝐤𝐮
- 𝐊𝐎𝐏𝐈 𝐒𝐔𝐒𝐔
- 𝐋𝐚𝐛𝐢𝐢𝐫𝐢𝐧 𝐊𝐞𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐤𝐢𝐭𝐚𝐫𝐤𝐮
- 𝐋𝐚𝐮𝐭𝐚𝐧 𝐁𝐢𝐫𝐚𝐡𝐢
- 𝐋𝐞𝐧𝐢 𝐓𝐚𝐧 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐳𝐚𝐡 𝐁𝐢𝐧𝐚𝐥
- 𝐋𝐈𝐃𝐘𝐀
- 𝐋𝐢𝐤𝐚 𝐋𝐢𝐤𝐮 𝐊𝐞𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩𝐚𝐧
- 𝐌𝐚𝐦𝐚 𝐑𝐢𝐬𝐚
- Mama... aku minta Maaf
- 𝐌𝐚𝐦𝐚𝐤𝐮 𝐆𝐮𝐫𝐮 𝐍𝐠𝐚𝐣𝐢 𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐉𝐚𝐝𝐢 𝐍𝐚𝐤𝐚𝐥
- 𝐌𝐚𝐦𝐚𝐤𝐮 𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐓𝐞𝐫𝐠𝐨𝐝𝐚 𝐎𝐥𝐞𝐡 𝐒𝐚𝐡𝐚𝐛𝐚𝐭𝐤𝐮
- 𝐌𝐚𝐲𝐚 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮
- 𝐌𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐝𝐚𝐲𝐚 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐎𝐫𝐚𝐧𝐠
- 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮
- 𝐌𝐈𝐋𝐀
- 𝐌𝐨𝐦𝐞𝐧 𝐏𝐞𝐧𝐮𝐡 𝐈𝐧𝐭𝐫𝐢𝐤
- 𝐍𝐚𝐟𝐬𝐮 𝐁𝐢𝐫𝐚𝐡𝐢 𝐂𝐢𝐭𝐫𝐚
- 𝐍𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢𝐚𝐧 𝐓𝐞𝐧𝐠𝐚𝐡 𝐌𝐚𝐥𝐚𝐦
- 𝐏𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐚𝐧 𝐄𝐊𝐒𝐈𝐁 𝐓𝐚𝐧𝐭𝐞 𝐋𝐢𝐭𝐡𝐚
- 𝐏𝐞𝐫𝐬𝐞𝐥𝐢𝐧𝐠𝐤𝐮𝐡𝐚𝐧 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐓𝐞𝐭𝐚𝐧𝐠𝐠𝐚
- 𝐏𝐞𝐭𝐮𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐀𝐝𝐫𝐢𝐚𝐧
- 𝐏𝐞𝐭𝐮𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐁𝐢𝐛𝐢 𝐊𝐀𝐑𝐈𝐍𝐀 𝐃𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐦𝐚
- 𝐏𝐞𝐭𝐮𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐊𝐚𝐤𝐚𝐤𝐤𝐮
- 𝐑𝐀𝐇𝐀𝐒𝐈𝐀 𝐒𝐄𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐈𝐒𝐓𝐑𝐈
- 𝐑𝐚𝐡𝐢𝐦 𝐇𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐒𝐚𝐧𝐠 𝐌𝐚𝐣𝐢𝐤𝐚𝐧
- RANJANG YANG TERNODA
- 𝐑𝐚𝐬𝐭𝐢 𝐈𝐛𝐮 𝐁𝐢𝐧𝐚𝐥
- 𝐑𝐢𝐭𝐮𝐚𝐥 𝐆𝐮𝐧𝐮𝐧𝐠 𝐊𝐞𝐦𝐮𝐤𝐮𝐬
- 𝐒𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐁𝐢𝐧𝐚𝐥
- 𝐒𝐢𝐬𝐤𝐚 𝐌𝐞𝐫𝐭𝐮𝐚𝐤𝐮
- 𝐒𝐤𝐚𝐧𝐝𝐚𝐥 𝐒𝐞𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐊𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐠𝐚
- The Jack Story
- The Ukhti's Story
- 𝐓𝐇𝐑𝐄𝐄𝐒𝐎𝐌𝐄 𝐃𝐑𝐀𝐌𝐀 𝐃𝐀𝐍 𝐃𝐈𝐋𝐄𝐌𝐀
- 𝐔𝐤𝐡𝐭𝐢 𝐀𝐫𝐢𝐧𝐚 & 𝐆𝐚𝐧𝐠 𝐌𝐨𝐭𝐨𝐫
Blog Archive
- Juni 2026 (2)
- Mei 2026 (31)
- April 2026 (30)
- Maret 2026 (31)
- Februari 2026 (28)
- Januari 2026 (32)
- Desember 2025 (29)
- November 2025 (4)
- Oktober 2025 (2)
- September 2025 (31)
- Agustus 2025 (19)
- Juli 2025 (26)
- Juni 2025 (27)
- Mei 2025 (27)
- April 2025 (28)
- Maret 2025 (41)
- Februari 2025 (31)
- Januari 2025 (52)
- Desember 2024 (39)
- November 2024 (80)
- Oktober 2024 (44)
- September 2024 (60)
- Agustus 2024 (96)
- Juli 2024 (92)
- Juni 2024 (98)
- Mei 2024 (101)
- April 2024 (68)
- Maret 2024 (56)
- Februari 2024 (52)
- Januari 2024 (62)
- Desember 2023 (77)
- November 2023 (53)
- Oktober 2023 (38)
- September 2023 (28)
- Agustus 2023 (28)
- Juli 2023 (41)
- Juni 2023 (24)
- Mei 2023 (40)
- April 2023 (13)
- Maret 2023 (1)
- Januari 2023 (2)
- Desember 2022 (20)
- November 2022 (24)
- Oktober 2022 (33)
- September 2022 (15)
- Agustus 2022 (25)
- Juli 2022 (31)
- Juni 2022 (38)
- Mei 2022 (8)
Cari Blog Ini
Diberdayakan oleh Blogger.
