𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟑𝟓 𝐊𝐞𝐩𝐮𝐭𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐁𝐞𝐫𝐚𝐧𝐢

 


Ustadzah Silmi menoleh, menatapku, senyumnya penuh arti. "Sini, lihat aku, Ustadzah Tiara." Tangannya kemudian bergerak ke arah selangkangan Arif. Dengan gerakan santai dan penuh percaya diri, ia membuka resleting celananya. Aku membelalak, napasku tercekat. Ia mengeluarkan penis Arif. Terlihat penisnya lumayan cukup besar, seukuran punya Pak RT.

Aku kaget, hatiku mencelos. Ustadzah Silmi... Ustadzah yang selalu kukagumi, yang selalu kukira alim dan baik, ternyata bisa berbuat sejauh ini. Pikiranku kalut, perasaanku campur aduk antara rasa malu, jijik, dan anehnya, sedikit gairah yang tersisa.

Ia tidak peduli dengan reaksiku. Ia langsung menjilatinya, mengulumnya, kemudian sambil tangannya mengocok. Arif mendesah, suaranya serak. "Ahhh... iya, Sayang... terus..."

Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku melihat adegan itu, dan aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku suka. Aku suka melihatnya, aku suka mendengar desahannya.

Aku melirik ke sekeliling, ada rasa lega menjalar di dadaku. Untungnya, tidak ada yang melihat kami. Semua orang fokus pada pembicara di depan, dan posisi kami di deretan belakang yang kosong membuat kami leluasa berbuat kemaksiatan itu. Pikiranku masih memproses pemandangan di sampingku, Ustadzah Silmi, teman yang selama ini kuanggap alim, dengan lihai mengulum penis Arif. Aku terkejut, namun di balik rasa malu dan jijik, ada gairah aneh yang membanjiri tubuhku.

Saat perhatianku teralihkan, Rian yang duduk di sampingku menyeringai. Ia menyibakkan gamisku ke atas lagi, tangannya mengelus paha dalamku hingga ke pangkal, hampir menyentuh vaginaku. Sebuah tangan lain melingkar di pinggangku, memelukku dari belakang. Aku tahu itu tangan Arif, yang melepaskan satu tangannya dari Silmi.

"Ahhh..." desahku, tanpa sadar. Aku mencoba mendorong tangannya, tapi ia menahannya dengan lembut.

"Suka, kan, Ustadzah?" bisik Rian, suaranya serak. Ia terus mengelus pahaku dengan gerakan yang semakin berani.

Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam sensasi itu. "Enggak... enggak tahu..." rintihku, suaraku parau.

"Jangan bohongi dirimu sendiri, Sayang," bisiknya, suaranya penuh kemenangan. "Aku tahu, kamu menginginkan ini kan."

Di sisi lain, Arif juga menyibakkan gamisku, dan tangan kanan nya yang memeluk pinggangku tadi kini mengelus paha kiriku. Aku terkesiap, tubuhku membeku. "Ahh..." desahku, tak bisa menahan diri. Sensasi dari dua tangan yang mengelus pahaku secara bersamaan membuatku gila. Aku merasakan nafsu yang begitu kuat, begitu nyata, dan aku tidak bisa menolaknya.

"Pahamu mulus banget, Ustadzah," bisik Arif.

"Pasti memek Ustadzah udah basah, ya?" timpal Rian, suaranya serak, penuh godaan. "Aku pengen banget rasain memek Ustadzah yang kayaknya masih sempit banget itu."

Aku menggeleng, air mata mengalir dari mataku. "Jangan... jangan begitu, aku mohon," rintihku, suaraku parau.

"Kenapa, Sayang?" bisik Rian. "Kenapa enggak mau? Padahal enak loh... Mau, ya? Kita berdua akan buat Ustadzah keenakan. Kita akan membuat Ustadzah ketagihan."

"Enggak... enggak mau..." rintihku, mencoba melawan, tapi tenagaku tidak sebanding dengan mereka.

"Kamu suka digodain, kan?" tanya Arif, suaranya lembut, penuh rayuan. "Kalau begitu, nikmati saja. Jangan bohongi dirimu sendiri."

Mereka berdua terus mengelus paha dan pinggangku, membuatku mendesah semakin keras. "Ahh... ahh... iya... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh pengakuan.

"Nah, begitu dong, Sayang," bisik Rian, suaranya penuh kemenangan. "Kamu memang seksi. Aku suka, suka banget... Ahhh..."

Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut.

lalu tangan kirinya ke belakang punggungku, merangkulku. Jari-jarinya meraba pinggulku. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku tidak bisa menolaknya. "Ahh... ahh... Iyah Rian... enak..." rintihku,

Rian masih memelukku erat, tangannya tak berhenti mengelus pinggul dan pahaku dari balik gamis. Aku hanya bisa pasrah, membiarkan tubuhku hanyut dalam sentuhannya. Di Samping kiriku, Arif tersenyum penuh kemenangan, matanya menatapku lekat. "Ustadzah, aku enggak nyangka di balik gamis dan cadar yang biasa kamu pakai, ternyata tubuhmu se seksi ini," ucapnya, suaranya serak. "Aku sering nonton live Ustadzah Tiara loh. Aku selalu ngaceng lihat tetek Ustadzah kalau goyang".

Aku terdiam, jantungku berdebar tak karuan. Kata-kata itu, meskipun vulgar, entah mengapa terasa memabukkan. Aku merasakan campuran antara rasa malu dan kebanggaan yang aneh. "Ahh, masa sih?" tanyaku, suaraku parau, terdengar malu-malu.

Arif tertawa pelan. "Iyaa. Makanya aku suruh Silmi buat ajak kamu. Biar kamu nakalnya enggak tanggung-tanggung. Sekalian kami buat jago ntar. Biar kayak Silmi". Ia menoleh ke arah Silmi yang masih berlutut di depannya. "Iya kan, Sayang?" ucapnya pada Silmi.

Silmi, dengan bibir yang basah, melepaskan penis Arif dari mulutnya dan menoleh ke arahku. "Iyaa, Ustadzah Tiara ini dari dulu emang primadona di pesantren," katanya, suaranya terdengar begitu santai. "Beruntung kalian bisa nyicipin dia". Setelah berbicara, ia kembali mengulum penis Arif dengan lihai, seolah-olah apa yang baru saja ia katakan adalah hal yang paling normal di dunia.

Rian kembali mendekatkan bibirnya ke telingaku, suaranya serak dan menuntut. "Ustadzah, lihatlah. Kita bisa begini di depan umum, tanpa rasa takut. Kita akan ajarin Ustadzah. Kita akan buat Ustadzah keenakan seperti Ustadzah Silmi. Enggak usah malu lagi. Lepaskan saja semua yang Ustadzah sembunyikan selama ini". Ia menyeringai, tangannya yang tadinya meremas pinggulku kini bergerak lebih berani, tangan nya naik ke atas mengelus payudaraku dari luar gamis.

Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam kenikmatan. Aku bisa merasakan setiap sentuhan dan desahan yang mereka berikan. "Ahh... Rian... enak..." rintihku, suaraku parau. Aku tahu, aku sudah terjebak dalam permainan ini, dan aku tidak bisa lagi kembali.

"Ahh... Ustadzah... nikmati saja," bisik Rian, suaranya penuh kemenangan. "Aku tahu, Ustadzah suka. Ustadzah butuh ini. Dan kita berdua di sini, akan membuat Ustadzah puas. Lebih dari yang Ustadzah bayangkan".

Aku hanya bisa mendesah, membiarkan diriku tenggelam dalam perbuatan ini. Tangan Rian kini meremas payudaraku, sementara di samping kiriku, Ustadzah Silmi masih sibuk dengan penis Arif. Aku tahu, ini adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal. Tapi entah mengapa, aku tidak mau menghentikannya.

Rian menuntun tanganku, meraihnya, dan meletakkannya tepat di atas penisnya yang sudah mengeras di balik celana.Sensasi panas dan keras itu merambat naik, membuat jantungku berdebar tak karuan. "Sentuh, Ustadzah, rasakan kontolku" bisiknya serak di telingaku. "Kontolku besar kan ustadzah? Aku yakin kamu bakal suka."

Tangan kanannya, yang tadinya mengelus pahaku, kini bergerak naik, menyibakkan gamisku lebih tinggi hingga ke pangkal paha. "Paha Ustadzah mulus banget," bisiknya, suaranya penuh kekaguman. Ia kemudian melebarkan pahaku, lalu dengan jari-jarinya yang kasar, ia menyentuh vaginaku dari luar celana dalamku. Aku tersentak, napasku tercekat. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku tidak bisa menolaknya.

"Celana dalam Ustadzah sudah basah," bisiknya, suaranya serak, penuh godaan. "Dicopot aja, ya?".

Aku menggeleng, air mata mengalir dari mataku. "Jangan... aku mohon, jangan," rintihku, suaraku parau, dipenuhi ketakutan yang nyata. Aku mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatanku untuk menolak, tapi Rian terus merayuku.

"Kenapa, Ustadzah? Di sini enggak ada yang lihat," rayu Rian. Ia menatap mataku, senyumnya penuh kemenangan. "Ustadzah Silmi aja gak pake celana dalam, coba tanya aja.".

"Iyaa, Ustadzah," suara Silmi menyahut, ia melepaskan mulutnya dari penis Arif. "Kamu harus berani. Aku sudah berani, kenapa kamu tidak? Ini enggak apa-apa kok. Anggap saja ini terapi. Terapi untuk melepaskan penatmu, yang penting disini kita main-main aja, jangan pake perasaan".

"Benar, Ustadzah," tambah Arif, suaranya parau, "Ayolah, Ustadzah. Kami enggak akan gigit kok".

Mereka terus merayuku, kata-kata mereka bagaikan racun yang memabukkan. Akal sehatku berkata "jangan", tapi tubuhku berkata "iya". Aku melihat Ustadzah Silmi yang kembali mengulum penis Arif, dan Rian yang terus menggerayangi tubuhku, dan aku merasa kalah. Luluh. Aku tidak bisa lagi menolak.

"B-baiklah..." ucapku, suaraku nyaris tak terdengar.

Rian menyeringai penuh kemenangan. Ia menunduk, lalu dengan perlahan, aku mengangkat pinggangku, Ia menariknya pelan-pelan, melewati pinggul, paha, sampai akhirnya celana dalam itu terlepas dan terjatuh di lantai.

Tubuhku kini telanjang dari pinggang ke bawah, vaginaku terpapar di hadapan mereka berdua. Rasa malu yang membanjiri diriku bercampur dengan gairah aneh yang tak bisa kuingkari.

"Masya Allah, Ustadzah..." bisiknya, suaranya serak, penuh kekaguman. "Memek Ustadzah bagus banget, putih, mulus, dan wangi...".

Dengan gamisku yang sudah terangkat sampe pangkal pahaku, aku merasa Rian semakin berani.

"Masya Allah, Ustadzah, bagus banget," bisiknya, suaranya serak. "Memek Ustadzah yang katanya hanya untuk suami, sekarang di depan mataku. Dan aku bisa menikmatinya".

Tangan kanannya semakin liar dan berani, Ia mengelus pahaku dengan lembut, kemudian jarinya membelai bibir vaginaku. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku hanya bisa mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... Rian... enak..." rintihku, suaraku parau.

Tangan kirinya kembali memeluk pinggangku, meremas payudaraku dengan brutal. Sensasi itu membuatku menjerit pelan, "Ahh... ahh... iya, Rian... enak... terus..."

Ia tertawa, tawa penuh kemenangan. "Kamu suka, kan, Sayang? Jangan bohongi dirimu sendiri. Kamu menginginkan ini".

Di sampingku, Ustadzah Silmi yang baru saja selesai mengulum penis Arif, kini ikut menimpali. Ia tersenyum, menatapku dengan mata yang penuh arti. "Lihat, 'kan, ustadzah Tiara? Dulu aku juga begitu, awalnya malu-malu tapi pas udah enak jadi ketagihan" bisiknya, suaranya terdengar lembut namun menusuk. "Kita semua butuh ini. Kita semua butuh pengakuan. Dan mereka berdua bisa memberikan itu".

Pemandangan itu membuatku terdiam, lidahku terasa kelu. Ustadzah Silmi, teman yang selalu kupandangi sebagai panutan, baru saja merapikan pakaiannya setelah mengulum penis pacarnya di depan mataku. Ia tersenyum, seolah tidak terjadi apa-apa, dan menatapku dengan mata penuh arti.

"Udah, kita pulang ke rumah Arif aja, yuk," ajaknya, suaranya terdengar santai, tapi penuh dengan agenda tersembunyi. "Biar lebih bebas di sana."

"Aku udah nggak sabar mau di-entot kalian," timpal Silmi sambil tertawa kecil, melirik ke arah Rian dan Arif.

Arif, yang tadinya diam, kini menyeringai. "Ustadzah Tiara juga biar bisa leluasa kalau di rumahku. Hehehe."

Jantungku berdebar tak karuan. Kata-kata mereka menusuk-nusuk pikiranku. Aku merasa seperti objek, sebuah boneka yang bisa mereka mainkan sesuka hati. Aku mencoba menolak, tapi suaraku hanya terdengar seperti bisikan yang putus asa.

"Jangan... aku... aku harus pulang," rintihku, mencoba mengumpulkan kekuatan.

"Enggak apa-apa, Ustadzah," bujuk Rian, suaranya serak. "Suamimu juga nggak akan tahu. Kita cuma senang-senang kok. Anggap aja ini sebuah petualangan. Kan tadi udah izin suami juga kan"

"Petualangan yang akan membuat Ustadzah ketagihan," timpal Arif, suaranya penuh kemenangan.

Aku menunduk, tak berani menatap mereka. Aku tahu, ini adalah sebuah jebakan, sebuah permainan gila yang tidak bisa kulepaskan. Di dalam diriku, rasa takut dan malu bercampur aduk dengan gairah aneh yang tak bisa kuingkari. Aku menginginkan ini. Aku ingin merasakan sensasi yang mereka janjikan.

"Yaudah... tapi jangan sampai berlebihan ya... aku gak mau sampe bersetubuh, aku gak mau menghianati suamiku" ucapkuku, suaraku parau, penuh pengakuan.

Aku tersentak saat Arif kembali berucap, suaranya parau dan penuh nafsu. "Yahh, nanggung banget Ustadzah kalau enggak ngentot," katanya, sambil menyeringai. "Dulu Silmi juga enggak mau dientot. Giliran udah dientot sekarang ketagihan."

"Iyaa, kan Ustadzah juga udah enggak perawan," timpal Rian, suaranya serak. "Jadi apa yang perlu dipertahankan."

Kata-kata itu bagai tamparan keras di wajahku. Darahku mendidih, dan rasa malu yang menusuk lebih dalam dari rasa hasrat yang ada. Aku merasa hina. Mereka tidak hanya menggodaku, mereka menghinaku.

"Gak bisa!" tolakku, suaraku parau, dipenuhi amarah dan ketegasan. "Aku enggak mau. Kalau kalian maksa, aku pulang aja!"

Dengan cepat, aku merapikan kembali gamisku ke bawah, menutup paha dan vaginaku yang telanjang. Aku membetulkan jilbab dan cadarku, lalu dengan tangan gemetar, kuambil celana dalamku yang tergeletak di lantai, dan kumasukkan ke dalam tasku. Aku tidak lagi peduli dengan apa yang akan mereka pikirkan. Aku hanya ingin lari.

Namun, sebelum aku sempat beranjak, Rian meraih lenganku. "Tunggu, Ustadzah, jangan marah," bisiknya, suaranya melembut, penuh bujukan. "Kami enggak maksa, kok. Kami cuma mau Ustadzah senang. Kami tahu Ustadzah juga suka, kan?".

"Iya, Tiara, jangan marah," tambah Silmi, wajahnya kini terlihat khawatir. "Mereka cuma bercanda, kok. Enggak ada maksud apa-apa."

Aku menatap mereka berdua, mata mereka dipenuhi gairah yang tak bisa disembunyikan. Aku tahu, mereka berbohong. Aku tahu, mereka menginginkan lebih. Aku tahu dia ingin menyetubuhiku.

"Tapi... aku enggak mau seperti itu," bisikku, suaraku parau, "Itu terlalu jauh."

Arif bangkit dari duduknya, mendekatiku, dan ia mengelus pipiku dengan lembut. "Ustadzah, kami tahu Ustadzah suka. Kamu butuh ini. Jangan bohongi dirimu sendiri," bisiknya, suaranya serak. "Kami di sini untuk memberikan apa yang Ustadzah butuh. Kami akan membuat Ustadzah puas. Lebih dari yang Ustadzah bayangkan. Kami juga gak akan memaksa ustadzah untuk berbuat terlalu jauh kok. Tenang ajaa.."

Aku mengangguk pelan, membiarkan diriku hanyut dalam perkataannya. Aku tahu, aku telah mengkhianati suamiku, dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, ada satu hal yang pasti, aku tidak bisa menghentikan ini.

"Nah, gitu dong," sahut Arif, "Sekarang ayo kita pulang ke rumah. Kita akan melanjutkan permainan gila ini di sana. Kami akan buat ustadzah ketagihan seperti silmi haha.."

Bersambungg...

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com