𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐔𝐬𝐭𝐚𝐝𝐳𝐚𝐡 𝐀𝐥𝐢𝐦 𝐁𝐀𝐁 𝟑𝟔 𝐑𝐚𝐲𝐮𝐚𝐧 𝐔𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐌𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐚 𝐂𝐚𝐝𝐚𝐫

Kami berempat meninggalkan seminar, tak peduli lagi dengan acara yang sedang berlangsung. Tujuan kami kini beralih, menuju tempat di mana kami bisa melanjutkan permainan yang lebih bebas. Aku melangkah ke mobil, hatiku berdebar kencang, perpaduan antara rasa takut dan penasaran. Aku duduk di kursi belakang, bersama Rian.

Arif melajukan mobilnya dengan cepat. Di kursi belakang, aku merasa tubuhku semakin kaku. Rian, yang duduk di sampingku, kembali melingkarkan tangannya di pinggangku, meremasnya lembut

"Ustadzah, jangan tegang," bisiknya, suaranya serak. "Nikmati saja. Perjalanan kita masih panjang". Ucap rian.

Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku menunduk, tak berani menatapnya. malu, tapi anehnya, aku juga menyukai sensasi ini. Tangannya semakin berani, meremas payudaraku dari luar gamis. "Ahh..." desahku, suaraku parau.

Di kursi depan, Ustadzah Silmi dan Arif terus bercanda, seolah tidak menyadari apa yang sedang terjadi di belakang. "Sayang nanti kamu lihat aja dulu ya, aku mau main sama Tiara duluan," bisik Arif.

"Iya, Sayang, tapi jangan lama-lama ya," jawab Silmi, suaranya terdengar manja.

"Kenapa, Sayang? Kamu takut aku keenakan sama Tiara ya?" goda Arif.

"Ahh, kamu, Mas, jangan begitu. Aku kan juga mau," jawab Silmi.

Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku merasa gila mendengar percakapan mereka.

Tangan Rian kini semakin berani, meraba payudaraku dari luar gamis. Ia meremasnya, gerakannya begitu kasar, penuh dengan nafsu. Aku mendesah, tak bisa menahan diri.

"Ahh... Rian... jangan..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

"Kenapa, Sayang? Ustadzah suka kan di giniin?" bisiknya, suaranya penuh kemenangan.

Ia menunduk, mencium leherku dari luar jilbab, Sensasi itu begitu kuat, membuatku melengkung karena kenikmatan. Aku memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut.

"Ustadzah, jangan malu," bisik Arif, suaranya serak, "Silmi juga begitu, kok. Dia bahkan lebih parah dari Ustadzah".

"Iya, Tiara," bisik Ustadzah Silmi, "Anggap saja ini pengalaman baru. Pengalaman yang akan membuatmu lebih hidup".

Aku hanya bisa mendesah, membiarkan diriku tenggelam dalam perbuatan ini. Tangan Rian kini semakin brutal, meremas payudaraku dengan lebih kuat. Aku tahu, aku sudah jatuh terlalu dalam, dan aku tidak bisa lagi kembali.

Di dalam mobil yang melaju, aku merasakan panas menjalar di tubuhku. Ustadzah Silmi, yang tadi duduk di depan, beranjak ke belakang. Aku kaget, tapi tak bisa berkata apa-apa. Ia berjongkok di bawah lantai, tepat di depan Rian. Tangannya dengan santai membuka resleting celana Rian.

"Ahhh... Ustadzah Silmi," desah Rian, suaranya serak. "Kamu memang paling tahu cara buat aku senang."

Aku terkesiap, jantungku berdebar tak karuan. Dengan cekatan, tangannya membuka resleting celana Rian. Tak butuh waktu lama, penis Rian yang tegang dan besar keluar. Aku membelalakkan mata, tak bisa menahan keterkejutanku. Penisnya begitu besar, sedikit lebih besar dari yang kulihat tadi pagi dari tukang sayur.

"Lihat, Sayang," bisik Rian, suaranya serak. "Ini yang akan membuatmu puas nanti."

Ustadzah Silmi menoleh ke arahku, senyumnya penuh arti. "Ustadzah Tiara, lihatlah," katanya, suaranya parau, "Bukankah ini lebih bagus dan besar daripada milik suamimu?". Ia kemudian mengulum penis Rian dengan lihai. Aku melihat setiap gerakannya, setiap isapannya, dan aku hanya bisa mendesah, tak bisa menahan diri.

""Ahh... Rian... gede banget,.." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan yang memabukkan.

Rian menyeringai, matanya menatapku lekat-lekat. "Gimana, Sayang? Enak kan, kamu suka sama kontolku kan?". Ucapnya sambil meremas payudaraku.

"Ahh... aku tidak tahan, Rian..." rintihku, suaraku parau. "Terus... aku mau juga..."

"Sabarlah, Sayang," bisiknya, "Nanti, aku dan Arif akan membuatmu puas. Kamu tidak perlu malu lagi. Kamu akan menjadi wanita yang paling berani dan liar".

Aku merasakan tangan Rian yang satu lagi naik, meraih kakiku, dan dengan perlahan menaikkannya ke jok mobil. Ia melebarkan pahaku, membuatku mengangkang dengan gamis yang sudah terangkat. Vaginaku yang kini telanjang tidak memakai celana dalam, terbuka di hadapan mereka.

"Lihat ustadzah," bisik Rian, suaranya serak. "Memek Ustadzah cantik banget. Basah banget."

Aku menunduk, malu, tapi pada saat yang sama, aku merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku. Tangan Rian membelai vaginaku, mengelusnya perlahan, gerakannya begitu lembut, namun penuh gairah. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. "Ahh... Rian... enak..." rintihku, suaraku parau.

"Memek Ustadzah basah banget," bisiknya serak, suaranya penuh kemenangan. "Pasti memek Ustadzah jarang dipuasin suami Ustadzah yaa? Aku suka memek Ustadzah, bagus banget, kayak masih perawan..."

"Jangan, Mas... jangan bilang begitu..." rintihku, mencoba menolak, tapi suaraku lebih terdengar seperti desahan.

Ia tidak peduli. Ia terus membelai vaginaku, gerakannya semakin cepat, semakin intens. Kemudian, tanpa aba-aba, ia memasukkan satu jarinya. Aku tersentak, menjerit, "Ahhh!..." Tubuhku menegang, pinggulku bergetar hebat.

"Ini baru satu jari udah terasa sempit banget memek Ustadzah, belum dientot," bisik Rian, suaranya serak, penuh godaan. Aku merasakan jarinya yang kasar terus bergerak di dalam vaginaku yang sempit. Aku menjerit, "Ahhh!..." Tubuhku menegang, pinggulku bergetar hebat. Sensasi itu begitu aneh, begitu asing, tapi entah mengapa, terasa begitu memabukkan.

"Kalau Ustadzah mau dientot sama kontol gedeku, Ustadzah pasti akan ketagihan," bisiknya lagi, suaranya serak. "Aku janji. Kalau enggak percaya, tanya aja Ustadzah Silmi."

Aku memandang ke arah Silmi di bawah, dia masih mengulum penis rian. Ia menoleh ke arahku, menatapku, dan tersenyum. "Iya, Ustadzah Tiara, apa yang dikatakan Rian itu benar," katanya, suaranya lembut, tapi menusuk. "Dulu aku juga takut di entot kontol besar rian, tapi sekarang... aku ketagihan."

Silmi mulai menceritakan pengalamannya. Ia bercerita bagaimana awalnya ia juga menolak untuk bersetubuh dengan Rian dan Arif. Tapi, mereka terus merayunya, sampai akhirnya ia menyerah. "Masya Allah, Ustadzah, rasanya enak banget," bisiknya, suaranya terdengar penuh gairah. "Rasanya seperti melayang.."

Arif menyeringai, suaranya serak. "Sama aku sayang, kamu juga keenakan, kan, Sayang?" tanyanya.

"Iya sayang," jawab Silmi, suaranya manja. "Kontolmu juga enak banget. Kamu yang paling brutal, paling bisa buat aku keenakan."

Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Pemandangan di depanku begitu mengejutkan. Silmi menceritakan semuanya, tanpa malu, seolah apa yang ia lakukan adalah hal biasa. Ia menceritakan bagaimana ia bersetubuh dengan Rian dan Arif secara bersamaan, bagaimana mereka berdua membuatnya menjerit keenakan.

"Aku akan buat Ustadzah juga begitu," bisik Rian, suaranya serak. "Aku akan buat Ustadzah juga keenakan. Aku janji."

"Ahh... ahh... iya, Mas... terus... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

Kemudian, Rian mencoba memasukkan jari keduanya. Aku tersentak, menjerit, "Jangan, Mas! Aku mohon jangan!" Aku mencoba menahan tangannya.

Ia mengabaikan perkataanku, dan jarinya yang satu lagi mencoba masuk ke dalam vaginaku. Aku mencoba mendorongnya, tapi tenagaku tidak sekuat dia. Aku hanya bisa pasrah, memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini.

"Ustadzah, jangan malu," bisik Arif, suaranya serak. "Biarkan Rian membuatmu puas. Dia tahu apa yang Ustadzah butuhkan".

Aku hanya bisa mendesah, membiarkan diriku tenggelam dalam perbuatan ini. Tanganku yang tadinya mengocok penisnya, kini terlepas, mencengkeram jok mobil. Aku tahu, aku sudah jatuh terlalu dalam, dan aku tidak bisa lagi kembali.

"Ahh... Rian... terus... Ahhh... itu enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan. "Aku suka... Ahhh..."

Kedua jari Rian bergerak semakin cepat di dalam vaginaku, membuatku mendesah tak terkendali. "Ahh... Rian... lebih cepat... enak... Ahhh!" rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan. Ia menyeringai, matanya menatapku lekat-lekat, penuh kemenangan. "Memek Ustadzah sempit banget," bisiknya, suaranya serak, "Aku suka. "

Aku hanya bisa memejamkan mata, membiarkan diriku hanyut dalam perbuatan ini. Sensasi itu begitu kuat, begitu nyata, dan aku tidak bisa menolaknya. Rian terus menggerakkan jari-jarinya, dan aku mendesah tak karuan.

Tiba-tiba, Rian mengerang hebat. Ia menarik kepalanya ke atas, matanya terpejam, dan ia memuntahkan spermanya ke wajah Ustadzah Silmi. Silmi tidak menolak, ia justru menjilati sisa-sisa sperma yang menempel di wajahnya, senyumnya penuh arti. "Manis, Sayang," bisiknya, suaranya parau.

Rian kemudian melepaskan tangannya dari vaginaku dan payudaraku. Ia mengambil tisu, mengelap sisa-sisa spermanya di wajah Silmi, lalu merapikan celananya. Aku terdiam, seluruh tubuhku gemetar, perasaanku campur aduk antara rasa jijik dan kenikmatan yang memabukkan.

"Gimana, Sayang? Enak kan?" bisik Rian, suaranya serak. Ia menatapku, matanya penuh gairah. "Itu baru perkenalan. Nanti, di rumah Arif, kita akan melanjutkan permainan yang sesungguhnya. Kamu tidak perlu malu lagi. Kamu akan menjadi wanita yang paling berani dan liar."

Aku hanya bisa mengangguk, air mata mengalir dari mataku. Aku merasa sangat kotor, tapi pada saat yang sama, aku merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku. Arif kembali melajukan mobilnya, dan kami melanjutkan perjalanan.

"Kita udah sampai di rumah Arif," ucap Ustadzah Silmi, suaranya parau namun penuh kemenangan.

Aku menoleh, dan kulihat mobil sudah berhenti di depan sebuah rumah yang terlihat nyaman dan bersih. Aku keluar dari mobil, tubuhku masih gemetar. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di dalam rumah ini, tapi aku tahu, aku sudah jatuh terlalu dalam. Aku hanya bisa pasrah, membiarkan diriku tenggelam dalam perbuatan ini.

"Ustadzah, kok diam saja?" tanya Rian, suaranya serak. "Ayo masuk. Kita akan buat Ustadzah lebih keenakan."

Aku hanya bisa mengangguk, lalu berjalan ke dalam rumah. Di ruang tamu yang luas, aku melihat-lihat sekeliling. Terdapat sofa yang besar dan nyaman, serta televisi layar lebar. Aku duduk di salah satu sofa, diapit oleh Rian dan Ustadzah Silmi, sementara Arif pergi ke belakang.

Tak lama kemudian, Arif datang kembali membawa nampan berisi tiga gelas minuman dingin. Ia menyodorkannya kepada kami, dan aku mengambilnya dengan tangan gemetar.

"Ini buat Ustadzah," bisik Arif, suaranya serak. "Minum, biar lebih rileks."

Aku hanya mengangguk, lalu meneguk minuman itu sedikit. Rasanya manis dan menyegarkan.

"Ustadzah, jangan tegang," bisik Rian, suaranya penuh godaan. "Kita di sini cuma mau bersenang-senang. Kita akan membuat Ustadzah puas. Lebih dari yang Ustadzah bayangkan."

Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Aku menatap Ustadzah Silmi, dan ia hanya tersenyum. "Tiara, nikmati saja," bisiknya. "Aku juga begitu, kok."

Tangan Rian kini meraba pahaku, dan tanganku yang tadinya memegang gelas, kini jatuh lemas di pangkuanku.

Aku meletakkan gelas di meja, mencoba menenangkan diri. Rian, yang duduk di sampingku, masih mengelus pahaku. Aku melihat Arif meletakkan nampannya di meja, lalu berjalan ke belakang sofa. Jantungku berdebar tak karuan, firasat buruk menyergapku.

Tiba-tiba, kedua tangan Arif melingkar di pundakku dari belakang. lalu perlahan turun ke dadaku. Ia meremas payudaraku dengan lembut, gerakannya begitu halus, namun penuh gairah. Aku terkejut, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Tubuhku terasa kaku, terperangkap di antara dua pria yang penuh nafsu.

"Ahh... Arif... jangan..." rintihku, suaraku parau.

"Ahh, enggak nyangka aku bisa pegang tetek Ustadzah Tiara," bisik Arif, suaranya serak di telingaku. "Tetek yang biasa ku lihat di live. Sekarang bisa kupegang. Gede banget... enak banget." Remasannya semakin kuat, dan ia mulai memilin putingku. Sensasi itu begitu kuat, membuatku tak bisa menahan desahan yang lebih keras.

"Ahhh... Arif... jangan..." rintihku. "Ustadzah Silmi... Rian... lihat."

"Enggak apa-apa, Sayang," bisik Rian, yang kini duduk di sampingku. "Kami berdua akan memuaskanmu. Kami akan membuatmu melupakan suamimu."

Di saat yang sama, Ustadzah Silmi tertawa kecil, "Kamu itu dari dulu memang primadona, Tiara. Semua orang menginginkanmu. Kamu beruntung. Bahkan setelah kamu bersuami pun masih banyak yang menginginkan tubuhmu"

Aku memejamkan mata, membiarkan tubuhku hanyut dalam perbuatan ini. Sentuhan Arif begitu brutal, begitu memabukkan. Ia meremas payudaraku dengan lebih berani, lebih kasar, seolah ingin membalas setiap sentuhan yang ia rasakan dari kejauhan.

"Ahh... ahh... iya, Mas... terus... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

"Aku suka, Sayang," bisiknya, ia terus meremas payudaraku. "Aku suka melihat Ustadzah keenakan seperti ini... Ahhh...".

Arif masih di belakangku, meremas payudaraku dengan brutal. Aku mendesah, tak bisa menahan diri. Namun, Rian yang berada di sampingku kini juga ikut berani. Tangannya yang tadi mengelus pahaku, kini bergerak ke bawah. Ia mengangkat gamisku, menyibakkannya sampai ke pinggang, lalu melebarkan kedua kakiku.

"Ustadzah, lihat aku," bisiknya, suaranya serak. "Aku akan buat Ustadzah keenakan."

Aku menelan ludah, seluruh tubuhku gemetar. Rian turun dari sofa, berlutut di lantai, dan memposisikan kepalanya di antara kedua kakiku. Aku menunduk, malu, tapi pada saat yang sama, aku merasakan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku.

Jari-jarinya yang kasar membelai bibir vaginaku dengan gerakan yang intens, melebarkannya, seolah ingin melihat semua keindahan di dalamnya. "Ahh... ahh... iya, Mas... itu enak... Ahhh!" rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

"Memek Ustadzah cantik banget," bisiknya, suaranya parau. "Mulus, bersih, dan masih sempit banget. Aku suka."

Aku mendesah, tak bisa menahan diri. Perkataannya begitu vulgar, tapi pada saat yang sama, terasa begitu memabukkan. Ia terus memuji vaginaku, lalu dengan perlahan, ia menjulurkan lidahnya. Sensasi dingin dan basah itu membuatku menjerit pelan, "Ahh... Rian... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

Lidahnya terus menjilati, mengulum, dan menghisap vaginaku, gerakannya semakin cepat, semakin intens. "Enak, Sayang? Manis sekali," bisiknya. Aku hanya bisa mendesah, tak bisa berkata-kata. "Ahh... ahh... terus, Rian... enak... Ahhh!" rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

Di atas, Arif terus meremas payudaraku, "Ahh... ahh... iya, Mas... terus... enak..." rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan.

Napas Rian terdengar memburu di antara kedua kakiku, sentuhan lidahnya yang basah semakin brutal. Aku mendesah, tak bisa lagi mengendalikan diriku. "Ahh... Rian... terus... enak... Ahhh!" rintihku, suaraku parau, penuh kenikmatan. Gerakannya semakin cepat, semakin intens, dan aku bisa merasakan gejolak dahsyat di dalam diriku.

Aku menjerit, "Ahh! Aku keluar... aku keluar!" Tubuhku kejang, pinggulku bergerak liar, Vaginaku berkedut tak terkendali, Aku merasakan gelombang kenikmatan membanjiri seluruh tubuhku, sebuah sensasi yang begitu kuat, begitu nyata, dan aku menjerit, "Ahhhh!.." Tubuhku lemas, ambruk di sofa, terengah-engah.

Setelah gelombang kenikmatan itu surut, Rian mengangkat kepalanya, tersenyum penuh kemenangan. Ia menatap vaginaku yang basah, lalu kembali menjilati sisa-sisa orgasme yang membanjiri bibir vaginaku. "Manis banget," bisiknya, suaranya serak.

Arif dan Ustadzah Silmi tertawa, tawa mereka terdengar begitu kejam. "Gimana ustadzah? Puas, kan?" tanya Arif.

Mereka berdua tersenyum puas, dan tawa mereka menggelegar, penuh kemenangan. Ustadzah Silmi, yang tadinya diam, kini ikut menimpali. "Ehh, kalian kalau tahu muka Ustadzah Tiara, pasti kepincut," katanya, suaranya penuh kekaguman. "Muka dia cantik banget, sumpah. Kayak blasteran Arab."

Aku terkejut, tubuhku membeku. Silmi membicarakan wajahku seolah itu adalah sebuah objek, sebuah mainan. Tiba-tiba, Rian dan Arif mulai merayuku untuk membuka cadarku. "Ayo, Ustadzah, buka cadarnya," bujuk Rian, suaranya serak. "Aku pengen lihat wajah Ustadzah yang cantik itu."

Arif juga menimpali, "Iya, Sayang, buka aja. Kita janji tidak akan bilang siapa-siapa. Kita cuma mau lihat keindahan wajah Ustadzah."

Aku menggeleng, air mata mengalir dari mataku. "Jangan, Mas... jangan dibuka, aku gak pernah buka cadar ke lelaki yang bukan muhrim" rintihku, mencoba menolak, tapi suaraku lebih terdengar seperti desahan.

"Ayo, Sayang," bisik Rian, suaranya serak. " Gimana kalau nanti, Ustadzah buka cadarnya terus sepong penis kita? Mulut Ustadzah pasti enak banget buat nyepong kontol. Ahh jadi ngebayangin di sepong ustadzah bercadar gini.."

Aku terdiam, tubuhku gemetar. Pikiranku kalut, akal sehatku berteriak, tapi dorongan untuk melangkah lebih jauh terlalu kuat untuk kutahan.

Bersambungg...


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com