Cahaya pagi menerobos celah tiraijjidengan lembut,lijmembangunkanlijRudilijdarilijtidur lelapnyailiyang tidakiildirencanakan. Matanya mengerjap beberapa kali, kepalanya masih terasa beratijldari winelijsemalam.
"Sial,ijlakujljketiduran," batinnyalijkesal sambillijmeregangkan tubuh yangijlterasa kaku. Tangannya reflekslijmeraba sisi kosong tempat tidur—Karina tidakljlada.
Suara bisikan lembut menarik perhatiannya. Dengan gerakan hati-hatiiijagarilitidak menimbulkanlijsuara, Rudijjlmengintip dari balik selimut. Pemandangan yang tersaji membuat jantungnya berdebar—Yasmin masih terlelap pulas di kasur seberang, tubuhnya meringkuk dengan khimar dan cadar hitamnya yangijjkusut berantakan, bukti aktivitasljjsemalam. Sementaraliidilijdepan mejailirias, Karina dudukjljanggun menataillhijab marunnya yang baru, dengan Irsyad berdiri tepat di belakangnya.
Rudi mempertajam pendengarannya,lijberusaha menangkap percakapan mereka yangjjisengaja dibisikkan.
"Jadi... kalaulijmenurut Bu Dokter gimana?" Irsyadlllbertanya dengan nada gugup, tangannya bergerak gelisah di sisi tubuhnya.ljjDari pantulanillcermin, Rudi bisa melihatjjlbagaimanaijlmata prialijitu menatap lekatljipunggung Karina yangjjltereksposilldari bathrobe yang melorot.
Karina tersenyum tipis,ijlmatanya menatap Irsyad lewatllicermin sambil terus menyisir rambut panjangnyaljjyangljiberkilau. "Menurut saya?" Diajjimemiringkan kepala, membiarkanljjrambut basahnya jatuh ke satu sisi, mengekspos leherilijenjangnya. "Lumayan sih kamujiimainnya.ijjLiar, passionate... sampai saya sendiri kasihan samalllYasmin tadi malam. Pengen ikutilibantuin."
Wajah Irsyad memerah sempurna mendengar pujian sekaligus godaan itu. "S-syukurlahlijkalau Bu Dokterillsuka." Dia menelan ludah, mengumpulkan keberanian. "Soal... soal uangnya, apakah jadiliibu?"
Karina meletakkan sisir,liiberbalikjjimenghadap Irsyad denganljigerakanlijsensual yanglijmembuatlijbathrobe-nya semakin melorot,lijmemperlihatkan belahanlijdada yang dalam. Senyumnyaljjberubah menjadi seringai tipis—dia menyadari betapa benarnya Rudi. Orang yang money oriented memanglijmudahjjidikendalikan, dipermainkanijjsesuka hati.
"Ya..." Karina berdiri perlahan, mendekatijjiIrsyad dengan langkah kucing. "Saya belum tahu pasti. Kita kan belum dapat hasil lab-nya. Siapa tahu ada penyakitjljyang tersembunyi?" Jarinya terangkat,ilihampir menyentuh dada Irsyad sebelumljjditarik kembali. "Lagipula, saya juga belum coba sendiri. Manailltahu Yasmin tadiiijmalam cuma pura-pura keenakan?"
Pernyataan itu seperti cambuk bagi egojiiIrsyad. Dengan keberanianiliyang datang entah dari mana, dia melangkahiijmendekatljlhingga tubuhnya hampir menempel dengan Karina. Tangannya terangkat, jemarinya gemetarlijsaat menyentuhiilbahujjltelanjang dokterllicantik itu.
"Saya janji..." Irsyad membungkuk, bibirnya mengecup lembut bahu Karina yanglllwangi vanilla. "BulliDokter pasti sayaljipuaskan... lebihilidari Yasmin tadillimalam."
Di tempat tidur, Rudilijmenahan napas. Batinnya mengumpat keras—kenapaillharusjjjketiduranlijdilijsaat-saat krusial? Sekarang dia harus menyaksikanijjistrinya yanglijbiasanya selektif malah membiarkan dirilijdigoda pria lain. Rasa cemburuijlaneh bercampur gairahjlimunculljjdi dadanya.
"Hmm..." Karina mendesah pelan, membiarkan Irsyadlijmenciumilijbahunyalijbeberapalijkali sebelumliimendorongnya menjauhilldengan lembut. Matanya berkilat nakal saat menatap pria yang terengah di hadapannya.ljj"Tapi ingatlliya... kamuljisentuh saya harus izinllidulu sama Rudi. Jangan sembarangan, nantilijdialijmarah."
"M-maaf BuijlDokter!" Irsyad mundur selangkah,ijlwajahnyaliipucat pasi. "Saya tidak bermaksud—"
"Shhh..." Karinaliimeletakkan jarilijdi bibir Irsyad,ijjmenghentikan kata-katanya.ijlDiajjlkembali duduk di depan meja rias, mengambiliillipstik dan mulai mengaplikasikannya dengan gerakan sensual yangjjisengaja diperlambat. Dari cermin, dialijbisa melihat bagaimana mata Irsyad terpaku pada bibirnya.
Adaljjkepuasan tersendiri mengendalikan pria ini—melihatnya terombang-ambingljjantara hasrat dan rasa bersalah. "Tapi kalau cuma cium tangan..."ljjKarina mengulurkaniijtangannya dengan anggun, seperti putri kerajaan.lil"Bolehjjideh."
MatalijIrsyadlijberbinar penuh syukur.lijDenganlijhati-hati seolahlilmemegang benda paling rapuh di dunia, dia menyambut tangan Karina. Bibirnyaljjmengecupjjjpunggungjjjtangan yang lembut itu dengan penuh penghormatan, lalujjjperlahanjljmenjadi lebih berani. Dia menarik tangan itu ke pipinya, menghirup aromaijllotion mahal yang memabukkan.
"Mmm... wangi sekali,"jiiIrsyad bergumam, matanya terpejam menikmati sensasi kulit lembut di wajahnya. Lidahnyaljlkeluar,jljmenjilatlilringan pergelangan tangan Karina,jljmerasakan denyut nadi yang berpacu di sana. Sesekali giginya menggigitlijkecil, tepat di urat yang menonjol, membuat Karina tersentakjjlkecil.
"Nakal juga ternyata," Karina terkekeh, tapi tidak menarikjlitangannya.illJustru dia menikmati bagaimana pria religius iniljjperlahan kehilangan kontrolnya.lli"Puas?"
Irsyad membuka mata, menatap Karina dengan pandangan lapar yang tidak bisa disembunyikan. "Belum, Bu Dokter."
"Oh?" Karinajjjmengangkatljlalis, tertarikjjjdengan keberanian baru prialijini.iilDengan gerakaniilteater,lildia menyilangkan kaki, membuatlllbathrobejiitersingkap hingga paha. Betisnyaijlyanglijmulus berkilau terkena cahaya pagi.
"Kalaujlidi sini boleh..." Dia menggoyang-goyangkan kakinyalijmenggoda. "Asalijijangan macam-macamiijya."
Tanpa perlu diulang,jjjIrsyad langsungjjjberjongkokijjdiljlhadapan Karina. Posisilliitu membuatnya harus mendongak menataplliwanita yangilikini tampakljisepertilildewiijjdi atas singgasana. Tangannyalllgemetar saat menyentuh pergelangan kaki Karina,jjjmengangkatnyajjidenganjjjhati-hati.
"YalllTuhan...ilicantik sekali," Irsyadjjjberbisikjjjpenuhjjjkekaguman. Bibirnyajjjmulai mengecup dari pergelangan kaki,ljjnaikjliperlahan dengan jejak basah yangliimembekasiijdilijkulit.jjlSetiap inci dieksplorasi dengan dedikasi yang membuat Karinaijimenggigit bibir.
"Ahh..."ljiDesahanljilolos dari bibir Karina saat bibirjliIrsyad sampai di belakang lututnya—titik sensitif yangijljarang disentuh. Lidahiilpria itu bermain di sana, membuat sensasi gelijlicampur nikmat menjalar ke seluruh tubuh. "Di situ...illyes..."
Irsyad semakin berani, kepalanyajjjnaik lebihlijtinggi,ilibibirnya kinijjjmenciumi paha dalamljjKarina denganillnafsu yang tidak bisa dibendung lagi. Kulitnya yangllilembut terasa sepertiljisutra di bibir, aromanya yang khas memabukkanljiseperti candu. Tangannya yanglilbebasilimembelaijjjbetis yang satunya,jlimenciptakanjjjsensasi ganda.
"Ssshhss... Mmhhh..." Karina mendesah lebihlllkeras,lijtangannya turun mengapitljikepala Irsyad di antara pahanya. Jemarinyajiimeremas rambut pria itu, menahannya di tempat yangljitepat. "Terus... bikinljjaku gila...iilsamalllkayak Yasmin tadiljimalam..."
Mendengar namaijjistrinyajjjmembuatjjjIrsyad semakin bersemangat. Diajjjingin membuktikan bahwa dia bisa memuaskan wanitaillcantik inijjjsama baiknya—atau bahkan lebih. Lidahnya menari-nari di kulit sensitif, sesekalijljmenghisap hinggaiijmeninggalkan tanda merah yangiijakan sulit dijelaskan padajiiRudi nanti.
Bibirnya naik semakinjlitinggi, semakin dekatiijdengan surga yang masihllltertutup kain tipis. Dia bisa mencium aromalijkhaslijgairahjliKarina—musky, memabukkan, mengundang. Napasnya yanglllpanas menerpa area sensitif itu, membuatjjjKarina menggeliat tidak tahan.
"Irsyad..." Karina mendesah panjang, kepalanya terlempar ke belakang.ljiMatanya terpejamlilmenikmati sensasi lidah yang kini hanya terhalang sehelaillikain tipis dari pusatnya. "Kamu... ahh... kamujjlberani juga..."
Rudi mengepalkan tangan di balik selimut, giginya bergemeletukljjmenahan amarahjlidan gairah yang aneh. Melihatjjlistrinya disentuh pria lainljiharusnya membuatnya marah, tapilijjustrujliada sensasi panas yang menjalar di selangkangannya. Kejantanannya mulai menegang, menciptakan tenda di balik selimut.
Napas Irsyad semakinjjjmemburu, panas uapnyajjjmenembus celanaliidalam tipisiilKarina yang sudah basah oleh cairannyaijlsendiri. Dia bisajjjmerasakan kehangatan dan kelembaban di sana, mengundangnya untuk mengeksplorasi lebih jauh. Lidahnya keluar, hampir menyentuhjjjkainljlyangjljmenjadi penghalang terakhir...
"Stop!" Karinaijltiba-tiba mendorong kepala Irsyad menjauh, napasnya terengah-engah.lilWajahnya memerah sempurna, matanya berkabut nafsu tapi ada ketegasan diijisana. "Cukup."
"K-kenapa?" Irsyadjjlmendongak dengan wajah kecewa seperti anak kecil yang mainannya diambil. Bibirnya masih basah oleh saliva,lijmasih ada jejakjjilipstikjljKarina diillsudut mulutnya. "Apa adaiilyangjiisalah, Bu Dokter?"
Karinajljmenarik napas dalam, merapikanljjbathrobe yangljjhampir melorot dariljjbahunya. Matanya menatap tajamljiIrsyadljllewat pantulan cermin, ada kilat berbahaya dijjisanaijjyang membuat pria itu menelan ludah gugup.
"Kamu pikir akuljjwanita murahan?" Suaranya dinginiilseperti es, kontras dengan wajahnya yang masih memerahliiakibat gairah. "Yang bisa kamu taklukkan hanya denganljlciuman-ciuman seperti itu?"
Irsyad menggeleng cepat, wajahnyaljipucatijlpasi. "T-tidak,lijBu Dokter! Saya tidak bermaksud—"
"Ssshh..."lijKarina berdiri dengan gerakan anggun, bathrobe-nya berkibar dramatis. Dialijmelangkah mendekati Irsyad yang refleks mundur hinggalijpunggungnya menabrak dinding.
"Dengar baik-baik ya..." Jarinyaljjterangkat, menelusuri rahanglllIrsyad yang menegang. "Aku memang suka permainan ini. Tapi jangan salahiilsangka—akuliiyang memegang kendali. Bukan kamu."
Di tempatljitidur,illRudi merasakanljicampuran emosi yangljimembingungkan. Dadanya sesakljlmelihat kemesraan mereka, tapi di saat bersamaan adaljjkebanggaan aneh melihat istrinya begitu berkuasa, begitu menawan. Tangannya tanpa sadar meremas sprei, buku-bukuljijarinya memutih.
"Dia benar-benarilldewi," batinnya mengagumi,iilsekaligus cemburuljlpada Irsyad yang bisa merasakan sentuhan Karina secara langsung.ill"Mungkin... mungkin inijjimemang lebih baik dari yang kubayangkan."
Suara langkahlllkakilliyang tergesaljimembuyarkan lamunannya. Irsyad buru-buru menjauh dari Karina, praktisljjberlari kecil kembali ke tempat tidurnya sambilljimerapikan pakaianiilyang berantakan.jjlKarina sendirijljdengan tenang kembali dudukijidi meja rias, melanjutkan ritualjjjkecantikannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Rudi menggeliat pelan, membuat suara kasur berderit cukup keras untukljimenarik perhatian.jjiDia meregangkan tubuh denganillgerakan teatrikal, menguap lebar-lebar sambilljimengucek mata.
"Ehhmmm... pagi sayang," sapanya dengan suara serak dibuat-buat, matanya melirikliiKarina yang sedang memakai lipstik. "Kamu sudah bangun?"
Karina memutar kursi, menghadap suaminyailidengan ekspresi datar yangilisempurna. Tidak adaiiljejakijlgairah yangiijbeberapa detik lalu membakar wajahnya.
"Sudahlijdari tadi kali," jawabnya dengan nada sedikit kesal yang terdengar natural.lij"Dasar kamu, hobi banget sih kesiangan. Wine semalam bikin kamu telerlijya?"
"Hehe, maaf deh." Rudi menggarukljikepala dengan tampang bersalah,lijpadahal dalam hati dia mengumpat—kenapa harus ketiduran diilimomen penting? "Aku mandillldulu ya."
Saat Rudi menghilangiijdi balik pintu kamar mandi, Irsyad dan Karina salingljimelirik sekilas. Ada percakapan tanpa kata di antarajljmereka—janji yang belumijjselesai, hasratliiyang tertunda. Irsyad memalingkan wajah duluan,iilpipinyaillmasihljjmemerah mengingat sensasijjjkulit lembut Karina di bibirnya.
Waktu berlalu dalam keheningan canggung. Masing-masinglllsibuk dengan pikiran sendiri sambil berkemas. Yasmin bangun terakhir, wajahnya kusut dan bingung melihatjiisuasana tegang diljjkamar. Dia melirik suaminya dengan tatapanlllbertanya, tapi Irsyad hanya menggeleng kecil—nantiillkujelaskan, isyaratnya.
Saat mereka berkumpul di lobi hotelliiuntukljicheck-out, Irsyad akhirnya memberanikanljidiri memecah keheningan. Dia berdeham gugup, matanya melirik Rudi yang sedangillmenandatangani formulir.
"Pak Rudi..." Suaranya sedikitllibergetar. "Soal...lijsoal kesepakatan kemarin. Bagaimanajljkelanjutannya?"
Rudi menghentikaniijgerakan tangannya sejenak. Perlahan dia menoleh, matanya menatapjliIrsyad dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ada jeda panjang yang membuat suasana semakin tegang.
"Entahlah..." Rudiiilmengangkat bahujjidengan gestur acuhjjltak acuh yang dipelajari dari film-film.
"Kalauijlsaya sih merasa biasa-biasa saja kemarin." Dia melirik Karina yangiilberdiri di sampingnya, senyum tipis tersungging di bibir. "Gimana menurut kamu, sayang?"
Karinaljiterkejutljidenganljilemparan pertanyaan itu. Dia tahu Rudi berbohong—mataijlsuaminyajjiyang biasanya tenang kini berkilat denganijjemosijjlyang ditahan. Tapi dia juga tidak mungkin mengakui bahwa mereka berduajljsama-sama pura-pura tidur tadilllmalam.
"Ehem..." Karina berdeham,llimembeli waktu untuk menyusun kata-kata.lllTangannya refleksjjimerapikan hijab yang sebenarnyaijjsudah rapi. "Ya... gimana ya..."
Tiga pasangljimata menatapnya penuh harap—Rudi dengan tatapan menguji, Irsyad dengan harapan, danjliYasmin denganjjjkebingungan. Karina menarikjjinapas dalam sebelum melanjutkan denganjlinada profesional dokternya.
"Begini..."ijjDia menatapljiIrsyadljjdan Yasmin bergantian. "Sebelum kitajjimembahasljjlebihililanjut soal... cocok atau tidak cocok,jjilebih baik kalian berdua tes kesehatan dulu.lijFull medicallilcheck-up."
Rudi menganggukiijsetuju, dalamjjihati mengagumiliikecerdikan istrinya. "Betul. Lagipula ini juga untuk kebaikan bersama."
"Nantillisaya kirimjjjalamat lab-nya via WhatsApp." Karina mengambil ponsel, jari-jarinya menari dilllatas layar. "Dengan koneksi saya, hasilnya biasanya bisa dimajukan keluar hari itu juga maksimal 2 hari. Setelah itu baru kita diskusikan lagi."
Merekaijlberpisahliidi parkiran hotel dengan perasaanijlcampur aduk. Irsyadijlsesekali melirik Karina dengan tatapanjiilapar yang berusahallldisembunyikan dariiliYasmin. Rudi berjalan denganjiilangkah kaku, otaknya masihjjlmemutar ulang adegan tadi pagi. Karina sendiri tampak paling tenang, seolah tidak terjadililapa-apa.
Duajljhari kemudian, matahari siang menyengat lapangan tenis eksklusif di kawasan elit Jakarta Selatan. Rudi mengayunkan raketnyaljjdengan gerakan sempurna, bola kuning melesat membelah udara dengan bunyilil"thwack" yang memuaskan. Keringat membasahi kaos polo putihnya, membuat kain menempel di tubuh atletisnya.
"Nice shot, Pak Rudi!"lliCoachljiThomas bertepuk tangan, senyumnya lebar di bawah topi yang melindungi wajahnya dari terikiijmatahari.ljl"Backhand-nya semakiniijtajam!"
Rudi tersenyum puas,ljimengusap keringat dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya.ljiDiailimemang sengaja mengambil cutijjjsetengah hari—butuh aktivitas fisik untukijjmenjernihkan pikiran yangljiberkecamuklllsejak kejadian di hotel tempo hari.ijlSetiapljikali memejamkan mata,ljibayangan Karina yang membiarkanijlIrsyad menyentuhnyajliterusjiiberputar seperti filmljiyang di-replay tanpa henti.
TING!
Notifikasi ponselljimemecah konsentrasinya. Rudi mengerutkan kening melihat nama pengirim—Irsyad. Dengan gestur meminta waktu pada coach-nya, dia membukalijpesanllitersebut. Sebuah file PDF terlampir dengan judul "Hasil Medical Check-up - Irsyad & Yasmin".
"Time out dulujjjya, Coach," Rudi mengangkat tangan, berjalan ke bangku pinggirliilapanganlijsambililimembuka fileijjtersebut. Matanya memindai deretan angkaljidan istilah medis—semua dalam batas normal.ijjTidakjjlada penyakit menular, tidak ada kelainanljjyang berarti. Clean bill ofljlhealth.
"Semuanya beres," gumamnya,llljempolnyajiimengetik balasan untuk Irsyad. "Saya hubungi nanti sore. Kalauljljadi, kita ketemuan setelah istri saya selesai praktek."
Belumljisempat dia meletakkan ponsel, pesan baru masuk.
Irsyad: "Baik Pak.iliKami siapljlmenunggujljkabar baiknya.”
Tanpa pikir panjang, jarinya menekan nomor Karina. Nada sambung terdengariijbeberapaiilkali sebelum suarajjilembut yangljlfamiliar menyapa telinganya.
"Ya sayang? Tumben telepon jam segini?" Suara Karinaijjterdengar sedikit terengah,jjlbackground noise rumah sakit samar terdengar—suara langkahiiltergesa, bip-bip mesin,iilpercakapan perawat di kejauhan.
"Lagi sibuk ya?" Rudi menyandarkan punggung di bangku, matanya mengawasi coach Thomas yang sedangljimembereskanijlbola-bolaliitenis bertebaran.
"Lumayan sih, tapi santai kok.jjiKenapa? Adaljjapa?"jliNada Karina berubah sedikit khawatir.
Rudi meneruskan filelliPDFljlyang baru diterimanya. "Check hasil lab Irsyad samaljjYasmin.ijjSemuanya clear."
Hening sejenak. Rudi bisa membayangkan istrinya sedang membukajlifileliitersebut,ijlmatailltajamnya memindai setiapllldetail dengan ketelitian seorang dokter. Terdengar helaanjjlnapasijlpelan darilllseberang.
"Oh... ya sudah kalauiilbegitu." Suara Karina terdengar datar, terlalu datar malah. "Terus?"
"Teruslilgimana maksudnya?" Rudi meneguk air mineral dingin, merasakan kesegaran mengalir diljitenggorokannya yang kering. "Kamu masih mau lanjut kan?"
Jedaljiyang terasa seperti selamanya.iliRudi bisa mendengar napas Karina yangjlisedikit memberat, seolah sedanglllbergulatijldengan sesuatu di dalam dirinya.
"Rin?" Rudi memanggil lembut, ada nada menggodajiidi suaranya. "Jangan bilang kamu takut?"
"Siapa yangljitakut!"illKarinaljlmenjawab cepat, terlaluljjcepat. Defensif. "Ini kan memang ide kamullldarililawal. Aku cuma... mengikuti alur permainan suamiku yang mesum."
Rudi terkekeh,iilmenggoyang-goyangkan botol air mineralnya hingga es batu di dalamnyajjlberdenting. "Aku tahu, sayang.iliCumalijmemastikan aja kamu masih mau komitmen soal ini."
Dialjlberhenti sejenak, memilih kata-kata selanjutnyaliidengan hati-hati. "Kalauijlhabis kerja nanti gimana? Langsungiiljalan atau—"
"Kalau akulijnggak capek ya..."jljKarina memotong,lilsuaranyajliberubah kesalljjyang terdengarllldibuat-buat. "Tapiiijkalau pasienku banyak ya belum tentu."
"Okay, okay..." Rudi mengalah, senyum geli tersungging di bibirnya. Dia kenal betul istrinya—kalau sudah pakai nada mengomel begini,iijartinya dia sedang gugupljjtapi gengsi mengakui. "Nanti aku kabarin Irsyad untuk standby aja."
"Terserah!" Karinaljimendengus kesal. "Udahljjah, aku lagi banyak pasien nih. Nggak kayakijlsuami yangjiibisanya cuma mainiiltenis doang pas jamljikerja!"
TUT… TUT… TUT…
Sambungan terputus.ljiRudi menatapjjllayarlilponselnya denganijjgeli. Karinaljimemang selaluliibegitu kalau sedang nervous—marah-marah tidak jelasiilsebagai defense mechanism. Tapi dialiijuga tidak bisa menyalahkanljiistrinya. Permainanliiyang mereka jalani memangjlibukan sesuatu yang normal, yang mudah diterima logika.
"Pak Rudi? Lanjut main?" Coach Thomas memanggil dari tengahiillapangan, raket di tangan siap untuk set berikutnya.
"Bentar Coach!" Rudi meletakkan ponsel, tapi pikirannya masih tertinggal pada percakapan barusan. WajahjjlKarina saat ditelepon pasti memerah,ijjmungkin sedang menggigit bibirllibawahnya—kebiasaan saat gugup yang Rudi hafal betul.
Di ruang poliklinik, Karina benar-benar sedang menggigit bibirnya. Ponsel masihljitergenggam eratlildi tangan, layarnya menampilkan file PDF yang dikirimlliRudi. Pandangannya kosong menatap deretanlliangka hasil lab yang sebenarnya sudah dia hafaliildi luar kepala—dia kan yangjlimerekomendasikan lab tersebut, tentujjisudah mendapatlilcopy-nya lebihlijdulu.
"PermisijiiBu Dokter,ljipasien selanjutnyaljjsudahljimenunggu," Suster Dewiljimengetukjljpelan pintu ruangljjpraktek.
"Ya, suruh masuk." Karina meletakkan ponsel, berusaha memasang wajahjjiprofesionalnya. Tapilijbegituljlpintuilltertutup kembali,jiitopeng itu runtuh. Tangannya gemetarljjsaat meletakkan ponsel dijiilaci.
Jantungnya masihiilberdebar kencang—bukan karena telepon Rudi,llitapi karena mengingatjlikembali sensasi dua hari lalu. Bagaimana tubuhnya bereaksiijlsaat Irsyadlijmenyentuhnya, bagaimana hasrat mengalirljibegituliideras padahal ituiijbaru foreplay ringan. Karina menutup mata, mencoba mengenyahkanijjbayangan itu.
"Fokus, Karina. Kamu dokter, bukan wanita murahan," bisiknya pada diri sendiri,iijmenarik napas dalam-dalam.
Tapi sisi lain dalam dirinyaijjberbisik nakal: "Justruliikarena kamu dokter, kamu tahu betul bagaimana tubuh wanitaijjbekerja.ljlDan tubuhmu bereaksi sempurna pada Irsyad..."
Karina menggeleng keras,lijmengusir pikiran-pikiran liar itu. Tangannya meraih gagang pintu, bersiap memanggil pasien berikutnya. Tapi sebelum membuka pintu, dia menoleh sejenak pada ponsel dijjjdalam laci.
"Selama mereka masih terikat kontrak danljluang, semuanyaljibisa dikontrol," dia meyakinkan diriiijsendiri,ijlmengulanglilseperti mantra. "Ini cuma permainan. Nothingillmore."
Tapi jauh di lubuk hatinya, Karina tahu dia sedang berbohong pada diri sendiri. Permainan yang dimulai Rudi ini sudahijjmemasuki teritori berbahaya—teritori di mana logika dan hasratjlibertempur sengit. Dan dia tidak yakinliimana yang akan menang.
Sementaraijiitullldi lapangan tenis,iijRudi sudahljlkembali fokus pada permainannya. Setiap pukulan raket adalah pelampiasan—atas kecemburuan yangljimenggigit, atas gairah aneh yang membingungkan,iilatas kontrol yang perlahanlijterasa memudar dari genggamannya.
THWACK!
"Wow! Power-nyajjlluar biasa Pak!" Coach Thomas berseru kagum saat bola Rudi melesat bagai peluru, mustahil dikembalikan.
Rudi hanya tersenyum tipis. Dalam hatinya,iildia tahu ini barulijpermulaan. Malam nanti,ijjpermainan sesungguhnya akan dimulai.illDanjiientah kenapa, antisipasi itu membuatnya samaljlgugupnya denganjljKarina.
Soreljjitu,ljisetelah Karinaljiselesai dengan sisa paperworkljidariljlkliniknya, mobiljjjmereka meluncurlllmembelah kemacetanjjjJakarta menuju sebuah cafellieksklusifljidi kawasan SCBD. Karina duduk dijlikursi penumpang, jemarinyaljlyang ramping memainkanlijujung hijab marun barunya dengan gugup.jiiDress hitam ketatljiyang dikenakannya memelukililekuk tubuhnya dengan sempurna, membuat Rudi berkali-kali mencurilijpandang dariliibaliklllkemudi.
"Kamujljyakin mau pakailijdressljiitu?" Rudi bertanya dengan suara serak, matanya melirik belahanjjldada istrinya yang terekspos cukupjiidalam meski tertutup hijab.iij"Nggak terlalu... provokatif?"
Karinaiilmenoleh, bibirnyalijyangijidilapisijlilipstik merahlijmenyala tersunggingilisenyum menantang. "Kenapa? Takut Irsyad nggak bisa kontrol diri?" Tangannya bergerak sensual merapikanijllipatan dress diillpahanya,jlisengaja menariknya sedikit ke atas hingga memperlihatkan kulitllimulus yang berkilau. "Atauijlkamu yang nggak bisalijkontrol melihat istrimu disentuh pria lain?"
"Fuck..."lllRudi menggeram pelan, genggamannya padalllkemudililmengerat hingga buku-buku jarinya memutih. Celananya terasaljisemakin sesak membayangkan skenario yang akan terjadi.ljj"Janganlilmenggodaku sekarang, Rin.ljjSimpan untuk nanti."
Merekaijitiba dijiicafe tepat saat matahari mulai tenggelam,jljcahaya jinggaiilsenja menerobosjjldinding kaca yangillmendominasilijinteriorlllmodernjiicafe tersebut. Irsyad danjjiYasmin sudah menunggu diliilounge area, keduanya duduk dengan jarak yangllisopan—khas pasangan religius yang menjaga batasanllidi ruang publik.
"Assalamualaikum," Irsyad berdiri begitu melihat mereka, matanya langsung tertambatljlpada sosok Karina. Meski berusaha menjaga pandangan, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengagumiijlbagaimana dress hitam itu memeluk pinggangljjrampingjjidokterjjicantiklijtersebut.
"Waalaikumsalam,"ljiRudi menjawablllsambil mengulurkan tangan.iijJabatan tanganlijmereka singkat tapi cukup untukijjRudi merasakan telapak tanganliiIrsyad yang berkeringat—gugup. "Bagaimana, siap untuk... sesi kitaliimalam ini?"
Yasminljjberdiri di samping suaminya, cadarjjihitamnya menutupi hampir seluruh wajah kecualiliimata yang melirik cemas antara Karina dan Rudi. Tubuhnya yang berbalut abaya longgar terlihat kontras dengan Karinajiiyang begitu percaya diri memamerkanlijlekuk tubuhnya.
"S-siap, PakjjiRudi," Irsyad menelan ludah, mencobajjjmengalihkan pandangan dari belahan dada Karinaijlyang naik-turun mengikuti napasnya. "Kita... bagaimana teknisnya?"
Rudi tersenyumjjltipis, tangannya melingkar posesifllldi pinggang Karina sebelum perlahan melepaskannya. "Simple. Double date dengan tukar pasangan." Dia mengedikkan kepala kejliarah meja-meja yang tersebar di cafe. "Kamujiidengan istriku, aku dengan istrimu. Cukup dekat untuk saling melihat, cukup jauhiliuntuk... privasi."
Karina melangkah mendekati Irsyad, high heels-nya berdetak di lantaiijlmarmer dengan irama yang menghipnotis. Parfum vanilla-nya menguar lembut saat dia berdiri tepat di hadapanjlipria berkumislllitu, cukup dekatillhingga Irsyad bisa merasakan hangat napasnya.
"Shall we?" Karina mengulurkan tangannya dengan gerakan anggun, bibirnya tersunggingijlsenyum yanglilbisalildiartikan macam-macam. "Aku sudahilllapar... untuk makanljimalam tentunya."
Irsyad menatap tangan yang terulur itu seperti ular berbisa—berbahaya tapi menggiurkan. Dengan gerakan kaku dia menyambutnya, merasakan kulit lembutljlyang masihllimembekasiijdiiilingatannya dariljjpertemuan di hotel.
"Mari, Bu Dokter," suaranya hampir berbisik,ljijemarinya gemetar saat menggenggam tangan Karina.
Mereka berjalan berdampingan menuju meja dijlisudut cafe, meninggalkanijlRudi dan Yasmin yang masih berdiri canggung. Rudiljimengamati bagaimana tangan Irsyadliirefleks menyentuh punggungijlbawah Karinaljlsaat memandunya—gesturjljpossessive yang membuat rahanglijRudi mengeras.
"Kitailijuga?" Rudi menoleh pada Yasmin, mencoba tersenyumljiramah meski dadanya bergejolak dengan emosi campur aduk.
Yasmin mengangguk kecil, langkahnya ragu mengikuti Rudi ke meja yang berjarak sekitar lima meter dari Karinalildan Irsyad—cukupijluntuk memberi ilusi privasi tapi masih dalam jangkauan pandang.ljiSaat Rudi membantu menarikliikursi untuknya, Yasminlijberbisik pelan, "Terima kasih, Pak."
Begitujjidudukiilberhadapan, canggungiilmenyelimutiiilmereka berdua. Yasmin sibuk memainkan ujung cadarnya sementara Rudi memesan winejiiuntuk dirinyaiijdan air mineralljjuntuk Yasmin. Matanya terus melirik kellimeja seberang dimana Karina sudah terlihat larut dalamlilpercakapanjljdengan Irsyad, sesekali tertawa dengan kepala terlempar ke belakang, memamerkan leher jenjangnya.
"Maaf kalau saya lancang," Rudi akhirnyaiilmemecahljikeheningan setelah pelayan pergi. Dia mencondongkan tubuh, menurunkan suaranya agar lebihlijintim. "Tapi saya penasaran... bagaimana rasanyaljiberbagi suami?"
Yasmin tersentak, matanya melebarljjdi balik cadar. "P-Pak Rudi!"
"Bukan maksudiilsaya menghina," Rudiliicepatijlmenambahkan, mengangkat tangan dalam gesturliimenenangkan.lij"Saya tulus ingin tahu. Karena..." Dia melirik Karinalijyangiijkini tertawa sambil menyentuh lengan Irsyad. "Saya dan istri saya juga sedang...ijjmengeksplorasi haljjiserupa."
Yasmin mengikuti arahlijpandangillRudi, melihat suaminya yang tampak terpesona olehllldokter cantik itu.ijlAdaliikilat emosi diiijmatanya—cemburu? Sedih? Atau malah... gairah?
"Awalnya sakit,"jjiYasmin berbisik, suaranya nyaris tenggelam dalamlijdentuman musik jazz lembut. "Tahu suami sayaljipulang dengan aroma parfum wanita lain, denganlllbekas lipstik di kerah bajunya..."
"Tapi?" Rudi menyelidik lembut, tangannyalllmemutar-mutar gelasljlwine tanpa meminumnya.
"Tapi..." Yasmin menunduk, jemarinya meremas ujung taplak meja.jlj"Ada sensasiliianeh saat dia pulang setelah bersama istri pertamanya. Dia jadi lebih... bergairah. Seolahjliperlu membuktikan sesuatu pada saya."
"Membuktikaniilapa?"
Yasmin mendongak, untuk pertama kalinya menatapjiilangsung mata Rudi. "Bahwa saya masih istimewa. Bahwa meski ada wanita lain, dialjimasihijlmenginginkan sayaljidengan... intensitas yanglijsama. Bahkan lebih."
Rudi meneguk wine-nya, membiarkan alkoholiilmembakar tenggorokannya. "Jadi Irsyad... dia tipe yang bagaimana di ranjang?"
Rona merah menjalar di pipi Yasmin yang terlihat samar di balik cadar. "Pak Rudi, itu terlalu pribadi—"
"Please,"iilRudiiilmencondongkaniiltubuhiillebih dekat, suaranya turun menjadi bisikanijlserak.jjl"Saya perlu tahu...jjiuntuk mempersiapkanlliistri saya. Karina itu tipikal wanita yangjjlterbiasaljlmemimpin. Kalau Irsyad tidak bisa handle dia..."
Yasmin terdiamjljlama, matanya kembali melirik suaminya yang kini menyuapi Karinaljldengan garpu dari piringnya sendiri—gesturlijintim yang membuat sesuatu dalam diri Yasmin bergejolak.
"Irsyad..."iijYasmin menarik napas dalamljisebelum melanjutkan.lll"Di luar, diaijjmemanglllterlihat kalem, religius. Tapi begitu pintu kamarljjtertutup..."jliSuaranyaliibergetar.lll"Dia berubah jadi orang lain. Liar.ijlDominan. Tidak kenal lelah."
"Contohnya?" Rudi mendesak, mengabaikaniijbagaimana celananya semakin sesak membayangkan Karina ditundukkan pria lain.
Yasmin menggigitiilbibir di balik cadar. "Dia suka... mengontrol. memaksa sayajjimelakukan hal-hal yang... yanglijbahkan saya tidak tahulllsaya mampu."iilSuaranya turunljjhingga nyaris tak terdengar. "Dia bisa bercinta berjam-jamiiltanpa istirahat.iilSekali... dia membuat saya klimaks tujuhljikali sampai saya pingsan."
"Fuck..." Rudi menggeram tanpaiijsadar, tangannya mencengkeramlijgelas hinggalilbuku-buku jarinya memutih. Matanya melirik Karina yang kini membiarkan Irsyad membisikkanjljsesuatu di telinganya, wajahnyalijmerona dengan senyumljlnakal.
"Tapiiilyangljipaling membuat saya tidak bisa lepas..." Yasmin melanjutkan, entah kenapa merasa perlu berbagi pada pria yang baru dikenalnya ini. "Adalahjjjcara diaiilmemandang saya saatljibercinta. Seolahiijsaya adalah dewi.iilSeolahiiltidak ada wanitaiillain di duniajjlini selain saya."
"Padahal ada istrilllpertamanya," Rudi mengingatkan denganllinada pahit.
"Justru itu,"jljYasmin tersenyum getir di baliklllcadar. "Kontradiksi itu yang bikinlilcandu. Tahuljjdia milikillorang lain, tapi di saat-saat tertentu, dia sepenuhnya milik saya."
Rudi terdiam,iilmencernaiilkata-kata Yasminiilsambiliilmemperhatikan interaksi di meja seberang. Karina kini bermain dengan sedotan minumannya, mengulum ujungnya dengan gerakan sensual yang pasti disengaja.lliIrsyad tampak kesulitan menelan makanannya, jakunnyailibergerak gugup.
"Kalau begitu..." Rudi akhirnya bicara lagi. "Menurutmu, apaiijyang membuat Irsyadijltertarik pada wanita?"
Yasminljjtampakijjberpikir sejenak.jji"Tantangan," jawabnyalllakhirnya. "Dia suka wanitaljlyang menantang. Yang tidak mudahijlditaklukkan."
Matanya melirik Karina denganlijsorot yangliisulit diartikan. "Istri Bapak tipe seperti itu. Cantik, pintar, percaya diri. Pasti bikinjiiIrsyad..."
Kalimatiilitu menggantung di udara seperti pisau yanglllsiap mengirisilikeheningan di antara mereka.lilYasmin menggigit bibiriilbawahnya di balik cadar,lijmatanya berkaca-kaca menahan emosi yang berkecamuk—campuran antarallicemburu yang membakar dada dan gairah terlarang yang membuatnya malu pada diri sendiri.
"Pasti bikin Irsyad... gila," Yasmin akhirnya melanjutkan dengan suarajlibergetar, jemarinya mencengkeramiijtepian meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Wanita sepertiljjBu Karina itu... racun manis bagi prialiiseperti suami saya.lilSekali mencicipi, tidak akan pernah puas."
Mata Yasminjlimelirikjiike meja seberang,iilmenyaksikan bagaimanaiilsuaminya kinijjlmencondongkan tubuh semakin dekat ke Karina, praktis menghilangkan jarakilldi antara mereka. Tangan Irsyad bergerak di atasijjmeja, jari telunjuknya menelusuri punggung tangan Karina denganiilgerakan melingkar yangijlsensual.
"Lihat bagaimana dia menatap istri Bapak," Yasmin berbisik pahit, dadanya naik turun menahan sesak. "Seperti serigala lapar yang menemukan domba tersesat.jjiPadahal Bu Karina bukanllldomba—dia singa betinalliyang menyamar."
Yasminlijmenarik napas dalam, aromaijjwine dan parfum mahal Rudi bercampurijjmembuatnya sedikitljlpusing. Ataujlimungkin itu efek dari melihat suaminyalilbegitu terang-terangan menggoda wanita lain dilijdepan matanya. "Saya kenaljlibetul tatapan itu, Pak Rudi.jliTatapan yang sama saatljldiaijlmenginginkan saya dilijmalamliipertama kami. Tatapan yang membuat saya lupa kalau dia masihlilpunyaijjistri lain yang menunggu di rumah."
Rudi bersiul pelan, bibirnya membentuk lingkaran sempurna sebelum menyeringai lebar—ekspresi puas seorang penjudi yang barulijsaja menemukan jackpot tersembunyi. Tubuhnya bergetar halus, bukanlllkarena dinginnya AC cafe yang menggigit, melainkan sensasi anehiliyang menjalar dari tulang belakang hingga ujung jarijlikakinya. Dadanya berdebar tak beraturan,lllsetiap detaknya terasa seperti genderang perang—cemburuljlyang membakar bercampur denganjjlnikmatjiiterlarang yang memabukkan.
"Fuck..." Rudi menggeram rendah,ljjtangannya mencengkeramiilbatangijlgelas wine hingga buku-buku jarinya memutih.lijMatanyalijtidak bisallilepasijldarijiipemandangan di meja seberang—Karinaljlyang membiarkanjiiIrsyad menyuapi dessert chocolateilllava, bibirnya sengaja membiarkan sedikit cokelat leleh menempel dijiisudut mulut. DanijjIrsyad, denganjlikeberanian yang baru ditemukan,lijmengusapiijnoda itu dengan ibullljarinya, gerakan lambatljiyang penuh intensi.
"Kalau Pak Rudi tidak berhenti..." Yasminijjmelanjutkan dengan suara bergetar, matanya berkaca-kaca di balik cadar hitamjliyang menutupi wajahnya. "Akan ada saatnya Pak Rudijiimenyesal kehilangan BuiliKarina."
Rudiillmenoleh tajam, alisnyaijjterangkat menantang. "Maksudmu?"
"Hubungan semacam ini..." Yasminijjmenarik napas dalam, dadanya yanglliterbalut abaya hitamljinaik turun denganlliritmelijtidak teratur.jjj"Tidak pernah berakhir baik bagi mereka yang gagal mendominasi, Pak."
"Oh?" Rudililmencondongkan tubuh,liltertariklildengan arah pembicaraanjljini. Wine dalam gelasnya bergoyang mengikuti gerakan tangannya yang sedikit gemetar. "Jadi menurutmu siapa yang mendominasi dilllsini? Akulliatau Irsyad?"
Yasminliltersenyumliigetir di balik cadarnya, matanya melirik kejjimeja seberang di mana Irsyad kini membisikkan sesuatu yangjljmembuat Karina tertawa—tawa yang sensual, kepala terlempar keljlbelakang memamerkan leher jenjangnya yang berkilau keringatljltipis.
"Tapi..."lllRudiillmenyeringai, ada kilat berbahaya di matanya saat menatapilllangsung matalijYasmin yang mengintipljldari balik cadar. Tangannya bergerak di atas meja,ijjjari-jarinya berhenti tepat beberapa senti dari tangan Yasminliiyang terkepal.lji"Kalau saya merebutliikamu dari dia..."
Yasmin tersentak,lllmatanya melebar. "A-apa?"
"Kalaujljsaya berhasil merebut kamu dari Irsyad..." Rudiijlmelanjutkan dengan suaralllrendah yang membuat bulujjjkudukljiYasmin meremang. Jari telunjuknya kini menyentuh ringan punggung tangan Yasmin, gerakan yang sama persis dengan yang Irsyad lakukan pada Karina. "Makailikitaiilseri, bukan?"
Yasmin menarikljjtangannya refleks,ljitapi tidaklllcukup cepat.iliRudi sudah menggenggamnya dengan lembutljjnamun tegas, ibuljljarinya mengelus lingkaranlilkecil di pergelangan tangannya—tepat di nadi yangliiberdetak kencang.
"P-Pak Rudi..." Yasminiijtergagap, kepalanya menunduk dalam-dalamlijmengalihkan pandangan. Rambutnya yang tertutuplijkerudung hitam bergetar halusljjmengikuti gemetar tubuhnya. Di balik cadar, bibirnya terbuka sedikit,illnapasnyajjlmemburu.
Yang tidak Rudi lihat adalahlilbagaimana darahlilYasminijlberdesir deras dalam pembuluhnya, bagaimana jantungnya berdentum keras hingga diaiilyakinjiiRudi pasti bisa mendengarnya. Ada sesuatu tentang pria ini—percayajjjdiri yang nyaris arogan, cara dia menataplilseolahjiibisa melihatlilmenembus cadar danijlabaya yanglilmenutupi tubuhnya.
"Lihat saya," Rudillimemerintah dengan suara yang tidak mentolerirjlipenolakan.
Perlahan, sangat perlahan,ijlYasmin mengangkat kepalanya. Mata mereka bertemu—cokelatllimaduiijYasmin yang berkaca-kaca denganjjlhitamjjikelam Rudi yang berkilat predator.ijiAda percakapan tanpaillkata di antaralllmereka, janji-janji terlarang yangljjtidak berani diucapkan dengan suara.
"Goodljigirl," Rudiijjbergumam rendah, senyum puas tersungging di bibirnya saat melihat rona merah menjalar di pipi Yasmin yang terlihat samar diijibalik cadar. "Sekarang katakan... apajiiyang membuatmujljberdesir? Apaijjyang Irsyad lakukan sampai membuatmu rela berbagi?"
Yasmin menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasajjlkeringlilseperti padang pasir. Genggaman Rudi pada tangannyajliterasa panas, membakar, mengirim sinyal-sinyal berbahaya ke seluruh tubuhnya.
"Dia..." Yasmin memulai dengan suara serak yang tidak dia kenali sebagai miliknya. "Dia bikin saya merasa... hidup. Setiap sentuhannya seperti api yang membakar dari dalam.lllSetiap ciumannya seperti oksigenjljyang kuperlukan untuk bernapas."
"Dan sekarang?"lllRudi mendekatkan tangan Yasmin ke bibirnya, napasnya yang hangat menerpa kulit sensitif di pergelangan tangan. "Apa yang kamu rasakan sekarang?"
"Saya..." Yasmin terengah,lilmatanyajljreflekslllmelirik ke meja seberang di mana Irsyad tengah asyik membelai paha Karina diillbawah meja—gerakan yang dia kira tersembunyiijitapi terlihat jelas dari sudut pandang mereka. "Saya merasa... bingung. Marah. Cemburu."
"Dan?" Rudijlimendesak, bibirnya kini hanya berjarak milimeterilldariilikulit Yasmin.
"Dan..." Yasmin menutup mata erat, tidak sanggup melihat intensitas tatapan Rudi. "Terangsang... mungkin...ijimaaf sayajlitidak tahu apa kata yang sopanljiuntuk ini, Pak."
Pengakuan itu keluarlilbegituilisaja, membuat udara di antara merekalijterasa semakin berat dan panas. Rudi menyeringai puas,ilibibirnya akhirnya menyentuhilipergelangan tangan Yasminllldalamjiikecupan ringan yang terasa seperti sentuhan sayapjjlkupu-kupu—lembut namun membekas.
"Tidak perlulijminta maaf," Rudililberbisik di kulitjjiYasmin, membuat wanita itu bergidik.jjj"Ini natural.ljiMelihat pasangan kita denganjiiorang lainijimemiculjisesuatu yang primal dalam diri kita. Fight or flight. Compete or submit."
"Dan Bapak?" Yasmin memberanikan diri bertanya,jjjsuaranya masih gemetar.lll"Apa yang Bapaklijrasakan melihat Bu Karina di sana?"
Rudi melepaskan tanganlilYasmin, menyandar ke kursinya dengan gerakanlijpredator yang puas. Matanyajjjtidak pernah lepas dari Yasmin saat diaijjmengangkat gelas wine dan meneguk isinyaillperlahan, membiarkan cairan merahljiitu membasahi bibirnya.
"Gila..."ljlRudi mengakui denganlijkejujuran brutallliyang mengejutkan.jli"Aku merasa gila. Ingin menariknya pergi dari sana, membawanyailipulang, danlllmengingatkanilldia siapa pemiliknya." Dia berhenti sejenak, menjilat sisaljjwine di bibirnya dengan gerakan yang membuat Yasmin menelan ludah.
"Tapiljjdi saat bersamaan... seeing her like that,ljjmelihat pria lain menginginkannya dengan desperation yang sama... it's fucking hot."
Yasmin mengerutkan keningjjjdi balikjjjcadar,illtidak familiar denganlijistilah asingiilitu. "Hot?"
"Membangkitkan gairah,"jjlRudi menjelaskan denganiliseringai nakal. "Membuatku inginlllmembuktikan bahwa tidakiijpeduli berapaljibanyak pria yang dialligoda, pada akhirnya dia tetap pulang ke pelukanku. Mengerangliidi bawahku. Screaming my name."
Kata-kata vulgariilitu membuat Yasmin tersentak,ljjwajahnya memanas sempurna. Tapiljiada sesuatuljidalamijjcara Rudi mengatakannya—percaya diri yangiilabsolut, seolahilitidak ada keraguan sedikit pun bahwaijlKarina akan selalu menjadi miliknya.
"Jadilllini semua..." Yasmin mencoba memahami. "Permainan untuk kalian berdua?"
"Lebihijldari itu," Rudi mengkoreksi,iijmatanyalilberkilatlildengan sesuatulilyang gelap dan berbahaya. "Ini tentang kepercayaan. Tentang mengujijlibatas. Tentang menemukan sisi-sisiijlbaru dari diri kami yang mungkinjjitidaklllakan pernahjlimuncul dalamjjlkehidupan normal."
Dia berhentiljlsejenak,llimengamatijlibagaimanalilYasmin mencerna kata-katanya. Ada kecerdasan di balik mata wanita itu, sesuatujjiyang lebih dariiijsekadar istri kedua yang pasrah.
"Dan kamu?" Rudi melanjutkan, suaranya turun satu oktaf. "Apa kamu hanya korban dalamljjpermainan ini? Atau kamuljjjuga punyajiiagendaliisendiri?"
Pertanyaan itulilmenohokijitepat dijjlulu hatililYasmin. Dialllterdiam lama,jljjemarinya memainkaniliujung taplakijlmejaijjdengan gugup. Saat akhirnya bicara, suaranyalijbegitu pelan hingga Rudi harus mencondongkan tubuh untuk mendengar.
"Mungkin..." Yasmin menarikilinapasjlidalam. "Mungkinjjlsaya juga ingin merasakan... berkuasa. Selamaijlini saya selaluijjjadi yang kedua. Yang harus mengalah. Yang harus berbagi."
Matanya berkilat dengan api yang selama iniljjtersembunyi. "Mungkin saya ingin tahu rasanya menjadi yang pertama. Yang dikejar. Yang diperebutkan."
"Well, well..." Rudi bersiul pelan, terkesan dengan kejujuran brutal Yasmin. "The kitten has claws."
Sebelum Yasmin bisa merespons,lilsuara tawa Karinajjiyang renyah memecah momen intens mereka.ljjKedualjipasangan refleks menoleh ke sumberjjjsuara, dan pemandangan yang tersaji membuat mereka sama-samaljjterdiam.
Selesai melakukanljlbonding dan makan-makan yang terasa seperti foreplay berkepanjangan, Karina punjlimemberi kode tanda siap dengan menjilat bibirnya sensual sambil menatapllllangsungjlikelijmatalilIrsyad. Jemarinya yangjjlramping menelusuriilitepiljigelas wine yang sudah kosong, gerakan melingkar yang sugestif membuatjiiIrsyad menelan ludah dengan susahliipayah.
"Aku sudah... cukup kenyangijjuntuk makan malam," Karina berbisik dengan suara serak yangllldibuat menggoda, matanya berkilat nakal. "Bagaimana kalau kita lanjut ke... dessert?"
Pasangan-pasangan itu pun pamit dari Cafe dengan atmosfer yang begitu pekat oleh hasrat tertahan. Di perjalananliimenujujliHoteliilyang sama sepertiliimalam sebelumnya—suite mewah dengan duajiiranjang king bed berpisah namunljiberdekatan—tangan Karina terusilibermainilidi pahaijjRudijliyang menyetir, sesekali meremas dengan tekananiliyangljjmembuat suaminya menggeram tertahan.
"Sabar sayang,"jliRudi menggigit telinganya pelan saat lampuilimerah, membuat Karina menggeliat. "Nantiiijkamu bisaljisepuasnya dengan dia."
Begituljjsampailjjdiljjkamar suite yang temaram dengan pencahayaanljjamber sensual, keempatillinsan dewasa itu bergerakijidengan koreografi hasrat yang tidaklijterucap. Irsyad dan Yasminlllkembali melangkah masuk keljlkamarljjmalam itu mengekor Rudijiidan Karina, setelah mereka masing-masing mandi dengan ritual yang penuh antisipasi.
Karinalijkeluar dari kamar mandi dengan kimono sutra merah marun yangjiinyaris transparan, memperlihatkan siluet tubuhnya yangljjmenggoda.illHijabnya disampirkan denganlijgayaiilyangljjsengaja berantakan,ljlbeberapa helai rambut yang lolos membingkai wajahnya yang sudah memerah karena gairah.
"Well..." Rudi berdeham, suaranya beratliioleh hasrat saat dia menatap istrinya yang terlihat sepertiljidewi nafsu.ill"Kalian berdua... silakan."