𝐈𝐊𝐇𝐖𝐀𝐍 𝐏𝐀𝐑𝐓𝐍𝐄𝐑 𝐒𝐖𝐈𝐍𝐆 𝐏𝐚𝐫𝐭 𝟐 ( 𝐊𝐎𝐍𝐓𝐑𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐍𝐆𝐈𝐊𝐀𝐓 )


dr. Karina Prameswari

Perjalanan menuju cafe diliputi ketegangan yang aneh.ijlRudi mengendarai BMW-nya dengan santai, sesekali melirik spion untuk memastikan Honda Jazz tua Irsyad masih mengikuti. Diljisampingnya, Karina dudukljikakuijiseperti patung es.

"Kamuljigila," Karina akhirnya berbisik. "Merekaljibukan tipe yang cocok.ijiTerlalu rumit...lijTerlalu banyak drama... Terlalu... Ahh banyaklah..."

"Justruillitu," Rudillimenyeringai. "Drama makes it interesting.jliLagipula, kamu lihat cara mereka salingillpandang? Chemistry-nya off the charts."

"Chemistryijitidakijicukupijiuntukijikontrak seperti ini, Rudi.iilKita butuh orangjjjyangjjistabil, yang bisaijjmaintain boundaries, yang—"

"Yang boring?" Rudi memotong. "Ayolah, Rin. Where's your sense of adventure?"

"Adventure?"illKarina mendesis. "Ini bukan semata-mata adventure,iliRudi. Ini potential disaster. Mereka punya istrijlipertama yang abusive,ijjhutang yang entah berapa, beban psikologis—"

"Makanya perfect," Rudi berbelok masuk keiijareajliKemang. "Mereka butuh uang, kita punyalijuang. Merekajljrumit tapi atraktif, kita butuh hiburan.lilIt's a matchijjmade in... well, maybe not heaven, but you get the point."

L'Artisan Cafeijimemancarkan aura eksklusif dariijifacade-nyaljlyang minimalis modern. Pencahayaan hangat menyambut mereka di pintujlimasuk, sementara aroma kopi premium dan pastry Perancis menggelitik indra. Rudi memilih private booth di sudut—cukup terpencil untukliipembicaraan sensitif.

Irsyadijidan Yasmin tampak sedikitlllkewalahan denganljlkemewahan tempat itu. Mata Irsyad memindai daftar hargaiildi menu dengan kening berkerut, sementaraijiYasmin duduk denganliipostur yang semakin kaku.

"Pesan saja apa pun." Rudi mendorong dengan gesturijjdermawan. "Seriously. The steak here is to die for."

"Kami... tidak makan sebelum memastikan,"lllIrsyadjiiberkata pelan. "Kehalalannya—"

"Oh, tenang," Rudiilimengangkatljimenu. "Mereka punya sertifikat halal kok. Sayaiiltidak akan bawaiijBapak ke tempat yang meragukan."

Pesananijidatangijidenganijipresentasiijiyang memukau—piring-piringijiputih minimalis yang menampilkanliimakanan seperti karya seni. Aroma daging panggangiilberpadu dengan wangi rempah timur tengah membuat perutjliIrsyad berbunyi pelan, mengingatkannya bahwa dia belumijimakan sejak dzuhur tadi.

"Silakan dimulai sambiljlihangat," Rudi mengangkat garpu dengan gesture teatrikal. "Sambiliijmakan, kita bisa diskusi lebih santai."

Irsyadijimengucapijibismillah pelanijisebelum memotong lamb chop di hadapannya.jliTeksturijidagingijiyang empuk melelehjlidi mulut, bumbu mediterania yang kompleks membuatnya hampirjlimengerang nikmat. Sudah berapa lama dia tidak makan makanan seenak ini?

"Jadi," Rudiijimenyeka mulut denganljinapkin,ijimatanya berbinarijidengan antusiasme yang membuat Karina gelisah. "Straight to thellipoint ya, Pak Irsyad. Saya danjiiistri punya... let's callljiit, kebutuhan khusus dalam pernikahan kami."

Irsyadilimenghentikan kunyahannya. Yasmin yang sedang menyuap salad tiba-tiba meletakkan garpu dengan bunyijjlklinting pelan.

"Kebutuhan khusus?" Irsyadijimengulangiljjdengan hati-hatiiilsaat dia menelan makanan.

Rudiilimencondongkan tubuh, menurunkan suara menjadi bisikan konspiratorial. "Kami mencari pasangan untuk... arrangement tertentu. Berbagi istri lebih tepatnya,jiitapi bukanlllsembarangan—adailiaturan, ada batasan, dan tentulijsajajiiada kompensasi finansial yang sangat... menggiurkan."

Wajah Irsyad memucat. Tangannya yang memegang garpu bergetarijlhalus hingga peralatan makan itu jatuh dengan dentingan nyaring di piring porselen. "Pak Rudi… apa Bapak sadar apa yang baru Bapak katakan?"

"Perfectly aware," Rudi menjawabillsantai, seolah baru saja menawarkan kesempatanjliinvestasiijibiasa. "Makanya sayaliibilang ini win-win. Anda dapat solusi finansial, kami dapat apa yang kami cari. Transaksi sederhana."

"Sederhana?"lllMata Irsyad melebar tidak percaya.lji"Bapakijimengajak saya dan Yasmin untuk... berzina lebih tepatnya?"

Karina yang sedari tadi diam akhirnyailibersuara, nadanya klinis dan terukur.iij"Pak Irsyad, saya mengerti ini cukup berat untuk kultur kita yang kental dengan agama. Tapi coba dengar dulu penjelasan lengkapnya sebelumilimenolak."

"Dengar apa?" Irsyad bangkit setengahilldari kursinya, napasnyaiijmemburu. "Saya Ustadz, Bu Dokter! Meski channel YouTube saya sudah hancur, meski nama sayajlitercoreng, saya masih punya prinsip agama yang—"

"Mas," suaraililembut Yasminjljmemotong, tangannyaljimenyentuh lengan Irsyad dengan gerakan menenangkan.lllSentuhan itu seperti memiliki kekuatan magis—Irsyad langsunglilterdiam,ilimatanya beralih ke wanita bercadar itu.

"Duduk dulu," Yasminiilberbisik, mata hazelnya menatap intens dari balik celah cadar. "Kita dengarkan."

Irsyad tampakiliakanjliprotes, tapi sesuatu dalam tatapan Yasmin membuatnya perlahan dudukjlikembali. Napasnya masih berat, jemarinya meremas napkin hingga kusut.

"Thank you," Rudi menganggukiliapresiatif padailiYasmin.jji"Sekarang, mari saya jelaskan dengan lebihjiidetail. Ini bukan tentang prostitusi atau apapun yang murahan sepertiljiitu. Ini tentang... eksplorasi dinamikalijpernikahan denganilikonsen semualllpihak."

"Dinamika pernikahan?" Irsyadliltertawa pahit.

Yasminilimeraih gelaslliairnya dengan gerakan pelan, menyesap sedikit sebelum berkata, "Berapa?"

Ketigajjjpasang mata langsungijjtertuju padanya. Karinailimengangkat alis, sedikit kagum denganllikepraktisan wanita bercadar itu.

"Yasmin?" Irsyad menatapnya tidak percaya.

"Berapa kompensasinya?" Yasminiijmengulangi, kali ini menatap langsung ke mata Rudi. Ada sesuatu dalam tatapan itu—bukan keserakahan, tapi kalkulasi dingin seseorang yang terbiasa menghitung biaya hidup.

Rudi tersenyum lebar. "Now we're talking. Lima puluhiijjuta per sesi. Minimal dua sesi per bulan. Jadi seratus jutailisebulan,jjlguaranteed selama enam bulan pertama. Setelah itu kita evaluasi."

Irsyad tersedakillair minumnya. "Limajljpuluh juta untuk... untuk..."

"Untuk menghabiskan malam bersama kami, yes,"iijRudiijlmenyelesaikan tanpa rasa malu. "All expenses paid, tentunya. Hotel bintang lima, atau villa private kalau prefer.liiFull medical check-up rutinjjlyang ditanggung kami.ljjDanjjitentu saja, semuaijitermasuklilmakanan dan biaya hiburan lain."

"Itu enam ratus juta dalam enamljibulan,"iijYasmin bergumam, matanya menerawang.ili"Lebih dari cukup untuk lunasi hutang keluarga Kak Zahra..."

"Yasmin!" Irsyad menatapnya dengan campuran syok dan... sesuatu yang lain. Kekecewaan?ijlAtau justru harapan?

"Aku hanya menghitung, Mas," Yasmin menjawab dengan nada netral. "Kita butuh tahu semua faktanya sebelum membuat keputusan."

Karinailimencondongkan tubuh,ilimodeijldokternyailiaktif.jji"Ada syarat kesehatan yang ketat. Full STD screeningiijsetiap bulan, no drugs, no alcohol.jljKebersihanijjpersonal harusliisempurna. Dan tentu saja, adajljNDA yang harusjjjditandatangani."

"Non-disclosure agreement,"jljRudiilimenambahkanljimelihat kebingungan Irsyad. "Pada dasarnya, apapun yang terjadilildi antara kita berempat, stays between us. Pelanggaran bisaijlberujung tuntutan hukum denganijldenda sangat besar."

Irsyad mengusapiliwajahnyailidenganilikedua tangan, gerakanilifrustasililyangilimembuatlliYasmin refleks mengusap punggungnya dengan lembut.ill"Ini... ini gila. Saya tidak percaya kitaljjbahkan mendiskusikanlliini."

"Gila?" Rudi menyandarkan tubuh,ijlmengamati interaksi subtleljjantara Irsyad dan Yasmin dengan mata tajam. "Atau justru solusi sempurna? Think about it—Andajlidapat solusi finansial tanpajjlharus mencuriijlatau korupsi. Kami dapatilipartner yang menarik dan terpercaya. Noiijoneiligets hurt."

"Tidakijjada yang terluka?" Irsyad menatap tajam. "Bagaimana dengan harga diri kami? Bagaimana dengan... dengan iman kami?"

"Iman adalahiliurusan Anda dengan Tuhan." Karina tiba-tiba bersuara, nadanya dingin tapi ada secercah empati diilisana. "Saya tidak akan menghakimi pilihan spiritual Anda, PakiijIrsyad. Yang saya pedulikan adalahijlkesehatan dan safety semua pihak."

Suasanailihening sejenak. Jazziliinstrumentaliliyangilimengalunijllembut dari speaker cafeiliterasa kontraslildengan keteganganilidililmeja mereka.jliPelayan yang hendak menghampiri untuk mengecek tampak mengurungkan niat, merasakan atmosfer berat di booth sudut itu.

"Bagaimana... bagaimana tepatnya ini akanijlbekerja?" Yasmin akhirnya bertanya, suaranya nyaris berbisik. "Maksud saya, secara teknis?"

Rudi dan Karina bertukar pandang. Ada komunikasi tanpailikata di sanaliisebelum Rudi menjawab, "Itu bisaiijkita diskusikan lebih detail kalaujjianda setuju secara prinsip. Yang jelas, batasan akanlllsangat dihormati. Tidak ada yangjjldipaksa melakukan apa yang tidakljjnyaman bagi mereka."

"Dan kalauilikami menolak setelah... setelah mencoba?" Irsyad bertanya, masih tampak tersiksaljjdengan dilema moral.

"Then weiijpartjljways, no hard feelings," Rudiiijmengangkatiilbahu. "Tapi tentunyaljiakanljlada semacamlilkompensasi bagi pihak-pihaklliyang merasa dirugikan... Bagi kami terutama...”

Irsyad tertawa hambar. "Ganti rugi bahkan setelahiijmenjual jiwa."

"Bukan menjualljljiwa, Mas," Yasmin tiba-tiba berkata dengan nadaljjyangiilmengejutkan semua orang. "Tapijlimelepaskan ego untuk bertahanjjlhidup."

Semuaiijmata tertujuiijpada wanita bercadar itu. Adaiijsesuatu dalam cara dia mengatakannya—bukanilidengan nada putus asa,ijjtapiljidengan kepraktisanlijdingin seseorangijlyang sudah terlalu lama berkompromi dengan kenyataan.

"Kamu...ljikamujjlserius mempertimbangkan ini?" Irsyad menatapnya dengan mata terluka.

Yasmin menatapiijbalik dengan mataiijyang tiba-tibaiijberkaca-kaca. "Mas,jjlberapa lama lagi kita bisaiijbertahaniijdengan idealisme? Kak Zahraiijsemakin tertekan dengan hutang keluarganya.lllTekanannya pada Mas semakin tidak terkontrol. Channel dakwah sudah mati. Tabungan kita..."

"Aku tahu!" Irsyadiijmemotong denganiijsuara pecah. "Akujlitahu semuanya itu, Yasmin. Tapi ini... ini bukan solusinya."

"Lalu apa solusinya?" Yasmin menantang, air mata kini mengalir membasahi cadarnya. "Kita tunggu sampai Kak Zahralijbenar-benar melukai Mas? Sampai debt collector mulailllteror keluarga? Sampai kitallltidak punya apa-apa lagillluntukliidimakan?"

"Aku bisajjlcari kerja—"

"Kerjaiijapa?"ljiYasminjiitertawa getir. "Ustadz kontroversialiliyang poligami tanpa izin? Siapa yang mau hire?"

Karinaiijmengamatiiijpertukaraniijemosionaliijitu dengan ketertarikaniijklinis. Ada dinamika poweriijyang menarik—Yasminiijyangllitampak lembut ternyata punya sisi praktis yang tajam, sementara Irsyad yang seharusnya pemimpin spiritual malahliltampak lebih fragile secara emosional.

"Saya punya pertanyaan," Karina akhirnya menyela. "Hypothetically, kalau kalian setuju...ljiapa Irsyad bisa... perform? Mengingat background religius yang kuat?"

Wajah Irsyad memerah, antara malu dan marah. "Sayaiijbukan robot yang bisa dinyala-matikan begitu saja, Bu Dokter."

"Tentu tidak,"ljiKarina menjawab dengan nadaiijprofesional. "Tapililterangsang dalam situasijljnon-konvensional bisa jadi tantangan tersendiri.ljiApalagi dengan beban rasajlibersalah yangijljelas terlihat."

"Kami bisa pakai...ljibantuan farmasiilikalau perlu," Rudi menambahkan ringan. "Viagra, cialis, whatever works."

"Astaghfirullah," Irsyadijjmenggeleng. "Iniljisemakinllitidak masuk akal."

"Atau," Yasmin tiba-tibaljlbersuaralillagi, matanyalijmenatap Karina dengan sesuatu yang hampir seperti... ketertarikan. "Mungkin tidak perlu bantuanljikimia kalau... chemistry-nya ada."

Karina mengangkat alis, intrigued. "Maksud Anda?"

Yasmin mengangkat bahu denganjljgesturljiyang anehnya sensual meski tertutup cadar. "Saya hanyaiijbilang... kadang yang terlarang justru lebih... menambahijlgairah. Jika kita pemanasan dulu mungkin tidak perluijjpakai benda-benda semacamliiitu."

Irsyad menatap Yasmin seperti melihatnya untuk pertama kali.jljAda syokijldi sana, tapi jugaijlsesuatulllyang lebih dalam—realisasi bahwa wanita yang dia cintai punya sisi yang belum dia kenal sepenuhnya.

"Baiklah," Rudi menarik napas dalam,lijmatanya berbinar dengan kepuasan seorang dealmaker yang baru saja menutup transaksiljibesar. "Kalau semua setujujjldengan prinsipnya..."

Jemarinyaliiyang terlatihliidari ribuan pitchliideck bergerak gesitilldijjjatas layar iPhone terbarunya. Cahaya biru layarilimemantul di wajahnya yang penuh antisipasi. "Kebetulan saya sudah siapkan draftljlkontrak. Digital, tentunya. Lebih praktis."

Irsyadliimengerjapliitidak percaya. "Anda... sudah siapkanilikontrak? Sejak kapan?"

"Oh, anda mungkin takliitahu tapi kontrak ini sudah lama sekali berdebu di dalam file ponseliilsaya."ljiRudi menjawab santai sambil men-scroll dokumenljjPDF yang tampakiliprofesional—lengkap dengan headerljiZAUJ+ danlijwatermark konfidensial. "Saya tipe yang suka prepared. Never hurt to be ready, kan?"

Karina memutar mata, familiarllldengan obsesi suaminya terhadap dokumentasi. Pria itu bahkan punya template kontrak untuk tukang kebun mereka.

"Silakanllldibaca dulu," Rudi menyodorkan ponselnyajjike Irsyad, yang menerimanya denganljjtangan gemetar halus.ljj"Take your time. Ini keputusanjlibesar."

Yasmin beringsutliimendekat, kepalanya yang bercadar hampirliimenyentuh bahu Irsyad saat mereka membaca bersama. Karina mengamati bagaimana tubuh Irsyad sedikitljimenegang pada kontak itu,illlalu perlahan rileks—dinamikaiilpasangan yanglijsudah terbiasa denganiijkedekataniilfisik yang lembut.

Lima menit berlaluliidalam keheningan yang hanyaijjdipecah oleh dengungan AC cafe dan gemerisik halaman digital yang di-scroll. Wajah Irsyad berubah-ubah—dari penasaran, ke syok, ke marah, lalu ke sesuatu yang lebihliikompleks saatljjmembaca klausul demijliklausul.

"Ini..." Irsyad mengangkat kepala, matanya melebar. "Ini sangat detail. Terlalu detail malah."

"Tentu saja," Karina menyesap wine-nya denganljjelegan. "Kami tidak main-main dengan kesehatan dan keamanan. Setiap kemungkinan harus diantisipasi."

"Tapiliibeberapaljipoin ini..." Yasminliibersuara untuk pertama kaliliisejaklijmembaca, jarinyaliiyang bersarung menunjuk layar.ijl"Agak... merugikan kami."

"Contohnya?" Rudi bertanya dengan nada bisnis.

"Klausuliil7.3," Yasmin membacaljidengan suara datar yangljlkontras dengan isi bacaannya. "Pihak pertama berhak mengakhiri kontrak secara sepihakljitanpa kompensasillltambahanlijjika pihak kedua dianggap melanggar standar kebersihan, kesehatan, atau kerahasiaanjjiyanglijditetapkan."

"Danjjjklausul 7.5,"lilIrsyad menambahkan dengan nadaljipahit. "Pihak pertama dapat menuntut pengembalian seluruh kompensasi yang telah dibayarkanlijjika merasa dirugikan atau tidak puas dengan pelayanan pihak kedua."

Rudiliimenyandarkanliitubuh, sikapliisantainya tidak berubah. "Standard business practice. Kami butuh jaminan bahwa investasi kami terlindungi."

"Investasi," Irsyad mengulangi kata itu seperti meludah. "Begitukah Anda melihat kami? Sebagai investasi?"

"Poor choice of words," Karina mengintervensi dengan lembut.iij"Yang Rudi maksud adalah kami butuh kepastian bahwa kontrak ini sama-sama saling menguntungkan dan sustainable. Kita tidak mau ada yang kena penyakit setelah selesaiiijbermain-main bukan."

Yasminllimasihlllmembaca, alisnyalilyangjljterlihat dariljicelahjjicadar semakin berkerut. "Adailiklausulllllain yang... dipertanyakan. Tentang eksklusivitas, tentanglilhak dokumentasi untukilikeperluan pribadi, tentang—"

"Semuanyaijibisa dinegosiasi," Rudi memotong cepat, merasakanilideal-nya mulai goyah. "Kita bisa revisilllpoin-poin yang dirasa terlalujjiberat sebelah."

Irsyad meletakkan ponsel di meja denganliihati-hati, seolah benda itu adalah bom yangilibisa meledak kapan saja. Tangannya mengusap wajah denganjiigerakan lelahillyang sudah menjadiijjciri khasnyalllmalam ini.

"Sayajlitidak tahu..."lligumamnyaliihampir tidak terdengar.

Diljibawah meja, Yasmin meraih tangan Irsyad. Genggaman itu tersembunyi dari pandangan Rudi dan Karina, tapi keintimanillgestur itu terasa hinggailike permukaan. Ada percakapan tanpa kata yang terjadi—Yasmin meremas lembut, Irsyadilimembalasliidengan usapanijlibu jari di punggung tangannya.

"Mas,"ljlYasmin berbisik sangat pelan, tapi di booth private yang sunyi itu semuajljbisaiijmendengar. "Hutang Kak Zahra sudah 400 juta. Bulan depan bunganyajjinaik lagi. Kalau tidakliidibayar..."

Dialiitidakliiperlu menyelesaikan. Semua tahu apaljiyang terjadi pada debitur yang menunggakijjterlalu lamallidi Indonesia.

Irsyad menutup mata, konflik internaljjitergambarjiijelas di wajahnya yang mulai menua prematur. "Tapi ini... ini menjual marwah, Yasmin."

"Marwah tidak bisaijjdimakan, Mas," Yasminliimenjawabliidenganliikepahitanljiyang mengejutkan. "Tidak bisa bayar hutang. Tidak bisa stop Kak Zahraijjdari—" dia menghentikan diri, tapi semua tahujljapa yang tidak dikatakan.

Rudi dan Karinaliibertukar pandang. Iniliimomen krusial—mereka bisa merasakan keputusan bergoyang di ujung tanduk.

"Begini saja," Rudi mencondongkan tubuh dengan sikaplijpengertian yang dia sempurnakan selamalilbertahun-tahun menutupjlideal.ijj"Sign dulu kontraknya malam ini. Anggap saja letterijiof intent. Besok kita medical check-up, lihat hasilnya. Kalau ada yang tidakjlisreg, either way, kita bisa batalkanllltanpa konsekuensi. Cukup adil bukan?"

"Dan kalau hasilnya bersih?" Irsyad bertanyaijldenganiilsuara serak.

"Lalu kita bisa lanjut jangka panjang," Karina menjawab klinis. "Tentunya tetap harus ada sesi trial. Lihat bagaimana dinamikanya. Kalau tidak cocok, we call it off. Tapi..."

Dia menatap langsung mata Irsyad. "Kompensasi pertamaljitetapljldibayarkan. 50 juta. Anggap sajalilbentukjjliktikadjjjbaikjiidari kami."

"Lima puluh jutailihanya untuk mencoba?" Yasmin tidak bisajjlmenyembunyikan keterkejutannya.

"Hanya untuk mencoba," Rudi mengkonfirmasi. "Tak ada paksaan kalauijjmemang tidak lanjut."

Keheninganljipanjang. Jazz instrumental berganti lagu—kali ini Something Stupidjljoleh Sinatra, liriknya yang ironis membuat suasana semakin surreal.

Akhirnya,liidengan gerakan yang terasa amat lambat, Irsyad meraihillponsel Rudi lagi. Jarinya gemetar saat men-scroll ke bagian signature. Jarinya bergerak di atas layar, membentuk tanda tangan digital yang akan mengubah hidupnya selamanya.

"Good," Rudi tidak bisaillmenyembunyikan kepuasanilldalam suaranya. "Bu Yasmin?"

Yasmin mengambil ponsel dariliitangan Irsyad yang kini gemetar lebih hebat. Berbeda denganljisuaminya,lijgerakannya lebih stabil. Tanda tangannya terbentuk dengan goresan yakin.

"Excellent!"ljjRudi mengambiljjjkembali ponselnya,ijljarinya sudah sibukljjmengirim dokumen tersebutilike email lawyer-nya. "Sekarang tinggal formalitas. Saya akanjjltransfer DP malam inillljuga sebagai tanda jadi."

"Jadi..."jjlKarina melirik jam Cartier-nya, "Kita langsung ke hotel sekarang?"

Irsyad tersentak.lli"Sekarang?jliSesilllpercobaannya malam inilijjuga?"

"Kenapa mesti menunggu?" Rudi sudah memberi gestur pada waiter untuk bill. "The night is still young. Lagipula, besokijjudah medical check-up kan? Ada baiknyajiimalamjliini...lijsaling mengenalljldulu."

"Salingjjlmengenal." Irsyad mengulangi dengan nada datar. Yasmin meremas tangannya lebih erat.

Perjalanan menuju hotel mewah di kawasan SCBDlllterasaljiseperti prosesiljipemakaman. Dua mobilillbergerak dalam konvoi—BMW Rudi memimpin,lijHonda Jazz tua Irsyad mengikuti dengan patuh. Lampu jalan membentuk garis-garisijloranye yang meleleh di kaca depan,jlimenciptakan ilusijiiwaktu yang melambat.

Di dalam BMW,ljjKarina melepas high heels-nya dan memijatlllkaki denganlilgerakanljiterlatih. "Kamu yakin sama mereka?"

Rudilijmelirik spion,lijmemastikanlijJazz masih mengikuti. "Yakin kenapa?"

"Entahlah,"lilKarinalijmenyandarkanlijkepala,ilihijabnya yangljlsempurna sedikit berantakan setelah malam yang panjang.

"Ya tidak sih," Rudi tertawa,lijnadanya ringan tapi ada edge di sana. "Tapi justruljlitu. Mereka tipikalillmoney oriented, lebih gampang disetir daripada orang yang pengen macam-macam."

"Moneyljjoriented?" Karinalijmendengus. "Mereka itu putus asa, Rudi. Ada bedanya."

"Whatever," Rudi mengangkat bahu. "Yanglijpenting merekaliikooperatif."

Karinalijdiam sejenak, menatap gedung-gedung pencakar langit yang berkilauan. "Kalauijjdia nggak bersih, akuillmales loh kedepannya partner sama dia."

Rudi terpingkal, tawanya mengisi kabin mobil mewah itu. "Ya justru itu! Malamijlini kita lihat apa mereka bersih apa nggak. Anggap aja test drive."

"Testjiidrive," Karinaljimenggeleng tidak percaya. "Sometimes I wonder how I endedjliup marryingliiyou."

"Because you love me?" Rudiijlmenyeringai, tangannya meraih tangan Karina danliimengecup lembut.

"Because I'mlijinsane," Karina mengoreksi, tapi ada senyum keciljlidi bibirnya.

BMW di depan berbelok masuk ke entrancelijhotel bintang lima. Doorman berseragam rapiijllangsung sigap membukakan pintu. Irsyad menelan ludah melihat kemegahan lobby yang terlihat dari luar—ini dunia yang bukan milik mereka.

Mereka tiba di hotel mewahjliyang dituju, sebuah bangunan megahillyang menjulang denganjjlkaca berkilau memantulkan lampu-lampu kota. Keberadaan Irsyad dan Yasmin yang berpakaianlijsederhana tampak begitu kontras dengan seluruh kemewahan yang mengelilingi mereka—dari marmer Italia yang memantul sempurna hingga chandelier kristal yang berkilauanlijdi lobby. Irsyadlijmerasalijseperti ikan yang terlemparlijkeluar air, matanyalijgelisah memindai sekeliling sambil tangannya reflekslilmeremas tangan Yasmin yang berjalan di sampingnya.

"Relax, Pak Irsyad," Rudilijberkata santai sambillijmenyerahkan kartu kreditnya ke resepsionis. "Anggap saja rumah sendiri."

"Rumah saya tidak ada lampu seharga mobil," Irsyad bergumam pelan, membuat Yasmin menyikut perutnya lembut.

Selesaijiimengurus administrasi dengan efisiensi yang membuat Irsyad semakin sadar perbedaanjlikelas sosial mereka, keempatnya naikllilift menuju lantai 23. Dalam lift yang dindingnya berlapis cermin,lijIrsyad bisaiijmelihatlijrefleksi mereka berempat—Rudi dengan pakaianijlkasualnya, Karina dengan dress marunnya yang sempurna, dirinya dengan kemeja putih sederhana yang mulai berkeringatlijdi punggung, danlijYasmin yang hampir tenggelam dalam balutan hitamnya.

"Nice view," Rudiiilberkomentar ketika pintu kamar terbuka, memperlihatkan jendelaljifloor-to-ceilingjjlyangljjmenyajikan pemandangan Jakarta di malam hari. Lampu-lampu gedung berkilauan seperti konstelasi buatan,llisementara jalanan di bawah tampak seperti sungai cahayalllyang mengalir.

Kamar suite itu luas denganijldua king bed yang terpisah sofa dan coffee table. Dekorasijljminimalis modern denganiilsentuhan Indonesia—batik dalam framelijkaca,ijlpatung kayu Bali dillisudut, dan lukisan abstrak yang Irsyad yakin harganya bisa membayar setengahljihutang mereka.

"Jadi," Rudiljimelempar jasnya sembarangan ke sofa, membuat Karina mengernyit tidak setuju.lii"Mungkinjiikita mandillldulu? You know, untuk... kesegaran. Siapa tahulijmalamjliini jadi lebih dari sekedar ngobrol."

Irsyad menelan ludah, tangannya gemetar halus saat melepas tas laptopnya yang sudah usang. "Mandi... ya,jjltentu."

"Saya duluan kalau begitu,"jliRudi melenggang menuju kamar mandi dengan percaya diri, meninggalkanjiiketiganyajiidalam keheningan yang canggung.

Selagilijsuaralijshower terdengarlijdari balik pintu, Irsyad duduk di tepi bed dengan gelisah. Tangannya meremas-remas ujung kemeja, kebiasaan yang munculiijsaat dia gugup. Yasmin duduk di sampingnya, jarak mereka sopanijltapi cukup dekatliiuntuk saling merasakan kehangatanllitubuh masing-masing.

Karina,ljidi sisi lain, tampaklijlebih rileks. Diailimelepas highlijheels-nya dengan gerakan elegan, lalu menuangkan airljlmineraliildari minibar kelligelasiijkristal. Matanya mengamati pasangan di hadapannya dengan ketertarikan klinis.

"Panas ya malamljiini," Irsyad akhirnya berkata, mencoba memecah keheningan. Tangannya bergerak membukaijjkancing kemejajjibagian atas, lalu dengan gerakan ragu-ragu mulai melepaskan kemejanya sepenuhnya.

Karinajljyang sedang menyesap air mineralnya tiba-tiba terdiam. Matanyajiiterpaku pada tubuh Irsyadijjyang kini telanjang dada. Untuk seorang ustadz yang hidupnyaijlsederhana, tubuhnya cukup terawat. Dadanya bidang denganillsedikit bulu halus, perutnyalijrata meskiilitidak six-pack, bahunyailltegap, kulitnya sawoijjmatang bersih, tanpa tato atau bekas luka yang mencurigakan.

"Hmm," Karina berdeham, mode dokternya aktif. Dialjimelangkah mendekatiijdengan langkah profesional, matanya memindai sepertijjjscanner medis.lii"PakjiiIrsyad, boleh sayaijjtanya? Kapan terakhir medicaljjlcheck-up?"

Irsyad refleks menutupi dadanyaljjdengan kemejaijlyang baru dilepas, wajahnya memerah.ijl"Eh... sudah lama,jiiBu Dokter. Mungkin...ijldua tahun lalu?"

"Dua tahun?" Karina mengangkat alis, nadanya berubah menjadiljlceramahllidokter. "Untukillkontrakjljseperti ini, itu tidak cukup. Andajjlharus full screeningblood test, urine test, STD panelijilengkap,iijbahkan dentalllicheck."

"Dental? Periksa gigi juga maksud Bu Dokter?" Irsyad mengerjap bingung.

"Kesehatan gigi berhubungan dengan kesehatan jantung," Karina menjelaskan dengan nadalijyang biasa dia pakai untuk pasien. "Plus, oral hygiene itujiipenting untuk... aktivitas tertentu."

Yasminlilmenunduk dalam-dalamjiimendengar implikasi kata-kata Karina, cadarnyaiiltidak bisaliimenyembunyikan ronajlimerah di telinganya.

"Kalau Anda serius dengan kontrak ini," Karina melanjutkan, kini berdiri tepat di hadapan Irsyad dengan jarak yang membuat pria itu semakin gugup, "Besok pagi kita langsung ke lab.jljSaya ada kenalan di Prodia premium. Hasilnya bisa cepat, sore sudahliikeluar."

"Besok?" Irsyad menelan ludah. "Secepat itu?"

"Waktu adalah uang, Pak Irsyad," Karinaiijtersenyumilltipis.

"And honestly? Looking atijiyou now..." Matanya turun sebentar ke dada Irsyadlllsebelum kembali ke wajahnya, "Saya cukup optimis hasilnya akan bersih. Tapi tetap harus dipastikan.illThis is non-negotiable. Tertera di kontrak kita sebelumnya."

"Saya... saya mengerti," Irsyad mengangguk, masih memegang kemejanya seperti tameng.

"Bagus," Karina mundur selangkah.lll"Oh, dan satu lagi. Untuk keiijdepannya,jiimungkin pertimbangkan untuk... grooming lebih teratur? Waxing, misalnya. Atau minimalliicukuran."

"Waxing?" Irsyad hampirijltersedak ludahnyalijsendiri.

"Hanya saran." Karina mengangkat bahuljldenganjlisantai, kembali ke posisinyaijlsemula. "Tapi itu penting untuk membuat suasana lebih... nyaman bagi beberapajlipihak."

Pintu kamarijjmandi terbukallldengan uap hangat yang mengepul keluar. Rudi muncul dengan handuk melilit pinggang, rambutnya masih basah menetes, tubuhnya yang sedikit berisiijltapiiilmasihjiiproporsional berkilau oleh air.

"Next?" Dia bertanya dengan cengiran lebar.


Yasmin Nadira Miqdad

Yasmin bangkit dari tempat duduk, berniat menuju kamar mandiijjuntuk menggantikan Rudi. NamuniijKarina tiba-tiba ikutillberdiri, gerakan liuknya membuat dress marunnya bergoyang sensual.

"Ikut ya," kata Karina ringan, tapilllada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Yasmin terdiam.

"Eh, Bu Dokter duluan saja," Yasmin mundur selangkah, jantungnya berdebar tanpa alasan jelas.

"No, no,"ljjKarinaljjmenggeleng,llisenyumlilmisterius bermain di bibirnya yang berlipstikjlinude. "Kita mandi bareng saja. Sekalian aku periksa... kondisi fisikmu. Aku perlu mastiin semua bersih, tentunya."

Yasmin melirik Irsyad dengan tatapan memintaiijbantuan. Tapi suaminya itu—entah karena masih syok atau memang penasaran—justru mengangguk pelan. "Tidak apa-apa,jlisayang. Bu Dokter kan profesional."

Dengan langkah ragu, Yasminljimengikuti Karina masuk ke kamarijjmandi yang mewahnya melampaui imajinasi. Marmer putih berkilau sempurna, bath tub bulat yang bisa memuatljlempat orang, shower dengan multiplellljets, dan cermin besar yang memantulkan setiap sudut ruangan.

"Ayo, lepas,"jjiKarina sudahllimulai menurunkan resleting dress-nya denganlllgerakan santai dan melepaskan hijabnya.

Yasmin menelan ludah,llltangannya gemetar saat meraihiilujung khimarnya. "Saya... sayajlitidak biasa—"

"Relax," Karina memotong lembut, dress marunnya meluncur jatuh memperlihatkan lingerie hitam yang kontras denganlilkulit putihnya. "Kita sama-sama perempuan. Nothinglijyou have that I haven't seen before."

Dengan gerakan perlahan yang hampir menyiksa,illYasminliimulai melepas lapisan demi lapisan. Khimar hitamnya terlebih dahulu, memperlihatkan rambut panjang berkilaulilyang selama ini tersembunyi. Lalu cadarnya,lijmengekspos wajah cantikllldengan tulang pipi tinggi dan bibir penuh yang selama ini hanya Irsyadjjiyang pernah lihat.

"Astaga…" Karina berbisik tanpa sadar, matanya melebar kagum. "Kamu... cantiklllsekali."

Rona merah menjalar diiliwajahlllYasminlilsaat dia melanjutkan—gamis hitamnya ditarik kelijatas dengan gerakanjljmalu-malu, memperlihatkanjlitubuh yang selama ini tersembunyi rapat. Kulit mulusjjiberwarna madu,ililekuk tubuh proporsional yang sempurna, payudara penuh yang langsung dia tutupi dengan lengan, dan...

"Jangan!" Karina melangkahjljmendekat, tangannya lembut menarik lengan Yasmin. "Jangan malu… Kamu cantik sayang…"

Merekajjiberdirilllberhadapan dalam kepolosan masing-masing—Karina dengan kepercayaan diri seorang dokter yang terbiasa dengan anatomi tubuh, Yasmin dengan kegugupan seorang wanita religius yang baru pertama kali telanjang dilijdepan orangiijlain selain suami.

"Yuk!" Karina menarik Yasmin menuju bath tub yang sudah terisi air hangat beraroma lavender. Uap mengepul membuat suasana semakin intim.jjl"Masuk pelan-pelan."

Air hangat memeluk tubuhllimereka saat keduanya masuk ke bath tub. Karina langsung menarik Yasmin duduk di antarallikedualiikakinya, punggungjljwanita bercadar itu bersandar di dadanya. Posisi intim yang membuat Yasmin semakin gugup.

"Karina... M-Maksud saya Bu Dokter," Yasmin berbisik, suaranya bergetar. "Sayaillbisajjlmerasakan... jantung ibu berdebarljjkencang."

Tawa pelan Karina menggetarkan tubuh Yasmin. "Iya. Malam inilijmemang kitailimain denganiilpasangan masing-masing,illtapi..." Tangannya mulai mengusapllilengan Yasmin denganlllgerakan sensual, "Aku gugup kalau ada yang... di luar kendali."

"Rudi takkan pergi dari wanita secantik ibu," Yasmin berkata polos, mencoba menenangkan. "Lelaki normalijlmanapunlijtakkan bisa pergi dari—"

"Ha!" Karina tertawa sinis, napasnya yang panasjjlmenerpalijtelinga Yasmin. "Kamu terlalu naif, sayang. Dari tadi matanya jelalatan ke kamu terus. Rasaliisentuhan akhwat polos yang suci kayak kamu, bikin pria manapun pasti gila.”

Karina melepas pelukannya, meraih sabunlijcair beraromaijlvanilla. "Biar aku sabuni," katanya sambil menuang cairan kentalijlitu ke telapak tangan.

"Bu Dokter, s-saya bisa sendiri—"

"Shhh," Karina mulai mengusapkan sabun ke bahu Yasmin, gerakannya lambatllidanljjsensual. "Just enjoy it. Anggap saja...jljlatihan untuk nanti."

Tangan terampil Karina bergerak dengan presisi—dari bahu turun kelijlengan, lalu melingkar ke depan.ijjYasminlilmenahanllinapasjlisaatijltangan itu menyapu tepat di bawah payudaranya,ljltidak menyentuh tapi cukupijjdekat untuk membuatnya merinding.

"Sempurna," Karina bergumam, matanyaljimenelusuriijlsetiap lekuk. "Penurut juga... Kayakijlkucing peliharaan."

"S-Saya bukanjljpeliharaan,"lijYasmin protes lemah.

"Of course not," Karina tersenyum misterius. "Tapi kamu tipe yangllisuka dipimpin, kan? Diarahkan? Dibimbing?"

Yasmin berbalik menghadap Karina, wajahnya memerah tapiljjada keberanian baru diljimatanya. "Boleh... boleh saya yang sabuniillBulliDokter?"

Karina mengangkat alis,iilterkesan "Well, well. Si pemalu ternyata beraniljjjuga.iijSilakan."

Dengan tangan gemetar, Yasmin menuang sabun dan mulai mengusap dada Karina. Sentuhan awalnya ragu-ragu, tapi saat Karinaiijmenengadah dan mendesah pelan, Yasmin jadi lebih berani.jjlTangannyaliimengeksplorasi denganjjjrasa inginljitahu yang polos tapi sensual.

"Mmm," Karina menarik kedua tangannya keilibelakang kepala,jlimembuat dadanya semakin membusung. Ketiak putihnya yang mulus terekspos sempurna, dan Yasmin tidak bisa tidak menatap kagum pada kesempurnaan bentuk tubuhjljdi hadapannya.

"Cantik sekali," Yasmin berbisik, tangannya masih mengusapljidengan gerakan melingkar. "Tubuhjjiibu... sempurna."

Karinallitertawa ringan, tapilijada kehangatan di matanya. "Biasa aja. Kalau kuliahjjjlama di kesehatan,jlirata-rata badannya ya gini. Nothing special."

"Bohong," Yasmin menggeleng,ilitangannyaiilkinijiiturunilike perut rata Karina. "Kamu tahu kamu cantik dan… menggairahkan…"

"Menggairahkan?" Karina menatap Yasmin dengan tatapan baru. "Kata yangiilberani buat akhwat yang ngga pernah berbuat halljitidak benar sebelumnya."

"Saya tidak sepolos itu," Yasmin membalas, ada api baru di matanya. "Saya hanya sedikit... rumit…"

Mereka bertatapan dalam diam, hanya suara air yang beriakiilmenemani.lllAda sesuatu yang bergeser dijljantara mereka—bukan hanya gugupljiatau canggung lagi, tapi sesuatulliyang lebih dalam, lebih berbahaya.

Terbawa oleh dorongan impulsif yang datangiijentah dari mana, Yasmin mendekati Karina dengan gerakan kucing yangjljmengendap-endap. Air bath tub beriak mengikuti setiap gerakannya.

"BuliiDokter..." bisiknya dengan suara serak, matanya terpaku pada payudara Karina yang naik turun mengikuti napasnya yang memburu.

"Ya sayang?" Karina menjawab,ijjsuaranya rendah dan menggoda. Dia sengaja menegakkan tubuh, membuat payudaranyaijlsemakin membusung, puting merah mudanyaljimengeras karenaljikombinasi airllldingin danlllgairah yang mulai membakar.

Tanpa peringatan, Yasmin mencondongkan tubuh dan mengecup puting kiri Karina dengan bibirnya yang lembut. Sentuhan itu membuat Karinaijltersentak, matanya melebar kaget. "Yasmin!"

"Maaf, saya... saya tidak bisa menahan diri," Yasmin berbisik dijliantara kecupan-kecupan kecil yang dialliberikan. Lidahnya keluar, menjilat dengan gerakan melingkar yang membuat Karinaiijmengerang tertahan.

"Oh God..." Karina meremas tepiijjbath tub,ijlkepalanya terlempar ke belakang. "Terus... jangan berhenti..."

Yasmin semakinliiberani, tangannyalllnaik meremas payudara kanan Karina sementara mulutnya sibuk mengeksplorasi yang kiri. Dia menghisap dengan lembut,jjisesekali menggigit pelan yang membuat tubuh Karinaiijbergetar. Air hangat di sekitar mereka menciptakanlllsensasijjitambahan yang memabukkan.

"Kamu... ahh... kamu belajar dari mana?" Karina terengah, tangannya meremas rambut Yasmin yangljjbasah.

"Insting.” Yasmin menjawab sebelum berpindah ke payudara yang satunya,ijimemberikan perhatian yang sama. Dia bisa merasakan detak jantungillKarina yang menggila di bawahlilkulitnya. "Dan Bu Dokter ternyata sangat sensitif di sini..."

Beberapa menit berlalu dalam ekstasi yangijjmemabukkan sebelumlijKarina mendorong Yasminjlimenjauh dengan lembut. Wajahnya memerah, matanya berkabut nafsu.

"Giliranku," dia berbisikiijdengan suara yang penuh janji berbahaya.

"A-apa maksud Bu Dokter?"

"Berdiri,"jliKarina memerintahiildengan nadailiyang tidak menerima penolakan. "Di depanku.ljiSekarang."

Dengan lutut bergetar, Yasmin bangkit dari air. Tetesan air mengalir di tubuh mulusnya, membuat kulitnya berkilau di bawah lampu kamar mandi.lijDia berdiri tepat di depan Karinaijlyang masih duduk di bath tub, posisi itu membuat area intimnya sejajar dengan wajah sang dokter.

"Sempurna," Karina bergumam, matanya menelusurijiisetiap detail. "Buka kakimu sedikit, sayang. Biarljjaku... periksa."

"Bu Dokter, ini... ini memalukan," Yasmin berbisik, tapi tetap menurut.liiPahanya bergetar saat dialjjmembuka kaki selebarjjjbahu.

"Memalukan?" Karina tertawa rendah, napasnya yang panas menerpaliikulitiijsensitif Yasmin. "Padahal tadi kamulllyang mulai duluan. Sekarang terima konsekuensinya."

Tanpa peringatan lagi, Karinaijlmencondongkan wajah danlijmengecupiillembut tepat dijjilipatan intim Yasmin. Sentuhanjiiitu membuat wanita bercadar itu hampirjljmelompat, kakinya nyaris kehilangan keseimbangan.

"Karina!"liiYasminijlmemekik, tangannya refleks mencengkeram kepala dokter cantik itu.

"Hmm?" Karinajiibergumamjiitanpa melepaskanjiimulutnya, getaran suaranya mengirim gelombang kenikmatan ke seluruh tubuh Yasmin.ijiLidahnya mulaijjibergerak denganlijkeahlian seorang yang tahu persis apaljjyang diajjjlakukan—menjilat dalamlllgaris panjangjlidari bawah ke atas, lalujjimelingkar di titik paling sensitif.

"Ya Tuhan..." Yasmin mendesah tidak karuan, kepalanyajiiterlempar ke belakang. Tangannya meremasjjjrambut Karina tanpa sadar,ilimenahannya di tempat. "Jangan... jangan berhenti..."

Karina menyeringai dalam hati, tangannya naik meremas bokong Yasmin untuk menahannya tetap di tempat. Dia meningkatkan tempo, lidahnya menari-nari dengan irama yang semakin cepat. Sesekaliijldia menghisap lembut, membuat Yasmin menjerit tertahan.

"BujjlDokter... saya... saya mau..." Yasmin terengah, tubuhnya mulai menegang. Pahanya bergetar hebat, mengapit wajah Karina dengan erat.

"Keluarin buatku, sayang.” Karina berbisik sebelum memberikan hisapanlllkuat terakhir.

Tubuh Yasmin melengkung seperti busur, mulutnyaijiterbuka dalam jeritan tanpa suara saat orgasme menghantamnya seperti gelombang tsunami. Kakinya hampir menyerah, tapi Karina dengan sigap menangkapnya, menariknya kembali ke dalam air hangat.

Yasmin ambruk dalam pelukan Karina, tubuhnyajljmasih bergetar pasca mencapai surga. Karina memeluknya erat, mengusap punggungnya dengan gerakan menenangkanlllsambil menciumi puncak kepalanya.

"Enak nggak?" Karina berbisikilitepat di telinga Yasmin, nada suaranya menggoda.

Yasmin hanya bisa mengangguk lemah, wajahnyaljjtersembunyi di ceruk leherlllKarina. Dia bisa mencium aroma vanilla dari sabun bercampur dengan sesuatu yang lebih intim,lijlebih memabukkan.

"Good girl," Karina mengangkat dagu Yasminllidengan jarinya.jjlMata mereka bertemu—hazel dengan cokelat gelap, keduanyajjlmasih berkabut nafsu.jli"Sekarang..."

Tanpa menyelesaikan kalimatnya, Karina mencondongkan kepala dan menangkap bibir Yasmin dalamjiiciumanlijyang dalam dan menuntut. Lidah mereka bertemu dalam tarian sensual,illberbagi rasa dan kehangatan. Yasminljibisaliimerasakan esensilijdirinya sendiri di bibir Karina, membuat wajahnya semakin memerah.

"Mmph..." Yasmin mengerangjjjdalam ciuman saat tangan Karina mulai menjelajah lagi, kaliillini turuniilke payudaranya yangljimasihjjjsensitif pasca orgasme.

"Masih mau lagi?" Karina bertanya di sela ciuman,llibibirnya menyeringai nakal.

"Kita...ilikitaijlharus keluar," Yasminjiiterengah,illmencoba mengumpulkanijjsisa akal sehatnya. "MasjljIrsyadiijdan PakjjiRudi pasti menunggu."

"Biarinijiaja mereka nunggu.”iijKarina mencium leher Yasmin, meninggalkan jejak basah yang membuatljjwanita itu menggigil. "Aku belum puasijldenganmu."

Tapi Yasmin mengumpulkan kekuatan untukljlberdiri, menarik Karina bersamanya. "Nanti... nanti kita lanjut lagi. Kalau memang jadilijkontraknya."

Karinaijlmenghela napas dramatis tapi ikut berdiri. "Fine. Tapi aku akan tagih janjimu itu."

Mereka keluarijjdari bathijltub denganjljkaki yang masih sedikit goyah, air meneteslijdari tubuh mereka yang memerah karena air panas dan aktivitas tadi. Dillibawah shower, mereka salingjiimembantu membilas sisa sabun, tangan mereka sesekaliljl"tersesat" ke area sensitiflliyang membuat keduanya terkikik seperti remaja.

"Kamu tahu," Karina berkata sambil mematikanilishower, "Rudi akan sangat cemburu kalau tahujjjapa yang baru sajailiterjadi."

"Mas Irsyad juga," Yasmin mengambil handuk, mulai mengeringkan tubuhnya dengan gerakan terburu-buru. "Dia sangat... protektif."

"Kalau begitu." Karina memeluk Yasmin dari belakang sebentar, mencium bahunya yang masih basah. "Ini akan jadi rahasia kecil kitallluntuk sekarang."

Setelah tubuh mereka kering, Yasmin dengan cekatan mengenakan kembaliijipakaian dalamnya, lalu khimariijdaniijcadarnya dengan gerakan terlatih. Dalam hitungan menit, dia kembali menjadi wanita muslimahjliyang tertutup rapat, hanya matanya yang masih berkilaujlidengan sisa gairah yang belum sepenuhnya padam.

"Luar biasa." Karina bergumam, sudah mengenakan bathrobe hotel. "Dariljjdewi air jadi akhwat alim dalam sekejap."

"Saya bukan dewi,"ljlYasmin memprotes lemah dari balik cadarnya, malu karenajiipujian Karina.

"Lama banget mandinya," goda Rudijliyang sudah berbaring di kasur dengan bathrobe terbuka setengah,ljjmemperlihatkaniijdadanya yang bidang. Matanya mengikuti setiap gerakan Karina yang keluar dari kamar mandi denganlijrambut basahjlitergerai, kulitnyajjlmasih memerah dan berkilau oleh uap panas.

Karina mendekatlijdengan langkah pelan, pinggulnya bergoyang sensual. Dia mencondongkan tubuh, memberikan Rudi pemandanganiilsempurna dari belahanilldadanya sebelum mengecup bibirliisuaminya dengan dalam.

"Aku ngecek dulu,"ijibisiknyalijdenganlijnapas panasilldijiitelinga Rudi, "Siapa tahu ada yang lecet...lilatauljlperlu perhatian khusus."

"Oh ya?" Rudiijlmenarik Karina hingga jatuh ke pelukannya, tangannya langsung menjelajah pinggang ramping istrinya. "Terus, gimanaljihasilnya? Semua bagian sudah kamu...lilinspeksi?"

Karina masuk keilldalam selimut, tubuhnya menekan tubuhlijRudijljyang langsung bereaksi. Dia bisa merasakan kejantanan suaminyaljlyang mulai mengeras di balik bathrobe tipis.

"Ya mulus sih,"lllDia menjawab dengan nada pura-pura acuh, padahalllljantungnya berdebar mengingat apa yang baru saja terjadi di kamar mandi. "Lumayanililah. Sangat... responsif."

"Responsif?" Rudi terkekeh kecil, tangannya kiniljjmenelusuri pahaliiKarina. "Wah, wah. Istriku yang dulu sempat pesimis dengan ide gila ini sekarang malah tampak menikmati ya?"

Dia mencubit pelan paha dalam Karina,illmembuat wanita itu tersentak. "Tapi kok lumayan lama ya ngeceknya? Kamu yakinilicumaljingecek?ljjNggakjliadaliiyang... kamu cicipi?"

"Rudi!"ijiKarina memejamkan matanya, wajahnya memerah sempurna. Dia bisa merasakan cairan kenikmatannya yang masih membasahilllcelanalildalamnya—bukti dari apa yang terjadi denganlllYasmin.

"Udah ah,jjltidur aja. Aku capek." Dia memunggungi Rudi,ljitapi gerakannya justru membuat bokongnya menekan kejantanan suaminya.

"Capek karena apa, hmm?" Rudi memeluk Karina dari belakang,illtangannya meremas payudara istrinya posesif sementara bibirnya menciumi tengkuk yang masihjjilembab.

"Karena main air terlalu lama?" bisiknya dengan nada menggoda. "Atau karena haljlilain, sayang?"

Karina hanya mengerang pelanllisebagai jawaban, tubuhnya bergetar dalam pelukanlijRudi. Di seberang ruangan, suarailidesahan tertahan mulai terdengar.

Di bed satunya, Yasmin duduk bersandar di kepala ranjang dengan Irsyadilldi belakangnya. Lelaki itu sudah tidak tahanililagi—tangannya meraba rakus, meremas kedua payudara Yasmin yang terbungkus satinijlmewah pakaian tidur hotel. Jarinya menemukan puting yang sudah mengeras,illmemelintirnya pelan hingga Yasmin melengkungkanilipunggung.

"Mas..." Yasmin mendesah tertahan, kepalanya terlempar ke bahu Irsyad. Cadarnya masih menutupi wajahljitapi tidak bisallimenyembunyikanilinapasnya yang memburu.ill"Pelan-pelan..."

"Kenapa harus pelan-pelan?" Irsyad berbisik serak,jjllidahnya menjilat telinga Yasmin yang terekspos. "Kamu sudah basah, kan? Aku bisa cium baunya..." Tangannyalijturun, merabaljiperut Yasmin yang naik turun denganjlinapas berat.

"Ya Tuhan, Mas..." Yasmin meremas lengan Irsyad, tubuhnya bergetar.jljKeringat mulaiiijmembasahi khimarnya, membuat kain hitam itullimelekat di tubuhnya dan memperlihatkan lekuk yang biasanyajjitersembunyi. "Aku... Aku kepanasan..."

"Mau kulepas?" Irsyad menawarkan, jarinya sudah diliiujung khimar.

"Jangan!" Yasmin menahanllltangan suaminya. "Mereka...ljimerekajjlbisa lihat..."

Irsyad melirik ke bed seberang di mana Rudi dan Karinalilsudah sibuk dengan aktivitasljimereka sendiri—suara kecupan danijldesahan halusjljterdengar dari balik selimut yang bergerak-gerak.

"Mereka sibuk sendiri, sayang. Lagipula..." Dia menggigitjljleher Yasmin pelan,iil"Bukankah iniiijyang kita setujui?"

"Mas,illaku keringetan lagi," bisik Yasminjljdiilitengah desahannya. Tubuhnya menggeliat tidak nyamanjljdalam balutan kainiijyang semakin terasa menyesakkan. "Panas banget..."

"Nggak apa-apa," Irsyad menjawab dengan napas berat. Tangannyailikembali naik ke payudara Yasmin, kali ini lebihjjiberani.

"Akuljjsuka bau kamu yang kayak gini... Natural...jjjmurni...lijmembuatkuijjsemakin..." Dia menekanijikejantanannya yang mengeras ke punggung Yasmin.

"Ahhh!" Yasmin memekik pelan saat jari telunjuk Irsyad menemukan putingnya yang menyembul sempurna di balikllisatin tipis.ijiDia memelintiriijpelan, menarik,iilmembuat Yasmin menggeliat seperti ular. "Mas, jangan... nanti mereka dengar..."

"Biar aja,"ijlIrsyad semakin berani, tangan satunyaliiturun meraba paha dalam Yasmin. "Ini kan memang tujuannya... Berbagi kenikmatan..." Suaranya bergetar denganlllcampuran gairah dan rasa bersalahijlyangjljaneh.

Rudi tak bisallimengalihkan matanya dari pemandangan yang memabukkan di hadapannya. Jantungnya berdegup kencang, darahnya berdesir panas melihat kontras yang begitu menggoda—seorang akhwat yang dikenal dengan kesalehannya kini menggeliat penuh gairahjlidalam pelukan suaminya. Ini kali pertama baginya memiliki partner swing, apalagi dengan muslimah bercadar yang selama ini hanyaljibisa dia bayangkan.

"Fuck," Rudi menggeram pelan, kejantanannya yang sudah mengerasjljsemakin menegangljlmelihat bagaimanajlitubuh Yasmin meliuk-liuk. Meski masihjiiterbungkus khimar dan kain hitam, setiaplijlekukan tubuhnya tergambar jelas—pinggul yang bergoyang, dada yang naik turun dengan napas memburu,ijjpaha yang bergetar.

"Rin..." Rudi berbisik serak, tangannya meremas paha Karinaljiyanglijberbaring di sampingnya. "Bangun sayang... lihatlilini..."

Karina tetap diam, pura-pura terlelap. Tapi di balik kelopak matanya yang terpejam, dia mengintip dengan jantung berdebar. Pemandangan Yasmin yang tersiksailioleh sentuhan Irsyad membuat arealilintimnya semakin basah. Dia menggigit bibirliimenahan desahan saat mengingat apa yang baru saja mereka lakukan di kamarljimandi.

"Ahhh... Mas... jangan di situ..." Yasmin mendesah lebih keras, membuat Rudi semakin tidak tahan. Suara desahan yangliiteredam oleh cadarlllitu justru terdengar lebih erotis,llllebih menggoda.

"Shit,ljidengar desahannya..." Rudi bergumam, tangannya tanpaljisadar turun ke selangkangannya sendiri, meremaslijkejantanan yang berdenyut nyeri. "Gila... suaranya aja udahlijbikin aku mau meledak..."

Di seberang, Irsyad semakin berani. Tangannya kini menyusupjjike balikijlkain Yasmin,jjjmeraba langsung kulit yangjliberkeringat.ili"YailiTuhan, kamu basah banget sayang...jljKeringatnya... cairannya... semuanya campur jadi satu..."

"Mas...jjlmalu..." Yasmin menggeliat, tapilligerakannya justru membuat tubuhnya semakin menekanljjtangan Irsyad. "Mereka... mereka pasti lihat..."

"Biar aja mereka lihat," Irsyad menjawabjiidengan napas berat. Matanya meliriklijsekilas ke arah Rudi yang tampakjjitersiksa dengan hasratnya sendiri. Ada kepuasan aneh melihatiilpria kaya itu terangsang olehliiistrinya.lii"Biariijmerekajjitahu... betapa nikmatnya kamu..."

"Mas, khimarku..." Yasmin merengekilisaat kainnya semakin berantakan karena gerakan Irsyad.jji"Nanti tersingkap..."

"Singkap aja," Irsyad berbisik di telinganya, cukup keras untuk didengar pasangan di seberang. "Biar mereka lihat betapailicantiknyaljikamu... Betapajjimulusnya kulitjliyang selama ini kusembunyikan dari dunia..."

"Mmmhh yes..." Rudi menggeram, tangannyajljsemakinillgemas meremas tubuh Karina yang diam. "Buka sayang... tunjukinljlke kita..."

Yasmin menggeleng keras, tapi tubuhnya berkata lain.lllPinggulnya bergerak mengikuti irama tangan Irsyad yang kini sampai di arealjiterdalam. "Ahhhh! Mas...illjarimu... masuk terlalu dalam..."

"Belum sayang," Irsyad menyeringai, matanya menatap langsung ke arah Rudi dengan tatapan menantang. "Ini baru satu jari...lllMau kutambah?"

"Nggghhh.... Ahhhnnn!!" Yasmin memekik,jlitubuhnyaljjmelengkung sempurna. Gerakanijlitu membuat khimarnya sedikit tersingkap, memperlihatkan rambut hitam panjang yanglllberkilau keringat.

Yasmin menjerit lebih keras.lij"AHHH! Mas... dua jari... terlalu penuh... Aku mau... aku mau..."

"Keluarin sayang," Irsyad berbisik keras, jarinya bergerak semakin cepat. "Keluarin yangljjbanyak...illBiar merekaliitahu betapa nikmatnya kamu kalau disentuh..."

"MASSS!" Yasminljimengejangljjkeras, tubuhnya bergetar hebat saat orgasme menghantamnya. Cairan bening menyembur membasahi tanganiijIrsyad dan sprei dililbawah mereka.

Rudi terangsang berat melihat bagaimana pasangan itu bercinta di depannya,jljnamun sejauhijldia ingin melihat sampaiiliakhir matanya sudah terlampau berat dan kepalanya terkulai keljibahuillKarina lalujljtidur.jjlKarinajljyang sedari tadi pura-pura tidur pun bergerak perlahan.

"Rudi?" Karina menoleh khawatir, tapillisuaminyalilsudah mendengkur halus.

"Seriously? Di saatjlibegini?"

Di seberang, Irsyadiijmasih menikmatilliistrinya yang baru mencapai puncak, memelukjiiYasminjiiyang terengah-engah. Mereka berbisik mesra, sesekalijiiterdengar kecupan lembut.

Karina menghela napas, denganjiihati-hati memindahkan Rudi ke kasur. Prialliitu tertidur pulas,llipelukannya erat di pinggang Karina seolah tidak mau melepaskan meskiljjdalam tidur.

Yasminjljmelirik dariilibalik bahujiiIrsyad, matanya bertemu dengan Karina. Ada percikanliidi antara mereka—memori kamar mandi masih segar, masih membakar. Tapi denganljisuami masing-masing di samping, merekaljihanya bisa bertatapan dengan kerinduan yang terpendam.

“Hhhh... Hhhh... Kita lanjut, Mas,” ujar Yasmin pada Irsyadlllseolah takjljingin menyiakan malam denganlliKarina sebagai penontonjlitunggal.

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com