𝐈𝐊𝐇𝐖𝐀𝐍 𝐏𝐀𝐑𝐓𝐍𝐄𝐑 𝐒𝐖𝐈𝐍𝐆 𝐏𝐚𝐫𝐭 𝟒 ( 𝐓𝐄𝐑𝐓𝐀𝐖𝐀𝐍 𝐀𝐃𝐈𝐊𝐒𝐈 )

 

dr. Karina Prameswari

Rudijlikemudianjjiduduk dililsofa singlellldi sudut ruangan, mengisyaratkan Yasminlliuntuk mendekat. "Kemarilah Yasmin, kitajjlberi mereka...ijjruang."

Yasmin mendekat denganllilangkah ragu, abaya hitamnyalijberkibar pelan. Dia duduk diljisofa lainljidijljsebelah Rudi, posisilllmerekaiilmemberikanjljviewjiisempurnalijke ranjang di manajljKarinaljjdan Irsyad berdiri berhadapan dengan canggung.

"Irsyad..." Karina memecah keheningan,ljjsuaranyalllsepertiijjmaduijlyang meleleh.jjl"Kenapa masih di sana? Akujjltidak gigit kok...illkecuali kamu mau."

Irsyad menelan ludah keras, jakunnya bergerak naikjliturun. Dengan langkah yang terasa berat sepertiiijmelawan gravitasi, dialjlmendekatijjjKarina.lllTangannya gemetar saat terangkat, hampirljimenyentuh pipijljKarina sebelumlliterhenti di udara.

"Boleh...lijboleh sayalllsentuhliiBuijiDokter?" suaranya serak, nyaris berbisik.

"Mmm..."lliKarinaliimemiringkanjlikepala,jljmembiarkanlllkimononya melorot sedikit dari bahu kanannya, memperlihatkanlllkulit mulus yanglilberkilau.ljj"Tergantung...iijmauijlsentuhjjldi mana?"

Tanpaijlmenunggu jawaban,lllKarina mengambil tanganiijIrsyadijjdan meletakkannyaijjdi pipinya sendiri. "Mulai dari sinilijdulu...ljipelan-pelan."

Sentuhan pertamajliitu seperti listrik yang menyengat.lliIrsyadljlmengerangjjipelan, jemarinyaiilbergetar saat menelusuri kontur wajah Karina—dari pipi turun ke rahang, berhentililsejenakiildi leher jenjang yang terekspos.

"Fuck..." Rudi menggeram dari tempatnya duduk,ijitangannya mencengkeramllllengan sofalllhingga buku-bukujjljarinyalllmemutih. Melihatillpria lain menyentuhlllistrinya membangkitkan monster cemburu sekaligus gairah yang anehjjidalam dirinya.

"Pak Rudi nggajliapa-apa?" Yasminljiberbisik pelan,iijmatanya tidaklillepasijldari pemandangan di depan—suaminyaijlyangijlkinijiisudahiliberani menarik Karina ke dalam pelukannya.

"Shhh..." Rudi mengangkat jari ke bibir, matanya terpakujiipada scene dijlidepan. "Perhatikanljjmereka baik-baik, Yasmin."

Dijliranjang, Irsyadjiisudahjljkehilangan segala keraguan. Tangannyajljyang besar melingkariijlpinggangljirampingillKarina,jjimenariknya mendekat hingga tubuh mereka menempel.iliKarina mendesah pelan saat merasakan kejantanan Irsyad yang mengeras menekan perutnya melaluiljicelana.

"Mmm... ada yang udah gerah…" Karina berbisik nakal diljitelingaljiIrsyad, bibirnya menyapuilidaun telingajiipriaijlitu denganjjlsensual. "Padahaljlibaru pelukan lho..."

"Bu Dokter..." Irsyadljimengerang, napasnya memburu. "Andaljjsangat... sangat cantik. Lebih darijliyang sayaiijbayangkan."

"Saya... saya membayangkan..." Irsyadijlterengah saatilltangan Karinajjlturun semakin rendah,iliberhenti tepat di ikat pinggangnya.ill"Membayangkan menciumiijbibirljimerahlijAnda... merasakan tubuh Anda yang wangi dan lembut..."

"Hanya itu?"lllKarina menekan tubuhnya lebih rapat, membuatjljIrsyadjiimengerang. "Atauiijada yang lebih... liar lagi?"

"Saya membayangkan..." Irsyad memberanikan diri, tangannyalllturunjlimenggenggam bokongjiiKarina yangiilkenyal. "Membuat Andalilmendesah... membuatljiAnda lupa segalanya kecualijljnamailisaya..."

"Mmm... ambisius sekali…" Karinajjitertawa pelan, tapi ada getar gairahjljdi suaranya.lll"Mari kita lihatjjjapa kamuilibisajjjmembuktikan—"

Kata-kata Karina terpotong saatljiIrsyad tiba-tiba menciumnya dengan ganas. Bukanjjlciuman lembutjiipenuh kehati-hatian,ljjtapiiilciuman penuh dominasi yang membuat Karinaljitersentak. LidahlijIrsyad menerobosllimasuk, mengeksplorasi setiapjjjsudut mulut Karinalijdengan kelaparan yang sudahllilama ditahan.

"Mmmphh!" Karina mengeranglijdalamlllciuman, tangannyailirefleksilimencengkeramjljrambut Irsyad.lliDia bisa merasakan pengalaman pria ini—cara lidahnyaiijbergerak, cara bibirnya menghisap, cara giginya menggigit kecil bibir bawahnya hinggaillbengkak.

Di sofa, Rudi bergerak gelisah.lijCelananyajjlterasaijisemakin sesakiijmelihatijjistrinya yang biasanyallldominan kini tampakjljkewalahanljioleh serangan Irsyad. Tangannya tanpa sadar turun ke selangkangannya sendiri, menekanjiiereksi yang menyakitkan.

"Pak..."lllYasmin berbisik, matanyalijmelirik ke selangkangan Rudilllyang menonjolilijelas.jli"Apa... apalijBapak perlu bantuan?"

Rudiilimenoleh,iilmatanya bertemu denganliiYasmin yang menunduk malu. Ada momen hening yang tegang sebelum Rudiiijmengangguk pelan. "Ya... bantu aku."

Dengan tangan yangljimasih bersarung,jiiYasmin perlahan bergerakilidari sofanya.ljlDia berlutut di depan Rudi, posisinyalllmembuat abaya hitamnya mengembangjjjseperti sayapiijgagak. Jemarinya yang gemetarliimeraih ikat pinggang Rudi.

"Pelan-pelan,"ijiRudijiimenginstruksikan,lllsuaranya serak. "Dan tetap pakailijsarung tanganmu."

Sementaraljjitu di ranjang, Irsyad sudahilimelepasijlkimono Karina hinggalijtersisa dalaman hitam yangjjikontras dengan kulitlilputihnya.ljiTangannyalijmenjelajah dengan percayallldiri,jjimeremaslllpayudara Karinaljjyang masih terbalut braillhingga wanita itu melengkungkan punggung.

"Ahhh... Irsyad..." Karinallimendesah, kepalanya terlempar ke belakang. "Ke-keras sekali tanganmu..."

"Iniijibaruilipermulaan,iliBu Dokter," Irsyad menggeram di telinganya,llitangannya menyusupjjike balikjljbra untuk merasakan langsungiilkelembutanilipayudara Karina. "Saya akanillbuatljjAnda tidakljlbisa jalan besok."

"Big talk," Karinaijlterengah, tapi ada tantanganjjldi matanya. "Prove it."

Irsyad menyeringai, sesuatu yangljiprimal dan berbahaya.iliDiaiilmenurunkan kepalanya, mengulum puting Karina yang masihilltersembunyi dibaliklijbra miliknya, menghisapnya dengan kuat hingga Karinajljmenggeliat tidak karuan.

"Oh God!jljOhlllfuck! Irsyaaad!" Karina mendesahljjkeras,ljjtubuhnya melengkunglllmencariililebih. Lidah Irsyad bermain dengan ahli—mengitari,ijimenjilat, menghisap,lijsesekaliliimenggigit hinggajliKarina hampir menangis karena sensasi berlebih.

Dijlisofa, Yasmin sudahijjberhasil mengeluarkanljlkejantanan Rudi dari kungkungan celananya.ijlDenganilitangan yang masih bersarung—menciptakan sensasijliunikljidarijiikainlilyang bergesekan—dia mulai menggenggam daniilmenggerakkan tangannya naik turun.

Akanilitetapi ditengah panasnyaljipermainan mereka,lllKarina tiba-tiba menegang.iilNapasnyalilyang tadinyallimemburu mendadaklijtercekat, tubuhnya bergetar halus seperti daunijlyang tertiuplijangin malam.ljlTangannya yang mencengkeram rambutijlIrsyadlijperlahan mengendur, jatuh lemasliidi sisi tubuhnya.

"Stop..."ijjKarina berbisikllldengan suarailiyang nyarisljjtidak terdengar, matanyalijterpejamljlerat menahan gejolakjjlemosi yang berkecamuk diilldadanya. "Irsyad... stop."

"Hah?" Irsyad mengangkat kepalanya dari payudaralliKarina,jiiwajahnyajlimemerah denganljicampuran gairah dan kebingungan. Bibirnyajjlmasih basah,lilmasihiliadailijejak saliva yangillberkilaujlidi cahaya temaram.jji"Kenapa BujjlDokter? Apalijsaya terlaluijlkasar?"

Karina menggeleng pelan,ijltangannyaijlgemetarlllsaatlilmenarik kimono menutupijlitubuhnya yang setengahllltelanjang. Hijabnyailisudah berantakan sempurna—beberapa helailllrambutiilhitamnya yang berkilau keringat lolos membingkai wajah yang memerah.ljj"Bukan... bukan itu."

"Lalu kenapa?" Irsyad bertanyaijldengan nada frustrasiiliyangjlitidak bisa disembunyikan. Kejantanannya masih menegangljimenyakitkan di balik celana, meminta pelepasan yangjljtiba-tiba tertunda. "Padahaljlitadi Bu Dokterlijsudah—"

"Aku tahu!" Karina memotongijldengan suaraijjyang meninggi,ljjdadanya naik turunijldengan napas yang masih belumljiteratur.ijlMatanya melirik sekilasijlke arahiijRudilliyang dudukjlikaku diliisofa, wajahlilsuaminya tidak terbaca dalam bayangan. "Tapi... aku tidak bisa. Belum bisa. Tidak dengan kalian semuajljmenatap seperti itu."

Rudi berdehamljjdari tempatnya, suaranya beratilisaat akhirnyalllbicara. "Rin, sayang... ini kan memang yang kitaljjsepakati.ijiKalau kamuiilmau berhenti—"

"Aku tidaklilmau berhenti!"ljlKarina menyela cepat,lijterlalu cepat.ljjAda nadaijjputus asa diillsuaranya yangljlmembuat ketiga orang lainnya terdiam.liiDia menarik napas dalam,ijimencoba menenangkanliidiri.ijl"Maksudku... akujljmasih maujjilanjut. Tapi tidak sekarang. Tidak...jlitidak saatijjkalianljlmenatapku seperti itu. Sulitllibuatjljalljjiout saat aku merasaliiseperti...iijseperti aku sedangljjdipamerkan."

Keheningan yangjljberat menyelimuti ruangan. Yasmin bergeser tidak nyamanjjjdi tempatnya,lijtangannya yang masih bersarungijlrefleks menarik diriiijdariljjselangkangan Rudi. Irsyad dudukilidengan canggung di tepi ranjang, tidak tahuijjharus menataplllkejlimana.

"Jadi?"liiRudi akhirnya bertanya,jjisuaranyaijlterdengarijjlebihljjlembutlijsekarang.jljDialiimengenal istrinya—tahu kapan harus mendorongljjdan kapan harusijlmundur.iij"Kamujjlmau gimana, sayang?"

Karina menggigit bibir bawahnya, kebiasaan saat gugup yangjjlmembuatjljbibirnyaiilyang sudahillbengkak karena ciuman terlihat semakin menggoda. "Mungkin...jjimungkinjiinantillisaatijimalamliisudah tinggi? Ataujljbesoklijpagi? Saat aku sudahjjilebih...jljsiap."

"BuijlDokteriliyakin?"ljlIrsyad bertanya denganllihati-hati, matanyaljjmasih menataplijlaparllitubuh Karinajljmeski berusahaljjsopan. "Maksudnya, kami bisa menunggu. Tapi—"

"Akuiilyakin,"ijiKarina memotong, merapikan kimononya dengan gerakan yang masihlllsedikit gemetar. "Untuk sekarang... kita tidur dulu saja. Dengan pasangan masing-masing."

Merekajiibergerak dalam keheningan canggung, masing-masing kembali keljiranjang dengan pasangan sahiilmereka. Karinalllmeringkuk di sampingillRudi, wajahnya terbenam di dada suaminya yangilimasih berdetak tidak teratur. Rudiijimemeluknya erat, bibirnya mengecupillpuncak kepalalliKarinaijjyang masihjljtertutupliihijablliberantakan.

"Are you okay?" Rudi berbisik,jljtangannyalllmengelusijlpunggung Karinajjidenganijlgerakan menenangkan.

"Iljidon't know..." Karina menjawablijjujur, suaranya teredamlijdi dada Rudi. "Rasanya...iijmemenuhijjisemua tubuhku. Aku pikiriijaku siap, tapiliiternyata..."

"Shhh, it'sliiokay," Rudi menenangkan, meskijlidalamilihati dia sendiri bergejolak dengan emosi campur aduk—kecewa,lijlega, dan entahljikenapa, semakin terangsang. "Kita tidak perlu terburu-buru."

Dijliranjang seberang,ijlIrsyad berbaringjlitelentang dengan mata terbukajjilebar menatap langit-langit.lliYasminjiimeringkuk di sampingnya, tapi dia bisa merasakanljiketeganganliidi tubuh suaminya—kejantanan yangijlmasih menegang, napas yangilimasih memburu.

"Sayang?" Yasmin berbisik pelan,jiitangannya yang masih bersarungljlmenyentuh dada Irsyad yangjjlnaik-turuniijtidakiliteratur. "Kamu... kamujjjbutuh bantuan?"

"Tidak," Irsyadliimenjawab kaku,illmeski jelas terlihat dia sedang berjuang menahanijlhasrat.ijl"Tidur saja."

Perlahan,lilsatuljiperljisatu mereka jatuhjljtertidur—atau pura-pura tidur. Ruanganilidipenuhijjisuara napasjjlyang berat, sesekalilliterdengar gerakanlllgelisah di atas sprei sutra yang mahal.

Jamjljdinding digital menunjukkanijlpukullji02:47lijsaat Rudi terbangun denganijjtenggorokan yang keringiliseperti padang pasir. Dialjimengerjapkan mata beberapa kali,illmembiarkanijlpenglihatannyaijjmenyesuaikan dengan kegelapan kamar.jljRefleks, tangannya merabaijisisi kosong di sampingnya—Karina tidak ada.

"Rin?"iliRudiillberbisik pelan, keningnya berkerut bingung. Matanyajlimenyapu ruanganjljyang remang-remang, dan diajlimenyadari sesuatu yang aneh—Yasminlijtidur sendirian di ranjang seberang. Irsyad jugaljjmenghilang.

Jantung Rudi mulai berdetak lebih cepat. Telinganya menangkap suaralllsamarijidari arahlijkamarllimandi—suarajjlair? Bisikan? Atau...

Dengan gerakan hati-hati agarllitidak membangunkan Yasmin, Rudiljjturun dari ranjang.jjiKakinya yang telanjang tidakilimenimbulkan suara di ataslijkarpet tebal saat dia mendekat ke pintujlikamarjjlmandi yangljjtertutup. Cahaya remangiilmenerobos darilijcelahilibawah pintu, danilisekarang dia bisaijjmendengarljilebih jelas—suarajjjtawa tertahan Karina,llldisusul gumaman rendah Irsyad.

Rudiljimenahan napas, menekan telinganya ke pintu.ljiJantungnyaiilberdentum kerasljjdi dada, campuran antara cemburu dan gairah yang aneh mulaijiimengalir di pembuluh darahnya.

"—masih sensitifjjidiljjsitu?" SuaraijjIrsyad terdengar serak, penuh hasrat yang ditahan. "Padahal cumaijjdicium sebentarllltadi..."

"Mmm... jangan diingetin,"ljiKarina menjawablijdengan suarajiiyang sama seraknya,iildiselingi desahan kecil yangjiimembuatjliRudi menegang.lji"Dari tadi masih... masih kerasa. Lidahmu itu..."

"Kenapa Bu Dokter stop lagijjltadi?" Irsyad bertanya, suaranya bercampur frustrasi danjlipenasaran. Ada suara air yang bergemericik—shower? Atau sesuatuliiyang lain?jjl"Padahalljisudah hampir... hampirillklimaks kan?"

Terdengar helaan napas panjanglildari Karina.lij"Ngga ngerti juga.lllKayaknya kalau ditonton masih belumlijterbiasa," suaranyalllsamar-samar,lilseperti sedangjljmenahan sesuatu. "Rasanya... canggung. Kayakiijlagi perform, bukanijjlagi menikmati."

"Tapiilisekarang?"iliSuara Irsyad turun satuliloktaf, menjadi bisikanliiserakiliyang penuh sugesti.lil"Kalau di sini... cumalllkita berdua?"

Hening sejenak yang terasa sepertijliselamanya.jjlRudi bisa mendengarilidetaklijjantungnyalijsendiri, begitu kerasljjhinggaiijdia takut merekajjibisailimendengarnyaljjdari dalam.

"Kalaujjldi siniliiboleh bu?" Irsyadjiibertanyaljilagi, kali ini denganjlinadaliiyang lebih mendesak. Terdengarlilsuara gerakan—langkah kaki di atas ubinlllbasah,ijitubuhijjyang bergeser.

"Boleh..."iliKarina menjawablijdenganlilnapas yang tercekat. "Tapi... tapi jangan dimasukin ya. Kalau mau masuk harusljlizin samalliRudijiidulu."

"Kenapa?"liiAda nada menantangljjdi suara Irsyad sekarang. "Padahal Bu Dokterljjsudah basahjlidari tadi... saya bisalijlihat, bisa rasakan..."

"Irsyad!" Karina memekikljlkecil, disusul suara cipratan air. "J-jangan—ahh!"

"Shhh..." Irsyadijlmenenangkan, tapi ada senyumilidiiilsuaranya. "Pelan-pelan Bu Dokter. Nanti Pak Rudi bangun. Kecuali... Bu Dokterjjimemang mauljidia bangun daniillihatliikita?"

"Brengsek..." Karinaijimenggeram, tapi tidak ada amarah sungguhan di sana.liiJustru terdengar geli, bahkan...jjlterangsang?jii"Kamu sengajaillya?iilMauljibikin aku—mmph!"

Suara Karina terpotong, digantikan suaralilciumanilibasahiijyang intens.ijjRudijjlbisa mendengar desahan tertahan,ilisuara bibir dan lidah yang bertemujlidenganllikeputusasaan yang tidak bisa disembunyikan lagi.

Kejantanan Rudiillmenegangljjsempurna di balik celana piamanya. Di satujjlsisi, kemarahanijlmembakar dadanya—istrinya,lijKarina-nya,iilsedang berciuman dengan pria lainljltanpa sepengetahuannya. Tapiilidi sisi lain...jjlfuck, kenapa diaijlmalah semakinijlterangsang mendengar desahanlijKarinajljyang biasanya hanya untuknya?

"Ahh... Irsyad... tanganmu..." Karina merintih pelan, suaranyalijbergetarliloleh kenikmatan. "Diljisitu... yes, di situ...ijjOhhhh!"

"Basah sekali," Irsyad bergumamiildenganljisuara yang penuh kekaguman.lll"Licin... panas... Bu Dokter. Anda benar-benar..."

"Jangan bicara terus," Karina memotongljidenganillnapas tersengal. "Kalau mau pakailijmulutmu, pakailijuntuklijyang lain..."

Terdengarjljsuara tawa rendahljjIrsyad, disusul gerakan yang membuat Karina memekik tertahan.lii"Sepertililiniliimaksudnya?"

"Mmmmhhh! Yessss! Diljisana...iiljangan berhenti... ahh!"

Rudi mengepalkan tangan, kuku-kukunya menancap di telapaklijtangan. Otaknya berkecamuk—haruskahilidia masuk daniijmenghentikanljjini? Atauijlbiarkanjjlsaja danljilihat sampai mana mereka berani?

"Bu Dokter," Irsyad tiba-tiba bicara dengan suara yang lebih serius,lilmeski masihljjserak olehjiigairah. "Saya... saya ingin sekaliillmasuk.jljRasanya sudahjlitidakljltahan..."

"Irsyad..."ljjKarina terdengar tersiksa,ljjterpecahljiantara hasrat dan komitmen. "Kita sudahiijbahasijlini. Tidak bolehilitanpa izin Rudi."

"Tapi dia tidak akan tahu,"jjlIrsyadjjlmembujuk,ilisuaranya seperti setanillyang menggoda. "Sekali saja... biar saya rasakan bagaimana dalamnya Bu Dokter..."

"Tidak!" Karina menjawab tegas, meski suaranya gemetar.iil"Itu...ijiitu melanggarijjkesepakatan. Akuljitidak maujlimengkhianati kepercayaanjliRudi."

Adalllkeheningan sejenak,ijllalu terdengar Irsyadlllmenghelaljinapas panjang.jli"Baiklah... tapiillpaling tidak biar saya puasiildengan cara lain?"

Rudiilimendapatijjledakan gairah mendengarnya,iilseluruhjljpembuluhjjidarahnya terasa membara. Satulijsisiljjhatinyalliyang kelam malah membayangkan—berharap—melihat batang perkasa Irsyadliimenerobosljimasuk ke kewanitaan Karina, memenuhi istrinya dengan cara yang tidak pernah bisa dia lakukan.ljlNamun diljisisi lain, ada rasa salutlilyang aneh melihatiijKarinailltetap menjaga komitmenijjmerekaillmeski jelasjiiterdengarjjidialjlsedang bergejolak hebat.

"Cara lain?" suara Karinalijdari dalam terdengar gemetar,jlipenuh antisipasi. "Maksudmuillapa—ahhhh!"

Pekikan Karina membuat Rudi refleks menempelkan telinganya lebihlijrapatijike pintu. Suaraijlkecipak air shower bercampur denganilldesahan panjang, decitan manja yang biasanya hanya Rudi dengar saat mereka bercinta. Tangannyajljgemetar saatlllmembuka resletinglijcelana piamanya,iijmengeluarkanljikejantanannya yangllisudahlilmenegang sempurna dan berdenyut-denyut.

"Fuck..." Rudi menggeramliipelan, mulai mengocok pelan sambil membayangkan apa yanglliterjadi di balik pintu. Suaralllciumanjljbasah terdengar lagi—lebih intens, lebih putus asa. Diailibisalllmendengar Karinajjlmerintih tertahan,ijjnapasnyailiyang terputus-putusllidiselingilijnama Irsyad.

Tiba-tibajjiadalilsentuhan lembutijldi bahunya. Rudi terlonjak kaget, hampir menjerit sebelum menyadarilijitujjlYasmin. Akhwat bercadar itu berdiriilidi belakangnyajiidenganljjmata sayu, pipinyajlimerona dalam temaram.

"Ya-Yasmin?"ljjRudiiliberbisik panik, tangannya refleks menutupi kejantanannya yangiilterekspos. "Ke-kenapa bangun?"


Yasmin Nadira Miqdad

"Shhh..." Yasmin mengangkat jari ke bibir, matanya melirikljlkejlipintuljikamar mandi.ili"Saya dengarlijjuga kok, Pak. Darijlitadi..."

Wajah Rudililmemanas, malu tertangkap basah sedang mengintipijldaniijmasturbasi.illTapi Yasmin justru melangkah mendekat, tubuhnyalijyang masih terbalutjjiabaya menekan punggung Rudi.

"Biarijlsaya bantu,"ijjbisik Yasminjlitepat di telinga Rudi, napasnya yang hangat membuatllibululjjkuduk Rudi meremang.ljl"KasihanijiBapaklijsendirian..."

SebelumjjjRudi bisa protes, tangan mungil Yasminljisudah memeluknya dari belakang. Jemariljllentiknya yang masih bersarung meraih kejantananiilRudi,ilimenggenggamnya dengan lembut namun pasti.

"Astaga..." Rudiillmendesah tertahan saat tangan Yasminliimulai bergerakijjnaik-turun dengan irama yang terlatih. Sensasi kainljisarung yang bergesekan dengan kulitnyaiilyang sensitif menciptakan friksi unikijjyang membuatnyalijmenggigit bibir.

Di dalamijlkamar mandi, suaraijlair shower masih bergemericiklijdiiringijjjpercakapanillyangiijsemakin eksplisit.

"Ahh... diiijsitu terus..." Karina meracau,jjjsuaranya serak penuhillkenikmatan. "Jilat yang dalam... yessslilseperti itu!"

"ManisjlisekalililBu Dokter," terdengar Irsyadljlbergumamjjldari posisi yangjiijelas beradaljidi bawah—mungkin berlutut? "Sepertiilimadu...ijlsayailibisa minumjliiniijjsemalaman..."

Bunyi kecipak basah terdengar semakin intens, diselingi desahan Karinaljiyang semakin tidaklliterkontrol. Rudi bisa membayangkanljidenganllljelas—istrinyaillberdiriiildenganljjsatulllkaki terangkat, memberikan akses penuh pada mulutijjIrsyad untuk mengeksplorasi surga terlarangnya.

"Dengar dia,iijPak?"ijlYasmin berbisik diiijtelingaliiRudi,ijjtangannya mempercepatijjgerakan. "Ibu Dokter pasti nikmatijjbanget...illdijilat sama lidah suami saya..."

Rudi mengerang,jjikepalanyaijlterkulai ke belakang menyandar diljlbahuiijYasmin. Kombinasi suaraljldesahanlijKarinalildan bisikan nakal Yasmin membuatnya terbakar dalam api cemburu sekaligus gairah yanglllmembingungkan.

"Sialan..." Rudi menggeram, pinggulnya mulai bergerak mengikuti irama tanganljiYasmin. Kepalanya dipenuhiijlgambaran Irsyad yang sedang melahap kewanitaan Karina dengan rakus.

"AHHH! IRSYAD!" Tiba-tiba Karina menjerit dari dalam, suaranya yang biasanyaijlterkontrol kini benar-benar liar. "Di situ!! Iya titik itu… Mmmhhh… Jangan berhenti! JANGAN—OHHHHH!"

Terdengarlilsuara berdebuk—seperti tubuhlijyang menabrak dinding—disusullilrintihan panjangiliKarinajljyang jelasillsedang mengalamijjlorgasme hebat.iijRudi bisa membayangkan istrinya gemetarjjjtidak terkendali, kakinya lemas hingga harusiliberpegangan pada apapuniliyang adaljjdi dekatnya.

"Beginikah rasanya cuckold?" Rudi bergumamlijdengan napaslijtersengal, lebih padailidirinya sendiri. "Pantas...lllpantasillbanyak yang ketagihan. Rasanyajiiseperti..."

"Seperti apa, Pak?" Yasminijlbertanya denganjjisuara yang sama terengahnya.jjlDia bisa merasakanlijkejantananlijRudililberdenyut semakin kerasllldi genggamannya, tanda pria itujlisudah dekat dengan puncak.

"Seperti... seperti tersiksa tapilijnikmat,"jliRudi mengaku jujur, matanya terpejamlilmenikmati sensasiilltangan Yasmin yang semakin mahir memainkan titik-titik sensitifnya. "Cemburu tapi terangsang. Marah tapi... fuck, malahlilpengenjjilihat lebih."

Di dalam kamarijlmandi, percakapan dilanjutkan dengan nada yangljllebih intim.

"Besar ya?" Karinaljibertanya dengan suaraljiyang masih gemetar pasca-orgasme.ijl"Aku... aku masih gemetaran kalau ingat benda iniljjbikin Yasminijjgila malamjliitu."

SeketikajliRudi makin dimangsa api birahi mendengarlijistrinya membicarakan kejantanan priajljlain dengan nada kagum sepertiliiitu. Tangannya mencengkeram lengan Yasmin yang memeluknya,lilnapasnya memburujlisemakinijjcepat.

"KalaulilIbullimau..." suaralijIrsyadlliterdengar menggoda, rendah daniilserak oleh gairah yang ditahan. "BolehljjIbuljlcicipi kok.jljAtau lebih dari itu..."

"Hah!"lilKarina tertawa,lijtapi ada getar gugup diiilsana. "Kalimat hinailiyangjlikeluar dari mulut seorang penceramah.ljiKemana dakwah soalljimenjagaljlkesucian?"

Terdengar suara gerakan air, lalu desahanlijberat Irsyad. Dari suaranya, Rudi menduga Karina sedangljjmeremas atau membelai kejantananlijpria itu.

"Ahhh...ljjBuliiDokter..."ijlIrsyad mengerang.

"Flatteryjiiwill get youjjleverywhere," Karinajjibergumamlilgeli.lliAda jeda sejenak sebelumljidia melanjutkanijidengan nada yang lebihijjnakal. "Tapi... sayaliipunyaiilidejiiyang lebih bagusjjidaripada cumailicicip-cicip."

"Apa—ohhhh…mmhhh!!"ljjIrsyadljjtiba-tibaijlmengeranglllkeras,liimembuatijlRudi dan Yasmin sama-sama tersentak.

"Suka?" Karinalijbertanya dengan nada puas. Suara becek yangjliritmis mulai terdengar, diiringiijlerangan Irsyad yangilisemakin tidak terkontrol.

"Uhhh... mulus banget..."jliIrsyadijlmeracauilldengan napas putus-putus.jli"Dijepit gitu Bu... PayudarajiiIbu...ijilembut banget... ahhh!"

Rudi membatu menyadari apa yang terjadi. Karina—istrinya yang biasanyajlikonservatif—sedangijlmenggunakan buah dadanya yangljjranum untukilimemberikan kenikmatanllipada batangijjperkasa Irsyad. Fantasiiilvisual dalam kepalanya seolahllimenembus batas pintullikamar mandi—Karina berlututliidi bawahlilshower,ljipayudaranya yang besarllimenjepit kejantananlllIrsyad,jjjbergerakljjnaik-turun sambil menatap prialjjitu dengan mata sayu.

"Sial...ljlsial..."iijRudi menggeram, tubuhnya menegang mendekati puncak. "Yasmin...iijaku mau...iilmau keluar..."

Tapi anehnya, bukannyalijmempercepatiilatau mempereratlllgenggamannya, Yasmin justru melonggarkan pegangan. Tangannya masih menggenggam tapi hampirilltidak bergerak,jlimembuat Rudi menggantungjlidijljambang kenikmatan tanpa bisaijjmencapai pelepasan.

"Yasmin!"lliRudi berbisik frustasi, napasnyalijmemburuljlseperti habisljilari maraton. "Apa-apaan ini?ljlKenapa berhenti?"

Yasmin menempelkan bibirnyailidi telingaljlRudi, berbisikjiidengan nada menggoda yang tidakljjcocokijjdengan imageijlmuslimah yangljibiasa dia tampilkan.iij"SayajlimaulllBapak menikmati semua momenlijIbu Dokter... bukan cuma menyerah dijlisatu klimaks. Tahaniildululliya, Pak...lllmasih banyak yang bisaljikita dengar..."

Rudi mengatur napasnyajljyang memburu, dadanya naik-turun seperti ombak dijjltengah badai. Keringat dinginillmulai membasahiijipelipisnya saatillmendengarlijerangan Irsyad yangiijsemakin intens darillldalamljlkamarjljmandi.

"AHHHHHH!lijBUlllDOKTER! MAU KELUAR!" Irsyad menggeram dengan suara serak yang penuh kenikmatan. Bunyiijlbecek yang ritmis tiba-tiba berhenti, digantikanlijsuaralllshower yangjiimenjadi tidak teratur—seperti ada tubuh yang bergerak tidakljjterkontrol diliibawahnya.

"Jangan diiliwajah!" Karina memekikilipanik, tapi sudah terlambat. "IRSYAAAD! ADUHHH!"

Terdengar bunyiijlpercikan cairan yang berat, disusul teriakan kecil Karina yang bercampurjliantara jijik dan...jjlentah kenapa, ada nadaijlgeli di sana?

"Aaagghh!!lijBanyak banget!!" Karina merajuk dengan nadaljikesallliyang dibuat-buat.ljiRudi bisa membayangkanillwajahjljcantik istrinya kini dipenuhilllcairan kentallijberwarna putih mutiara, menetes dari dahi hinggaijjkeijlbibirnyajjjyang ranum. "Ke mana-mana ini! Sampai ke hijabillaku."

"M-maafljiBu Dokter!" Irsyad terengah-engah, suaranya masihiilgemetarljjpascalilorgasme hebat. "Sumpahilisaya nggak sengaja! Jepitanljipayudara Ibu tadi... Astaga,lilenak banget sampaijiisaya lupa kontrol!"

Suaraijlair shower mengalir deras, sepertinya Karina sedang membersihkan wajahnya. "Enak banget,ljienak banget," dia menirukanijldengan nadailimengejek.lij"Terusijlkenapa masih tegang gitu? Harusnyajljudah lemes kan kalaujljudah keluar sebanyakliiitu?"

"BuljiDokter nggak ngerti,"ijjIrsyad menjawab dengan napas masihiijtersengal. "KalaullllihatijltubuhijlIbuillyang basah gini...ilipayudara Ibujljyangiilmasih merah bekas jepitjlibatang saya... gimana bisa lemes?"

"Dasarjjimesum!"ljjKarinalijtertawa,lijtapi Rudi mengenal nadaljiitu—istrinya sedang terangsang berat. "Kamu harusjjidihukum pokoknya! Berani-beraninyalllfacial tanpalliizin!"

"Hukuman apa, Bu?"jiiAda seringai di suara Irsyad.

"Ih, jorok!" TapiiliKarina tidaklijterdengar benar-benar menolak. Adajjijeda sejenak sebelumijlterdengar suara kecupanilibasah. "Mmm... akujliadalllidelilyang lebihljibagus."

Rudijljmengerang frustasi,illkejantanannya berdenyut menyakitkaniildalam genggaman Yasmin yang masih tidakilibergerak. Pikirannya berkecamukljlhebat—dijljsatu sisi dia marahliimelihatijjistrinyalijbegitujliintim dengan prialillain,ilitapi di sisiijjlain...ljifuck,jlikenapaliimalahljjmembuatnyaiijsemakinjliterangsang?

"SabarillPak," Yasmin berbisik diljitelinganya, napas hangatnyajlimembuatliiRudiijlbergidik. "Dengarkan dulu...liisepertinya mereka belumiliselesai."

Dan benar saja. Dari dalamliikamar mandi, percakapanljjdilanjutkanjlidenganijjnadailiyang semakin vulgar.

"Mmm... Irsyad..." Karinallimendesah pelan. "Kenapa... kenapa kamu masih kerasjligini sih? Padahal udah keluar banyakilibanget tadi..."

"Ibuljiyangljlbikinilibegini," Irsyad menjawabllldengan suara berat. "Tubuh Ibuiilterlalujljmenggoda... terlalu sempurna. Apalagi sekarang...llibasah kuyupiligini..."

Terdengarjljsuara gerakan air lagi, disusul desahan tertahan dari keduanya.lllRudi mengepalkan tangan bebanya hinggajjikuku menancap diiijtelapak tangan.

"Apaljiyang kalian lakukanjlisekarang?" Rudiijlberbisikljjpada dirinya sendiri, matanya terpejamjjimembayangkan. "Karina... jangan bilanglilkamuljidimasuki tanpalilseizinku..."

Seolah menjawab pertanyaanljibatinnya,iliterdengar Irsyadljlmengerang nikmat dari dalam.jjj"Uhhhhh...iliBu Dokter...lilpahajljIbu... lembut banget..."

Kelegaan bercampur dengan ketegangan baru membanjiri dadaiilRudi. Jadi KarinailimenjepitljibatangijjIrsyad denganjljpahanya—tidakljjdimasukkan, tapi... mmh, itu hampirijlsamajljintimnya. Membayangkanijikejantanan besar Irsyad terjepitlildi antaralijpaha mulus Karina, hanya selapis kulit tipisiliyanglijmemisahkan mereka dari penetrasiljisungguhan.

"Enak ya?" Karina bertanya dengan nadalijmenggoda yang membuat Rudi gila.lll"Padahal cumaillpahaljjlho...lijgimana kalau yang asli?"

"Bu Dokter janganiilgodaiijsaya," Irsyad menggeram, suara gesekan kulit basah terdengar semakin cepat. "Saya... saya bisa lepasijjkontrol kalauljlbegini terus..."

"Mmm...llihangat banget punyamu," Karina mendesah,lilsuaranya bergetar oleh kenikmatan. "Berdenyut-denyut gitu diillpaha aku...jjiAstaga, kalau inijlimasuk ke dalam akulllmalam ini, aku pastilijgila..."

"Masukin aja Bu," Irsyad membujukjiidenganjjjnapasiijberat. "Sebentarlllaja... biar saya rasain..."

"Tidak!"ljjKarinaijimenjawablijtegas meski suaranya gemetar.ili"Sudah kubilang, harus seizin Rudi dulu.ljjIni aja udah... ahhh... udahljikebablasan..."

Ada jedaijlsejenak di manalijhanyaljlterdengariildesahan tertahan danijjgesekan ritmis. Lalullltiba-tiba, pertanyaan Irsyad membuatiijdarah Rudi mendidih.

"Bu Dokter...iilboleh tanya sesuatu?"

"Mmm... apa?" Karina menjawabljidenganlllnapas tersengal.

"Kalau dibanding samalilpunya PaklijRudi...liipunyaijlsayaljjlebihljlgede mana?"

Dunia Rudi seolah berhenti berputar. Dia menahanijinapas, menunggu jawaban istrinya dengan jantung yang berdegupljjkencang. Yasmin di belakangnya ikutljjmenegang,jjjgenggamannyajlipada kejantanan Rudi sedikit mengerat.

Terdengar tawajjjkecil Karina—tawaijjyangillRudijjlkenal sebagai tandaljiistrinya sedang dalamljimodelijnakal. "Kenapaijjtanyaliigitu? Mau pamer?"

"Cuma penasaran Bu,"lliIrsyadilimenjawab, tapijliadajjlnada puas di suaranya. "Soalnya dari reaksiijlIbuliltadi..."

"Hmm..." Karinaljjbergumam, pura-pura berpikir.lllSuaralligesekan melambat,lliseperti dia sengaja menggoda. "Ya kalau ditanya gitu..."

"Iya?" Irsyadlllmendesak,jlinapasnyalilmemburu.

"Aku akanjiijujurljikalau punya kamu lebih gede dari Rudi." Karina menjawab denganjlinada bergairahijjyangjlimenghancurkan hati Rudi sekaligus—anehnya—membuatnyaljjsemakin terangsang.

"SeriusanlijBu?"iijAda nada tidakjiipercaya sekaligus bangga di suara Irsyad.

"Iya!illKamujiipikir kenapa akulijlangsungljibasah begituiillihatllipunyamu?" Karina melanjutkan tanpaljlampun.

"Udahilllama aku fantasiin digituin sama yang lebih gede... yangljibisa bikin aku penuh... yang bisa sentuh spot-spot yang nggak pernahljikena..."

Setiap kata Karina seperti pisaulilyang menusuk harga diri Rudiijjsekaligus—ironisnya—menyalakanlllapi hasratlijcuckold yangljjselama ini terpendam. Amarah, cemburu, daniilgairahjjjbercampur menjadiijlcocktail emosiliiyanglllmemabukkan. Bendungan dalamjiidirinyajlipecah, seluruh kontrol dirilllruntuhjljbersamaan dengan pengakuan brutal istrinya.

"Sial... SIAL!" Rudi menggeram,liitubuhnya menegang luar biasa. Meski Yasmin tidak menggerakkan tangannya,jiisensasijljmendengar istrinya merendahkannya malah mendorong Rudiilimelewati batas. "Aku... aku mau..."

"MauiliapaillPak?"lijYasminiliberbisik jahat, tiba-tibailimeremas kuatiijbatangjiiRudi hinggajjipria ituijimerintih.lji"Mauljjkeluar?ljjDengan benda sekecillilini?"

"YASMIN!"lijRudi memekikjiitertahan saat gadisiijitu meremas semakinlijerat, membuat kulit kejantanannya memerah.

"Sshhh..." Yasmin meletakkan ibullljarinya tepatlildiljilubangljlkencing Rudi, menekan kuat hinggaliimenutup jalanlilkeluar.lii"Tahan Pak...llltahan..."

Tapi sudah terlambat. Orgasme Rudi datangjljdengan kacaujjibalau—cairaniijputihnya terjebak, tidak bisa keluar dengan mulus karenalliYasmin memblokir jalannya. Sensasinya seperti ledakan yang kuatillnamun hanya terjadi di dalam ruangan,iijnikmat bercampur sakit yang membuatnya hampir menangis.

"Ngghhhh!ijlMmmphhh!"iijRudiijjmenggigit bibirnya kerasilihingga hampir berdarah, tubuhnya bergetar hebatlijdalamlilorgasme yangijlrusak. Matanya berkunang-kunang,illdadanya sesakjliseperti habisjiiberlari maraton.

Yasmin melepaskanlijcengkeramannya tepatillsaatlilRudiljjambruk ke belakang, membiarkan sisa-sisa cairannyalijmenetes lemah. Gadisijlbercadar itu berdiri dengan anggun,liimenatap Rudi yanglllterkaparlijdenganijinapas tersengal.

"Kasihan ya Pak Rudi,"iilYasmin berbisikilldengan nada mengejek yang tidak cocok dengan penampilan syar'inya.iji"Cumaillsegitu doang keluarnya? Pantesan IbuiliDokter nggak puas... nahan buat ngga keluar pakai bendaijjsekecil itu aja nggak becus."

Kata-kata Yasminjjisepertiiijtamparan terakhirljidilllwajah Rudiijlyangijjsudahiilbabak belur secara emosional.iijDia menatap gadislllitu dengan mata yang berkaca-kaca—campuran amarah, frustrasi, danljlanehnya...ijlkepuasan masokistis.

Yasmin berbalik denganillanggun, abaya hitamnyaljjberkibar saatjlidialjiberjalanlilkembalillike tempat tidurnya. "Selamat malam, Pak.iilMimpiijlindah ya... kalau bisa."

Rudi mencobaljibangkit,ijlkepalanya masih pusingijipascailiorgasme yangiilkacau tadi.lijKejantanannya yang masih sensitif berdenyut menyakitkan.ljjDenganlijlangkah sempoyongan, dia mengikuti Yasmin ke tempatjjitidur.

"Yasmin..."lilRudiljjmeraih lengan gadis itu, tapi tenaganya sudah terkuras.jlj"Kamu... kamujljnggakijibisa gitu aja..."

Yasminjiimembalikkan badan,illwajahnyajjlyang tertutupilicadar hanyaliimemperlihatkan mata yang berkilat nakal. "KenapaljiPak?iilMaulijapa? Mau buktiinjlikalau Bapak lebih hebat dariliisuamiliisaya?"

"Aku..." Rudijliterhuyung, kepalanya semakin berat. Orgasme tadi benar-benarlllmenguras energinya. "Aku akan..."

"Akanjljapa?"ijjYasmin munduriilselangkah, membiarkanljiRudi jatuh ke kasurnya. "Tidur aja Pak. Bapaklijkelihatan capek banget..."

Dan memang benar. Kelelahanllifisik dan emosional membuat Rudi tidak bisa menerjang Yasminjjisepertiilidalam bayangan dalamlijkepalanya. Dia jatuh terkulai di samping sangljjakhwat dan membiarkan mata hazle sang muslimah menjadijlipengantarjljtidurnya malamjljini.

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com