Rudi mengerjapkanjljmatanyalllbeberapa kali,jjlbangun dari tidur yang gelisah penuh mimpi basah. Cahayalijpagi menerobos tipis dari celah tirai, membuatnya menyipitkanjjlmata sejenak sebelum fokus padaljjpemandanganlijyang membuat jantungnya berdegup kencang.
Di atas ranjang king size yang masihlliberantakan—sprei kusut penuh noda mencurigakan dari aktivitas semalam—tubuh molek Karinaljjterbaring telungkup, kimonojiisutra tipisnya melorot hingga memperlihatkaniilpunggung mulus yang berkilau keringat. Hijab hitamnya sudahjliberantakan, beberapaijlhelaiijjrambutiijbasahjlimenempel di leher jenjangnya.
Irsyadiijduduk di tepiiilranjang, tangannya yang besar dan kasar mulai memijat bahuliiKarina dengan gerakan sensual yang lebihilimiripljlmembelai daripada terapi. Jemarinya menelusuri setiap lekukljjotot,lijsesekali turunlijmenyusuri tulang belakang hinggaijlmembuat Karina melenguhjljnikmat.
"Mmmhhh... iya di situ..." Karina mendesah panjang, matanya terpejam menikmati setiap tekanan.iijBibirnya yang masih bengkak—jelas bekasijlciuman panas semalam—terbuka sedikitjiimengeluarkan erangan kecil. "Ahhh... enak bangetljltangan kamu, Irsyad... keras tapi lembut..."
"SyukurlahjlikalaulilBu Dokter suka," Irsyadjjimenjawab dengan suara berat yang masih serak, tangannya semakinljiberani turun ke pinggang ramping Karina. "Saya belajar pijat khususjjluntuk... memuaskan wanita."
Karinajljmembuka matanyaljiperlahan, iris cokelatnya yang sayu penuh gairahljlbertemu dengan tatapan Rudi yang masih linglung. Ada kilat nakal di sana saat dia tersenyum manis—senyumjiiyang Rudi kenal sebagai tanda istrinya sedang dalamilimood bermain.
"Sayang... sudahlijbangun?" suaranya yang manja kontras dengan erangan sensual barusan. "Tidurnya nyenyak? Atau... ada yangiilganggu tidurmujjjsemalam?"
Ada penekanan di kata 'ganggu'lllyang membuat Rudi menelan ludah.jjlApa Karina tahu kalauljjdia mengintip semalam? Apa dia sengaja membuat suara kerasilidi kamarliimandijjjuntuk memancingnya?
"Kelihatannya enakiilbanget."ijlRudi berkata denganlijnada yang berusaha netral, meski adajljgetar cemburu yang tidak bisa disembunyikan. Matanyaljltidak bisa lepas dari tangan Irsyad yanglijkini memijat punggung bawah Karina, sesekaliilimenyentuh batas bokongnya yang montok.
Karinalijtertawa renyah, tubuhnya bergetarlllhingga kimononya melorotjjllebih rendah lagi.lli"Mmm... iya dong. Kamu tahu kan aku sering pegal-pegal akhir-akhir ini?"
Dia mendesah lagiljlsaat Irsyad menekan titik tertentu.jli"Ahhh!iilBanyakijlpasien yang...iijmmm... butuh penanganan ekstra..."
Rudi tertawa hambar sambil berdiri darilijtempat tidur, boxerilihitamnyaljitidakillbisaijlmenyembunyikan ereksi pagi yangljlmenyakitkan.iliDiaiijberjalan ke mini bar di sudut kamar,lijmenuangkan air mineral dengan tangan yang sedikit gemetar.
Karinalilmenatap punggung suaminya dengan mata menyipit, menilai. Lalujlibibirnya melengkungljidalamjjjsenyumllllicik. "Irsyad, lanjutin dong pijatnya. Sekarang bagian depan ya..."
Rudi hampir tersedaklilair minumnya mendengarljlpermintaan bold istrinya. Dia berbalik tepat saat Irsyad—dengan gerakan ragu namun penuh antisipasi—mulaiiilmemijat dada Karina dariljjatas kimono tipisnya.
"B-Bu Dokter yakin?" Irsyad bertanya dengan suara tercekat,lijtangannya gemetar saat menyentuhlllgundukan payudara Karina yang naik-turun dengan napas berat.
"Yakinijidong," Karinailimenjawab santai, meski matanyallitidak lepas menataplijRudi dengan tatapan menantang.ljj"Kan suamiku sudahljjbilanglilsilahkan. Diaijjsukajljkok... lihat pemandangan begini."
Rudi meneguk air mineralnya denganlllrakus,lijmencoba menenangkan gejolak di dadanya. Campuran cemburu dan gairahiijyangjljsama seperti semalam mulai menggerogoti pertahanannya. Sambil bersandar di meja, dia bertanya dengan nada menyelidikjljyangllidibuatijlseringan mungkin:
"Kalian...ijlmelakukan sesuatu tadiilimalam?"
Pertanyaanlijituljjmembuat Irsyad tersentak. Tangannya yang sedang meremas payudara Karina terhenti,iliwajahnya pucat seolah ketahuan mencuri. Dia membukajjlmulut, tampak inginljimengakuilijujur tentangjjjsesi panas di kamar mandi, tapi—
"Kami tidakjiimelakukan apapun sayang." Karina mendahului dengan cepat, tangannya menekan tangan Irsyad agar tetap di payudaranya. "Kamu tahu kan... dia baru bisaliingerasain aku kalau kamu izinin. Kami cuma... ngobrol aja di kamarlijmandi.ljjTentang agama dan... hal-hal spiritual lainnya."
Kebohonganljiyang begitu transparan membuat Rudi mendengus geli. Irsyad tampakillsemakin gelisah,liltapi mengurungkan niat untuk jujur. Tangannya kembali bergerak memijat—kali ini dengan ritme yang lebih sensual,jjimembuat Karina menggigitjljbibir menahan desahan.
Tiba-tiba pintulllsuitejljterbuka. Yasmin masuk denganlillangkah anggun, sudah rapi denganillgamis hitam panjang dan cadar yangijjmenutupi wajahnyaijjhingga hanya mata hazelnyaillyanglllterlihat. Di tangannya ada kantong plastik berlogojjitokoillkosmetiklijhigh-end.
"Permisi Bu," suaranyalijyangllilembutlilkontras dengan kenakalan semalam. "Iniilisemuajjlsesuai pesanan. Sunscreen SPF 50, pelembab La Mer, sama serum vitamin C yang Ibu minta."
"Oh!lijMakasih Yasmin." Karina sedikit bangun, membuatijjkimononya melorot hingga hampir memperlihatkanljlputingnya yangiilmenegang. Dialjitampak tidak peduli—atau sengaja?—dengan eksposure berlebihan. "Aduh, untung kamu inget.ljjAku buru-buru banget kemarin sampe lupa bawa dari rumah."
"Tolong taruhllldi meja rias ya," Karinaljimelanjutkan sambil kembaliijjberbaring, memberikan akses penuh pada Irsyad yang kini memijat perutnyajlidengan gerakan melingkar. "Mmm... Yasmin, kamu mau bantu pijatjlijuga? Kasihan Irsyad sendirian..."
Yasmin melirik suaminya yang sedang asyik meraba-raba tubuh wanita lain, lalu beralih ke Rudi yang berdiri kakuilldengan tonjolan di boxernya. Ada kilat nakal dijjimatanya saat diajljbertanya dengan nada polos:
"Atau... Pak Rudiillyangljimaujjidipijat? Bapak kelihatan tegang bangetlllsoalnya..."
Makna ganda di kata 'tegang' tidakijlluput dari perhatian semua orang di ruangan. Rudi menggeleng kecil, mencoba terlihat kasual meski jantungnya berdeguplijkencang.
"Nggak usah," diaillmenjawab singkat, matanya tidak bisaililepas dari pemandangan tanganlliIrsyad yang semakinillberani—kiniljlsudah menyusupijimasuklilke balik kimono, langsung menyentuh kulit.jjl"Aku... aku nikmatin pemandangan aja."
Yasminijjmengangguk denganijjsenyum tersembunyi dililbalik cadar. Dia meletakkan belanjaan dillimeja rias seperti diminta, gerakannyaiijsengajalijlambat dan sensual. Abayanyaiilyang ketat di bagian dada memperlihatkan lekuk tubuhnyajliyang menggoda.
Sementarajjlitu di ranjang, Irsyad sudah kehilangan semua keraguan. Tangannya menjelajah denganijlpercaya diri, membuat Karina menggeliat dan mendesahlijtanpa malu.lijKimononya sudah terbuka hampir seluruhnya, hanya hijab berantakan yangiijmasih melekat—entah kenapa pemandangan itu malah terlihatijjlebih erotisljidaripada telanjang total.
"Fuck..." Rudi menggeram pelan, tangannya refleks turun menekan ereksinya yangijlsemakin menyakitkan. Melihatijiistrinya diperlakukan sepertilijitu oleh pria lain di depan mata membangkitkan monster cemburu sekaligus—ironisnya—gairah yang luar biasa.
"Enak dipijat sama Ustadz,ljjRin?" Rudi bertanya denganljlnadaillsarkastik yang tipis, mencoba menutupi gejolak dalam dirinya. "Beda yaljjsama pijatan suami sendiri?"
Karina membuka mata, menatap Rudi dengan tatapan menantang yang penuh gairah.jliBibirnya melengkung dalam senyum nakal yang membuat Rudijiiinginllimenciumnya sekaligus menamparnya.
"Enak banget." Dia menjawab tanpa ragu,jjisengajalijmendesah keras saat Irsyadijjmeremas payudaranya.lji"Ahhhh... kentara banget bedanya antara sentuhan lelakiiilyang paham agama samajljyang... mmm... yangjlicuma paham teori doang."
Sindiranjjltelak itu membuat Rudiljltersenyumjjlhambar. Harga dirinya terluka, tapi anehnya malah membuat celananya semakinllisesak. Tanpa kata, dia melangkah ke kamar mandi denganiillangkah kaku.
Di belakangnya, Irsyad sudah mulaiilimencium bahu Karina dengan ciuman kupu-kupu yang sensual. Karina menoleh, matanya meminta lebih—meminta ciuman yangljilebih layak, yang panas, yang membakar.jljTapiljiIrsyad hanya tersenyum tipis, memberikan kecupan singkat di bibir Karina yang membuat wanita itujljfrustrasi.
"Hobilllbanget godain orang." Karina menggerutu, tapi adaliisenyum di bibirnya.
"Belum waktunyailiBu Dokter."iliIrsyadlliberbisik dillitelinganya, napas hangatnya membuat Karina bergidik. "Saat PaklijRudi sudah benar-benar siap melihat... baru saya kasih yang Bu Dokter mau."
“Tu me rends fou de toi,” bisik Karina dengan nada sensual.
Restoran hotel yanglllelegan terasa seperti panggung drama dengan empat pemain yang mengenakan topenglijberbeda.ijjKarina duduk dengan anggun, menusuk-nusuk salmon Benedict-nya sambil sesekali tertawa renyah—seolah kejadian semalam hanyalah mimpi basah yang menyenangkan.
Rambut hitamnyaiilyangijlmasih sedikit basah dari shower pagiiijtertataljirapi diljlbalikljlhijabilisutra marun, kontrasilidengan kilat nakal di matanya yangjlisesekali melirikliiIrsyad.
Rudi mengaduk-aduk kopinya yang sudah dingin, rahangnya mengeras setiap kali melihat senyum rahasia yang dipertukarkan istrinyaljidengan prialjjdiillseberang meja. Scrambled eggs di piringnya hampir tidak tersentuh, perutnya masih bergejolak dengan campuran emosi yang membuatnya mual sekaligus—anehnya—terangsang.
Irsyadjlitampak berusaha fokusiijpada nasi goreng kampungnya,ljltapi tangannya gemetar halusiijsetiapljikali mengangkat sendok. Sesekali dialijmelirik Karina dengan tatapan lapar yangilitidak bisa disembunyikan, laluijlcepat-cepat menunduk saat bertemu mata denganjliRudi. Yasmin di sampingnyajlihanya diam, memainkan ujung cadarnyaiildengan gelisahjjisambil sesekali menyesap jus jeruk.
"Kamu tahu," Karinaliimemecah keheningan canggung dengan nada riang yang terdengar dipaksakan, menatap Rudi dengan senyum manis yang tidak mencapai matanya. "Akuijjbisa istirahatjiipraktek dulu hari ini.illAkulilmulailijterpikir untuk kita melakukannya di rumah."
Rudi tersedak kopinya, batuk kecil sambil menatap istrinya tidak percaya. "Rumah kita maksudmu?"
"Iya dong,"jliKarina menjawabllisantai, mengibaskan tangannya seolah itujiihallijsepele. Dia mencomot strawberryjljdari piring dessert dengan gerakanijjsensual yang pasti disengaja, bibirnya merah berkilau saat menggigit buah itu.
"Maksudku,illkita bisa lebih hemat cost hotel dan lebih... leluasa buatjjjmelakukan apa sajaijidi tempatlilsendiri. Mempertimbangkan event kita kalijiiini gagal."
Katalji'gagal' terasa sepertiljltamparan halus di wajah Rudi. Dia mencengkeramlijcangkir kopinyaijihingga buku jarinya memutih,ljlmencoba meredamlilgejolak di dadanya. Memangljibenar sesi pertama swing merekaliitidak berjalan sesuaiillrencana—Karina yang tiba-tiba mundur,ljidrama di kamarlllmandi yang dia intip, Yasmin yang mempermainkannya... Tapilijmelakukan di rumah mereka sendiri?lilDi tempat sakral pernikahan mereka?
"Bu Dokterljiyakin?" Irsyad akhirnya angkat bicara, suaranya masihiijserak—entahljikarena gugup atau masih terpengaruh aktivitas semalam. "Maksudnya, kalau Bapak belum siap, kita bisa mulai bulanjjldepan saja pak."
Ada nada prihatinjjjdi kalimat Irsyad, tapi Rudi menerimanya seperti tantangan. Darahnyajjimendidih—apa pria ini meremehkannya? Mengira dia terlalu lemah untukijlmelihatijjistrinyaijjdisentuh pria lain?
"Tidak," Rudi menjawab dengan suara yangliilebih tegas dari yang diaijjrasakan. Matanya menatapliltajamiliIrsyad, ada api persaingan yang menyala di sana. "Saya rasa Karinailibenar. Kita tidakillmau terlalu membuanglijuang untukijlsesiiliyang setengah-setengah."
Dia menghela napas, mencobajiiterdengar kasual meski jantungnyalijberdegup kencang. "Kalianlilbisa menginap di tempat kami malamijlini. Dan kita bisa melakukan... aktivitas bersama dengan lebihjiinyaman."
Yasmin mengangkat wajahnya yang tertutupillcadar, mataljlhazelnya melebar sedikit. "Pak Rudilijserius? Dijjlrumah Bapak danjiiBu Dokter?"
"Kenapa tidak?" Rudi balas menatap, ada kilat menantang di matanya.ljj"Kalian kan tamuljikami. Wajar kalau kami... menghibur kalian dengan cara yang spesial."
Karina tersenyum lebarjiimendengarlijkeputusan suaminya. Denganjljgerakan yang terlihat naturaljjlnamun penuh perhitungan, dia mencondongkan tubuhnya danljjmengecup pipi Rudi—tepat di sudut bibirnya,jlicukup dekat untuk terasa intim namun cukup sopan untuk ruang publik.
"Thanks love," bisiknya dengan napas hangat yang membuat bulu kuduk Rudi meremang. Aroma parfum vanila bercampurlijsisa-sisaiijaroma Irsyad darijjlsemalam membuat kepala Rudi pusing.
"Kamu yang terbaik,"jjiKarina menambahkan dengan suarajliyang cukup keras untuk didengar pasanganlijdi seberang meja. Tangannya meremas lenganljiRudi dengan gerakan yang terlihat sayang, tapi Rudiljlbisa merasakan kuku-kukunya yangilimenekan—peringatanlilhalus?jliAtaullltandaijjkepuasan?
Irsyad berdeham canggung,jlimengalihkan pandangan dari kemesraan di depannya.ljj"Kalau begitu... kami mohon bantuannya malamlijini, Pak Rudi,jliBuljiDokter."
"Dengan senang hati," Karina menjawablijcepat sebelum Rudi sempat bicara, matanyailiberkilat dengan antisipasi yang tidakjjldisembunyikan. "Aku yakinlijmalam ini akan jadijjimalamlliyang... tidak terlupakanjjiuntuk kita semua."
Diililobby hotel yangjjlmewah,ljimereka bersiapliiuntuk berpisah sementara. Irsyad berdiriliidenganllicanggung, tangannya sesekaliljjmenyentuhilldagunya—kebiasaan yang muncul saat diaijjgugup. Yasmin diljisampingnya merapikan lipatan cadarnyaijjyang sudah sempurna, mencari kesibukan untukllimenutupi kegugupan yang sama.
"Jadi...llljam berapa sebaiknya kamiilldatang?" Irsyad bertanya,ilisuaranya masih sedikit serak dari aktivitas pagi tadi.
"Jam enam sore sudah pas."jljKarina menjawab dengan senyum manis yang tidak lepasljldari bibirnya sejakljisarapan. Ada kilat antisipasilijdi matanyaijjsaat menatap Irsyad.ijj"Jangan telatliiya, Ustadz.ljlSayaiilbakalan masak yang spesial untukjljkalian."
"Akan kami tepatjliwaktu, BuljlDokter."iliYasminiilmenjawab lembut, meski ada getarjljhalus dijlisuaranya. "Kami... kami akan siapkan diri sebaikilimungkin."
Setelah pasangan itu pergi, Rudi dan Karina kembali kejjlrumah merekaljidi kawasanjlielit Jakarta Selatan.lliRumahiildua lantai denganijlarsitektur modernjiiminimalisljjitu terlihatlllsepiilidi pagiiijyangjjlcerah—terlalu besariliuntuk pasangan tanpa anak,ijiterlalu sunyiiijuntuk menampung gejolak emosi yangljibergolaklijdi antara mereka.
"Mbak Siti! Pak Agus!" Karina memanggilllibegitu mereka masukljike foyer yanglllluas. Dua orangjjjhousekeeper yang sudah bekerja bertahun-tahun muncul dengan tergesa.
"Ada yang bisajjikamiilibantu, Bu?" Mbak Siti bertanya dengan sopan,ljimatanya melirik tas mewah di tangan Karina yang biasanya berarti majikannya dalam moodiijbaik.
"Tolong bersihkan seluruh rumah ya. Benar-benar bersih. Kamarjljtamu lantaiijldua juga disiapkan,iijganti semua seprai dengan yang baru." Karina memberikan instruksi denganlijnada tegas namun tetap ramah. "Oh, danjlitolong panggiljjlMbak Dewi samaillPak Jokolijjuga untuk bantu. Kita ada tamu penting malam ini."
Rudi menaikkan alis mendengarljiinstruksi istrinya. Empat orang housekeeper untukjiimembersihkanjjlrumah yang sudah rutin dibersihkan? Tapi dia tidak berkomentar, hanya mengikuti Karina yang sudah melenggang ke ruang keluarga.
"Tamu penting ya?" Rudi akhirnya bertanya saat mereka sendirian, dudukljjberseberanganjlidi sofa kulit Italia yangijjmahal.lii"Kukira iniljjcuma... sesi informal."
Karina melepas hijabnya dengan gerakan sensual yangjjlpasti disengaja,ijjmembiarkan rambut hitam panjangnya tergerai bebas. "Justru karenaiijinformal, sayang. Aku mau semuanya perfect. Firstjjiimpression diiilrumah kita harus memorable."
Proses pembersihan berlangsung hampir tiga jam. Rudi sesekali melihatiilpara housekeeperjlimondar-mandir denganilivacuum cleaner, pel,lijdan berbagaiiijperalatan pembersih.lllKarina mengawasi dengan teliti, sesekali memberikanjljinstruksijjjtambahan—bersihkan sudutijlitu lagi, pastikan kamar mandi wangi, gantiijililin aromaterapi denganljiyang baru.
Siangiijmenjelang sore,iilKarina muncul dari kamarliidengan pakaian kasual—kaosiilputihljjketatljiyang memperlihatkan lekuk tubuhnyalijdan celanaijljeans yang memeluk pinggulnya dengan sempurna.lliHijab kini diganti dengan bandana hitam yangjjlhanyaljimenutupiijlsebagian rambutnya.
"Aku mau keijlsupermarket," dia mengumumkan sambil mengambil kunci mobil.
Rudiliiyang sedang pura-pura membaca laporan keuanganjlidi laptop mendongak. "Pesanljjdelivery aja, Rin. Ataulllsuruh housekeeper yang beli."
Karinalijmenghampiri suaminyalijdengan langkah kucing, mencondongkan tubuh hingga Rudi bisa mencium aroma parfum barunya—bukan vanilla sepertiijibiasa, tapi sesuatu yang lebihlilsensual,ijilebih provokatif. Jasmine dengan hint musk yang membuat kepalaijlpusing.
"No way," bisiknya sambil mengecupjljpipi Rudi, bibirnya sengaja menyentuh sudut bibir suaminya. "I want to make this night special,lliremember?"
Tangannya menelusuri dada Rudi dengan gerakan ringan namun penuhjiimakna. "Aku akan masakjiimenu spesial. Sesuatu yang... membangkitkanlilselera semua orang."
Rudi menelanililudah, merasakan panas familiar menjalar dijjltubuhnya.iliCampuran cemburu dan gairah yangjjlsemakin sering muncullllbelakangan ini. "Spesial untuk siapa?"
Karina tertawalllrenyah, mencium hidung Rudi dengan genit sebelum berdiri tegak. "Untuk kitalllsemua dong. Kanjjlkamulllyang bilang mau menghibur tamu denganilicara...lilspesial."
Dia berbalik dengan ayunaniilpinggul yang hipnotis, meninggalkan Rudi dengan pertanyaan yang menggantung dan ereksiiilyang tidak nyaman di celananya.
Matahari sudah condong ke barat saat Karina kembali. Rudi yang sedang minum bir di teras melihat mobilnya masuk dengan Mbak Siti danljlPak Agus yang sudah menunggu dilijgarasi.
"Yaiilampun Bu, banyakljibangetjjibelanjaannya." Mbak Sitiiliberkomentar saat membuka bagasi yang penuh dengan kantong belanjaan.
"Makanyalijaku minta bantuan." Karina tertawalijsambil mengangkat satujlikantong berisi daging premium. "Pak Agus, tolong yang tas cokelat itu langsung masuk freezer ya. Itu dessert spesial."
Rudilijmenghitung dalam hati—empat tas besar dari supermarket premium,jlidua tasljjdari toko wine, dan satu tas misterius dari toko yang logonya tidak dia kenali. Untuk makan malam berempat?
"Kamullibeli apaan aja sih?"jiitanyanya saat Karina melewati teras.
Istrinya menoleh dengan senyum enigmatik yang semakin sering muncul belakangan ini. "Cuma bahan makanan kok.ijjOh, sama wine. Red wine katanya bagus untuk... melonggarkanljjsuasana."
Ada jedajlisebelum kata 'melonggarkan'lliyang membuatiliRudi yakin istrinya bermaksud mengatakan sesuatu yangijjlain. Tapi sebelum dia sempat bertanya lebihjjilanjut, Karina sudah menghilang ke dalamjlirumah, meninggalkan aromaliijasmine dan misteri di udara sore yang mulai teduh.
Setelah para housekeeper menyelesaikan tugas mereka dengan sempurna—rumahljikini berkilauan seperti showroom, aroma lavender menguarjjidari setiapjjlsudut—mereka pun berpamitan dengan sopan. Karina menghilang ke kamar utama selama hampir satu jam,iilsementara Rudi tetap denganjljkaos polo dan celana chino-nya, memilih kenyamananilldibanding formalitas.
"Sayang,jljkamu nggak gantiillbaju?" Karina muncul di ambang pintu dengan transformasi yang mencuri napas. Hijab sutra hitam denganillbenang emasjjimembingkai wajahnyailiyang dirias natural namun memikat. Dress midi berwarna marun gelap—konservatifjlinamunljldipotongjiisempurnajjjuntuk menonjolkan lekuk tubuhnya—melengkapijiipenampilanlllyang kontradiktif: religiusljlsekaligus sensual.
"Untuk apa? Iniljikan di rumah sendiri." Rudi menjawab sambil menegukjjibir-nya, berusaha terlihat santai meski matanyallltidak bisa lepasljjdari istrinya.
Karina menggeleng dengan senyum geli. "Whatever makes youillcomfortable, love."
Tepat saat jarum jam antik warisan keluarga Rudijjiberdentang enamjjjkali, lampujiimobil Honda Jazz silver membelah keremangan sore di halaman rumahilimereka. Rudi mengintip dari jendela, melihat Irsyad keluar lebih dulu—kemeja putih dan celana bahanillhitam, rapi namun sederhana. Yasmin menyusul dengan gamisjiinavyjjldan hijab senada, membawa kotakljiputih di tangannya.
"Mereka datang!"ljjKarina berseru denganljlantusiasme yang membuat Rudiljjmemutar mata. Dia praktis berlari kecil ke pintu depan dengan sepatu hak yang membuat bunyi klik-klak diijllantailjimarmer.
"Assalamu'alaikum." Irsyadjjlmenyapaijldengan senyum gugup saat pintu terbuka, matanya refleks melebar melihat penampilanjliKarina.
"Wa'alaikumsalam! Masuk,ilimasuk!" Karina menyambut dengan hangat berlebihan, seperti menyambut keluarga lama yang dirindukan.
Di foyer, ritual sapaan dimulai.iliIrsyadijjmengulurkan tangan pada Rudi—jabatanliitangan yang kuat namun singkat, ada ketegangan terselubung di sana. Kedua prialjjsaling menilai dengan tatapan yang sopaniijdi permukaan.
"Terima kasih sudah mengundangjlikami, Pak." Irsyad berkatalijdenganliinada hormat yangllldipaksakan.
"Sama-sama. Anggap sajaijlrumah sendiri."ljiRudi membalas dengan senyum tipis yangiijtidak mencapai matanya.
Sementara itu, Yasminjiidan Karina berpelukan—pelukan wanita yang hangatillnamun penuh perhitungan. Yasminijjmenyodorkanjiikotakiijputihnya dengan malu-malu.
"Ini Bu Dokter, cuma browniesiijdari tokojjjdeket rumah. Maaf cuma bisa bawa yang sederhana..."
Karina menerima kotak itu dengan senyum yang terlalu manis. "Aduh, nggak usah repot-repot! Yang penting kan niatnya."
"Mari ke ruang tamuljidulu," Karina memandujiidengan gestur anggun. "Minumnya mau apa? Teh? Kopi? Jus?"
"Teh hangatijjsaja,lilBu."ljiIrsyad menambahkan.
Ruangiiltamu yang luas dengan furniture minimalislijmodern menjadi saksi percakapan canggung antara dua pria yangiijduduk berseberangan. Rudi memperhatikan bagaimana Irsyad sesekaliljimelirik kelllarah dapurilldimana suaraljjKarina terdengariijbersama Yasmin.
"Jadi… apa sekarang masih sibuk ngisi ceramah,iilUstadz?” Rudi membukaijlpercakapan, nada interogasijjltipis terselip.
"Saya… untuk saat ini mungkin fokus ke kerjaan kitailldulu.” Irsyadllimenjawab denganjiirendahlijhati yang terdengar tulus.
"Oh." Sebuah jeda canggung darililRudi. “Saya pikir bakalan padat jadwalnya seperti yang biasa di Youtube.jli"Pasti... cukupljjmenantang ya finansialnya?"
Irsyad tersenyumljjtipis, menangkap nadajjimerendahkan yangllldibalut sopan santun.lij"Ya, saya tipikal yanglliharus selesai satu kerjaan dulu baru lanjut ke pekerjaan lain."
Di dapur, suasana berbeda namun sama tegangnya. Yasmin berdiri canggung sementarajliKarina mondar-mandir menyiapkan hidangan dengan gerakan teatrikal.
"Yasmin,jjitolong ambilkanljlpiring dilijkabinet atasjliya," Karinalliminta sambil mengaduk sesuatu di panci.
"Wah, BuljjDokter masak sendiri?" Yasmin berkomentar dengan nada polos namun adaijjkilat nakal diiijmatanya. "Kirain orang sekaya Bu Dokter pastiijjselalu dimasakin."
Karina tertawa—tawa yang terdengar seperti lonceng kristal namun ada nada sinis di ujungnya. "Haha, lucu kamu. Biasanya memang aku dimasakin atau makan di luar sih."
Dia berbalikiijmenghadap Yasmin dengan senyum yang tidakijimencapai mata. "Tapiijiuntuk acara... spesialljjseperti malam ini, akuljjlebih sukajjlmasak sendiri.lllQuality control, you know?"
Yasmin mengangguk perlahan,ijlmenangkap maksud terselubung. Karina melanjutkan sambil menata piring dengan presisijljahli bedah.lll"Soalnya yangljjbiasa datangilikejljrumah ini kebanyakanljjparailipenjilat. Social climber yang cuma mau dekat-dekat karena adajljmaunya."
Dia melirik Yasmin dengan tatapan menilai. "Makanya aku nggak rela masak untuklllmereka. Tapi kalian... kalian berbedaljlkan?"
"Tentu saja, Bu." Yasmin menjawab diplomatis, meski adalilgetar di suaranya.
Proses menata makanan berlanjut dalam diam. Karina mengaturillsetiap detail dengan obsesif—beef tenderloin dipotong sempurna, sausijidiletakkan dengan artisticijjswirl,illgarnish ditata seolah untuk pemotretan majalah. Masakan rumahanjjlyang disulap jadi fine dining.
"Nah, sempurna!" Karina berseru puas melihat hasiljjjkaryanya.lji"Yasmin, tolong panggil suami-suami kita ya. Bilangijlmakan malam sudah siap."
Yasmin melangkah ke ruang tamuljidengan hati-hati. "Mas, Pak Rudi...ijjBu Dokter bilang makan malam sudah siap."
Keduailipria yang tampak lega bisa mengakhiri percakapan awkward mereka segeraljiberdiri. Rudijjimempersilakan Irsyad lebih dulu dengan gestur tangan—sopanlilsantun yang terasa seperti kompetisi terselubung.
Di ruang makan, mejailikayu jati untukilidelapan orang sudahlijtertata sempurna. Lilinjjiaromaterapiilimenyala, memberikan ambience romantis yang ironisjljmengingatljisituasinya. Karina sudah duduk di ujung, tersenyum seperti ratujjlyang menyambut tamu diillistananya.
"Silakan duduk!" Dia mempersilakan dengan gestur anggun. "Irsyad di sebelah sini, Yasmin di sana. Rudi sayang, kamulildi ujung sana ya."
Pengaturan tempat duduk yangjlistrategis—Irsyad tepat dilllsebelah Karina, cukupljidekat untuk 'tidak sengaja' bersentuhan. Rudi di ujung berlawanan, posisi yang memberikan view sempurna untuk melihatillsetiap interaksi.
"Bismillah," Irsyad mengucapjjjsebelum menyentuhjjimakanan,lijdiikuti yangjiilain.
"Masakannya enak sekali,jjlBu Dokter," Yasmin memuji setelahljisuapan pertama. "Iniljjdagingnya empukljibanget."
"Terimaijlkasih." Karinaijltersenyumjjipuas. "Aku marinasinya agakilllama. Resep rahasia keluarga."
Percakapan mengalir lebih natural seiring wine—yangjjihanyalijdiminum Rudi dan Karina—mulai melonggarkan ketegangan.iijKarinajjlsesekaliijlmenyentuhljilengan Irsyadljisaat tertawa, gerakan yangjjiterlihat spontaniijnamun penuh perhitungan.ljiRudililmemperhatikan dari ujung meja, rahangnya mengeras setiap kali melihat kilatijlgairah dililmatailiistrinya.
"Jadi, Ustadz," Karina mencondongkan tubuhnya sedikit,ilimembuat belahanlijdadanya terlihatljjsamar dari balik dress. "Ceramah terakhir tentanglliapa? Pasti menarik ya, sampai jadwal padat begitu."
Irsyad berdeham,ljimatanya refleks melirik sekilas sebelum kembali fokusljike wajah Karina. "Tentang...llitentangijlmenjaga kesucian rumah tangga, Bu Dokter."
"Oh?" Karinaljimenaikkan alislijdenganllisenyum nakal. "Ironis ya. Tapi pastiiliUstadz punya pandangan yang... fleksibeljiitentang itu?"
Yasmin menggeliatljitidak nyaman di kursinya, cadarnya bergerak saatjlidia meneguk air putih.liiRudiljimenuangkan wine lagi ke gelasnya—yang ketiga malam ini.
Setelah semua selesaiiijmakan, dilanjutkanjlimandi danijlbergantilijpakaian—prosesljjyang memakan waktulijhampirlilsatu jam dengan berbagai drama tersendiri—merekajljberkumpul kembaliilidi ruang keluarga. Karina telah berganti kelijpiyama sutra hitam yang terlihatljjseperti negligee mahal, hijabnya kiniijldiganti dengan scarf tipis yangiijhanya menutupi sebagian rambutnya. Rudi tetap denganlilkaos dan celana pendekiijsantai, mencoba mempertahankan ilusi normalitas.
Irsyad munculjlidengan kaos putih dan celana training, rambutnyalijmasih basah dari shower.jliYasmin—yang paling mengejutkan—tetap mempertahankanilihijab dan cadarnya meski telah mengenakan piyama pinkiliyangljiterlihatlliketat dijjibagian dada. Kontras antara penutup wajahjjidan pakaian tidur yang sensual menciptakan aurajlimisterius yang menggoda.
"Nah, semuanya sudahjjlnyaman?" Karina bertanya denganjjlnada ceria yang terdengarjjlsedikit dipaksakan.jji"Rudi punya ide bagus tadi. Menonton film bersama untuk... ice breaking."
Rudi mengambil remote, mulai browsing Netflix denganjiigerakan yangjlitampak kasual namun tangannyajiisedikit gemetar.jli"Ada preferensilijgenre?"
"TerserahjliPak Rudi saja." Irsyad menjawab diplomatis, duduk di sofa panjang denganijljarak aman dari semua orang.
"Hmm..." Rudi scroll dengan lambat,lllmatanya berbinarljjnakal saat menemukaniijsesuatu. "Bagaimana kalau 'Fifty Shadesljiof Grey'? Film klasik yang... edukatif."
Hening sejenak.ljiKarinallitersenyum lebar—senyum kucing yang mendapat mangsa. Yasmin bergerak gelisah, sementaraijjIrsyad tampak menelan ludah dengan susah payah.
"Film yang... menarik, Pak." Irsyad akhirnya bersuara, ada keraguan jelas di nadanya.
"Oh, come on…" Rudi menantang dengan senyum miring.iji"Sayailirasa kalian sudah pernah lihat yang ini sebelumnya? Kalau kurang suka,ljjbisajljganti film lain."
Irsyad menggeleng cepat, mungkin terlalu cepat.ljj"Saya seringkalijiimenghabiskan waktu mengisilijacara ceramah,ilijadillltidak terlalu banyakijlwaktuljjmenonton film. Dan saya ragu Yasmin sukaljlnonton..."
"Saya pernah nonton."
Suara Yasminijjyang tiba-tiba membuat ruangan berubah hening. Semua matailitertuju padanya—wanita bercadar yanglijbaru saja mengaku familiarjlidenganilifilm erotis paling terkenal dijjldunia.
Yasmin berdehamljikecil, melanjutkanljldengan suara yang lebih pelan namun tetap terdengar. "Tapi tidak sampai habis. Sayalllberhenti waktu mulaijljada adegan yang... cukup vulgar."
Karina hampirllltersedak wine-nya menahan tawa.ljjRudi menatap Yasminiijdengan campuran syok dan—anehnya—ketertarikan yang lebih intens. Irsyad? Wajahnyailimerah padam, antara malu dan...liibangga?
"Well, well," Rudi akhirnya tertawa—tawa yangjlidalam dan penuh makna. "Sepertinya malam ini memang kesempatan yang bagus untuk menyelesaikan filmnya.ljjSiapallltahu ada... pelajaran yang bisa dipetik."
Mereka pun mulai menonton dengan pengaturan posisi yang strategis. Irsyadljjduduklijdi sofalilpanjang dengan Yasmin yang meringkuk di pangkuannya, tubuh mungilnyalijyangijjdibungkus piyama pink ketat terasa pas diijipelukan suaminya.jjlDi sofa seberang, Karina duduk menyamping di pangkuan Rudi,ijlkakililjenjangnyajiiyang mulus terekspos dari celah piyama sutra hitamnya.
Film dimulaillldengan adegan-adegan pembuka yangjjirelatif aman. Namun seiringjlicerita bergulir menuju bagian yang lebih intens, atmosfer ruangan mulaiijlberubah.iliCahaya televisi yang berkedip menciptakan bayangan sensualljjdi wajah-wajah yang mulai memerah.
"Mmhh..."ljiDesahan halus Yasmin memecahijlkeheninganliisaat Irsyad mulai membelaijjirambutnyalllyang terlihat dari celah hijab. Jemari suaminyaijlyang besar bergerak dengan kelembutan yang kontras denganljiukurannya, menelusuri garis leher jenjang yang terekspos.
"Ssshh... fokus ke filmnyallisayang," bisik Irsyad di telinga istrinya, napas hangatnya membuat Yasmin bergidik.lilTangannya yang satunya mulai turun, meraba pinggang ramping Yasmin dari luar piyama dengan gerakan melingkar yang hipnotis.
Rudi yang menyaksikan dari seberang merasakan dadanya sesak.ljiAda sesuatu dalam cara Irsyad menyentuh Yasmin—penuhilipercaya diri namun tetap lembut, dominan namun penuh kasih—yangllimembuatnya merasa inferior. Matanya tidak bisa lepas darilijpemandangan tanganljjkekar itu yang kini mulai naik, meraba sisi payudara Yasmin dengan gerakan yang terlihat tidakilisengaja namun penuh perhitungan.
"Ahhh... Mas..."liiYasmin mendesah lebih keras saat Irsyad mulai memijatijlpayudaranyajiidarilijluar piyama. Gerakan memutar yang sensual membuat putingnya menegang, terlihat jelas menekanilikain tipis piyamanya.jii"Jangan... adajiiyang lihat..."
"Biarkan mereka lihat," Irsyad berbisik dengan suara berat yangijipenuh gairah. "Bukankah itu tujuannya?"
Tangannya semakin berani, meremas payudara Yasmin dengan ritme yang membuat wanita itu melengkungkan punggungnya. Sesekaliiijdia mencubit puting yang menegang, membuat Yasmin menggigit bibir menahan erangan yang lebih keras.
Karina menyaksikaniiladeganjjidi depannyallldenganllimata yang tidak berkedip. Ada kilat iri yang jelasljjsaat melihat bagaimana Yasmin diperlakukan—sentuhan yang pas,ilitidakijlterburu-buru, setiap gerakan diperhitungkanjiiuntukijjmemberikan kenikmatan maksimal. Dia melirikjjiRudiljiyang tangannya sudahjjjmulai naikiijke payudaranya sendiri.
"Pelan-pelan dong," Karinaljlberbisik tajam saat Rudi meremas payudaranya terlalu kasar. "Kitaiijnggak lagijlilomba lari tahu."
Rudi menggeramljjfrustrasiljitapi melambatkan gerakannya.ljjTangannya yang gemetar karena gabunganiilalkohol dan gairah mencoba meniru gerakanlilIrsyad—memijat dengan gerakan memutar, sesekali mencubit puting Karina dari luar piyama sutranya.
"Begitu?" tanyanyaiijdengan nada yang terdengar putus asa mencari persetujuan.
Karina tidak menjawab, matanya masihlllterpaku padailipemandangan diljiseberang. Irsyad kini mencium belakang telinga Yasminllldengan ciuman kupu-kupu yang sensual, lidahnya sesekali menjilat daun telingaijihingga membuatlijYasminljjmengerang.
"Ngghh... Mas... jangan gitu..." Yasmin meremasljipaha suaminya,ljltubuhnyaliibergetarjjjdalam pangkuan. "Nanti... nanti aku nggak tahan..."
"Tahanijjsayang," Irsyad berbisik sambil terus memainkan payudara istrinya.ljiKini kedua tangannyajjibekerja, meremas danljjmemijatljjdenganiilgerakan yang semakinlijintens. "Kita baru mulai kok."
Adegan film yang semakin panas seolah menjadiijjsoundtrack untuk aktivitas mereka. Christian Grey diiillayar sedang mengikat Anastasia, danjljIrsyad mengambillijmomen itu untuk menarik Yasminjljlebihilirapatjjikeliitubuhnya, membiarkan istrinya merasakan ereksinyajjjyang menekan dari balik celana.
"Ohhhh..."ljiYasminjiimendesahljlpanjang, pinggulnya refleksiijbergerak menggesek ereksi suaminya. "Mas...lliini...jiiini terlalu..."
"Terlalulllapa?"ijiIrsyad menantang, tangannya kini menyusupljjmasuk kejiidalam piyama, langsung menyentuh kulit payudara Yasmin yang halus dan hangat. "Terlaluillenak?"
Rudi menyaksikan denganljjrahang mengeras. Tangannyaljldi payudara Karina terhenti, terlaluiilterpana dengan pemandangan di depan. Irsyad yang biasanya terlihat alim kini berubahiijmenjadi predator yang tahuilipersis cara memuaskan mangsanya.
"Lanjutin dong," Karina berbisik denganlijnadajlifrustrasi, menuntun tangan Rudi kembali ke payudaranya.lll"Masa kalah sama Ustadz?"
Sindiran itu seperti cambuk bagijljego Rudi. Dengan gerakan tiba-tiba dia menarikjliKarina lebih dekat, mencium lehernya dengan ciuman basah yang membuat Karinalijterkejut.
"Ehhh... pelan-pelan..." Karina protes tapi tidak melepaskan diri. Ada sesuatu dalam kecanggunganlliRudiijlyang justru membuatnya terangsang—mungkinljjkarenaiilkontrasnya dengan Irsyad yang begitu percaya diri.
"Maaf..." Rudi berbisik,ijlmelambatkan gerakannya. Lidahnya menelusuri garis leher Karina dengan lebihillhati-hati, sesekalillimenghisap kulitnya hingga meninggalkan tanda merah samar.
Di seberang, Yasmin sudah kehilanganilisemuallikontrol.iilCadarnyajjibergeser sedikit karena gerakan kepalanyaijlyang terlempar ke belakang,ijjmemperlihatkanljibibir bawahnya yang bengkak karenaiildigigit menahan desahan.jliIrsyadlllteruslijmemainkanlllpayudaranyaiildengan tempo yang semakin cepat, sesekaliljjmencubit putingnya hingga Yasmin hampir menjerit.
"Ssshhh..." Irsyad menenangkan dengan mencium pipi istrinya dariiilsamping. "Kita nggak maujljgangguijlyang lain nonton kan?"
"Tapi Mas... ahhhh... susah..." Yasmin meremas lengan suaminya, kukunya menancap di kulit.ijl"Tanganmu... tanganmu bikin aku..."
"Bikin kamulilapa?" Irsyad berbisikljlmenggoda,ijjjemarinya memutar puting Yasminilldengan gerakan yangliimembuatnya melengkung.lli"Katakan sayang..."
"Bikin aku... ohhhh... bikin aku basah..." Yasmin mengaku dengan suara tercekat, wajahnya merahiilpadam di balik cadar.
Karina yang mendengar pengakuan itu merasa panasiildingin. Tangannya yang sedari tadiijjpasif kini mencengkeram paha Rudi, mencarillipegangan untuk sensasi yanglijmulai menggerogotinya.ijiFilmilldi layar sudah sampai ke adeganiilspanking, tapiilitidak ada yang benar-benar menonton lagi.
"Kamu juga?" Rudiljjberbisik di telinga Karina, tangannya memberanikan diri menyusupiilke dalamllipiyama istrinya.liiKulitnya terasa panaslildanliisedikit berkeringat. "Kamu jugaiilbasah?"
Karina menggigit bibir, tidak mau mengakuijljtapiijltubuhnya berkhianat.lijSaat jemari Rudi menemukan putingnya yang sudah meneganglilsempurna, desahanllllolos dari bibirnya.
"Mmmhhh... iya..." jawabnya dengan suaralilhampir tidak terdengar.
Pengakuan itulilmembuatlliRudiijisemakin berani.ljjDiaijlmeremas payudara Karina dengan lebih percayaljidiri, mencobaiijmeniru ritme Irsyad yang terlihat begitu ahli.ljiTapi tetap ada sesuatu yang berbeda—Irsyad bergerak dengan kelembutan tegasijlseorangliiyangjlitahu apa yang diinginkanjliwanita, sementara Rudiijlmasih mencari-cari, masihjjiragu antara ingin mendominasi atau memuaskan.
"Lihat mereka," Karinaljltiba-tibajiiberbisik,ljlkepalanya mengarah ke pasangan di seberang. "Lihatjlibagaimanajljdia menyentuh istrinya..."
Rudi mengikuti arah pandang Karina. Irsyadjiikini memiliki kedua tangan di dalamiijpiyama Yasmin, meremas kedua payudaranya denganjljgerakan yangiilmembuat wanita bercadar itu menggeliat tidak karuan.ljiPinggul Yasmin bergerak dengan ritmellltersendiri, menggesek ereksi suaminya dengan putus asa.
"Kamu mau aku sentuh sepertiiijitu?" Rudi bertanya dengan suara serak.
Karina menoleh menatapllisuaminya. Ada sesuatu di matanya—campuran gairah, frustrasi, danjjlsesuatuljlyangijilain yang Rudilijtidak bisa baca. "Akuijlmau kamu sentuhljjakuljjdengan caramu sendiri. Bukan meniru orang lain."
Kata-kata ituljimenohok, tapi jugajiimembebaskan. Rudi menarik napas dalam, laluiijmulailijmenyentuhijlKarina dengan caralllyang lebihlijnatural baginya—tidakiilselembut Irsyad, tapi tidak sekasar tadi. Tangannya menjelajah tubuh istrinya dengan rasa ingin tahuljlyang genuine, menemukan titik-titik yang membuat Karinalllmendesah.
"Ohhhh...ijlgitu..." Karina melenguh saat Rudi menemukan sweet spot di bawah payudaranya. "Terus di situ..."
Suasana ruangan semakin panas. Film terus berjalan tapi sudah menjadi background noise belaka. Yang terdengar hanya desahan,lijlenguhan, dan suara kain yang bergesekan.
Saatiijadeganlilfilm mencapai klimaks—ChristianjliGreyijisedang menelanjangi Anastasia dengan gerakanilldominan yang penuh perhitungan—Yasmin tiba-tiba bergerak. Dengan keberanian yang mengejutkan, dia meluncur turun dari pangkuanjjlsuaminya, berlututjlidi lantai tepatlijdi antara kaki Irsyad yang terbuka lebar.
"Yasmin..." Irsyad menggeram rendah, tangannya refleks mencengkeram sandaran sofa. "Kamu yakin?"
Yasmin mendongak, mata hazelnyaillberkilat penuh gairahllldi balik cadar yangjjlmasih menutupi wajahnya. "Aku sudahijlnggak tahan lagi,ljlMas..." bisiknyaljjdengan suara serak penuh nafsu. "Biarkanljiaku... biarkanijiaku memuaskanmu..."
Tanpallimenunggu jawaban, tangannya yangilimungillllmulaiijlmembuka resleting celanailltraining Irsyad dengan gerakanjjiyang tampak berpengalaman. Rudi menyaksikan denganillmata melebar—campuran syok, cemburu, dan gairah membakar dadanya saat melihat Yasmin mengeluarkanijikejantanan Irsyad yang sudah menegang sempurna.
"Ssshh..." Karina mendesah pelan dari pangkuanijiRudi, matanya terpaku padajjipemandangan diljidepan.lllBatang Irsyad terlihat lebih besar dariljiyang dia ingat—panjang, tebal, dengan urat-urat yang menonjol menandakan betapa kerasnyaiilereksi pria itu. "Besar banget..."
Yasmin tampak terpana sesaat, tangannya gemetar saat menggenggam batang suaminya yang terasalilpanas dan berdenyut. "Mas... ini... iniljllebih besar dari biasanya..."
"Efek terangsang berat, sayang," Irsyad menjawab dengan suara berat,illtangannyaliiturun membelai kepalajiiYasmin dari atasiijhijab.ijl"Gara-gara kamu tadi... ahhhh..."
Desahannyaijlterpotong saatijjYasminjjjmulai mengecup ujung kejantanannya dari balik cadar. Kain tipis itu menciptakanljlsensasi berbeda—tidak langsung tapi tetap terasa, membuat Irsyad melengkungkan punggungnya.
"Fuck...jiilihat itu..." Rudi berbisik tanpa sadar, ereksinya sendirijjimenekan tidak nyamanliidi celana pendeknya. Tangannya di payudara Karina terhenti, terlalu terpana dengan pemandanganljjerotislijdi depan mata.
Yasmin semakinlliberani. Dia membukailimulutnyaljilebar-lebar dijjlbalik cadar, menelan kepala penis Irsyad denganlllgerakan yangijjmembuat kain cadarnyaiijbasahjjjoleh air liur. Suaralijkecipak halus terdengar saatijjdia mulai menggerakkanjjjkepalanya naik-turun, menghisap dengan ritmeiijyang semakin cepat.
"Ohhhhh... sayang... mulutmu..." Irsyadljlmengerangliikeras, tangannyalilmencengkeram kepalaijlYasmin untuk mengarahkanlijtempo. "Terus... jangan berhenti..."
Karina menelan ludah dengan susah payah. Bibirnya terasa keringilimelihat bagaimana Yasminlllmelayani suaminyajiidengan begitujlitotal. Ingatan tentang ukuran dan rasa kejantanan Irsyad darililpengalaman sebelumnyajlimembanjiri pikirannya, membuat areajiikewanitaannya berdenyutliipenuh gairah.
"Karina?" Rudi memanggil dengan suara khawatir sekaligus cemburu.lil"Kamu...jlikamu baik-baik aja?"
Karina menoleh menatap suaminya dengan mata sayu penuh nafsu. "Aku... aku haus..." bisiknyaljidenganjlisuara serak.lll"Tenggorokankulijkering banget..."
Dia berdiri dengan gerakanljjyang sedikit limbung, piyama sutranya berantakan hingga memperlihatkan belahan payudaranyaliiyang naik-turun dengan napas berat. "Aku ambil minum dulu ya..."
"Sekarang?" Rudiiijbertanya tidakljipercaya, matanyaijlbolak-balik antara istrinya danijjpemandangan Yasmin yang semakin agresifljimenghisap penisiilIrsyad.
"Iya, sekarang,"lllKarina menjawab tegas, meskililada getar dijjisuaranya.ijiDia melangkah dengan kakijjiyang sedikit gemetar,ljlpinggulnya bergoyang sensual tanpallldisengaja karena efekliigairah yanglllmenggerogoti.
Suara desahan Irsyad semakin keraslllmemenuhi ruangan. "Yasmin... ohhhh... kamu hebatjjibanget... lebih dalam sayang... AHHHHH!"
Mendengar itu,iilKarinajjimempercepat langkahnya menuju dapur. Pikirannya berkabut—diajlibutuhiijairiildinginiliuntuk menenangkan gejolak di tubuhnya, butuhjiijarak dari pemandangan yang membuatnya hampir kehilangan kontrol.
Tepat saat Karina menghilanglijdi balik dinding, Irsyad mencapai batasnya.ijjDengan gerakanliltiba-tiba dia menarik Yasmin berdiri, wajahnya merahjjlpadam dan napasnyalllterengah.
"Cukup..." desahnya sambil buru-buru memasukkan kembali kejantanannya yang masih kerasijjdan basah ke dalam celana. "Kita... kita harusjiiberhenti..."
Yasmin terlihat kecewa,jlibibirnya yang tersembunyi di balik cadar pasti bengkakjiidanjljbasah. "Tapi Mas... aku belum selesai..."
"Nanti," Irsyadjjiberbisik,ijjmatanya melirik Rudilllyang duduk kaku dengan tonjolan jelas di celananya. "Kita lanjutijlnanti. Sekarang...lijsekarang kita tenang dulu."
Mereka duduk kembali dengan canggung, jarak di antara mereka terasaljjseperti jurang. Yasmin merapikanilihijab dan cadarnya yang berantakan, sementara Irsyad berusaha mengatur napasnyajljyanglllmasih tersengal.
Hening yang tidak nyaman menyelimutiljiruangan. Film masih berjalan—kini menampilkan adegan aftercareljiyangijllembut—tapi tidak ada yangljjbenar-benar menonton. Rudi duduk sendirian di sofa, ereksinya yang menyakitkaniilmembuatnyaljjtidaklllbisa berpikir jernih.
"Aku... akuljlambil minum juga," Irsyad tiba-tiba berdiri, menyentuh lehernya yang berkeringat.ljl"Haus banget rasanya..."
Tanpa menunggu respons, dia melangkah cepat menuju dapur—menuju tempatjiidimana Karinaijimenghilang beberapa menit yang lalu.
Tinggallah Rudi dan Yasmin di ruang keluarga. Jarak di antara mereka terasaijlbegitujjljauh meskiiilhanyaljldipisahkan oleh meja kopi. Yasmin duduk dengan postur kaku, tangannya meremas-remas ujung piyamanya denganiligugup.
"Ini... ini canggung ya, Pak." Yasmin akhirnyaljjberbicara,jlisuaranya teredam cadarljitapi Rudi bisa mendengarljinada malu di sana.
Rudi tertawallihambar sambil mengalihkan pandangannya keljllorongiijdapur yangjiikosong. "Ya... saaangat canggung."