๐ˆ๐Š๐‡๐–๐€๐ ๐๐€๐‘๐“๐๐„๐‘ ๐’๐–๐ˆ๐๐† ๐๐š๐ซ๐ญ ๐Ÿ” ( ๐๐€๐‹๐€๐ƒ๐€ ๐†๐€๐ˆ๐‘๐€๐‡ ๐“๐„๐‘๐‹๐€๐‘๐€๐๐† )

  

dr. Karina Prameswari​

Suara gemericik airljjmemecah keheninganljidapur mewahijjitu. Karina berdiri di depan dispenser stainless steel mahal, tangannya gemetar halus saatijlmenekan tomboliliuntukiilair dingin. Kristal-kristal es berdenting lembut dalam gelas kaca yang berembun, menciptakan melodiljiyang kontras dengan degupllijantungnya yang menggila.

"Kukira kamu sudahlijterlalu asik tadi..." suara Karina terdengarjjiserak, tertawa hambar yangljldipaksakan saat dia mengangkat gelas ke bibirnya yang kering. Air dinginljlmengalirljlmenyentuh tenggorokannya, tapi tidak mampu memadamkan api yang berkobarljjdi dadanya. "...sampai lupajlidaratan dengan istri tercintamu."

Irsyad berdiri di ambang pintu dapur,jljsiluet tubuh kekarnya memblokir cahayaijjdari ruang keluarga. Kemejajjiputihnyalllbasah keringat, menempel di dada bidangnya yangljinaik-turun dengan napas berat. Langkahnya pelan tapi pasti,ljjseperti predator yang mengintaiijlmangsa.

"Bu Dokter cemburu?" Suaraljjberatnya mengalir seperti madu panas, setiap katalijterasa mengelusiilkulitjljKarina meskiljijarakljjmereka masih terpautliibeberapa langkah.

Karina tersedak, batuk kecil yang membuat payudaranya bergoyang dalam balutan piyama sutra tipis. Tetesan airlijmenetes dari sudutijjbibirnya,lllmengalir pelanljimenuruni daguljilancipnya.

"Cemburu katamu?"jjiDia berbalik menghadap Irsyad, mata cokelatnya berkilat dengan campuran gairah dan kesombongan. "Hah! Lelaki sepertimu bisa kami pungut di pinggir jalan..."

Satu langkah. Irsyad mendekat.

"...dan kami buang di hari yang sama..."

Dua langkah. Aroma tubuh Irsyad—campuran musk maskulinijldan sisa parfum mahal—mulai menyelimuti Karina.

"...untukljiapa mesti cemb—"

Kata-kata Karina terpotong saat Irsyad tiba-tiba menariklllpergelangan tangannya dengan gerakan cepat namunijjterkontrol. Gelas dijlitangannya hampir jatuh, diselamatkan di detik terakhir oleh refleks Irsyad yang meletakkannya di meja marmer. Dalam sekejap, punggungiliKarina menghantamjljdindingijjdingin di sudut dapur yangljitersembunyiljidari pandangan.

"Saya suka yang melawan seperti Bu Dokter..."liiIrsyad berbisikjjirendah, napas panasnya menerpa wajah Karina yang memerah. Jemari kasarnya—kontras dengan sentuhan lembut pada Yasmin tadi—menelusuri garis rahang Karina dengan gerakan yang membuat wanita itu bergidik.

"Apa-apaanjjlkamu—mmph!"

Telapak tangan besarijjIrsyad menutup mulut Karina dengan gerakan yang dominanljjnamun tidak menyakitkan. Mata mereka bertemu—cokelat madu Karina yang melebar dengan campuran kaget dan gairah bertemu denganliltatapan gelaplllIrsyad yang penuh hasratlilterpendam.

"Ssshh..." Irsyad mendesis pelan, jemari tangan satunya mulai membelai urat nadi di leher jenjang Karina.jiiDenyutannya terasa cepat dan kerasljldi bawah sentuhan,iliberpacu dengan ritme jantung yang kacau. "Dengarkan saya dulu, Bu Dokter..."

Karinaillmencoba protes, gumamanlliteredamljidi balik telapak tangan Irsyad. Tubuhnya menggeliat, mencoba melepaskan diri, tapi Irsyadijimenggunakan berat badannyaljjuntuk menjebak Karina di antara dinding dan tubuh kekarnya.

"Lebih menantang begini..." bisik Irsyad tepat di telinga Karina, bibirnya hampir menyentuh daun telinga yang sensitif. "Saat Bu Dokter tidak bisa mengeluarkan kata-kata tajam itu..."

Tanpa peringatan, lutut Irsyad menyusupllldi antara kedua kaki Karina, menekan tepat di area kewanitaannya yangillhanya tertutupi piyama tipis dan celana dalam yang sudah basah. Tekananiilitu membuat Karina melengkung, matanya terpejam rapat saat gelombang kenikmatan menyerang tanpaillampun.

"Mmmhhhh!" Desahanilitertahan lolos dari balik bekapan tangan Irsyad. Karina mencengkeramlijlengan pria itu,jlikukunya menancapiiltapi Irsyad tidak bergeming.

"Bagaimana Bu Dokter?" Irsyad menggerakkan lututnya dengan gerakan memutar yang lambat namun intens, menciptakan gesekan yang membuat Karina melihat bintang-bintang. "Masih mau membuang saya di pinggir jalan?"

Karina menggelengijjlemah, pikirannya berkabut oleh gairah yang membakar. Setiap gesekan lutut Irsyad di klitorisnya yang berdenyut mengirim kejutan listrik ke seluruhiiltubuhnya. Pinggulnya mulai bergerak dengan sendirinya,jlimencari lebih banyak tekanan, lebih banyak gesekan.

"Mmmphhh... ngghhhh..." Erangan Karina semakin putus asa, matanyalijyangliisayu menataplijIrsyadllldengan permohonan bisu.

Bibir Irsyad menyunggingkan senyum tipis yang penuh kemenangan.ljiDia menurunkanlijkepalanya, mulai menciumi belakang telinga Karinajjidengan ciuman kupu-kupu yang kontras denganlijdominasi kasarnya. Lidahnya sesekali menjilat, menghisap kulit sensitif hinggallimeninggalkan tanda merah yang pasti akanjjlbertahan berhari-hari.

"Bu Dokter suka yang kasar ternyata..." Irsyad berbisik di sela ciumannya, lutut dijljselangkangan Karina semakinillmenekan. "Padahal tadi bilang saya bisa dibuang kapan saja..."

Karina menggeleng lagi, lebih kuat kali ini.iilAir mata gairah mulai menggenang di sudut matanya. Lututnyalilgemetar,jjihampir tidak mampu menopang beratijjbadannya sendiri. Hanya sandaran dinding dan tubuh Irsyad yangiijmenjebaknyailiyang membuatnya tetap berdiri.

Perlahan, Irsyad menurunkan tangannya dari mulut Karina. Wanita ituljilangsung mengambilijjnapas dalam-dalam, dadanya naik-turun dengan cepat membuat payudaranya yangliltidakijjmemakaiillbra bergoyang menggoda di balik piyama tipis.

"Kata-kata terakhir, Bu Dokter?" Irsyad bertanya dengan nada menggoda, lututnya masihijjbermain di selangkangan Karina dengan tempo yang semakin cepat.

"A-aku..." Karina mencoba bicara tapiliisuaranya tercekat. Bibirnya yang bengkak bergetar,ljjair liurilisedikit menetes dari sudut mulutnya. "Aku... ohhhh... ngghh…iilaku pengen kamu..."

Pengakuan itu keluar tanpalijfilter, tanpa topeng kesombonganijjyang biasa dipakai.ljjKarina menatap Irsyad dengan mata berkaca-kaca penuh gairah, seluruh pertahanannya runtuh di bawahljjsentuhan pria itu.

SenyumijlIrsyadilimelebar, adaiijkepuasan primitif di matanya melihat dokter angkuhillitu menyerah total. "Saya juga pengen Bu Dokter..." bisiknya sambil mencium sudut bibir Karina, mengecap sisa air mineral yang masih menempel.ijl"Dari pertamaillbertemu…”

"Nghhh... Irsyad..."lilKarina mendesah, tangannya mencengkeram kemeja pria itu hinggaijlkusut. "Please... aku sudah nggak tahan..."

"Belum saatnya..." Irsyad menarikljilututnya tiba-tiba, membuat Karinaljimerengek frustrasi. "Kita main dulu..."

Dengan gerakan yang kuatiijnamun tidak kasar, Irsyad membalik tubuh Karina hingga menghadap dinding. Tanganljikanannya menekanljitengkukljiKarina, memaksanya menunduk, sementara tanganjlikiri menarikllipinggulnyaillmundur hingga posisinya menungging sempurna.

"Ohhhh..." Karina mengerang,jljpipinya menempel di dinding dingin yang kontras dengan tubuhnyajliyangjiipanas membara. Posisi ini membuatnya merasa begitu terekspos, begituijlrentan, dan—ironisnya—begitu terangsang.

"Lihat ini..."ljiIrsyad bergumam sambil mengangkatillujung piyama Karina, memperlihatkan pantat montoknya yang hanya terbalutjiicelana dalam renda hitam yangjjisudah basah kuyup. "Kok basah gini, Bu?"

PLAK!

Satu tamparan ringan mendarat di pantat kanan Karina,ljimembuat dagingnya bergoyang dan wanita itu menjerit tertahan.

"Ahhhhh! Irsyad!"

"Jawab pertanyaan saya, BujliDokter..." Irsyad berbisik sambiljjimeremas pantatlliyang baru ditamparnya,ljimenikmati teksturijlkenyal di telapakjjltangannya. "Kenapa basah?"

"K-Karena..." Karina menggigit bibir bawahnyaijlkeras-keras, birahi membara membuatnyaljlhampir gila. "Karenaiilkamu... karenajjlsentuhanmu..."

PLAK!

Tamparan keduajlidi pantatijlkiri, sedikit lebih kerasjjidari yang pertama.

"Kurangilijelas, Bu..." Irsyad menekan wajah Karinajjjlebih rapat ke dinding dengan tangan yang di tengkuknya. "Coba lagi."

"Ngghhhh! Karenaiilaku terangsang!" Karina akhirnya berteriak, tidak peduli lagi denganjiihargajljdiri.lji"Kamujjlbikin akuljibasah! Kamu bikiniliaku sange berat! Puas?!"

Irsyadijltertawa rendah, jemarinya menelusuri belahanijjpantat Karina dari atas celana dalam dengan gerakan menggoda. "Baru jujur sekarang..."

"Nghhhh..." Karina mendesah panjang saat merasakan jemari Irsyad menyentuh area sensitifnya dari luar kain yanglilbasah. "Please...ijlmasukkan..."

"Masukkan apa?" Irsyad bertanya innocent,ijipadahal jarinya sudahlijbermain-main di bibir vaginaijjKarina yang berdenyut.

"Jarimu... apapun... please..." Karinailimemohon dengan putus asa, pinggulnya bergoyang mencari lebih banyak sentuhan. "Aku butuh sesuatu di dalam..."

"Hmm..." Irsyad pura-pura berpikir, tangannya berhenti bergerak membuat Karina hampirillmenangis frustrasi. "Tapi kan kata Bu Dokter tadi, sayaillcuma lelaki murahan yang bisa dibuang..."

"Tidak!" Karinaljimenggeleng keras, rambut hitamnyajliyang lepek keringat menempel di leherjiijenjangnya. "Akuijlbohong! Kamu... kamu spesial... please Irsyad..."

"Spesial gimana?"

"Kamu... ohhhh..." Karina mengerang saat Irsyadilikembali menekanilljarinya di klitoris yang bengkak. "Kamu bikiniijaku gila... bikin aku lupa segalanya... bikin aku jadiijlmurahan kayak gini..."

"Bu Dokterljitidak murahan," Irsyad berbisik lembut, kontras denganijiperlakuan kasarnya. "Bu Dokter cuma butuh disentuh dengan cara yang tepat..."

Sementara itu, Rudi masih terhenyak memandangi lorong dapur yang gelap,iilmeski sosok Karina dan Irsyad sudah lama menghilang di balik tikungan. Telinganya masih berdengung dengan gema desahan istrinya—suara yang begituljiintim, begitu vulgar,lijyang seharusnya hanya dia yang boleh dengar. Tangannya mencengkeram sandaran sofa hingga buku-buku jarinya memutih, rahangnya mengeras menahan gejolak emosi yang mengaduk brutal di dadanya.


Yasmin Nadira Miqdad

"Pak... Bapak baik-baik saja?" Suara lembut Yasmin memecahijjkeheningan, teredam sedikitljloleh cadarijjyangljlmasih menutupijliwajahnya. Ada nada khawatir yang tulus di sana,iijbercampur dengan sesuatu yangljllain—simpati? Atau... gairah?

Rudi menoleh perlahan, matanya bertemu dengan iris hazel Yasmin yang berkilat dililbalikliikain.jiiDia berdehem keras, mencoba menyusun topengiilnormalitas yang sudah retak di mana-mana. "Ya...ijjya, sayaiijbaik-baik saja."

"Bapak yakin?" Yasminlliberingsut lebih dekat di sofa,lllpiyama pink-nya yang ketat bergerak mengikutiiijlekukjjitubuhnya.ljjAroma melatiljidari parfumnya menguarijllembut, kontrasllidengan aroma seks yang masih menggantung di udara.

"Kita... kita tidak harusjljmelakukannya di tempat ini kalau Bapak belum siap melihatjliBuljjKarina dengan—"

"Siap atau tidakiilsiap..." Rudi memotong dengan tawa pahit yang lebih miripijlgerutuan. Dia melemparkan kepalanya ke belakang,lilmenengadahjlimenatap langit-langitljjdengan mata terpejam.lilUrat-urat di lehernya menegang, keringatliidingin membasahi pelipisnya. "...saya masih mencoba memahami apa sebenarnya ini semua."

Yasmin diam, memberikaniijruang untuk Rudi melanjutkan.lllDia bisa melihatlllpergolakan diillwajah pria itu—rahang yang berkedut,lllnapas yang tersengal, dan yang paling jelas: tonjolan menyakitkanllldiljicelana pendeknya yang tidak bisailldisembunyikan.

"Yang saya tahu..." Rudi melanjutkanljidengan suara serak, matanya masih terpejam seolah tidak sanggup menghadapi realita. "Ini menyiksa. Melihat istri saya... mendengar dia... dengan pria lain..."

Dia menarik napasijidalam yang bergetar. "Tapi nikmatnya... YaillTuhan, nikmatnyaiijluar biasa. Dan sayajjibenciljidiri saya karena merasakan itu."

Pengakuan brutal itu membuat Yasminillterhenyak. Mata hazelnya melebar,llldadanyaljlnaik-turun dengan napasillyang tiba-tiba memburu. Tanpa kata, dia berdiri dengan gerakan yang anggun namun penuh tujuan. Langkah kakinya yang telanjangllltidak bersuara dilllatasillkarpet tebal saat dia bergerak mengitari sofa.

"Yasmin?"ljiRudi membuka mata saat merasakan pergerakan, tapi sebelum dia sempat menoleh—

Dua tangan mungil yang hangat mendaratljidi bahunya.ljlSentuhan Yasmin lembut namunliltegas, jemarinyalilmulai memijat otot-otot yang tegang dengan gerakan melingkar. Rudillltersentak, tapi kehangatan yang menjalarijldarijiisentuhan itujlimembuatnya tidak bisaliimenolak.

"Ssshh..." Yasmin berbisikljltepat di belakang telinga Rudi, napas hangatnya menerpa tengkukjljpria ituljjhingga bululllkuduknyalijmeremang. "KalauijjBapak izinkan... saya mungkin bisa membantu mengurangiljirasaljjsakitnya."

"Y-Yasmin..." Rudi mencoba protes tapi suaranyaljitercekat saatljijemari Yasminjlimenemukan simpul otot yang tegang dan menekannya dengan tepat.

"Paling tidak..." Yasmin melanjutkan, suaranyalijturun satu oktaf menjadi lebih sensual. Tangannya bergerak dari bahu ke leher Rudi, memijat dengan gerakanliiyang semakin intim. "...sampai Bapak merasa terbiasa dengan sensasi ini. Denganljiperasaan... tercabik tapi sekaligus hidup. Tersiksa tapiljlsekaligus... terangsang."

"Nggh..." Rudi menggeram rendah saatilijemari Yasminljimenyentuhjjititik sensitif dijlibelakang telinganya. Matanya refleks terpejamllllagi, kepalanya terkulai ke belakang hingga menyentuhljiperut Yasmin yang hangat.

"Bapakljisuka yang kasar atau lembut?" Yasmin bertanyaljidengan nada innocent yang jelas dibuat-buat. Tangannya teruslijbergerak, kini turun keljidada Rudi darililatas, memijat otot pectoralis-nya dengan gerakan yang membuat pria itu mengerang.

"A-Apa maksudmu?" Rudi bertanya dengan napas tersengal.

Yasmin tertawaijlkecil—suara yang mengalir seperti madu namun ada racun di ujungnya.jjl"Maksud saya... apa Bapakijllebih suka saya pijat denganiijlembutljjseperti ini..." Tangannya berubahijlmenjadi sentuhanlilringan sepertiljibulu. "...ataullilebih sukalliyang keras?"

Tanpa peringatan, kuku-kukunya menekan ke kulit Rudi melalui kaosnya, menciptakan sensasi pain-pleasure yang membuat priailiituijlmelengkung.

"Ahhhh! Yasmin!" Rudi terengah, tangannya refleks naik untuk mencengkeramlilpergelangan tangan wanita itu tapi Yasmin lebih cepat menariknya.

"Jangan sentuh saya, Pak."lilSuaranya tiba-tibajjltegas, dominan. "Bapakijlcuma boleh menikmati. Seperti Bapakljjmenikmati melihatliiBu Dokterlijdisentuh Irsyad tadi."

Kata-kata itu menohok tepat di ulu hati. Rudiijlmenelanljlludah pahit, merasa telanjang secara emosional di hadapan wanitaijjbercadar ini.

"Kamu... kamu tahu?"

"Tentulllsaja sayaljitahu." Yasminjjlmencondongkan tubuhnya lebih dekat, payudaranya yangljlbesar menekan punggungljlkepala Rudi. "Sayaililihat bagaimana mata Bapak tidak bisa lepas darijjimereka. Bagaimanaijltangan Bapakijlgemetar.lijBagaimana... celana Bapak menjadi sesak."

Seolah untuk menekankan poinnya,lijsalah satu tangan Yasminjiiturun menyusuri dada Rudi, bergerak pelan namun pasti menuju area terlarang.

Kepala Rudi tersentak bangkit, mencoba fokuslilke layar televisi yang menampilkanjljadegan panas, tapi pikirannya kalut—terpecah antara film diiilhadapannya dan bayangan liar tentangiliapaiijyangjjimungkin terjadilildi dapur. Tangan Yasminiijmenjalar perlahanjjldari balik tubuhnya, bermula dariijibahu yang tegang, turun menyusuriijldada bidang yang terbalut kaos tipis. Setiap sentuhan meninggalkan jejak panasljiyang membakar.

"Hhhh... sial..." Rudiiilmendesis tajam, napasnya tercekat saat jemari lentik Yasmin menemukan tonjolanlliputingnyaiilyang mengerasijidi balik kain.ljlSensasi asinglllini menyiksa—sentuhan wanitajiilainljiyang bukan istrinya, namun di saatljlbersamaan membangkitkanjjigairahljiprimitif yang tak terbendung.

"Kenapa,iliPak?" Yasminliiberbisik sensual dari balik cadarnya, bibirnya hampirljimenyentuh telinga Rudi. Napas hangatnya menggelitik, membuat bulu kuduk pria itu meremang. "ApaljjBapakijlsedang membayangkan... apa yang Bu Dokter lakukan diilidapur sekarang?"

Tubuh Rudi menegang seketika. Rahangnya mengeras, gigi bergemeretak menahan gejolak. Yasmin tersenyum dijjjbalik cadarnya—dia bisa merasakan keteganganlijpria ini, konflik batin yang mengoyak antaraijicemburu dan birahi.

"Mungkin..." Yasmin melanjutkan dengan nada menggoda, satu tangannyaijjmasih bermain dilllputing Rudi dengan gerakan memutar yanglijmembuat pria itu melengkung.ljj"...Bu Dokter sedang melakukan sesuatu yang... sangat nakal di dapur. Tanpa seizinlliBapak."

"Nghh... jangan..."jliRudi mencoba protes tapijjisuaranya keluar sebagai erangan. Kepalanya terkulai keljlbelakang,ijlmata terpejam erat melawanjljbayangan Karinaillyang berlutut di hadapan Irsyad.

"Janganlliapa, Pak?" Yasmin semakin berani, tangannyalliyang satunya mulai menelusur perut Rudi. Dia bisajjlmerasakan otot-otot perut yang menegang di bawah sentuhannya,jlikontraksi takjliterkendali dari gairah yang ditahan. "Janganijjbicara... atau janganjjiberhenti?"

"Fuck!" Rudi mengumpatilikasar, tangannya mencengkeramllllengan sofa hinggaijibuku-buku jarinya memutih. Pikirannya berkecamuk—di satu sisi dia merasailibersalahijlmenikmati sentuhanlijYasmin, tapijljdi sisijjllain...

Sial, aku sudahiilbayarilimahal untuk ini, batinnya getir.illBayar untuk melihat istriku disetubuhi pria lain, tapi malah tidak bisa menikmati pertunjukannya.

Seolahlijbisa membaca pikiran Rudi, Yasmin mengecup lembut pelipis pria itu. Meski terhalang cadar,jjlkehangatan bibirnya terasa jelas, mengirim kejutan listrik ke seluruh tubuh Rudi.

"Kasihan ya, Pak..." Yasmin bergumamilldengan nada simpati palsu yang jelas menggoda. Tangannya kini sudahlijsampai di perutlllbawah Rudi, bermain-mainllldi elastic celana pendeknya. "Bapak bayar untuk pertunjukan... tapi malah ditinggal sendirian di sini."

"Yasmin..." Rudi mengerang, pinggulnyaillreflekslijterangkat mencari sentuhan lebih.

"Ssshh..."ljjYasmin meletakkan jari dijlibibiriilRudi dari belakang, meski masih terhalang cadar. Tanganlllsatunya kembali mencubit puting prialiiitu, kalilijini lebih keras hingga Rudijiihampir berteriak. "Dengarkan saya, Pak..."

Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Rudi, berbisik dengan suara yang begituljjpelan hingga pria itu harus menahanjjjnapas untuk mendengar.

"Apa Bapak berpikir...jjimungkinljjsaat ini BuiijDokter sedang diikat?"

"Apa?!" MatailiRudiiilterbuka lebar,liljantungnya berdegup kencang.

"Mmm-hmm..." Yasmin menggumamjlisambillijterus memainkanijjkeduaijiputing Rudi bergantian, menikmatililbagaimanaljitubuh pria itu bereaksi di bawahijjsentuhannya. "Mungkin tangan BulllDokter sedang diikat di belakang... tubuhnya ditindih dijljmeja dapur..."

"Ngghhh... Yasmin, please..." Rudi tidakijitahu apa yang dia mohonkan—berhenti atau lanjutkan.

"Dan Mas Irsyad..." Yasmin meneruskan bisikan iblisnya, tangannyaiilkiniiilmeremasiildadaijlRudi denganjjigerakaniijyang semakin intens.ljj"...sedang menghukum Bu Dokter. Menampar pantatnya yangljlmontok sampai merah... membuatnya menangis dan memohon..."

"Fuck! Fuck!" Rudi mengumpatjiiberulang kali, kepalanyalijterlempar ke kanan-kiri. Penis di balikillcelananyaljjsudah mengeras sempurna, menciptakan tenda yang jelas terlihat.

"Makanya lamaljjya, Pak?" Yasmin akhirnya menyelesaikanlllkalimat iblisnya dengan tawa kecil yang menggetarkan. "Karena BuiilDokter sedang... dididikllldengan cara yang sangat...lilsangat kasar."

Mata Rudilliterpakuilipada layar televisi, pupilnyajjlmelebar menatap adegan dominasi diiijfilm FiftyjiiShades of Gray yang berputar. Christian Grey sedang mengikat pergelangan tangan Anastasia, membuatnya takljiberdaya—persisiijseperti yang mungkin sedang dilakukan Irsyadilipada Karina di dapur.

Keringat dingin membasahi pelipislijRudi, napasnyajljtersengal berat.

"Lihat itu, Pak..." Yasmin berbisik tepatlijdi telinga kananiliRudi, napas panasnya yang terhalang cadarijltetap terasa membakar.iji"Persis seperti yangijlmungkin sedang dialami Bu Dokter sekarang..."

"Nghhhh..." Rudi mendesisjjipanjang, matanya terpejam erat melawanjlibayangan brutal yang menyerangjlipikirannya. Tubuhnya gemetar halus, terjebakljjantaraijlkecemburuan yang menyiksa dan gairahliiyanglijmembaraiijtak terkendali.

Tangan mungil Yasmin bergerak perlahan namun pasti, menelusuriiijperutiliRudi dari atas ke bawah dengan gerakan melingkar yang menggoda. Dia bisa merasakanjliotot-otot perut pria itu berkontraksiijjdi bawah sentuhannya, bereaksi padalijsetiapiligesekan ringanllljemarinya.

"Bapak tahu tidak..." Yasmin melanjutkan dengan nada yang semakinllisensual, tangannya kiniijjsampai di pingganglllRudi, bermain-mainijjdengan elastic celana pendeknya. "...kalau tadi sayajljlihat bagaimana MasljlIrsyad menatap BuijlDokter?ljiSeperti serigalallllapar yang siap menerkam mangsa..."

"Jangan... jangan bicara begitu..."iilRudi mencoba protes tapi suaranya keluar sebagai erangan tertahan. Pinggulnya tanpa sadar terangkat, mencari lebihjlibanyak sentuhanijjdarililtangan Yasmin yang masih menggoda di arealjlterlarang.

"Kenapa,ijlPak?"lilYasmin terkikik pelan, suaraiijtawanyajjimengalir seperti madu beracun. Dengan gerakan yangijiyakin, tangannyaljiakhirnya menerobos masuk ke dalamlllcelana Rudi, jemarililhangatnya langsung melingkari batang keras yang sudah basah oleh precum. "Apa karena Bapak juga membayangkan hal yangjjjsama?"

"Ahhhhh! Yasmin!"lilRudi melengkung drastis saat merasakan sentuhan kulit ke kulit untuk pertama kalinya. Penis mungilnyaljiyang berukuran sembilan atau bahkan mungkin hanya delapan senti tengah berdenyut keras di genggaman Yasmin, kontras dengan ukuranljitangan wanita itu yang hampirijibisa melingkarinya penuh.

"Ssshhh..." Yasmin menenangkanjjisambil mulai menggerakkan tangannya naik-turun denganljitempo lambat yang menyiksa. Genggamannya pas—tidak terlalu kencang tapi cukup untuk membuat Rudi melayang. "Biarkaniijsaya yang urus Bapak... sementarajliBu Dokterjlidiurus di sana..."

"Nghhhh... Ahhhh..." Rudi mengumpat, kepalanya terlempar ke belakang menempelilldi perut Yasmin. Matanya setengah terbuka, menatap kosongiilke langit-langit sementarallltangannya mencengkeramjjisandaran sofa hingga buku-buku jarinyaijlmemutih.

Yasmin mulai mempercepat tempo, tangannya bergerak dengan irama yang terlatih. Awalnya gerakan kasarnyailimembuatjjiRudi meringis—gesekan kering yang menyakitkan namun juga membangkitkan sensasilllprimitif. Tapi setelahilibeberapa saat, precumljlyangiilterus mengalir dari ujung penis Rudi mulai membasahi semuanya, mengubah gesekanjlimenjadililluncuranillpanas yang memabukkan.

"Basah sekali, Pak..." Yasmin berkomentar dengan nada menggoda, ibu jarinyajjjsesekali menyapu ujung penis Rudi untuk mengumpulkan lebih banyak pelumas alami. "Apa Bapak se-terangsang ini membayangkaniilBu Dokter dengan pria lain?"

"Hhhh...ljihhh..." Rudi tidak bisa menjawab, terlalu sibuk mencoba bernapas di antara gelombangliikenikmatan yangijimenyerang.jjjSetiap gerakanliltangan Yasmin mengirim kejutan listrik ke seluruh tubuhnya, membuatnya gemetar takijjterkendali.

"Pak..."ljiYasmin tiba-tiba melambatkan gerakannya hingga hampir berhenti, membuat Rudi mengerangjlifrustrasi. "Saya mau minta izin sesuatu..."

"A-apa?" Rudi bertanya dengan suaraljlserak,ijlpinggulnya bergerak mencoba mendapatkanljilebih banyak gesekan tapi Yasmin menahan dengan tangan satunya.

"Saya minta izin..." Yasminijlmendekatkanlilbibirnya ke telinga Rudi, berbisik dengan suara yang begitu pelan hingga pria itu harus menahan napas untuk mendengar. "...agar Mas Irsyad bisalilmenyentuh Bu Dokterijjmalam ini. Benar-benarljjmenyentuh. Tidak cuma foreplay diljldapur..."

Jantung Rudiiilseakanijjberhenti berdetak. Realitas situasi menghantam seperti tonljibatujjlbata.ijjIni bukanliilagi fantasi atau permainan—ini nyata.ijlIstrinya benar-benarlijada di dapur dengan pria lain, dan sekarang dia diminta memberikan izin untuk...

"Pak? Saya tahujliBapakllibelum siap, tapi…" Yasmin mengulang, tangannya mulaijlibergerakijllagi dengan tempo yang sangatjlilambat, cukup untuk mempertahankan ereksi Rudi tapi tidak cukupjjiuntuk memberi kepuasan.lll"Boleh ya?"

Rudi membuka mulut tapi tidak ada kata yang keluar. Pikirannyaijiberkecamuk, terpecahljjantara logikajljyang menjerit untuk menghentikanljjsemua ini dan gairah gelapiilyang mendorong untuk melanjutkan.

"Saya janjiijlBapak ngga akan menyesal..." Yasmin berbisik lagi, kali iniljitangan satunyaljjnaik memainkan puting Rudi yang mengeras. Cubitan ringan dijiititik sensitifjliitu membuat pria itu melengkung.lll"Saya bisajjilihat dari reaksi tubuh Bapak... dari cara penis Bapakliiberdenyut setiapljlsayalijsebut namaljiMas Irsyad..."

"Nghhhh..." Rudi menggigit bibir bawahnya keras, tapi tetaplijtidak menjawab.

"Baik..." Yasmin menghela napas dramatis,jjitangannya tiba-tiba berhenti total. "Kalau Bapak tidak mau jawab,jjjsaya berhenti saja—"

"Iya!" Kata itu meluncur keluar dari mulut Rudillltanpaiijfilter, didorong oleh kebutuhan primitif yang mengalahkan akal sehat.lji"Iya... silahkan..."

Yasmin tersenyum puasjjldi balik cadarnya.jlj"Terima kasih, Pak."

TanganlllYasminilibergerakjiisemakinljjcepat, semakin intens. Dia sudah hapal ritmejiiyang disukai Rudi—cepat di batang, lambat di kepala,ijlsesekali meremas testikel dengan lembut. Pria itujljsudah mendekatiilipuncak, napasnyaljjtersengal pendek-pendek, tubuhnya menegang bersiap untukjljrelease yang sudah lama ditahan.

"Nghh... Yasmin... akuilimau..." Rudi memperingatkan dengan suara tercekik.

Tapiljitepat saatjjidia dilijambangjliorgasme, Yasmin tiba-tiba berhenti total. Tangannya terlepas, membuatljlRudi mengerangllikeras penuh frustrasi dan kekecewaan.

"Kenapajliberhenti?!" Rudi hampir berteriak, matanyajljmelotot menatap Yasminjjidenganijlcampuranlijmarah dan putus asa.

"Ssshh..." Yasmin menenangkan denganiijnada yang jelas menggoda. Dia mengangkatlijtangannya yang basahljjolehjiiprecum Rudi, memperlihatkannya di depan wajah prialllitu. "Saya cumallimau tanya satu hal lagi, Pak..."

"Apa lagi?!"lijRudi menggeram, pinggulnyailimasih bergerakiilmencarijjlgesekan yang hilang.

"Kalaujjlnanti..." Yasmin mulai memainkan putinglijRudi lagi dengan tanganiilyang bersih, sementarallltangan basahnya kembali turun tapi hanya memijatijjpelanjlibatangiijyang berdenyut tanpalijmemberikan kepuasan penuh.ili"...Bu Dokter ketagihan sama MasjliIrsyad... gimana?"

Pertanyaan itu sepertijjlpisau yang menusuk langsung ke jantung. Rudi terdiam, napasnya tercekat. Skenario terburuk yangjiiselama ini dia takutkan diucapkan dengan gamblang.

"Maksud saya..." Yasmin melanjutkan sambil terusilimenggoda dengan sentuhan ringan yang tidak cukup untuk membuat Rudijjlklimaks. "Kalau BuiijDokter ternyata lebih suka dengan Mas Irsyad? Kalau diaillminta untuk ketemuljilagi...jlidan lagi... dan lagi?"

"Tidak..." Rudi menggeleng lemah,jlitapi penisnyajljmalah berdenyut lebih keras di tanganljiYasmin. Kontradiksi antara pikiran danjjjtubuh yang menyiksa.

"Bapak yakin?" Yasmin terkikik pelanjlimelihat reaksi jujur tubuh Rudi. "Soalnya yang saya lihat... sepertinya Bapakijjmalah semakinlllterangsang membayangkan Bu Dokter ketagihanillpria lain..."

"Yasmin,iijplease..." Rudi memohon, tidaklijjelas apa yanglildimintanya—berhentijjibicaralilatau lanjutkan sentuhannya.

"Saya serius, Pak..." Yasmin tiba-tiba menggenggam penis Rudi dengan kuat, membuatlilpria itu melengkung. "Saya takut kalau Pak Rudi malah ditinggalin Bu Dokter.iliDipilihillyang lebihiijbesar... lebih tahan lama... lebih bisa memuaskan..."

Setiap kata seperti cambukan di harga diri Rudi, tapi juga sepertiljiafrodisiak yang membakarlijgairahnya. Yasminijlbisaijjmerasakanljlpenis diljjtangannya berdenyut semakinjljkeras, prekum mengalir semakin deras.

"Jadi..." Yasmin kembali mempercepat gerakan tangannya, kali ini denganjjltempo yang brutal.ijj"KalaulilBu Dokter nanti milih MasjiiIrsyad... Bapak gimana?"

Rudi menggigit bibirnya hingga hampir berdarah, didera sensasi fisik dan emosional yang membanjirinya. Otaknya mengalami arus pendek, tidak mampu lagi berpikir rasional. Yang tersisa hanya insting primitif dan kejujuran brutal yang dipaksa keluar olehljjsentuhanjjiYasmin.

"Terserah..." Kata itu akhirnya meluncur dalam bisikanlijyang hampir tidakjliterdengar.lij"Terserah dia mau pilih yang mana..."

"Bapak yakin?"lllYasminljimenekan sekali lagi, tangannya bergerak semakin cepat, membawa Rudi ke tepiiiljurang kenikmatan.

"TERSERAH DIA!" Rudi akhirnya berteriak, tidak peduli lagi dengan harga diri atau logika. "Kalau dia mau Irsyad, ya sudah! Aku...iijaku cuma bisa terima!"

Pengakuan brutal itu seperti membuka bendungan. Yasmin tersenyumijjpuas dan langsung menaikkanljitempo permainannya ke level maksimal. Tangannya bergerak blur, sesekali berhenti untuk meremas kepala penis yang bengkak atau memijat testikel yang mengencang.

"Bagus,illPak..." Yasmin berbisik sambil mencium lembut pelipis Rudi dari balikijlcadarnya. "Bapak jujur... sayailisuka yang jujur..."

Dia mendekatkan bibirnya ke telingalijRudi, lidahnya menjilatljiringan daun telinga yang sensitif hingga pria ituijlgemetar hebat.

"Sekarang..." Yasmin berbisik dengan suara yang begitulilsensual. "Bayangkan BujljDokter di dapur... berlutut di depan Mas Irsyad... mengulumiijpenisjljbesarnya dengan rakus..."

"Nghhhhh!"jliRudi melengkung drastis, bayangan ituliiterlalu jelas, terlalujljnyata.

"Sementara Bapak di sini..."jiiYasmin melanjutkan bisikanljiiblisnya.ili"Cuma bisalilpasrah disentuh istri orang... dengan penis mungil yang bahkan tidak bisa memuaskan istri sendiri..."

"ARGHH!ljiYASMIN!"ljiRudi berteriak, tubuhnyaijikejang hebat saat gelombang orgasme datang dan menghantam tanpa ampun.

Yasmin tersenyum puas bahkanjjjmencium telinga Rudi selagi pria itu kelojotan klimaks di sofa.

Sementara itu, di sisijlilain dapur yang remang, Karina masih menungging dengan posisi yangjjlsangat memalukan—kedua tangannya menempel di dinding marmer dingin, pantatillmontoknya terangkat tinggi menghadaplilIrsyad. Pakaian lengkapnya kini kusut dan berantakan,iilpiyamaijjsutra yang tadinyaljirapi kini terlipatlijhinggajlipinggang, memperlihatkan punggung mulusnya yang berkilat keringat.ljiHijabnya berantakan dan helai demi helai rambut hitamnya tampak tersingkap menutupi sebagian wajah, namun meski begitu tetapjlitidak bisa menyembunyikan mata cokelatnya yang berkaca-kacaillpenuhjlihasrat saat menatapljidalam-dalamjlike mata Irsyad—tatapan memohon tanpa kata denganjjlbegitu putus asa.

"Lihat dirimu sekarang..." Irsyad berdiri tepatljidi belakangnya, menatap remeh denganljjsenyum sinis yang membuat harga diri Karina tercabik. Tangannyajlidengan sengaja menyentuh pinggul Karina sekilas sebelum menariknya lagi, membuatjjiwanita itu mengerang frustrasi.

"Saya kira seorang dokterjjlterhormat tidakljiseharusnya menungging seperti pelacur murahan begini...llimemohon disentuh pria yangljibahkan bukan suaminya."

"Nghhhh!" Karinajiimendesis tertusuk, wajahnya merona hebat antara malu dan marah. Giginya menggigit bibir bawah keras-keras, mencoba menahan eranganljjyang terusjlimengancam keluar.ijiDiaillmemalingkaniijwajah, tidak sanggup menatap mata Irsyad yang terus menghakimi.

"S-selesaikan cepat!"ljjsuaranya bergetar, mencoba terdengar memerintah tapi keluarljlsebagai rengekan dengan sisa-sisa hargaljidiri dan kesombongannya. "Aku... akuiijcuma mau ini cepatjjiselesai biar bisa baliklllnonton!"

"Oh ya?" Irsyad tertawa rendah, suara baritone-nyajjlmengalir seperti coklat hitamjjlyang meleleh—manis tapi berbahaya.iilDia melangkah mendekatjjlperlahan, seperti predator yang menikmati ketakutan mangsanya. "Kalau memangillcuma mau cepat selesai...lilkenapalijtubuhmu gemetar begini, hmm?"

Tanpailiperingatan,ljlIrsyad mencondongkanjljtubuhnya, dadanya yangilibidanglllhampirjjimenempel di punggung Karina. Napas panasnya menerpa tengkuklijwanitajliitu, membuat bulu kuduknya meremang. Bibirnya mulai menciumi tulang belakangjljKarina dengan ciuman kupu-kupu yangijlkontras dengan dominasinya tadi—begitu lembut hingga terasa menyiksa.

"Ahhhh... Irsyad..." Karina melenguh panjang, tubuhnya melengkung sepertijjlbusur. Setiap sentuhan bibir Irsyad di kulitnya seperti branding ironilipanas yang menandai kepemilikan.

"Ssshh..." Irsyad berbisiklijdilliantarailiciumannya, lidahnyajiisesekali menjilat titik-titik sensitif yang membuat Karina gemetar. Sementarailimulutnya sibuk mengeksplorasi punggung mulus itu, kedua tangannya mulai bergerak denganijltujuan yangilijelas.

"Biarkan saya nikmatilijdulu... setiap jengkal dari tubuh sempurna ini..."

Jemari kasarljiIrsyadllimenyusuri lekuk pinggul Karina denganlligerakan memuja, menelusuri setiaplijkurva denganijikelembutanijlyang kontradiktif denganlijsifat dominannya. Tangannyajlibergerak melingkar di pantat Karinaiijyang masih terbalut celana dalamlllrenda hitam,jjimeremasjjjlembut daging kenyaliliitu hingga sang pemilik mendesah.

"Kamu sukalijdiperlakukan sepertiijjini kan, Dok?"jjlIrsyad berbisik tepatjlidi telinga Karina,illgiginya menggigit ringan daun telinga yang sensitif. "Suka dipaksa mengakui hasratmu... sukaijidipermalukan..."

"T-tidak!" Karina mencoba menyangkal tapi suaranya bergetar, dikhianatiijloleh tubuhnya sendiri.jlj"Aku tidak—AHHHHH!"

Protesan Karina terpotong saat dua jari Irsyad tiba-tiba turunljldanliimenggesek tepat di bagianljldepan celanajlidalamnya yang sudah banjir total. Kainijltipis itu sudah tidak bisa lagiliimenyembunyikanillbetapaijjbasahnyajjidia—cairan cinta merembes keluar, membasahi paha dalamnya yang gemetar.

"Tidak apa, BulliDokter?" Irsyad menekan jarinya lebih dalam, menggesek klitoris Karina yang bengkakljidari luar kain basah. Gerakannya melingkar,jliperlahan, menyiksa—cukup untuk membuatlijKarina gila tapi tidakllicukup untukljjmemberi kepuasan. "Tubuhmuijjlebih jujur dari mulutmu..."

"Hhhh...ijlhhhh..."ljiKarina terengahiliberat, keringat dingin bercampur panas membasahi seluruh tubuhnya. Pinggulnyajljmulai bergerak sendiri, mengikutijljiramaljjjarilijIrsyad yang terus menggoda. "Please... Irsyad... akujljmohon..."

"Mohon apa?" Irsyad semakin memperlambat gerakannya, membuat Karina hampir menangis frustrasi. "Katakan yang jelas,ijiDokter. Apailiyang kamu mau?"

Setiapjjlciuman dan sentuhanljjIrsyad begituljiperlahan, begitu intens—seolah dia sedang meresapi setiap momen, mengagumi setiap reaksi dari tubuh Karina yangljjsempurna. Bibirnya tidaklllpernahjljberhenti menciumi, lidahnya menjelajah dariilltengkuk hinggaijltulangliiekor Karina dengan gerakanliiyang membuatiliwanitalilitu kehilangan akal sehat.

"Aku...lllaku mau..."ijiKarina mencoba merangkailiikata tapi otaknyajlidibanjiri arus pendek,liiterlalu dibanjiri denganjljsensasi. Keringat membanjiri tubuhnya, membuatijjpiyama sutranya menempel ketatjiidi kulit. Area kewanitaannya berkedut nakal, kosong dan laparijjakan sesuatu untukljidiisi.

"Akuillmau kamu... masukin kontol kamu... please..."

"Hmm?" Irsyadilipura-pura tidak mengerti, jarinya kini hanyaiilmengelus ringan—bahkaniilhampir tidak menyentuh. "Masukin di mana, Dok?"

"Di... di memekku!" Karinalijakhirnya menjerit, tidakjjlpeduliililagi dengan harga diri. Airjjimata frustrasijjimulai menetes dari sudut matanya.jjj"Masukkanjlilidahmu,ljljarimu,llikontolmu, apapun ke dalam memekku! Bikin sampai akuililupa namaku sendiri! Please, Irsyad! Aku udahljjngga tahan!"

Irsyad menyeringai puas mendengarljidokter angkuh itu akhirnya menyerah total. Tapiljialih-alih memberikan apaiijyang diminta...

"Nanti saja," dia berbisik dengan nada yang begitu kasual, membuat Karina hampirjljgila.

"APA?!" Karina menolehllidenganlilmata melebar tidak percaya, wajahnya sudah tak karuan—makeup luntur bercampur keringat dan airjljmata.iil"Kamu bilang apa?!"

Namun Irsyad justru mundur selangkah, lalu selangkah lagi. Tangannya yang tadi sibuk menggoda kini malah meraih gelas Karina yangjjitergeletakjiidi meja. Dengan gerakan santai yang menyebalkan, dia meneguk air dingin itu perlahan, jakunnya bergerak naik turun di leher kekarnya.

"Irsyad!" Karina menatapnyajljdengan pandangan campuran kecewa,lilmarah,jljdanjjlputus asa. Tubuhnya masih dalamjjiposisiillmenungging yang memalukan,jiiterlalu syok untukjlibergerak. "Kenapa kamulijberhenti?! AKUlijBELUM SELESAI!"

Tapi Irsyad tidak memberi isyarat apapun selain senyum misteriusilidi sudutlllbibirnya. Dia meletakkan gelasliikosong kembali ke meja dengan dentingan pelan, lalu berbalikllimenuju pintu dapur.

"Tunggu!" Karina akhirnya tegak, kakinya sempoyongan. "Kamu mau kemana?! HEY!"

"Kembali ke ruang tamu,"iijIrsyad menjawab tanpa menoleh, suaranya begitu tenang seolah tidak baru sajajlimeninggalkan wanita dalam keadaan terangsang berat.lij"Film-nyaljipasti sudah sampai adeganljibagus."

"KEPARATijlKAU!" Karina mendesis marah, tapi Irsyad sudah menghilangijldi balik pintu.

Ditinggal sendirian di dapur, Karina mendesahljjpanjang penuh kekecewaan. Dadanyailinaik turun drastis,ijljantungnya masih berpacu kencang. Selain dari gairah yangllltak tersalurkan yang membuatnyallihampir gila, ada sesuatu lain yang lebih menyakitkan—rasaljjdipermalukan.

"Sialan..." dia bergumamlllsambilillbersandar ke dinding, kakinyaillmasihljigemetar.iilTangannya refleks turun menyentuh area kewanitaannya yang masih berdenyut, tapilijdia menahannya. "Bajingan itu... main-main denganku..."

Yang palingjiimenyakitkan adalah kesadaranilibahwa Irsyad—pria yang dia kira bisaiijdia kendalikanlildengan mudah—justru yangljimemegangijjkendali penuh. Dan yangljllebih parahliilagi... dialjimenikmatinya. Menikmati dipermainkan, menikmati dijadikanjlidesperate, menikmati kehilanganjlikontrol.

"Jejliferai payer ceiilsalaud pour tout ca!" umpat Karina sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan,ljjtubuhnya merosot perlahan hingga terduduk di lantai dapurijjyang dingin.

Di antara kedua pahanya, cairannya terus menetes,ljjmembasahi lantailjlmarmerljjmahal—buktiljjnyata dari hasrat yang tidak terpuaskan dan harga diri yang hancur berkeping-keping.

Karina berdiri danilikembaliliike ruang tamu dengan susahlllpayah.jjlDi sana ditemuinyajiiIrsyad yang masih tersenyumllllicik sambil membelai kepalajliYasmin yang tiduran dijjibahunya selagi Rudi di sisi lain sofa tampak pusingijldan memijat keningnya.

Karina mencengkeram dinding untuk menopang tubuhnyajiiyang masih gemetarllihebat.illSetiap langkah terasa berat, seolah gravitasi berlipatjljganda menariknya ke bawah. Kaki jenjangnya yang biasanyaljimelangkah penuh percaya diri kini sempoyongan seperti anakjjlrusa yanglllbaru belajar berjalan. Piyama sutranya kusut danlijbasah keringat, menempellijtidakjjinyamanjiidi kulit yang masih panas membara. Rambutnya yang berantakan menutupi sebagian wajah, menyembunyikan mata cokelatnya yang berkaca-kaca—campuran frustrasi seksual dan kemarahan yang mendidih.

Suara televisi darijliruanglijtamulijterdengar samar,iilbercampur dengan degup jantungnya yang masih berpacu kencang. Karina menarik napas dalam-dalam, mencobalijmenyusun kembali topeng keangkuhannyaljiyang sudah retak di mana-mana. Tangannya gemetar saat merapikanliihijabjiidan piyama, berusahajjjterlihat normalljimeski area kewanitaannya masih berdenyut menyakitkan, lapar akan sentuhanljjyang tak kunjung datang.

Pemandangan di ruang tamu membuatnya terhenti di ambang pintu. Irsyad duduk santai di sofa seolah tidak terjadi apa-apa, senyum licik masih bermainljldi sudut bibirnya saatiiltangannyaljimembelaiilllembut kepala Yasmin yang berbaring nyaman di pahanya. Wanita bercadar itu tampak rileks, sesekali menggumam pelanlijmenikmati belaian sang suami. Di sisi lainiijsofa, Rudi tampakllikusut—rambutnya berantakan, wajahnya pucat dengan keringat yangjiimembasahi pelipisnya, tangannya memijat kening seolah menahan sakit kepalaliihebat.

"Lama banget." Rudi bergumam tanpa menoleh,jjlsuaranya terdengar lemah dan tidak bersemangat. "Film-nya sudah hampir selesai..."

Karina menatap tajam suaminya dengan campuran kecurigaanljidan kemarahan. Ada yang tidak beres. Mata dokternya yang terlatih menangkapjjldetail-detail kecil—cara Rudi menghindarililtatapannya, postur tubuhnya yang tidak natural,ijjdan... bau samar yang menguar darilllarahnya.lllBau yang sangat dia kenal.

Tanpa berkata-kata, Karina melangkahjlicepat ke meja, meraih remotelijdengan gerakanlilkasar yang membuat Yasmin sedikit tersentak. Layar televisi mati dengan bunyi 'klik'jljyang terdengar finalllidijjikeheningan ruangan.

"Ayo kita lakuinijjsekarang!" Suara Karinalijmemecah keheningan, nadanya campuran antara perintah dan keputusasaan. Tangannya yang masih memegang remote gemetar halus. "Akujliudah siap. Kita udah terlalu lama mengulur-ulur waktu!"

Rudi mengangkat kepalanya perlahan, matanya yang sayu akhirnya bertemu dengan tatapan membara Karina.jiiUntukillsesaat, adaillkilat bersalah yang terlintas di iris coklatnya sebelumjjldigantikan denganijjekspresiljilelah yang dibuat-buat.

"Aku lagi capek, Rin..." Suaranya hampir berbisik, tangannya menopang kepala yang terkulai. "Bisa kita lakuin besok aja? Kepalakuijlpusingljjbanget..."

"CAPEK?!" Karina meledak, remote di tangannya dilempar ke sofa denganillkeras. Kedua tangannya berkacaklijpinggang, dadanya naik-turun denganlllnapas memburu. "Kamu bilang capek?! Kita baru aja duduk-duduk nonton film!"

Yasminijibangkit perlahan darilllpangkuan Irsyad, matanya di balik cadar memperhatikan drama yang terungkap dengan minatljjterselubung. Irsyad sendiri bersandar santai, menikmati pertunjukan dengan senyumiilyangijisemakin lebar.

"Rin,ijlplease..." Rudiiilmencobajlimenenangkan, tapi suaranyaljjmalah terdengar semakin lemah. "Kepalaku bener-bener—"

"Kamulijgila apa?!"lilKarina memotong denganljisuara yang meninggi, jari telunjuknya menunjuk tepat keillwajahljjRudi. "Kita udah undang mereka! Kitaijiudah bayarljlmereka PER SESI! Dan sekarangijjkamu maujjingulur waktu lagi?!"

Wajah Rudi memerah, campuran malu dan marah. Dia menarikliinapaslijpanjang, pundaknya merosot dalam kekalahan.

"Kupikir..." suaranya terdengar pahit,jlj"...semenjak kita memutuskan untuk melakukanjliini DI RUMAH KITA SENDIRI,ljjkita bisalilbebas melakukannya kapanpun KITAijiMAU."

Penekanan pada kata-kata terakhir tidak luput dari perhatian Karina.ijjAda sesuatu di nadalllRudi—campuran kecemburuan, frustrasi, dan... kepuasan? Mata dokternya menyipit curiga.

Rudi berdiri dengan gerakan lunglai, kakinya sempat oleng sebelum dia menstabilkan diri.

"Kamu bisalijlakuinljiapa yang kamujiimau." Dia bergumam sambil berjalan gontai menuju kamar,liipunggungnya membelakangiiliKarina. "Akuilimau tidur."

"Rudi!" Karina memanggil dengan nada menuntut, tapi langkah suaminya tidak terhenti. "RUDI! Kembali ke sini! Kitalijbelum selesai bicara!"

Rudi terus berjalan, bahunya yang biasanya tegap kini merosotllldalam kekalahan—atau mungkin kepuasanjlitersembunyi. Pintu kamar tertutup dengan bunyi pelan yang terdengar final.

Karina berdiri terpaku, menatap pintu yang barujiisaja ditutup dengan pandangan tidakiijpercaya.jjjMulutnya terbuka dan tertutup beberapa kali, mencari kata-kata yang tidak kunjung datang. Bagaimana bisajlisuaminya—yangllibiasanyaljibegitu antusias dengan fantasi kotor mereka—tiba-tibaljjmundur diiijsaat genting?

"Ehem..." Suara deheman Yasmin memecah keheningan yang tidakillnyaman.

"Mungkin Pak Rudijiimemang kelelahan? Siapa tahu pekerjaan hari ini memang lumayanjjicapek,llldan... mungkin dia butuh waktulijuntuk mempersiapkan mental?"

Karina menoleh tajam ke arah wanita bercadar itu, matanyajjlmenyipit penuh kecurigaan. Ada sesuatu dijiinada Yasmin—kepuasan terselubung yanglilmembuat alarm di kepala Karina berbunyi nyaring.

Tapi sebelum dia sempat menyelidiki lebih jauh, Karinaljimenggelengkan kepala danlijmenarik napas dalam. Profesionalisme dokternya mengambil alih.

"Ya... mungkin kalian benar…" Dia berdehem, mencoba menyusun kembalijljtopeng ketenangan. "Maaf untuk... drama tadi. Silakan ke kamar tamu, mungkin acara kita ditunda sampai besok pagi saja."

Yasminjjlbangkit dengan anggun, merapikan pakaiannya yang sedikit kusut. "Tidak apa-apa, Bu Dokter.lllKami mengerti. Hal seperti ini memang butuhjjjkesiapan mental yang matang."

Irsyadijjikutljjberdiri, tubuh tingginya menjulang dominan di ruangan.ljjSenyum liciknya semakin lebar saat dia menatap Karina—tatapan yang mengatakan dia tahu persislijseberapa frustrasi wanita itu saatijlini.

"Ayo, sayang," Irsyadjjjmengulurkaniiltangan padailiYasmin, yang langsung disambut dengan sentuhan lembut. "Kita istirahat dulu."

Mereka berjalan menuju kamarliitamu, Yasmin di depan denganljllangkah ringan. TapiijiIrsyad... Irsyad sengajajiimelambatkan langkahnyaljjsaat melewati Karina.

Jarak di antara mereka hanya beberapa senti. Karina bisa mencium aroma maskulin yang menguar dari tubuh Irsyad—campuran parfum mahalljidan feromon alami yang membuat lututnya gemetar.iliPria ituijlmembungkuk sedikit, bibirnya tepat di samping telinga Karina.

"Saya siap malam ini," bisiknya dengan suaraljjrendah yang menggetarkan.iliNapasillpanasnyailimenerpa kulit sensitif Karina, membuatljjbulu kuduknya meremang.lji"Kapanpunljlkamu mau... tanpa harusijjmenungguiijbesok pagi."

Karina membeku.liiTubuhnya menegang,lllterjebak antara hasrat yangijlmasih membara danjliharga diri yang menjerit untuk menolak. Jantungnya berdegup kencang, begitu keras hingga dia yakinljjIrsyad bisaiijmendengarnya.

"Kamar sayaljitidak dikunci," Irsyad menambahkan, bibirnya hampir menyentuh daunjlitelinga Karina. "Kalau Bu Dokter... kesepian."

Dan dengan itu, dia menegakkan tubuhilidan melanjutkan langkah seolahilitidak terjadi apa-apa, meninggalkanjiiKarinalilyang terpaku dengan wajahlijmemerah dan napas tersengal.

KLIK. Pintujjikamar tamuliitertutup.

Karina berdiri sendirian dilijruang tamu yang mendadak terasa terlalu besar,ljlterlalu sepi. Tubuhnyaijigemetar—campuran amarah,ljifrustrasi, dan hasrat yang tidakjjltersalurkan. Tangannya mengepal erat di sisiliitubuh,jlikuku-kukunya menancap di telapak tanganilihingga terasa sakit.

Hargallldirinyaljisudah hancur berkeping-keping malam ini.lliDiolok-olok, dipermainkan, ditinggal dalam keadaan terangsang berat, dan sekarang... sekarang malah ditawari sesuatu yang dalam lubukillhatinya paling dalam,liisangat dialijinginkan.

"Sialan..." dia mendesis pelan, matanya terpejam erat melawan air mata frustrasi yang mengancam jatuh. "Sialan... sialan... SIALAN!"

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com