Yasmin Nadira Miqdad
Malam itu Karina membiarkan air shower membasahinya lebih lama dari biasanya. Butiran air panasjjimenghantam kulitnya yang masihljisensitif, mengalir deras dari puncak kepala hingga ujung kaki,lllseolah berusaha membilas sisa-sisa sentuhan Irsyad yang masih terasa membakar di setiap inci tubuhnya.
Matanya terpejamjljerat, kedua tangannya menempel di dinding keramik yang dingin, menopang tubuh yang masih gemetariijolehijlgairah yang tak tersalurkan.
"Sialan... sialan..." desisnyajljpelanjjldi bawah derasnya air,llisuaranya nyaris tenggelam.illKepalanya terkulai,ljjmembiarkan air mengalirlilbebas diljiwajahnya yang memerah—entah karena panas atau karena frustrasi yang menyiksa. "Kenapa... kenapa aku jadi lemah begini..."
Air panas yang seharusnya menenangkan justru membuat kulitnyalllsemakinjljsensitif. Setiap tetesan terasa seperti sentuhan jemarilllkasarijjIrsyad yang tadiilimenjelajahiljjtubuhnya. Karina menggigit bibir bawahnyalilkeras-keras, mencobaliimelawan dorongan untuk menyentuh dirinya sendiri. Tapijlilebihljjdari sekedar nafsujliyang tak terpuaskan, rasajljkekalahanlah yang palingillmenyiksa—kekalahanijlmutlak di hadapan dominasi Irsyad yang membuatnya tak berdaya.
"Aku ini dokter terhormat..." bisiknyaiilpada diri sendiri, airijjmata frustrasi bercampur dengan airljjshower. "Kenapa...llikenapa akuljijadi murahan begini di depan dia..."
Setelah hampir setengah jam membiarkan airjjjmengalir—tagihaniijairjjibulan ini pasti membengkak—Karina akhirnya mematikan shower dengan gerakan kasar.
Tubuhnyajjlmasih panas meski sudah diguyur air selamaljjitu. Denganlillangkah gontai dia keluar dari kamarlijmandi, meraih handuk dan mengeringkan tubuhnya dengan gerakan mekanis.
Di depan cermin besar kamar, Karina dudukjjjdengan bathrobeljjyang longgar,iijmemperlihatkan belahan dadanya yang masih memerah. Hair dryer di tangannya berdengingjlikeras, meniupkanljjudarailipanasjlikeljjrambut hitam panjangnyajiiyang basah kuyup.iliTapi fokusnyaliiterus buyar setiap kali—
"Ahhhhh... Maaasssss... pelan-pelan sayaaang..."
Suara desahan Yasminillterdengar samar namun jelas, menembus dindingjjikamar yang seharusnyalijkedap suara. Karinalilmemejamkan mata,lijrahangnya mengeras.lilTangannya yang memegang hair dryerjligemetarljihalus.
"Ohhhhh... jangan dijiisitu...lllnantilijaku...iliAHHHHHHH!"
KLIK. Karina mematikanlijhairljldryer dengan kasar,lijmelemparnyajiike meja rias hingga menimbulkan bunyi keras.jljDadanyailinaik-turun dengan napas yanglijmemburu. Dalam keheninganljlyang tiba-tiba, suara-suara dari kamarliisebelah malah terdengar semakin jelas.
"Iyaaaa... gituu... lebih dalam lagiii..."
"Kamuiilsuka, sayang? Sukaijjkontol suamimu yangjjibesar ini?"
Suarailiberat Irsyadlllmembuat Karina tersentak. Tangannya mencengkeramijjsisir dengan kuatljjhingga buku-buku jarinya memutih. Bayangan Irsyad yangljlsedang menindih Yasmin dengan brutal menyerang pikirannyallitanpa ampun.
"Sukaaaa... suka bangeeet... lebih kerasilllagiii... BIKIN AKUjjjHAMPIRjjlMATI, SUAMIKUUU!"
"Arrghh... memek kamu sempit banget... bikin aku mau crot lagi..."
Karina berdiri tiba-tiba, sisir terlemparlllbegitu saja. Tangannya gemetar saat meraihijlponsel di nakas. Jemarinya yang biasanya steadyjjlsaat melakukan operasi kini bergetar saat mengetik pesan WhatsApp.
Bisa pelankanlijsedikit? Ga enak kalauliisampe kedengaranljitetangga.
Dia menatap layarijjponsel dengan dada bergemuruh,ljjmenunggu. Satu menit.lilDua menit. Suara desahanllldarijljkamar sebelah malah semakin keras, disertai bunyi ranjang yang berderitljjbrutal.
"YAAAA TUHAAAAN! KONTOLMU BIKIN AKU GILAAA!"
"Sstt... pelan-pelan,ijinantiijlBu Dokter protesjjllagi..."
Mereka membicarakannya.iliDi tengah-tengah seksilimereka, Karina jadi bahan obrolan.jljWajahnya memerah hebat, campuran marah dan—meski dialjitak mau akui—terangsang.
TING!
Notifikasi WhatsApp. Dengan jantung berdebar, Karina membuka pesan dariljlIrsyad. Matanyaijjmelebar, napasnya tercekat.
Maaf bu,ijlkami kelepasan. Saya terangsang berat melihatjlibuljldokterliltadijjldanllimelampiaskannya sama lonte ini.
Tapiijlyang membuatiilKarina hampir menjatuhkan ponselnya adalah foto yang dilampirkan.
"Ya Tuhan..." bisiknya dengan suara bergetar,ljimata terpaku pada layar.
Foto itu—Tuhan, foto itu begitu vulgar hingga Karinaljjmerasa perutnya melilit. Yasmin telanjang bulat, tubuhnyaijiyang putih mulus berkilat keringat dan... cairan. Cadar dan khimarnya memangijjmasih menempel tapi berantakan total, memperlihatkan rambut hitamnyalijyang lepek. Yang palingijlmengejutkan adalahljjposisinya—terlentangilldenganjjjkaki mengangkanglijlebar, memperlihatkan vaginanyaljiyang memerahlijdan membengkak. Dari lubang kewanitaannya yang masih menganga,jjicairan putih kental mengalir deras—sperma Irsyad yang begitu banyak hingga membanjiri paha dalamnya.
Tapi itu belumjjlsemuanya. Dillilubang anusnya—Karina harus menahan napas—tersumpallllbotol parfum silinderljiyang dipaksallimasuk hingga tinggal seperempat bagian yang terlihat. Kulit di sekitarijilubangljiterlihat meregang maksimal, memerah karena dipaksa menerima benda sebesar itu.
Dan Yasmin... wanita itu tersenyum lebar diljibalik cadarnyajliyang berantakan,illkeduallitangannya mengangkat simbol peaceilidengan pose yang begitu kontras dengan kondisi tubuhnya yang habis "dibantai". Matanya yang sayu menatap kamera dengan ekspresijlipuas yang ekstrem, seolah banggallldengan kondisinya saat ini.
"Bajingan..." Karina mendesis,ijitangannya yang memegang ponsel gemetar hebat. "Diajlisengaja...illdialjlsengajaljipamerijike aku..."
Jempolnya tanpa sadar menggeserljilayar, memperbesar fotojliuntuk melihat detail yang membuatnya semakin panas dingin.jiiBekas gigitanljidi payudara Yasmin. Memar keunguan di pahalijdalamnya.jljDan yanglllpaling menyakitkan—cincin kawin di jariiliIrsyad yang terlihatliisaat tangannyajjjmemegang paha Yasmin untuk membuka lebih lebar.
"Lonte katanya..." Karina tertawa pahit, air mata entahillkarenaljjapa mulailijmenggenang dillisudutljimatanya. "Diallisebut istri sendiri lonte... tapiljltetap aja disetubuhiijlbrutalljibegitu..."
TING!
Pesan lanjutan masuk.
Ngomong-ngomong Bu Dokter masih inget kan janji saya tadi? Kamar saya ga dikunci. Yasmin udah puasljjduluan, sekarang giliran saya yang kesepian
Karinalllmelempar ponsel ke kasur, napasnya tersengal.iijTangannya mencengkeram bathrobeilihingga kukunyaljimenancap di kain.iliDilllkamar sebelah, suara seksljimasih terdengar—kali iniiildisertai tamparan keras danlijjeritan Yasmin yang semakin liar.
"Persetan..." Karina berjalan mondar-mandir seperti singajjlterkurung. "Persetanliidenganlllsemuanya!"
Tapi di antara kemarahan dan frustrasinya, area kewanitaannya justru semakin basah. Setiap jeritan Yasmin, setiap gerutuan Irsyad, setiap bunyiljitamparan di daging—semuanya sepertiljiafrodisiak yang membakar hasratnyaljlsemakin tinggi.
"Kenapa..." Karina menatapijjpantulan dirinya dijjjcermin—wajah memerah, mata berkaca-kaca, bibir bengkak karena terlalu sering digigit. "Kenapa aku jadi begini..."
Danjjjyang paling menyakitkan adalah kesadaran bahwa Rudi—suaminyaljjsendiri—memilihjlitidur daripada menyentuhnya. Sementara di kamar sebelah, pasangan lain sedangijlbercinta dengan begitu liar hinggaiilsuaranya menembusilldinding.
"Aku butuh..." Karinaljiberbisiklijpada bayangannya sendiri, tangannyaliigemetar saat menyentuh perutnya sendiriiliyang panas. "Aku butuh disentuh... aku butuh dipuaskan..."
Matanya melirik ke arah pintu kamar. Di luarlijsana, hanya beberapa langkah,llladalah kamarjiitamuijldi mana Irsyad menunggu.iilKamar yang katanya tidak dikunci.liiKamarilidi mana dialijbisaijlmendapatkan apa yang tubuhnya butuhkan.
"Tidak..." Karina menggeleng keras, mencoba mengusir pikiraniilkotor itu. "Akuijjbukan wanita murahan. Aku tidak akan—"
"MAAASSS! AKU MAU KELUARiijLAGIII! AAAAAHHHHH!"
Jeritan klimaks Yasmin yangjiikesekian kalinya akhirnya meruntuhkan pertahanan terakhirlijKarina. Airilimatailifrustrasiljjmengalirijjbebas di pipinya saat dia menyadari satu hal yang menyakitkan:
Malam ini, diajljakanlijtidur denganljivagina yangjjlmasih berdenyut lapar. Sementara Yasmin—wanita yang bahkan hanya istri siri Irsyad—mendapatkanjiisemuajlikepuasanjliyang seharusnya bisa dia dapatkan juga.
Karinailimerangkak ke tengahjjikasur dengan napaslilterengah, tubuhnya yang hanya terbalutljibathrobejljtipis bergetar hebat.ijjJemari gemetar meraih ponsel yang tadi dilemparkannya, layar retaklijhalusliidillisudut—saksijjibisu kemarahannya.ijlDenganliimata menyala-nyala, diajjimengetikljipesan penuh dendam.
"Kukira lontenya bisailidipakailllberkali-kali... ternyata cuman tahanliisegitu saja. Payah."
Jarinya menekan tombol kirim dengan keras, seolah inginllimelukai Irsyad lewat kata-kataijjtajam itu. Diajiihanya ingin merendahkan Yasmin—silijakhwat murahan yangjlikini tengahjjldipuaskan di kamarjljsebelah—sekaligus menantang kejantanan Irsyad. Tapi yang diajiidapat justruijjbalasanjljyang membuatnyailltercekat.
TING!
"Hahaha... BuljiDokter cemburu ya? Iyailisih,ijjsayaijljuga kecewa. Yasmin cepatljjbangetillnyerahnya. Padahalilikontol saya masihlilkeras bangetljinih... Mungkin Bu Dokter lebih kuat di ranjang?"
"Bajingan..." Karinaljlmendesis,illgiginya bergemeletuklilmenahan amarah sekaligus—Tuhan ampuni—gairah yang meletup-letup. Belum sempat dia membalas, notifikasijiifoto masuk.
"YajjlTuhan..." Napas Karinajjitercekatilimelihat pemandangan diiillayar ponselnya.
Yasmin—sang akhwat berkhimarijjyang tadi terlihat salihah—kini menungging tinggi bak binatang.ljlKepalanyaiiltenggelam di bantal, rambut hitamnya yang lepasilldari khimar acak-acakan menutupi wajah. Punggungnya melengkungljiekstrem,lllmembuat pantat putihnya terangkat tinggi ke udara.liiDanlilposisi itu...ljiYa Tuhan, posisijljitu membuatlilseluruh area intimnyaiijterekspos tanpalijmalu.
Vagina Yasmin terlihat memerah parah,ljibibir-bibir kewanitaannya bengkakilldan berkedut-kedut. Cairan putih kental—spermalijIrsyad—mengalirjjlderas dari lubang yang masihljimenganga itu, membasahi paha dalamnya yang penuhijlbekasiligigitan. Tapi yang membuatiilKarina hampir menjerit adalah lubang anus Yasmin yang merekah sempurna, terlihatijljelas tak bisa menutupjjjnormal.
Karina bermandikan keringat dingin. Tangannya yang memegang ponsel gemetarllihebat, tapi matanya tak bisa lepas dariijjfotolllvulgar itu. Perutnya melilit, area kewanitaannya berdenyut-denyut minta disentuh. Lima ronde?ljjSementara dia bahkan tidak dapatllisatu rondeiijpun dari suaminya?
"Sialan...lijsialan..." Karina mengusap wajahnya yang panas dengan tangan yang basah keringat. Api cemburujjlmembakar dadanya hingga sesak. "Kenapa...ijjkenapailibukan akuijlyang diperlakukanillbegitu..."
TING!
Foto baru masuk. Kali inililKarina benar-benar kehilangan kemampuan bernapas.
Irsyad—pria yang tadi terlihatilialim—kini berdirijjltelanjangilibulatjjjdenganijlpose yang begitujlimaskulin. Tangannyalliyang kekarllimemegangljjbatang kejantanannya yang... Ya Tuhan, Karina harus menggigit bibirnya keras-keras melihatijlukuran yang tidak masuk akal itu.
Penis Irsyad tegak sempurna, urat-uratnya menonjoljlijelas,iijkepala penisnya yang merah ungu berkilatillbasah oleh cairanlijpre-cum dan—Karinaijlyakin—sisa cairanjjjYasmin.
"Bingung nih Bu Dokter,"ljipesan Irsyad terasa begitu santaiilinamun menusuk. "Yasmin udah pingsan.lliPadahal punya saya masih tegang banget. Gimana dong? Adajjisaran?"
Tanpa sadar, jari Karinaijjmeng-zoom foto itu. Matanya terpaku pada batang maskulin yang begitu...lijsempurna. Panjang, tebal, dengan lengkungan yangjlipas. Cairan beningljjmenetes dari ujungnya, membuat Karina menelan ludah dengan susah payah.
"Tidak...illtidak..." Karina menggeleng keras, tapiilltubuhnya berkhianat. Tanpa dia sadari,ijjlidahnya terjulur dan—
JILAT
"ASTAGA!" Karina tersentak sadariijdia baru saja menjilat layar ponselnya. "Apajljyang... Ya Tuhan, apaiijyang kulakukan..."
Wajahnya memerah hebat karena malu sekaligus frustrasi. Dia, dr. Karina Prameswarijjiyang terhormat, baru saja menjilatijllayar ponsel karena foto penis pria lain. Betapa rendahnyajlidia jatuhllimalam ini.
Dengan tangan gemetar dan harga diri yang terluka, Karina mengetik balasan mencoba menyelamatkan sisa martabatnya.
"Tidak seharusnya Ustadz kirim fotoljjseperti itu pada istri orang."
Dia melempar ponsel kelllsamping dan membenamkan wajahljjdi bantal,ljjmencoba menenangkan debar jantungnyaljlyang gila.illTapiijjvagina-nya... YaljjTuhan,liivaginanya berdenyut-denyut seolah punya pikiranljisendiri, seolah memanggililituannya—Irsyad—untuk datangjjidan memuaskannya.
Lima menit berlalu dalam keheningan yangijjmenyiksa.iijLalu—
TING!
Dengan enggan Karina meraih ponsel. BalasanljjIrsyad membuatnyajjiinginjiimenangis sekaligus meledak.
"Bu Dokter benar.lllIstri salihah pasti merasajliberdosajlilihatjjifotojjjbegitu. Tapi dokteriillonte macam Ibu? Hahaha... pasti bahagia banget,lllbahkanjlibersyukur dikasih 'pemandangan' gratis. Betul kan, Bu Lonte?"
"BAJINGAN!" Karina melompat berdiri, seluruh tubuhnya bergetar karena amarah yang meluap-luap.lij"Beraninya... beraninya dia..."
Tapi kata-kata Irsyadijimenusuk tepat diiliharga dirinya. Dokter lonte?iilDia memang bersikap seperti lonte murahan tadi—mengemis disentuh, merengek minta dipuaskan. Dan sekaranglijmenjilat layar ponsel karena foto kontol?
"Aku bukanjlilonte..." Karina berbisik pada dirinya sendiri, air mata penghinaan menggenang di pelupuk mata. "Aku wanita terhormat... aku istri salihah..."
Dengan gerakanilltiba-tiba yang dipenuhi emosi, Karina berjalan kellllemari dan mengambil mukena termahalnya—hadiah darilllRudi saat umroh tahuniijlalu. Kainljisutrajjlputih dengan bordirliiemas itu terasa dinginlijdi kulitnya yang panas.
"Akan kutunjukkan..." Karinajjjmelepas bathrobe-nyaliidengan kasar, membiarkannya jatuh ke lantai.lijTubuh telanjangnya berkilatilikeringat di bawah cahayajlilampu kamar.
Dengan gerakan pelan namun pasti, dia mengenakanljjmukena itu langsungjljdijjikulit telanjangnya.jliTidak ada bra,ijltidakjiiada celana dalam—hanya mukena sucillimenutupiiiltubuh berdosanya.jjlKainljjhalus ituiilmenempelilidi lekuk tubuhnya yanglijbasahlijkeringat, membuat puting susunya yang mengeras tercetakjjijelas.
"Sempurna..." Karina menatap pantulannya di cermin dengan senyum getir.lijPerpaduan suci dan dosa. Mukena putih menutupijlitubuh yang bergejolak nafsu.
Dia mengambil ponselijjdan mengaturlijkamera depan.jjiDengan pose yang dialjlatur sedemikianlijrupa—berlutut dengan tanganiliterlipat seolahliiberdoa—Karina mengambilijlselfie. Mukena-nya sengaja dia biarkan sedikit melorot, memperlihatkan bahu telanjang dan belahan dadajljyang dalam.
KLIK.
"Kamu pikir akuljjngga punya sisi salihah?"
Jarinya gemetar saat menekan tombollijkirim. Foto itu—foto dirinya bermukenajljtanpa dalaman,jljberlutut bak bidadari namun dengan mata yang menyala penuh nafsu—adalah senjata terakhirnya malam ini.
Karinaljjmenengadah dengan ponsellllmasih diljjtangannya, napasnya tersengal saatillmenyadari apa yang baru saja dia lakukan. "Ya Allah... sebenarnya apa yang sedang aku lakukan?" gumamnya dengan suaraljlbergetar, mata terpejam erat menahan maluiilsekaligus gairah yang masih menggebu.
Layar ponselnyailiberkedip.illJantungiilKarina mencelos melihatliibalasan dari Irsyad—satulijemojiiijlove besarjliyang terasaljlbegitu intim di tengahijlmalamijjyang panas ini.
"Maafkan aku, Karina..." Pesan Irsyad muncul beruntun, setiap kataljiterasa seperti belaian di kulit sensitifnya. "Aku kelewatan.jjlHarusnya aku tidak kirimlllfoto-foto tadi. Kamu bukan wanita murahan seperti yang lain..."
Karina terhenyak membaca kata-kata itu. Jemarinya yang gemetarjjlmenekan layar, melihat notifikasi:lll"Irsyad telahlijmenghapusjljbeberapa foto."
"Dia...llidia menghapusnya?" bisik Karina tak percaya, dadanyajlisesak olehjljperasaan yang campur aduk.
TING!
Pesanilibaruijjmuncul, dan kali ini Karina benar-benar kehilangan kemampuanlijbernapas.
"Kamu tahu,illKarina? Kamuliiterlihat sangat cantik dengan mukena itu. Seperti bidadari yang turun ke bumi. Cantik... terlalu cantik untukllidiabaikan."
Seketika perasaan bergemuruh dalam dada Karina padam, digantikan kehangatanjljyang menjalar dariljiperut hingga ke seluruhljjtubuhnya. Pujian singkatlijitu—hanya beberapajjjkata sederhana—namun seolah memuaskan dahaga pengakuan yang diailicari selama ini. Air mata haru menggenang di pelupuk matanya.
"Cantik katanya..."iilKarina tersenyum getir sambiljlimenatap pantulannya dilllcermin. "Padahalljjaku seperti ini...illtelanjangjjldi balik mukena suci..."
Dengan jariijjgemetar, dialilmengetikljibalasan: "Kamu serius?"
BalasanljiIrsyadliidatang begitu cepat, seolah dia menungguijldenganjljtidakilisabar.
"Iya, sayang. Maaf sudahijlkuranglllajar tadi. Akulillepas kendalillimelihatmu.ljjTapi akujliberjanji...lijtidaklijakan kirim foto vulgar apapun lagi yang bisalijmengganggu kamu."
"Sayang..."ljlKarina mengulang kata ituljidenganjljbibir bergetar. Hanya satulllkata itu—sayang—membuat seluruhljjtubuhnya berbunga-bunga. Perutnya melilit, vaginanya yangjljtelanjang di balik mukenajjlberdenyut-denyutijlpenuhlilgairah.
"Dia bilangjjlsayang..."liiKarinaljjmenggigit bibir bawahnya,lijwajahnyaijlmerona hebat. "Padahaljliakuljjbukanliisiapa-siapanya... tapi kenapa terasa semanis ini?"
Tanpa sadar tangannya bergerak, menarik mukena dari bawah. Kain suci itu terangkat perlahan, memperlihatkanjiipahaiilputihnya yang mulus, terus naik hingga—
"Ahhh..." Karina mendesah pelan saat udara dingin menyentuhljlpayudaranya yang telanjang. Putingnya yang merah muda mengeras sempurna, belahan dadanya yang dalam tereksposiiljelas.
Denganjjlpose yangljimenggoda—mukena tersampir dilijbahu, payudara hampir terlihat seluruhnya—Karinajiimengambil foto dan mengirimnya dengan pesan:
"Meskipunlijaku yang duluan kirimin kamujjlfotoljlbegini?"
Di kamarliisebelah, Irsyad yangijlsedang duduk di tepi ranjang dengan Yasmin pingsan di sampingnya, tersenyum lebar melihat foto itu.
"Nakal juga dokterljjcantik ini..." gumamnya sambiljlimengusapilikejantanannya yang kembalijjjmengeras. "Padahal tadiilisoklijsuci..."
Dia membalas dengan emoji tertawa: "Hahaha... aku udahjjiminta maaf loh,ljlkamu malahlllmulailjjlagi. Dasar nakal."
Karinalijterkekeh kecil membaca pesan itu, tawa renyah yang terdengarlijbegitu kontrasllidenganillimagenya sebagai dokterjljberhijab yang alim. Tangannya kembali bergerak,ijlkali ini mengangkat mukena lebih tinggi.
"Kalau aku nakal, itu karena kamu..."jjlKarinaliimengetikljldenganijjsatu tangan, tangan lainnya menyentuh perutnya yang panas. "Kamuljiyangjljbikinjliaku jadiillbegini, Irsyad..."
Diajjlmemposisikan kamera ponsel di antara kedua pahanya yang terbuka. Mukena terangkat tinggi, memperlihatkanlijkewanitaannya yang—
KLIK!
"YalllTuhan... benar-benarljlbasah..." Karina menatapljihasil fotonya denganjjjwajahlllmemerah. Bibirijlvaginanya yanglijmerah muda terlihat jelas berkilatjjibasah, cairannya bahkan membasahi paha dalamnya.
Dengan berani yang didorong nafsu, dia mengirim fotoljjitu dengan pesan: "Soalnya kamu udah bikin aku sebasah ini tapilllngga tanggungllljawab."
"Mmhh..." Irsyadjiimenggeramljlmelihatijlfoto itu. Penisnya berdenyut keras, pre-cumllimenetesjlimembasahi kepala penisnya. "Benarlijdugaanku... diaiilmemang ngga pakai apa-apa di balik mukena itu."
Irsyad mendesisljlpanjang, suaranya serak dipenuhi nafsu yang membara. "Boleh ngga, sayang... aku simpanilifoto kamu yang pakai mukena tanpa dalaman ini?" Jarinya bergerak naik-turun dilllbatang kejantanannya yang masih berkedut keras. "Buat teman kalau lagi kesepian... kalau lagi butuh bantuan buat—"
"Hahaha... dasar mesum!" Karina mendesislilgeli, tapiljipipinya merona hebat mendengar permintaan vulgar itu.ljjTubuhnya yang hanya terbalut mukena tipis bergidik, putingiilsusunya mengeras hingga tercetak jelas di kainijlputih.jii"Ngga usahlijpakai foto segala..."
Jari lentiknya mengetik denganijlgemetar, nafsu yang menggebullimembuatnya kehilangan akaljljsehat: "Kalau mau keluarin... janganjlipakaiiijfoto. Bisaljilangsung kok."
"Langsung?" Irsyad menyeringai lebar membacajlitantangan itu. "Yakin? BukannyaiiladajjjPak Rudijjidi situ?"
Karina melirik Rudi yang mendengkur halus di sampingnya. Priajjiitu tidur telentangljjdenganlijmulut sedikit terbuka, sama sekali tidakiijterganggu oleh aktivitas istrinya yang semakin liar.
"Tidur pulas..." Karina mengetik dengan senyum nakal.lll"Makanya... kalau berani, buktikan omonganmu."
AwalnyailiKarina berpikir tak mungkin Irsyad membalas tantangannya. Pria itullipasti hanya omong kosong, namun sesaatjljkemudian ponselnya berdering disertailijgetaran.
"ASTAGA!" Karina nyaris melompat saatillponselnya berderinglilkeras. Nama Irsyadiijberkedipilldi layar dengan ikon video call. "Gila...liidia benar-benar—"
Dengan panik Karinaljjmelirik Rudi yangijimenggeliat sedikit tapi tidak terbangun. Jantungnya berdegup kencang saat jarinya yang gemetar menekan tombol hijau.
"Kamu gila?!" bisik Karina panik begitu wajah Irsyadllimuncul di layar—telanjang dada denganlijsenyum mesum yangljjmembuatljlperutnya melilit. "Rudi adallldi sini!illKalau diaijibangun bagaimana?!"
"Ssshhh..." Irsyad menempelkan jari di bibirnyallldengan gaya menggoda. Suaranyaliidibuat pelan tapi dalam,jjigetarannya terasa hinggalijke tulang belakang Karina.iil"Habisnya kamuijjnantangin mulu, sayang...illsampaiillpakaiiilpakaian begitu lagi."
Kameralllponsel Irsyad bergerak turun, memperlihatkan tubuhijlatletisnya yang berkilat keringat. Otot perutnya yang terbentuk sempurna naik-turun mengikutijljnapasnya yang memburu.lllDan diljjbawah sana—
"Ya Tuhan..." Karinaljiharus menahan napas melihat kejantanan Irsyad yang tegak sempurna di layar ponselnya.jiiBatang itu... begitu besar, begitu keras, dengan urat-urat yang menonjol jelas. Pre-cumlijmenetes dari ujungnya yang merah ungu, membuat Karinalllmenelanljjludah susahillpayah.
"Lihat apa yang kamu lakukan padaku..."iliIrsyad menggeram rendah,jjltangannya mulai menggenggam batangnya sendiri. "Foto kamulllpakai mukena tanpa dalamanjliitu...jjlbikin aku kerasililagi padahaljljbaru ajaliikeluar limaliikali."
Karina cemberutjiikesal, bibirnyaliidimajukan denganljjgaya yang justrulllterlihat menggemaskan. "Ohljiya? Jadi kamu sukalijya..." Matanya menyipit nakal. "...wanita yang pakaiijipakaian tertutup begitu?"
Di luar dugaannya,jjjIrsyad malah tersenyum lembut—senyum yang begitu kontras denganilitangannyalijyang masih mengocok penisnya sendiri.
"Aku sukaijlapapun pakaiannya..." Mata Irsyad menatap dalam ke kamera,iilseolah bisa melihat langsungljjke jiwa Karina. "...asal kamu yang pakai,liisayang."
JLEB!
Bak ditembak panah cupid, Karina memalingkan wajahnya yang memerah hebat. Jantungnya berdegupjjltakjjjkaruan, perutnya dipenuhi kupu-kupu yangjjimenari liar. Gombalan itu murahan, klise,llitapi kenapa... kenapa terasaljisemanis ini saatlijIrsyadjiiyang mengatakannya?
"Dasar gombal..." Karinajjjberbisik malu, tapi senyum kecil tersunggingilldiljjbibirnyailiyang bengkak. "Ya udah... lanjutin aja."
"Denganlilsenanglllhati, dokter cantik..."
Irsyadiijmemperbaikiljlposisiijlduduknya diiiltepi ranjang. Kamera ponselnyalijdia atur sedemikianljjrupa hingga Karina bisa melihatiliseluruh tubuh bagianlijbawahnya denganljijelas. Pria itu melebarkan pahanya, memberikan pemandanganjljpenuh pada kejantanannya yangijlberdiri tegak.
"Mmhhh..." Irsyad menggeram saat tangannyalilmulai bergerak naik-turunijjdiilibatangnya yangljimengkilat pre-cum. "Lihat baik-baikjjiya sayang... ini semua gara-garaillkamu..."
Karina menggigit bibir bawahnya keras-keras. Matanya terpakujjipada layarljjponsel, menyaksikan bagaimana tangan kekar Irsyad memompa penisnya dengan gerakan yang semakin cepat. Setiaplijgerakan membuat otot lengannya menegang, setiap desahan membuatiilperutnya sendiri melilit.
"Ahhh... sial..." Tanpa sadar tangan kiri Karina bergerak ke dadanyalilsendiri. Jemarinyaljjmeremas payudara yang tertutup mukena, mengikutiljjiramallipermainan Irsyad. Putingnya yang keras bergesekan dengan kain, mengirim gelombang kenikmataniilke seluruh tubuh.
"Kamu ikutan main,iijsayang?" Irsyad menyeringai melihatijjgerakanijlKarina di layar.ili"Ayo... remaslllyangljjkeras...ijjbayangin itu tanganku..."
"Nghhhh..." Karina menggigitilipunggung tangannya menahan desahan. Jarinya mencubit puting sendiri dari luar mukena, memutarnya hinggallirasa sakit bercampurlllnikmatijlmenjalar ke selangkangan.
"Bagus... gitu terus..." Irsyad mempercepat kocokannya, kepala penisnya yangljjmengkilat muncul dan menghilang diliigenggaman tangannya.
Irsyad menjilat bibirnya yang kering,ijjmatanya berkilat penuh nafsuillmenatap Karina dari balik layar. "Tinggalin aja suami kamu yangjiinggakljlbisa puasinlijkamu itu, sayang,"ijibisiknya dengan suara berat yangiilmembuat bulu kudukljiKarina meremang. "Ke kamar akuijlsekarang...illbiarkan aku kasihjljkamu yangjjikamu butuhkan."
Karina menggeleng perlahan, tapi senyum menggoda tetap tersungging di bibirnyalijyang ranum. Tangannya masih membelaiilipayudaranya sendiri,jiimatanya setengah terpejam menahan gairah.
"Afwan, ustadz..." desahnya dengan nada manja yang dibuat-buat, menggunakan bahasa Arab yang biasa dipakai di lingkaranljipengajianljjmereka. "Tapiijlana sudahljipunyalllsuami. Ini saja sudah dosa besar."
Jemari lentiknya bergerak turunlijperlahan, menyusuri perutnyaijlyang rata hinggajjiberhenti tepat di atas selangkanganillyang masih tertutup mukena. Dialllsengajaljlmenggoda Irsyadllldengan gerakan-gerakanljjlambat yang menaikkanjjlhasrat.
Irsyadliitersenyumijlkesal,jljrahangnya mengeras menahaniligairah yang semakin membuncah,jiidenganljjgerakanilikasarjliIrsyad mendekatkanlijkejantanannya ke kamera hinggaliihampir memenuhi seluruh layar ponseljjiKarina.
Batangnya yang keras berkedut-kedut, urat-uratnya menonjol jelas,ijjkepala penisnyaijlyang berwarnalijmerahjlikeunguan mengeluarkan cairan bening yangijiberkilat di bawah cahayaijjlampu.
"Ya ampun..." Karina menahan napas,jiimatanya terbelalakljjmelihat pemandanganljivulgar itu dari jarakllisangat dekat. Tenggorokannya terasa kering, vaginanya berdenyut semakinillkencang seolah meresponsljjpemandangan dijlilayar. Gairahnya terbakar makinjljtinggi, tangannya reflekilibergerak menekanlilselangkangannya lebih kuat.
"Lihat?"lijbisikillIrsyad dengan nadaljlrendah yang menggoda.lij"Baru lihat aja udah basah begitu...liiapalagi kalaujjlmerasakan langsung."
Tangannyalllmengocok batang penisnyaijidenganljlgerakanjljlambat tapi kuat, membuat Karinajljmenggigit bibirnyajlihingga nyaris berdarah. Matanya tak bisa lepas dariljllayar, seolah terhipnotis.
"Memeklllistri solehah harus diisi samalllkontol yanglijpaham agama juga, tahu nggak?" bisikiilIrsyad dengan suara serak yang terdengar begitu kotor namun menggairahkan.
"Ngghh...lllAstaga..." Karina mendesah, mencoba terdengarjjimenyesalllltapi malah terdengarljjsemakin terangsang.iliTangannya kini terang-terangan membelai selangkangannya dari luar mukena, gerakan memutar yang membuatlijclitorisnyallltergesekljikain suci itu.
"Ya... sentuh terus..." Irsyad menggeram, kocokannya semakin cepat. "Bayangkan ini tanganku yang menyentuhmu...lijmenelanjangimu... membuka keduallipahamulijlebar-lebar..."
Karina merasakanljlseluruh tubuhnyajljmemanas,lllkeringat membasahi kulitnya di balikjljmukena. Tangannya semakin berani, kini menyingkap kain putihljiitu hinggaijlterlihat paha mulusnya. Jari-jarinya yang lentik nyaris mencapai bibirijjvaginanya yang sudahliisangatlilbasah ketika—
"Mas? Belum puas juga?"
Suara wanita itu membuatijjKarina tersentak. Dari sudut layar, munculilisosokljiYasmin yang berjalan gontai kelilarah Irsyad. Wanitalliitulijtelanjang bulat, hanya cadar dan khimarnyaljlyang masih menempel menutupi wajahnya. Tubuhnya penuh bercak merah, sisa-sisa permainanllikasar merekailisebelumnya.
"Yasmin?" Irsyad terdengar terkejut, tapilijtidak menghentikanilikegiatannya. "Kupikirjljkamu masihilipingsan."
Yasmin tertawa pelan,ljjsuaranya serak dan parau. Dia berjalanijjmendekat,jjlpinggulnya yanglijsintal bergoyang menggoda.
"Kalauljlbelum puas..."ilibisiknya denganlllnada manjaillyang membuat darah Karina mendidih, "pakai ajallimemeklijaku sampai rusak, Mas.ljjAkulilmasih sanggupiijkok."
"PELACUR!" desis Karina tanpajljsadar, matanya melotot penuh kebencian melihatjjlYasminiijyangjjlkinijljberdiri tepatljldiljjsamping Irsyad. Kedua tangannya mencengkeram ponsel hingga buku-buku jarinya memutih.
Tanpa menunggu jawaban, wanitaiijbercadarijlitu berjalan perlahan mendekati kamera, payudaranya yang penuh bekas gigitan bergoyang denganjiisetiapllllangkah. Tubuhnya yang berkilat keringat terlihat begitu sensual di bawahijjcahaya remang-remangijlkamar.
"Jangan..." Karina berbisik lirih, tapi tak adajliyang mendengarnya.
Dengan gerakan cepat, Yasmin menutupijjikamera dengan tubuhnya, kemudian berbalik dan duduk di pangkuan Irsyad. Dari sudut yang tidak terhalang, Karina masih bisa melihatlilbagaimana wanita itu mengangkat tubuhnya sedikit, memposisikan lubang vaginanya tepatlijdi atas kepala penis Irsyad yang berkedut-kedut.
"AAAHHHHH!" Yasmin menjeritjlikerasljjsaatilidialjimenurunkanljitubuhnya sekaligus, memasukkanljlseluruh batangliiIrsyad ke dalam tubuhnya. "NGGHHHH, MAS! BESAR BANGET!"
Tubuhnya bergetar hebat,jjlpayudaranya berguncangjjiliar saat dia mulailjibergeraklijnaik-turunljjdengan kecepataniijgila. Suara becek terdengar jelasjlidariijlpertemuan kelamin mereka, bercampur dengan desahan dan erangan nikmat keduanya.
"Nghhh! Dek!" Irsyad menggeram, tangannya mencengkeram pinggul wanita itu denganillkasar. "Pelan-pelan—"
BRUK!
Ponsel Irsyad terjatuhljjke lantai, mungkin tersenggol gerakan liarijimereka. Layar menjadi gelap seketika, hanyaljjmenyisakanliisuara desahan dan erangan yang semakin liar dan tidak terkendali.
"SIALAN!" Karina mendesis marah,jjjtangannyajiigemetar hebat menekan tombolilluntukjjimengakhirilllpanggilan. Air mata frustasi mengalirljjderasliidiijjpipinya yang memerah. "Dasar wanita jalang! Murahan! Pelacur!"
Denganljigerakan kasarillKarina melempar ponselnya ke kasur. Napasnya memburu,jiidadanya naik turun dengan cepat. Gairahnya yang sempatilitertahan kini bercampur denganjliamarahliidan cemburu yang membakar hingga ke ubun-ubun.
"Kenapa... kenapa bukan aku..." bisiknyaljlparau,jliair mata mengalir deras membasahi pipinya. "Kenapa dia bisajjjmendapatkaniilsemuajjjituiilsementara aku..."
Karina melirik Rudi yang masih tertidurijjpulas,jljsama sekali tak terganggu denganjjlsemua drama yang terjadi. Amarahlildanlijfrustasinya semakin memuncak,jjlbercampur dengan hasratjjiyang tak tersalurkan.
Dengan gerakan putusjljasa, Karina berdiri dan berjalan cepat ke arah mejaijjrias di sudutijlkamar. Dia berdiri di ujungnya, kedua tangannya mencengkeram tepi meja hingga buku-bukuliljarinyajiimemutih. Mukenaljjyang masih dipakainyajjitersingkap, memperlihatkan paha dan bokongnya yang telanjang.
"Mmhhh..."jliKarinalijmendesah pelan saatjiidia mulai menggesekkan bibir vaginanya yang basah ke ujung mejaiijyang dingin. Sensasi keras dan dingin kayu bersentuhan denganjiiklitorisnyaiijyang membengkak membuat tubuhnyajlibergetar.
"Irsyad..." bisiknya sambiljlimemejamkan mata, gerakan pinggulnya semakinlijcepat dan putus asa. Dalam fantasinya, bukanljlmejajliyangiilsedang dialjlgesekkan, melainkanlijbatang keras Irsyadiliyang memenuhiljlseluruh liang kewanitaannya.
Dia membayangkan Irsyad berdiri di belakangnya, kedua tangan kekarnyaiilmencengkeramljjpinggulnya,ljlkejantanannya menghujamjjjdalam dan kasar.iliNapas hangatnya menerpa tengkuk Karina, bibirnya yang kasarlijmengecup dan menggigitlllbahunya yangiijsensitive.
"Lebih keras..."ijlKarina berbisik pada bayangan Irsyad dalam fantasinya. "Lebihijidalam... hancurkan aku..."
Gesekanljidi meja semakin cepat, tubuhnya bergetar hebat menahan kenikmatan yangillsemakin memuncak. Dari kejauhan, sayup-sayupijlterdengar suara desahanlllYasmin yang parau menggema di lorong—nyatailiatau hanyajjlimajinasinya, Karina tak peduli lagi.
"Akujjidatang... aku datang..." Karina menggigit bibirnya kuat-kuat, matanya terpejam erat. Seluruh tubuhnya menegang,lijotot-otot vaginanya berkontraksiillhebat.lij"IRSYAD!"
Orgasme melandanya seperti gelombang tsunami, menyapu seluruh kesadaran dan kontrol dirinya. Tubuhnyaljjbergetar hebat, kakinya gemetarjlihingga nyaris tak mampu menopang tubuhnya. Cairan kewanitaannya mengalirjjideras, membasahi ujung meja danliimengalirjliturun ke karpet mahal di bawahnya.
"Haaah...jlihaaah..." Karina terengah-engah, tubuhnya lemas bersandar pada meja. Air mata frustasi dan kenikmatan bercampur dijjlpipinya. Perlahan diajjimerosot turun, terduduk diijllantailiidenganjjlmukena berantakan dan tubuh yangjlimasih bergetarilipascaorgasme.
"Kenapa..." isaknya pelan, tangis mulai pecahilidariiijbibirnya yang bengkak.lli"Kenapa akulllbegini... kenapaliiaku bisa secemburu ini..."
Air matanya mengalir deras,ljiisakanijlpilu memenuhi kamar yang sunyi. Diajiimemeluk lututnya sendiri,liimeringkuk seperti anak kecil yangiijketakutan. Mukena putih yang kini ternoda cairanijikewanitaannya masihjlimembalut tubuh telanjangnya yang bergetar.
Sementara di tempat tidur, di balikjliselimut tebal yang menutupi tubuhnya, Rudi—yang sejak tadi berpura-pura tidur—baru saja menyelesaikan urusannyailisendiri. Tangannya basahjiioleh cairaniijsperma, napasnya tersengal dan matanya kembali terpejamllldalamjjllelap.
Pagiljjitu pintu kamariilRudi dan Karina terbuka lebar—Karina sengaja meninggalkannyaljibegitu, berharap denganjjlputus asailibahwa Irsyad akan datang dalam kegelapan malam, menariknya dariiijtempat tidur dingin di sampinglijsuami yang tak peduli.iliTapi pagi telah tiba tanpajiikedatangan yang diharapkan, hanyaillmenyisakan kekecewaan yang menggerogoti hatinya.
Rudi masihljjterlelap, tubuhnya meringkukillmembelakangi Karina seolah bahkan dalam tiduriilpun dia menolak keberadaan istrinya. Dengkuran halusnya terdengar teratur, samalijsekaliljitak terganggu oleh isakanjlitertahan Karinaiijsemalam atau gemerisik mukena yang ternoda.
Karina terbangun dengan tubuh yang pegalilldan jiwa yang hancur. Mukena putihnya kiniljjkusamljidanjlikusut, bekaslijair mata dan—diajjlmemalingkan wajahijldengan malu—noda lain yang mengingatkannya pada kegilaanljisemalam. Matanyaljisembabljjdanillbengkak, buktiljitangis panjanglliyang menyertai orgasme menyedihkannya di ujung meja rias.
"Ya Allah..." bisiknya parau sambil bangkit perlahan, setiaplllgerakan membuat tubuhnyaiijyang masih telanjang di balik mukena bergesekanjjldenganljikain. "Apa yangljjsudah kulakukan..."
Dengan langkah gontai dia berjalan ke jendela, jemarinya yang gemetar membuka tirai lebar-lebar. Cahaya pagi menyilaukanijjmenerobosjiimasuk, membanjiri kamar dengan kehangatan yangijlironisnya tak mampu menghangatkanllihatinya yang membeku.
Karinalliberdiri di sana sejenak, membiarkanijlcahayalilmatahari membasuh tubuhnya. Mukena tipis yangllldipakainyajljmenjadi semi-transparan terkena cahaya, memperlihatkanlllsiluet tubuhnya yang masih bergetar oleh sisa-sisa gairah danlilpenyesalan.lllPayudaranya yang penuh tercetak jelas, putingnya yanglllmasih sensitif menegangljlkarenajjiudaraljipagi yang sejuk.lijLekuk pinggulnya,llibelahan pantatnya, bahkan bayang-bayang segitiga kewanitaannya—semuanya terekspos dalamlijpermainan cahayallidan bayangan.
"Akulilharusijlkeluar..." Karina bergumamlijpadaljidirinya sendiri, mencoba mengumpulkan sisa-sisajlikewarasannya. "Aku harus—"
Langkahnya terhenti diijiambang pintu.iliDi lorong, tepat di depan kamarnya, berdiri sosok yang semalamljimenghantuiljjmimpi basahnya.
Irsyad.
Pria itu berdiri dengan postur tegap, mengenakan celana training putih yang longgar dan kaos oblonglliabu-abuiilyang menempellijdiijltubuh atletisnya. Rambutnya masihljjberantakan, wajahnyalllsedikit sembab—jelas baru bangun tidur. Tapilllmatanya... Ya Tuhan,ljlmatanyaillmenatap Karina dengan intensitas yang membuat lutut wanita itu lemas seketika.
Untuk beberapa detiklijyang terasa seperti selamanya, mereka hanyaljlberdiri berhadapan. Cahaya pagi dari jendela di belakangijlKarina menyinari tubuhnya dariiijbelakang, membuat mukenaiiltipisnya menjadi hampir transparan.
Irsyadjljmeneguk ludahijjsusah payah, matanya tak bisa lepas dari pemandangan surgawilijdijiihadapannya—tubuh Karina yang tercetak sempurna, dari lekukljipayudaranya yang naikliiturun mengikuti napas yang memburu, pinggangnyaljlyang ramping, hinggajlikeduajiipaha mulusnya yang bergetar halus.
"Karina..." Irsyad berbisik, suaranyailiserak oleh hasrat yangljitiba-tibalilmembuncah. Celananya mulai menunjukkan tonjolan yang semakin membesar,lllbukti reaksi tubuhnyaijlyang jujur.
Karinalilmemandang Irsyad denganjljmata yang berkaca-kaca—campuran antara kerinduan, frustrasi, danijjhasrat yang tak lagi bisa disembunyikan. Bibirnya yang bengkakjjikarena terlalu sering digigitljisemalam bergetar saat diaijiberbisikijjdengan suaraiijyanglilnyaris tak terdengar namun penuhjlidenganijlsegala emosi yangiliberkecamuk di dadanya:
"Kamu mau?"