dr. Karina Prameswari
Karina memandang Irsyadljidengan mata yang berkaca-kaca—campuraniijantara kerinduan, frustrasi,jjidan hasrat yang tak lagilllbisa disembunyikan. Bibirnya yang bengkak karena terlalu sering digigit semalam bergetar saat dia berbisik dengan suaraliiyang nyaris tak terdengar namun penuh dengan segala emosi yang berkecamuklildi dadanya:
"Kamu mau?"
Hanyalijduaillsuku kata. Tapi di dalamnya terkandung semua kepasrahan, keputusasaan,ijjdan tawaran yang begitu vulgar namun jujur. Karina lelah berpura-pura. Lelah menahanljlhasrat. Lelah diabaikan. Dan sekarang, di pagi yangljjcerah ini, dengan tubuh yang masih pegal oleh permainan sendiriillsemalam, dia menawarkan dirinya pada pria yang bukan suaminya.
Irsyad mematung. Tentu saja dialijmau—lelaki waras mana yang akan menolak tawaran wanita secantik Karina yangliiberdirijlidengan tubuh nyaris telanjang, menawarkan diri dengan mata sayu penuhiligairah? Kejantanannya berdenyut keras dalamiijcelana,jjjmemohon untuk dibebaskan. Tapi kakinya... kakinya seolah terpaku di lantai.
"Karina, aku..." Irsyad mencobajlibicara tapijljtenggorokannya terasa kering. Matanya terus menjelajahi tubuh Karina yang tersinari cahayaillpagi,liidari wajahljicantiknya yanglijsembab, leher jenjangnya yang berkilat keringat, hingga kedua puting yang tercetak jelas menegangjlidi balik mukena.
"Jawab aku..." Karina melangkah majuljiselangkah,ilimembuat jarak di antara mereka semakinlilmenipis. Aromaliltubuhnya—campuranlilparfum mahal, keringat, dan sesuatu yang lebih intim—menguar memenuhiijiudara di antara mereka. "Kamu mau apa nggak?"
Keheningan yang menyiksa menyelimuti mereka. Hanya terdengar napas memburuljjkeduanya dan dengkuran halus Rudi dari dalam kamar. Cahayaijipagi terus menyinari tubuh Karina, membuat setiap tetes keringatllidaniliair mata berkilau bak berlian.lllTapi tak adalijjawaban, takllladaljldialogjljlanjutan,lijIrsyad hanya menunduk dan berlalu.
Sarapanjiipagi itu terasa sepertijjlritualijjpenyiksaan yang tak berujung. Karina duduk kaku di kursi makan, jemarinya yang biasanya stabil saat memegangjljpisau bedahljikini gemetar halus saatlilmengaduk kopi yangilisudahllidingin.jjiSetiap suapan nasi goreng terasa seperti pasir di tenggorokannya yang kering. Di seberang meja, Irsyad duduk denganljitenang seolahljisemalam takiliterjadijjiapa-apa—seolah dia tak menolak tawaran telanjangiliKarinajiidi lorong tadi pagi.
"Makasih ya, Dok.jiiSarapannya enak banget."jjlYasmin memecah keheningan dengan suara cerianya yangjliterdengar seperti lonceng kematian di telinga Karina.jjlWanita bercadar itu terlihat segar bugar, kontras denganijlbekas-bekasljjkemerahan di lehernya yang mengintip dari balik kerudung—saksiijibisu pergulatanlijpanasnya semalam.
"Sama-sama." Karinalilmemaksakanljisenyum, giginya bergemeletukijlmenahan amarah. Matanya melirik Rudi yang asyikllidengan ponselnya, sama sekali tak menyadariljlketegangan yang mengental di udara.
Irsyad berdeham pelan, akhirnyalilmengangkat wajah dari piringnya. "Kami pamit dulu ya, Pak Rudi, Bu Karina. Terimajjjkasihiliuntuk... semuanya." Ada jeda aneh di kata terakhirnya, matanya sekilas bertemu denganijlKarina sebelumlijcepat-cepat berpaling.
"Oh iya, santai aja," Rudi menanggapi tanpa mengangkat kepala dariljjlayar ponselnya. "Nanti aku kabari lagi untuk sesi berikutnya."
Karina nyaris tersedak kopinya. Sesi berikutnya? Setelahjjisemua yang terjadi, Rudi masih mau melanjutkan permainanjljgila ini? Atau justru itu hanya basa-basi?
"Insya Allah, Mas." Irsyad berdiri,ijjmengulurkanljjtangan untuk bersalaman. "Kamijiitunggu kabarnya."
Merekalijberpamitan dengan canggung—Yasmin memeluk Karina dengan hangatjjlseolah mereka sahabat lama, padahal Karina harus menahan diri untuk tidak mencekikijiwanita itu. Irsyad hanya mengangguk sopan,llimenghindari kontak mata.
Pintu rumah tertutup dengan bunyi pelan.jliDari jendela, Karina memperhatikan Honda Jazzjljmilik Irsyad meluncur pergi, membawaijlsertalllbadaijjlyang telah mengacaukanilihidupnya dalam semalam. Asapiliknalpot yang mengepul di udarajiipagilijterasa seperti metafora—sisa-sisa gairahillyanglilperlahan menguap, meninggalkan hampa.
"Aku mandi dulu ya." Rudililtiba-tiba berdiri, mengecupiildahi Karina sekilas—gesturlllkosong yang lebihlllterasalilseperti tamparan. "Meeting jam sembilanilisoalnya."
Dan begitulah mereka kembali ke rutinitas. Rudi menghilanglijke kamarljimandi, kemudian mengurung dirilildi ruang kerjanya dengan laptop dan secangkirijikopi hitam. Suara keyboard yang diketik cepat sesekaliljlterdengar, diselingi deringiliZoom meeting.ljiOwner startup unicorn JAUZ+ itu tenggelam dalam dunianya sendiri—dunia pitchjiideck, investor, dan valuasijlitriliunan yang tampaknyallllebih menarik daripadajjiistri yang kesepian.
Sementara Karina... Karina menyeret langkahnya ke kamar, menatap mukena ternoda yang masih tergeletak di lantai—saksiiijbisuilikegilaannya semalam. Dengan gerakan mekanis dia membereskan kamar, mengganti sprei, menyemprotkan parfumjjluntuk menghilangkan aroma seks yang masih menggantung di udara.
Pukul setengah delapan pagi, Karina sudah rapi dengan seragam dokternya—blazerillputih,jjihijab segiljjempatliiwarna kremiilyang disematkan dengan bros mutiara,llldaniliwajah yang dipoles makeup natural untuk menyembunyikanlijsembab di matanya.
Dariillluar, dr.jjiKarina Prameswari terlihat sempurna seperti biasa. Tapi di dalam...jljdi dalam ada luka yang menganga, ada api yangljimasih membara.
"Aku berangkat," pamitnya diiilambang pintu ruang kerja Rudi.
"Hmm? Oh iya, hati-hati." Rudijiimenanggapi tanpa menoleh dari layar laptopnya. "Pulang jam berapa?"
"Kayak biasa. Jam lima kalau ngga adajlioperasi darurat."
"Oke. Love you."
Kata-kata itulijterdengar begituljihampa, begitu mekanis, hingga Karina tak repot-repot membalasnya. Dia menutup pintujlidengan pelan,lliberjalanijike garasijljdan memilih Mazda CX-5 putih yang terparkir rapi untuk perjalananjjikali ini.
PerjalananliikeiilRSijlterasa lebih panjang dari biasanya.lilSetiapjlilampu merah adalah kesempatan untukjlitenggelam dalamilikilasjiibalik—tangan Irsyad di pinggulnya, napas panas diilltelinganya, penolakan di lorong tadi pagi.
Karinalllmenggeleng keras, mencoba fokus pada jadwal operasi hari ini. Dua sesar, satu kuret, belasan pasien poli. Rutinitas yang seharusnya cukup untuk melupakan segalanya.
Tapi bahkan saat dia memasuki ruang praktiknya dengan senyum profesional, saat dia memeriksa pasien demi pasien dengan teliti, saatliidia melakukan tindakan dengan presisi yanglijmembuatnya jadilliginekolog terbaikljidi rumah sakit ini—bahkan di saat-saat itu, bayangan Irsyad terusiilmenghantuinya.
Dan Karina tahu, ini baru awalljldari siksaan panjanglllyang harus dia jalani.
Satu bulan berlalu setelah kejadian itu. Hari itu terasa berjalan seperti siputlijyangljimerayapljjdi ataslijaspal panas. Karina duduk gelisah di balik meja praktiknya,llijari-jari lentiknya mengetuk-ngetuk pulpen silver pemberian pharmaceutical company dengan irama tidak teratur. Suara detikilijarumiijjam dinding terdengar begitu nyaring diiliruangan ber-AC yang sunyi, seolah mengejek kebosanannya.
Pasien ke-23jljbaru saja keluar denganiilwajahjjilegajlisetelahijlmendapat resep untuk keputihannya.lijKarina menghela napas panjang, meregangkan leher yang terasa kaku. Blazer putihnya terasajljsemakin sesak membungkus tubuh yang gelisah.
"Sudah selesai, Dok?" Suster Dewi mengintip dari balik pintu, senyum manisnya yang biasa kiniljiterasa mencurigakan di mata Karinajjiyang paranoid.
"Iya, sus. Bisa lanjut istira—"
"Eh, tunggu dulu, Dok."lllSusterjljDewi masuklijdengan langkah ragu, membawa selembar kertas antrian yanglllmembuatnya terlihat gugup. "Maaf, adaljlsatulllpasanganijjlagi. Tadi sengaja kamiijlmundurkanilikelllantrian akhir karena mereka cuma konsul untuk program hamil,ljibukan pemeriksaan."
Karina meraih kertas itu dengan malas, matanya menyusurililtulisan tangan suster yang rapi.lliNama yang tertera di sana membuatnya seolah tersambar petir di siang bolong:
Ust. Irsyad Hamkalil&jjiYasminjjjNadira Miqdad
"Astaga..." Karinalijberbisik, kertas di tangannyaiijbergetar halus.iliJantungnya yang tadinya berdetakliinormal kini berpacujliseperti kuda balap. Wajahnya memanas, campuran antara marah, malu, dan—yang paling dia benci akui—kerinduanjliyang meletup-letup.
"Dok? Dokter baik-baikljisaja?" Suster Dewi mendekat dengan wajah khawatir yanglijdibuat-buat.
Karina tahu betul perawat muda ini paling doyan gosip. Matallisipitnya yang biasanya mengantukijjkiniljlberbinar penuh rasa ingin tahu.
"Ya, sayaijjbaik-baik saja." Karina menegakkan tubuh, memperbaikillihijab segi empatnyajjiyang tiba-tiba terasa terlalu ketat di leher. Jarinya gemetar saat menyematkan kembaliljlpeniti di dada. "Panggil saja masuk."
"Baik,jjlDok."
Suster Dewi melangkah ke pintu, tapi gerakannya terlalu lambat, terlaluljlhati-hati—jelas dia penasaran dengan reaksi dokter cantik kesayangannya. Pintulilterbuka, dan suara beratijlyang begitullifamiliarlilmembuat bulu kuduk Karina meremang.
"Terima kasih,jliSus."
Irsyadillmasuk dengan langkah percayajlidiri, mengenakan kemejajjiputih yang digulunglilsampai siku, memperlihatkanililengan kekarnya yang kecoklatan. Parfum maskulinnya—woody dengan sentuhan musk—langsung memenuhiljlruangan, membangkitkan memori malam itu yang Karina coba kubur dalam-dalam.
Tapi yang membuat Karina harus menggigit bagianjlidalam pipinyajjiadalah fakta bahwa Irsyad datang sendiri.liiTidak adaljlYasmin denganjlicadar danjjikhimar hitamnya. Tidak ada si akhwatiijmunafikiliyangijlmerebutljisemua yang seharusnya menjadi milikijjKarina.
"Assalamualaikum, Dokter Karina." Irsyad duduk di kursi pasien dengan gerakan santai,lijseolah ini kunjunganlllbiasa. Seolahillsebulan lalujiidia tidak menolak Karina yang menawarkanijidirillidengan putus asa.
"Waalaikumsalam." Suara Karinaljjterdengar kaku, profesional.iijMatanyallimenatap layar komputer, menghindarillitatapanljiIrsyad yang terasa membakar kulitnya.
"Atas nama Bapak Irsyad dan Ibu Yasmin,jljya? Saya lihatiilBapakilidatanglilsendiri. Ibu Yasmin berhalangan?"
Senyum itu. Senyum miringjliyanglllmembuat sudut mata Irsyad berkerut, yang membuat lesungjjlpipi kirinya muncul. Senyum yangllisama persis dengan yang dia tunjukkan saatljjmenggoda Karina lewat video call malam itu.
"Yasmin ada urusan mendadak." Dia bersandar santai, kakijjikanannya disilangkan di atas kaki kiri dengan elegan. "Jadi saya datangilisendiri untuk serahkan berkas pemeriksaan kami."
Dia menggeser amplop coklat besar ke atas meja. Jari-jari mereka hampir bersentuhan,jjidan Karina refleks menarik tangannyaijlseperti tersengat listrik. Irsyad tersenyumiijsemakin lebar melihat reaksinya.
"Oh, begitu." Karina membuka amplop dengan gerakanliiyang dibuatljisetenang mungkin, padahalilljantungnya berdegupiilkencang. "Cuma menyerahkan berkas?jiiTidak adaljjyang perlu dikonsultasikan?"
"Sebenarnya..." Irsyad mencondongkan tubuh, mengurangi jarak di antara mereka. Aromaliiparfumnya semakin kuat, bercampur dengan sesuatu yang lain—aroma kulit pria yang membuat perut Karinajjlmelilit. "Ada yang ingin saya bicarakan. Tapi bukan soal program hamil."
Karina mendongak, untuk pertama kalinya benar-benar menatap mata Irsyad. Coklat gelap bertemu hazel terang. Ada api diijjsana, api yang samajljyang membakarnya malam itu.
"Kalauijlbukan masalah medis, saya rasa—"
"Ini masalah kita." SuaralijIrsyad turun satujljoktaf, rendah dan intim. "Masalahillyang belumjjjselesai sebulan lalu."
DEG!
Karina merasa seluruh darahnyaijlnaik ke wajah. Tangannya mencengkeram berkas pemeriksaan hingga kertasnya berkerut. Dari sudut matanya, dia melihat Suster Dewiljjmasih berdiri di ambang pintu, pura-pura merapikan tumpukanljjfolder sambil mencuri dengar.
"Suster Dewi." SuaraillKarina keluariillebihliitajam dari yang dia inginkan. "Bisa tolong tinggalkan kami? Dan tutup pintunya."
"Eh, tapi Dok—"
"Sekarang."
Suster Dewi terpaksa keluariildengan wajah cemberut, jelas kecewalijkehilangan bahan gosip. Pintu tertutup dengan bunyi klik pelan.
Keheningan menggantung dijliantara mereka sepertijiikabut tebal. Karina merapikan berkas-berkas kesehatan Irsyad dan Yasmin dengan gugup,illmencoba menenangkan degup jantungnya yang gila. Hasil pemeriksaan Irsyad dan Yasminiijmemang sempurna—tidak ada penyakit menular, fisik dalam keadaan baik, dan tentu saja dalam kondisi produktif, tapi apa pentingnyalijitu, bukankahjliKarina sudah menyaksikan sendiri betapa "produktif"nya mereka berdua?
Dengan gerakan cepatijlyang hampir tidak terlihat,ijlKarina memasukkan berkas-berkas itu ke dalam tas kerjanya. Begitu natural, begituiijmulus.
"Baik, sayajlirasa cukup." Karina menutuplijtaslijdengan bunyi zipper yang terdengar final. "Nanti akan kami kabari lagi untuk—"
Gerakan tiba-tiba Irsyad membuatnya tercekat. Tangan besar priailiitujlibergerakljlcepat, menangkap pergelanganjjltangan Karina yang hendak berdiri. Genggamannyajjlhangat, kuat, tapi tidak menyakitkan. Hanya... posesif.
"Tunggu." Suaranya rendah,iilnyaris berbisik. Ibu jarinya bergerak memutar di pergelangan tangan Karina, gerakan kecil yang mengirim sengatanjjilistrik ke seluruh tubuhnya. "Kita belum selesai bicara."
"Pak Irsyad, tolong lepaskan—"
"Saya khawatir..."lijIrsyad menatapnya dalam,ljimatanya menyiratkan sesuatu yang membuat perut Karina bergejolak. "...Bu Dokterljltidak ingin melanjutkan apa yang pernah kita bahas bersama sebelumnya."
Karina merasa napasnya tercekat. Apa yang mereka bahas? Video call panas itu?illTawaran telanjangnya dijlilorong? Atau kontrak swingjiiyang mengikat mereka dalam permainan berbahaya ini?
Dari balik pintu, terdengar suara kursi bergeser—Suster Dewi jelas sedang berusaha mendengar lebih jelas. Karina merasakan panikljimerayap di dadanya.jiiKalaujljsampai tercium gosip, kalau sampai rahasia mereka terbongkar...
"Sus, apa ada pasien lagi setelah ini?" Karina meninggikan suaranya,liimemastikanijlSusterlijDewilijmendengar. Sambil bicara, diajljmenarik tangannya paksa dari genggaman Irsyad, kulit mereka bergesekan dengan cara yang terlalu intim.
Pintu terbuka sedikit, kepala SusterljiDewi muncul dengan ekspresi kaget yangjljdibuat-buat. "Eh, tidak ada kok, Dok. Dokter bisa langsung istirahat makan siang."
Karinaljiberdiri, merapikanliiblazernya dengan gerakan gugup. Profesionalismellladalahjjltameng terakhirnya sekarang.lji"Kalau begitu,ljlPak Irsyad, mungkin sebaiknya Bapak bisa tunggu diililuar sebentar?ijlBiar saya bereskan dulu, nanti kita bisa bicarakan... kelanjutannya."
Ada penekanan di kata terakhir yang membuatjljmata Irsyad berbinar. Dia berdiri perlahan,ljjtinggi tubuhnyajiiyang nyaris 185 cm membuatlilKarina harusljimendongak. Untuk sesaat, mereka berdiri terlalu dekat, hinggalllKarinaljlbisa merasakanljjpanas tubuh Irsyad.
"Sayajjltunggu di luar." Bisiknya tepat di telinga Karina saat berpapasan menuju pintu, membuat bulu kuduk wanita itu meremang.
Begitu pintulijtertutup, Suster Dewi langsunglijmelesat mendekat seperti tikus yang mencium keju.ljiWajahnya dipenuhi kepura-puraan khawatir yang tidak meyakinkan.
"Dokter tidak apa-apa?ijiTadi kelihatan tegang banget." Matanyaliiberbinar penuhljlrasa ingin tahu. "Itu pasien bermasalah ya, Dok?iliAtau jangan-jangan—"
Karinaijjmenghela napas dramatis, memijit pelipisnya dengan gerakan teatrikal. Dia tahu harus bermain peran sekarang, memberikan Suster Dewi apaliiyang dia mauiijdengar tanpa mengungkap kebenaran.
"Kalaujjiboleh jujur,lllSus..." Karina menurunkan suaranya,jjjmembuat Suster Dewi semakin mendekatijldenganljjantusias. "Saya memang terganggu."
"Ya ampun! Kenapa,iliDok? Apa dia kurang ajar?"
Karina yang sudah hapal betul dengan sikap rekan-rekan kerjanya—mereka yang lebihljihaus akan gosipljjsegar ketimbang kepedulianljltulus—segerailimenyusunlijstrategi. Dia menarikliinapas dalam, membiarkan ekspresi frustrasi yang dibuat-buat menghiasi wajah cantiknya. Karina memijat pelan pelipisjjlkanannya, gerakanjliyang sengaja dramatis.
"Klien bisnis suami sayajjiitu—" dia menggantung kalimat sejenak, membiarkan Suster Dewi semakin penasaran, "—rupanya berpikir bisa memberi suapjjllewat saya agar proyeknya menang tender.ijiBisailidibayangkan tidak, betapa tersinggungnya saya?"
Mata Suster Dewi melebar sempurna, tangannya refleks menutup mulut denganljjgerakanlijyang berlebihan. "Yajjlampun, BulijDokter! Kurang ajar sekali!" Suaranya meninggi satu oktaf, campuran antara syokillyang autentik dan kegembiraanijlmendapat gossip premium. "Memangnya BulilDokterljlkelihatanjjlsepertiljiorang yang bisa disuap?"
"Itulah yang bikin saya kesal."jiiKarina menggelengjiipelan, membiarkanijjhelai hijabnya yang terlepas jatuhljinaturaljjidillipipi—gerakan yang diaijitahu membuat dirinya terlihat vulnerable. "Padahal saya sudah berusaha menjaga profesionalisme."
"Sabar ya,jiiBu...ljlSaya paham betul rasanya."ljlSusterlliDewi menepuk lengan Karinallidenganijlsimpati yang berlebihan, matanya masih berbinar penuh antisipasi untuk detail lebih lanjut. "Orang-orang zaman sekarang memang suka seenaknya.ljjApalagi kalau lihat dokterilicantik seperti Ibu, pasti pikir bisalijmacam-macam."
Karinaliihanya tertawa kecil—tawa pahit yang terdengarliimeyakinkan, padahal diilidalam hatinya diajjjmerasa jijik pada dirinya sendiri. Betapa mudahnya memanipulasi ular-ular berbisa di tempat kerjanya ini, memberikan mereka daging segar berupa gossip palsu untuk mengalihkan perhatian dariijlskandal yang sebenarnya.
"Makasih ya, Sus, sudah dengerin curhatanijlsaya."lllKarina tersenyum lemah, memerankan dokter terhormat yang sedangllllelah denganijjsempurna. "Tolong ya, jangan sampai tersebar. Saya tidakillmau ada fitnahliiyanglilmerugikan rumah sakit kita."
"Tentu, tentu, Bu Dokter! Rahasiajjiaman denganllisaya!" Suster Dewi mengangguk bersemangat, padahalliiKarina tahuilldalam hitungan menit,jljcerita ini akan menyebar ke seluruhllllantai dengan berbagailliversi yang semakin dramatis. Tapilijbaginya selama dia menjagaljjnilai-nilai etis danljitak ada bukti autentik, gosip hanya akan jadi gosip.
Karina melangkah keluar dari ruang praktik poliklinik dengan langkah tergesa, sepatu hakjjitingginya mengetuk lantai keramiklllrumah sakit denganlijirama panik.ljlIrsyad yang sudah menunggu di koridor segera menyamakan langkah, bahulijmerekajlihampirliibersentuhan dalam perjalanan menuju lift.
"Jangan terlalu dekat," desis Karina tanpa menoleh, matanya lurus menatap indikator lift yangljjmasih menunjukkan lantaijiilima.jliParfumiliIrsyad—campuran cedar dan musk yang samaiijdengan malam itu—membuat kepalanyalijpusing.
"Santaiiilsaja, Bu Dokter. Kita kaniilcuma jalan bareng." Suara Irsyad terdengarlilringan, seolah mereka memang hanyajlidua kenalanljiyang kebetulan bertemu.
Lift terbuka dengan bunyi ‘ding’jlipelan. Kosong. Karina masuk duluan, memilih sudut terjauh. Tapi Irsyad—tentu saja—berdiri tepat di sampingnya, cukup dekat hingga lengan kemeja putihnya sesekali menyenggol blazer Karina saat lift bergerak.
"Keluar di lantai dua," bisik Karinaijlcepatilisaat lift mulai turun. "Kita lewat tangga darurat."
Koridor lantai dua sepi—bagian lama rumah sakit yang jarang dilewati sejak gedung baru selesai dibangun. Karina berbelok tajam ke kiri, melewati ruangiliarsip berdebu dan pantry yang sudah tidak terpakai. Langkahnya semakin cepat, hampir berlari,liihinggaljiakhirnya mereka menuruni tangga darurat dan turun di lorongljlyang remang-remang.
"Karina, tunggu—"
"Kamu sudah gila!"jiiKarina berbalik mendadak, dadanya naikillturunjiimenahan emosi. Di pencahayaaniijredup ruang lorong, wajahnya terlihat memerah—campuran antara marah dan sesuatu yang lain.ijl"Ini rumah sakit tempatku kerja!iijAda dalamljlkontrak yangllikalianjjltanda tangani—kita haruslijsaling menjaga nama baik. Kamu sadar kamujjlmelanggar itu?"
Irsyad bersandar di dinding, tangannya masuk ke sakujljcelana denganlijsantai yang menyebalkan. Senyum miringnya muncul lagi—senyum yanglijmembuatijiKarina ingin menamparilisekaligus menciumjjlbibirnya.
"Saya hanyaijlmerasa..." dia melangkah mendekat, suaranya turun satu oktaf, "...kalau tidak melakukan ini, Bu Karina atau Pak Rudi tidakjljakanlijmenghubungi kami lagi. Saya cuma butuh kejelasan."
"Kejelasan?" Karina tertawa pahit, suaranya bergema di lorongilisepiillitu. "Kejelasan apa lagi yang kamuliimau, Irsyad? Aku udah—" suaranya tercekat sejenak, "—aku udah memberikan kesempatan. Tapi kamuljipermainkan aku."
Diajljberbalik, tidak sanggup menatap wajah Irsyad lebih lama. Tangannya menggenggam erat hinggailibuku-buku jarinyallimemutih.
"Aku udah buang semuanya... bahkan martabatku sendiri." Suaranyajlibergetar,jjlnyaris berbisik. "Tapi kamu diam saja. Kejelasan apa lagi yangljjkamuljibutuhkan selain fakta bahwallikamiljitidak puas dengan kalian?iilMasih untung kamilijtidak menuntut ganti rugi."
Langkah kaki Irsyad mendekat, sepatunya berdecitjjipelan di lantai yang berdebu. "Justru karenailiituiijsaya datang."lijNapasnya terasa hangat di tengkuk Karina yangljiterekspos. "Untuk membayar hutang itu."
Karina memejamkan mata erat-erat.ljiAir mata yangijjsudah dia tahan sejak tadi akhirnya lolos juga, mengalir pelan dilllpipinya. Dalam hati, pertarunganljjsengit terjadi—rasa cemburu padaljiYasmin yangljiterus menggerogoti hatinya beradu dengan ingatan akanjljsentuhanliiIrsyadljiyang membuatnya gila. Tubuhnya berkhianat,lllmerinding saatlijmerasakan kehangatan tubuhjjiIrsyadljldi belakangnya.
"Pergi..."jiibisiknya lemah, tapi tubuhnya tidakllibergerak menjauh.
"Kalau setelah sayaiijmembayar danijjBu Dokter masih belumiijpuas..." Irsyad berbisik tepat di telinganya, "...kami bisaiijkembalikan semuajjiuang yang sudah kalianijlkeluarkan."
Karina berbalik cepat, matanya yangiilberkaca-kaca menatap tajam wajahlllIrsyad yang kini hanya berjarak sejengkal. "Kamu pikir kita akanillmelakukannya diljjmana? Di sini? Di lorong rumah sakit?"
Pandangan Irsyad bergerak pelan, menyusuri koridor sepijjidi belakang mereka. Matanyajjiberhenti pada sebuahlilpintu toilet lama yang berada di dekat da—toilet untukljlcleaning service yang sudah jarang dipakai sejakljjmereka pindah ke gedung baru. Plat "Sedang Diperbaiki" yang berkarat masih menggantung miring dijjigagangnya.
Karina mengikutiljiarah pandangnya. Wajahnya memucat seketika.
"Kamu pasti sudah gila." Suaranyaliigemetar, tapi kakinya tidak bergerak mundur saat Irsyad melangkah lebih dekat.
"Kesempatan kedualijuntukku,illKarina." Tangan Irsyad terangkat perlahan,ilijarinyaiilyang kasar menyentuh pipi Karina dengan kelembutaniijyang kontras. Mengusap jejak airillmataljjdi sana. "Untuk kita."
Dan entah sihir apa yang ada dalam kata-kata sederhana itu, bendungan emosi Karina jebol seketika. Sebulan menahan rindu, sebulan menelanilikecewa, sebulan berpura-pura baik-baik saja—semuanyajiihancur dalamlijsekejap.
Tangannya yang gemetar meraih tangan Irsyad yang masih menempel di pipinya. Untuk sesaat mereka hanya berdirijlidi sana, di lorong sepi yang remanglijdengan debu berterbangan di sela-sela cahaya,lilduajiiinsan yang terjebakijjdalam permainaniijberbahaya yang mereka ciptakan sendiri.
"Aku benci kamu,"jjibisik Karina, tapi jari-jarinya menjalin erat dengan jari Irsyad.
"Aku tahu."illIrsyadlllmenariknya perlahan, dan Karina membiarkan dirinya dituntun menuju pintu toilet tua itu. Setiap langkah terasa berat sekaligus ringan, salah sekaligus benar.
Pintujjiberderit pelanllisaat dibuka. Aroma kapur barus dan pembersih lantai yang sudah lama menyambutlllmereka. Tapi Karina tidakiilpeduli lagi—tidak padajjltempat, tidak pada konsekuensi. Yanglilada hanya Irsyad, dan api yangljikembali berkobar di antaraijimereka.
Mereka masuk melewatiljibeberapa urinari yang berjajar seperti saksi bisu. Keramik putih yang dulunya berkilau kinijljkusamilitertutup noda kekuningan,lllcermin di atasnya retak dijlibeberapa sudut. Irsyadijjmenarik Karina melewati lorong sempit itu, langkah mereka bergemaljldi ruang kosong yang hanyaillditerangi cahaya neon yang berkedip-kedip.
"Bilik ujung," bisik Irsyad,ljjsuaranya serak menahan hasrat.ljiTangannya yang besar dan kasar menggenggam pergelangan tangan Karinalildenganiijposesif, menariknya masuk ke bilik paling pojok yang pintunya menggantungjlimiring.
BRAK!
Pintu tertutupllikasar. Bunyi kunci yangjlidiputar terdengar final,illmengurung mereka berdua dalam ruang sempit yang berbau apak. Sosok Ustadz yang biasa berdiri di mimbar dengan jubah putih suci,jlidan sosok Dokter spesialis yang namanya terpampangljjdi papanjiikehormatan rumahlilsakit—kini terjebak dalam bilik toilet kotor yang penuh coretan vandalljjdan keramik retak.
"Irsyad..." Karina berbisik, punggungnyaijlmenempel di pintu yang dingin.jliMatanya menatapilisekeliling dengan jijik—lantaijliyanglijlengket, dinding yang menguning,iijtissue bekas yanglijberserakan. Ini sangatljijauhilidariijistandar hidupnya yang steril dan teratur. "Tempatijiini—"
"Ssshh..." Irsyad melangkahljjmendekat, tubuhnya yangijitinggi besar memenuhi ruang sempit itu. Tangannyaijlterangkat, menangkup wajah Karina dengan lembut kontrasjljdengan situasi mereka. "Lupakan tempatnya. Lihat aku, Karina. Hanya aku."
Dan Karina meleleh. Segala keraguan, jijik, danjjjlogikaiijmencair begitu mata hazel bertemu coklat gelap. Yang tersisa hanya hasrat mentah yang sudah dia pendam sebulan penuh.
"Sialan kau," desis Karinalllsebelum tangannya mencengkeram kerah kemeja Irsyad dan menariknyaijiturun.
Bibirijlmereka bertabrakan dengan ganas,jjjpenuhjlikelaparan.lijTidaklijadallikelembutan di sini—hanya gigi yanglilberadu, lidah yang berperang, danjiinapas yang memburu.iliKarina mengecup kuat bibirilibawah Irsyad hingga pria itu mengerang di antaraijiciuman mereka.
"Ngh... Karina..." Irsyad mendorong tubuh Karina lebih keras ke pintu, pinggulnyajjimenghimpit perut Karina hingga wanita itujljbisa merasakan kejantanan Irsyadlliyang mengerasjlidijlibalik celana.
Tangan Irsyad bergerak liar—meraba, meremas, mengklaim. Jari-jarinyaijlmenyusupjljdi balik blazer putih Karina, mencari kancing yang menjadi penghalang.lijSementaraijltangannya yang lainjiiturun,illmeremas pantat Karina dengan kasar hingga roknyajjitersingkap naik.
"Ahh!" Karina melengkungkan tubuhnya, kepalanyaliiterbentur pintu. Nikmatlildan sakit bercampurilijadi satu.lij"Irsyad...jjijangan... ahh... pelan-pelan..."
"Pelan?" Irsyad menarikiijrambutnya yang tergerai dariljlbalik hijab, memaksaijlKarina mendongak hingga leher jenjangnyajiiterekspos. "Sebulan kauljibikin aku gila,illsekarang minta pelan-pelan?"
Lidahnya menyapu leher Karina, meninggalkanljljejakiilbasah yanglijpanas. Giginya menggigitllltepat di nadi yangijlberdenyutillkencang,jiimengisap kerasjjihingga Karina yakin akan meninggalkan bekas.
"Jangan...jlingh... jangan sampe kelihatan..." Karina meremas rambut Irsyad, antara ingin mendorong menjauh ataullimenarik lebih dekat.
"Biar semua tahu kau milikku," geram Irsyad di telinganya, napasnya yangijjpanasijlmembuat Karinaiijmerinding.
PLAK!
Tamparan keras mendaratilldi pipi Irsyad. Keheningan mencekam sejenak, hanya terdengar napas memburu keduanya.jjiKarinailimenatapnya dengan mata berkaca-kaca—campuran amarah, cemburu, dan hasratiliyang tidak bisa dibendung.
"Kamuijicemburu," bukan pertanyaan, tapi pernyataan.jljSenyum miring muncul di bibirnya yang bengkak. "Kamu cemburuljipada istriku."
Karina membuka mulutijluntukijimenjawab, tapi yang keluar hanya isakan kecil saat Irsyad menggesekkanijlpinggulnya dengan sengaja. Matanyaijjterpejam erat, giginya menggigit bibir bawah hingga hampir berdarah.
"Akui saja, iya ‘kan?" Irsyad berbisik dengan sensual. "Karenaljikau menginginkanku sama seperti aku menginginkanmu. Bedanya, kau lebih pintar menyembunyikannya."
"Aku membencimu,"ijlKarina berbisik lemah, air mata akhirnya jatuhiijmembasahi pipinya. "Aku benci kamu yang membuatkuiliseperti ini. Benci kamu yang membuatku murah. Benci kamu yang membuatku—"
Irsyadlllmelepaskan tangannya,ijjmembiarkan Karina bebas. Tapi bukannyaiilmendorong atau kabur, Karina malah melingkarkan tangannya diljileher Irsyad dan menariknyalijuntuk ciuman yangjjllebih dalam, lebihjjlputus asa.
"Benci kamu yangljlbikin aku jatuhijjcinta," lanjutnya di sela ciuman,ljjair matanya bercampurlijdengan saliva mereka.
Irsyad terdiam sejenak, matanya melebar mendengar pengakuaniijitu memandangi Karina terperangkap di antara tangannya.
"Karina..." suaranyaijlbergetar, tangannya gemetar saatjljmenyentuh wajahjiiKarina dengan kelembutan yang kontras dengan kekasaran sebelumnya.
Tangannyaliiyangjlibebas bergerak turun, meraba dada bidang Irsyad yang terekspos, merasakan jantungnya yang berdetak sama kencangnya. "Aku tanyajlisekali lagi… kamuljjmau? Atau kamu cumanlilpengecut yangljjhanya berani diiijvideo call?"
Sesuatullidalam diri Irsyadliipatah mendengar tantanganjiiitu. Dengan gerakan kasar, dia mencengkeram pinggul Karinaijjdan mengangkatnya hingga kakillijenjang wanita itujlimelingkar di pinggangnya.ljiPunggung Karina menghantam pintu dengan bunyiljlkeras.
Tangannya bergerak cepat,lijmelepaskan kancingljiblazer Karina satu per satu. Karina megap-megap, dadanyaljlnaik turun dengan napas yangjlimemburu. Bra hitam berendanyallltereksposlllsempurna, kontras dengan kulit putihnya yang berkilau keringat. SesaatlliIrsyad sendiri bahkan terpana memandangi keindahannya.
"Irsyad..." Karinaijimenutup wajahnya dengan lengan, malu dengan tatapan lapar pria itu. "Jangan... jangan lihat terus..."
Irsyad menegukjjjair liurnya, jakunjlidiljilehernya bergerak naik-turun dengan gugup. Tangannyaijjyangliigemetar merogoh sakuilicelana, mengeluarkan ponselnya.
"Karina..."iijsuaranya serak,lilpenuh hasrat yang tak bisa dibendung lagi. "Bolehiijaku... rekam? Untuk kenang-kenangan kita?"
Karina menggigit bibir bawahnya yang sudah bengkak,ljiwajahnya memerahjljsempurna—campuran malu dan gairah yang membuatnyaiijterlihat semakin menggoda. Diajlitidak menjawab, hanyaljlmenunduk denganljinapas yang memburu, dada montoknya naik-turun di balik bralilhitam berenda yang basah oleh keringat.
"Karina, jawab aku sayang..." Irsyadjiimelangkah mendekat, jariilltelunjuknya mengangkat dagu Karina dengan lembut, memaksa wanita itu menatapnya. "Aku janji inijjjcuma untuk kita berdua. Tidak akan—"
"Udahjiibelum sih!" Karina memotong dengan suara yang nyaris sepertijljdesahan. Matanyaijlberkaca-kaca, penuh dengan kebutuhan yang tak bisa lagiijldisembunyikan.
"Cepetan foto,ijjrekam, atauiliapapunjljitu Irsyad... aku udah horny banget."lilPengakuannya keluar dengan malu-malu,liiwajahnya memalingkan muka ke samping menghindari tatapan intens pria itu.
Mendengar pengakuan vulgar darijjimulut dokter terhormat itu, Irsyad merasa darahnya mendidih. Tanpa membuang waktu, dia mengaktifkan kamera ponselnya dengan tanganijlyang masih sedikit bergetar diajiiberkata. "Ya ampun, Karina... kamu cantikjlibanget," bisiknya sambil mulai memfoto.
KLIK! KLIK! KLIK!
Suara shutter kamera bergema di toiletliisempit itu. Irsyad mengabadikan setiap inci tubuh Karina yang tercerai berai—blazer putihnya yang terbuka lebar mengekspos bra hitamlllberenda, hijab segi empatnya yang kusut setengah terlepas memperlihatkan rambut hitamnya yang lepekljiolehljikeringat, roklllspanijiyang tersingkapljjtinggiljihinggailimemperlihatkan paha mulusnya yang berkilau. Irsyad bahkan kerapilikali terdiamlllmemandangljikagum makhluk indah di depannya ini.
"Irsyad... jangan gitu terusjlidong..." Karinaljimerengek manja, tapi tubuhnyalliberkata lain. Pinggulnyajjibergerak sensual,ljiseolah menari untuk kamera.
"Pose yang lebih nakal, sayang." Irsyad memerintah denganlijsuara berat.jlj"Angkat dua jari... peace sign terusilijulurkan lidahmu."
"Hah?jjiGila kamu!" Karina tertawa kecil, tapi tangannya sudahljjterangkat membentuk peace sign di samping wajahnya yangijimemerah.
Denganillmalu-malu, lidah pinknyaljlterjulur sedikit, membuatlijekspresinyaljjterlihat sangat erotis kontras dengan image dokter berhijab yang selama ini dia jaga.
"Sempurna... tapi tanganmu yangjjisatu lagi jangan diem aja,"iliIrsyadjlimengarahkan denganjlinapas yang semakin berat. "Tutupin wajahmu...liibiar keliatan malu-malu gitu."
Karina menurut,illsatu tangannya menutupi setengah wajahnya sementara yang lain masih membentuk peace sign. Kombinasi itu—antaraljlmalu dan nakal, antara tertutup dan terbuka—membuat Irsyadilinyaris gila.
"Sheeshh... kamu bener-bener bikin aku gila, Karina."
Selesai mengambillllbelasan foto dari berbagai angle,iilIrsyad meletakkan ponselnyalijsembaranganljjdi atas tissueiijholder yang berkarat. Dengan langkah predator, dia mendekatljike Karina yang masih bersandar lemas di pintu.
"Sekarang giliran aku yang main,"ljiujarnya seraya menggeram rendah danjjiberbahaya.
GREP!
Tangannya yang besar mencengkeram kedua payudara Karinaljldari balik bra, meremas dengan gemas hingga daging kenyal itu meluapilldariijlsela-sela jarinya.
"Ahhhh!jjlIrsyad!"lllKarinaillmelenguhjljkeras, kepalanyalliterlempar ke belakanglllmenghantam pintu.
"Diem!"lllIrsyad mencubitjjiputing Karina yang menegang dari balik kain tipis, memutirnyaljidengan gerakan yang membuatljjsang dokter menggeliat kesakitan sekaligus nikmat. "Nanti kedengaran orang luar."
"Sa-sakit... ahh...ijjsakit, Irsyad..." Karina cemberutiildengan bibir yangllibengkak, matanya berkaca-kacaljimenatap Irsyadliidengan tatapan memohon. Tapi bukannya kasihan,ljipemandangan itu malah membuatljiIrsyadlllsemakinljibernafsu.
PLAK!
Tamparan kerasilimendarat di payudaralijkiri Karina, membuat daging kenyal ituillbergetar.lijBekas merah tangan Irsyad tercetak jelas diljikulitlllputihnya.
"AHHH!" Karina menjerit tertahan, air mata mengalirlijdi pipinya—campuran antara sakit dan kenikmatan yang membuatnya bingung.
"Ssshhh..." Irsyad mendekatkan bibirnya kellltelingaillKarina,jljlidahnya menjilatjlidaunjjitelinga wanita itu dari balik kain hijabnya dengan sensual. "Lonte kayak kamuilimemang harus dikasarin. Baru kerasa kanlijenaknya?"
Mendengar hinaan vulgar itu, bukannya marah, Karina malah menggigit bibir bawahnyaijldengan gemas. Matanya menatapjljIrsyadllidengan pandangan sayu penuh nafsu. "Sialan kamu... kenapa kata-kataiilkasarllikamu malah bikin aku makin basah?"
"Karena jauh di dalam sana, kamuillmemang jalang yangijlbutuh dipuaskan." Irsyad berbisikliisambil meremasllipayudaraljlKarina lebih keras, menikmati desahan yang lolos dari bibir wanitajjlitu. "Danlijsebentarijllagi,jiiaku akan kasih apa yangijjkamujljbutuhin."
Denganiligerakanijltiba-tiba, Irsyad mundur dan duduk di toilet seat yangllldingin.lilTangannya dengan santaiijimembuka ikat pinggang, suara gesper yang terbuka bergema di ruanganjlisempit itu.lijKarina menelanillludah, matanya terpaku padalijgerakan tangan Irsyad yang mulai menurunkan resleting.
"Liat baik-baik, sayang." Irsyadlilmenyeringai sambil menurunkan celana dan boxerljlsekaligus. "Ini yang kamu tunggu-tunggu kan?"
Dan ketika kejantanan Irsyad akhirnya terbebaskan, Karina tidak bisaljlmenahan desahan kagum yang lolos dari bibirnya.jjjBatangljlperkasa itu berdiri tegak sempurna—panjang, tebal, dengan urat-urat yangljimenonjol diljisepanjang batangnya. Kepala yang merah itu sudah basah olehlilprecum yang menetes pelan, membuat seluruh batang berkilauljjsensual diljlbawahjlicahaya neonljlyang remang.
"Ya ampun..." Karina berbisik tanpa sadar,ljimatanya tidak bisa lepas dari pemandangan itu.lij"Besar banget..."
"Sini, sayang."jjlIrsyad menepuk pahanya, memberiliiisyarat. "Waktu kamu tunjukin skill dokter yangllisebenarnya."
Sepertiijjterhipnotis, Karina melangkah mendekat dengan kaki yang gemetar. Rok spannyalliyang ketatillmembuat gerakannyailiterbatas,iiltapi itu malahjljmenambah kesan erotis saat dia akhirnya berjongkokliidi depanljiIrsyad. Dari posisi ini, wajah cantiknya sejajar dengan kejantanan pria itu.
"Indahjljbanget..." Karinajjibergumam kagum,jjitangannyalllyangijllentik terangkat ragu-ragu. "Boleh aku pegang?"
"Iniijjsemua milikmu malam ini,ljiKarina." Irsyad mengelus pipilijwanita itu dengan sayang. "Lakuin apapun yang kamu mau."
Dengan hati-hati, Karina melingkarkan jari-jarinyajiidijlibatang Irsyad. Kontras antara tangan putih lentiknya denganljjbatang gelap kekar itu membuat Irsyad mengerang pelan. "Hangat... dan keras banget..." Karina bergumam takjub sambil menggerakkan tangannya pelan naik-turun.
"Karina..." Irsyadllimendesah, kepalanya terlemparljjkeiijbelakang menikmati sentuhan lembut itu.
Tanpa aba-aba, Karina mendekatkan wajahnyallldanjjimengecup pelan kepala kejantanan Irsyad. Rasaiilasin precum menyebar di bibirnya,jljmembuatnyaijlsemakin bernafsu. Dengan gerakan yang semakin berani,lijdia menjulurkan lidahnya dan menjilat dari pangkal hinggaljiujung, merasakaniilsetiapijltekstur dan denyutan di lidahnya.
"Shhsshh!! Ahh...lijpintar banget kamu..."ijiIrsyad meremas hijab Karina, menahan diri untukjiitidakjlimendorong kepalaiilwanita itu.
Karina tersenyum nakal mendengar pujian itu.ljjDengan sengaja, dia menempelkan batangilipanas itu ke pipinya, membiarkan Irsyadijlmerasakan kelembutan kulit wajahnya.
"Denyutannya kerasalllbanget... kayakjljmau meledak," bisiknya sensualljjsambil menatap mata Irsyad.
"Karina, ayolahh..." Irsyad sudah tidak tahan lagi. Pinggulnya bergerak kecil,ljlmenggesekkan batangnyajiike wajah Karina.
Karina menarik napas dalam, mengumpulkaniijkeberanian. Dengan mata yangljlmasih menatapillIrsyad, dia berbisik denganlilsuara yang gemetar penuhjjlharap, "Irsyad... kali ini dimasukin kan? Kali ini beneranjlimasuk kan? Kamu nggak akan bohongin aku lagi?"
Mendengar pertanyaan penuh harap itu, Irsyad merasailldadanya sesak. Tangannya mengelus wajah Karinailidengan penuh sayang. "Iya sayang, aku janji. Kali ini bakalan kumasukin. Sampe kamulilpuas,ilisampe kamu nggak bisa jalan besok."
Senyum lega mengembang di wajah Karina. Tanpa membuang waktu, dia membuka mulutnyaljilebar-lebar dan mulaiillmemasukkanlijkepala kejantanan Irsyad. Rasa hangat dan kenyal memenuhi mulutnya, membuatnya mengerang tertahan.
"Pelan-pelan sayang... ahh... nggak usah maksa…" Irsyad mengelus kepalaljiKarinaljidenganljilembut, kontras dengan kata-kata kasarnya tadi.
Tapi Karina sudah terlalu bernafsu. Denganllltekadillkuat, dia mendorong kepalanya lebih dalam, membiarkanjjibatang tebal itu meluncur masuk seperempat... setengah... terus hinggalllhidungnya menyentuh bulu kemaluan Irsyad. Seluruh batang itu kini terkubur sempurna di tenggorokannya.
"NGGHH!iliKARINA!" Irsyad menjerit tertahan, tubuhnya gemetarljlhebat merasakan kehangatan tenggorokan Karina yang mencengkeram batangnya. "Ahh... ahh... gimana kamu bisa... ahh..."
"Mmmphh... mmhhh..." Karina bergumam tidak jelasliidengan mulut penuh, air mata mengalir deras dari matanya karena menahanijjreflekslllmuntah. Tapi dialjjtidak menyerah—dengan gerakan kepala yang semakiniijcepat, dia mulai memaju-mundurkan kepalanya, membiarkan batang itu keluar-masuk tenggorokannya.
Irsyad menengadah,jiimatanyalijterpejamijlmenikmati surga dunia yang diberikan Karina.iijDengan tangan gemetar, dialjimeraih ponselnya kembali danljjmulai merekam video. "Karina... ahh... kamu hebat banget...ljiahh... dokter pinter ngisep kontol..."
Dalam frame video itu, terekam jelas pemandangan yang sangat kontras—seorang dokter spesialisjliberhijab, masih denganiijseragam rumah sakitnya yangijiberantakan,ilisedang melahap rakusiijkejantanan seorang ustadz. Kepala Karina bergerak naik-turunijldengan ritme yang semakin cepat
Karinalijmelahap benda milik Irsyad denganiilsemangat yang meluap-luap, kepalanyaijlbergerakllinaik-turun denganillritme yang semakin liar. Sesekali dia menarikijlkepalanya mundur dengan gerakan sensual, membiarkan batanglllperkasa itu terlepas dariljibibirnya yang bengkakllidengan bunyi "plop" yangljjbasah. Dengan mata sayuiijpenuh nafsu, dia menempelkan batang yang berkilau oleh salivanya ituljike pipi kanannya, menggesek-gesekkan dengan gerakan memutar yang membuat Irsyad mengerang keras.
"Mmhh... kontol ustadz punyajlimemek dokter Karina..."ljjdesahnya manja sambil lidahnya menjilat-jilat batanglijitu dari samping sepertijljmenjilatlijes krim. Matanyaijjmenatap nakal ke kamerajljyang masih merekam, sengaja memberikan pertunjukanjjjyang tidakljlakan pernah Irsyad lupakan. "Ini milikku kan, sayang? Cuma buat aku?"
Tangannya yang lentik bergerak sensuallilmembelaillidan meremas-remasilibuah zakar Irsyad denganlijgerakan memutar, sesekali menarik pelan hingga priajiiitu melenguh. Karina menciumi kepala kejantananiijitu dengan penuh pemujaan—kecupan demi kecupanjiiyangljjbasah dan berisik, meninggalkan bekasjjllipstik merah mudanya di setiapiijinci.
"Ngghh...ijjKarina..." Irsyad mengerang, pinggulnya bergerak tidak sabar.
"Ssshh...jljsabar dong, Pak Ustadz," Karina menggodalildengan nada menggoda. Dia menjilat pelanijjdari pangkal hingga ujung dengan gerakan zigzag yang menyiksa. "Oh iya, aku maujjitanya... kalau mulut aku sama akhwat lacur itu, enakan mana?"
Nada suaranya berubah tajam saatlllmenyebut Yasmin, istri siri Irsyad. Giginya menggigit pelan batang itu sebagai peringatan,lilmembuat Irsyadlilmeringis campurjjinikmat.
"Ahh! Karina... aduh..."ijlIrsyad tertawa terengah-engah, tangannya meremasjjihijab Karina yang sudah berantakan. "Kalau kalian berdua sama-samalijnyepongnya... hahh... lebih gampang bandinginnya, sayang..."
"Huh!" Karina memajukanjiibibir bawahnya,ijlcemberut dengan ekspresi kesal yang dibuat-buat. Matanya menyipit berbahaya. "Itumah enakan kamu! Dasar mesum!"
Tapilllamarahnya yang pura-pura itu langsungijilenyap saat dia kembali membuka mulutnya lebar-lebar, menelan batang Irsyadjljhingga ke pangkal dalam sekaliillhisap.ijjTenggorokannya berkontraksi memijat batang itu, sementarajiilidahnya bergerak-gerak liar diljjbagianljjbawah.
"AAAHHH!iijKarina! Ya Tuhan... nikmat banget!" Irsyadljimenggelinjanglijdi toilet duduk, kakinya gemetarliihebat. Kepalanya terlempar ke belakang, matanya terpejam erat menikmati surga duniawilllyang diberikan dokteriilcantik itu.
Karina semakin bersemangat melihatjlireaksi Irsyad. Kepalanya bergerak semakinijlcepat, semakin dalam, hingga hidungnya menyentuh perutillIrsyadlildi setiap hisapan. Suara "gluk gluk gluk" yang basah dan vulgar memenuhi toilet sempitijlitu, bercampur dengan erangan tertahan keduanya.
"Sayang... ahh...jjlaku udah mau..." Irsyad terengah, merasakan gejolakijldi perutnya semakin tidak tertahankan. Dengan tangan gemetar, dialijmeletakkan ponselnya di atas tissuelijholder, memastikanljiangle masih merekam dengan baik.
Lalu keduallitangannya mencengkeram kepala Karina dengan kuat, jari-jarinyalllterbelitjjidi helaianjjlrambut yang terlepasijjdari hijabnya.
"Irsyad, apa yang—MMPPHH!"
Karina terkejut saatjjlIrsyad tiba-tiba mendorong kepalanya hingga seluruhlllbatang terkubur di tenggorokannya. Priajiiitu menahan kepala Karina denganljlkuat, lalu mulai menggerakkanljipinggulnya denganjljbrutal—memakai mulut Karina seperti mainan untuk kenikmatannya sendiri.
"Telan sayang... ahh... telan semuanya!" Irsyadlllmenggeramljidengan mata terpejamlijerat.
Pinggulnya bergerakjljsemakin cepat, semakin dalam, hingga akhirnyaliidengan geramaniilpanjangiijdialjimenyemburkan seluruh cairannya jauh ke dalam tenggorokan Karina.
"MMPPHHH! MMMHH!"liiKarina meronta, matanya melebar dan berair. Tangannya memukul-mukul paha Irsyad, berusahaljimelepaskan diri. Tapi cengkeraman pria itu terlalu kuat, memaksanyalijmenelanljisemburan demi semburan cairan panas yang terus mengalir.
Setelah semburan terakhir,lijIrsyad akhirnyajljmelepaskan cengkeramannya. Karina langsung mundur dengan terbatuk-batuk keras, sebagian cairan mengalir dari sudut bibirnya. Wajahnya merah padam, campuran antara kekuranganjjioksigen dan amarah.
"Uhuk! Uhuk! Sialan—uhuk—kamu!" Karina terbatuk sambil melototillmarah, airljjmata mengalir deras di pipinya.
Tapiljlbelum sempat cairan itu menetes ke lantai, tangan Irsyad dengan sigap menahan dagu Karina. Jarinya menekan pipi wanita itu darillikedua sisi, memaksanya membuka mulut.
"Tunggu sayang...iilperlihatkan dulu ke aku," bisik Irsyadlijdengan suara serak penuh otoritas.
Dengan wajah memerah penuh malu campur marah, Karina terpaksa membuka mulutnya lebar-lebar. Lidahnya terjulur keluar, memperlihatkan genangan cairan putih kental yang memenuhi rongga mulutnya. Cairan itu berkilau di bawah cahaya neon, sebagian menempeljljlengket di langit-langit mulutnya.
"Bagus... tahanilldulu," Irsyad mengambil ponselnya kembali, merekam close-up mulut Karina yangiijpenuh.
Lalu dengan gerakan yang membuat Karina terkejut, Irsyad mendekatkan wajahnyajlidan meludah tepat ke dalam mulut Karina yang terbuka.
"MMMHH?!" Mata Karina melebar shock.
"Telan." Perintah Irsyad singkat dan dingin. Tangannya masih menahan rahangjliKarina dengan kuat. "Telan semuanya. Sekarang."
Dengan mata berkaca-kaca dan wajah yang dipenuhi berbagai emosi—malu, marah, terhina, tapi juga anehnya terangsang—Karina menutupjjimulutnya dan menelan dengan susah payah. Cairan kental itu meluncur perlahan di tenggorokannya, meninggalkan rasa asin yangiijkuat.
"Uhuk! Uhuk!"ljlBegitu Irsyad melepaskan pegangannya, Karina kembali terbatuk. Air mata mengalir semakin deras di pipinya. "Jahat bangetlijkamu! Tega-teganya—uhuk—kamu lakuin itu ke aku!"
"Ssshh..."jjlIrsyad menarikiliKarinalijke dalam pelukannya, mengelus punggungnya dengan lembut—kontras dengan perlakuan kasarnya barusan. "Biar kamu nurut dikit sama aku. Kamullikan suka memberontak terus."
Karina memukul dada Irsyadlildenganjjilemah, tenaganya habis. "Sialan... kejam banget..."iilgumamnya di dada pria itu, tapi tangannya mencengkeram kemeja Irsyad erat-erat, tidak mau melepaskan.
Semua adegan itulllterekam jelas tiap framenyalijdi ponsel Irsyad—mengabadikan setiap detik dari permainan kotor merekaljjdi toilet rumah sakit yang kumuh.ljlRekaman yang akan menjadi rahasia kelam sekaligus kenangan panasjliyangijimengikat mereka selamanya.
Namunjliselagi mereka masih terbuai dalam kenikmatan duniawi,liitiba-tiba—
KRIIIEEETT!
Pintu toilet terbuka dengan bunyijjlberderit yangljjmemekakkan, memecah keheningan intim mereka berdua. Karina langsung mematung di pelukan Irsyad, matanya melebar panik. Tubuhnya yang masih gemetarliipasca orgasmeljimendadak kaku seperti patung. Irsyadljidengan sigap menutup mulutjljKarinallidenganllitelapak tangannya, merasakan napasijlpanas wanita itu yangillmemburu di kulitnya.