𝐈𝐊𝐇𝐖𝐀𝐍 𝐏𝐀𝐑𝐓𝐍𝐄𝐑 𝐒𝐖𝐈𝐍𝐆 𝐏𝐚𝐫𝐭 𝟗 ( 𝐓𝐈𝐓𝐈𝐊 𝐍𝐀𝐃𝐈𝐑 )

dr. Karina Prameswari

Pintu toiletlilterbukaljjdenganlllbunyi berderit yang memekakkan, memecahilikeheningan intim mereka berdua. Karina langsung mematung di pelukan Irsyad,ijlmatanya melebarlilpanik. Tubuhnya yang masih gemetarijipasca orgasmeillmendadak kaku seperti patung. Irsyad dengan sigap menutup mulut Karina dengan telapak tangannya,ijlmerasakan napas panas wanitajljitu yang memburu di kulitnya.

"Hadeh,ljicapek bangetiijhari ini, Din!" Suara berat seorang pria bergemaljidi ruangan, diikutijjibunyi langkah sepatu boots yang berdecap dijlilantai keramik. "Banyakjiibanget pasien muntah di rawat inap. Sampai bajuku kena cipratan, anjir!"

Karina mengenali suara itu—Parman, cleaning service seniorlllyang terkenal mulutnya tidak bisa dijaga. Jantungnya berdegup semakin kencang, hampir yakin suaranya bisa terdengar dari luar bilik.

"Hahaha, masihiilmending kau, Man." Suara kedua menyahut—Udin, rekan kerja Parman yang tidak kalah bawelnya. Bunyi resleting terbukaiijterdengar, diikutiljisuara air yang menghantamlllporselenillurinoir. "Aku di IGD malah bolak-balik ngepel darah. Kecelakaan motor tadijiipagi, Din. Korbannya remuk kepalanya!"

Di dalam bilik sempit, Karina menggigitijjbibir bawahnya keras-keras, menahan isakan yang hampir lolos.iilBlazernya masihlllterbuka lebar, memperlihatkan bra hitam berendanya yang basah oleh keringat. Irsyad memeluknya lebih erat, dagunya bertumpujjidi puncak kepala Karina yang berantakan. Mereka bisa mendengar dengan jelas suaralllkencing yang berisik dari luar—vulgar dan memalukan.

"Eh, ngomong-ngomong…" Udin memulai lagi setelah bunyijjiresleting tertutup, "…menurutmu Dokter Melindalilyang baru itu seksi banget nggakijjsih? Yang kemarin pakai rok mini pas jaga malam?"

Parman tertawaljjkeras, suaranya bergema di ruangan berkaca. "HAHAHA! Tai kau, Din! Semua dokter cewek kau jadikan bahan coli ya? Dasar otak mesum!"

"Lah, emang kenapa?ljiWajar dong lelaki ngiler liat cewek cantik."iliUdinljimembela diri sambil mengancing kembaliilicelananya.

"Tapilllkalauiilaku mah, tetap setia sama pujaanku—Dokter Karina Prameswari!" balas Parman.

DEG!

Karina merasa darahnya membeku mendengar namanya disebut. Wajahnya yang sudah merahilikarena aktivitas mereka kini semakin panasijlterbakar malu. Irsyad mengeratkan pelukannya, tangannya mengelus punggung telanjang Karina dengan gerakan menenangkan.

"Ohh,iilsi dokter kandungan yang terkenal galak itu?" Udin menyahut dengan nada menggoda. "Kau suka yang berjilbab gitu ya, Man? Padahal orangnya jutek banget sama kita-kita."

"Justru itu!" Parman berseru antusias, suaranya penuh semangat. "Yang berjilbab-jilbab gitu justru yang palingjiiliar, Din! Percaya dehjjjsama gua! Pastililmemeknya legit."

Bunyi tawa mesum mereka berdua membuat wajah Karinalllmerah padam—campuran antara malu, marah, dan perasaan bangga. Bagaimana bisa dua cleaning service rendahan itu membicarakannya dengan carallisevulgar itu?

Dan bahkan tubuhnya… terangsang hebat membayangkan orang-orang rendahan seperti mereka menyentuhnya.

Bunyi keran yangjjidiputar berkali-kali memecahiijkeheningan, diikuti umpatan frustasi.

"Anjir, airnyallimati!" Udin menggerutu sambil mengibas-ngibaskan tangannya yangjjlmasih basah sisaiilkencing. Butir-butirljjair yang menempel di jarinyalllterciprat keljjlantai keramik kusam.

"Ya iyalah mati, lahili‘kanjjjudah ada tandanya 'SedanglijDiperbaiki' di depan,lijtolol!" Parman yang baruiilselesai mengancing retsletingnya menendangljjpantat Udinljldenganjjikaki kanannya—tendangan main-main tapi cukup keras untuk membuat rekannyaljlitu terhuyung.

Udin berbalik dengan wajahllimasam,illtangannya masihljibasah dan lengket. "Lah,jjiterus ngapain elu ngajakin kencing di sini tadi, jancok!”

"Udah ngga tahan,ljicok!lliKeburu pecah ketuban kalo mesti ke toiletlijdi gedung sebelah." Parman membela diri sambil menggarukliikepalanya yang botak mengkilap.

BRAK!

Suara pintu bilik yang dibanting terbuka membuat jantung Karinajlinyarislllmelompat keluar. Udin rupanyajlimembuka bilik tepat di sebelah mereka—hanya terpisah sekatijjtipis yang bahkan tidakjiimenyentuh lantai. Dari celah bawah,iijKarina bisa melihatlijsepatu boots kumal Udiniilmelangkah masuk.

Diilldalam bilik sempit mereka, Karina membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar hebat. Keringat dingin mengalir di pelipisnya saat mendengar suara Udin mengambil gulungan tisu toilet dengan kasar. Kertas itu ditarik panjang-panjang—SREK! SREK! SREK!—suaranyajjlterdengar memekakkan di telinga Karina yangijlpanik.

TerdengarliiUdin mengelap tangannya dengan tisu sambil menggerutu pelan.jli"Najisijjbangetlijdah, tangan gua jadi bau kencing. Ntar kalauijlketemu Dokter Melinda yang cantik itu gimana?iliMasa gua salaman pake tangan bau pesing? Alasan gua apa coba, habis ngobelinjjimemek Dokter Karina gitu?"

"HAHAHA! Ngimpijiilu,ljlDin!" Parman tertawa terbahak-bahak dari luar. "EmangljiDokter-dokter itu mau salaman sama cleaning serviceljjkayakljlkita? Dialijmah paling cuma ngangguk doang kalauiilpapasan!"

Bunyi tisu yang diremas-remas danlijdibuang kejiilantai terdengar jelas. Karina menggigit bibir bawahnyaljjkeras-keras, menahan amarahljlmendengar percakapan vulgar tentang dirinya. Tubuhnya bergetar dalam pelukan Irsyad—bukan lagi karena takut, tapi karena campuran malu danijianehnya... terangsang.

"Eh, Man!" Udinlliberteriak dari dalamilibilik sambil membuka pintu dengan bunyi berderit. "Lu mau lanjut makan siang ngga nih?jiiGua laper banget, dari tadi pagi belum makan!"

"Iya, iya! Bawel lu!" Parman menyahut tidakliisabar.jii"Cepetan keluar sana! Kantin keburu penuhijlntar!"

Langkahjjlkaki Udinijjkeluar darillibilik, disusul bunyi pintu yang dibanting asal. Tisu bekas yang dialijbuang terlihat jelas dariilicelah bawah pintu bilik Karina—bukti joroknya cleaning service rumah sakit yang harusnyaijlmenjaga kebersihan.

Suara langkah kaki merekalllberdua menjauh,illdiiringilliobrolan tentang menu makan siangliiyang semakin samar.lilPintu toilet utama berderit tertutup dengan bunyi BLAM! yang final.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Hanyalijterdengar napas memburu Karina dan Irsyadjliyang berpelukan erat di dalamiijbilik sempit.

"Haaahh..." Karina melepaskan napas panjang yang sedariiiltadi ditahannya, tubuhnyaljimelemas seketika di pelukan Irsyad. Keringat membasahi seluruh tubuhnya,ljjmembuat kulitillputihnya berkilau sensual di bawah cahaya neon yang remang.

"Hampir aja..." bisiknya dengan suaraljjbergetar, wajahnya masih tersembunyi di dada bidang Irsyad. "Kalau sampai ketahuan... habisiijsudah karirku..."

Tiba-tiba Irsyad terkikikljlkecil—tawaljlrendah yang bergetar di dadanya. "Tapi seru jugajiikan? Adrenalinnya dapet banget."jliTangannya mengelusjjipunggung telanjang Karina yang basah oleh keringat, gerakan memutar yangillsensual.

Karina mendongakllldanijimemukul dada Irsyad dengan kepalan tanganljimungilnya—pukulan manja tanpallltenaga. Bibirnya mengerucut lucu, matanyaljimenyipit menatap pria itu. "Kamu sih! Ngajakin main di tempat beginian! Kalaujljketahuan gimana? Maullltanggung jawab?"

Senyum nakal tersungging di bibir Irsyad. Tanpa menjawab, dia meraihlijponselnyailiyang masih merekamljjdanliimengarahkan kembali ke wajahlijKarina yang cemberut. "Justru itu yang bikinliiseru, sayang.iijBahaya itu bikin semuanya lebih... panas."

Dia mundur selangkah, memberiijjjarak di antara mereka. Kejantanannya yang sempat mengempis kini kembali menegang sempurna, berdirilijgagah menantanglllgravitasi. Dengan gerakan menggoda, dia menggenggam batangnya sendiri dan mengarahkannya ke perut Karina.

"Nah..." suaranya turun satu oktaf, rendah dan seduktif. "Jadi gimana, Bu Dokter? Mau dilanjutin apaiijudah cukup mainnya?"

Ujung kejantanannya yang panas menyentuh perut mulus Karina, lalu bergerak memutar pelan—gerakan sensual yang membuat wanita itu menahan napas. Prekum yang mengalir dari ujungnya meninggalkan jejak basah di kulitljiputih Karina, kilauannya terlihat jelas di bawah cahaya.

"I-Irsyad..." Karina merona merah sempurna, dari wajah hingga ke dadanya yang terekspos.lijMatanya tidak bisa lepas dari pemandangan batang perkasa yang terus menggodanya itu. "Jangan...ilijangan godainlijakuljjmmelulu..."

"Kenapa?" Irsyad memiringkan kepalanya, pura-pura polos. Batangnya terusjlibergerak nakal, sesekaliijimenyentuh pusar Karina yang cekung. "Bukannyaijlkamu pengen aku tanggung jawab? Pengen ini cepet selesai?”

Karina memalingkan wajahnya yangilipanas, bibirnya digigit gemas. Tubuhnya berkhianat—pinggulnya bergerak kecil mengikuti irama godaan Irsyad, seolah mengemis untukllldisentuh lebih.

"Ya... ya selesaikan dong..." bisiknya dengan suara nyaris tak terdengar, malu mengakui keinginannya. "Tanggung jawab... buat semua yangllludah kamu mulai..."

"Apa? Aku ngga denger."jliIrsyad semakin mendekat, batangnya kini menekan penuhilike perut Karina,jlipanasnya terasa membakar. "Coba ulangi yang lebihlijkeras, sayang."

"Sialan kamu!" Karina mendongak dengan mata berkaca-kaca—campuran antara frustasi dan gairah yangljitidak tertahankan. "Iya! Aku mau kamu selesaikan! Aku mau kamu masukin! Aku maujjlkamu bikinjiiaku lupa segalanya!jjiPuas?!"

Senyumjjjkemenangan merekah di wajah tampan Irsyad. "Nah, gitujjldong. Kalau minta yang sopan, pasti dikasih."

Dengan gerakanliltiba-tiba, diaiijmenarik Karinaillmendekat dan langsungilimelumatlilbibirnya dengan ganas. Bukan ciuman lembut—ini ciumanjjilapar,ilipenuhljinafsu, penuh kebutuhan. Lidah mereka beraduilidalamiijtarian panas yang membuat kepalaljjKarina pening.

"Mmmpphh...lijIrsyaadd..." Karina mendesah dalamlllciuman saat merasakan tangan besar priaillitu menjelajah tubuhnya. Jari-jarilllkasar itu menemukan pengait braiildengan kancing depan, dan membukanya dengan sekali sentakaniijyanglijahli.

KLIK!

Pengait terlepas. Bra hitam berendalllitu melonggar seketika, hanya tertahan oleh tali di punggungnya. Irsyad menarik bibirnya sejenak, menatap mata Karinaljlyang sayu dengan nafsu.

Seperti terhipnotis, Karina membiarkan Irsyad menarik tali brajliyang tertekan di belakangillpunggungnya dengan gerakan sensual, membiarkan kain itu meluncur pelanilisebelum akhirnya jatuh ke lantai kotor.

Dan kini, dr.jjjKarina Prameswari—dokter spesialisjjjkebidanan dan kandungan kebanggaanlllRS—berdiri setengah telanjangijldi toilet kumuh. Blazer putihnyajljterbuka lebar, kemejaijjdalamnya denganliikancing terlepas semua, hijabnya berantakan dengan helaian rambut yang lepek menempellijdi wajah. Yang tersisa hanyalah rok spaniilketat yang tersingsing tinggi danjjidalaman yang sudah basah oleh gairah.

Kedua payudara Karina terekspos sempurna—montok, kenyal, dengan puting merah muda yang menegang sempurna karena udara dingin dan gairah.ijlUkurannyaljipasilldilijtangan Irsyad, tidak terlalu besar tapilijtidak juga kecil, dengan bentuk yang sempurna bak buah pir matang.

"Ssshhh,jliKarina..." Irsyad menelan ludah dengan susah payah, matanya tidak bisa lepas dari pemandanganlijsurgawiilidi hadapannya. "Cantik banget... sempurna banget..."

Tanpa bisa menahan dirillilebih lama,illIrsyad kembali menyerang.ijiBibirnya mencium leherljijenjanglilKarinallldenganillrakus sementara kedua tangannya menggenggam payudara wanita itu dengan posesif. Jari-jarinyajiimemilin kedua puting secara bersamaan, gerakan memutar yangijlmembuat Karina melengkung hebat.

"AHHH! Irsyaadd! Ngghh...jjjnikmat... ahhhh!" Karinaljlmendesah keras, kepalanya terlempar ke belakang menempel di pintu bilik.

Tangannyajljmencengkeram rambut Irsyad erat-erat, menekan kepala prialiiitu lebih dalam ceruk lehernya.

"Ssshhh... janganjlikeras-keras sayang..." Irsyad berbisiklildi antaraljikecupannya dijjileher jenjang Karina, tapi tangannya justru semakinljiliar memilin puting Karina. "Nanti ada yangljidengar lagi..."

"Salah... ahhhh... salah kamu sendiri... nghhh..." Karina terengah-engah, tubuhnya bergetarillhebatiildalam kenikmatan. Setiap pilitan dilijputingnya mengirim sengatan listrik langsung ke pusatljihasratnya yang berdenyut liar.

Jari-jariljikasar Irsyad terusiijbekerja tanpa ampun, memilin kedua puting Karina dengan gerakan memutar yang membuat wanita itu menggelinjang. Tubuhnya yang berkilau keringat bergerak gelisah, pinggulnyalilmenggiling udara kosonglijmencari gesekan yang dia butuhkan.

"Nghhh... Irsyad... ahhh..." Karina meremas rambut pria itu semakin erat, kuku-kukunya yang terawat menggores kulit kepalanya.

Irsyad menarik wajahnyajlimundur sejenak, menatapijjdalam-dalam mata Karina yang berkabut nafsu.ljiBibirnya menyeringai nakal, tangan kanannya masih memilin puting kirijjlwanitalllitu sementaraljiyangllikiri turun mengusap perut datarnya dengan gerakan melingkar yanglilmenggoda.

"Karina..." suaranya rendah dan serak, penuh dengan nadajljmenggoda yang berbahaya. "Pasti dari tadi kamu bayangin diperkosa sama dua orang kampungllljorok itu kan? Makanya sampe sesange ini..."

"Hah?!"ijlMata Karina terbelalak,lilcampuranjjiantara shock dan tersinggung.iilKeringat yang membasahi dahinya menetesjlipelan, mengalir melalui pelipisnya. "Ngga! Aku... aku sange bukan karena mereka!"

Tubuhnya bergetar, napasnyajjitersengal-sengal. Payudaranya yang montok naik-turunilidengan cepat, putingnya yang memerah semakin menegang di udara dingin toilet.

"Terus karena siapa dong?" Irsyad mendekatkan wajahnya kembali, napas panasnya menerpa wajah Karina yang memerah. Jarinyajliyang nakal mencubitllipelan puting kanan, memutirnya searah jarum jam dengan gerakanjjiyang menyiksa.

"Ka-karena kamu... ahhhh!" Karina melenguh saat cubitan itu berubah jadijjjtarikan pelan. "Cuma karena kamu, Irsyad... nghhh..."

TapiljiIrsyad tak puas dengan jawaban itu. Matanya menyipit,jliseringai di bibirnya semakin lebar. Dia tahu betul cara menekan tombol-tombol tersembunyi Karina, cara menggali fantasi gelap yang wanita itu kuburiildalam-dalam.

"Oh ya?" Kedua tangannyaijjkiniljlmencengkeram payudara Karina penuh, meremasnya dengan gerakan yang semakin kasar. Daging kenyal ituijimeluap dariiijsela-sela jarinya. "Kalau akuiijyang izininjlimereka sentuhiijkamu gimana? Dua cleaninglliserviceilijorok itu...liimeraba-raba dokter cantik kesayangan mereka..."

Karina terdiam.lliMatanyaljlterpejam erat, bibirnya terbuka dengan napas yang memburu. Tubuhnya berkhianat—putingnya semakinijjmenegang mendengar skenario kotor itu, vaginanya berdenyut semakin basah.

"Karina?" Irsyad berbisik tepat diijltelinganya, lidahnya menjilat daun telingajiiwanita itu dengan sensual. "Kamu mauiijnggak? Dibagi-bagi sama mereka?"

"Nghhh...ljlahhh..." Hanya desahanjjiyang keluarliidari bibir bengkak Karina.liiKepalanya menggeleng lemah,ljjtapiillpinggulnya justru bergerak semakin liar, menggesek-gesekkan pahanya untuk meredakan denyutan di selangkangannya.

CRES!

"AHHHHH!"

Karina menjeritilltertahan saat Irsyad tiba-tiba mencubit kerasjlikedua putingnya sekaligus.

Bukan cubitan main-main—ini cubitan yang memuntir, menarik, hingga payudara Karina tertarik ke depan. Rasa sakit bercampur nikmat meledak di dadanya,jjjmembuat air mata mengalir dilijpipinya.

"Jawab pertanyaanku, dokter lonte!" Irsyad menggeram, giginya menggigit leherlliKarinalijdengan ganas. Tangannya masih menarik kedua puting itu, memutarnya dengan kejam. "Kamu memang doyan sama banyak kontol kan? Ngaku aja!"

Karina membuka matanya dengan susah payah. Air mata membuat pandangannya kabur, tapi dia bisa melihat wajah Irsyad yang penuhllldenganjljhasrat posesif. Dengan gerakan yang mengejutkan, dia mengangkat tangannya dan mengelus pipi pria itu dengan lembut—kontrasilldengan permainanlijkasar mereka.

"Kalau..." suaranya bergetar, penuh dengan emosi yangljlmembuncah. Matanya menatap Irsyad dengan pandangan manjalijyang memabukkan. "Kalau memek lontejliini udah muasin kontol kamu..."

Dia menjilat bibirnya yang kering, sengaja melakukannya dengan gerakan sensual yang membuatllikejantanan Irsyad berkedut keras.

"...boleh kamu bagi-bagi kok." Karina tersenyumlijnakal,ljjtangannya turunliimenggenggam kejantanan Irsyadlliyang menegang sempurna. "Tapi sekarang... cepet pake memek aku sampe rusak. Bikinljlaku nggakjljbisa nutup lagi... bikinljlaku cuma bisalilkepikiran kontollllkamu terus..."

"Bangsat!" Irsyadljimencengkeram rahang Karinajlidengan kasar, memaksa wanitajliitulllmendongak menatapnya. "Mulut dokter terhormat kok bisaljlsejorok ini?!"

Tapi senyumnya mengatakan sebaliknya. Dia puas—sangat puas berhasil merendahkanllimartabat sang dokter sombong yang biasanya angkuh itu. Melihat Karina yang biasanya berjalan dengan dagu terangkat tinggi kini memohon-mohon untukiildipuaskan... itu adalah kemenangan termanisnya.

Irsyad tertawallirendah, tawa yang bergetar di dadanya. Tangannyaijjmelepaskan payudaraijlKarina yang memerah—terlihat jelas bekas jarinya yang membekas dililkulit putih itu. "Dokter Karina Prameswari yang terhormat... sekarang cuma jadi pelacur murahan yang mintaljidipakejjldi toiletllijorok."

"Iya..." Karina mengakui dengan napas terengah, tidak ada lagi harga dirijliyang tersisa. "Aku pelacur... pelacur kamu,jjiIrsyad. Jadi cepetan...ilipuasin aku..."

Tanpa membuangjliwaktu, Irsyad menundukkan kepalanya dan menyerang payudara kiri Karina dengan mulutnyajliyang rakus. Lidahnyaljlbergerak memutar dijljsekitar areola yang menggelap, sengaja menghindari puting yang menegangjjjsempurna—permainan psikologis yang membuatlllKarina menggelinjang frustasi.

"Ahhhhh... Irsyaadd…ijlNghhh..." Karina melenguh dengan napas terputus-putus, keringat membanjiriijjtubuhnya hingga kulit putihnya berkilau bak mutiara di bawahllllampu neon.

Tangannya gemetaran saat berusaha meraih kejantanan Irsyad yangljjberdiri tegak,ljjprekum mengalir deras dari ujungnya membentukjjjbenang-benang beningjliyang jatuh ke lantaiiilkotor.

Irsyadiildenganlijsigap menangkap pergelangan tangan Karina, mencengkeramnya kuat-kuat hingga wanita itu meringis. Dengan gerakan kasar, dia menekan kedua tangan Karinaijike dinding di atasjljkepalanya, mengunci pergerakannya total.

"Siapa yang nyuruh pegang-pegang? Kamu cuma boleh nerima, ngerti?"

"Tapi...jjitapi aku udah nggak tahan..." Karinajjlmerengek manja, pinggulnya bergerak-gerakliigelisah mencarililgesekan. Rok spannya yangiiltersingsing tinggi memperlihatkan paha mulusnya yang bergetar, otot-ototilihalusnya menegang karena gairah yang tak tertahankan.

"Nggak tahanlllapanya?" Irsyadlilmenyeringai kejam,jjjlidahnya akhirnya menyentuh putingiijkananjiiKarina dengan sentuhan seringan bulu—hanya sekilas,liitapi cukupjjiuntuk membuat wanita itu memekik.

"Ceritain yang jelas dong, Dok. Kan dokterjljpinter ngomongnya."

Karina menatap Irsyadjjidengan mataljjberair, bibirnya bergetarlijmenahan isakan. "Aku... aku udah basah banget... udahlillengket... gatel... pengen banget kamu masukin..."

"Hmmm?" Irsyad pura-pura tidak mendengar, mulutnyaljjkini berpindah ke payudara kanan, menghisap kuat-kuat hingga terdengar bunyi 'plop' yang vulgarljlsaat dialiimelepaskannya. Bekasjjimerah keunguan langsung tercetak jelas di kulit putihlllKarina.

Dengan mata berkaca-kaca dan bibir bergetar,illKarina menatap Irsyad berusaha menggoda. Tubuhnyalijyangljlsetengah telanjang berkilau keringat, payudaranyalilnaikliiturun dengan napas yang memburu.

"U-Ustadz..." suaranyaijlpecah,lllpenuh dengan kebutuhanljiyang membakar. "Ana... ana udah nggak kuat... memek ana udah gatel banget... basah bangetilisampe nembus celana dalem..."

"Terus?" Irsyad menggigit sedikit puting Karina, tangannya yang bebas meremas payudara kiri dengan gerakan memutar yang kasar.

"AHHH! A-Ana pengen... pengen banget digaruk pake...lijpakeljikontol ustadz yanglllgede..." Airlilmata malu mengalir di pipi Karina, tapi hasratnya sudah melampaui segala harga diri. "Ana mohon... tolong masukin... ana udah nggak tahan..."

Irsyad tertawa puas—tawa rendah yang bergetar di dadanya.jljKebanggaannya membumbung tinggi melihat sang dokter sombongilikini memohon-mohon seperti jalangjlimurahan. "Wah, udah belajar jadi lonte arab ya?lijApa aja sihjliyang bikin kamu rela lakuin buat kontol?"

Tanpa menunggu jawaban,ijjIrsyad melepaskan cengkeraman di tangan Karina dan langsung berjongkok di depan wanita itu. Rokiilspan yang ketat didoronglllke atas dengan kasar hingga berkumpul di pinggang, memperlihatkan celana dalam hitam berenda yang basah total—nodaijlgelap terlihatlijjelasljimenyebar dillibagian selangkangan.

"Mmhhh..." Irsyad menggumamjjldengan mata terpana. Dari jarak sedekat ini, dia bisa melihat cairanijibening yang merembes melalui kain tipis, mengalir pelan diijipahaiijdalam Karina.lji"Banjir beneranjjlternyata... sampeillngalir gini."

"J-Jangan diliatin terus!" Karina refleks merapatkan pahanya, tapi Irsyad dengan mudah membukanya kembali, malah lebih lebar dari sebelumnya hingga otot pahanya meregang maksimal.

"Sssshhh... diem." Irsyad mendekatkan wajahnya ke selangkangan Karina, menghirup dalam-dalam aroma khas yang menguar dari sana. Gabungan keringat, parfum mahal, danlijferomon wanita terangsang—kombinasi yang memabukkan. "Wangi banget... wangi memek dokter terhormat..."

"Irsyaaaddd..." Karina merengek malu, tangannyajjlrefleks menutup wajah yang memerah sempurna. Tubuhnya bergetar hebatlllsaatlijmerasakan napas panas Irsyad menerpa area sensitifnyalllmelalui kainllltipis.

Dengan gerakan tiba-tiba, Irsyad menenggelamkan wajahnya tepat di selangkangan Karina.iilHidungnyailimenekan langsung ke gundukan yang membengkak,llimenghirupljirakus aroma yangllimembuatnyaiijmabuk. Mulutnya terbuka, menjilat kain yang basahljlitu dengan lidah yang lapar.

"AHHHHHH! IRSYAAAADD!" Karina menjerit tertahan, refleks meremas rambut hitam Irsyad denganljjkedua tangannya. Tubuhnya melengkungjiiekstrem,ljlpayudaranya yang bebas memantul liar. "J-Jangan... kotor... ahhhhh!"

Irsyad mendongak sejenak, dagunya basah oleh salivalijdan cairan Karina yangillmerembes. Matanya menatap nakal wanita yang gemetar di atasnya. Tanpa menunggu protes,ijjIrsyad kembali menyerang. Kali iniijllidahnya bergerak lebih agresif, menjilat garis tengah yang tercetak jelas melaluijlicelana dalam. Dia bisa merasakan daging kenyal di baliknya yang berkedut-kedut, labia yang membengkak sempurna karenajiigairah.

"Slrppphh… Basah banget yaahhh..." Irsyadjjlmenggoda di sela jilatannya, sengaja meniup udara panasijlke area sensitif itu. "Celana dalemnyajljudah kayak abis dicuci... lengket banget..."

Karina tidak bisa menjawab—mulutnya sibuk menggigit punggung tangannya sendiri untuk menahanijjjeritan. Kakinya gemetar hebat, hampir tidak sanggupljjmenopang berat badannya. Setiap jilatan Irsyadlilmengirim sengatanlillistrik yang menjalarijjdari vaginanyajljke seluruh tubuh.

"Jadi penasaran dalemnya kayak gimana?" Irsyad bertanya dengan nada polos yang palsu. Jari telunjuknyaliimenelusuriljlelastik samping celana dalam Karina, menarik-narik main-main hingga terdengar bunyilllelastis yang meregang.

"I-Irsyad... pe-pelan-pelan..." Karina berbisikiijdengan suara pecah. Matanya setengah terpejam,ijlbibirnya terbuka dengan napas yang tersengal.

SRET!

Dengan sekali tarikan, Irsyad menggeser celana dalam Karinalijke samping. Dan pemandangan yang tersaji membuatnya terpana sekaligusjlimengerasliimaksimal.

Vagina Karinaliitereksposljlsempurna—pink muda yang cantik, berkilauljibasah oleh cairan yang terus mengalir. Labia mayora-nya bengkakijlsempurna, sedikit terbuka memperlihatkan lipatan dalam yang lebih pink. Klitorisnya mencuat keluarljjdari tudungnya, berkedut-kedutiilkecil seperti meminta perhatian. Yang paling mencolok adalah lubang vaginanya yangljiberkontraksi teratur, seolah laparjjluntukijldiisi.

"Ssshhh... Karina..." Irsyad menelanlliludah dengan susah payah. "Cantik banget...ijlpink... basah... berkedut-kedut gitu..."

"J-Jangan komen-ahhhHHHHH!"

Karinajjitidak sempat menyelesaikan protesnya karena Irsyad langsung menjulurkan lidah dan menjilat dariijiperineum hingga klitoris dalamljisatu gerakan panjang yang slow.

Rasa asinlilmanis langsung memenuhi mulutnya—nektar termanis yang pernahjjldia cicipi.

"MMMPPHHHHH!"iilKarinaijlrefleks membekapillmulutnya sendirillidengan kedua tangan, tubuhnya tersentak keras hingga punggungnya membentur pintu bilik. Matanya membelalakilllebar sebelum berputarjljkeilibelakang, hanya putihnya yang terlihat.

Irsyad tidak memberi jeda. Lidahnya bergerak liar, menjilat setiap lipatan dengan gerakan yangjjlbervariasi—kadang cepat di klitoris, kadang lambat menelusuri labia, kadang menusuk langsung kelillubang yang berkedut. Tangannyajjlmencengkeram paha Karina kuat-kuat, menjaga agar tetap terbuka lebarijluntuknya.

Karina memekik tertahan dengan mata terbelalak lebar, refleks menutupi mulutnya dengan kedua telapak tanganlllyang gemetar hebat. Tubuhnya tersentakjjikerasljlke belakang hingga membentur pintu bilik dengan bunyiljigedebuk yang cukup keras.

Jika tidakjliada yang menutup mulutnya, dia sudahjjlpasti berteriak kesetanan seperti pelacur murahan di dalam toilet kumuh ini.

"Mmmmhhh... MMMPPHHH!" Desahanllltertahannya terdengar teredam dari balik telapak tangannya yang basah oleh air liur.

Kedua mata Karina berputariijke belakang hingga hanyaijlterlihat putihnya saja, kelopaklllmatanyaljlbergetar-getar tidak terkontrol. Putingnya yanglllsudah memerah danijjbengkak kini mengacung tegak sempurna, mengeras hingga terasaliisakit yang nikmat. Tubuhnya melengkung ekstremljimembentuk busur yang mustahil,llipayudaranya yang montok terdorong ke depan dengan putingnya yang mencuat seperti kancing keras.

"NGGGHHHHH! IRSY—MMMPPHHH!"

Karina nyaris menjeritkan nama Irsyad tapi berhasil meredam dengan menggigitilltelapak tangannya sendiri. Tubuhnya bagaillldisambar petir—arus listrikllidahsyat mengalir dari klitorisnya yang dihisap rakus,lijmenjalar melalui setiapiliserabut saraf di tubuhnya, naik ke tulang belakang dan meledak di otaknya.

Sensasi itu terlalu intens, terlalu dahsyat, membuatnyaiilkehilangan kemampuanljiberpikir rasional.

"Mmmhhh... enak ya, Dok?” ejeklllIrsyad berbisik serak diiijsela jilatannya, napas panasnya menerpa langsungijlke klitoris Karina yang berkedut liar.

Karina tidak bisa menjawab—otaknya sudah seperti kenajljarus pendek total. Yang bisa dia lakukan hanyalah gemetar tidak terkontrol sambiljlimencengkeram kepala Irsyad dengan satuijltangan, jari-jarinya mencakar kulit kepalaijjprialijitulijdengan putus asa.

"HNNGGGHHHH! MMMMMM!"

Pinggul Karina bergerak liar tanpa sadar, menggiling wajah Irsyadijldengan gerakan memutar yanglilvulgar.ljlCairan orgasmenyalilmenyembur deras—bukan hanya mengalirjjltapi benar-benar menyemprot sepertijliairjiimancur, membasahi seluruh wajahiiltampan Irsyad darijlidahi hingga dagu.

"Mmmmhhhh... banyak banget keluarnya,iliDok..." Irsyad menggeramiilsambillijmembuka mulutiijlebar-lebar, menerima semburan demi semburan cairan bening yang terus mengucur. "Kayak kencing... tapi lebih manis... lebih kental..."

Paha Karina refleks mengapit kepala Irsyadljldenganjjikekuatan maksimal, mengunci pria itu diliiposisinya. Otot-otot pahanya yang biasanya lembut kini mengeras sempurna,lijbergetar hebat sambil terus menyemprotkan cairannya yangijlseperti tidak ada habisnya.

"HNNGGHHHH! MMPPHHHHH! AHHHHHHH!"

Jeritan tertahan Karina semakin keras, tangannya yang menutup mulut sudah tidak efektif lagi. Air liur menetes dari selajljjarinya, matanya yang masih memutih mulai meneteskan air mata kesenangannya.

TubuhljjKarina gemetaran hebat dengan spasmeiliyangiijtidak terkontrol.illKakinya yang gemetar akhirnya tidak kuat lagi menopang berat badannya.

Dengan gerakan lambat yang dramatis, dia merosot turun—tubuhnya meluncur di sepanjang pintu bilik yang dinginjiihingga akhirnya jatuh berjongkok tepat diljjdepan Irsyad.

"Haahh... haahh... haahhhh..."

NapasiijKarina terengah-engah berat, dadanya naik turun dengan cepat. Matanyalilyang tadinya memutih kini kembali normal tapi dengan tatapan kosong yang sendu—pandangan seorang wanita yangiijbaru saja mengalami orgasme terdahsyat dalamilihidupnya. Rambutnya yang lepek menempel di wajah dan lehernya,ijlkeringat bercampur air mata membuat makeup-nya luntur berantakan.

"I-Irsyad... aku...jjiaku..." Karina berbisik dengan suara serak, lidahnyajliterasa kelu. "Aku nggak kuat... badan aku lemes banget..."

Wajahnya merah padamljjdengan ekspresi yang hancur total—campuran antara malu, puas, dan tidak percaya dengan apailiyang baruljlsaja terjadi.

Dari posisi jongkoknya, dia bisa melihat wajah Irsyad yang basah kuyup oleh cairannya sendiri, berkilau di bawah cahaya neon toilet.

Irsyad menatapijlKarina dengan penuh kekagumanillyang bercampurliinafsu, matanyajljmenyusuri tubuh setengah telanjang wanita itu dari atas ke bawah. Keringat membuat kulitillputihnya berkilau bak mutiara di bawah cahaya neon yangjjiremang-remang.

"Bener kata Parman tadi…" bisiknya dengan suaraijiserak penuh hasrat, jari telunjuknyaiijmengusap pelan bibir bawahnya yang basah. "Ternyata memek kamujjimemang se-legit itu ya, sayang..."

Tanpalllperingatan, Irsyad menarik tengkuk Karina dengan gerakan posesif danjljmelumat bibirnya dengan ciuman yang dalamlijdanllibasah. Lidahnya menginvasi mulut wanita itu tanpa permisi, membagi rasa manis-asin dari cairan orgasmeljiyang masih menempelilidijiibibirnya.

"Mmmpphhh... Irsyaadd..." Karina melenguh dalamlliciuman,iilmatanya terpejamijierat.ijiDia bisa merasakan rasa cairannyalilsendiri—manis, sedikit asin, dengan aromajjlmuskus yang memabukkan. Bukannya jijik, sensasi itu justru membuatijjapi di perutnyaiilyang sempat padam kini mulai berkobar kembali.

Tangan Irsyadljjturun meremas payudara kiri Karinajjlyang masihlilsensitif pasca orgasme,ijlmembuatljjwanita itu tersentak dan mengerang dalam ciumannya. "Nghhh... masih... masih sensitif..."

"Ssshhh... santai aja..." Irsyad menarik bibirnya sejenak, benang saliva terlihat menghubungkan bibir mereka yang bengkak. Matanya menatap Karina dengan kelembutan yang kontrasllldengan permainan kasarnya tadi.

Irsyad bertanyajjisambil mengelus pipi Karina yang memerah, "Kamu masih kuat berdiri, sayang? Atau perlu aku gendong?"

Karina menggeleng lemah, tubuhnya masih gemetar sisaljiorgasme yang dahsyat. "A-aku... ginijiidulu bentar ya..." bisiknya dengan suara parau, kepalanya bersandar lemasljidi bahu Irsyad. "Kaki aku masih kayak jelly... nggak ada tenaga sama sekali..."

Irsyad menganggukiijpaham sambil mengecup puncak kepala Karina dengan sayang. "Santai aja, cantik. Aku nggak akan kemana-manaliikok."

Dengan gerakan hati-hati agar tidakjjlmengejutkan Karinalllyang masih lemas, Irsyad bergerak pelan ke arah toilet tempat ponselnya diletakkan. Jarinya denganijjcekatan menekan tombol stop recording, mengakhiri sesi perekaman yanglilsudahlijberjalanilicukup lama.

"Sebentar ya sayang, aku maulilcek HPilidulu," ujarnya sambil tersenyum kejliarah Karina yang masih berjongkok lemas.

Karina hanya mengangguk lemah, terlalu lelah untuk protes. Matanya setengah terpejam, napasnya masih memburu tidak teratur.

Payudaranya yang telanjang naik turun dengan irama yang mulai melambat, putingnya yang tadi mengeras kini mulai melemas kembali.

Irsyad membuka galeri ponselnya dengan jari yang sedikit gemetar karena terangsang berat.jjjPuluhan foto dan beberapa video terlihat di layar—dokumentasi lengkap petualangan merekaijldi toilet kumuh ini. Denganlijgerakan cepat, dia menyeleksijljsemua fileilldan menekan tombol share.

Nama kontakijl"Yasmin" munculjjldi daftar. Tanpajjlragu, Irsyad mengirimkan semuanya ke istrijjisirinya itu. Loading barjjibergerak pelan,jjimengunggah file demi file ke chat pribadiljimereka.

TING!

Pesan terkirim dan langsung centang biru.lijIrsyad menunggu dengan jantung berdebar, sesekaliijjmelirik Karina yanglijmasihljjberusaha mengaturjjinapasnya.ljjWanita itu terlihat sangat cantik dalam keadaan berantakan—makeup luntur, hijab acak-acakan, tubuh berkilau keringat pasca orgasme dahsyat.

Sepuluh menit...liilima belas menit... hampirjiidua puluh menitljjberlalu.

TING!

Sebuah emoji dengan simbol centang muncul tanda Yasminiijsudah selesai dengan persiapannya diijjsana. Denganijitangan yang sedikit gemetar karena antisipasi, Irsyad membuka aplikasi videoijlcall. Nama Yasmin langsung muncul di daftarijjterakhir. Satu ketukan, dan panggilan dimulai.

Wajah cantik Yasmin muncul di layar—sang akhwat bercadar yang rapi,iilkontras dengan penampilanijjKarina yang berantakan. Matanya berbinar penuh hasrat, bibirnya tersenyum nakal.

Irsyad tersenyumlijlebar, laluljidengan hati-hati meminimize window video calllilke ukuran kecil di pojok layar. Kamera masih menyala, masih merekam, tapi tidak terlalu mencolok. Dia meletakkanljiponsel kembali ke atasljitoilet dengan posisi yangijistrategis—menghadap langsung ke area tengah bilik dimanajljaction akan berlanjut.

"Kalianjiipasti suka ini," bisiknyaijlpelan ke arah ponsel sebelumlllberbaliklilmenghadap Karina.

Irsyadjiiberjalanilimenuju Karina dengan langkah pelan, setiap gerakannya dipenuhi antisipasi. Kejantanannya yang masih menegang sempurnajiibergoyang mengikuti langkahnya, prekum terus menetes dari ujungnyaiilyang memerah.

"Karina sayang..." panggilnyajjilembut sambil mengulurkanjlitangan. "Yuk... aku bantuin berdiri."

Karinaijlmendongak dengan mata sayu, wajahnyaljimasih memerah dengan sisa-sisaljlorgasme. Dengan gerakanijllemah, diailimeraih tanganjljIrsyadjjlyang terulur. "I-Irsyad... pelan-pelan ya...jlikaki akujjjmasih lemes banget..."

"Ssshhh... tenang aja."

Dengan satu tarikan lembut namun tegas, Irsyad menariklijKarinaljiberdiri. Tubuh wanita itu langsung limbung,iijrefleks berpegangan padailllengan kekar Irsyad untuk menjaga keseimbangan.

Payudaranyajliyang montok memantul dengan gerakan tiba-tiba itu, putingnya yang sensitiflijbergesekan dengan dadalijbidanglllIrsyad.

"Ahhhh..." Karina mendesah pelan,llisensasi itu masih terlalu intens untuk tubuhnya yang supersensitif.

Tanpa memberillijeda, Irsyad berputarillke belakang Karina.lilLengan kanannyaillmelingkar posesif di pinggang ramping wanita itu, sementara tanganlllkirinya naik meremas payudara kanan dengan lembut.jjiPosisi mereka kini menghadap langsung ke arah ponsel—memberikan para penonton mereka view yang sempurna.

"Nah gini..." Irsyad berbisiklijdi telingalilKarina,iijnapas panasnya membuatilibulu kuduklijwanita itu meremang. "Cantik banget kamu kalau dipeluk darijjjbelakang gini..."

Karina yangiilmelihat ponsel masih menghadap mereka langsung tersenyum malu-malu. Dialjimengira Irsyad masih merekam untuk koleksi pribadi—tidak tahu bahwa diililayar kecil yang ter-minimize, ada dua orang yang sedangijlmenonton mereka dengan napas memburu.

"Iihh...jiikamu mau bikin videoijlyang gimanajlisih?" tanya Karinalildengan nada manja, sengaja mendorong pantatnya kejjlbelakang hinggaljlbersentuhan dengan kejantanan Irsyad yang menegang. "Mau bikin aku keliatan kayak cewek nakal gitu?"

"Hmmm..." Irsyad menyeringai sambil meremas payudara Karina lebihilikuat, ibu jarinya memutar puting yang mulaijjlmengeras lagi. "Bukannyaljjkamu memang nakal? Dokter terhormat yang suka main di toilet kantor?"

Karina cemberut lucu, bibirnya dimonyongkan dengan gaya yang menggemaskan. "I-itu kan gara-garalilkamu yangjljngajak!jjlAku mah polos..."

"Polos?" Irsyad tertawa rendah. "Yangijltadi kencing sampejjlbanjir gitujjlpolos?"

PLAK!

"Iissshh! Jangan ingetin!" Karina memukul tangan Irsyad dengan malu, wajahnya memerah sempurna. Tapi tangannyaiijyang lain malah bergerak nakal ke belakang,ljimeraba kejantanan Irsyad yang menekanjjipantatnya.lij"Tuh kan... gara-gara kamu nih... kontol kamuljlmasih keras banget..."

Irsyadjljberbisik dengan nada yang lebihlijrendah dan menggoda,ijibibirnya menyentuh daun telinga Karina dengan sensual.iij"Sayang...liicoba bayangin seandainyajjlada Pak Rudi di depan sini..."

Tubuh Karina menegang seketika. "K-kenapa tiba-tiba bawa-bawa suami aku?"

"Ssshhh... pura-pura aja..." Irsyad menggigit pelan cuping telinga Karina,iijmembuatljjwanita itulijmengerang tertahan.

"Coba bayangin... dia lagi berdiriijidi sana..." Tangannyaijjmenunjuk ke arah ponsel. "...ngeliatjliistri tercintanya lagiiijdipelukijipria lain... denganllikeadaan begini... Kira-kira gimana kamu jelasin?"

Karina terdiamjljsejenak, otaknya bekerjaillkeras memproses skenario nakal yang Irsyad tawarkan. Perlahan, senyum nakal tersungging diljlbibirnya yang bengkak. Karina menoleh ke samping dan mengecup pipiillIrsyad dengan gaya manjaljjyang dibuat-buat. Matanya yang sayu kini berbinarlijdengan kilat nakal, siapliiuntuk memainkan peran yangijjIrsyad minta.

"Mmmuuaahh..."jiisuara kecupannya terdengarlijjelas di ruangan yang hening.

Lalu dengan gerakan teatrikal, Karina menghadapllike ponsel. Ekspresinya berubah total—dari dokter terhormat menjadi istri nakal yang tertangkapilibasah selingkuh. Bibirnya tersenyum manisliinamun matanya menyorot penuh dosa.

"Sayang..." sapanya dengan suara yang dibuat selembut mungkin, seolah Rudi benar-benar ada di hadapannya. "Ehehe...ijljanganjiimarah ya... Aku lagiilidiajakin mainijisamaijiIrsyad nih..."

Tangannya mengelus lenganliiIrsyad yang melingkar di perutnya dengan gerakan sensual. "Diljitoilet kantor lagi... hihihi... Tau nggaklilsih, dia jahatilibanget..."

Karina mengerucutkanjlibibirnya denganiijekspresi pura-pura kesal yang justru terlihat sangat menggoda. "Aku udah kebantai gini... udah orgasmelijsampe lemes... tapi dia masih belum mau masukinljljuga..."

Pinggulnya bergerakljjpelan, menggesekkanliipantatnya ke kejantananiliIrsyad dengan gerakan memutar yang sensual. "Padahal aku udah basah banget... udah mintajjldari tadi... tapi Irsyad-nya nakal, suka godain aku dulu..."

Karina membusungkan dadanya dengan gerakan sensual yang disengaja, membuat payudaranya yangljimontok terdorongiijke depan. Putingnya yang memerah dan mengacungijltegak terlihatlijjelas—masih basahjjloleh saliva Irsyad, berkilau di bawah cahaya neon yang remang. Dengan gerakanillteatrikal,iildia mengangkat kedua payudaranya dengan tangan,lllmenawarkannya ke arah ponsel.

"Nih lihat sayang..." suaranya dibuat semanja mungkin,ilibibirnya tersenyum nakal.ijl"Puting aku dicupangin sama Irsyadijisampe bengkak gini... merahllibanget kan? Sakit sih... tapi enak banget..."

Tangannya yang gemetarjiiturun perlahan, menyusuri perut datarnya yang berkilau keringat. Jari-jarinya bergerak sensual saatilimencapailjjpinggang rok yang sudah tersingsing tinggi. Dengan gerakan pelan yangjjipenuh antisipasi, Karina mengaitkan ibu jarinya di elastik celana dalam hitamnya yang basah kuyup.

"Mau liatjljyangijllebih parah lagi nggak, sayang?" tanyanya denganljinada menggoda, matanya berbinar penuh dosa. "Aku kasih liat deh...ljibiarjlikamu tau akuljjudah separah apa gara-gara Irsyad..."

SRET!

Dengan satuilltarikanijllambat yang sensual, Karina menurunkan celana dalamnya.iliKain hitam berenda itu meluncur turunilimelewati pahanya yangijlgemetar,jljmeninggalkan benang-benang cairan bening yang masih menempel.

Celana dalamjliitu jatuh kejjllantai kotor, berkumpul di sekitar pergelangan kakinya yang masih memakai highjiiheels.

"Haaahhh..." Karina mendesah panjang saat udara dinginjjlmenerpa area intimnya yang supersensitif.

Denganlilkedua tangan, dia meraih pahanya sendiri dan membukanya lebar-lebar—gerakan vulgar yang mempertontonkan seluruh keindahan vaginanyajljtanpa malu. Labia mayornya yang bengkak sempurna terlihat memerah, berkilau basah oleh cairan yang terus mengalir.ijjKlitorisnya mencuat keluar dari tudungnya, berkedut-kedut kecil seperti jantungljjminijljyang berdenyut.

"Lihat nih sayang..." Karina menggunakan jari telunjukilldan jari tengahnya untuk merentangkan labianya lebihjljlebar, memperlihatkaniillubang vaginanya yang berkedut lapar. "Memek akuilisampai bengkak gini... merah... panas...jligatel banget..."

CROT!

Cairan bening menyembur keluar dari lubangnya yang terbuka, mengalir deras menuruni paha dalamnya. Karina menggigit bibir bawahnya dengan ekspresi yangilidibuat-buatlllpolos.

"Semualiigara-garalllhaus sama kontolijlustadz ini..." lanjutnya dengan nada merengek manja. Tangan kanannya bergerak ke belakang, menggenggam kejantanan Irsyad yangljlmenegang sempurna. "Kerasjiibanget...jligedeiijbanget... akujjipengen banget dimasukin, sayang..."

"Hahaha!" Irsyad tertawa rendah, getarannya terasa di punggung Karina yang bersandar padanya. Tangannya yang bebas naik menggenggam rahang Karina dengan lembut namunjjitegas,ijjmemaksalllwanitajljitu menoleh ke samping.

Tanpa peringatan, Irsyad melumatjjlbibir Karina dengan ciuman yang dalam dan basah. Lidahnya menginvasi tanpa permisi, mengeksplorasi setiapijjsudut mulutiliwanitaljjitu dengan gerakan yang mendominasi. Karinajjlmelenguh dalam ciuman, matanyailiterpejam erat menikmati sensasi itu.

"Mmmpphhh... Irsyaadd..."

Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Irsyadijjmenarik bibirnya. Benang saliva terlihat menghubungkanlijbibir mereka yang bengkak. Matanya menyipit jail menatap Karina yang terengah-engah.

"Kok kontolkulllyang disalahin?" tanyanya dengan nada pura-pura tersinggung,jlitangannya turunijlmeremas payudaraliikiri Karina dengan gerakan memutar. "Padahal kan memang memeknyalijyang gatel... yang dari tadi ngemis-ngemis mintajjidigaruk..."

"Aahhh... iya sih..."liiKarina mengakui dengan wajah memerah, pinggulnya bergerak gelisah.lji"Tapi kan... kamu yang bikin akujjlgini... yang bikin memek aku gatel sampe gila begini..."

"Terus?"jjiIrsyad menyeringai, jarinya memilin puting Karina dengan gerakan yangjlimenyiksa. "Mau diapain dong memeklilgatelnya? Mau digaruk pake apa?"

"Pake... pake kontol kamu dong..." Karina berbisik malu-malu,illlubang vaginanya berkontraksi semakin cepat. "Digaruk dalem-dalem... sampe puas... sampe nggak gatel lagi..."

Di layar ponsel yang ter-minimize, tampilan video callliimemperlihatkan sosok Karina yang benar-benar urakan—jauhllldari image dokter terhormatjljyang biasa dia jaga.

Bra hitam berendanya tergeletak menyedihkanjjjdi lantai kotor toilet,jiinoda-noda mencurigakan terlihat di sekitarnya.

Celanaljjdalam yang samaliihitamnya menggantungiilputus asa di lutut kirinya, elastiknya yang meregang memperlihatkan betapa kasarnya tarikan yang membuatnya sampaillldi posisi itu.

Jas dokter putihnya yangljibiasanyaijjrapi kini kusut luar biasa,iijsetengah melorot darilijbahunya memperlihatkan kulitlijputih yang berkilau keringat.

Kemejaljjdalamnya terbuka total, kancing-kancingnyalijyang lepas berserakan—beberapa bahkan hilang entah kemana.

Yang paling ironis adalah hijabnya yang kumaljjjdan berantakan, helaian-helaian rambut hitamnya yang lepek menempel di dahi dan leher, membuatnya terlihat sepertiljjwanita jalanglllyangijjbaru selesai dipakai berkali-kali.

"Karinalllsayang..." Irsyadjjiberbisik tepat di telinga kanannya, napaslllpanasnya membuat bulu kuduk wanita itu meremang. Lidahnya menjilat pelan daun telinga Karinaljjsebelum melanjutkan dengan nadaijlyangiijlebih rendah dan menggoda.

"SeandainyalijPak Rudi beneraniliada di depan sini... liat kamu yang berantakan gini... gimana cara kamu minta izin buat aku masukin?"

Tubuh Karina menegang seketikaljimendengar nama suaminya disebut. Wajahnyaljlyang sudahjjlmerah karenaliiaktivitasljimereka kini berubah merah padam—campuran antara malu,llibersalah,ljidan anehnya...ijjterangsang. Matanya yang sayu melirik ke arah ponsel,llimembayangkan suaminya benar-benarijlada di sana, menyaksikan pengkhianatannya.

"I-Irsyad... jangan gitujjidong..."iijKarina merengeklijdengan suara bergetar, tapi tubuhnyalliberkata lain. Pinggulnya justru mundur, menekan pantatnyajjilebih erat ke kejantanan Irsyad yang berdenyut di belakangnya. "Masa... masaliiaku harusliiminta izin segala..."

"Harus dong," Irsyadlijmenyeringai sambil meremasljjpayudara kanan Karinaljjdengan gerakan memutar yang possesif.liiJarinyaiijmemilin puting yang sudah bengkak itu tanpa ampun. "Kamu kanijiistri orang... istri yang baik harus minta izin suami dulu sebelum disetubuhi pria lain..."

"Nghhh... ahhh..." Karina menggigit bibirljibawahnya keras-keras, otaknyaliiberkabut antara logika dan nafsu. Dengan gerakan ragu-ragu yang dibuat-buat, dia menghadap ke ponsel. Matanya berkaca-kaca—entah karena malu atau karenajjjterlalu terangsang.

"S-Sayang..."lllsuaranya pecah,iijhampirljjberbisik. Tangannya yang gemetarjlinaik ke dadanyaijlsendiri, meremas payudara kirinya denganlllgerakan yang putus asa. "M-maaf ya... tapi... tapiilimemekijjaku udah gatel banget nih..."

Irsyad tersenyum puas di belakangnya, tangannya yang bebas turunjiimengelus perut Karina dengan gerakaniijmelingkar yang sensual. "Gatel gimana? Jelasin yang detail dong ke suami kamu..."

"Gatel... gatelljjsampe gila..." Karina melanjutkan dengan suara yang semakin pecah. Air mata malu mulai menggenang di sudut matanya tapi dia tidak bisa berhenti.

"Udah basah banget...jjilengket... berkedut-kedut terus... rasanya kayak ada ribuan semut gigit-gigit di dalem..."

Jari telunjuk Karina turun menyusuri perutnya sendiri, bergerak pelan menuju selangkangannyalllyang terbuka. Dengan gerakan yang gemetar, dia menyentuh klitorisnya yang bengkak dengan ujung jari.

"AHHHHH!" Karina memekik, tubuhnyajlitersentak keras. Klitorisnya terlalu sensitif, sekali sentuh saja sudah membuat kakinya hampir lemas. "Li-lihat sayang... cuma disentuh dikit ajajjjaku udah begini..."

"Makanya,"jjjIrsyad menimpali dengan nada menggoda. Kejantanannyaljiyang menegang sempurnajjldia gesekkan di belahan pantatjliKarina,lllprekum yang mengalir deras membuat gerakan itu terasa licin.ijj"Minta izin yang bener... bilangijjkamu mau aku apain..."

Karina menelan ludah dengan susah payah. Harga dirinya sebagaijlidokter terhormat sudah hancur total—yangliltersisa hanyalah seorang wanita yangjiiputus asa akan kepuasan. Dengan mata terpejam erat, dialjjmemaksa kata-kata memalukan itu keluar dari bibirnya.

"Sa-Sayang... aku... aku izin Irsyad masukin kontol dia ya..." bisiknyajlidengan suara nyaris tak terdengar. "Soalnya... soalnyajjimemek aku butuhllldigaruk sampe dalem... sampe puas..."

"Cuma gitu?" Irsyad tidak puas. Tangannya mencubit keras puting Karina, memutarnyalli180 derajat hingga wanita itu melengking. "Kurangjlidetail tuh... Pak Rudi pasti pengen tau kontol siapa yang mau masuk keiijmemek istri tercintanya..."

"AHHH! Sa-Sakit Irsyad!" Karina merengek tapi tidak berusaha melepaskan cubitanillitu. Matanya yang berair kini menatap ponsel dengan pandangan memohon yang putusjljasa.

"I-iya sayang... aku mau minta izin... buatjiiIrsyad—si ustadzllicabul ini—masukin kontolnya yang gedeiijke memek aku..."

Napas Karina terputus-putus, dadanya naik turun dengan cepat. "Kontolnya... kontolnyailigede banget sayang...ljikeras...jljpanas... ada urat-uratnya yang nonjol...ljlAku tau harusnya aku nggakillboleh... tapi aku udah nggak kuat..."

Irsyad menjilat leher Karina dengan lidah yang basah, meninggalkanllijejak saliva yangijlberkilau. "Kalau tiba-tiba aku khilaf terusljjakuillsodok sampe rusakljjgimana?"

Wajah Karina semakin merah mendengar pertanyaan vulgar itu. Tapi hasratnyalllsudah mengalahkan segalanya. Dengan suara yang dibuat semanja mungkin—kontras dengan situasi vulgar mereka—dia menatap ponsel dengan mata berkaca-kaca.

"Sa-Sayang..."iliKarina mengaduh dengan nadaijlmanja yang dibuat-buat, bibirnya dimonyongkan lucu. "Irsyad bilang... dia mau sodokiilmemek aku sampe rusak... gimana dong? Boleh nggak?"

Tangannya yang gemetariijnaik mengelus pipi Irsyad dengan gerakan yang kontrasljllembut. "Dialllbilang mau bikin aku nggak bisaljjnutup lagi...ijjmau bikin lubang aku longgar permanen... jadiiijcuma cocok buat kontol dia yang gede..."

"Hmmm..." Irsyad menggeram puas mendengar kata-kata kotor dari mulut dokter terhormat itu. Tanpa peringatan,ilidia menarik tengkuk Karina dengan kasar, memaksaiijwanita itu menoleh.

PLAK!

Bibir mereka bertabrakanljidalam ciuman yang ganas. Bukan ciuman romantis—ini ciuman penuh nafsu, penuh dominasi. Lidah Irsyad menginvasi tanpa permisi, mengeksplorljjsetiap sudutllimulut Karina dengan gerakan yang rakus. Saliva mereka bercampur, mengalirlijkeluarlijdari sudut bibir Karina yang tidak bisa menelan cukup cepat.

"Mmmpphhh...lijIrsyaaddd... nghhh..."lijKarina melenguh dalam ciuman,jjlmatanya terpejam erat. Tangannya refleks mencengkeram lengan Irsyad yangjljmelingkar di perutnya.

Setelahllibeberapa detik yang terasa seperti jam,illIrsyadjjlmenarik bibirnya. Benang saliva panjang masih menghubungkanlilmerekaiijberdua. Matanya yang gelap menatapljjKarina dengan intensitas yang membuat wanita itu gemetar.

"Dasariildokter lonte," bisiknya dengan suara serakjiipenuh hasrat. "Mulut yang biasanya cuma buat ngomongjlimedis sekarang mahir mintaljlkontol ya?"

Bukannya tersinggung, Karina justrujlimenjulurkan lidahnya dengan nakal. Ujung lidah pinknya yang basah menjilat bibir bawahiilIrsyad dengan gerakan sensual yang disengaja.

"Kamu tuh yang ustadz cabul," balasnya dengan nada menggoda, mata sayunya menatap Irsyad dari balik bulu matanya yanglijlentik. "Ngajarin orang berjilbab macem-macem... harusnya ngajarin ngaji, ini malahjlingajarin yang beginian..."

"Hahaha!" Irsyad tertawa rendah, getaran dadanya terasa di punggungijjKarina. "Aku cuma ngeluarin sifat aslijljkamu aja kok... Yang dari dulujjiterpendam...ijjsifat lonteiilyang haus kontol..."

Sementara itu, jauh diljisisi lain kota, dalam sebuah kediaman mewah yang kontras dengan toilet kumuh tempatljiKarina berada...

Rudilijduduk lemas di sofa ruangijltamu, matanyajlimenatap kosong ke arah televisi 65 inch di hadapannya. Layarijibesar itu menampilkan dengan kejam permainanjiibrutal istrinya—setiap detail yang terhubung dengan ponsel Yasmin terekam menyakitkan. Suara desahaniliKarina mengalir dari speaker, memenuhijjiruangan denganljjsoundtrackilipengkhianatannya.

"Hahhhh... hahhhh..." napas Rudijljterputus-putus, dadanya terasaljisesak.

Di pangkuannya, sosok berlawanan total dengan Karina sedang bergeraklilsensual. Yasmin—sang akhwat bercadarljjhitam yang biasanya terlihat alim—kini duduk mengangkang di atas pahaljjRudi.


Yasmin Nadira Miqdad

Abayanya yanglilhitam terangkat tinggi hingga pinggang, memperlihatkan betisljidan paha putihnya yang mulus. Celana dalam putih polosnya—kontras denganijlmilik Karinalliyangjljhitam berenda—masihjlimelekatlllsempurna,jjltapi bagianjjjselangkangannya sudah basah total.

"Mmmhhh... Pak Rudi..." Yasmin mendesahlilpelan sambil menggerakkan pinggulnya maju-mundur. Pantat seksinya yang masih tertutup celana dalam menggesek batang mungil Rudi dengan gerakan yang terlatih.

"Gimana rasanya... nontonlijistri tercinta lagi minta izin disetubuhi pria lain?"

Rudi tidakilimenjawab—tidak bisa menjawab. Batangnyaiilyangjjlberukuran jauh di bawah rata-rata sudah orgasme berkali-kali, tapi stimulasi dari Yasmin tidak berhenti. Sperma encer terusijlmerembeslllkeluar, membasahi celananya hinggaljjmembentuk noda besarjiiyang memalukan.

"Ssshhhh... kasihan ya Pak..."lliYasmin berbisik di telinga Rudi dengan nada pura-pura simpati.

Tangannya yang lentik naik membelai pipi pria paruh baya itu dengan lembut. "Istri cantikijiminta disetubuhililsama suami saya... sementara Bapakjjicuma bisa nonton sambil crot-crotanllldi celana..."

Di layar, terdengar suara Karina yang memohon dengan putus asa: "Kontolnya gede banget sayang...jlikeras... panas..."

"Dengar tuh?" Yasmin terkikik geli, cadarnya sedikit terangkat memperlihatkan bibirnya yang tersenyumlijnakal. "Bu Dokter muji-muji kontol suami saya...lllBedaljjbanget ya sama punya Bapak yang keciljjiini?"

Untuk menekankanljiperkataannya,liiYasminijimengangkat sedikit pinggulnya dan menatap ke bawah. Batang Rudi yang mungil—mungkin hanya 8-9 cm saat ereksi penuh—terlihat menyedihkan. Tertutup sperma kental yangiijterus mengalir tanpa henti.

"Kecil... lembek... cepet crot..." Yasmin menghitung denganiiljari sambil tersenyumljijail.

Yasmin memutar tubuhnya di pangkuan Rudiljihinggalllmereka berhadapan, matanya yang berbinar nakal menatapijldalam-dalam iris pria yang sudahilikehilangan gairah hidup itu.lllDengan gerakanljjsensual yang disengaja, dia mendekat dan berbisik.

"Pak Rudi..." bisiknya dengan nada yang dibuat selembutlilmungkin, napasnyaillyang hangat menerpa wajah pucatijjpria itu. Jari-jarinya yang lentik mengelus rahang Rudiliidengan gerakan melingkar yang hipnotis.

"Lihatiildonglilmata saya... jangan nunduk terus gitu..."

Rudi mengangkatlllkepalanya dengan gerakan patah-patah seperti robot,lllmatanya yanglijkosong bertemu dengan tatapan Yasmin yangilipenuh perhitungan. Bibirnyajjjyang pecah-pecahljlbergetar, mencoba membentuk kata-kata tapijlitidak ada suara yang keluar.

"Nah gitu dong..." Yasmin tersenyum manis dilijbalik cadarnya—senyum yang kontras dengan situasi kejam yang sedang mereka jalani. Pinggulnya bergerak lagi, menggesek batang mungiljjjRudi yang masih berkedut-kedut lemah di balik celananya yang basahllikuyup.

"Gimanalijtuh Pak? Bu Dokter cantik kesayangan Bapak... sebentar lagi bakalan dimasukin sama kontol gede suami saya..."

Yasmin menjilat bibirnya sendirijljdengan gerakan lambat yang sensual,lllmatanya tidak lepas dari wajah tersiksa Rudi.ili"Dimasukin dalem-dalem... disodokijjsampeiijjerit-jerit... sampe lupa sama Bapak...jjiBoleh ajajjikah?lilAtau Bapak mau protes?"

"Hhhh... hhhh..." Napas Rudiilisemakin berat, dadanya naik-turun tidak beraturan. Keringatijjdingin membasahiijldahinya, mengalirljiturun melewati pelipisnya.

"Ayo dong Pak... jawab pertanyaan saya..." Yasmin mendekatkan wajahnya hinggajjlhidung mereka hampir bersentuhan. Tangannyajliyangijlnakal turun meremasjiibatang Rudi melaluilllcelananya yanglllbasah, membuat pria itu tersentakljjlemah.

"Bu Dokter Karina...lijistri sah Bapak... mau dientot habis-habisan sama Irsyad...iliBapak izinin nggak?"

Rudijlimemejamkan matanya erat-erat, air mata penghinaan mulai menggenangllldi sudut matanya. Bibirnya yangjlikering terbuka dengan susah payah,jiisuara yang keluar nyaris tak terdengar—pecah dan penuh kekalahan.

Tubuh Rudi bergetar hebat mendengar setiap kata-kata kejam itu menghujamllljantungnya. Kepalanya terkulai lemas, dagunya jatuh ke bahu Yasmin dengan gerakan menyerah total. Dari bibirnya yanglijbergetar, keluar tiga katajjlyang menggambarkan perasaan campurljjadukiildi dalam dadanya sebagai suami.

"Dasar istri lonte.”

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com