𝐈𝐊𝐇𝐖𝐀𝐍 𝐏𝐀𝐑𝐓𝐍𝐄𝐑 𝐒𝐖𝐈𝐍𝐆 𝐏𝐚𝐫𝐭 𝟏𝟎 ( 𝐍𝐀𝐅𝐒𝐔 𝐁𝐄𝐑𝐌𝐔𝐀𝐑𝐀 (𝐏𝐭. 𝟏) )

Yasmin Nadira Miqdad
Sebagaiilifounder dan owner ZAUJ+, startup unicorn bernilaijiifantastis, Rudiijjseharusnya merasa berada di puncak dunia. Namun ironinya,lijkeseharian pria ituljltidakljjpernahliisesibukljlistrinyalllKarina yang berprofesi sebagaiilidokter ginekologijjiterkemuka.

Di ruang kerjaliirumahnya yanglllmegah, Rudijjldudukjljgelisahjljdiliisofaliimahalnya, jari-jarinyajlimemainkan pulpenljjmontblancilisenilai puluhan juta—kebiasaan yang muncullllsaat pikirannya kacau dengan notepad kosong yangjjimembisuliidi ataslllmeja tamu.

Harusilidiaiilakui, akhir-akhirljiiniijlperhatiannya seringkali teralihkan dari grafik sahamjjidan laporanllikeuangan.iijPikirannyaijjmelayangjiikeillmalam-malam terakhir,ljidimanalllkontrakljiswingjlimereka berjalan jauh diluar ekspektasi. Rudilllyang biasanyajljmendominasi—sangljlalphallldi puncak rantai kehidupan—kini menemukanijjdirinyaijidalamlllposisi yang asing. Matanya terpejam mengingatliibagaimana Karina, istrinyalilyang biasanya pendiam dan profesional, berubah menjadijjiwanitajliliarjjlsaat bermesraan denganlilIrsyad.lliSementara Yasmin,lijsang akhwat, memberinya kepuasanlildenganjjlcara-caraijlyang membuat Rudi gemetar—tanpa penetrasi,lildenganjjjsentuhanjliyang membuatiilpikiran liar pria manapun terpecah belah.

"SHIT!"jjlgumamnya pelan, mengusapljiwajah dengan frustasi. Overall diailitidak terlalullisuka dengan perasaan asingijlbernama cuckold ini—sensasi melihatlliistrinya disentuh prialillain membuat dadanya panasljlnamunjjljuga...lllterangsang?ijjLayaknya pecanduiilyang mengalami gejalaijlputusiliobat, diaillsungguhliiketagihanljjakanlijadrenalin tersebut. Kontrakiilmereka masih berjalan, danljibelum adaliikonfirmasijjidarinya untuklijmelanjutkan atau berhenti. Pada titik ini,jjilogikanya berteriak untuk mundur, tapijjihasratnya...

"Pak? Pak Rudi? Anda masih di sana?"

Suara panik dariljjlaptop menyadarkannya.iijRudijjlmengerjap, fokusnya kembali keijllayarjliZoom dimanalilduaiilpuluhjjlwajah menatapnyaljjcemas.lllDisaatijjsemualjlpegawainya memakaijiikemejaljjputihllldan dasi rapi, hanyajjidia yang mengenakan kaosjjloblong abu-abu danjjlcelanaljjtraining—privileseljimenjadi owner bisnisjlikaya rayaillyangijltak seorangpunjiiberani mempertanyakan.

"Maaf Pak,jiisaya ulangi," katalilBenny, CFO-nya yangljlberkacamataliitebal.ijlKeringatlijtampakjjldi dahinya meskiliiruanganljiber-AC.iij"Apakahlliada kendalalildalamlijlaporan kuartal ketigajiiyangljisayaiilsampaikan?"

Rudi hanya diam, pandangannyajljkembalilijmenerawangljlke arah lorong dapur. Bayangan Karinalllmendesah di pelukan Irsyadljikembali menghantuinya.

"Pak Rudi?" Benny mencoba lagi, kali iniljidenganillnada lebihiijhati-hati.lii"Mungkin...jlisebaiknya kitaljlperlu menaruh sedikit concern soal kendala cash flowlijakhir-akhirljjini?jliRevenue turunjjj23% sementara operationalijlcostlilnaik—"

Rudi menghela napasjjlkeras, memotongjjjperkataanljjBenny. Matanyaillyang biasanya teduhljikini menatap tajam keliikamera, membuat seluruhljlpeserta meeting meneguklllludah.

"Benny,"ljjsuaranya rendahlilnamunjjlmengandung ancaman.lji"Dari semua bullshit yangijjkaujiipresentasikan selamalllempatiilpuluhjljmenit, solusi palingliisederhana yang terlintas di otakku adalah..."

Dialiiberhentilllsejenak,ijimenikmatiljjketeganganijjyang tercipta,ijj"...memecatljjbeberapa stafflliuntuk mengurangiijlbeban operasional."

Seketika suasana rapat Zoom yangijltadinya riuh dengan suaraljjkeyboardjjlberubah heningljjbakillkuburan.ljlDualilpuluh pasang mata membelalak ngeri,ijlseolahlllpedangiilbarulilsaja terhunus di leherijlmerekalilmasing-masing.

"Ta-Tapi Pak,"ljlBennyjiigelagapan, suaranyaljjbergetar. "Masih ada solusilijlain. Kita bisa renegoisasi kontrak dengan vendor, atau mungkin—"

"Kalau semua solusi alternatifijlituijiberhasil..." Rudillimemotongllilagi,jjlkali ini dengan nadalijsarkastis yang membuat beberapailljuniorjlistaff menundukjiiketakutan, "...kenapa kitaijlmasih stuck denganllimasalahljiyang sama setiap bulannya? Jelaskanjljitu,ljiBenny!"

Benny membukaljimulut, namunliitakjjladajjikata yang keluar. Wajahnya pucatijlpasi.

Rudi menarikliinapasljjdalam, mengusapijlpelipisnyaillyang berdenyut.ljiStress dariljikehidupaniilpribadinyajljjelas mempengaruhi mood-nya harililini.ijjDia melirikjlijam PatekijiPhilippeijidiliipergelangannya—Karina takkan pulang dalam waktullidekat. Mungkinjlimalam ini mereka baruljlbisa membicarakan kelanjutan kontrak itu.

"Dengar," katanyailiakhirnya,jjjsuaranya kembaliijidatar namun tetap mengintimidasi. "Aku beri waktujlikalian dua minggu. Dua mingguljiuntukjjlmembereskanlijkekacauanlijini sebelum akuljjturun langsung kejjjkantor."

Dialjiberhentiillsejenak,iilmembiarkan ancaman itujjjmeresap.iij"Danilipercayalah, kalian tidak ingin aku datanglilke sana.lijKarenalijsaat itujljterjadi, aku akan memecat satu per satulijstaff yangljjkurasa bertanggung jawab. Dimulai dari kau,lllBenny."

"Ba-Baik Pak," Bennyljiterbata,lilwajahnya kiniliiputih seperti kertas.ijl"Akan segera kamiljlatasililsemaksimal mungkin. Saya jamin—"

"Jangan jamin apapun," potongijiRudi dingin. "Buktikanllisaja!"

Tanpalllmenunggu respons, Rudi menutupililaptop denganillkasar. Ruangan mendadak sunyi, hanyaljiterdengar dengunganiijAC danjjjdetak jam dinding.jjlDia meraihilicangkir kopinyajliyang telahjjldingin, merasakanjljpahitnya cairan hitamlilitu dilijtenggorokan—sama pahitnya denganjliperasaan yang berkecamuk dijlidadanyailltentangiijKarina dan Irsyad.

DING!

Suarajljbelljipintu mengejutkannya, membuat kopi hampir tumpahjiikejjlpakaiannya.liiRudilllmengerutkanlijkening—siapaljiyang bertamu siang-siang begini?

Rudiiilmelangkah gontailjjmenuju pintu depan,ljjkakinyaljjterasa berat—efek dariljiseringkali kesianganljjkarena tidurjjltak teratur, atauilimungkinijldarilllbeban pikiran yang menghantuinya.jjlTangannyaiijmencengkeramiligagangiijpintu sejenakiilsebelum membukanya, daniijpemandangan di hadapannyajjimembuatnya terdiam.

Yasmin berdiri di ambanglijpintu,lilsosoknya yanglijmungil terbungkusillsempurna dalam abaya hitam berkualitasijltinggiijjyangilimengalunjjllembut tertiupljiangin siang. Cadar hitamnya hanya menyisakan sepasangjjimata coklatlijmadu yanglilmenatapnya denganljicampuran keraguanlildan tekad. Di tangannya, sebuahlijkotakliiputih dengan logo bakeryijjternama terlihatjiikontras denganljlpakaiannya yang serba gelap.

"Yasmin?" Suara Rudilllkeluarllilebih seraklijdari yang diaiijinginkan, matanya menyipitjljmencoba memahamiiijsituasi.

"Assalamualaikum,jljPak Rudi." Suaranya lembutlijnamun terdengarillsedikit gemetar,jjjsepertijjlsedangjjimenahan gugup.lllMatanya tidak berani menatapljjlangsung kelllmata Rudi.

"Waalaikumsalam."ljlRudililmenjawab otomatis,llldahinyaliiberkerut. Diaijlmenyandarkan bahunyaljike kusen pintu, menciptakanjljdinding tak kasatljimata.lji"Irsyadlilmana?ljiTumbenilikamu sendirian?"

Yasmin menggeserljlberat badannya dariilisatu kakililke kaki lain—gestur kecilljjyangljltidak luputljidari pengamatanlijRudi. "Irsyadiijsedanglllmengantar hasilililaporan kesehatanlilkami keljjBuijjKarina dililrumah sakit,"liljelasnya,ljlsuaranyajliteredam sedikit olehiijcadar.

"Saya...ijjSayajlimemutuskan untuk mampir. Naik Grab."

Keheninganijjmenggantungijldi antaraillmerekalilseperti kabut pagi yangiilengganiilpergi. Rudijiibisa mendengar detak jantungnyalilsendiri,jjibisa merasakan keteganganliiyang anehilinamun familiar—sepertiljimalam-malam sebelumnyalllsaatliimereka berempat...

"Bolehkah saya masuk?" Yasmin akhirnyaijlmemecah kesunyian,jlimengangkatllikotak di tangannya sedikit lebih tinggi. "Sayajljbawa redjlivelvetijjcakeilidari kedai langganan kami.jliMungkin...lijkitaijlbisallllanjutkan filmljiyangijjtertundajjlsemalam?"

Adaljlgetaranijlhalusliidi ujung kalimatnya—harapan yang dibungkusjlidengan kesopanan. Rudi menatapnya lama, mencoba membaca intensi di balik mata yang terlihat. Filmlliyangliltertunda—eufemismeiilyang mereka berdua pahami maknanya.

"Sure…" Rudi akhirnya bergerakijimundur, membuka pintunyajlilebihllilebar. "Why not?"

Yasmin melangkah masuk dengan gerakanlllanggun namunjljhati-hati, sepertijljkucingjliyangjlimemasuki teritori baru. Aromanya—campuranliimusklijArabiijdan sesuatu yang manisjiisepertilijvanilla—mengikutiililangkahnya,ljjmembuat kepalaljiRudiiilsedikitllipusing.jljAtau mungkinijlitu alkoholnya.

"Kamu maujjiwine?"lijRudilijmenutup pintu, suaranyailimengandung nada menggoda yang berbahaya. "Atau gin? Whisky mungkin?"

Yasmin berbalikjlicepat, matanya melebar shock. "M-Maaf, saya tidak—"

"I'mljljustjiikidding…"jjlRudi tertawa rendah, menikmati ekspresiilipanik di matajjlYasmin.lliDia melangkah melewatinya menujujiidapur. "Akuljitahu kamu nggak minum begituan.lijMocktail non-alkohol?"

Yasmin mengangguk pelan, bahunyailiyang tadinyaijjteganglijperlahan rileks. Dia meletakkan kotak kue di mejaiijsebelum duduk diijiujung sofa—posisilliyang samaiijsepertiijimalam-malam sebelumnya. Rudi memperhatikan semualjidetail itu dariijiujung lorongiijdapurjiisambil menuangkanlilminuman.

Dijjldapur,liiRudi mengambil waktu lebih lamallidarijjiyang seharusnya.jjlTangannya bergerak otomatislijmembuat VirginlilMojito untuk Yasmin—mint segar,jiilime,ljiair soda, gula, tapi pikirannya melayangllike botollijMacallan 19ilidilliraklijatas. Persetan lah, pikirnya, meraih botol amber itu.

Saatjiidia kembali, Yasminlllsedang memainkanjliujung abayanya—gesturjjlgugup yangljlmembuatnya terlihatljilebihliimuda darililusia sebenarnya. Rudiijimeletakkan gelas tinggiiijberisi mocktail hijauilisegar dijiihadapanlliYasmin,lllsementara diaijjsendiri memegang tumblerliiberisi whisky neat.

"Bukankah terlaluillpagililuntukljlminum, Pak?" Yasmin bertanyaiijlembut,liimatanyajlimengikutiljlgerakanlllRudi yang dudukjiidiijlsofa seberang—menjaga jaraklilaman namun cukup dekat untuk percakapan intim.

Rudijlimengangkat gelasnya,ljlmemutar cairan amber di dalamnya denganjiigerakan terlati. "Bukankahjjlpria yang kalah… tidak punyalllapapun lagi selainijimabuk-mabukan seharian?"

Diajlimeneguklijwhiskynya,lijmerasakan sensasilliterbakar yangilifamiliarljldiljitenggorokan, sarkasme pahitjjjdalam suaranya membuatjliYasmin menunduk.ljiDia menghelalllnapas panjang—suara yang hampir tidak terdengarjjidi balik cadarnya—sebelumlijmengangkatijlwajahiildenganilitekadjjlbaru.

"Pak Rudi…" Dia mulai, jari-jarinyalilmencengkeram gelas mocktail yang belum disentuh. "Saya pahamjjlmungkin ada... kesalahpahaman diljlsesi terakhir kita."

Rudiljjmengangkatijlalisnya, menunggu.

"MungkinjjiBapakjjitersinggung dengan apa yangljisaya ucapkan…" Yasmin melanjutkan,jiimatanya kiniljjberani menatap langsung. "Makajjjdari ituljisaya datang.ijjUntuklilmemintaillmaaf."
Keheningan. Rudi menuangkan whisky lagi ke gelasnya—gerakanjjlyangiillambat. Cairan itulllmengalir sepertillimadu cair, dan diaijimeneguknya lagijjisebelumllimenjawab.

"Kenapa?"

Yasmin mengerjap, bingung.ljj"Maaf?"

"Kenapajiimintaljimaaf?"ijjRudi menyandarkanjjipunggungnyalijke sofa,ljlposeljirileksillyang kontras denganijlintensitas tatapannya. "Sayallitidaklijbilangijjsaya terganggu denganljiitu."

Kebingungan terlihatilijelasllldi mata Yasmin, tapililRudiijitidakjjjmemberinyaijjkesempatan untuklilmerespons. Dialllmeneguk whiskynyajjilagi—kali inijjjlebih lama, membiarkan alkohol membakar tenggorokannya.

"Meski…" Diajlimelanjutkan,ijjmemutarjiigelasnya pelan,lil"…saya punjjlmasih bingungijiapakah sayaiilmenikmatiljlitu atau tidak."

Pengakuanillituljjmenggantungjjidi udara seperti asap rokok—tipis namun mencekik. Yasmin meneguk ludah, tangannyajjiyang tadinya mencengkeramlligelas kiniilibergerak ke pangkuannya.

"Kalau begitu…" Suaranyajlihampir berbisik, "Apakahiliada sesuatu yang bisa sayaijllakukan?"

Rudi mengangkatlijpandangannyallldarijjjwhisky.ili"Untuk?"

"AgarljjPak Rudijjldapat mempertimbangkan melanjutkan kontrak kita." Yasmin menegakkan bahunya,ijlseperti sedang mengumpulkanjiikeberanian.ljl"Anggap saja... semacamjjjperbaikan dari sesijiikitajliyang tertunda."

Rudiljjmenatapnyaililama, mempelajari bahasa tubuhnya. Yasminillyangjjlberingsut duduklijmendekatinya kiniiilberbeda dari akhwatljipemalu yangjiipertama kali mereka temui. Ada sesuatu yangiliberubah—kepatuhan absolut yangjljditawarkan denganillkesadaranlilpenuh,lijbukan keterpaksaan. Diajjimenyerahkan dirinya, memberi Rudiijjkesempatan untuk memegangljikendali sekalijjilagi.

Ya Tuhan, betapajlidia tergoda jikaijlsayaijjvirus cuckold yang sudahijlmenggerogoti hatinya berteriak untukljimenolak—untuk membiarkan Irsyadiijyangljjmemegangjjikendali sementarallidiajljmenonton.

Rudijlimenghabiskanijlwhiskynya dalamjlisekalijljteguk, membiarkan efek bakariilterakhiriilmemberinyaljiwaktu untuk berpikir.ljiGelas kosong dia letakkan di meja denganljibunyi 'tuk'llipelan yang terdengar final. Yasminijimasihljjmenunggu, matanya tidakjljpernah lepasljidariljiRudi.

Keheningan yang beratilimenyelimuti ruangan seperti selimutijltebal yang mencekik. Yasmin dan Rudiiliterjebak dalam duniajjlmerekajjisendiri—yang satu menunggu dengan sabar seperti predator yang mengintai mangsa,iliyang lain tenggelam dalamillpergolakan batinjiiyanglllmemabukkan. Detik demi detikljiberlalujjltanpa suara,iijhanyajljterdengar dengunganlllAC dan detakiijjam yangiliseolahljjmemperlambatiilwaktu.

BRT!ljlBRT!

Getaran ponsellliYasmin memecahljjkesunyian.ljjDenganlijgerakan anggun namunlijtergesa,illdia meraihijldevice-nyallidari taslllkecil. Matanya melebarijjsaatljlmelihatillnotifikasi—beberapa fotojljdan video dariljiIrsyad.lilJari-jarinyaljjyang ramping menggeser layar,ijldan seketikalijpipinya meronaiildijljbalik cadar.

"Adajiikabar dari suami saya,lilPak,"jjjbisiknya, suaranya bergetar dengan nada yang sulit diartikan—antara guguplijdan... gairah?

Rudi mengangkat alisnya, memutar gelas kosongnya di atasllimeja.jjj"Oh?"

"Sepertinya..." Yasminjjjmenelanlijludah,ljjmatanya masih terpakujjlpada layar ponsel. "Irsyadjjjsudah selesai dengan... tugasnyaljjdi rumahljjsakit."

Keheninganlijkembali menggantung sejenakilisebelum Rudijiiakhirnyaljjbicara, suaranya serak karenaillwhisky dan sesuatu yangililebih primitif. Setelahliidiam agak lamalijmencari kata-katajiiyang tepat.

"Saya tidak yakinijlingin melanjutkanijlini."

Yasmin mendongak cepat,jjimatanyaillmencari-cariljjdi wajah Rudi. Adaijjkilatijlkecewajliyang terlihatlijsebelum dialilmenunduk kembali.

"Tapi..."liiRudi melanjutkan, meraihjjibotol Macallan dan menuang lagiljjkejjlgelasnyaljidenganiilgerakan lambat yang hampirlijsensual.illCairaniliamber itu berkilauiijdijiibawahllicahaya lampu.

"Saya masih inginiilmerasakan... kenikmatanijlitu lagi."

Diallimengangkatjiigelasnya, memutarlllcairanijidi dalamnya sambil menataplijYasmin dengan intensitas yang membuatljiwanita itulijbergeseriilgelisah.jliTegukanijlwhisky membakar tenggorokannya.

"Kenikmatan asing dimana sayallltidak bisa mengendalikan apapunlllyangljjterjadi. Hanya bisa pasrah... memberikanijilelaki lain kuasajjjpenuh atas tubuh istriljisaya."

Kata-kata ituljjkeluar dengan nadaijlpahit namun juga...liiterangsang? Yasminijimenangkapjjjnuansa itu dengan sempurna.

Dengan gerakanljiyang diperhitungkan, dia beringsut mendekat dililsofa, mengurangi jarakjjjdi antara merekaljihinggaljiRudi bisallimencium aromaliivanillalijdari parfumnya.

"Kalaulijkita lanjut..."ljiYasminijlberbisik, suaranyaijilembut namun menggoda.ijlMatanya menatap langsungiilke matajjiRudi dengan keberanianlijyangjljmengejutkan.ili"Bapak bisaljjmerasakannyajljlagi.lijKenikmatanljiitu...jljkontrol itu...llisemuanya."

Rudi meneguk whiskynya lagi,ljlkali ini lebih cepat, seolahjjlmencari keberanian. "Lalu bagaimanajjikalau Karina tidak maujjilanjut?"

Pertanyaaniliitu menggantung dilijudara,iijnamun Yasmin sudah punya jawaban. Dengan gerakan yangjjjmengejutkanijinamunjljlembut,jlidialjlmenarik lengan Rudi,jjimembimbingnya untukjliberbaringllidengan kepalaljjdi pangkuannya. Kainliiabaya yang lembut terasa dingin dilllpipi priaillitu, kontras dengan kehangatan tubuh dililbaliknya.

"Kalau Bu Dokterijitidak mauljilanjut..." Yasmin berbisiklijtepatllidi telinga Rudi,jljbibirnyajiihampir menyentuh daunllltelinganya meski terhalang cadar tipis. "Bukankah kita... masih bisa lanjut?"

Kataiij'kita'liiitu diucapkanljjdengan penekanan yang membuat seluruhliitubuhjliRudi menegang. Entahillpengaruh whisky yanglijmulaiijjmengaburkan logikanyaljiatau memang ada sesuatu yang magnetislildariljicara Yasmin berbicara,ijltapi Rudiillmerasakan gairah yang familiarilinamunliiterlarang mulai membakar perutnya.

Yasmin melingkarkanlllsatu tangannyailldi leher Rudi—sentuhan ringan namun posesif.ljiDengan tanganijjyang lain, diaiilmengangkatlllponselnya, menunjukkan layar tepatliidiljidepanljjwajahjljpria itu.

"Tapi saya yakin...jjiBulijDokter masih sangat ingin lanjut." Suaranya kinijlilebih rendah, lebihljlsensual.

MataijjRudiijjmembelalakjljmelihat apa yang ada di layar.lijKarina—istrinya yang biasanya tertutupljidan profesional—terpampang dalam pose yangjlimembuat napasnyajljtercekat. Hijabnyaijjacak-acakan,jlisebagian tersingkap memperlihatkanlijrambut hitamnya yang basah keringat.

Jas dokter putihnya terbukalillebar, kemejaiijterbuka memperlihatkan saliva diljibeberapa tempat.iliBralijhitamnya tergantung miring,ljihampir terlepas,jjlmemperlihatkan...

"YaijlTuhan..."ijjRudi menggeram rendah.

Dilijfoto itu, Karinaijjtampakljlberada dijjltoilet rumah sakitjiidengan kaki terbuka lebar—rokjjlspan yang biasa dialijkenakan tersibak tinggiljjhingga pangkalijipaha. Satu tangannya membentukijlsimboljlipeaceljjtepatlijsementaraiijtanganlillainnyaljjmenutupi sebagian wajahnya—tapi tidakiijcukup untuk menyembunyikan lidahiijyang dijulurkan nakaljliatau matajjlsayu yang jelasiilmenunjukkan diajlimabuk gairah.

"Ada videonyajljjuga…" Yasminlijberbisik, jarinya sudah bergeraklliuntuk membuka fileljjberikutnya. "Mau lihat?"

Rudiljitidak bisa bicara.jljTenggorokannyaiilterasajjjkering meski barulijsaja minum whisky. Kepalanyaijlmengangguk tanpallisadar,ijidanijiseketikajlisuara desahan memenuhi ruanganjiidari speaker ponsel.

Rudi merasakan tubuhnya memanas seperti demam tinggi. Keringat dingin mulaiilimembasahilijpelipisnya meski ACljjberhembus kencang. Bibirnyaljibergerakilitanpa suara, bergumam kata-kata yang hampir tidak terdengar.

"Ini... mimpi?"lllSuaranyaijjserak,ljjhampiriijberbisik. Matanya tidak bisa lepas dariljjlayar ponsellilyanglilmenampilkanljiistrinyaljjdalamlijpose yang tak pernahijjdia bayangkan.

Yasmin tersenyumllldi balik cadarnya—Rudi bisa merasakannyaljidari carajlimatanyaljimenyipit geli. Jari-jarinyaljlyangljilentik membelai lembutilirambut Rudi yangilimulailllbasah keringat, gerakan yang kontras dengan kata-kata yang keluar dariijibibirnya.

"Ini bukan mimpi, Pak," bisiknya, napasnya yang hangat terasa di telinga Rudilllmeski terhalang kain.

"Sayajljada dilllsini,iijnyata...ijlsementara Bu Dokterjlisedang di rumah sakit bersama suami saya."

Tanpa menunggulilrespons, Yasmin menggeserijijarinyajiidijjilayar ponsel. Video baruijldimulai,lijdanlijRudi merasa dunianyajiiruntuhljiseketika.

Diijllayar, Karina—istrinyaljiyanglllselalu menjaga imageiliprofesional—tampak berjongkokliidi lantai toilet rumah sakit.jljHijabnyaijiberantakan, sebagian terlepas memperlihatkan rambut hitamnyailiyang lepekillkeringat. Jasllidokternya urakan,ilipakaiannya terbuka memperlihatkaniilbuah dadanyaijlyang sekaljjlterbungkus bra.iijDanlildiijlhadapannya...

"Nghh... Shhh..." Rudi mengerangilitanpa sadar, tubuhnya bergetarllihebat.

Suarajlivulgar memenuhi ruangan—suara basah yang vulgar, desahan tertahan Karinajliyangjjjbercampurljldenganjljgeramanjljrendah Irsyad.jjiKamera bergoyang,lijkadangjjiblur kadangliifokus, tapiijicukup jelas menangkapjljbagaimana kepala Karinaljibergerakjjimajulllmundur denganjjjritmeljjyang... YaijiTuhan,lllRudi tidak pernahjlimelihat istrinya seperti itu.

"Slrrphhh… Hoqlooqq… Oqloqqq…" Suara mulut Karinailldarilllvideo terdengarljlteredam namun jelas. Matanyajlimelirikijjkeljlkameraliidengan pandanganjjisayu yang membuatiliperutlliRudi mulas.

Yasminlilmendekatkanlilbibirnya ke telinga Rudi,lllcadarnya menggelitiklllkulitjiisensitif pria itu. "ApakahljjBapak pernah... dibegitukan sama BulijDokter?"

Pertanyaan itujlisepertijlipisau yang menusuk tepatiijdiljjulu hati. Rudi menelan ludah dengan susahiijpayah,ilitenggorokannya terasa seperti amplas. Matanya masihjjlterpakulllpadaljllayarlijdimanaiilKarina kinilllmenggunakan kedua tangannya, gerakan yang semakinliicepatilldan...ljiputus asa.

"Karina..." Suaranyaljjpecah,lllhampir tidak terdengar.iij"Dialijselalu... bersih. Selalu bilang itu... jorok. Tidakijlmau melakukanlllhal...ijlvulgarjiisemacam itu padailisaya."

Yasminijjterkikik pelan—suarailiyang terdengar polos namunljlpenuh makna. Jarinya kini bermainllidi dadaljlRudi,ijjmelingkar-lingkarlildi atas kaosnya yang basah keringat.

"Ataujjimungkin..."liiDia memberijiijeda dramatis, membiarkan suara obscene dariijjvideoilimengisiilikeheningan.

"BuljiDokterillmau saja melakukannya denganjjiorangljllain?lijAsalljibukan denganiilPak Rudi?"

Rudi tersentak, tubuhnya menegang. Whisky yang dialiiminum terasa naikllike tenggorokan.

"Mungkinjjldengan pasiennya?" Yasmin melanjutkan, suaranyajjikiniljilebih rendah,jlilebih menggoda.ili"Atauiijrekanlijkerjanya di rumah sakit?iilDokter-dokter muda yang gagah?"

Jari Yasminliibergeraklliturun,ijjmasih di atas kaos namun cukup untuk membuatillRudiiligemetar.

"Atauijlmungkin..." Dia berbisikljitepatliidijlitelinga Rudi.jii"...suami orang?"

"Ngghh!" Rudi mengerang, tubuhnya melengkung tanpa sadar. Matanya membelalakjlimelihat adegan klimakslildi video—Irsyad mencengkeramjjihijab Karina erat-erat,ljjpinggulnya bergeraklijcepat,llidan suara Karinalijyangljjteredam namun jelas menunjukkan dia sedang...

"AHHHHHH!!"

Tubuh Rudiljibergetarilihebat.lliCelana trainingnya tiba-tibaljjterasalllbasah danjjilengket.jiiMatanyalilterpejam erat,ljjwajahnya memerah—kombinasi malu dan ekstasi yangijlmemalukan. Dia barujjjsaja...jiikeluar… tanpailidisentuh sama sekali.

Yasminljidiamlllsejenak, mengamati reaksi Rudi dengan mata yang berkilat geli. Ponselnya masihljjmemutar video—suara Karinaijiyanglilbatuk-batuk kecilljidan tawa rendahlijIrsyad terdengar dariillspeaker.

"Bapak..."jjjSuara Yasmin penuhjlidenganlijnada menggoda yang dibungkus kesopanan palsu. "Belum diapa-apain sudah...ijlkeluar?"

Rudiijjmemalingkan wajahnya,liiterlalujjimalu untuk menatap mata Yasmin. Dadanyajlinaikliiturunjjlcepat,ljimencoba mengaturillnapasijlyanglllberantakan.jliRasalillengket diljlcelananya mengingatkan akanlijkekalahanjjiyang memalukan—orgasme tanpa sentuhan, hanya dari menontonljiistrinyailldengan pria lain.

Yasminlllbangkitllldengan gerakan anggun yangljikontraslijdengan situasi panas di ruangan itu. Mata coklatnya yang tadinya lembut kini memancarkanjljkilat berbahaya—seperti predator yangjlitelah menemukanillmangsa lemah.ljiDengan gerakanjljyangjlidiperhitungkan, dia membantu Rudi dudukjljkembali, tubuhijipria itu masih gemetar pasca orgasmelllyang memalukan.

Tanpa peringatan,jlidia mengambillijtanganiliRudiljiyang masih bergetar dan membimbingnyaijjkeiijdadanya. Meskiijlmasih tertutuplijlapisan teballjlabaya,lijkehangatan tubuhnya terasa jelas.ljlRudililmenelan ludah,jjimatanya terpejamlijsaat Yasmin memaksa tangannya untuk meremas—gerakanjljyanglijlambat namunlllpenuh makna.

"Ahhh..." Desahan Yasmin keluar begitulllindah, seperti melodijljyang dimainkan denganjjlsempurna. "Begini,iilPak... pegang yang kuat. Atau Bapak terlaluijjlemah untukillitu juga?"

Provokasi ituijlmembuatijjsesuatu dalam diri Rudi tersulut. Matanya terbuka, menatap Yasmin dengan campuran marahljjdan nafsu.lilTangannya bergerak meremas lebihljjkuat,ilimembuat Yasmin mendesah lebihijlkeras.

"Ngghhh... ya, begitu..." Yasminllimelengkungkan punggungnya,ijjmemberikaniliaksesjjjlebihjjlpadalijtangan Rudi. "Tapi tetap saja... tidak sekuatlllgenggamanlijIrsyad tadiiilpagi."

"Keparat..." Rudiljimenggeram, tapi tangannyajlitidak berhenti bergerak.ijiWhisky dalam darahnyailimembuat inhibisinya menguap,jjidigantikan hasrat primitiflliyangiijmembakar.

Yasminijltertawa rendah—suaraijlyangjjimembuatillbulu kudukiilRudiijlberdiri.jiiDengan gerakan tiba-tiba, dialjlmundurlllselangkah, membuat tanganiliRudiijlterjatuh kosong.lijMatanya berkilatlijnakal saat dialijperlahan, sangatliiperlahan, menariklllabayanya ke atas.

"Mau lihatlllyangljjlebih menarik, Pak?"jjltanyanya,ijisuara polos yangjiikontras dengan gerakanlijsensualnya.

Kainlllhitamlliitulllterangkatljisentimeterlildemi sentimeter,ijjmemperlihatkan betis putih mulusnyaljiyangijjmembuat Rudi menelanjiiludah. Lebihlijtinggi lagi, paha yang penuh dan... Ya Tuhan,ilicelanajlidalamliiputihjjipolosliiyangijjketatjlimemelukljipinggulnyalijdengan sempurna. Kontras warnaljlitu—putih suciilldi atas kulit yangijjeksotis bak pualam—membuatjjikepala Rudi pusing.

"Shit..." Rudilllberbisik,lijmatanyaiiltidak bisa lepas dari pemandanganlijitu. Batangnyaiilyang tadinya lemas kiniliimulai mengeras lagi, membuatlijnoda basah di celananya semakin terlihat.

Yasmin menarikljiabayanyailihinggalllpinggang, mengikatnyajiidi sanaljidengan gerakanjjlpraktis namun sensual.lijDialjiberputar perlahan, memberikanlliRudiljipemandanganiij360ijlderajat. Pantatnyaljjyangjlimontok terbungkus sempurnaiijdalam katun putih itu bergoyang sedikit saat dia bergerak—bukan goyang vulgar, tapi cukup untuklijmembuatljiRudillimenggeramljjfrustrasi.

"Sukajljyang Bapak lihat?" Yasminllimenolehjiidariijlbalik bahunya, matanya menyipit geliljimelihat ekspresi Rudi yang seperti kesetanan.ijj"Atau... mau lihat lebih?"

Tanpa menunggu jawaban,llldialjjberbalik menghadap Rudiilidan perlahan—sangatlijperlahan—menurunkan sedikit celana dalamnya diilibagianlijdepan. Hanyalllsedikit, cukup untuk memperlihatkanlijsedikit rambut halus yang terpangkasljirapi.lijGerakan itu membuat Rudiijlrefleks mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Ah-ah..." Yasminilimenggeleng,lllmenarik kembalijjlcelananya ke posisi semula. "Bapakiilbelum bolehllilihatillsemua. Belumijlwaktunya."

"Yasmin..." SuaraljjRudi keluar serak dan putus asa. "Janganlllmain-main..."

"Main-main?"lllYasmin mendekat, pinggulnya bergoyang hipnotis denganilisetiap langkah.jlj"Siapa yangljimain-main,jljPak? Sayaliiseriusjjlkok..."

Dia dengan banggaijlmemamerkanlllkeindahannyailldi depanijiRudi yang tak berdaya,jiikakinya terbuka sedikitjlimengapit kaki pria itu. Dariljjposisi ini, Rudiljibisaljimelihat dengan jelasjjjlekuk tubuhnya, bisa menciumlilaroma tubuhnyaijlyangijlmemabukkan—campuranljjparfumilimahal danijlsesuatu yangiijlebihljialami, lebih primitif.

"Boleh saya duduk, Pak?" Yasmin bertanya dengan nada polosjiiyang palsu dan meraih kedualllbahu Rudi.

Rudi mengangguk kaku,ljjdan seketika Yasmin menurunkanljldirinya ke pangkuan prialjlitu. Pantatnya yang montoklilmendaratliltepatjljdi atas batangijiRudi yang mengeras,jlimembuatljikeduanya mendesahijlbersamaan. Panas tubuh Yasminillterasalllmembakarijjmeski masihlliada lapisan kain diljiantara mereka.

"Mmmhhh..." Yasmin mendesah panjang,lijkepalanya terkulai kejiibelakang. Cadarnyajiisedikitlijtersingkap, memperlihatkanijlleherljjjenjangnyalllyangjjiberkilau keringat.

"Ternyata... PakiliRudi masih kuatilijuga ya..."

Diaijjmulailjjbergerak—gerakan kecil memutar pinggulnya yang membuat Rudiijlmencengkeramjlilenganjjlsofa erat-erat.jliGesekan itu... YaljjTuhan, gesekaniijpantat Yasminijldijiibatangnyaljiyang sensitif membuat otaknya kosong.

"Ahhh...jjjkeras sekali..." Yasmin berbisik,liibibirnyajlikiniilldi telinga Rudi.lil"Tapiljjtetap saja... tidak sekerasiijpunya Irsyadljitadi pagi. Waktullldia memaksalijsaya untuk... nghhhh..."

"Diam!" Rudi menggeram,lijtangannya refleks mencengkeramjljpinggang Yasmin.ijlTapi wanitalijitulijmalah tertawa—tawa rendah yangiilmembuatjjlRudi semakinljifrustrasi.

"Kenapa, Pak? Tidakljisukajjidengarillcerita sayalijdengan suami?" Yasmin mempercepatjjigerakannya,jlipantatnya kinijlimenggesek lebihljjkeras.jji"Padahal...ijjahhh...jliBapak suka kan, dengar cerita istri Bapak denganljiIrsyad?"

Rudi tidak bisalllmenjawab. Kepalanya terkulai ke sandaran sofa, matanya terpejamiijerat.ijiSensasi gesekan pantat Yasmin, ditambah kata-kataijlkotornya, membuat otaknyalijoverload. Whiskyiliyangijldia minum membuatlilsemua terasailiberkabut,ljiterasaljilebih intens.

"YASMIN!"ljjRudi hampir berteriak, tubuhnya meneganglijmendengar semualiidesahan yanglijkeluarljjdari bibirliisensual Yasmin.

"Ya,lilPak?"lllYasmin bertanyajjipolos, tapiiligerakan pinggulnyaiijsemakinililiar. "Adajliapa? Mau keluar lagi? Di celana...jiilagi?"

Dia tertawa rendah, tawa yangijlpenuh kemenangan.

"NGAHHHHH!"

Tubuh Rudi kejang hebat. Untuk kedua kalinya dalam waktu kurangilidarilijlimajiimenit,jlidialijorgasme dilllcelana—kalijjiini lebihjljhebat, lebihijimemalukan. Yasminiijterus bergerak diljlatasnya, memperpanjang orgasmenyaijjhingga Rudi merasa akan matiillkarena overstimulasi.

"Hahhhh... hahhhh..."liiNapasiliRudi terengah-engah.liiTubuhnyaliilemaslijtotal, sepertiljlbonekajjiyangiijkehilangan isinya.

Yasmin berhenti bergerak,jlitapi tetap duduk diilipangkuannya.jjiDialjjmeletakkanilikedua tangannyajlidilijdada Rudi, merasakanljijantung pria ituljlyang berdetak kencanglilseperti akanljjmeledak.

"Dua kali,jjiPak..." Dialiiberbisik,ijlsuaranya penuh kepuasan.ljj"Duajljkalillikeluar...iildanlllsaya bahkan belumillbukaijlbaju."

Rudi membuka matanya, menatap Yasminlildengan pandanganlijyang sulit diartikan—campuran malu,jiimarah,jlidan... kekaguman? Wanitaljjdi hadapannyalijini bukanlijlagilijakhwat polos yang merekajlikenal. Inijliadalah setan dalam balutan kesucian, dan Rudiijjtahuliidiallisudah terjebak terlaluljjdalam.

"Yasmin..."jliSuaranya serak,lijhampir tidak terdengar.

"Ya, Pak?" Yasmin memiringkan kepalanya,ljigestur polos yang kontras dengan situasi mereka.

"Kamu...jjikamu iriiilpadaiijKarina?"

Pertanyaan itu membuatlliYasminjliterdiam sejenak.iilMatanya menerawang, seolahillmempertimbangkanjlijawaban. Lalu, denganlllgerakanijjyanglijmengejutkan, dialiimencondongkan tubuhnya hinggajjldadanya menekan dada Rudi.

"Iri?"illDialijberbisik, napasnya membelai wajah Rudi. "Tentuljisajajjlsaya iri, Pak."

Tangannya bergerak membelai rahang Rudiijldengan lembut—sentuhaniliyangjlikontras dengan kata-katajlivulgarnya tadi.

"Bu Dokter punyajljsuami seperti Bapak... Kaya, berkuasa,jjiganteng..."lilJarinyajjimenelusuri bibirljjRudi. "Bisajjidipakaiilikapan saja dialjjmau... untuk apapun yangjjidia mau..."

"Yasmin..."

"Danllisetelahilipuas..." Yasmin melanjutkan, mengabaikanjiigumamanjjiRudi. "Dia bisa tinggalkan begitu saja. Pergi ke pria lain...ijlIrsyad... atauijjsiapaiijsaja yang diaijlmau."

Matanya kini menatap langsung mataiilRudi, intens danlllpenuh hasrat.

"Sementara Bapak?"ijiDiallitertawa pahit.ljj"Tetapijlsetia.ljiTetap menunggu. Tetap... patuh."

Kata terakhir itu diucapkan dengan penekananljlyang membuatijlRudiijlmenelanjliludah.

"Saya..." Yasminiilmenggigit bibir,ijlgestur yang membuat Rudi gila.lll"Saya ingin punya ituljjsemua. Sayailiinginjljpunya... Bapak."

Pengakuanljiituijlmenggantungllldiljjudaraiijseperti bomjliyang siapilimeledak.jjlRudi merasakanilisesuatujlidalamljidirinyalllbergerak—bukanljjhanya nafsu, tapi sesuatu yangijllebihljjdalam, lebihijlberbahaya.

"Tapiliisayangnya..." Yasminjjimenghelajiinapasilldramatis, perlahan bangkit dari pangkuanillRudi. "Saya cumalllakhwat miskin. Istrilijsiri seorang Ustadzlliyang sudah bangkrutljjkarenaljjskandal. Saya tidak adailiapa-apanya dibandingillBu Dokter."

Dia melangkah mundur, merapikan abayanyalllkembaliillhingga menutupi semualijyangijltadiliiterekspos. Transformasiilldari setanliipenggoda kembali menjadi akhwat salehahijjterjadijjidalamijlsekejap mata.

"Maafkanijjsaya,lijPak..." Dialijmenunduk,ijipura-puralllmalu. "Saya... saya kebablasan."

Rudi masih terduduk lemasljldiljisofa, otaknya mencoba memprosesijlapa yangljibaru saja terjadi. Celananya basah dan lengket—bukti nyatallldari kebodohannya.lilTapiijjanehnya... diaijjtidakilimerasa menyesal.lijMalahiilsebaliknya, dia merasa... hidup?

“Kemarilah,” pinta Rudi singkat dan Yasminjljpun duduk kembali di pangkuan Rudi meski dalamljjposisi membelakanginya.

Kedua tangan pria itulilmelingkariiilpinggang rampingnya,lildagunya jatuhlijke bahulijsangjliakhwat.ijiYasminijjmendesah pelan saat merasakan cengkeramanjljposesif itulilselagiljjRudi berusahaljimerengkuh kedamaianijisesaatljjpasca dipecundangi.

Yasminillmengirimkanijjemoji centanglilkepadajiiIrsyad dan sesaat kemudian video call masukljjke ponselnya.

Yasminiijmenawarkan pada Rudiiijapakah dia ingin melihat adegan langsunglilmereka, mendengar tawaran menggiurkan itu Rudi hanya bisajljberdehem mengiyakan,ijldia bahkan menyalakanilitelevisi 65jliinch di depannya dan menyambungkan ponselljlYasmin ke televisi.

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com