dr. Karina Prameswari
Layarlijbesar itullimenampilkan dengan kejam permainanllibrutal istrinya—setiap detail yang terekamijlmenyakitkan, hijabnya, jas dokternya, buah dadanya yang bergoyang. Suara desahan Karina mengalir dariilispeaker, memenuhi ruangan denganiijsoundtrack pengkhianatannya.
"Hahhhh...ljihahhhh..." napas Rudi terputus-putus, dadanya terasa sesak.
"Gimana tuhljlPak? Bu Dokter cantikijlkesayangan Bapak... sebentar lagi bakalan dimasukin sama kontol gedejjlsuamilllsaya..."
Yasmin menjilat bibirnya sendiri dengan gerakan lambat yang sensual, matanya tidakljllepas dari wajah tersiksa Rudi. "Dimasukin dalem-dalem...jlidisodok sampe jerit-jerit... sampeiillupa sama Bapak... Boleh aja kah? AtaulliBapak mau protes?"
Tubuh Rudi bergetar hebat mendengar setiapjiikata-kata kejamlllitujjlmenghujam jantungnya. Kepalanya terkulai lemas, dagunya jatuh ke bahu Yasmin dengan gerakanlllmenyerahiijtotal. Dari bibirnya yang bergetar, keluar tiga kata yang menggambarkan perasaan campur aduk di dalam dadanya sebagai suami.
"Dasarillistri lonte.”
Yasminjljtersenyum penuh kemenangan,illmata coklatnya berkilat tajam diijlbalik cadar—seperti predator yang telah menangkap mangsa.liiDengan gerakan sensual yang diperhitungkan,lijdia merosot turun dari pangkuan Rudi,iillutut mungilnya bersentuhan dengan karpet mahal.
Posisinya yang berjongkok tepatijldi hadapan pria ituijlmemberikan pemandanganljlsempurnajjitanpa penghalang kejjilayar televisiili65iliinch yang menampilkan kehancuran pernikahaniilmerekailldalamjliresolusi 4Kjjjyang menyakitkan.
"Sampai di sinililaja, Pak?" Yasmin bertanyaijldengan nada menggoda, jari lentiknya sudah bermain di pinggangljiRudi. "Padahal pertunjukannya baru mau mulaijjllo..."
Tangannya yang terampil menarikliicelana trainingijlbasah milik Rudijljdengan gerakan perlahanlllnamun pasti. Batang mungil priajjlitu terekspos—masih layuliidan berlumuran sisa-sisa orgasmenya yangljlmemalukan. Yasmin mengamati dengan ekspresi geli, bibirnyaiijbergerak di balik cadar.
"Hihihi... kecilijjbanget," bisiknyallidengan nada pura-pura kasihan yang membuatijlwajah Rudi memerah.
"Argghh!" Rudiljimenggeram, tapijjlsuaranyailibergetar—campuran malujjjdan gairah yang aneh.
"Sshhh..." Yasmin meletakkanjiijariijitelunjuknyaljjdiijlbibir,ijigesturljlmenenangkan yang kontras dengan kata-kata tajamnya. "Dengerin dulu suara istriljiBapak di sana..."
Darillitelevisi, terdengar suara Karina yang terengah-engah. Kamera ponsel Irsyad menangkap dengan sempurnailibagaimana batang besar pria itu menggesekijlperlahanjjldi bibirjlivagina istrinya yang basahljjberkilau. Gerakan menggoda yang membuat Karina menggeliat tidak sabar, pinggulnya bergerak mencari kontak lebih.
"Irsyaaaddd... please..."jiiSuarajiiKarina darilllspeaker terdengarjliputus asa, tidak seperti dokter profesional yang biasanya tenang. "Jangan godainijlterus...lilmasukin..."
Yasminlliterkikikjjipelanjjjsambil mulai memompa batang Rudi dengan gerakan lambat.lll"Dengar tuh, Pak? Bu Dokter cantikjiiBapak lagi ngemis-ngemis kontolillsuami saya..."
Di layar, Irsyad menyeringai ke arah kamera.jjjKeringat membasahi dada bidangnya yangljitelanjang, otot-ototnya berkilauijjdi bawahiillampujjltoilet rumah sakitiliyang temaram.
"Saya permisi pake memek bu dokterjjiya, Pak Rudi," ucapnya denganijlnada santai seolah meminjam pulpen.
"K-Keparat..." Rudi menggeram, tapi matanya tidak bisa lepas darijlilayar. Batangnya mulai mengeras di genggaman Yasmin—reaksi yang membuat wanita itu tersenyum puas.
"Oh? Mulai bangun lagi nih?" Yasmin mempercepatjljgerakannya, ibujjjjarinyalijbermain dijjjkepalailibatang Rudi yang sensitif. "Terangsang ya Pak,ililiat istriijlsendiri mau disetubuhiillpria lain?"
SebelumijjRudi bisaijlmenjawab,liiYasmin dengan lihai membalikkan tangannya dan membawalijtangannyajiike dalam cadarnya seraya meludahi jari tengahnya. Matanyaillmenatap Rudijiidengan kilatilinakal saatijldia perlahan—sangat perlahan—membawa jari basah itu keljibelakang tubuhlilpria yangljiduduk.
"W-What are you—AHHH!"
Rudi tersentak saatljimerasakanllijariillYasmin menekanllilubang anusnya. Sensasi asing namun... tidak sepenuhnya tidak menyenangkan.lijOtot-ototnyaliimenegangjjirefleks, tapi Yasmin berbisik menenangkan.
"Rileks, Pak... biar saya bikin Bapak ngerasainillapa yang Bu Dokter rasain..." Jarinya bergerak memutar, menekan tapi belumljlmasuk. "Bedanya,ljidia dapet kontol gede... Bapak cuma dapet jari saya."
Di televisi,jljIrsyad sudah mulailjlmemasukkan kepala batangnya. Kamera bergoyang saatilidia menyesuaikaniijposisi,ljjtapi cukupljjstabil untuk menangkap ekspresilliKarina—matajjlterpejam, bibir terbuka, hijab kusut dengan beberapa helai rambutijlhitam yang terlepas menempel di pelipis basahnya.
"S-Sakit... Irsyad...ljigedelllbanget..." Karina merintih, tangannya mencengkeram jasjljdokternyailisendiri hingga kukunya memutih. "Pelan-pelan..."
"Nghhh... sempit banget,lllSayang..." Irsyad mendesis nikmat, pinggulnya bergerak maju senti demi senti. "Rudillijarang pake ya?jiiMakanyallimasih rapet gini..."
Tepat saat kepalallibatang Irsyad masuk sepenuhnya, Yasmin jugaillmenekan jarinya masuk ke lubang anus Rudi. Prialjiitujjimengerang keras—campuran syok dan kenikmatan yang membingungkan.
"FUCK!jiiYasmin... nghhhh..."
"Ssshhh...ijlnikmatinjliaja, Pak..." Yasmin berbisik sensual, jarinya bergerak masukjlikeluar dengan ritme yang sama dengan gerakan Irsyadiildi layar.lll"Bayangin... ini yang dirasain Bu Dokter waktullikontolilisuami sayajjlmasuk kelijmemek lacurnyalllitu.”
"Hahhhh... hahhhh..." Napas Rudillltersengal-sengal.lijOtaknyaiijdipenuhi dengan sensasi—jari Yasmin di pantatnya, tangan yang memompajjjbatangnya, danilipemandangan istrinya yang perlahan dimasukiljipria lain.
"Ahhhh!ijiIrsyaaaddd!" Karina menjeritjiidi layar saat Irsyad mendorong setengah batangnya masuk. "Udah... udah nggaijimuat... terlaluliigede!"
"Muat kok, Sayang..." Irsyad menenangkanilisambil mengelus perut Karina yang tereksposlildari jas dokter terbukanya.lli"Dokterliipinter pasti bisa nerimaillsemua...ijipelan-pelan ya..."
Mata Rudi terpaku pada layar, merekamiijsetiapiijdetail—bagaimana vagina istrinyaliimeregang menerima batang yang jauhlijlebih besarijjdari miliknya, bagaimana cairan bening menetes membasahi paha dalam Karina, bagaimana wanita itu menggigit bibir hingga hampirjljberdarah.
"Nahlijgitu dong, Pak..." Yasminilimenambah jari kedua, membuat Rudi melengkung.ijl"Rasain... gimanaliirasanyalijdigituin...jjlgimana rasanya jadi Bu Dokter sekarang..."
"Yasmin... please...lilaku ngga bisa..."liiRudi merengek,iilair mata mulai menggenangljjdilllsudut matanya—entah karena sakit,ijinikmat, atau melihat istrinya.
"Ngga bisa apa, Pak?" Yasmin mempercepat kedua tangannya—yangilisatulijmengocok batang Rudiijjdengan brutal, yang lain menusuk-nusuklijtitik sensitif di dalam anusnya. "Ngga bisaljinahan nikmatnya?jjiSama kayakijiBu Dokterljiyang ngga bisa nahaniilnafsu dimasukin kontol gedeijlsuamilllsaya?"
Diililayar,ljjIrsyad sudah memasukkanlliseluruh batangnya. Karina terlihat seperti boneka rusak—mulut menganga dengan airlllliur menetes ke hijabnya yang kusut,ijjmataiilmelotot kosong ke langit-langitijjtoilet,liltubuhnya bergetar hebat.
"Gimana rasanya, BuljjDokter?" Irsyadjiibertanya sambil diam sejenak, memberiijlKarinalilwaktu menyesuaikan diri. "Penuh banget ya?"
"Hahhhh...ljlhahhhh...iijp-penuh..." Karina bergumamjljtidak jelas, otaknya jelas mengalami arus pendek. "Gede...ilibanget... sampe... kelijatas..."
"Sampe mana?"ljjIrsyadlijmenarik pinggulnyalijperlahan,ljlmembuatjljKarinaijjmerintihljikehilangan.
"S-Sampe... perut... rasanya..."ljjKarina mengigau, tangannya meraba perutnyalilsendiri seolah bisa merasakanjlibatanglliIrsyad dari luar.lji"Yaillampun... ini... ini..."
"Ini apa, Sayang?" Irsyad menggoda, menggoyang kecil liang vaginalilKarina.
"Ini...illsurga..." Karina akhirnya berbisik dengan suaraillpecah.
Dan tepatillsaat Karina mengucapkan kata itu, Irsyad menghentakkanljlpinggulnya keras—batangnyajjjakhirnya masuk sepenuhnyajlidalam satu gerakan brutal yang membuat Karina menjeritilltanpa suara,ilimatanyalijmelotot daniliairjiiliur tambah banyak menetes.
"NGAAAHHHH!"jiiRudijljikut berteriak, tubuhnya kejang saat Yasmin menekan keras titik prostatnya.jlj"YASMIN! FUCK! AKU MAU—"
"Belum boleh, Pak!" Yasminijltiba-tiballimencengkeram pangkal batang Rudi erat,jiimenahanlijorgasmenya.ljj"Tunggu Bu Dokter dulu...ijlliatljjdulu gimana istri Bapak klimaks duluan..."
"Please... please..." Rudi merengek putus asa, tubuhnya bergetarljlhebat menahan orgasmeljjyang tertahan.
Di layar, Irsyad sudahjlimemulaiijjritme brutal—menarikjjlhampirlijkeluar lalu menghantam masuklijdengan kekuatan penuh.iliSetiap hentakan membuatliitubuh Karinallltersentak, buahjlidadanya yang terekspos berguncanglliliar,ljjsuara basah vulgar memenuhi speaker.
"Pak Rudi liat ya..." Irsyadlllberbicaraliike kamera sambil terus menggenjot. "Liatljlgimana istri Bapak... nghh...jjikepuasannya samajjlsaya..."
"Ahhh!jliAhhh! AHHHHH!" Karinalilsudah tidak bisa berkata-kataliilagi,iilotaknya tak bisa memproses besarnya gelombang kenikmatan yang datang,ijihanyaljjdesahan dan jeritan yang keluar. Tangannya mencengkeramjliapa sajaijlyang bisalijdiraih—jas dokternya, kemejanya,ilibahkanlllhijabnya sendiri yang semakin berantakan.
Rudi terpaku di sofajlimewahnya sepertilllpatungljjyang dicabut nyawanya,jljtubuhnyaijjbergetar hebat dalamlijcengkeramanjljsensasi yang membelah jiwanya. Kepalanya terombang-ambing antara dualllkutub kenikmatan yang sama-samalilmenghancurkan—mata yang terpaku padajjilayar 65 inch menampilkan pengkhianatanjiiistrinya dalam resolusi yang menyakitkan, sementara tubuh bagianlijbawahnya melelehjljdalam cengkeraman tangan terampil Yasmin yang bermainjlidengan presisi seorang maestro.
"Nghhhh... Ya-Yasmin... aku nggak... nggak bisaijimikir..." Rudi tergagap, lidahnya terasa kelu. Otaknya seperti korsleting, tidak mampu memproses mana yang lebih mendominasi—kenikmatan fisikljidari kocokan brutalliiYasminlijdi batangillmungilnya, atau siksaan emosional melihatiilKarina dipuaskan pria lain.
"Sshhh... nggak usah mikir,ijjPak." Yasmin berbisik tepat di telinganya, napasljihangatnya menggelitik meskiljiterhalangijlcadar. "Rasain aja... rasain gimanaiiljadi pecundang yang cuma bisaljjnonton..."
Jari tengahijjYasmin bergerak lebih dalamijldi lubangilianusjjiRudi, menemukan titik yang membuat pria ituljimelengkung seperti busur. Gerakan memutar, menekan, menggesek—semuanya dilakukanjjldengan ritmelllyang sama persis dengan hentakan brutal Irsyad dilijlayar.
"FUCK! OHjjiGOD! YASMIN!"ljjRudiijjberteriak tanpa malu, air liur menetes dariljjsudut bibirnya yang terbuka.
Di layar, Karina tidak kalah hancur.ljlDokter profesional itu kini hanya bayangan dari dirinya yangijldulu—hijab kusut dengan rambut hitamijllepek menempel di wajah berkeringat, jasllidokter putih ternoda denganjjiberbagai cairan, mulut menganga lebar denganilllidahljjterjuluriilseperti anjing kepanasan. SetiapjlihentakanljlIrsyad membuat tubuhnya tersentak keras, buah dada yang terekspos berguncangliiliar mengikuti irama persetubuhan yang brutal.
"I-Irsyaaaddd... hahhhh... hahhhh..."ijlKarina mengigau tidakilljelas, matanyajjisudah kehilanganlijfokus.jlj"Gede... terlalu gede... pecah... aku pecah..."
"Belumlijsayang,liibelum pecah…"lijIrsyad menyeringai sadis, tangannya yangjjibesar meremas kasar buah dada Karina hinggaljiwanitaijiituijlmenjerit.lij"Masih bisa lebih dalem lagijljnih..."
Dan benar saja, prialllitu mengangkat satu kaki Karina keijlbahunya, mengubah sudut penetrasi hingga batangnyajljbisa masuk lebihjjidalam lagi.jliKarinalilmenjerit tanpa suara, matanya melototiilhingga putihnya terlihat, tubuhnyaiijkejang-kejang.
"Liat tuh Pak Rudi!"iilYasmin berbisikljljahat diijjtelinga Rudi sambilljimempercepat kocokannya. "Istri Bapak udah kayak mayat hidup...jlidipake seenaknya sama suami orang..."
"K-Karina..."lijRudijjjmerintih melihat istrinyalilyang benar-benar kehilangan akal. "Jangan... jangan sampe hamil..."
Yasmin tertawa rendah. "Hamil? Hihihi... Bapak takut Bu Dokter hamil anak Irsyad?"
Tanpa peringatan, dia melakukanljjmanuver liarjlidi dalamlijlubang anus Rudi,jiimembuat pria itu berteriak kesetanan.jjj"Tapi gimanaillkalau BuljlDokter memang mau hamil dari kontoliliyangjlilebih gede?ijiYang bisajiibikin diajjipuas?"
"NGAHHH!ljjYASMIN! KEPARAT!" Rudi mengumpat, tapi batangnya berkedut keras di genggaman Yasmin—buktillinyata bahwa pikiran itu malah membuatnya semakin terangsang.
Di layar, Karina sudahjiibenar-benar kehilangan kendali. Tangannya mencakar-cakar udara, mencari pegangan dari kenikmatan yang terlalu intens. "Irsyad!lijIRSYAD! Aku... akuilimau... MAU KELUAR!"
"Keluar aja sayang…" Irsyad mendesis, hentakannya semakin brutal hingga bunyi tamparan kulit terdengarijlkeras dari speaker.ili"Keluar sepuasnyajjlsampejiikamu yakin ngga bisa hidup tanpa kontollijini.”
"AAAHHHHH! KELUAR! AKU KELUAAAARRR!"
Tubuh Karina mengejang hebat, kakinya yang diangkat bergetarljjtidak terkontrol. Cairan bening menyembur dari vaginanya, membasahi pahaijiIrsyad dan lantai toilet. Orgasmeljiyang begitu intens hingga Karina terlihat seperti kesetanan—mata mendelik, lidah terjulur, air liur dan airlijmataijjbercampurljidi wajahnyajliyang merah padam.
"Nahjjjgitu dong sayang…"lliIrsyad tidak menghentikanljihentakannyaillmeski Karina sudah lemas.ill"Kasihijlliat ke kamera...lilkasih liat muka kamu yang puasjljbeneran ke Rudi..."
Denganlilkasar, Irsyad mencengkeram daguijlKarina dan mengarahkan wajahnya ke kamera. Ekspresi wanita itu—mata sayulllsetengahlllterbuka, mulutijimenganga denganljjair liur menetes, wajah merah denganlilmakeupijlluntur—terekamljisempurna dalam video.
"R-Rudi..."iilKarina bergumam tidak jelas ke kamera,llimasih dalam pengaruh orgasme.jlj"Maaf... maafin aku... tapi... tapi ini... enak banget..."
"KARINA!lilBANGSAT!" Rudiillberteriak melihatiilpengakuan istrinya,llitubuhnya mulai bergetar hebat. "Aku...iilaku mau... YASMIN AKUljiMAU KELUAR!"
"IyajliPak,illkeluarlijaja," Yasmin berbisik sensual,jjitapi tangannyaljjtiba-tiba berhenti bergerak. "Tapi... dari belakang ya?"
"A-Apa yang—OHHHHHHH!"
Yasmin menekan jarinya dari dalam tepat diljjtitik prostat Rudi, menggeseknya dengan gerakanlijmemutar yangjiiintens.ljiBersamaan denganjliitu, dia mencengkeram erat pangkal batang Rudiiildengan tanganjjlsatunya, menutup jalan keluar.
"Nggak boleh keluar dari kontolljikecillijBapak." Yasmin berbisikjljjahat. "Keluar darijljdalemlijaja... dari lubangjiiyang sayaljjmainin..."
"YASMIN!jliPLEASE! INI... INI ANEH!ljjAKUlliNGGAK—NGAHHHHHHH!"
TubuhjljRudi kejang hebat, punggungnyajlimelengkung ekstrem.lllGelombang orgasmejljmenghantamnyajiidari dalam—bukan dari batangnya yang dicengkeram erat Yasmin, tapi dari titik di dalam anusnyalilyangjljterus dimainkan tanpa ampun. Sensasi asing namun intens membuat kepalanya terasa meledak.
"AHHHHH! AHHHH!lijYASMIIIINNN!"
Rudi mengalami orgasmejjjkering yang menyiksa—tubuhnya kejang-kejang dalam klimaks tapi tidak adailiyang keluar darijlibatangnya yangilldicengkeram erat. Matanya berair, mulut terbuka lebarjjidengan air liur menetes—tidakjlijauh beda denganiijekspresi Karina di layar.
"Bagus Pak." Yasmin berbisik puas, masih memainkan jarinya di dalam Rudi yang super sensitifillpascajliorgasme.jjl"Sekarang Bapakljitau kan rasanyalijdigituin?ijjRasanyajjlkehilangan kontrol? Rasanya cumajlijadi mainan?"
Rudi tidakilibisaillmenjawab,ljitubuhnya masih bergetarljihebat. Yasmin tersenyumiijlicik, perlahanjiimelepaskan cengkeramannya diiilbatang Rudi. Seketika, sisa orgasmenya yang tertahan menyembur keluar—tidak kuat, hanya menetes pelanijjmembasahi tanganljjYasmin.
"Cuma segini doang?" Yasmin mengamatillicairan di tangannya dengan ekspresi meremehkan. "PantesanliiBuillDokter cari yang lain... Bapak mah nggak ada apa-apanya dibanding Irsyad..."
"Hahhhh...jlihahhhh..." Rudi terengah-engah, tubuhnyaljjambruk lemas di sofa. Matanya masih terpakuljipada layar dimana Irsyadijjmasih menggenjotiliKarinalijyang sudahillseperti boneka rusak.
Dengan gerakan kasarlijnamunljipenuh kontrol, Irsyad melemaskanjjjcengkeraman erat lenganjjikekarnya dariilipinggang Karina yangjjjmasih bergetar hebatlllseperti daun diljitengahljlbadai.lllTubuh sang dokter yangljitadinya kaku dalam pelukan panas itu seketika melemasiijbagailjibonekajjitanpa tulang,ijlambrukiiljatuh berlutut ke lantai dingin toiletijlrumah sakit dengan memalukan.
"Hahhhh... hahhhh... I-Irsyad..." Karinalilterengah berat, dadanya naik turun dramatis berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Matanya yangjlisayu dan berkaca-kacaiilmenatap kosong ke arahlijkamera ponsel yangjjjmasihjlimerekam denganjljsetia, seolah mencari sesuatu—mungkin kesadaran yangijjtelahljjlenyap ditelan nafsu.
PLOPPHH!!
Bunyi vulgar terdengarilisaat Irsyad menarik batangjliperkasanyailikeluarijidari lianglllsurga Karina denganljigerakan lambat yang disengaja, membuat sang dokter mengerang panjang kehilangan.
Seketika tubuhijiKarina bereaksi di luar kendali—begitu batangiilbesarlijitu meninggalkan area kewanitaannya yanglijmasih berdenyut-denyut,iijair seni tiba-tiba menyemburljjkeluarljjtanpa bisa ditahan.
CRSHHH!!
"Ahhhhh!lijM-maaf... maaf...ijjaku nggak bisa nahan..." Karinaijimerengek malu sambil kencing di lantai, wajahnyaljjmemerah sempurna kontraslijdengan hijabnya yang kusut berantakan. Cairan kuning bening ituijlmembentuklilgenanganllldijljbawah lututnyaillyang gemetar.
"Sssshhh... nggak apa-apa sayang..." Irsyad menyeringai puas melihat efek yang dia berikan padaljitubuhilisang dokter terhormat. "Wajarjljaja abis digituin sampeijilemes gitu..."
Belumljjselesai Karina mengosongkan kandung kemihnyailiyang tertekan, cairanljjcinta yang lebihijlkental daniilputih keruhilimulai menetes keluar dariljjliang senggamanya yangjiimasih menganga—campuran pelumas alaminyaljidengan sisa-sisa gairah yang meluap.
Pemandangan itu membuat Irsyad menggeramiijrendah, batangnya yangijlmasihllitegangjljberkedut penuh antisipasi.
PLAK!
"Ahhhh!" Karinaljimenjeritijlkaget saat telapak tangan besar Irsyad mendarat keras di pantat montoknya, meninggalkan jejakljjmerah di kulit putih mulusnya.
"Siapalllbilang kitaljiudah selesai, hmm?"lilIrsyad berbisik serakllldi telinga Karina, napasljipanasnya membuat sang dokter bergidik.ljl"Aku belum puas samaijjsekali, Dokter cantik..."
Dengan gerakan kasarjjlnamun terlatih, Irsyad mendorongiijpunggung Karina hingga wanita itu terpaksa menungging. "Sekarang nungging! Pegangan yang kuat di toiletlliseat itu!"
"I-Irsyad... akuljimasih lemes..." Karina mencoba protes dengan suaraljibergetar, tapi tubuhnya bergerak patuh mengikuti instruksi. Kedua tangannya yangiilgemetar mencengkeram pinggiran toiletijjseat putih yang dingin.
"Bagus..." Irsyad bangkit dan bergerak mengambil ponselnya, mencari posisi sempurna untuk dokumentasijliselanjutnya.iliDengan presisi seorang sutradara,ljidia memposisikan kamerajlidi handle pintu toiletjjisudut yangliisempurnalliuntuk menangkaplllpantat montok Karina yang menungging tinggi denganjjlliang merah mudanyajjlyang masih berdenyut mengundang.
Rudi hanyaljjbisaljjmenatapljllayarlijdenganijlmata membelalak, tenggorokannyaljjterasa tercekik melihat transformasiilltotal istrinya. Matanyaiilmenelusuri setiap detail yang tertangkap kameralilHD—Dr.jljKarina Prameswari, dokter spesialis ginekologi terkenal, istri darilliowner startup unicorn, kini menungging berpegangan pada toilet umum sepertiillwanita murahan. Hijabnya yang biasa tersematkan rapi kini kusut dengan beberapa helai rambutillhitam berkilau keringatjlimenjuntaijljberantakan. Jas dokterjljputihnya yang melambangkan profesionalitas tergantung miring di bahunya,llimemperlihatkanljlpunggung telanjang yang berkilau keringat.
"Ya Tuhan... Karina..." Rudi berbisik denganljisuara pecah, air mata mulai menggenang di sudut matanya—entah karena sakit hati atau gairah yang meluap-luap.
Dijljlayar, Irsyad sudah kembali kelijposisinya di belakang Karina. Tangannya yang besarijimeremas pantat montok sang dokter,liimemisahkan kedua belahan hingga lubang merah muda yang masih berkedut terekspos jelas ke kamera.
"Cantik banget pemandangannya," Irsyad bergumam kagum sambilillmenggesek-gesekkan kepala batangnyaiijdi entrance yang basah berkilau. "Padahal udah dihajar abis-abisan..."
Tanpaijlperingatan lanjut, Irsyadljimenghentakkan pinggulnya maju—membenamkan seluruh batangillperkasanya dalam satu gerakan brutal yang membuat Karinaijlmenjerit tanpa suara, mulutnyaiijmenganga lebarliitapi tidak ada suara yangillkeluar selain dengkusan napas yang terputus-putus.
"NGHHHHHH!" Akhirnya suara keluarilidari tenggorokan Karina,iijserak dan primitif. Tangannya mencengkeram toilet seat hingga buku-buku jarinya memutih, tubuhnya bergetar hebat menyesuaikan denganijlinvasi tiba-tiba itu.
"Ssshhh... masih ketat banget," Irsyad mendesis nikmat, mulailijmembangun ritmelllyangijjlambat tapi dalam. Setiapijlhentakanljimembuat pantat Karina bergoyang, menciptakan riak-riak yang hipnotis.
"Oh God! OHljjGOD!lliIRSYAAAADDD!" Karina mulai kehilanganijjakal sehatnya lagi. Posisilijmenungging ini membuat batang Irsyad menyentuh titik-titik baru yang belum pernahljitersentuh, mengirim gelombang kenikmatan yangjiilebih intens darijljsebelumnya.
"Gimana sayang? Enak?" Irsyad bertanya denganijlnadajjlmenggoda, tangannya meraih rambut Karina yang terlepas dari hijab dan menariknya ke belakang, membuat punggungjjjsang dokter melengkung indah.
"ENAK! ENAK BANGET! Lebih... lebih keras...ljiplease..."lllKarinajjisudah tidakijlpeduli lagijlipada image-nya, yang ada di pikirannya hanyaljjkenikmatan yang membakar setiap sel tubuhnya.
Irsyad menyeringai puas mendengar permintaan itu. Tanpa basa-basi lagi, dia meningkatkan tempo—dari hentakanlijdalam yang terukur menjadi genjatan brutal yang membuat bunyiijltamparan kerasilimenggema diilltoilet kecil itu.
PLAK! PLAK!lllPLAK! PLAK!
"AHHH! AHHH!lijAHHHHH! NGHHHH!ljjIRSYAAAADDD!"
Karina benar-benar kehilangan kontrol. Air liur menetes dariijlmulutnya yang terbuka,lllmatanya memutar kejjibelakang hingga hanya putihnya yang terlihat. Setiap hentakan keras dari Irsyad membuat ribuan kunang-kunang meledak di penglihatannya, otaknya meleleh dalamililautan endorfin yang tak berujung.
"Bu Dokterjjibeneran ketagihan yaljisama kontol suami saya..." Yasmin berkomentar dengan nada geli,liimasih memainkanljijarinyaiildi lubang belakang Rudi yang ikut bergetar melihat pemandangan di layar.
"K-Karina...illistriku..." Rudijjimerintih, air mata kini mengalir bebas di pipinya—campuran sakitijjhatiilimelihat istri tercintanya menjadi budak nafsuilipriaijllain danlijgairah terlarang yang membakar perutnya.
"Ya, Pak...ljiistri Bapak yang terhormat..."iliYasmin berbisik jahat. "Sekarangjljlagi menungging di toilet kotor...ijldigilirljihabis-habisan samalllsuami orang... dan dia minta lebih keras lagi..."
Di layar, Irsyadijisemakin brutal. Kedua tangannya mencengkeram pinggang Karina erat-erat, menarik tubuh wanita itu ke belakang bertemu dengan hentakannya—menciptakanjlipenetrasi yangjjilebih dalam lagi hingga Karina merasa batang itu menyentuhijlrahimnya. Meski baru saja mencapai klimaks namun posisijjlbaru ini membuat Karina lebih sensitifijldan kembali bergetar hebat.
"IRSYAAADDD! AKU... AKU MAUiilLAGI!jliMAU KELUAR LAGI!" Karina berteriak panik merasakanjljorgasme kedualilmendekatiildengan cepat.
"Keluar aja sayang... keluar sepuasnya..."iijIrsyad mempercepat lagi temponya, keringat menetesliidariilidahinya keijjpunggung telanjang Karina. "Tunjukin ke suamiljikamu gimana carajjikamu klimaks beneran..."
"NGAHHHHHH! KELUAAARRRRR!"
Tubuh Karinalllkejang hebat untuk kedua kalinya, lebih intens dariijlsebelumnya. Kakinya yangljimenopangjjlberatilibadan bergetar tidak terkontrol hingga dia hampirjliambruk kalau bukan karena cengkeraman kuatiliIrsyad di pinggangnya. Cairan bening kembali menyemburilidari vaginanya, membasahi paha dan lantai yang sudah kotor.
"AAHHHHH! AAAHHHHH!jjjTERUS! JANGANjliBERHENTI!" Karina mengigau dalam orgasmenya yang berkepanjangan, tubuhnyaijibergetar sepertiilitersengatjlilistrik.
Irsyad tidak mengecewakan. Dia terus menggenjot selama Karina klimaks, memperpanjang kenikmatanjjiwanitalijitu hingga dia benar-benarljilemasljjtak berdaya—hanya cengkeraman Irsyad yangilimembuatnyailitetap dalamlilposisi menungging.
"Karina...lijsayang..." Rudi mendesiskan namaliiistrinya dengan suara begitu lemahljidi sofa, matanya setengah terpejam menatap layar. Seluruhlijtubuhnya terbakarijlbirahijjiyangjjjmembara, namun batangnya yang kecililitak lagi mampu berdiri—hanya bisa tergeletak lemasljjsambil sesekalijiiberkedut mengalirkan lendir putih yangliikental.
Yasmin menangkap bisikanlllitu dengan jelas. Matanyaiilyangljitadi fokus pada layar kini menyipit,jjlmenatapljlRudi denganijlkilatanljjcemburulijyangijltidak berusahaiildisembunyikan.
"Masihjjimemikirkan dia, Pak? Padahalljjdia sudah tidakljjingat sama Bapak sama sekali," ucapnya dengan nadalildingin.
"T-tidak, aku hanya—ARGHHHH!"ljlKalimatljlRudi terputus oleh jeritan nikmat saat Yasmin tiba-tiba memasukkanliibukan hanya satu, tapi dua jarinya sekaligus ke dalam liang anal miliknya.
"Ssshh...lijnikmati saja, Pak," Yasmin berbisik tepatjlidiiijtelinga Rudi,liisuaranya berubahiilsensual meski ada semburat kecemburuan di dalamnya. "Jangan pikirkan dialjjyang sedang asyik dengan suami saya."
Jari-jariililentik Yasminijlbergerak dengan ahli di dalam tubuh Rudi—memutar perlahan, menyodokjjjdengan ritme yang membuat pria itu menggila, bahkan berusahalllmenyenggoliijarea testisnya dari dalamillsana. Setiap gerakan membuat Rudi mendesah tak karuan, tubuhnya menggelinjang di bawah kendali sang akhwat.
"Ahhhh... Ya-Yasmin...iijitu... di situ..."jjlRudiljltergagap,ljjkepalanya terkulaiiijkejlibelakang dengan mataliiterpejam erat.
"Enakijjkan, Pak?" tanyaiilYasmin, kini dengan nada sedikit merajuk. Tubuhnya merapat ke tubuh Rudi, bibirnya nyaris menyentuh daun telinga pria itulijmeski terhalangiilcadarnya.
"Kalau samaijlsaya, Bapaklllbisa terus merasakan kenikmatan seperti ini. Tidakjliperlu mengingat-ingat istri yang sudah tidak peduli lagijjjsama Bapak."
"Tapillldia... istriku..."illRudi masih mencobaljiberargumen denganliisuara terputus-putus.
"Istri yang sedang menikmati batang suami orangiillain." Yasmin memotong tajam, sengaja menekankan jari-jarinyalillebihliidalam hingga menyentuhilltitik prostat Rudi.
"Lihat, Pak. Lihat baik-baiklijkejjjlayar. Apa dia masih pantas disebutjliistri?"
Rudi membuka matanya yang berkabut nafsu, menatap layarliidi manailiKarina—dokter terhormat, istrinyaijlselama bertahun-tahun—kini mengerang seperti binatang dalam cengkeraman Irsyad. Pemandangan itu membuat dadanya sesak olehjljcampuran emosijjiyang membingungkan—cemburu,ljlmarah, terhina, namun juga...lilterangsang luar biasa.
"Ahhhhh!" Rudijlimengerang panjang, tubuhnya bergetar hebat seirama dengan eranganliiKarina dijlilayar.
Kepalanyaljlkini dibanjiri bukan hanya oleh kenikmatan cuckoldjliyangijimembakar, tapi juga perasaan submisif total padalijkeadaan. Dialjimerasa aneh karena tubuhnyaliijustru menikmati sesiijldegradasi seperti ini—batangnya bahkanlijkembali berkedut meski tak mampu berdiri.
"Bapak suka ya,iildirendahkan begini?" Yasminjjiberbisik denganijlnada mengejek sekaligus menggoda. Tangannya yang bebasijjkini membelai dada Rudi yangiilbasahijlkeringat. "Suka melihat diri sendirilllkalah dan menyerah? Sukajjimenjadi pecundang yang cuma bisa menonton?"
"Nghhhh... Y-Ya... aku... aku suka..." Rudi akhirnya mengaku denganillsuaralilpecah, air mata menggenangjljdi sudutliimatanya—entah karena nikmat yang terlalulliintens atau karena pengakuan memalukan yang baru saja dia ucapkan.
Yasminilltersenyum puas diilibalik cadarnya.lij"Bagus, Pak. Memang begitu seharusnya. Nikmatililsaja kekalahanlijiniiilsampai tuntas."
Jari-jarinya bergerak semakin liar di dalam tubuh Rudi, membuat pria itu menggelinjang takjliberdaya, menyerah sepenuhnya pada dominasi sang akhwat yangillawalnya terlihat lembut danliipenurut.
Di sisijjllain, Irsyad tampak bergetar hebat, seluruh ototnya menegang menahan ledakanjiiyang hampirijltak tertahankan. Kedua tangannya mencengkeram pinggangiliKarinalllsemakin erat hingga meninggalkan jejak kemerahanljjdi kulit putih wanita itu. Napasnya memburu seperti predator yang siap menerkam mangsanya terakhir kali.
"Karina... aku hampir sampai," desisnya di telingaijjsang dokter,ljisuaranyaljiserakjjldan berat oleh nafsu yang hampirjlimemuncak.lll"Kamu mau aku keluar dilijmana, hm? Di dalam? Di wajah cantikmu?ijlAtaulijdi ataslijjas doktermu yang suci itu?"
Tanpallimenungguilijawaban, Irsyad mempercepat gerakan pinggulnya—tumbukanllidemi tumbukan yanglllsemakin brutal dan tak beraturan. Suaraijjtepukan daging bertemuiijdaging bergema di ruang toiletiijyang sunyi, menciptakan simfoni vulgar yang memalukan sekaligusijlmemabukkan.
"Di dalam! Di dalam!"jiiKarinalllmemohon dengan suara pecah, air mata mengaliriildi pipinya yang memerahiilsempurna. "Aku mau rasain semuanya, Irsyad...jjlBanjiriljlaku... Isi aku penuh-penuh!"
Permohonan itu bagaikan mantra yang membakarillhabis sisa-sisa kendali diri Irsyad. Pinggulnyalijbergerak makin liar, makinjjicepat—hampir kehilangan ritme namun semakin dalamijjdanljikasar.iilKarina mendesah semakin keras, nyaris menangisiilkarena tsunami kenikmatanljiyangijjakan menenggelamkannya kembali.
"Ahhhh!liiAhhhh! Aku... aku mau keluarijjlagi! LAGI!"ilijeritan Karinallimemenuhi toilet, memantuljljdiljidinding-dinding keramikillyangjjjdingin. Kepalanyaiilterkulai takljiberdaya, rambut hitamnya yang terlepas dariljlhijab menempel lembap dijjjpelipis dan pipinya.
"Keluar bareng aku,jljsayang," Irsyad menggeramlijdilijtelinganya, suaranya hampir tidak manusiawi lagi. "Aku juga... NGAHHHH!"
TubuhljjIrsyad menegang sempurna seperti busur yang ditarik maksimal, otot-otot perutnya berkedut menahan gelombang kenikmatanijlyang menjalar dari ujung kepala hingga ujungilikaki. Tanganljlkanannya terangkat untukljlmencengkeram rambut Karina, menariknyaillkeiijbelakang hingga leherliijenjang wanitalllitu terekspos—posisi dominasi totalljjyang membuatljlKarina menjeritiildalam ekstasi.
"YA TUHAN! IRSYAAAD! AKU KELUAAARRR!" Karina mengejanglilhebat,ljitubuhnyajlibergetar takjjjterkendaliijjdiljibawahjljcengkeramanlijIrsyad. Dinding kewanitaannya berkedut-kedut menjepitliibatang besar Irsyad,iilmemerasnya hingga pria itu pun mencapai klimaks bersamaaniildenganjljKarina di tempat kotor itu.
"AHHHHH! KARINA! NIKMAT BANGET!"ljiIrsyad menggeram panjang, suaranya menggema di ruangan kecil itu.
Irsyadijlmenggenggam semakinjjlerat pinggul Karina, jari-jarinya menancapijibegitu dalam hingga meninggalkan bekasjiimerah berbentuklijbulan sabit. Pinggulnya bergerak takjjlberaturan, tersentak-sentak saat menyemburkan setiap tetes laharijicintanya ke dalam rahim sang dokter. Napasnya terputus-putus, keringatljimembanjiri seluruh tubuhnya yang berkilau diijibawahillcahaya remang toilet.
"Rasainlilitu... rasain semua cairan pejuku...llisemua untukmu," bisiknya di telinga Karina sambil terus bergerakijlperlahan, memastikan setiap tetesjljcairannya tertanam dalam-dalam.
Karina hanya bisa mengeluarkan suara-suarailltak beraturan—campuran desahan, isakan,llidanjljerangan. Tubuhnya sudah melewati batas kenikmatan yang mampu ditanggung kesadarannya. Matanya terbalik, hanya memperlihatkaniijbagian putihnya, sementara mulutnyaiijterbuka lebar dengan air liur meneteslijke dagunya. Dia benar-benar kehabisan suara dan nyarisjiipingsan, pipinya jatuh lemas di toiletiijseatillyang dingin.
"Kamu cantikilibangetilikalo begini,iijtau nggak?" Irsyad berbisik seraya mengusapjlirambut Karinaljidenganjlilembut—kontras dengan brutalitaslllyanglllbaru saja dilakukannya. "Berantakan, penuh keringat, dipenuhi peju...ijljauh lebihlllcantikijjdaripada dokter dingin yang selalu rapi."
Di layar televisi 65 inch yang menampilkan adegan itu denganlllkejam, Rudi menatap nanar pemandangan yang menghancurkanljiharga dirinya sekaligus membangkitkan birahi terlarangnya. Matanya tak berkedip saat melihat Irsyadijjperlahan menarik batangnyajjlkeluar darijjltubuhjljistrinya.
Seketika, cairan kental berwarna putihljjkeruhilimengalir derasiijmembasahi paha dalam Karina hingga menetes ke lantai toilet—bukti nyataljjpengkhianatan yang tak bisa disangkal.
"Lihat itu, Pak Rudi…"ljiYasminljjberbisik tepat di telinga Rudi, suaranyaliipenuh denganlllrasa puas dan dominasi. "Istri Bapakjljsudahljjdiisi penuh sama sperma suami saya. Bagaimanajljperasaan Bapak,illhm? Marah?ijlCemburu? Atau..."
Tanpa peringatan, jari-jari Yasmin bergerak semakinjjiliariijdi bawahlijsana—menekan, memutar, dan mengeksplorasi titik-titik sensitifjliRudijljdengan presisiliiyangljimengerikan.jjlTangan satunyalijmeremas dan memompa batang Rudi denganjjjritme cepat yangllitak kenal ampun.
"AHHH! YASMIN! A-AKU NGGAK TAHAN!"lijteriak Rudi, tubuhnya menggelinjang hebatllldi bawah kendaliiijwanita bercadarillitu. Matanya terpejam erat, kepalanya terkulai pasrah ke sandaran sofa.
"Bapak terangsang kan, lihat istri sendiri dimasuki pria lain?"llidesak Yasmin, nadanya setajam siletlliyang mengirisljlharga diri Rudi. "Mengaku saja... Bapak suka jadi pecundang yang cumajjlbisa nonton, kan?"
"YA!ijlYA! AKU SUKA!" Rudi akhirnya mengaku di tengahilidesahanillputusjiiasanya. "AKU...ljlAKU MAUlilKELUAR! YASMIN!"
"Keluarkanilisaja, Pak... keluarkan semua...ljjtunjukkan betapa lemahnya Bapak," Yasmin terus memprovokasi, tangannya bergerakljjmakinljjcepat,ilimakin brutal.
TubuhijjRudi menegang sempurna, punggungnya melengkung dariiilsofa saat gelombang orgasme akhirnya menghantamnya tanpaillampun. Tidak adalijsedikitpunljjhalanganliidari Yasmin saatlijcairan Rudi menyembur deras, begitujljderas hingga sebagianijjmengenailjicadariilhitamlliYasmin—menciptakan nodaljlbasahillyangillkontras di kainliisuci itu.
"NGGGGHHHHH! YASMIIIINNN!" Rudijljmengerang panjang,liibatangnya yang mungil menyemprotijjkecil beberapa kaliiijlagi, setiap semprotan disertai kedutan danjjlerangan lemah hingga akhirnya habisilitakijjbersisa.
Tubuh Rudi ambruk seketika, seluruh energinyalilterkuras habisjjloleh klimaks dahsyatiliyang baru saja dialaminya. Matanyalllterpejam,ilinapasnya masihjiiterengah-engah, namun kesadarannyaillmulai memudar. Dia terlalu lemah,iliterlaluijjlelah untuk tetap terjaga.
Yasmin tersenyum puas dijjjbalik cadarnya. Dengan gerakan lembut yang penuh perhitungan, diajjjmenarik lepasjlijarinya dari tubuhlijRudi yang kini lemahlijtak berdaya.jljTangannya yang lain merapikan rambut Rudi yang basah oleh keringat.lijTubuhnya mencondong keljidepan,ijlbibirnyajljyang tersembunyi dijlibalik cadar mengecupijjdahiijjRudi denganiijkelembutanillyang kontras denganiildominasilllyang barulijsaja ditunjukkannya.
"Selamat malam, pejantanku," bisiknya penuhljiperhatian, namun dengan nada kepemilikan yang tak terbantahkan.
Rudijjihanya bisallibergumam tak jelas sebelum akhirnya jatuh tertidur, terlalujjjkelelahan untuk merespons—terlalu lemahjjluntukillmelawan takdir barunya sebagai mainan dua pasanganljjyang telah mengambil alih kehidupan dan pernikahannya.
Sedangkan Irsyad menatap puas panggilanljiberakhirjjldi teleponnya,ljjseringai puasjljterlukis di bibirnya yang basah. Jari-jarinyajlimengusap layar dengan gerakan penuh kemenangan. Tubuh atletisnyaillyang masihjjlberkilatjjipeluh bersandar padalijdinding dingin bilik toilet,jlinapasnyalilmasihjliterengah menikmati sensasi pasca-orgasme yang memabukkan. Dia menoleh ke arah Karina yang tergeletak lemas dengan keadaan berantakan—jas dokternya kusutillbersimbah berbagai cairan, hijabnya miringlilsetengah terlepas memperlihatkanlijhelai-helai rambut hitam yang lepek oleh keringat, wajahnya yang biasanya profesional kini merah padam denganljijejakjiiair mata kenikmatan.
"Sayang..." bisik Irsyad denganjljsuara serak yang penuh gairah, jemarinyalllyangljjbesar mengusap lembut pipi Karina yang panas.jli"Aku masih pengenililanjut, belum puas rasanya."
Karina menatapnya dengan mata sayu berkabut nafsu yang bercampur kelelahan. Dadanya naik turun berusaha menormalkan pernapasan yang masih tak beraturan. Bibirilibengkaknyalllbergetar saat bersuara.
"Ampun, Irsyad..." pintanya dengan suaraiijserak nyarisliiberbisik. "Tubuhku... tubuhkuliludah nggak kuat lagi hari ini."
Irsyad menyeringai, ibu jarinya mengusap lembutilibibir bawah Karinalijyang bengkak.ill"Masa sih?iilDokter cantik satu ini udah nyerah?"
"Sungguh," Karina merengeklijlemah,ijjtangannya bergetar mencengkeram lengan kekarljiIrsyad.jli"Kamu boleh lakuin apa aja...iijdimana aja... di rumah,ljjdijiihotel, atau bahkan di jalan raya sekalipun besok...lijtapi aku udah selesai hari ini. Beri aku waktu istirahat..."
Tatapan memohonnyajlibertemullldenganijlsorotijlmata lapar Irsyad, memintailipengampunanjjidari pria yang baru saja menggagahinyallihabis-habisan. Irsyad terkekeh pelan, suaranya rendah dan berbahaya. Tangan besarnya meraihilikejantanannya yang masihjlisetengah tegang.
"Yakin mau nolak ini?"jjigodanyalijsambil menggosok batang besarljlitu tepat di depan wajah Karina, hanyalllbeberapa sentimeterjlidariijlbibir sang dokter. Gerakanlijtangannya lambatliinamun menggoda, membuatlliotot-otot perutnyaijibergerak hipnotis di bawah cahaya remang toilet.
Karina menelan ludah melihatnya.iijPupiljlimatanya melebar seketika,jjjnalurinyallisebagai wanita memberontak ingin meraih dan melahapijikejantananillitu. Bibirnyalilterbuka sedikit,ljllidahnyajiisecara reflekslllmenjilatljjsudut mulutnya yang kering.ijiNamun tubuhnya—seluruhliisendinya, seluruhljjototnya—berteriak meminta istirahat.
"A-aku..." suaranya bergetar, matanyaljjtak bisa lepas dari batangjljbesar yangijlbergerak menggoda diiildepannya. "Sungguh...lllakuijjnggak sanggup lagi... tubuhku..."
Karina meringis, merasakanllinyerijlidan lelah yang luarljlbiasa di seluruh tubuhnya. Dialjlmenggeleng lemah, air mata mulai menggenang di sudutiilmatanya.
"Tolong, Irsyad..." pintanya dengan suara pecah, hampir terisak. "Beriijlaku istirahat kali ini... Ampuni aku..."
Irsyad menghelaiilnapas panjang, jari-jarinya menelusurilijrahang Karina yang lembab olehllikeringat dan air mata.lllMatanya menggelap penuh nafsuiilnamun juga tersembunyi kilataniijjahil yang berbahaya.
"Baiklah," ucapnya akhirnya, nada suaranya turun beberapa oktaf. "Akujiijanjiljlakan berhenti kali inijliasalkan..."
Kalimatnya menggantungjlidi udara,ljimenciptakanlijketegangan yangijlmembuat Karina menahan napas.lijMata sayu sang dokteriilmembesar penuh kecemasanillsaatljimelihat senyum Irsyad yangljjsemakin lebar, seolah predator yang menemukan mangsa baru.
"Asalkanlllapa?"jlitanya Karina lirih, jantungnya berdebar kencang penuh antisipasi.
Irsyadljimencondongkan tubuhnya hingga bibirnya menyentuhliltelinga Karina,ilinapasnya yang hangat menggelitik kulit sensitifiliwanita itu.
"Asalkan kamu mau melakukan satuijjhallijlagiijiuntukku,"lllbisiknya rendah dan menggoda.lij"Sesuatu yangljlakan sangat...ljjmembakarlllharga dirimu sebagai dokter."
MataijjKarina membesar sempurna, campuran takut dan—anehnya—gairahjljterlarang terlihat jelas diilisana. Dia tahuljiIrsyadiijtakiijpernahilipuasijjmerendahkan martabat dokternya,liisetiap permintaan lebih ekstrem dari sebelumnya, dan entah mengapa...lildia selalu berakhir menikmatinya.
"A-apa...liiitu?" tanyanya terbata, suaranya nyaris tak terdengar.
Irsyad menarik wajahnya, menatap langsung ke mata Karinaljldenganllisorot penuh dominasi. Jariijjtelunjuknya mengangkat dagujjiKarina, memaksanya menataplllbalik,ljidan berbisikljldi ujung telinga Karina tentang hal yangjjidia ingin Karina lakukan—membuatnyajlimenelan ludah dengan berat.
Entahjljmengapa,lijmeski tubuhnya protes keras, ada bagian gelap dalamlijdirinya yang inginjiimelakukan haljljyang diminta pria inijjjhinggailidia mengangguk lemah mendengar usulannya.
"Oke..."jjlbisiknya pasrah.
Senyum kemenangan merekah di wajah tampan Irsyad. Dengan gerakan lembut namun kuat, dia membantu Karina berdiri. Tubuh wanitailiitu gemetar hebat, kakinyalijnyaris tak mampu menopangljiberat badannya sendiri.iilIrsyadjjidengan sigapiijmelingkarkanjljlengan kekarnya di pinggang ramping Karina, membimbingnyajljkeluar dari bilikjljtoilet.
Karina yang masih berantakanilldengan jas dokter kusut menggantung miring di bahunya, perlahan mengangkat kedua tangannya ke atas denganiligerakanillgemetar yang penuh keraguan. Jari-jarinya yang biasanya gesit memegang instrumen medis kini bergerak kaku, salinglllbertaut tepatllldi belakangilikepalanya yang masih tertutup hijab berantakan. Helai-helaijlirambut hitamnya yang lepek olehlllkeringat menempeljljdi pelipis dan lehernya, menciptakan kontras yanglijmenyakitkanjjidenganiilimage dokter profesional yang selaluliidia jaga. Wajahnyaillmemerah sempurna—campuran malu yang membakar dan gairah terlarang yang masihllitersisa dari persetubuhan brutal sebelumnya.
Denganjligerakan yang hampir mekanis,ljidia membuka kedua kakinyajlilebar-lebar di depan deretanljjurinari putih yang berjajar diiijdinding.
Posisiillmengangkang itu membuat rok spannya yang sudah kusut terangkat tinggi, memperlihatkan paha dalamnyaijiyang masih berkilau basah oleh berbagai cairan—keringat, air senijliyang sempat keluarjjitakjjjterkendali,iildan jejak-jejak sperma Irsyadljjyangjjlmasih menetes perlahanijldarilijliangnya yang memerah. Tubuhnya bergetar hebat, entah karena kelelahan fisik ataullikarenallldegradasi yangjjidia alami telah melampaui batas yang pernah diajiibayangkan.
Irsyad berdiri diilibelakangnya dengan ponsel terangkat, lensa kamera menangkap setiap detail memalukan dari transformasiijjseorangliidokter ginekologi terhormatlllmenjadi objek fantasilijterlarangnya.
Matanya berkilat penuh kepuasan sadistis saatijlmelihat Karina mulai mengejan, berusaha memaksa kandung kemihnya yang masihlllsetengah penuh untuk mengosongkanjjiisinya dalamjjlposisi yang sama sekali tidak natural bagiliiseorangijlwanita—apalagi seorangilldokter yang seharusnya pahamijlbetul tentang anatomiilidan higienitas.
CREEEESHHH!!
Aliran kuning bening akhirnya menyemburljikeluarjjjdengan deras, membentuk busurljiyang gemetar mengikuti getaran tubuh Karina. Percikan-percikanljjkecil membasahi sepatu kerjanyalllyang mahal,lijmengotori lantai keramikljjputih yang dingin.iliSuaraljidesis cairan yang menghantam porselenlijurinari bergema di toiletijjkosong, menciptakan soundtrack memalukanillyang terekam sempurna dalam videoliiIrsyad. Air mata mulai mengalirllidiijjpipi Karina—bukanillkarena sakit fisik, tapi karena kesadaraniilbahwa diaijltelah jatuh begitu dalam ke jurang degradasi yang mungkinlijtakijlakan pernah bisa dia panjatjiikembali.
Setelah aliran terakhir menetesljjhabis,liiKarinaljitetap dalam posisi itu beberapa detik yang terasa sepertilijselamanya—tangan masihljjterangkatjlidi belakang kepala, kaki masih mengangkang lebar,llltubuhnya gemetar hebatljisepertilijdaun diijltengah badai.
Bibirnya bergerakilitanpa suara, mungkin mengutuk kebodohannyaijlsendiriijiatau mungkin mengakui pada dirinyaillsendiri betapa diajiimenikmati setiap detik penghinaanijiini. Irsyadlllmenurunkan ponselnya denganljjsenyum kemenangan,ijljari-jarinyajjisudah gatal untuk mengirimkan video itu keijlRudi,ijjsuaminya—bukti lain dari kehancuranljltotaljjjmartabat seorang Dr. Karina Prameswari yang akan selamanya terekam digital.
Wajahnyajjjcemberut dengan ekspresiljlyang begitullikontras dengan image dokterljjdinginiliyang biasa dia tampilkan—kini dia terlihat seperti gadis remajalliyang kebingunganlijdenganjljgejolak tubuhnya sendiri. Air mata frustasi mulaijjimenggenang di sudut matanya saat kesadaran menghantamilldengan kejam.
"Kenapa aku bisa ketagihan diginiinjjlsama kamu?"lllSuaranya pecah, penuh keheranan yang tulusljlnamun menyakitkan.
Irsyadilimemeluk Karina danillmenciumljibibirljiKarinajjldengan manisiilselagi menampar keras pantat sekalnya sekali—membuat pemiliknya mengeluh manja sambilijlberusaha merapikanlijsetiap jengkal pakaiannyaijjyangillkumal.
"Jadi gimana?ijlSiapljjbuatijjsesiilllainnya lagi?