𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟏𝟒𝟎

Hari ketiga sejak kedatangan mereka di Jakarta tiba. Hari yang telah ditentukan Irwan untuk "sesi pertama" Karyo dengan Maya sejak Ratih ikut tinggal bersama mereka.

Sepanjang hari itu, Karyo terlihat gelisah. Tangannya gemetar saat menyiram tanaman, pikirannya tidak fokus saat mencuci mobil. Dia bahkan menumpahkan air pel saat membantu Ratih membersihkan teras.

"Sampeyan ora apa-apa, Mas?" tanya Ratih pelan, memerhatikan kegugupan suaminya.

"Ora apa-apa, Dik," jawab Karyo, meski keringat dingin mulai membasahi dahinya.

Dulu, saat "program" kehamilan itu berlangsung, Karyo selalu menunggu dengan tidak sabar. Tubuhnya bergetar oleh gairah, bukan ketakutan seperti sekarang. Dulu, dia adalah pria yang percaya diri, yang dengan penuh keberanian menaklukkan wanita dari kelas sosial jauh di atasnya. Sekarang, dia hanya merasa seperti siswa yang akan menghadapi ujian—tegang, gugup, dan takut gagal.

Makan malam berlangsung canggung. Dani, yang tidak menyadari ketegangan di antara orang dewasa, berceloteh riang tentang burung yang dia lihat di taman belakang. Maya tersenyum menanggapi, sesekali melirik Karyo yang hampir tidak menyentuh makanannya. Irwan mengamati semuanya dengan ekspresi tenang namun penuh perhitungan.

"Dani, setelah ini mau nonton kartun?" tanya Irwan, memecah keheningan di antara orang dewasa.

Mata Dani langsung berbinar. "Mau, Pak!"

"Ratih, setelah membereskan meja, kamu bisa menemani Dani nonton di ruang keluarga," ucap Irwan santai. "Ada acara kartun bagus jam delapan."

"Baik, Pak," jawab Ratih, paham bahwa Irwan sedang mengatur agar Dani tidak berada di dekat kamar utama saat "sesi" berlangsung.

Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam ketika Dani akhirnya tertidur di sofa setelah menonton kartun kesukaannya. Ratih menggendongnya ke kamar dan menidurkannya. Ketika dia kembali ke ruang keluarga, Maya dan Irwan sudah tidak ada. Hanya ada Karyo yang duduk tegang di ujung sofa.

"Wis wektune, Mas?" (Sudah waktunya, Mas?) tanya Ratih pelan, dadanya terasa berat oleh perasaan yang tidak bisa dia jelaskan.

Karyo mengangguk kaku. "Aku wis dijak neng kamar utama... mengko nek wis rampung, aku langsung bali." (Aku sudah diajak ke kamar utama... nanti kalau sudah selesai, aku langsung pulang.)

Ratih menelan ludah, kemudian menggenggam tangan suaminya. "Sampeyan kudu ati-ati, Mas. Elingo, iki mung tugas. Ora luwih." (Kamu harus hati-hati, Mas. Ingat, ini cuma tugas. Tidak lebih.)

"Aku ngerti, Dik," bisik Karyo, meremas tangan Ratih sebelum bangkit dan berjalan ke arah tangga dengan langkah berat.

Di kamar utama, Maya duduk di tepi ranjang—tubuhnya hanya tertutup lingerie hitam tipis yang membingkai tiap lekuk dengan sempurna. Cahaya temaram dari lampu tidur menyoroti kulitnya yang halus, menawarkan pemandangan yang memikat. Di sudut ruangan, Irwan bersandar santai di sofa kulit, segelas wiski di tangan kanannya berkilau keemasan. Matanya tajam, memindai setiap detail—dari jemari Maya yang mengetuk-ngetuk gugup di atas paha mulusnya hingga keringat yang mulai mengalir di pelipis Karyo yang baru masuk.

"Masuk, Karyo." Suara Irwan tenang tapi mengandung otoritas yang tak terbantahkan. "Tutup pintunya."

Karyo menelan ludah, tenggorokannya terasa kering seperti kertas amplas. Jemarinya yang kasar gemetar saat menutup pintu di belakangnya. Suara 'klik' pelan terdengar saat pintu terkunci, memateraikan ketiga orang ini dalam ruangan yang mendadak terasa terlalu kecil untuk semua tegangan yang mengisinya.

Maya melemparkan senyum kecil ke arah Karyo—senyuman yang sama yang dulu mampu membuat darahnya berdesir dalam sekejap. Tapi kali ini, tubuhnya bereaksi berbeda. Ada ketakutan yang mencengkeram, bukan hanya keberanian seperti dulu.

"Sini." Maya menepuk tempat di sampingnya, suaranya lembut namun terdengar sedikit dipaksakan. "Kenapa berdiri di sana seperti patung?"

Karyo mendekat dengan langkah kaku, setiap gerakan seperti melawan gravitasi. Kemeja lusuhnya terasa terlalu ketat, terlalu panas. Dia bisa merasakan tatapan Irwan menusuk punggungnya—menganalisis, menilai.

"Kamu tegang sekali," bisik Maya ketika Karyo akhirnya duduk di sampingnya. Jemarinya yang lentik menyentuh bahu Karyo, merasakan otot-otot keras yang menegang di bawah kain kemejanya. "Seperti batu."

"M-maaf, Bu," gumam Karyo, matanya bergerak gelisah antara Maya dan Irwan yang masih mengawasi dari sudut ruangan.

Maya mulai memijat bahunya perlahan. "Rileks... kayak dulu."

Tapi 'dulu' adalah dunia yang berbeda. Dulu, Karyo-lah yang mengendalikan. Dulu, tangannya yang menggerayangi Maya dengan penuh percaya diri. Dulu, tidak ada Irwan yang mengawasi dengan tatapan klinisnya, tidak ada Ratih yang menunggu di bawah.

Hening menyesakkan. Hanya suara es yang beradu dengan gelas wiski Irwan sesekali memecah kesunyian.

"Mulai," perintah Irwan dengan nada datar.

Karyo menarik napas dalam-dalam. Aku harus lakukan ini. Dengan keberanian yang dipaksakan, tangannya terangkat, menyentuh pipi Maya. Kulitnya terasa lembut, seperti yang dia ingat. Maya memejamkan mata, condong ke sentuhan itu, berusaha menemukan kembali sensasi yang dulu begitu natural.

Karyo mencium Maya—awalnya ragu, kemudian semakin berani. Lidahnya menyapu bibir Maya yang terasa manis oleh lipstik, mencoba mengingat kembali ritme yang dulu begitu mereka kuasai. Maya membalas, tangannya meremas lengan Karyo, mencari pegangan di tengah kebingungannya sendiri.

"Hmm..." Maya mendesah pelan, sebuah suara yang setengah nyata, setengah dibuat-buat. Matanya setengah terbuka, melirik ke arah Irwan yang masih mengamati dengan tenang, sebelum kembali terpejam.

Tangan Karyo perlahan turun, menyentuh leher jenjang Maya, kemudian turun ke bahunya yang telanjang. "Bu Maya..." bisiknya, suaranya parau.

"Panggil dik aja," Maya berbisik di antara ciuman. "Kayak dulu."

"Dik Maya..." Nama itu terasa seperti doa di bibirnya.

Karyo memberanikan diri, mendorong Maya perlahan hingga terlentang di atas ranjang. Tubuhnya yang kekar menindih Maya, menciptakan sensasi hangat yang familiar. Jari-jarinya yang kasar menelusuri sisi tubuh Maya, dari pinggang naik ke payudaranya yang hanya tertutup tipis. Karyo merasakan puting Maya mengeras di bawah sentuhannya.

"Aah!" Maya mengerang, punggungnya melengkung sedikit, tapi matanya tetap melirik ke arah Irwan, mencari tanda persetujuan atau reaksi apapun.

Irwan hanya mengangkat gelasnya sedikit, sebuah gestur yang bisa berarti apa saja.

Karyo merasakan sesuatu bergolak dalam dirinya—campuran antara gairah lama yang mulai terbakar dan rasa malu yang mencekik. Tangannya bergerak turun, menyentuh paha dalam Maya, membuat wanita itu mendesah lebih keras.

"Oh... oh!" Maya mencengkeram seprai di bawahnya.

Karyo mencium leher Maya, turun ke dadanya, menyibak lingerie tipisnya untuk mengecup puting kemerahannya. Lidahnya berputar di sekeliling tonjolan sensitif itu, membuat Maya menggelinjang.

"Hmmmh... ya, begitu..." Maya berbisik, tangannya meraih kepala Karyo, menekannya lebih dekat ke dadanya.

Derit ranjang mulai terdengar seiring gerakan mereka yang semakin intens. Maya melirik lagi ke arah Irwan, yang kini tampak sedikit tegang—punggungnya lebih tegak, genggamannya pada gelas wiski mengerat.

Karyo, yang mulai larut dalam sensasi, menurunkan ciumannya ke perut Maya, ke paha dalamnya, mengecup, menjilat, menggigit pelan. Maya mengerang lebih keras, jemarinya mencengkeram seprai putih.

"Karyo... ahh... mmm," desahnya, matanya kini terpejam rapat, mencoba melupakan keberadaan Irwan.

Karyo kembali naik, mencium bibir Maya dengan lebih dalam, lebih lapar. Tangannya bergerak ke belakang, meremas pantat Maya yang hanya tertutup thong tipis. Seluruh tubuhnya mulai bereaksi, darahnya berdesir ke selatan, tapi... ada yang tidak beres.

Maya merasakannya juga—atau tepatnya, tidak merasakannya. Tangannya turun, menyentuh selangkangan Karyo, mencari tonjolan yang seharusnya ada di sana. Matanya terbuka, bertemu dengan mata Karyo yang dipenuhi kepanikan.

"Nggak apa-apa," bisik Maya, berusaha menenangkan. "Kita pelan-pelan aja."

Tapi Karyo tahu ini tidak normal. Dulu, hanya dengan melihat Maya telentang seperti ini sudah cukup membuatnya keras. Sekarang, meski dengan segala sentuhan dan ciuman, tubuhnya masih tidak merespons.

Maya mengambil inisiatif, tangannya dengan lembut membuka kancing kemeja Karyo satu per satu. "Kita buka dulu ini..." bisiknya sensual.

Karyo membiarkan Maya menyingkirkan kemejanya, mengekspos torso berototnya yang ditempa tahun-tahun bekerja fisik. Maya menciumi dada bidangnya, tangan lentiknya menelusuri otot-otot perutnya, turun ke ikat pinggang celana kainnya.

"Kamu masih seksi seperti dulu, Mas" Maya berbisik, jari-jarinya bermain dengan gesper ikat pinggang Karyo, membukanya dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat menggoda.

Suara gesper terbuka terdengar nyaring di ruangan yang hening. Maya menarik ikat pinggang itu keluar dari celananya dengan gerakan perlahan, sensual, seolah melakukan pertunjukan—baik untuk Karyo maupun untuk Irwan yang mengawasi.

"Krek..." Suara ritsleting celana Karyo terdengar saat Maya menurunkannya. Tangannya bergerak penuh perhitungan, menyentuh Karyo melalui celana dalamnya.

"Mmm..." Maya mendesah, berusaha terdengar bergairah meskipun tidak ada yang bisa dia rasakan di balik kain itu.

Keringat dingin mulai membasahi dahi Karyo. Panik merayapi seluruh tubuhnya. Ini belum pernah terjadi sebelumnya—tidak dengan Maya. Bahkan saat pertama kali mereka bersama, di hotel itu, dia langsung bereaksi.

"Nggak apa-apa," Maya berbisik lagi, tapi kali ini ada kecemasan dalam suaranya. "Mungkin kamu gugup..."

Karyo melirik ke arah Irwan, yang kini meneguk wiskinya dengan tatapan yang tak terbaca.

"Maaf, Bu..." gumam Karyo, rasa malu membakar wajahnya.

Maya mendorong Karyo agar berbaring telentang, kemudian naik ke atasnya dengan gerakan anggun. "Biar aku yang kerja," bisiknya, mencoba tersenyum menggoda.

Dia mencium dada Karyo, turun ke perutnya, kemudian lebih rendah lagi. Tangannya menurunkan celana dalam Karyo, mengekspos kejantanannya yang masih tertidur. Maya melirik ke arah Irwan sekali lagi, kemudian menundukkan kepalanya.

Sensasi hangat dan basah mulut Maya membuat Karyo mengerang pelan. "Ahh..." Dia memejamkan mata, berusaha fokus pada kenikmatan, bukan pada rasa malu atau keberadaan Irwan. Tapi semakin dia mencoba, semakin sulit.

"Slurp... hmm..." Maya bekerja dengan tekun, lidahnya bergerak ahli, menciptakan sensasi yang biasanya cukup untuk membuat Karyo mengeras dalam hitungan detik. Tapi tubuhnya tetap tidak merespons sepenuhnya.

Di sofa, Irwan berdehem pelan. Suara kecil itu cukup untuk menghancurkan konsentrasi Karyo.

Tiga menit berlalu dengan Maya terus berusaha, mengeluarkan seluruh keahliannya. Kejantanan Karyo akhirnya mulai bereaksi, menegang perlahan, tapi masih jauh dari kondisi optimalnya.

Menyadari perubahan ini, Maya bergerak lebih bersemangat. "Mmm... iya, begitu," bisiknya di antara jilatannya, memberikan dorongan positif.

Karyo mengangkat kepalanya sedikit, melihat pemandangan Maya yang bekerja di bawahnya. Dulu, ini adalah fantasinya—melihat wanita kelas atas ini berlutut di hadapannya, melayaninya. Sekarang, dia hanya merasa seperti pasien yang sedang diobati.

Maya bekerja semakin keras, menggunakan seluruh teknik yang dia ketahui—lidahnya berputar, bibirnya mengisap, tangannya memijat dengan ritme yang biasanya akan membuat pria manapun menggila. Tapi kejantanan Karyo tetap lemas, tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

"Mmph..." Maya berhenti sejenak, memandang ke atas dengan tatapan frustrasi. "Kamu kenapa, Mas?"

Wajah Karyo memerah padam. Keringat dingin semakin deras membasahi dahinya. Dia mencoba memejamkan mata, membayangkan momen-momen panas mereka dulu—Maya yang mendesah liar di bawahnya, tubuhnya yang menggelinjang saat mencapai puncak. Tapi bayangan Irwan yang duduk mengawasi terus menghantui pikirannya.

"M-maaf, Bu..." Karyo akhirnya mengakui, suaranya nyaris berbisik. "Saya tidak bisa..."

Maya duduk kembali, merapikan lingerie-nya dengan gerakan gugup. Matanya melirik ke arah Irwan, yang kini meneguk habis sisa wiskinya dengan satu tegukan panjang.

"Mungkin Karyo terlalu tegang," Maya berujar, mencoba terdengar profesional meski kekecewaan jelas tergambar di wajahnya.

Irwan meletakkan gelasnya di meja samping, kemudian berdiri perlahan. Matanya menatap Karyo dengan ekspresi yang sulit ditebak—campuran antara kekecewaan, keingintahuan, dan entah apa lagi.

"Tekanan mental," ucap Irwan akhirnya, suaranya dingin dan analitis. "Menarik."

Karyo hanya bisa menunduk, tidak berani menatap mata majikannya. Dia merasa seperti anak kecil yang baru saja gagal dalam ujian penting—malu, tidak berdaya, dan takut akan konsekuensinya.

Irwan berjalan mendekat, berdiri di samping ranjang. Kehadirannya yang menjulang membuat tubuh Karyo semakin menciut. "Kamu pernah mengalami ini sebelumnya, Karyo?" tanyanya, nada suaranya seperti dokter yang sedang mendiagnosis pasien.

"T-tidak pernah, Pak," jawab Karyo terbata. "Biasanya saya selalu... bisa."

"Hmm." Irwan bergumam, tangannya mengusap dagu. "Mungkin ini situasi baru yang membuatmu tertekan. Kamu sudah tahu Ratih ada di rumah ini, dan..." Dia melirik ke arah Maya yang masih duduk dengan canggung di tepi ranjang. "Dan sekarang ada aku yang mengawasi."

Maya mengangguk pelan. "Benar, Mas. Mungkin mas Karyo butuh... privasi."

Irwan tampak berpikir sejenak, menimbang-nimbang situasi dengan ekspresi serius. Akhirnya, dia menghela napas panjang. "Saya akan keluar sebentar," putusnya. "Mungkin itu bisa membantu mengurangi tekanan."

Karyo mengangkat wajahnya, matanya melebar tidak percaya. Dia telah gagal, tapi bukannya marah, Irwan justru memberinya kesempatan kedua?

"Lima belas menit," tambah Irwan, menatap tajam ke arah Karyo. "Kalau dalam waktu itu kamu masih tidak bisa juga, kita hentikan untuk malam ini."

Tanpa menunggu respon, Irwan berjalan ke arah pintu. Sebelum keluar, dia berhenti sejenak, menatap Maya yang masih duduk gelisah. "Lakukan apa yang perlu dilakukan," ucapnya singkat, sebelum melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya.

Begitu pintu tertutup, ruangan seketika terasa lebih lega. Karyo menghembuskan napas panjang yang tanpa sadar ditahannya sejak tadi.

"Kita hanya punya lima belas menit," Maya berkata lembut, tangannya kembali bergerak ke arah selangkangan Karyo. "Rileks, ya? Seperti dulu."

Karyo mengangguk, mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila. Sekarang hanya ada mereka berdua, seperti dulu. Tidak ada Irwan yang mengawasi, tidak ada tatapan menilai.


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com