𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟏𝟑𝟗

 

Cahaya keemasan matahari mulai menerobos masuk dari jendela besar kamar, menciptakan bayangan-bayangan panjang di lantai kayu yang mengilap. Langit Jakarta mulai berubah menjadi kanvas jingga keunguan—warna yang tidak pernah terlihat sama di desa mereka.

Ratih duduk di pinggir tempat tidur, memandangi Dani yang akhirnya tertidur pulas. Jari-jarinya dengan lembut menyisir rambut anaknya yang lembab oleh keringat. Sepanjang hari, Dani tidak berhenti berlarian mengeksplorasi seluruh sudut rumah yang baginya terasa seperti istana. Setiap benda—mulai dari remote TV hingga shower kamar mandi—membuat mata bulatnya berbinar dengan keingintahuan yang tak terbendung.

"Kelelahan," bisik Ratih pada Karyo yang baru selesai menyusun pakaian mereka di lemari. "Ora biasa koyok ngene." (Tidak biasa seperti ini.)

Karyo mengangguk sambil duduk di kursi dekat jendela. "Besok paling wis biasa. Bocah-bocah cepet adaptasi." (Besok mungkin sudah biasa. Anak-anak cepat beradaptasi.)

Ratih menghela napas panjang, matanya menerawang ke luar jendela. Di sekelilingnya, segala sesuatu terasa asing—seprai halus yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, langit-langit tinggi dengan lampu kristal kecil, bahkan udara yang berbau wangi pengharum ruangan. Tangan-tangannya yang kasar dan terbiasa bekerja keras terasa canggung menyentuh barang-barang mewah di sekitarnya.

"Aku durung percaya kita ning kene, Mas," (Aku belum percaya kita di sini, Mas) gumamnya pelan, suaranya sedikit bergetar. "Rasane koyok mlebu neng film." (Rasanya seperti masuk ke dalam film.)

Karyo hendak menjawab ketika terdengar ketukan di pintu. Tiga ketukan pelan namun tegas—ketukan yang menyiratkan otoritas. Karyo dan Ratih bertukar pandang sejenak, ketegangan tiba-tiba memenuhi ruangan.

"Masuk," jawab Karyo, suaranya berusaha terdengar tenang meski dadanya berdebar kencang.

Pintu terbuka perlahan dengan suara engsel yang halus.

Irwan masuk setelah dipersilakan, sosoknya yang tinggi dan tegap memenuhi ambang pintu. Wajahnya yang biasanya hangat kini tampak serius, dengan garis-garis halus di dahinya yang menunjukkan beban pikiran. Pakaian rumahnya—kemeja lengan pendek dan celana katun—tetap terlihat rapi dan berwibawa. Di tangannya ia membawa beberapa berkas dalam map berwarna biru tua.

Matanya dengan cepat memindai ruangan, berhenti sejenak pada Dani yang tertidur, lalu beralih pada Karyo dan Ratih. Tatapannya menyiratkan campuran berbagai emosi—ketegasan, pengendalian, dan sesuatu yang lebih sulit dibaca.

"Maaf menggangu istirahat kalian," ujarnya dengan suara rendah dan terkendali. "Tapi ada beberapa hal penting yang perlu kita bicarakan sekarang." Ia melirik ke arah Dani. "Anak kalian sudah tidur nyenyak?"

Ratih mengangguk canggung, tangannya secara refleks bergerak untuk merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Iya, Pak. Dani kecapekan main seharian."

Irwan tersenyum tipis. "Bagus. Itu artinya dia menikmati hari pertamanya di sini." Tatapannya kembali serius. "Kalau begitu, kita bisa berbicara dengan lebih... leluasa."

"Maaf mengganggu istirahat kalian," ucapnya sopan. "Tapi ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan sekarang."

Irwan duduk di kursi dekat jendela, sementara Karyo dan Ratih duduk di tepi tempat tidur. Dani masih asyik mengamati taman, sesekali menunjuk sesuatu yang menarik perhatiannya.

"Ratih," Irwan memulai, "sebagaimana yang sudah dibicarakan, kamu akan bekerja sebagai asisten rumah tangga di sini. Tugasmu adalah mengurus rumah—menyapu, mengepel, mencuci, dan memasak. Karyo akan tetap fokus pada pekerjaan kasar seperti merawat taman, mencuci mobil, dan..." Irwan berhenti sejenak, matanya melirik sekilas ke arah Dani yang masih asyik di jendela, "...dan tugas-tugas lainnya."

Cara Irwan mengucapkan "tugas-tugas lainnya" membuat Ratih menundukkan pandangannya. Dia tahu persis apa "tugas lain" yang dimaksud.

"Untuk gajimu," lanjut Irwan sambil menyodorkan sebuah amplop, "ini untuk bulan pertama. Kita bisa membicarakan kenaikan setelah tiga bulan evaluasi."

Ratih membuka amplop itu dan nyaris tersedak melihat jumlah uang di dalamnya. Jauh, jauh lebih besar dari yang dia bayangkan—bahkan melebihi gaji guru di desanya.

"Pak, ini..." Ratih terbata, "ini terlalu banyak."

Irwan tersenyum tipis, sebuah isyarat dingin yang tidak mencapai matanya. "Saya selalu membayar pegawai saya dengan layak, Ratih. Tapi suamimu..." Irwan berhenti, melirik Karyo yang langsung menunduk dalam-dalam. "...dia sepertinya salah mengartikan kemurahan hati saya."

Irwan menatap lurus ke arah Ratih, suaranya tenang namun tajam seperti beling. "Dia pikir, karena dia diberi akses ke istri saya, dia juga diberi hak kepemilikan."

Wajah Ratih memucat. Dia menatap nanar pada lembaran uang di tangannya, lalu kembali menatap Irwan. Rasa malunya begitu besar hingga ia nyaris tidak bisa bernapas.

Dia sudah mendengar semua faktanya dari pengakuan Karyo yang panik di desa. Dia tahu tentang lamaran itu, bahkan permintaan cerai yang gila itu. Dia telah memprosesnya dengan caranya sendiri—dengan amarah, makian, dan tamparan . Baginya, itu adalah dosa seorang suami yang bodoh, sebuah pengkhianatan dalam lingkup rumah tangga yang ia pahami.

Tapi sekarang, mendengar kata-kata itu dari mulut Irwan, Ratih sadar dia tidak memahami apa-apa.

Irwan tidak berbicara seperti suami yang diselingkuhi; dia berbicara seperti seorang pemilik yang propertinya coba dicuri. Nada suaranya yang dingin dan tanpa emosi itulah yang menghancurkan Ratih. Untuk pertama kalinya, dia melihat tindakan suaminya bukan sebagai dosa atau perselingkuhan, tapi sebagai pelanggaran batas yang absolut dalam dunia dengan aturan yang tidak ia kenal. Kengerian yang sesungguhnya bukanlah pada apa yang Karyo lakukan, melainkan pada siapa yang menjadi korbannya.

Saat Ratih berdiri membeku dalam realitas barunya yang mengerikan, Irwan melanjutkan dengan nada yang lebih lembut, yang terasa jauh lebih mengancam.

"Dan yang paling mengecewakan, Ratih, adalah kami selalu berusaha memperlakukannya dengan baik di sini. Dia tidak kekurangan apa pun."

Pernyataan itu menghantam Ratih dengan rasa malu yang baru, memperlihatkan betapa tidak bersyukurnya tindakan Karyo.

Irwan kemudian mengangguk ke arah amplop di tangan Ratih. "Uang itu... dan jaminan pendidikan untuk Dani sampai lulus kuliah... anggap saja ini cara kami memastikan stabilitas. Kami ingin semua orang di rumah ini merasa aman dan punya masa depan. Sebagai imbalannya," Irwan menatapnya lekat, "kami hanya meminta semua orang mengerti dan menghargai batasan yang ada."

Ratih akhirnya mengerti. Ini bukan gaji. Ini adalah biaya untuk pelajaran yang sangat mahal. Ini adalah rantai yang dibalut dengan kemewahan. Ini adalah jaminan masa depan anaknya yang dibeli dengan kepatuhan mutlak keluarganya.

Perlahan, dengan tangan yang masih sedikit gemetar, dia memasukkan amplop itu ke dalam tasnya. Sebuah gerakan sunyi yang menandakan dia menerima kontrak yang tidak pernah tertulis itu.

"Matur nuwun sanget, Pak," ucap Ratih pelan, merasa malu sekaligus bersyukur.

"Jangan sungkan. Meskipun situasinya... tidak biasa, kita semua adalah keluarga sekarang," kata Irwan dengan nada yang sulit diartikan. "Oh, dan satu hal lagi. Saya memberi kalian waktu dua hari untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, sebelum..." Irwan melirik Dani sekali lagi, memastikan anak itu tidak mendengar, "...sesi pertama Karyo dengan Maya."

Karyo menegang. Dulu, dia selalu menantikan saat-saat bersama Maya dengan gairah dan percaya diri. Kini, entah mengapa, ada ketakutan yang merayap di dadanya—sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Saya akan berada di kamar untuk menyaksikan langsung untuk pertama kalinya," tambah Irwan.

Wajah Karyo semakin pucat. Dulu, ketika dia dan Maya bercinta, Irwan selalu berada di tempat lain—entah di ruang kerja atau bahkan keluar rumah. Kini, Irwan akan hadir, mengawasi setiap gerakannya.

"Dan Ratih," Irwan berpaling ke arah Ratih, "apakah kamu ingin ikut menonton?"

"Mboten, Pak!" (Tidak, Pak!) jawab Ratih spontan dalam bahasa Jawa, terlalu kaget untuk menjawab dalam bahasa Indonesia. Sadar akan reaksinya yang berlebihan, Ratih cepat-cepat meralatnya. "Maksud saya, tidak perlu, Pak."

Irwan tersenyum kecil, lalu mengeluarkan amplop lain. "Ini 'moving allowance' untukmu dan Dani. Untuk membeli pakaian dan perlengkapan sehari-hari. Maya bisa menemanimu berbelanja besok."

Sekali lagi Ratih dibuat bingung oleh kemurahan hati yang ditunjukkan Irwan dan Maya. Bagaimana mungkin mereka bisa sebaik ini pada keluarga pria yang nyaris merusak rumah tangga mereka?

"Terima kasih, Pak," ucapnya lirih.

"Baiklah, saya tinggalkan kalian beristirahat dulu." Irwan berdiri dan berjalan keluar kamar.

Begitu pintu tertutup, Ratih langsung mencubit keras pinggang Karyo.

"Aduh! Ngopo kui, Dik?" (Aduh! Ngapain itu, Dik?) Karyo mengaduh pelan.

"Aku lagi paham sakiki, Mas," (Aku baru paham sekarang, Mas,) desis Ratih, menjaga suaranya agar tidak terdengar Dani. "Njaluk Bu Maya megat Pak Irwan... kuwi dudu mung salah. Kuwi ora ngerti diuntungke." (Minta Bu Maya cerai dari Pak Irwan... itu bukan cuma salah. Itu tidak tahu diuntungkan.)

Karyo menunduk dalam-dalam. "Aku khilaf, Dik."

"Wong lanang wadonan ki biasa," (Lelaki perempuan itu biasa,) Ratih mencengkeram lengan Karyo kuat-kuat. "Tapi kowe njaluk bojone wong sing wis ngopeni awakmu patang tahun! Sing mbayar awakmu! Sing percaya awakmu! Sak gendenge pikiranmu!" (Tapi kamu minta istri orang yang sudah menghidupimu empat tahun! Yang membayarmu! Yang mempercayaimu! Segila apa pikiranmu!)

"Aku ora mikir tekan semono," (Aku tidak berpikir sampai segitunya,) gumam Karyo, tak berani menatap mata istrinya.

"Wong cilik koyo awake dewe kok ngimpi dadi juragan," (Orang kecil seperti kita kok bermimpi jadi tuan,) Ratih menggelengkan kepala. "Saiki lihat akibate. Saiki awakmu dadi opo? Dadi barange wong." (Sekarang lihat akibatnya. Sekarang kamu jadi apa? Jadi barangnya orang.)

Karyo tidak menjawab, hanya menunduk dalam-dalam. Dalam hati, dia merasa semakin malu mengingat keberaniannya—atau kebodohannya—dulu.


Hari-hari berikutnya berlalu dengan Ratih dan Dani berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan baru mereka. Maya, meski awalnya canggung, bersikap sangat baik pada Ratih. Dia menepati janjinya menemani Ratih berbelanja kebutuhan sehari-hari, bahkan membantu memilihkan pakaian yang cocok untuk Ratih dan Dani.

Dani yang awalnya excited dengan rumah besar dan mewah mulai menunjukkan tanda-tanda kebosanan. Tidak ada teman sebaya untuk diajak bermain, tidak ada hewan ternak untuk dikejar-kejar seperti di desa. Dia mulai rewel, sering menempel pada Ratih yang sibuk dengan tugas-tugas rumah tangga.

"Bosen, Bu," rengek Dani suatu sore, menarik-narik celemek Ratih yang sedang menyiapkan makan malam.

"Sedhiluk maneh, Le. Ibu isih masak," (Sebentar lagi, Nak. Ibu masih masak,) jawab Ratih sabar, meski ia sendiri mulai kewalahan membagi perhatian.

Maya yang kebetulan masuk ke dapur mendengar percakapan mereka. "Dani rewel, ya?" tanyanya pada Ratih.

"Iya, Bu. Maaf, dia belum terbiasa dengan lingkungan baru," jawab Ratih sungkan.

Maya tersenyum memahami. "Sepertinya dia butuh teman main," Maya berjongkok, menyejajarkan dirinya dengan Dani. "Dani mau punya teman-teman baru?"

Dani yang biasanya malu pada Maya, mengangguk pelan. "Pengin, Bu."

"Besok aku akan tanya Irwan. Ada playgroup bagus dekat sini. Mungkin Dani bisa didaftarkan ke sana," usul Maya.

"Ah, tidak usah repot-repot, Bu," tolak Ratih halus. "Nanti saja kalau kami sudah lebih mapan di sini."

"Santai saja, Ratih. Toh Dani juga kakak dari..." Maya mengelus perutnya yang semakin membesar, "...anak yang kukandung ini."

Wajah Ratih langsung memerah. Fakta bahwa bayi yang dikandung Maya adalah setengah-saudara dari Dani masih terasa sangat aneh baginya.

"Iya, Bu. Terima kasih," jawabnya pelan.

Malam itu, setelah Dani tertidur, Ratih menceritakan semuanya pada Karyo. Suaminya mengangguk mengerti.

"Bu Maya pancen apik, Dik. Dheweke ora bakal ngrasa Dani dudu apa-apane." (Bu Maya memang baik, Dik. Dia nggak akan menganggap Dani bukan siapa-siapa.)

Ratih menghela napas panjang. "Aku malah sing rumangsa ora kepenak, Mas. Mbayangke bayi neng wetenge iku... setengah-adike anakku." (Aku malah yang merasa tidak enak, Mas. Membayangkan bayi di perutnya itu... setengah-adiknya anakku.)

"Yo wis kedadean, Dik. Awake dewe kudu nerimo." (Ya sudah terjadi, Dik. Kita harus menerima.)

Sejak hari kedua, Irwan kadang terlihat bermain dengan Dani di taman belakang. Pria itu mengajari Dani cara menyiram tanaman, atau sekadar bermain kejar-kejaran di sekitar kolam renang. Ratih sering mengintip dari jendela dapur, heran melihat bagaimana Irwan memperlakukan Dani bukan seperti anak pembantu, tapi seperti keluarga sendiri.

"Pak Irwan apik yo karo Dani," (Pak Irwan baik ya sama Dani,) komentar Ratih suatu malam.

"Hooh. Dheweke pancen apik karo bocah-bocah." (Iya. Dia memang baik sama anak-anak.)

Sikap Maya dan Irwan yang begitu baik dan tulus justru membuat Ratih merasa semakin bersalah. Mereka memperlakukan keluarganya dengan hormat dan kasih sayang, jauh berbeda dari stereotype majikan yang sering digosipkan di desanya. Setiap kali Ratih menyaksikan kebaikan mereka, dia teringat akan apa yang telah Karyo coba lakukan—nyaris merusak rumah tangga orang-orang baik ini.

Perasaan tidak enak itu semakin menguat saat Ratih diam-diam mendengar percakapan Maya dan Irwan di ruang tengah, membicarakan soal playgroup untuk Dani dan bagaimana mereka ingin memastikan Dani mendapat pendidikan yang layak. Ratih merasakan rasa bersalah yang menusuk di dadanya. Keluarga yang nyaris dihancurkan suaminya justru mengkhawatirkan masa depan anaknya.

"Aku wis niat, Mas," bisik Ratih pada Karyo malam itu. "Aku arep nyambut gawe tenanan kanggo Bu Maya lan Pak Irwan. Ora mung mergo dhuwite, tapi mergo... aku rumangsa salah kanggo opo sing tau sampeyan lakoni." (Aku sudah berniat, Mas. Aku akan bekerja sungguh-sungguh untuk Bu Maya dan Pak Irwan. Bukan hanya karena uangnya, tapi karena... aku merasa bersalah untuk apa yang pernah kamu lakukan.)

Karyo terdiam mendengar perkataan istrinya. Dia paham benar maksudnya—Ratih ingin menebus kesalahannya dengan melayani Maya dan Irwan sepenuh hati, meskipun itu berarti suaminya harus tidur dengan wanita lain. Pikiran itu membuat dadanya sesak.


Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com