𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟏𝟑𝟖

Stasiun di pagi hari selalu dipadati penumpang. Karyo berdiri gugup sambil memegang tiket, sesekali melirik ke arah Ratih yang menggandeng Dani dengan satu tangan dan menenteng tas kecil berisi barang-barang penting mereka dengan tangan lain. Sesuai instruksi Irwan, mereka hanya membawa sedikit pakaian.

"Dani, iki jenenge sepur. Kita bakal numpak iki nganti tekan Jakarta." (Dani, ini namanya kereta. Kita akan naik ini sampai tiba di Jakarta.) Karyo membungkuk, menjelaskan pada anaknya yang mata bulatnya melebar penuh keingintahuan.

"Sepur?" ulang Dani, matanya berbinar saat melihat kereta api berhenti di peron. "Gedhe banget, Pak!" (Besar sekali, Pak!)

Ratih tersenyum tipis melihat kekaguman anaknya, tapi Karyo bisa melihat ketegangan di wajahnya. Semalam, setelah mereka bercinta, Ratih menangis dalam pelukannya. Bukan tangisan keras, hanya aliran air mata sunyi yang membasahi dadanya. Karyo tahu istrinya takut menghadapi situasi yang menunggu mereka di Jakarta, tapi Ratih tetap teguh dengan keputusannya.

"Ayo, wis arep mangkat," (Ayo, sudah mau berangkat) ucap Karyo lembut, menggandeng tangan Dani yang satunya saat kereta mulai membuka pintu.

Begitu masuk ke dalam gerbong ekonomi, mereka menemukan tempat duduk. Dani langsung bergeser ke dekat jendela, matanya terpaku pada pemandangan luar.

"Kowe ora papa, Dik?" (Kamu nggak apa-apa, Dik?) tanya Karyo pelan, menggenggam tangan Ratih yang terasa dingin.

Ratih hanya mengangguk singkat. "Aku wedi, Mas... tapi aku luwih wedi nek ora melu." (Aku takut, Mas... tapi aku lebih takut kalau tidak ikut.)

Kereta mulai bergerak perlahan meninggalkan stasiun. Dani berteriak girang, "Pak! Pak! Mlaku!" (Pak! Pak! Jalan!) membuat beberapa penumpang di sekitar mereka tersenyum.

"Hooh, Le. Saiki awake dewe mangkat neng Jakarta." (Iya, Nak. Sekarang kita berangkat ke Jakarta.) Karyo mengusap kepala Dani dengan sayang.

"Pak, omah-omah neng Jakarta tenan duwur-duwur, ya? Kaya neng TV kae, Pak!" (Pak, rumah-rumah di Jakarta beneran tinggi-tinggi, ya? Kayak di TV itu, Pak!) celoteh Dani dengan mata berbinar, mengingat gambar-gambar gedung tinggi yang pernah ia lihat bersama ibunya di televisi.

"Hooh, Le. Awakmu bakal weruh dhewe." (Iya, Nak. Kamu akan lihat sendiri.) Karyo tersenyum, meski hatinya berat memikirkan masa depan yang menunggu mereka.

Sepanjang perjalanan enam jam itu, Dani tak henti bertanya dan menunjuk-nunjuk ke luar jendela. Setiap stasiun yang mereka lewati adalah petualangan baru baginya. Ratih perlahan mulai rileks, sesekali tersenyum melihat antusiasme putranya. Karyo sendiri larut dalam pikirannya, membayangkan bagaimana nantinya harus berhadapan dengan Maya dan Irwan dengan kehadiran Ratih di sisinya.

"Kowe mikir apa, Mas?" (Kamu mikir apa, Mas?) tanya Ratih, memecah lamunan Karyo.

Karyo menggeleng pelan. "Ora apa-apa, Dik. Mung... mikirir piye mengko." (Nggak apa-apa, Dik. Cuma... mikir nanti gimana.)

Karyo menatap ke luar jendela kereta, pikirannya berkecamuk. Pemandangan sawah yang berlarian seolah mengejeknya, mengingatkan pada kehidupan yang akan ia tinggalkan. Di Jakarta, tidak akan ada semua ini. Hanya ada rumah besar, perintah, dan tugas berat yang membuat perutnya mulas.

"Kowe mikir apa, Mas?" (Kamu mikir apa, Mas?) tanya Ratih, memecah lamunan Karyo. Suaranya datar, tanpa kelembutan yang biasa ia dengar.

Karyo menggeleng pelan. "Ora apa-apa, Dik. Mung... mikir piye mengko." (Nggak apa-apa, Dik. Cuma... mikir nanti gimana) .

"Piye mengko opone?" (Nanti gimananya apanya?) desak Ratih, tidak puas dengan jawaban mengambang itu. "Mikir piye carane ngladeni Bu Maya nek aku ono neng kono? Ngekep bojone uwong ning ngarep bojomu dewe?" (Mikir bagaimana caranya melayani Bu Maya kalau aku ada di sana? Memeluk istri orang di depan istrimu sendiri?)

Kata-kata tajam itu membuat Karyo tersentak. Dia menatap istrinya, yang balas menatap dengan sorot mata lelah namun menantang. Tak ada air mata, hanya ada kekerasan hati yang lahir dari rasa sakit.

"Aku ora ngerti kudu piye, Dik," (Aku tidak tahu harus bagaimana, Dik,) aku Karyo pelan, akhirnya menyerah. "Aku wedi." (Aku takut.)

Ratih mendengus pelan, sebuah suara sinis yang jarang ia keluarkan. "Wedi? Saiki kowe ngomong wedi? Biyen pas kowe ngimpi nduweni dheweke, opo kowe wedi?" (Takut? Sekarang kamu bilang takut? Dulu waktu kamu bermimpi memilikinya, apa kamu takut?)

Karyo hanya bisa menunduk, setiap kata istrinya terasa seperti tamparan. Rasa malu membakar wajahnya.

Hening sejenak. Kereta terus melaju, suaranya mengisi kebisuan di antara mereka.

"Aku melu dudu mergo aku lilo, Mas," (Aku ikut bukan karena aku rela, Mas,) Ratih akhirnya berkata, suaranya lebih pelan tapi tak kalah tajam. "Aku melu mergo aku ora percoyo karo kowe. Nek tak culke dewe, kowe bakal mbaleni maneh. Lali anak, lali bojo." (Aku ikut karena aku tidak percaya padamu. Kalau kulepaskan sendiri, kamu akan mengulanginya lagi. Lupa anak, lupa istri.)

Dia meraih tangan Karyo, tapi genggamannya bukan untuk menenangkan. Rasanya lebih seperti cengkeraman, sebuah penegasan kepemilikan. "Saiki wis kedaden. Ora iso dibatalake." (Sekarang sudah terjadi. Tidak bisa dibatalkan.)

"Awake dhewe bakal nglewati iki," (Kita akan melewati ini,) lanjutnya, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Karyo. "Ora ngerti piye carane. Pokoke dilewati." (Tidak tahu bagaimana caranya. Pokoknya dilewati saja.)

Karyo mengangguk, tidak berani berkata apa-apa lagi. Dalam genggaman tangan Ratih yang keras dan dingin, ia tidak menemukan kehangatan atau pengampunan. Ia hanya menemukan rantai—ikatan pahit yang akan mengikat mereka bertiga dalam badai yang mereka tuju bersama.


Stasiun Gambir di Jakarta memukau Dani dengan ukurannya yang besar dan keramaiannya. Matanya tak henti mengikuti setiap orang dan benda yang bergerak. Ketika mereka keluar dari stasiun, panas dan kebisingan Jakarta langsung menyambut.

"Pak Irwan bilang kita dijemput taksi, Dik," ucap Karyo, mengeluarkan ponselnya. Ia menelepon nomor yang diberikan Irwan, dan dalam sepuluh menit, sebuah taksi berhenti di depan mereka.

"Numpak mobil maneh, Pak?" (Naik mobil lagi, Pak?) tanya Dani bersemangat saat Karyo membuka pintu taksi.

"Iya, Le. Iki mobil sewaan kanggo neng omahe Pak Irwan." (Iya, Nak. Ini mobil sewaan untuk ke rumahnya Pak Irwan.)

Begitu taksi melaju memasuki jalan-jalan Jakarta, Dani menempelkan wajahnya ke jendela, terpesona oleh gedung-gedung tinggi dan keramaian kota. Karyo sendiri masih mengingat bagaimana dulu ia pertama kali tiba di Jakarta, penuh harapan dan ketakutan.

"Omah duwur-duwur, Bu!" (Rumah-rumahnya tinggi-tinggi, Bu!) seru Dani sambil menarik-narik lengan baju Ratih, menunjuk gedung pencakar langit.

"Iya, Le. Kaya sing biyen diceritakake Bapak, to?" (ya, Le. Kaya yang dulu pernah diceritakan Bapak, kan?") Ratih tersenyum, meski matanya menyiratkan kecemasan saat melihat besarnya kota ini.

"Aku pengin numpak omah duwur kui!" (Aku ingin naik rumah tinggi itu!) Dani menunjuk sebuah gedung tinggi dengan antusias.

Karyo tertawa kecil. "Mengko, Le. Saiki awake dhewe neng omahe Pak Irwan dhisik." (Nanti, Nak. Sekarang kita ke rumah Pak Irwan dulu.)

Ratih tidak banyak bicara selama perjalanan, hanya diam mengamati pemandangan kota yang asing baginya. Jalanan macet, klakson bersahutan, gedung-gedung tinggi, dan begitu banyak orang—semua itu sangat berbeda dengan kehidupan desa yang tenang. Dalam hati, Ratih bertanya-tanya bagaimana dia akan bertahan di kota besar ini.

Setelah hampir satu jam perjalanan, taksi akhirnya masuk ke sebuah kompleks perumahan elit. Gerbang tinggi dengan penjaga keamanan, rumah-rumah besar dengan halaman luas—pemandangan yang hanya pernah Ratih lihat di televisi.

Ratih menatap kompleks perumahan itu dengan kagum dan gugup, lalu berbisik, "Gedhe banget, Mas. Aku durung tau mlebu komplek kaya ngene." (Besar sekali, Mas. Aku belum pernah masuk kompleks seperti ini.)

Karyo tersenyum tipis, menahan perasaan campur aduk yang muncul setiap kali ia kembali ke tempat ini. "Wis papat taun aku kerja ning kene, Dik. Saben dina mlebu metu gerbang iki, rasane isih wae aneh." (Sudah empat tahun aku kerja di sini, Dik. Setiap hari keluar masuk gerbang ini, rasanya masih saja aneh.)

Ratih mengangguk pelan, mencoba menenangkan diri. Dani sibuk menempel di jendela, matanya tak lepas dari pemandangan rumah-rumah besar di sekeliling mereka.

Taksi akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar bergaya modern. Karyo membayar argo, lalu membantu Ratih dan Dani turun. Dani langsung berlari kecil ke halaman, terkagum-kagum melihat rumput hijau yang terawat rapi dan air mancur kecil di tengah halaman.

"Omah iki gedhe banget, Pak!" (Rumah ini besar banget, Pak!) seru Dani, matanya melebar penuh kekaguman.

Sebelum Karyo sempat menjawab, pintu depan terbuka. Maya dan Irwan berdiri di ambang pintu, keduanya tersenyum menyambut, meski Karyo bisa merasakan ketegangan di balik senyum itu.

"Karyo, kalian sudah sampai," sapa Irwan, melangkah mendekati mereka.

Maya mengikuti di belakangnya, perutnya yang mulai membesar terlihat jelas. Karyo merasakan getaran aneh di dadanya melihat bukti nyata dari "program" mereka.

"Selamat datang," sambut Maya dengan senyum hangat yang tampak dipaksakan. Pandangannya beralih ke Ratih dan Dani. "Kamu pasti Ratih, dan ini... Dani, kan?"

Ratih mengangguk sopan. "Iya, Bu. Saya Ratih, istri Karyo. Ini anak kami, Dani."

"Sopo kui, Bu?" (Siapa itu, Bu?) tanya Dani, bersembunyi di balik kaki ibunya, tiba-tiba malu.

"Kui Pak Irwan lan Bu Maya, Le. Majikane Bapak," (Itu Pak Irwan dan Bu Maya, Nak. Majikannya Bapak.) jawab Ratih lembut.

Dani mengintip dari balik kaki ibunya, matanya yang bulat mengamati Maya dengan penasaran. "Wetenge Bu Maya kok mledhu ngono?" (Perutnya Bu Maya kok buncit begitu?) tanyanya polos.

"Ssst, ora pareng ngono, Le!" (Ssst, tidak boleh begitu, Nak!) Ratih cepat-cepat menegur, wajahnya memerah karena malu.

Tapi Maya justru tertawa kecil. "Tidak apa-apa. Di sini ada adik bayi," jawabnya sambil mengelus perutnya yang membuncit. "Dani mau lihat?"

Penasaran, Dani perlahan keluar dari persembunyiannya. "Adik bayi?" ulangnya, berjalan mendekat dengan hati-hati.

"Iya, adik bayi," Maya berlutut, menyejajarkan tingginya dengan Dani. "Nanti kalau sudah lahir, Dani bisa main sama adik bayi."

"Aku iso ndelok adike?" (Aku bisa lihat adiknya?) tanya Dani, tangannya terangkat ragu-ragu, ingin menyentuh perut Maya.

Maya mengambil tangan kecil Dani dengan lembut dan meletakkannya di perutnya. "Tentu saja. Coba rasakan, kadang-kadang dia bergerak."

Dani menunggu beberapa saat, lalu matanya melebar ketika merasakan gerakan kecil. "Obah, Bu! Adike obah!" (Bergerak, Bu! Adiknya bergerak!) serunya girang, membuat semua orang tersenyum.

"Ayo masuk dulu," ajak Irwan, gesturnya ramah meski matanya tetap waspada. "Pasti lelah setelah perjalanan jauh."

Mereka mengikuti Irwan dan Maya masuk ke dalam rumah. Dani langsung terpesona melihat interior rumah yang mewah—lantai marmer, furnitur modern, dan ruangan yang begitu luas.

"Omah iki luwih gedhe tinimbang sekolahan, Bu!" (Rumah ini lebih besar daripada sekolahan, Bu!) bisik Dani pada ibunya, suaranya cukup keras hingga semua orang mendengarnya.

Maya tersenyum mendengar komentar itu. "Dani suka rumah ini?" tanyanya, berusaha membangun hubungan dengan anak kecil itu.

Dani mengangguk bersemangat. "Ono TV gedhe banget kae!" (Ada TV besar sekali itu!) tunjuknya ke arah televisi layar datar 65 inci di ruang keluarga.

"Itu namanya home theater," jelas Maya dengan suara ramah. "Nanti Dani bisa nonton kartun di sana. Kamu suka kartun apa?"

"Upin Ipin!" jawab Dani cepat, mulai melupakan rasa malunya. "Neng kene iso nonton Upin Ipin?" (Disini bisa nonton Upin Ipin?)

"Tentu saja bisa," Maya melirik ke arah Ratih. "Nanti bisa kita atur jadwal menontonnya, ya?"

Dani berjingkrak senang, lalu berlari mengelilingi ruang tengah, mengagumi semua benda yang belum pernah dilihatnya. Ratih berkali-kali menegurnya untuk tidak menyentuh barang-barang, takut anaknya merusak sesuatu.

"Karyo," Irwan berdeham, menarik perhatian mereka. "Kamu dan keluargamu akan menempati kamar tamu, bukan kamarmu yang lama."

"Kamarmu yang dulu terlalu sempit untuk kalian bertiga," tambahnya.

“Siap pak” Karyo mengangguk.

"Mari saya antar," Maya mengambil alih, membimbing mereka menyusuri koridor menuju kamar tamu.

Karyo merasakan sensasi aneh ketika Maya membuka pintu kamar tamu dan mempersilakan mereka masuk. Kamar ini—kamar yang sama di mana dulu dia dan Maya menghabiskan berjam-jam bersama selama "program" kehamilan mereka. Tempat di mana dia pernah dominan, percaya diri, dan merasa berkuasa atas wanita yang kini menjadi majikannya.

"Kamar mandi ada di sebelah sana," Maya menunjuk ke pintu di sudut ruangan, memberi tahu Ratih dan Dani. "Semoga nyaman untuk kalian bertiga."

"Aku sudah memesan makan siang dari restoran Sunda," tambah Maya, berusaha mencairkan suasana. "Katanya Dani suka ikan, jadi aku pesan gurame bakar dan ayam penyet. Sebentar lagi datang, sekitar jam 12."

"Tidak usah repot-repot, Bu," sahut Ratih canggung.

"Sama sekali tidak repot," Maya tersenyum. "Kalian bagian dari rumah ini sekarang."

Setelah Maya keluar, Ratih berdiri terpaku di tengah kamar, matanya terbelalak mengamati setiap detail—langit-langit tinggi dengan lampu kristal kecil, jendela besar dengan tirai tebal, tempat tidur yang bisa memuat empat orang dari desanya.

"Ya Allah, Mas..." bisiknya dengan suara tercekat. "Iki temenan kamar tamu? Kamar iki sak omah e Mbah Darmo ning desa kae. Piye wong-wong iki iso urip koyo ngene?" (Ya Allah, Mas... Ini beneran kamar tamu? Kamar ini seluas rumah Mbah Darmo di desa. Bagaimana orang-orang ini bisa hidup seperti ini?)

Ratih menyentuh seprai dengan jari-jari gemetar, merasakan tekstur lembut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. "Aku koyo neng film-film kae, Mas. Iki nyata po ngimpi?" (Aku seperti di film-film itu, Mas. Ini nyata atau mimpi?)

Karyo tidak langsung merespon. Pikirannya masih terpaku pada kenangan-kenangan yang pernah terjadi di kamar ini—bagaimana dia pernah menjelajahi setiap inci tubuh Maya di tempat yang sama di mana kini istrinya duduk, bagaimana desahan Maya pernah memenuhi ruangan ini, bagaimana dia pernah merasa berkuasa di sini.

"Mas? Sampeyan ora apa-apa?" (Mas? Kamu tidak apa-apa?) tanya Ratih, menyadari keanehan suaminya.

Karyo menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir kenangan itu. "Ora apa-apa, Dik. Mung... ora ngiro bakal neng kene meneh." (Tidak apa-apa, Dik. Cuma... tidak menyangka akan di sini lagi.)

Ratih menatapnya lekat, seolah bisa membaca pikirannya. "Iki kamare, ya? Neng kene sampeyan karo Bu Maya..." (Ini kamarnya, ya? Di sini kamu dengan Bu Maya...)

Karyo hanya mengangguk pelan. "Maaf, Dik."

"Ora apa-apa," (Tidak apa-apa,) Ratih menggenggam tangannya. "Kuwi wis kedadean. Saiki wis beda." (Itu sudah terjadi. Sekarang sudah beda.)

Di jendela, Dani masih asyik mengamati taman, tidak menyadari percakapan tegang kedua orangtuanya. "Pak! Bu! Ono kolam renang! Aku pengin renang!" (Pak! Bu! Ada kolam renang! Aku ingin berenang!)

Karyo memaksakan senyum. "Mengko, Le. Kudu takon sing duwe omah dhisik." (Nanti, Nak. Harus tanya yang punya rumah dulu.)


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com