𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟏𝟑𝟕

"Halo, Pak Irwan? Ini Karyo."

Suara di seberang terdengan dingin. "Ada apa, Karyo? Kamu sudah bicara dengan istrimu?"

"Sudah, Pak." Karyo menelan ludah, melirik ke arah Ratih yang memperhatikannya dengan tegang. "Saya... sudah cerita semuanya."

"Bagus." Ada jeda sejenak sebelum Irwan melanjutkan. "Lalu?"

"Istri saya... punya usul, Pak."

"Usul?" Ada nada ketertarikan dalam suara Irwan.

"Iya, Pak. Dia... dia minta izin untuk ikut ke Jakarta. Bawa anak saya juga."

Hening sejenak. Karyo bisa merasakan jantungnya berdebar kencang menunggu respon Irwan.

"Menarik." Suara Irwan akhirnya terdengar lagi, kali ini lebih lembut. "Jadi istri kamu mau jadi pengawas?"

"Bukan begitu maksudnya, Pak." Karyo cepat-cepat menjelaskan. "Saya takut khilaf lagi. Butuh Ratih untuk mengingatkan batasan."

"Atau..." Irwan memotong dengan nada menggoda yang membuat Karyo tidak nyaman, "istri kamu penasaran sama situasinya?"

Karyo terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Pikiran bahwa Ratih mungkin punya motif lain sama sekali tidak terlintas di benaknya.

"Saya perlu waktu untuk memikirkan ini," lanjut Irwan. "Saya ingin bicara langsung dengan istri kamu."

Karyo menoleh ke arah Ratih dengan ekspresi cemas. "Pak Irwan mau bicara sama kamu, Dik."

Ratih tampak terkejut, tetapi dengan mantap mengambil ponsel dari tangan Karyo.

"Halo, Pak Irwan." Suaranya terdengar lebih tenang dari yang Karyo harapkan.

"Ibu Ratih." Suara Irwan terdengar berbeda saat berbicara dengan Ratih, lebih lembut tapi juga lebih menyelidik. "Saya ingin tahu, Ibu yakin sanggup melihat suami sendiri melayani majikannya?"

Ratih menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. "Saya hanya ingin memastikan suami saya tidak membuat masalah lagi, Pak."

"Kalau nanti Ibu cemburu gimana?"

"Saya sudah menerima situasinya, Pak." Ratih menjawab dengan nada tegas yang mengejutkan bahkan bagi dirinya sendiri.

"Ibu tahu kalau suami Ibu sekarang jadi... property saya?" Pertanyaan Irwan terdengar semakin provokatif.

Karyo bisa melihat rahang Ratih mengeras, tapi suaranya tetap tenang saat menjawab, "Saya cuma mau jagain supaya Karyo nggak buat kesalahan lagi, Pak. Itu saja."

Hening sejenak. Lalu suara Irwan terdengar lagi, kali ini dengan nada puas. "Baiklah, Ibu Ratih. Saya setuju dengan usul Ibu."

Ketegangan di wajah Ratih sedikit mengendur, tetapi kelegaan itu tidak berlangsung lama.

"Tapi dengan syarat," Irwan melanjutkan. "Ibu Ratih tidak boleh menghalangi ‘tugas’ dari Pak Karyo nanti, baik sehari-hari maupun secara seksual."

Ratih melirik ke arah Karyo dengan tatapan bertanya. Karyo hanya bisa mengangkat bahu, sama bingungnya.

"Baik, Pak," jawab Ratih akhirnya.

"Dan satu hal lagi," tambah Irwan. "Anak Ibu, Dani... berapa umurnya sekarang?"

"Tiga setengah tahun, Pak."

"Ketika umurnya cukup, saya akan menyekolahkannya di sekolah yang bagus. Tapi," suara Irwan mendadak tegas, "Karyo harus cepat kembali. Dia cuma izin pulang untuk memberi tahu Ibu, dan sekarang Ibu juga ikut ke sini. Nggak usah membawa banyak barang seperti baju dan kebutuhan sehari-hari. Nanti saya akan berikan dana untuk membeli baju dan keperluan sehari-hari disini"

Sebelum Ratih sempat merespon, Irwan sudah menutup telepon. Ratih menurunkan ponsel dengan ekspresi campur aduk antara bingung dan lega.

"Piye, Dik?" (Bagaimana, Dik?) tanya Karyo pelan.

"Dheweke setuju." (Dia setuju.) Ratih menyerahkan ponsel kembali ke Karyo. "Aku kudu tandatangan kontrak kerja, lan ora oleh nolak tugas-tugas sing diwenehi." (Aku harus tanda tangan kontrak kerja, dan tidak boleh menolak tugas-tugas yang diberikan.)

"Lan Dani?"

"Pak Irwan janji nyekolahke Dani neng sekolah apik nek umure wis cukup." (Pak Irwan janji menyekolahkan Dani di sekolah bagus kalau umurnya sudah cukup.)

Ratih terdiam sejenak, kemudian melanjutkan dengan suara lebih pelan. "Tapi awake dewe kudu cepet bali, Mas. Sesuk." (Tapi kita harus cepat pulang, Mas. Besok.)

Karyo mengangguk. "Sesuk isuk awake dewe budhal." (Besok pagi kita berangkat.)

Ratih memandang ke arah halaman, di mana Dani masih bermain dengan teman-temannya. "Piye carane ngomong karo Dani nek sesuk awake dewe arep pindah adoh neng kutha?" (Bagaimana caranya bicara dengan Dani kalau besok kita mau pindah jauh ke kota?)

"Aku bakal mbantu ngomong karo dheweke." (Aku akan bantu bicara dengan dia.) Karyo merangkul bahu Ratih pelan, dan untuk pertama kalinya sejak dia pulang, Ratih tidak menjauh.

Mereka berdua duduk di teras, memandangi Dani yang tertawa riang, sama-sama memikirkan bagaimana kehidupan mereka akan berubah setelah ini.


Malam itu, setelah menjelaskan kepada Dani dengan bahasa sederhana bahwa mereka akan pindah ke Jakarta besok dan tinggal di rumah besar tempat Bapak bekerja, Karyo dan Ratih mulai berkemas. Tidak banyak barang yang perlu mereka bawa—beberapa pakaian, mainan kesayangan Dani, dan sedikit peralatan pribadi.

Dani tertidur dengan cepat, lelah setelah seharian bermain dan bersemangat dengan janji-janji tentang rumah besar dan mainan baru di Jakarta. Karyo menutup pintu kamar Dani perlahan, kemudian masuk ke kamarnya dan Ratih.

Di dalam kamar, Ratih sedang melipat beberapa helai pakaian. Karyo duduk di tepi ranjang, memperhatikan istrinya.

"Dik," panggil Karyo pelan.

Ratih menoleh, "Apa, Mas?"

Karyo menelan ludah. "Wengi iki... aku iso jaluk jatah?" (Malam ini... aku bisa minta jatah?)

Ratih menggeleng cepat. "Deloken nafsumu, meh ngancurke keluargamu, coba diampet." (Lihat nafsumu, hampir menghancurkan keluargamu, coba ditahan.)

"Aku ngerti, Dik. Tapi... neng kono mengko luwih angel. Aku kudu 'ngladeni' Bu Maya, dadi... mumpung isih neng omah..." (Aku mengerti, Dik. Tapi... di sana nanti lebih sulit. Aku harus 'melayani' Bu Maya, jadi... mumpung masih di rumah...)

Ratih menatap Karyo dengan tatapan yang sulit diartikan. Kemarahan, kekecewaan, dan juga... sesuatu yang lain.

"Ayo ngentot sepuas-puase saiki, Dik," (Ayo bercinta sepuas-puasnya sekarang, Dik,) Karyo melanjutkan, suaranya sedikit memohon. "Jujur wae, karo Bu Maya kuwi bedo. Aku gak iso... kalungguhan roso. Iki mung tugas kanggo selamatke keluargane dewe." (Jujur saja, dengan Bu Maya itu beda. Aku tidak bisa... merasakan perasaan. Ini cuma tugas untuk menyelamatkan keluarga kita.)

Kata-kata Karyo perlahan meluluhkan pertahanan Ratih. Dia menatap suaminya, lelaki yang telah hidup bersamanya selama lima tahun, ayah dari anaknya, yang sekarang merendahkan diri di hadapannya.

Dengan gerakan pelan, Ratih mendekat ke ranjang. Dia duduk di samping Karyo.

"Iki terakhir sakdurunge sampeyan dadi budake wong liyo," (Ini terakhir sebelum kamu jadi budaknya orang lain,) bisik Ratih, napasnya mulai tidak teratur.

Karyo melingkarkan tangannya di pinggang Ratih, menariknya lebih dekat. Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang awalnya ragu-ragu, kemudian semakin dalam dan menuntut. Tangan Karyo bergerak ke bawah daster Ratih, menyusuri paha dan pinggulnya.

"Aku tresno sampeyan, Dik," (Aku cinta kamu, Dik,) bisik Karyo di antara ciuman mereka.

Ratih tidak menjawab. Dia hanya memejamkan mata saat Karyo perlahan membaringkannya di ranjang dan membuka kancing dasternya satu per satu.

Malam itu, dalam keheningan rumah sederhana mereka, Ratih melepaskan kancing terakhir dasternya dengan jemari yang sedikit gemetar. Suaminya menatapnya dengan sorot mata yang lapar, duduk di tepi ranjang bambu yang berderit pelan saat ia bergeser.

"Mrene, Dik," (Kemarilah, Dik) bisik Karyo, suaranya serak oleh gairah yang tak bisa ditahan lagi.

Ratih mendekat dengan langkah ragu. Ketika tubuh mereka bersentuhan, sensasi familier menjalar di kulitnya—campuran kehangatan dan antisipasi yang telah dikenalnya selama lima tahun pernikahan. Karyo menariknya ke pangkuan, tangan kasarnya meraba pinggul Ratih yang berisi.

"Aku kangen tenan, Dik," (Aku kangen banget, Dik) gumamnya sambil mengecup leher Ratih. "Ora ono sing iso nandingi awakmu... awakmu sing wis dadi bojoku tenan." (Nggak ada yang bisa nandingi tubuhmu... tubuhmu yang sudah jadi istriku beneran.)

Jari-jari Karyo bergerak menyusuri lekuk tubuh Ratih, berhenti di bawah payudaranya yang besar. "Bu Maya susune kenceng, tapi ora gedhe koyo nggonmu," (Bu Maya payudaranya kencang, tapi nggak besar seperti punyamu) bisiknya, membandingkan tanpa sadar.

Ratih menegang. "Aku ora pengin krungu bab dheweke bengi iki, Mas." (Aku nggak mau dengar soal dia malam ini, Mas.)

Karyo mengangguk, menarik napas dalam. "Ngapuro, Dik... Ngapuro." (Maaf, Dik... Maaf.)

Ratih mendorong tubuh suaminya hingga terlentang di ranjang. Dengan gerakan yang tak terduga, ia membuka celana Karyo dan melepaskannya dengan satu sentakan. Kejantanan suaminya sudah mengeras sempurna.

"Kangen yo, Mas?" (Kangen ya, Mas?) tanya Ratih dengan nada menggoda yang jarang terdengar.

Tanpa menunggu jawaban, Ratih membungkuk dan mengulum kejantanan Karyo dalam satu gerakan mulus. Karyo mengerang keras, jari-jarinya mencengkeram seprai.

"Sssh... adhuh, Dik..." (Sssh... aduh, Dik...) desahnya tertahan. "Alon-alon..." (Pelan-pelan...)

Tapi Ratih tidak melambat. Kepalanya bergerak naik turun dengan ritme yang semakin cepat, lidahnya berputar di ujung penis Karyo, sesekali menghisap kuat hingga pipinya cekung.

"Sluurp... hmmmph..." Suara basah terdengar dari aktivitas mulutnya, membuat Karyo semakin terangsang.

"Wis, Dik," (Cukup, Dik) Karyo akhirnya menarik rambut Ratih lembut. "Aku pengin awake dewe bareng." (Aku pengin kita bersama.)

Ratih melepaskan kulumannya dengan bunyi 'pop' pelan, benang tipis saliva masih menghubungkan bibirnya dengan penis Karyo yang berkilat basah. Ia tersenyum, bangga melihat ekspresi kewalahan di wajah suaminya.

Karyo mengambil alih kendali, mendorong Ratih hingga berbaring dan membuka kakinya lebar. "Kowe wis teles banget," (Kamu sudah basah banget) gumamnya, menyentuh celana dalam Ratih yang memang sudah lembab.

"Kangene pol, Mas," (Kangennya sampai puncak, Mas) jawab Ratih jujur.

Karyo menyeringai, lalu menarik celana dalam Ratih ke samping dan menjilati kewanitaannya dengan lapar. Ratih menggelinjang, punggungnya melengkung ke atas saat lidah Karyo menyapu klitorisnya.

"Ahhhh! Mas... hooh..." (Ahhhh! Mas... iya...) desahnya.

Jilatan Karyo semakin intens, sesekali menyedot klitoris Ratih sambil jari telunjuknya masuk ke dalam lubang kewanitaan istrinya. Gerakan memutar jarinya membuat Ratih menjerit tertahan.

"Masss... Ahhh... Aku arep metu..." (Masss... Ahhh... Aku mau keluar...)

Karyo tidak berhenti. Lidah dan jarinya bergerak semakin cepat hingga tubuh Ratih bergetar hebat, mencapai klimaks pertamanya malam itu. Ratih mengerang panjang, kakinya gemetar tak terkendali sementara tangannya mencengkeram kepala Karyo.

Tanpa memberi waktu Ratih pulih sepenuhnya, Karyo memosisikan dirinya di antara kaki istrinya dan mendorong masuk dalam satu hentakan keras.

"AHHH!" Ratih menjerit, merasakan kejantanan suaminya mengisi penuh kewanitaannya.

"Hmmmph... sik ciut... isih koyo pertama kali," (Hmmmph... sempitnya... masih seperti pertama kali) gumam Karyo, mulai menggerakkan pinggulnya.

Ranjang berderit ritmis mengikuti tempo gerakan mereka. Karyo memegang pinggul Ratih, mengangkatnya sedikit untuk penetrasi yang lebih dalam.

"Mas... enak... teruske..." (Mas... enak... terusin...) Ratih meracau, matanya setengah terpejam.

Setelah beberapa menit dalam posisi misionaris, Karyo tiba-tiba menarik diri dan membalik tubuh Ratih. "Ndlosor, Dik," (Nungging, Dik) perintahnya lembut.

Ratih menurut, memosisikan dirinya dengan lutut dan tangan bertumpu di ranjang, bokongnya terangkat tinggi. Karyo mengelus bokong istrinya dengan apresiatif, lalu kembali memasukkan kejantanannya dari belakang.

"Ahhhh! Mas... jero..." (Ahhhh! Mas... dalam...) Ratih mendesah keras saat penetrasi dari posisi ini terasa jauh lebih dalam, menyentuh titik-titik sensitif yang sulit dijangkau sebelumnya.

Karyo menggerakkan pinggulnya dengan keras dan cepat, suara tepukan kulit bertemu kulit terdengar jelas di kamar sempit itu. "Plok! Plok! Plok!"

"Hooh... teruske... Mas... enak banget..." (Iya... terusin... Mas... enak banget...) Ratih mendorong bokongnya ke belakang, menyambut setiap hentakan Karyo.

Di tengah gairah yang memuncak, Karyo tiba-tiba mengingat sesuatu. Jari tengahnya yang sudah basah oleh cairan Ratih ia arahkan ke lubang belakang istrinya, mengusapnya perlahan.

"Mas pengin neng kene barang," (Mas mau di sini juga) bisiknya serak.

Ratih mengangguk di tengah desahannya. Ini bukan hal baru bagi mereka. "Alon-alon, Mas." (Pelan-pelan, Mas.)

Karyo menarik kejantanannya keluar, lalu mengambil minyak kelapa dari laci samping ranjang—pelumas sederhana yang selalu mereka gunakan. Ia melumuri penisnya dan lubang anus Ratih dengan hati-hati.

"Lerenke awakmu, Dik," (Rilekskan tubuhmu, Dik) bisiknya sambil perlahan mendorong masuk.

"Nggghhh..." Ratih menggigit bantal, merasakan sensasi penuh dan sedikit nyeri saat Karyo mulai memasukinya dari belakang.

Karyo bergerak sangat perlahan, memberi Ratih waktu beradaptasi. Saat istrinya mulai rileks, ia mulai bergerak lebih cepat.

"Kowe ngerti ora, Dik," (Kamu tahu nggak, Dik) ucap Karyo di sela napasnya yang memburu, "kenapa aku yakin tenan biyen Bu Maya seneng karo aku?" (kenapa aku yakin banget dulu Bu Maya suka sama aku?)

Ratih mengerang, tidak ingin mendengar nama itu lagi, tapi tubuhnya tetap bergerak menyambut setiap dorongan suaminya.

"Dheweke... ahh... dheweke menehi aku prawan silitane," (Dia... ahh... dia ngasih aku keperawanan anusnya) Karyo melanjutkan, suaranya penuh kebanggaan. "Ora tau dheweke menehi Pak Irwan... mung aku... sing oleh mlebu neng kene..." (Nggak pernah dia kasih ke Pak Irwan... cuma aku... yang boleh masuk di sini...)

Ratih memejamkan mata, mencoba mengabaikan kata-kata Karyo dan fokus pada sensasi yang ia rasakan.

"Dheweke nganti nangis... ngomong loro... tapi tetep njaluk maneh..." (Dia sampai nangis... bilang sakit... tapi tetep minta lagi...) Karyo mempercepat gerakannya. "Kuwi sing gawe aku yakin dheweke bener-bener tresno... ora mung butuh wijiku... ahh..." (Itu yang bikin aku yakin dia beneran sayang... nggak cuma butuh spermaku... ahh...)

"Mas... wis cukup... ojo... crito dheweke..." (Mas... cukup... jangan... cerita dia...) Ratih memohon di antara desahannya.

Karyo tersadar dan segera berhenti berbicara, sadar telah melukai perasaan istrinya. "Ngapuro, Dik... mung kowe sing penting..." (Maaf, Dik... cuma kamu yang penting...)

Untuk menebus kesalahannya, Karyo meraih ke depan, jarinya menemukan klitoris Ratih dan memainkannya sambil terus menghentakkan pinggulnya.

"Ahh! Mas! Neng kono!" (Ahh! Mas! Di situ!) Ratih menjerit ketika kombinasi sensasi dari depan dan belakang membawanya ke puncak kenikmatan kedua.

Merasakan tubuh Ratih yang bergetar dan otot anusnya yang menjepit erat, Karyo pun tak bisa menahan diri lebih lama. "Dik... aku metu... ahhh!" (Dik... aku keluar... ahhh!)

Ia menarik kejantanannya keluar tepat waktu dan menumpahkan cairannya di punggung bawah Ratih, menandai istrinya dengan cairan putih kental yang kontras dengan kulit cokelat Ratih.

Terengah-engah, keduanya ambruk berdampingan di ranjang sempit. Karyo meraih kain lap di samping ranjang dan dengan lembut membersihkan punggung Ratih.

"Sepurane, Dik," (Maaf, Dik) bisiknya, mengecup bahu Ratih. "Aku kebablasan ngomong." (Aku kebablasan ngomong.)

Ratih hanya mengangguk, masih terengah. Setelah beberapa menit pemulihan, tanpa diduga Ratih bangkit dan mengambil posisi di atas tubuh Karyo.

"Aku durung marem, Mas," (Aku belum puas, Mas) ucapnya dengan tatapan yang masih dipenuhi gairah.

Karyo tersenyum lebar melihat istrinya mengambil inisiatif. Ratih mulai menggerakkan pinggulnya, menggesekkan kewanitaannya di sepanjang kejantanan Karyo yang mulai mengeras kembali.

"Pengin maneh?" (Ingin lagi?) tanya Karyo, tangannya meremas payudara Ratih.

Ratih mengangguk, lalu mengangkat pinggulnya sedikit dan menurunkannya perlahan, membiarkan penis Karyo kembali masuk ke dalam kewanitaannya.

"Aaaah..." keduanya mendesah bersamaan.

Kali ini Ratih yang mengambil kendali, bergerak naik turun dengan tempo yang ia inginkan. Karyo menikmati pemandangan istrinya yang berkeringat dan bergairah di atasnya—rambut hitam panjangnya terurai liar, payudaranya bergoyang seiring gerakan, dan wajahnya menunjukkan kenikmatan murni.

"Kowe ayu tenan, Dik," (Kamu cantik banget, Dik) puji Karyo tulus.

Ratih tersenyum di tengah desahannya, mempercepat gerakan. Karyo menggerakkan pinggulnya ke atas, menyambut setiap turunan Ratih, membuat penetrasi semakin dalam.

"Ahhh! Mas! Neng kono!" (Ahhh! Mas! Di situ!) Ratih menjerit ketika ujung penis Karyo menyentuh titik terdalamnya.

Karyo mempertahankan posisi itu, membiarkan Ratih bergerak dengan cara yang memberinya kenikmatan maksimal. Tidak butuh waktu lama hingga tubuh Ratih kembali bergetar, mencapai klimaks ketiganya malam itu.

"Mas... aku... AAAHHH!" Ratih menjerit, kepalanya terlempar ke belakang, tubuhnya melengkung indah saat gelombang kenikmatan menguasainya.

Karyo tidak tahan melihat pemandangan itu dan segera mencapai klimaksnya juga, kali ini di dalam Ratih. "Dik... ohhh... Dik..." desahnya, mencengkeram pinggul Ratih.

Tubuh mereka berdua gemetar sejenak sebelum Ratih ambruk di dada Karyo

"Sampeyan kudu janji siji bae, Mas," (Kamu harus janji satu saja, Mas,) bisik Ratih akhirnya.

"Apa kuwi, Dik?"

"Ati sampeyan tetep neng kene, karo aku lan Dani." (Hatimu tetap di sini, dengan aku dan Dani.)

Karyo menggenggam tangan Ratih erat-erat. "Janji, Dik. Ati lan jiwaku tetep neng kene." (Janji, Dik. Hati dan jiwaku tetap di sini.)

Dalam keheningan malam itu, keduanya akhirnya tertidur dengan tangan masih saling menggenggam, sementara di luar, awan gelap mulai berarak menutupi langit, pertanda bahwa badai mungkin akan datang esok hari.


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com