𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟏𝟒𝟏

Di dapur, Ratih sedang membersihkan sisa piring makan malam ketika Irwan masuk. Wanita itu langsung tegang mematung.

"Dani sudah tidur?" tanya Irwan santai, berjalan ke arah lemari es.

"Sudah, Pak," jawab Ratih pelan, kembali melanjutkan pekerjaannya meski dengan gerakan lebih kaku.

Irwan mengambil sebotol air dan menuangkannya ke gelas. "Kamu nggak perlu tegang begitu, Ratih. Saya tahu ini situasi aneh untuk kita semua."

Ratih mengangguk kecil, tidak yakin harus merespon bagaimana. Dalam benaknya, dia sudah mempersiapkan diri untuk mendengar suara-suara dari kamar—desahan Maya, geraman Karyo, derit ranjang—seperti cerita-cerita yang pernah dia dengar dari tetangga desa tentang suami yang selingkuh. Tapi keheningan yang berlangsung justru membuatnya bingung.

"Karyo... sedang kesulitan," Irwan akhirnya berkata, nadanya tenang seolah membicarakan masalah teknis biasa.

Ratih menoleh cepat, wajahnya menunjukkan kebingungan.

"Dia tidak bisa..." Irwan membuat gestur samar dengan tangannya. "...ereksi."

Mata Ratih melebar kaget. Suaminya—pria yang selama ini dia anggap terlalu bergairah, bahkan berbahaya karena hasratnya—tidak bisa ereksi saat berhadapan dengan wanita yang pernah hampir direbutnya?

"Apa... apa Bu Maya tidak..." Ratih tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, terlalu malu.

"Oh, Maya sudah berusaha," Irwan tersenyum tipis. "Mungkin Karyo terlalu tegang. Ini situasi baru baginya—menyetubuhi seorang istri dilihat langsung oleh suaminya."

Ratih merasakan perasaan aneh di dadanya. Iba. Iba melihat suaminya yang pasti sedang malu dan tersiksa di atas sana.

"Maaf, Pak," ucap Ratih pelan. "Untuk ketidakmampuan suami saya."

"Santai saja," Irwan menjawab ringan. "Ini baru pertama kali. Aku mengerti tekanan yang dia rasakan."

Irwan meletakkan gelasnya di meja, tatapannya menerawang sejenak. "Tekanan mental," ulangnya perlahan. Ada sesuatu yang aneh dalam nada suaranya—bukan nada mengejek atau menghakimi, tapi lebih seperti... pengertian.

Ratih menangkap itu. Matanya yang semula tertunduk kini mengamati majikan suaminya dengan lebih seksama. Cara Irwan memainkan jemarinya di bibir gelas, cara bahunya sedikit merosot saat mengucapkan kata-kata itu, semua menunjukkan bahwa lelaki ini bicara dari pengalaman, bukan sekadar teori.

"Bapak..." Ratih ragu-ragu sejenak. "Bapak sepertinya mengerti betul perasaan suami saya."

Irwan mengerjap, seperti baru tersadar dari lamunannya. "Ya," jawabnya singkat, lalu menambahkan dengan suara yang nyaris berbisik, "Mungkin lebih dari yang kamu kira."

Ratih diam, tangannya mencengkeram pinggiran wastafel dapur. Ada sesuatu yang terasa ganjil. Semua ini—situasi suaminya yang gagal ereksi, majikannya yang tampak memahami alih-alih marah—semuanya terjadi terlalu cepat, terlalu... lancar.

Di dalam benaknya, Ratih bergulat dengan pertanyaan: Mengapa pria ini begitu tenang? Mengapa ia seperti sudah mengantisipasi kegagalan Karyo? Dan mengapa ia berbicara seolah-olah ia pernah berada di posisi yang sama?

Sementara itu, pikiran Irwan berputar ke malam-malam panjang yang ia habiskan sendirian di kamar kerjanya bertahun-tahun lalu.

"Kadang tubuh kita... memberontak melawan pikiran kita," ujar Irwan pelan, tatapannya masih menghindari mata Ratih.

Ada kepahitan dalam suaranya yang membuat Ratih tertegun. Tiba-tiba ia mengerti—bukan hanya tentang kegagalan Karyo malam ini, tapi tentang seluruh situasi aneh ini. Mengapa seorang suami seperti Irwan mengizinkan, bahkan mendorong, istrinya bersama pria lain. Mengapa Irwan lebih menunjukkan pengertian daripada kemarahan.

Apakah dia juga...? Ratih tidak menyelesaikan pertanyaan dalam benaknya. Terlalu tidak sopan, terlalu pribadi. Tapi melihat bahu Irwan yang kini lebih rileks, seolah lega ada orang lain yang memahami tanpa perlu kata-kata, Ratih tahu jawabannya.

Mereka berdiri dalam keheningan yang aneh namun tidak sepenuhnya canggung—dua pasangan yang terhubung oleh satu rahasia yang sama namun dari sisi yang berbeda. Ratih, yang baru beberapa jam lalu masih marah karena suaminya harus memuaskan wanita lain, kini menemukan dirinya merasakan secercah... simpati? Bukan pada Maya, tapi pada Irwan. Pada lelaki yang mungkin telah merasakan ketidakberdayaan yang sama seperti yang kini dirasakan Karyo.

Mereka berdiri dalam keheningan yang sarat makna. Irwan meneguk air mineralnya dengan tenang, sementara Ratih menggenggam tepian wastafel hingga buku-buku jarinya memutih. Suara dentingan jam dinding terdengar memekakkan dalam kesunyian yang menekan itu.

"Mm... aahh..."

Suara itu—lembut namun jelas—menembus langit-langit dapur, mengalir turun seperti tetesan air yang lambat namun pasti. Desahan Maya.

Tubuh Ratih membeku. Darahnya berdesir cepat ke wajah, menyebar merah padam dari leher hingga telinganya. Matanya melebar, menatap langit-langit dapur seolah bisa menembus lantai kayu di atas mereka.

"Ohhh... Mas... iya di situ..."

Kali ini desahan itu lebih panjang, lebih mendesak. Ratih merasakan setiap suku kata menghantam dadanya seperti pukulan kecil.

"Krek... krek... krek..."

Suara derit ranjang mulai mengisi jeda antara desahan. Irama yang lambat namun mantap, seperti metronom kenikmatan yang berdetak di atas kepala mereka.

Irwan berdeham, meletakkan gelasnya dengan suara 'tuk' pelan di meja konter. "Sepertinya mereka sudah menemukan... ritmenya," ucapnya santai, seolah sedang membicarakan cuaca.

Ratih menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, matanya berair menahan berbagai emosi yang bergolak. Jemarinya yang berkeringat beralih dari wastafel ke ujung kemeja lusuhnya, meremasnya dengan kuat.

"Ahh! Mas Karyo... lebih cepat!"

Suara Maya kini jauh lebih jelas—lebih menuntut, lebih putus asa. Diikuti geraman rendah Karyo yang samar namun menggetarkan, "Dik Maya... aaaahh..."

"Krek-krek-krek-krek—"

Derit ranjang semakin cepat, lebih keras. Tak lagi sebuah metronom, tapi hentakan drum yang semakin menggila.

Tubuh Ratih bergetar halus. Dadanya naik turun tidak beraturan. Di sampingnya, Irwan justru terlihat lebih tegak, matanya menatap langit-langit dengan sorot yang aneh—campuran rasa sakit dan... sesuatu yang lain.

"AAHH! IYA MAS! TERUS!"

Jeritan Maya menembus seluruh rumah. Ratih refleks menutup telinganya dengan kedua tangan, matanya terpejam erat. Namun suara-suara itu tetap menembus, seperti hantu yang merasuki pikiran.

"Nhhh—uhh—AHH!"

Suara Karyo terdengar—suara yang hanya Ratih kenal selama bertahun-tahun pernikahan. Suara yang biasanya hanya dia dengar dalam keintiman kamar mereka. Suara yang kini dibaginya dengan wanita lain.

"MAS! SAYA MAU—AHHHH!"

Jeritan panjang Maya diikuti dua geraman serak Karyo yang bersahutan. Lalu, keheningan.

Ratih membuka mata perlahan, setetes air mata lolos turun ke pipinya yang panas. Tangannya turun, gemetar di sisinya. Pertemuan pandangnya dengan Irwan seperti dua orang yang baru saja menyaksikan kecelakaan—terkejut, ngeri, namun tak bisa berpaling.

"Sepertinya Maya berhasil," komentar Irwan, meneguk sisa air mineralnya dengan tenang, meski Adam's apple-nya naik turun lebih cepat dari normal. Suaranya sedikit serak saat melanjutkan, "Saya harus kembali ke atas."

Tatapan mereka bertemu sekali lagi—dua pasangan yang dikhianati, terhubung dalam luka bersama namun dari sisi yang berbeda. Ratih melihat kilatan aneh di mata Irwan—rasa sakit yang bercampur dengan sesuatu yang membuatnya merinding. Sesuatu yang tidak berani dia namakan.

Irwan meletakkan gelasnya di meja dengan gerakan yang terlalu terkendali, lalu berjalan keluar dapur dengan langkah yang tegas. Meninggalkan Ratih yang berdiri kaku seperti patung, dengan perasaan yang campur aduk—malu, cemburu, lega, dan entah apa lagi yang tidak bisa dia jelaskan.

Irwan meletakkan gelasnya di meja, lalu berjalan keluar dapur, meninggalkan Ratih yang berdiri kaku dengan perasaan yang campur aduk—malu, cemburu, lega, dan entah apa lagi yang tidak bisa dia jelaskan.

Irwan membuka pintu kamar perlahan.

Napasnya tertahan. Jantungnya berdegup kencang saat telinganya menangkap suara-suara dari dalam—desahan lembut Maya bercampur erangan tertahan Karyo. Tangannya bergetar sedikit pada kenop pintu, namun matanya tetap terpaku ke depan. Dia harus melihat. Harus mengkonfirmasi.

Celah pintu yang terbuka menampilkan pemandangan yang langsung membuat tenggorokannya kering.

Di atas ranjang, Maya—istrinya—sedang menunggangi Karyo. Tubuh telanjangnya yang dibalut keringat bergerak naik-turun dengan ritme yang lambat namun mantap. Payudaranya yang lebih besar karena kehamilan bergoyang lembut seiring gerakannya. Kepalanya sedikit mendongak, rambut yang biasanya tertata rapi kini berantakan membingkai wajahnya yang memerah. Mata Maya setengah terpejam, bibirnya yang basah sedikit terbuka.

"Mmhh... Mas..." desahnya pelan, tangannya bertumpu pada dada bidang Karyo. "Enak... kayak gini enak..."

Karyo, pembantu mereka selama bertahun-tahun, kini berbaring telentang di bawah istrinya. Otot-otot tangannya yang kekar mencengkeram pinggang Maya, membimbingnya dalam gerakan lambat yang sensual. Wajahnya terlihat lebih rileks dari biasanya, meski tidak sebuas pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya. Keringat mengalir di pelipisnya, turun ke lehernya yang tegang.

"Dik Maya..." gumamnya, suara serak yang penuh nafsu. "Ahhh... pelan-pelan aja..."

Maya sedikit mengubah posisinya, memutar pinggulnya dalam gerakan melingkar kecil yang membuat keduanya mengerang bersamaan.

"Disitu... iya disitu..." Maya berbisik, mengigit bibir bawahnya. "Mas bisa rasain bayinya? Bayi kita?"

Tangan Karyo bergerak naik, mengelus perut Maya yang mulai membuncit. "Bisa," jawabnya dengan nada kagum. "Anak kita... kuat kayak bapaknya."

Maya tersenyum, matanya masih setengah terpejam saat ia mempercepat sedikit gerakannya. "Mmm... enak banget... ahh..."

"Krek... krek..." Ranjang berderit pelan, mengikuti irama tubuh mereka yang berpadu.

Maya mulai bergerak lebih cepat, napasnya semakin pendek-pendek. "Mas... Mas Karyo..." desahnya, suaranya mulai meninggi. "Aku mau... mau ngerasain lagi..."

Karyo mengangguk, tangannya menekan pinggang Maya lebih kuat, membantunya bergerak lebih intens. "Iya Dik... bareng ya..."

"Ahhh... ahh..." Maya mendesah semakin keras, tubuhnya mulai bergetar. "Mas... aku—"

Saat menyadari kehadiran Irwan yang tiba-tiba berdiri di ambang pintu, tubuh Karyo langsung menegang seperti tersengat listrik. Dan seketika itu juga, kejantanannya yang tadinya sudah setengah keras —yang sedang dinikmati Maya— kembali melemas, terlepas dari dalam tubuh Maya dengan suara basah yang memalukan.

"Plop! Ah!" Maya mengerang frustrasi , tubuhnya yang masih diselimuti gairah tiba-tiba kehilangan sumber kenikmatannya. "Kenapa lagi?"

Matanya mengikuti arah pandangan Karyo, dan tersentak kaget melihat Irwan berdiri disana, mengamati mereka dengan ekspresi dingin yang sulit dibaca.

Karyo merasakan darahnya seperti membeku dalam sekejap. Jantungnya berdegup liar, tapi bukan karena gairah—melainkan ketakutan murni. Dia hanya bisa menutup wajahnya dengan tangan, merasa sangat malu dan tidak berdaya. Keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya yang telanjang dan terpampang jelas di hadapan kedua majikannya.

Maya dengan canggung turun dari tubuh Karyo, tergesa-gesa menutupi payudaranya dengan lengan meski Irwan sudah sering melihatnya telanjang. Dia duduk di tepi ranjang dengan ekspresi kesal bercampur malu.

"Baru juga enak, gara-gara kamu masuk nih" keluh Maya pada Irwan, suaranya setengah frustasi setengah malu, tidak lagi mempedulikan Karyo yang masih berbaring dengan tubuh telanjang dan penis yang kini mengkerut seperti ketakutan. "Capek lho aku bikin dia keras pake mulut. Ngulum sampai rahang pegel. Baru dapet satu ronde , tapi begitu mau enak lagi, kamu masuk, langsung lembek lagi."

Irwan mengamati situasi dengan tenang, matanya bergerak dari wajah Maya yang memerah ke tubuh Karyo yang telanjang dan gemetar, kemudian ke seprai yang basah oleh cairan keintiman mereka. Ekspresinya tak terbaca, tapi rahangnya sedikit mengeras. "Sepertinya memang butuh waktu adaptasi."

Karyo menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya, gerakannya canggung dan penuh rasa malu. Keberaniannya yang tadi begitu dominan kini lenyap sepenuhnya, digantikan sikap patuh seorang pembantu yang tertangkap basah melakukan kesalahan besar.

Karyo akhirnya menurunkan tangannya dari wajahnya, menatap Maya dengan tatapan memohon yang menyedihkan, seperti anak anjing yang ketakutan. "Maaf, Bu. Saya tidak bisa... tidak bisa keras lagi. Kalo boleh… bantu dikulum lagi Bu… biar keras lagi..."

Ucapan Karyo membuat suasana semakin canggung. Irwan mengangkat alisnya sedikit, sementara Maya menatap Karyo dengan campuran rasa jijik dan kasihan. Kejantanan Karyo yang tadinya pernah membuat Maya menjerit penuh kenikmatan kini hanya terlihat seperti organ tak berguna yang mengkerut ketakutan.

Maya menggeleng tegas, menghela napas panjang sambil meraih jubah tidur sutranya yang tergeletak di lantai. Dengan gerakan cepat, dia memakainya, merapikan rambutnya yang berantakan dengan jari-jarinya. "Nggak ah! Aku sudah nggak mood. Udah aja untuk malam ini. Kita lanjut lain waktu aja."

Karyo menelan ludah, matanya bergerak dari Maya ke Irwan, kemudian kembali ke Maya. "Ta-tapi Bu..." suaranya gemetar.

Irwan melangkah masuk sepenuhnya ke dalam kamar, menutup pintu di belakangnya dengan suara 'klik' pelan yang terdengar seperti vonis final. Dia berjalan ke arah meja samping ranjang, menuangkan segelas air dari teko kristal disana.

"Menarik," ujarnya tenang, menyodorkan gelas itu pada Maya yang menerimanya tanpa berkata-kata. "Kenapa kamu tidak bisa keras lagi, Karyo?"

Pertanyaan langsung itu membuat Karyo semakin ciut. Dia menarik selimut lebih tinggi, hampir menutupi dadanya.

"Sa-saya... gugup, Pak," jawabnya, suaranya nyaris berbisik. "Nggak biasa... dilihat..."

"Hmm," Irwan mengangguk, seolah sedang menganalisis spesimen di laboratorium.

Wajah Karyo semakin merah padam. Maya menatap lantai, menghindari tatapan suaminya.

"Tubuhmu sepertinya... sensitif terhadap kehadiran saya," lanjut Irwan, nada suaranya seperti dokter yang sedang mendiagnosis. "Mungkin alam bawah sadarmu masih terngiang-ngiag kejadian waktu itu? Kesalahan fatal kamu?."

Karyo tidak berani menjawab, tangannya yang gemetar masih mencengkeram selimut erat-erat.

"Ya udah," perintah Irwan datar. "Balik aja dulu ke kamar kamu."

"Ba-baik, Pak," Karyo tergagap, bergerak canggung untuk meraih celana dan kemejanya yang berserakan di lantai.

Maya dan Irwan mengamati dalam diam saat Karyo berpakaian dengan tergesa-gesa, jari-jarinya yang gemetar berkali-kali gagal mengancingkan kemejanya dengan benar. Keheningan itu terasa mencekik, hanya dipecahkan oleh suara kain yang dikenakan dan napas tertahan.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Karyo berjalan keluar kamar dengan kepala tertunduk.

Pintu kamar tertutup dengan suara pelan di belakangnya.


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com