๐ˆ๐ฌ๐ญ๐ซ๐ข๐ค๐ฎ ๐ƒ๐ข๐ก๐š๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข ๐๐ž๐ฆ๐›๐š๐ง๐ญ๐ฎ ๐๐š๐› ๐Ÿ๐Ÿ๐ŸŽ

 

Malam pun tiba. Maya dan Pak Karyo makan malam sederhana—sisa sayur asem siang tadi dan telur dadar buatan Karyo. Mereka makan di ruang makan tanpa pembicaraan berat, hanya guyonan ringan tentang makanan dan kebiasaan orang desa.

Setelah makan, Maya membersihkan meja sementara Karyo mengganti air galon. Tak ada lagi batasan antara mereka; semua gerak dan interaksi alamiah, seperti pasangan suami istri betulan.

Begitu selesai, mereka kembali ke kamar utama untuk tidur malam terakhir sebelum Irwan pulang keesokan harinya. Karyo tanpa ragu merebahkan diri di sisi ranjang yang biasa dia tempati seharian ini, Maya otomatis menempel di sampingnya.

Lampu kamar diredupkan, suasana intim menyelimuti mereka. Maya menatap Karyo yang berbaring telanjang dada di sampingnya, dada bidang yang naik-turun teratur, otot-otot yang terbentuk dari kerja keras bertahun-tahun. Tangannya bergerak sendiri, menyentuh dada itu dengan lembut.

"Papa..." bisik Maya, suaranya bergetar karena hasrat yang mulai bangkit lagi.

Karyo menangkap tangan Maya, membawanya ke bibirnya untuk mencium jari-jemarinya satu per satu. "Mama pengen lagi?" bisiknya dengan suara serak yang membuat Maya bergidik.

Maya mengangguk, matanya berkabut nafsu. "Aku... aku nggak bisa berhenti pengen Papa."

Karyo menyeringai, tangannya sudah bergerak ke payudara Maya, meremas dengan gerakan memutar yang membuat Maya melenguh. "Papa juga, Ma. Liat Mama kayak gini, rasanya pengen terus."

Maya mengangkat pinggulnya saat Karyo menyingkap gaun tidurnya. Udara dingin menyentuh kulitnya yang sudah berkeringat karena anticipasi. "Mmhh... Papa, pegang terus..."

Jari-jari kasar Karyo menelusuri perut hamil Maya dengan lembut, turun ke paha dalamnya yang sudah lembap. "Udah basah lagi, Ma? Padahal baru aja tadi..."

"Ahh... iya, Pa. Gara-gara Papa sih," Maya mendesah saat dua jari Karyo menyusup masuk, bergerak pelan membelai dinding dalamnya.

"Slurp... slurp..." Karyo menunduk, lidahnya menjilat puting Maya yang mengeras. "Payudara Mama makin enak aja rasanya."

Maya menggelinjang, tangannya mencengkeram kepala Karyo, menekannya ke dadanya. "Aaahhh! Papa, jangan berhenti... gitu terus..."

Karyo mengisap kuat sembari jarinya bergerak lebih cepat di dalam Maya. Suara becek mulai terdengar, memenuhi kamar yang sepi. "Denger nggak, Ma? Suaranya becek banget. Mama udah siap banget nih."

"Uhh... uhh... Papa masuk aja... aku pengen banget," Maya merengek, pinggulnya bergerak naik-turun mengikuti irama jari Karyo.

Karyo menarik jarinya keluar, membuat Maya mengerang kecewa. Dia memposisikan diri di antara kaki Maya, ujung kejantanannya yang keras menyentuh lipatan basah Maya. "Minta yang bagus, Ma."

Maya menatap mata Karyo dengan nafsu yang jelas. "Papa... masuk dong... entot aku... aku pengen Papa dalam-dalam..."

"Mmh, bagus," Karyo menekan masuk perlahan, membuat Maya menjerit kecil karena ukurannya.

"Aaaahhh! Gede banget, Pa..."

Karyo mulai bergerak lambat, menikmati kehangatan dan kekencangan tubuh Maya. "Enak nggak, Ma? Lebih enak dari tadi?"

"Enak banget... ahh... Papa, lebih cepet..."

Karyo mempercepat gerakannya, suara tepukan kulit terdengar berirama. "Plak... plak... plak..."

Maya mencengkeram bahu Karyo, kakinya melingkar di pinggang pria itu. "Aaahhh! Iya! Gitu! Enak banget, Pa!"

"Mama suka ya diperlakukan kayak gini?" Karyo bergerak lebih kasar, penetrasinya dalam dan kuat. "Lebih enak daripada sama suami Mama kan?"

"Iiiyaaaa! Jauh lebih enak! Cuma Papa yang bisa bikin aku kayak gini!" Maya berteriak tanpa malu.

Karyo membalik posisi Maya jadi menungging, memasukinya dari belakang. Tangannya meremas pantat Maya sambil bergerak brutal. "Plak!" Telapaknya menepuk bokong Maya.

"Aaahhhh! Papa nakal!" Maya menjerit, tapi pinggulnya malah mendorong ke belakang, meminta lebih.

"Angkat pinggulnya lebih tinggi, Ma. Biar Papa masuk lebih dalam."

Maya menurut, mengangkat pantatnya tinggi-tinggi. Karyo langsung menghantam lebih dalam, membuat Maya berteriak keras. "AAAHHH! DALEM BANGET!"

"Nah gitu, Ma. Papa suka liat Mama kayak gini. Nungging buat Papa..." Karyo bergerak cepat, tangannya meremas payudara Maya yang tergantung.

Maya merasakan orgasme pertama datang. "Pa... Papa... aku mau... ahhhh!"

Tubuhnya mengejang hebat, cairan mengalir deras membasahi paha dan sprei. Tapi Karyo tidak berhenti, malah bergerak lebih cepat.

"Belum boleh capek, Ma. Papa belum puas."

Karyo menarik Maya ke posisi duduk di pangkuannya, mengangkatnya naik-turun dengan kekuatan lengannya. Maya hanya bisa pasrah, tubuhnya seperti boneka yang dimainkan.

"Aaahhh! Aaahhh! Papa! Terlalu... ahhh!" Maya menjerit-jerit, orgasme kedua menyerang.

"Mama udah keluar berapa kali?" Karyo bertanya sambil terus menggerakkan Maya.

"Dua... dua kali, Pa... ahhhh!"

"Papa mau Mama keluar lima kali. Baru Papa ikutan."

Posisi berganti lagi. Maya telentang, kakinya di bahu Karyo. Penetrasi jadi lebih dalam, membuat Maya hampir tidak sadar.

"PAPA! TERLALU DALEM! AAAHHH!"

"Ini yang namanya beneran dientot, Ma. Bukan kayak mainan sama suami Mama."

Orgasme ketiga datang lebih cepat. Maya menjerit sampai suaranya serak, tubuhnya berkedut tak terkendali.

"Tiga..." Karyo menghitung sambil terus bergerak. "Dua lagi, Ma."

Maya sudah tidak bisa bicara, hanya mengerang dan mendesah. Karyo membaliknya lagi ke posisi doggy, kali ini tangannya mencengkeram rambut Maya, menariknya ke belakang.

"Liat kaca, Ma. Liat betapa nikmatnya Mama dientot Papa."

Maya melirik cermin di samping tempat tidur, melihat refleksi mereka yang bercinta dengan liar. Pemandangan itu memicu orgasme keempat.

"EMPAAAAT!" Maya berteriak sendiri, tubuhnya ambruk ke kasur.

Karyo menarik Maya ke tepi kasur, berdiri sambil tetap memasukkan penisnya. Posisi ini membuat dia bisa bergerak lebih bebas dan kuat.

"Yang terakhir, Ma. Papa mau Mama teriak sekeras-kerasnya."

Hantaman Karyo brutal dan tidak berampun. Maya hanya bisa mencengkeram sprei, mulutnya terbuka tanpa suara karena terlalu nikmat.

"KELUAR, MA! KELUAR YANG KERAS!"

Orgasme kelima Maya adalah yang terhebat. Seluruh tubuhnya kejang hebat, cairan menyembur deras, bahkan memercik ke perut Karyo.

"PAPAAAAAA! AAAHHHHH!"

Melihat Maya orgasme hebat, Karyo akhirnya merasakan klimaksnya datang. Dia menarik penisnya keluar dan mengarahkan ke payudara Maya.

"Papa mau di dada Mama," gumamnya dengan napas tersengal.

"Iya Pa... keluarin di sini..." Maya memegang payudaranya sendiri, mengarahkannya ke penis Karyo yang berkedut.

"Ahhhh... Ma... Papa keluar..."

Sperma Karyo menyembur deras, mengenai kedua payudara Maya, leher, bahkan sampai ke dagu. Cairan putih kental mengalir di kulit Maya yang berkeringat.

"Banyak banget, Pa..." Maya memandangi dadanya yang penuh sperma.

Karyo duduk di tepi kasur, napasnya masih tersengal. Tangannya bergerak ke payudara Maya, mengusap spermanya sendiri hingga merata di seluruh permukaan kulit.

"Papa pengen nandain Mama," bisiknya sambil terus mengoleskan cairan itu ke puting, areola, bahkan ke perut Maya. "Biar Mama inget, ini tubuh Papa."

Maya mendesah pelan saat Karyo mengoleskan sperma ke seluruh dadanya. Sensasinya licin dan hangat di kulitnya.

"Jangan dibersihin dulu, Ma," pinta Karyo. "Papa pengen Mama tidur dengan tanda Papa di tubuh Mama."

Maya menatap Karyo dengan mata berkabut pasca orgasme. "Papa... ini... ini beda banget dari biasanya."

"Papa sayang Mama. Papa pengen Mama tau, Papa beneran sayang."

Karyo berbaring di samping Maya, memeluknya dari belakang. Tangannya masih bermain-main dengan payudara Maya yang lengket.

"Besok Papa bersihin semuanya sebelum suami Mama pulang. Sprei, baju, semuanya. Papa janji."

Pak Karyo menatap Maya yang berbaring di sampingnya, lalu memutuskan sesuatu. "Ma, malam ini Papa tidur di sini. Di kamar utama. Ini malam terakhir kita bisa kayak gini. Besok Irwan udah pulang."

Maya menatapnya dengan mata berkabut kelelahan, mengangguk pelan. "Iya, Pa..."

"Papa udah lama pengen rasain tidur di kamar besar kayak gini sama Mama." Pak Karyo bergeser lebih nyaman di kasur, mengklaim tempatnya dengan percaya diri.

Mereka berpelukan erat, Maya tidak peduli dengan sperma yang masih menempel di dadanya. Untuk pertama kali sejak malam di hotel dulu, mereka akan tidur bersama satu malam penuh.

"Papa..." bisik Maya sebelum tertidur. "Terima kasih udah bikin hari ini jadi... sempurna."

Karyo mencium puncak kepala Maya. "Papa yang berterima kasih, Ma. Hari ini hari terbaik dalam hidup Papa."

Lampu kamar diredupkan, dan suasana kamar menjadi hening dalam keintiman terakhir. Maya menaruh kepala di dada Pak Karyo, tangan lelaki itu melingkar di perut hamil Maya, mengusap pelan.

"Besok pagi Papa bangunin Mama kayak tadi," bisik Karyo, suaranya yakin. "Malam ini milik kita. Besok... Papa yang atur."

Maya menutup mata, menikmati dekapan pria itu, merasa aman walau tahu besok segalanya akan berubah. Perlahan, mereka sama-sama terlelap, menyatu dalam kehangatan keluarga yang hening sementara—penuh keinginan untuk tak pernah berakhir.


Dini hari, Karyo terbangun lebih dulu. Matahari bahkan belum muncul di balik jendela. Dia menatap Maya yang tidur lelap—wajah damai, dada naik-turun mantap.

Ayu tenan yen turu (Cantik sekali kalau tidur), pikir Karyo dalam hati, hasratnya sudah membara sejak membuka mata.

Perlahan, Karyo menyingkap selimut yang menutupi tubuh Maya. Gaun tidur tipisnya tersingkap hingga paha, memperlihatkan celana dalam yang masih dipakainya. Pengen ngrasakne maneh... ora sabar (Ingin merasakan lagi... tidak sabar), gumamnya dalam hati sambil melepas celananya sendiri.

Dengan gerakan lembut namun penuh tekad, Karyo menarik turun celana dalam Maya tanpa membangunkannya. Maya menggeliat sedikit dalam tidurnya, tapi tidak terbangun. Karyo memposisikan dirinya di antara kaki Maya yang terkulai lemas.

Wis teles... senajan durung tangi (Sudah basah... meski belum bangun), pikirnya saat merasakan kelembapan di lipatan Maya. Tanpa ragu, Karyo mengarahkan kejantanannya yang sudah keras maksimal ke lubang Maya.

Dengan sangat perlahan, Karyo mendorong masuk, merasakan tubuh Maya yang masih tertidur secara naluriah menerima kehadirannya. Sensasi hangat dan ketat membuat Karyo menggeram pelan.

"Ssshh... enak tenan..." (Ssshh... enak sekali...), bisiknya, mendorong hingga sepenuhnya masuk.

Karyo mulai bergerak dengan ritme pelan namun mantap, menikmati sensasi tubuh Maya yang hangat melingkupinya. Setiap dorongan membuatnya masuk sedikit lebih dalam. Suara decitan ranjang dan tepukan kulit mulai memenuhi kamar.

Plap... plap... plap...

Maya mulai menggeliat dalam tidurnya. Mulutnya mengeluarkan desahan kecil tanpa sadar. "Mmhh..."

Karyo tersenyum, tahu tubuh Maya merespons meski pikirannya masih di alam mimpi. Dia memperdalam penetrasinya, masuk hampir sepenuhnya sekarang, sambil tangannya mulai meremas payudara Maya dari luar gaun tidur.

"Iya, rasakan..." bisiknya, memilin puting Maya yang mengeras.

"Aaahh..." Maya mendesah lebih kuat, kepalanya bergerak ke samping, matanya masih terpejam tapi dahinya mengernyit merasakan kenikmatan.

Karyo mempercepat gerakannya, tubuhnya berkeringat, napasnya semakin berat. Dia merunduk untuk menciumi leher Maya sambil terus menghentakkan pinggulnya.

"Slap... slap... slap..." Suara basah terdengar setiap kali Karyo masuk sepenuhnya, menandakan tubuh Maya sudah sangat terangsang meski dalam keadaan tidur.

"Bu Maya... enak tenan..." (Bu Maya... enak sekali...), Karyo menggeram, mengubah posisi sedikit untuk penetrasi lebih dalam.

Mata Maya akhirnya terbuka perlahan, kesadarannya kembali bertahap. Pertama dia merasakan berat tubuh di atasnya, lalu sensasi diisi penuh di bawah sana, dan akhirnya—pemandangan Pak Karyo yang sedang mengentot tubuhnya.

"Ahh! Pak... Pak Karyo?!" Maya terkesiap, tubuhnya bergetar karena goncangan yang dia terima. "Kamu... aahhh! Kamu ngapain?!"

Bukannya berhenti, Karyo malah tersenyum dan mempercepat gerakannya. "Pak Karyo? Bukannya kemarin kita sepakat panggil Papa dan Mama?" koreksinya lembut. "Pagi, Ma... Papa kangen. Tidurnya nyenyak?"

"Aaahhhnn! Astaga... Papa... mmhhh!" Maya mengerang, tubuhnya bereaksi sendiri dengan mengangkat pinggul meski pikirannya masih mencoba mencerna situasi. "Papa masuk duluan... aaahh! Tanpa izin?!"

"Iya, Ma... soalnya Papa udah nggak tahan," jawab Karyo, tangannya kini menyingkap gaun tidur Maya sampai ke leher, mempertontonkan kedua payudara yang bergoyang setiap hentakan. "Mama suka kan? Tubuh Mama bilang suka."

Maya tidak bisa berbohong—tubuhnya memang sangat menikmati. Dinding vaginanya berkedut kuat mencengkeram penis Karyo, cairan hasratnya mengalir deras membasahi seprai.

"Mmm... iya... enak... tapi... aahhh!" Maya mencengkeram bahu Karyo, kakinya kini melingkar di pinggang pria itu. "Lebih cepet, Pa!"

Karyo memacu gerakannya, tubuhnya menghantam Maya tanpa ampun. "Slap! Slap! Slap! Slap!"

"AAAHHH! PAPA! GITU! GITU TERUS!" Maya berteriak, matanya terpejam erat, kepalanya terlempar ke belakang.

"Mama suka dibangunin gini? Dibangunin langsung dientot Papa?" tanya Karyo di sela napasnya yang memburu.

"IYA! SUKA BANGET! AAAHHHH!" Maya menjawab tanpa malu, tubuhnya sudah sepenuhnya terjaga dan sangat responsif.

Karyo menyeringai, menarik keluar penisnya dan membalik tubuh Maya dengan kasar. "Nungging, Ma. Papa mau gaya baru."

Maya langsung menurut, memposisikan diri menungging dengan pantat terangkat tinggi. Karyo menampar pantatnya kuat, meninggalkan bekas merah.

"PLAK!"

"AAH!" Maya memekik. "Papa nakal!"

"Iya, Papa nakal. Mama suka kan?" Karyo mengarahkan penisnya kembali ke lubang Maya yang terbuka dan basah.

"Mmhh... sukaaaa..." Maya mendesah panjang saat Karyo mendorong masuk sepenuhnya dari belakang. "AAAHHHH! DALEM BANGET, PA!"

Karyo memegang pinggang Maya kuat-kuat, menariknya ke belakang setiap kali dia mendorong maju. Suara tepukan kulit semakin keras, tempo semakin cepat.

"PLAK! PLAK! PLAK! PLAK!"

"Enak nggak, Ma? Enak dibangunin gini?" Karyo bertanya sambil terus menghujam.

"ENAK BANGET! AAAH! AAAAHH! PAPA! PAPA!" Maya berteriak, jari-jarinya mencengkeram seprai hingga buku-buku jarinya memutih.

Karyo meraih rambut Maya, menariknya ke belakang sambil terus mengentot. "Mama mau keluar? Keluar buat Papa?"

"IYA! MAU KELUAR! AAAHHHH!" Maya merasakan gelombang orgasme pertamanya mendekat.

"KELUARR, MA!" Karyo mempercepat temponya ke level brutal, membuat ranjang berderit keras.

"PAPAAAAA! AAAAHHHHHH!" Maya klimaks dengan keras, tubuhnya mengejang hebat, cairan menyembur membasahi paha dan seprai.

Tanpa memberi kesempatan Maya pulih, Karyo membalik tubuhnya telentang, mengangkat kedua kaki Maya ke bahunya dan kembali menerobos masuk.

"Belum selesai, Ma. Papa belum puas," ujarnya, matanya liar dengan nafsu.

"Ahhhnn... Papa... terlalu sensitif..." Maya merintih, tubuhnya masih berkedut pasca orgasme.

"Tahan, Ma. Mama kuat kok," Karyo kembali bergerak, kali ini lebih dalam dan lebih kuat. Dia memposisikan diri untuk menekan G-spot Maya.

"AAAAHH! DISITU! DISITU, PA!" Maya kembali menjerit, orgasme kedua sudah menunggu.

"Iya, disitu ya? Enak?" Karyo menghantam titik itu berulang-ulang.

"ENAK! ENAK BANGET! AKU MAU KELUAR LAGI! AAAAHHH!" Maya mencapai puncak kedua, lebih kuat dari yang pertama.

Karyo terus bergerak, tanpa ampun, membawa Maya ke orgasme ketiga dan keempat tanpa jeda. Tubuh Maya gemetar hebat, matanya berkunang-kunang, mulutnya terbuka tanpa suara karena terlalu nikmat.

"Papa... juga... mau keluar..." Karyo akhirnya merasakan klimaksnya mendekat setelah membawa Maya ke orgasme keempat.

"Di dalam, Pa... di dalam aja..." Maya memohon, tangannya melingkar di leher Karyo, menariknya mendekat.

"Aaahhhh... Mama... Papa keluar..." Karyo mengerang panjang, pinggulnya menekan dalam-dalam saat spermanya menyembur di dalam Maya.

"Mmmhhh... banyak banget, Pa... anget..." Maya bergumam, merasakan kehangatan memenuhi rahimnya.

Mereka tetap menyatu beberapa saat, napas keduanya terengah. Karyo mencium kening Maya dengan lembut.

"Pagi, Mama," bisiknya. "Tidurnya nyenyak?"

Maya tertawa kecil, masih terengah. "Bangunnya yang nggak nyenyak, gara-gara Papa."

"Papa kangen," jawab Karyo polos. "Kemarin cuma pake jari. Hari ini Papa pengen lebih."

Maya membelai pipi Karyo. "Besok Papa mau bangunin Mama pake apa lagi?"

Karyo terdiam sejenak, ekspresinya berubah. "Besok... Pak Irwan udah pulang, Ma."

Suasana langsung berubah. Maya menatap Karyo, kenyataan menghantam mereka berdua—bahwa fantasi ini ada batasnya.

"Benar juga," Maya bergumam, tangannya masih membelai pipi Karyo. "Hari ini hari terakhir kita bebas begini."

"Makanya..." Karyo mendekatkan wajahnya, berbisik di telinga Maya. "Papa mau nikmatin Mama selagi masih bisa."

Belum sempat Maya merespons, Karyo sudah memutar tubuhnya ke posisi 69, wajahnya langsung berhadapan dengan vagina Maya yang masih basah oleh campuran cairan mereka.

"Eh, Papa—aahhhh!" Maya tersentak saat lidah Karyo langsung menjilat klitorisnya tanpa peringatan.

"Mmm... manis banget," gumam Karyo di sela jilatan. "Mama juga, dong."

Maya memahami maksudnya, melihat penis Karyo yang sudah setengah keras lagi tepat di depan wajahnya. Tanpa ragu, Maya meraihnya, menjilat pelan dari pangkal hingga ujung.

"Aaahhh... gitu, Ma," Karyo mendesah, lalu kembali membenamkan wajahnya.

"Mmmhhh!" Maya melenguh dengan mulut penuh, merasakan Karyo semakin keras di lidahnya.

Lidah Karyo bergerak ahli, membersihkan sisa-sisa cairan mereka sebelumnya, lalu fokus pada klitoris Maya yang membengkak. Maya membalasnya dengan mengulum penis Karyo semakin dalam, menciptakan suara basah yang memenuhi kamar.

"Slurp... slurp... mmmmhhh..."

Karyo menyelipkan dua jari ke dalam Maya, mencari titik G-nya dengan tepat, membuat pinggul Maya bergerak liar.

"Mmmffhhh! Mmmpphh!" Maya mengerang dengan penis Karyo masih di mulutnya, tubuhnya menggelinjang hebat saat Karyo menghisap klitorisnya sambil menekan titik G.

Merasakan Maya hampir orgasme, Karyo menarik diri dan berpindah posisi. "Belum, Ma. Jangan keluar dulu."

"Ahhhh... Papa... aku udah dekat..." Maya merengek, matanya berkabut nafsu.

"Papa mau pakai posisi baru," Karyo menyeringai, menarik Maya hingga duduk di tepi kasur. "Papa mau Mama liat jam sambil kita begini."

Maya menoleh ke jam dinding. "Kenapa emangnya—aahhh!"

Tanpa peringatan, Karyo berlutut di depan Maya, mengangkat kedua kakinya ke bahu, dan memasukkan penisnya dalam satu dorongan kuat.

"AAAHHH! PAPA!" Maya berteriak, mencengkeram sprei.

"Liat jam terus, Ma," perintah Karyo, mulai bergerak cepat dan kuat. "Liat gimana waktu berlalu cepet banget pas Papa entot Mama."

"Aaahh! Ahh! Ahh!" Maya mendesah setiap hentakan, matanya mencoba fokus ke jam tapi gagal karena kenikmatan. "Terlalu... terlalu enak, Pa!"

"Besok..." slap "Pak Irwan..." slap "pulang..." slap "Papa..." slap "nggak bisa..." slap "begini..." slap "lagi..." Karyo berbicara di antara hentakan keras.

"Aaahhh! Aaahhh! Jangan... jangan ingetin... itu..." Maya merintih, kenikmatan bercampur kesedihan.

Karyo mengangkat tubuh Maya, membawanya ke dinding di sebelah jam. Dia menghimpit Maya ke dinding, masih penetrasi dari bawah, sementara Maya mengalungkan kakinya di pinggang Karyo.

{Karyo menekan tubuh Maya ke dinding, kedua kaki Maya melingkar di pinggangnya. Tubuh mereka bergerak dalam ritme cepat dan penuh hasrat.

Di tengah gairah yang memuncak, mata Maya tidak sengaja menangkap jam dinding. "Papa... ahh! Udah jam tujuh! Aku harus siap-siap kerja!"

Karyo tidak menghentikan gerakannya, justru memperdalam penetrasinya. "Masih ada waktu, Ma... sebentar lagi." Jari-jarinya meremas payudara Maya, mulutnya menciumi lehernya.

"Tapi aku ada meeting... ahh! Penting banget..." Maya mencoba protes, tapi tubuhnya terus bergerak mengikuti irama Karyo.

"Sebentar lagi, Ma..." Karyo berbisik, mempercepat gerakannya. Maya merasakan gelombang kenikmatan semakin dekat.

"Ahh! Papa! Aku mau keluar!" Maya mengerang, mencengkeram bahu Karyo kuat-kuat.

Tepat saat Maya hampir mencapai puncak, Karyo tiba-tiba berhenti bergerak, menahannya di ambang kenikmatan.

"Papa!" Maya mengerang frustasi. "Kenapa berhenti?"

"Papa cuma mau nikmatin Mama lebih lama," Karyo tersenyum, masih menahannya.

"Tapi aku beneran harus cepet!" Maya menggeliat, berusaha mencari pelepasan. "Aku bisa telat!"

Karyo mulai bergerak lagi, sangat lambat. "Kalau Mama mau berhenti, ya berhenti aja." Tapi tangannya semakin erat memegang pinggang Maya, jari-jarinya bermain di klitorisnya, membuat Maya mengerang lagi.

"Jangan gini, Pa," Maya memohon, napasnya tersengal. "Biarin aku keluar dulu... please..."

Karyo menggerakkan pinggulnya lebih cepat, membawa Maya kembali ke ambang klimaks. "Mama ambil cuti aja hari ini. Kita bisa lanjut seharian."

"Nggak bisa, Pa," Maya menggeleng tegas meski tubuhnya bergetar. "Aku ada presentasi penting."

Karyo berhenti lagi, menahannya tepat sebelum mencapai puncak. Maya hampir menangis karena frustasi.

"Papa! Jangan gini terus!"

"Ambil cuti, Ma," Karyo berbisik di telinganya, masih menahannya. "Kita bisa kayak gini seharian."

"Nggak bisa!" Maya berusaha mendorong tubuh Karyo, mencoba melepaskan diri. "Aku harus kerja. Lepasin aku, Pa!"

Melihat usaha Maya untuk benar-benar melepaskan diri, Karyo akhirnya sadar bahwa taktiknya tidak berhasil. Maya bukan boneka yang bisa dia kendalikan sepenuhnya. Dengan cepat, otaknya beralih ke rencana kedua.

"Oke, oke," Karyo berkata, mulai bergerak lagi. "Papa ngerti Mama harus kerja."

Maya mendesah lega, kembali menikmati gerakan Karyo. "Makasih, Pa... cepetan ya..."

Karyo mempercepat ritmenya, tapi tepat sebelum Maya mencapai puncak, dia berbisik, "Tapi Papa mau tanya. Nanti Irwan pulang... kita masih bisa kayak gini nggak? Rahasiaan aja?"

"Apa?" Maya terengah, hampir tidak bisa fokus.

"Kita lanjut, Ma. Meski Irwan udah pulang," Karyo menekan lebih dalam. "Papa bisa jaga rahasia. Irwan nggak perlu tahu."

"Aku... aku nggak bisa mikir sekarang," Maya menggeleng, kewalahan dengan sensasi di tubuhnya.

"Papa nggak akan biarin Mama keluar sampai jawab," Karyo berbisik, kembali memperlambat gerakannya.

"Papa!" Maya mengerang frustrasi. "Itu nggak adil!"

"Hidup memang nggak adil, Ma," Karyo tersenyum, masih mengontrol tubuh Maya. "Mama mau lanjut nggak besok?"

"Aku nggak tahu!" Maya setengah berteriak. "Aku butuh waktu mikir! Ini terlalu berisiko!"

Karyo menatap Maya dalam-dalam, menyadari bahwa memaksa terlalu jauh hanya akan membuat Maya menjauh. "Oke," dia akhirnya berkata. "Papa tunggu jawaban Mama."

Dengan itu, Karyo akhirnya membebaskan Maya, bergerak cepat dan kuat, membawanya ke puncak kenikmatan yang membuat seluruh tubuhnya mengejang. Maya menjerit, mencengkeram Karyo erat-erat saat gelombang orgasme menghantamnya. Karyo pun mencapai klimaksnya, mengeluarkan semuanya di dalam Maya.

Mereka tetap menyatu beberapa saat, napas keduanya terengah. Maya lemas di pelukan Karyo, tubuhnya masih bergetar.

"Aku harus siap-siap sekarang," Maya berbisik, melirik jam yang menunjukkan hampir setengah delapan.

Karyo mengangguk, perlahan menurunkan Maya. Ada kekecewaan di matanya, tapi juga kesadaran baru bahwa Maya tidak sepenuhnya dalam kendalinya.

Maya bergegas membersihkan diri dan berpakaian, sementara Karyo hanya duduk di tepi ranjang, mengawasinya dengan tatapan yang kompleks—hasrat, kekecewaan, dan perhitungan.

Sebelum berangkat, Maya berhenti di ambang pintu. "Dadah, Pa. Jaga rumah ya."

Karyo hanya mengangguk, tetap di tempatnya. Durung menang tenan. Isih butuh strategi liya. (Belum benar-benar menang. Masih butuh strategi lain.)

Pintu menutup pelan, meninggalkan ruang tidur penuh aroma tubuh, kenangan—dan ketidakpastian.

Di pagi itu, dunia mereka kembali ke jalur semula. Tapi Maya dan Pak Karyo tahu, garis batas sudah bergeser—dan tak ada yang benar-benar bisa kembali seperti semua sebelum hari Rabu itu.


Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com