๐ˆ๐ฌ๐ญ๐ซ๐ข๐ค๐ฎ ๐ƒ๐ข๐ก๐š๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข ๐๐ž๐ฆ๐›๐š๐ง๐ญ๐ฎ ๐๐š๐› ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ—

Setelah tidur siang dalam pelukan Pak Karyo, Maya terbangun lebih dulu—feeling aneh bercampur tenang, tubuhnya terasa hangat dan nyaman. Udara sore yang masuk dari jendela kamar membawa aroma tanah basah, menambah sensasi damai di ruang yang seharusnya penuh kenangan formal bersama Irwan, tapi hari ini, rasanya betul-betul berubah jadi milik mereka berdua.

Maya menoleh, memperhatikan wajah Pak Karyo yang masih terlelap. Garis-garis usia di sekitar matanya justru membuat pria itu terlihat semakin tenang—bukan seperti pembantu, tapi benar-benar seperti kepala keluarga, seperti suami di rumah sendiri.

Matanya mengembara ke sudut ruangan. Kamera tersembunyi itu. Apakah Irwan masih mengawasi mereka? Atau karena mereka cuma tidur siang, suaminya malah tidak memperhatikan? Maya membayangkan Irwan di hotel—mungkin dia malah bosan melihat layar yang menampilkan dua orang tertidur.

Atau jangan-jangan dia tetap menonton, mengamati setiap gerakan kecil mereka bahkan saat tidur?

Pikiran Maya melayang ke semua yang sudah terjadi hari ini. Pagi tadi... Pak Karyo membangunkannya dengan cara yang membuat tubuhnya langsung meleleh. Lima kali orgasme sebelum sarapan. Kemudian di ruang tamu, jari-jari pria ini memainkan tubuhnya sampai Maya berteriak keenakan. Di dapur—astaga, mereka bercinta di atas kitchen counter seperti pasangan yang sudah lama menikah.

Mana yang beneran? Mana yang cuma akting?

Maya menatap wajah tidur Pak Karyo. Pengakuan pria ini tentang istrinya di desa, tentang perasaannya pada Maya—itu terdengar terlalu tulus untuk jadi sandiwara. Dan pengakuannya sendiri tadi, soal takut kehilangan "keluarga baru" ini... Maya tahu itu keluar dari hati, bukan dari pikiran.

Panggilan "Papa" dan "Mama" yang mengalir begitu natural di antara mereka. Cara Pak Karyo memeluknya setelah bercinta, tidak langsung pergi tapi malah mengelus perutnya dengan lembut. Cara dia memandang Maya—bukan seperti majikan, tapi seperti... istri.

Sial. Maya menelan ludah. Ini mulai terasa nyata.

Tiba-tiba, Karyo berguling dan secara naluriah menarik Maya lebih dekat. Tangan kasarnya otomatis menyelimuti perut Maya, memeluk dari belakang. Napas berat Pak Karyo terdengar di pundaknya, membuat Maya teringat lagi betapa tubuhnya selalu merasa cocok dipeluk begitu.

Sial, nyaman banget. Kok, aku nggak tegang sama sekali? Maya menghela napas pelan, lalu perlahan membalik tubuh menghadap pria itu.

Mata Karyo perlahan membuka. Begitu menyadari Maya sudah terjaga, bibir pria itu membentuk senyum ngantuk yang tulus, tanpa rasa malu atau pura-pura.

“Udah bangun, Ma?” gumamnya.

Maya mengangguk dengan senyum tipis. “Udah... Papa capek banget ya tadi?”

"Hehe..." Karyo terkekeh pelan, masih dengan mata setengah terpejam. "Capek sih, Ma... tapi rasanya seneng banget bisa tiduran gini bareng Mama."

Maya tersenyum, tangannya lembut menyentuh pipi Karyo. "Papa istirahat aja dulu..."

"Nggak apa-apa, Ma," gumam Karyo, suaranya dalam dan sedikit serak. Matanya perlahan terbuka lebih lebar, menatap Maya dengan hangat. "Lelahnya hilang kalau lihat Mama senyum begitu."

Tangan Karyo bergerak perlahan dari pinggang Maya, mengusap lembut ke pinggul. Maya merasakan sentuhan itu semakin berani, membuat napasnya sedikit tertahan.

"Mmh..." Maya mendesah pelan, tak sengaja, saat tangan kasar Karyo meremas pantatnya dari balik selimut.

"Mama suka ya?" bisiknya, semakin berani. "Perut laper, Ma... tapi kalau lihat Mama gini, rasanya lebih laper lagi sama tubuhnya Mama."

Maya menggeliat, tubuhnya merespons dengan sendirinya. Bibirnya terbuka sedikit, mengeluarkan desahan tertahan. Dengan mata yang mulai berkabut nafsu, dia mencubit perut Karyo main-main. "Papa..." bisiknya dengan suara bergetar, "baru bangun udah nakal."

Karyo tidak membalas dengan kata-kata. Tangan kirinya naik ke dada Maya, mengelus pelan dari luar selimut, lalu menyingkap kain agar kulit mereka bersentuhan.

Jari-jarinya bergerak langsung menuju payudara Maya, meremas dengan gerakan memutar yang membuat Maya tersentak.

"Aaahh..." Maya memekik, tubuhnya mengejang dengan nikmat. Puting susunya langsung mengeras saat jari-jari kasar Karyo menyentuhnya.

"Sssst," Karyo mendesis sambil terus memainkan kedua payudara Maya. "Payudaranya Mama makin mantap ya sekarang..."

Tangannya menangkup penuh, menekan lembut dari bawah lalu meremas dengan gerakan memutar. Maya menggeliat, pinggulnya bergerak naik turun mencari friksi.

"Mmhhh... iya, Papa... pegang terus..." desah Maya, tangannya mencengkeram lengan Karyo. "Geli tapi enak..."

Karyo memindahkan posisi tubuhnya, setengah menindih Maya agar bisa mengamati payudaranya lebih jelas. Dengan dua tangan, dia memainkan kedua gundukan itu, mengangkatnya, menekannya bersama, lalu memisahkannya.

"Buset... tambah besar ya gara-gara hamil?" Karyo bergumam sambil menunduk, lidahnya menjilat pelan ujung puting Maya. "Pas banget di tangan Papa."

"Uhh... iya, nambah satu cup," Maya terengah, tubuhnya menggelinjang saat Karyo memilin putingnya dengan ibu jari dan telunjuk. "Ahh! Pelan-pelan, sensitif..."

"Hmm," Karyo mengangguk, lalu mengulum satu puting dalam mulutnya, lidahnya berputar-putar di sekitar areola yang menegang. "Mmm... slurp... enak banget, Ma."

"Ssshhh... ahh!" Maya menjerit tertahan, tangannya mencengkeram kepala Karyo, menekannya lebih dalam ke dadanya. "Jangan berhenti... gitu..."

Karyo mengisap kuat, membuat suara decakan basah yang memenuhi kamar. "Slurp... mmm..." Lalu dia berpindah ke payudara satunya, memberikan perlakuan sama.

"Udah beda banget sama punya istriku di desa," gumam Karyo di sela isapannya. Dia mengangkat kepalanya, memandangi dua payudara Maya yang basah oleh liurnya. "Punya dia gede, tapi nggak semulus ini. Putingnya Mama pink gini... bikin ngiler."

"Ahhnn... terus cerita, Pa..." Maya mendesah, tangannya meremas sendiri payudaranya yang satunya. "Buat aku tambah basah..."

Karyo menyeringai, tangannya meremas-remas kasar sambil menggoyangkan payudara Maya ke kanan-kiri. "Lihat nih, goyang-goyangnya enak banget. Punya Mama pas, kenyal, empuk..."

Maya merintih, tangannya mencengkeram tangan Karyo, mendorongnya lebih kuat. "Ahh... remas yang keras, Pa...."

Karyo menekan kedua payudara itu kuat-kuat, memilin putingnya hingga Maya menggelinjang hebat. "Gini? Enak, Ma?"

"Aaahh! Iya! Gitu!" Maya berteriak kecil, matanya terpejam, kepalanya terlempar ke belakang. "Ooohh... enak banget..."

Maya mulai menggesek-gesekkan payudaranya ke seluruh wajah Karyo, membuat pria itu mengerang tertahan. Putingnya yang keras menyapu hidung, pipi, dahi, dan mulut Karyo bergantian.

"Aaahhh... enaak, Papa?" Maya mendesah, menikmati sensasi kasar dari janggut tipis Karyo yang menggesek putingnya.

"Mmmhhh..." Karyo hanya bisa mengerang, mulutnya sibuk menangkap puting yang bergerak di wajahnya. Tangannya meremas-remas pantat Maya dari belakang, menekannya agar payudaranya makin menempel di wajahnya.

Dia memandangi tubuh Maya, mengagumi perubahan bentuk tubuh yang makin empuk dan berisi.

"Nggak ada abis-abisnya pengen pegang Mama terus..." lirihnya. "Tubuhnya Mama makin enak dipegang."

Maya tidak menepis. Alih-alih, tubuhnya merespons cepat, terasa geli dan menghangat. Dalam keheningan sore itu, napas mereka mulai selaras, saling mencari denyut satu sama lain.

Pak Karyo mencium perlahan bahu Maya, bergerak ke leher, lalu menggulingkan tubuh Maya hingga setengah berada di bawahnya. “Boleh, ya?”

Maya cuma mengangguk, matanya terpejam menerima. Tanpa banyak basa-basi, Karyo langsung menelusuri tubuh Maya dengan ciuman dan sentuhan yang jauh lebih berani dari biasanya—seperti pasangan yang sudah lama menikah dan tahu persis cara memicu hasrat pasangannya. Tubuh Maya melentur tanpa keraguan, menyerahkan tubuhnya untuk digerayangi.

Jari-jari Karyo menari di paha Maya, mengangkat satu kaki ke pinggangnya. Dalam sekejap, Karyo menelanjangi mereka berdua, lalu tanpa banyak ritual sudah masuk di antara kaki Maya. Kali ini tidak ada permisi, tidak ada basa-basi. Gerakannya penuh kepemilikan, spontan, kasar tapi penuh kehangatan.

“Papa, pelan... agak sakit,” seru Maya setengah geli setengah manja.

Karyo memperlambat sedikit, tapi tetap intens. “Maaf, Ma... Papamu kangen berat. Udah sore, waktu kita nggak lama lagi...”

Kedua tubuh itu bergerak penuh ritme alami, tidak tergesa-gesa namun tak juga menahan diri. Maya melingkarkan tangan di leher Pak Karyo, menarik pria itu turun hingga dada mereka beradu, kulit melawan kulit. Ini... beda banget sama Irwan. Kalau sama Irwan, rasanya kayak upacara wajib, bukan kayak gini...

Tanpa diminta, Maya mulai mendorong pinggulnya, menyesuaikan irama dengan Karyo. Suara desahan dan napas berat memenuhi kamar sore itu, lebih liar dan lepas ketimbang pagi atau siang tadi.

Pak Karyo menatap Maya dalam-dalam. “Mama suka, kan, diperlakukan kayak begini?”

Maya tersenyum, setengah puas, setengah pasrah. “Suka... Papa bebas mau apa aja hari ini.”

Mendengar itu, Karyo makin berani—menarik Maya ke tepi kasur, membalik tubuh Maya jadi posisi menungging di pinggir ranjang, lalu masuk lagi dengan kekuatan penuh. Maya berteriak kecil, tapi bukan menolak—melainkan menantikan sensasi baru.

Sambil bergerak, Karyo menepuk bokong Maya pelan, meremas, lalu menempelkan tubuhnya penuh, mengecup punggung. “Angkat pinggulnya, Ma, biar Papa makin enak masuk...”

Maya menurut saja, bahkan sesekali melirik ke belakang untuk memastikan ekspresi Karyo. Mereka tidak lagi sekadar bermain peran, tapi sudah menyatu dalam dinamika baru, di mana seks dan keintiman sama-sama penting, sama-sama saling mengisi.

Akhirnya Maya mencapai puncak, tubuhnya gemetar hebat. Karyo menyusul tak lama kemudian, menjeritkan nama Maya ke dalam bantal sambil melepas semuanya di dalam tubuh Maya.

Beberapa menit setelah orgasme, Maya rebahan di samping Pak Karyo, napasnya masih tersengal. Karyo memeluk pinggang Maya, menciumi pundak dan lehernya dengan lembut.

“Kalo tiap hari bisa kayak gini, aku nggak bakal butuh apa-apa lagi...” Maya bergumam setengah sadar.

Karyo menyeringai, pikiran jahatnya membuncah di balik senyuman. Wis tak kuasai tubuhmu, saiki tak jaluk atimu... Bojoku kuwi mung kanggo formalitas wae. (Sudah kukuasai tubuhmu, sekarang kuminta hatimu... Suamimu itu cuma formalitas saja.)

"Ma, kamu bahagia nggak sama Papa?" gumam Karyo, masih dengan mata terpejam.

Maya tidak langsung menjawab. Dia menarik napas dalam, memejamkan mata. "Enak... Aku suka cara Papa... nyentuh."

"Suka yang mana?"

"Suka caranya Papa bikin aku ngerasa... spesial. Berkali-kali."

Karyo menarik Maya lebih dekat. "Papa bisa kasih lebih banyak lagi kalau Mama mau..."

Mereka terdiam, menikmati keintiman di sisa sore itu. Tak ada yang perlu dikatakan, semua sudah terwakilkan lewat tubuh dan pelukan.


Menjelang maghrib, Maya bangkit menuju kamar mandi, masih telanjang, hanya menyambar handuk di pintu. Karyo memperhatikan istrinya berjalan dengan ekspresi puas. Tak butuh waktu lama, Maya keluar sudah berganti pakaian: t-shirt longgar dan celana pendek, kembali ke suasana “istri rumahan”.

Menjelang maghrib, Maya bangkit menuju kamar mandi, masih telanjang, hanya menyambar handuk di pintu. Pak Karyo memperhatikan istrinya berjalan—ya, untuk hari ini dia memang istrinya—dengan ekspresi puas. Tak butuh waktu lama, Maya keluar sudah berganti pakaian: t-shirt longgar dan celana pendek, kembali ke suasana "istri rumahan".

Pak Karyo duduk di pinggir tempat tidur, memandangi Maya yang sibuk dengan handphone-nya. Apa sih sing dibaleni? (Apa sih yang diutak-atik?) pikirnya, penasaran. Sepanjang hari Maya hampir tidak menyentuh HP, tapi sekarang dia terlihat serius menatap layar.

"Kamu kirim pesan ke suamimu?" tanya Karyo, nada ingin tahu tapi tetap sopan. Pertanyaan itu sebenarnya cara halus untuk memuaskan rasa penasarannya. Arep ngomong apa karo bojone? (Mau bilang apa sama suaminya?)

Maya menggeleng. "Nggak. Cuma buka chat kantor, ngecek kerjaan."

Karyo mengangguk, lalu menepuk kasur di sampingnya. "Sini, Ma... duduk deket Papa." Ini juga trik—dengan Maya duduk dekat, dia bisa melihat lebih jelas apa yang Maya lakukan dengan HP-nya.

Maya menurut, duduk dengan posisi bersandar di dada Karyo. Untuk beberapa saat, mereka hanya berpelukan, Maya memejamkan mata menikmati kedekatan itu.

Tiba-tiba, HP Maya bergetar. Notifikasi WA masuk—dari Irwan.

Karyo merasakan tubuh Maya sedikit menegang. Bojone nelpon (Suaminya menelpon), pikirnya, jantungnya mulai berdegup cepat. Dia mengintip layar dari sudut mata, melihat nama "Sayang ❤️" yang membuatnya merasa tidak nyaman.

Sayang, kamu baik-baik aja di rumah? Jangan lupa minum vitamin ya, nanti aku pulang besok.

Maya menatap pesan itu dengan ekspresi bingung. Kenapa Irwan mengirim pesan seperti ini? Mereka sudah membicarakan arrangement ini sebelumnya. Irwan tahu persis apa yang terjadi hari in, dia pasti sudah menonton itu semuai. Irwan bahkan yang mendorong Maya untuk "bebas" dengan Pak Karyo. Lalu kenapa sekarang dia mengirim pesan seolah tidak tahu apa-apa?

Apakah ini... semacam kode? Atau dia ingin Maya membalas dengan cara tertentu? Atau mungkin... ini untuk Pak Karyo? Supaya Pak Karyo tidak curiga kalau Irwan sebenarnya sudah tahu segalanya?

Maya merasa bingung bagaimana harus merespons. Haruskah dia balas dengan nada normal seperti istri biasa? Atau ada maksud tertentu di balik pesan Irwan yang polos ini?

Pak Karyo melihat keragu-raguan Maya dan merasakan ketakutan mulai merayapi dadanya. Apa sing arep diceritakake karo bojone? (Apa yang mau diceritakan sama suaminya?) Ketakutan itu tumbuh semakin besar saat dia melihat Maya masih menatap layar tanpa mengetik balasan.

"Ada apa, Ma?" tanya Karyo, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.

"Pesan dari Irwan," jawab Maya pelan, masih dengan ekspresi bingung. "Dia tanya aku baik-baik aja nggak."

Wedi tenan aku iki (Takut banget aku ini), pikir Karyo. Dia tidak bisa membaca ekspresi Maya. Apakah dia akan menceritakan semuanya? Tentang bagaimana mereka bercinta lima kali hari ini? Tentang panggilan "Papa" dan "Mama"? Tentang bagaimana Maya berteriak nama Karyo di dapur tadi?

"Bales aja, Ma," kata Karyo, mencoba terdengar santai tapi suaranya sedikit bergetar. "Bilang aja kamu baik-baik."

Maya masih terdiam, menatap layar. Dalam kepalanya, dia masih mencoba memahami maksud Irwan. Kenapa dia bertanya seolah tidak tahu apa-apa? Apakah ini bagian dari permainan mereka? Atau dia ingin Maya merespons dengan cara tertentu untuk menjaga ilusi di depan Pak Karyo?

Karyo melihat keraguan itu dan jantungnya berdegup makin kencang. Apa Maya arep ngomong kabeh karo bojone? (Apa Maya mau bilang semua sama suaminya?) Tangannya yang memeluk pinggang Maya mulai berkeringat dingin.

"Ma..." bisik Karyo, suaranya hampir putus asa. "Kamu... kamu nggak bakal cerita kan? Tentang hari ini?"

Maya menoleh, melihat kekhawatiran jelas di mata Karyo. Baru dia sadar—Pak Karyo takut. Dia takut Maya akan mengadukan semuanya pada Irwan. Dia tidak tahu bahwa Irwan sudah mengatur semuanya, bahkan mendorong Maya untuk melakukan ini.

"Pa..." Maya menyentuh pipi Karyo lembut. "Kenapa Papa takut?"

Lha piye ora wedi, yen nganti ketahuan bojone, aku iso dipecat (Gimana nggak takut, kalau sampai ketahuan suaminya, aku bisa dipecat), pikir Karyo. Tapi dia tidak bisa mengungkapkan ketakutan itu dengan jujur.

"Aku... aku cuma nggak mau Papa kehilangan kerja," jawab Karyo pelan. "Nggak mau Papa diusir dari sini. Soalnya... soalnya Papa sayang sama Mama dan si dedek."

Maya merasakan dadanya sesak mendengar kejujuran Karyo. Pria ini benar-benar tidak tahu apa-apa tentang arrangement dengan Irwan. Baginya, hari ini adalah risiko besar yang dia ambil karena perasaan.

Akhirnya Maya mengetik balasan:

Iya, Sayang... aku di rumah sama Pak Karyo, santai kok. Makasih udah ingetin. Jangan capek-capek, pulang hati-hati ya.

Karyo mengintip layar saat Maya mengetik, membaca setiap huruf dengan cemas. "Sama Pak Karyo" terdengar sangat polos—tidak ada yang mencurigakan. "Santai kok" juga aman. Tapi kenapa Maya terlihat masih bingung setelah mengirim pesan itu?

"Kenapa Mama masih bingung?" tanya Karyo hati-hati.

Maya menatap HP yang sudah menampilkan "Terkirim" di bawah pesannya. "Entahlah, Pa. Aneh aja... biasanya Irwan nggak kirim pesan kayak gitu kalau lagi kerja."

Apa bojone curiga karo aku? (Apa suaminya curiga sama aku?) pikir Karyo. Apa Irwan wis ngerti yen aku lagi deket karo Maya? (Apa Irwan sudah tahu kalau aku lagi dekat sama Maya?)

Ketegangan itu semakin terasa saat HP Maya bergetar lagi. Pesan balasan dari Irwan:

Oke sayang. Istirahat yang cukup ya. Love you.

Maya menatap pesan itu dengan semakin bingung. "Love you"? Irwan jarang banget bilang begitu lewat chat. Ada apa sebenarnya?

Karyo melihat pesan itu dan merasa sesuatu mengganjal. Kok bojone malah ngomong "love you"? (Kok suaminya malah bilang "love you"?) Apakah ini tanda bahwa Irwan mulai curiga? Atau justru sebaliknya—dia benar-benar tidak tahu apa-apa?

"Mama," bisik Karyo, memeluk Maya lebih erat. "Kalo nanti suamimu pulang... kamu bakal bilang apa?"

Maya terdiam. Pertanyaan yang sama sekali tidak bisa dia jawab dengan mudah. Dia tidak perlu bilang apa-apa karena Irwan sudah tahu semuanya. Tapi dia tidak bisa menjelaskan itu pada Karyo.

"Aku nggak tahu, Pa," jawabnya jujur. "Aku bener-bener nggak tahu harus bilang apa."

Karyo mengusap kepala Maya penuh pengertian, meski dalam hatinya bergolak. Ra usah dipikir akeh-akeh saiki, sing penting aku wis bisa ngrasakke dadi bojone Maya sedina (Nggak usah dipikir banyak-banyak sekarang, yang penting aku sudah bisa merasakan jadi suaminya Maya sehari).


 

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com