Kamis sore, Maya sampai di rumah dengan perasaan campur aduk yang sudah menghantuinya seharian. Meeting paginya berhasil dia lewati dengan profesional, tapi pikirannya terus melayang pada kejadian dini hari—bagaimana Pak Karyo membangunkannya, pertanyaan tentang melanjutkan hubungan mereka secara rahasia, dan pandangan matanya saat Maya bergegas pergi kerja.
Kemarin aku jadi siapa? pikir Maya sambil memarkir mobilnya. Itu masih akting atau beneran?
Suara mobil lain membuatnya menoleh—Irwan baru sampai dari "perjalanan bisnis" ke Surabaya. Maya menarik napas dalam, menyiapkan diri untuk percakapan yang pasti akan datang.
"Sayang!" Irwan menyapa dengan antusias saat mereka bertemu di teras. "Gimana kemarin? Kamu oke?"
Maya mengangguk, tersenyum kaku. "Iya, oke kok."
Mereka masuk bersama, Irwan menaruh kopernya di ruang tamu. Ada keheningan canggung—Maya tidak tahu harus mulai dari mana, sementara Irwan tampak menahan diri untuk tidak langsung menanyakan detail.
"Mandi dulu, ya," kata Maya, mencari alasan untuk menunda percakapan.
"Oke. Nanti kita ngobrol."
Di kamar mandi, Maya berhenti sejenak di depan pintu. Tangannya gemetar saat meraih kancing blazer Prada-nya. Satu per satu kancing terbuka, material mahal itu jatuh ke lantai keramik dingin.
Maya menatap pantulan dirinya di cermin besar. Wajahnya sama, tapi ada sesuatu di matanya yang berubah. Perempuan siapa ini? Yang kemarin teriak-teriak minta Pak Karyo jangan berhenti?
Rok pencil hitamnya turun, diikuti blouse sutra putih. Di depan cermin, Maya melihat tubuhnya yang berubah—perut yang sudah membulat enam bulan, payudara yang lebih besar, pinggul yang melebar. Tangannya menyentuh perut itu perlahan.
Anak siapa yang ada di sini? pikirnya, menelusuri garis bulatan dengan jari. Secara biologis, ini anak Pak Karyo. Tapi secara hukum...
Maya melepas bra dan celana dalam terakhir. Di cermin, dia melihat tubuh hamil yang telah menjadi objek keinginan pria berumur 54 tahun itu. Dia bilang perut hamilku cantik. Dia bilang aku jadi lebih seksi.
Air hangat mengalir di tubuhnya, tapi tidak bisa mengalirkan kebingungan di kepalanya. Setiap kali mengingat bagaimana naturalnya dia memanggil Pak Karyo "Papa", bagaimana tubuhnya merespons setiap sentuhan pria itu, Maya merasa seperti kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Kemarin dia menyabuni punggungku di sini, Maya ingat sambil menuangkan sabun ke spons. Tangannya kasar tapi lembut. Dia bilang aku harus dijaga baik-baik karena bawa anaknya.
Spons bergerak di perut yang membesar. Maya mengingat bagaimana Pak Karyo menyentuhnya kemarin di shower yang sama ini—mulai dari pijat bahu yang innocent, lalu turun ke payudara yang sensitif, hingga jarinya menyusup ke selangkangan yang sudah basah bukan karena air.
"Bu Maya cantik banget pas hamil," suara bariton Pak Karyo bergema di kepalanya. "Perut gini bikin saya pengen jagain terus."
Maya memejamkan mata, membiarkan air hangat membasahi rambutnya. Shampoo mahal L'Occitane mengalir, tapi yang dia ingat adalah bagaimana Pak Karyo mencuci rambutnya kemarin dengan gerakan memijat yang membuat seluruh tubuhnya rileks.
Kenapa aku bisa nyaman banget sama dia? Maya bertanya pada dirinya sendiri. Irwan suamiku, tapi sentuhan Pak Karyo yang bikin aku merasa... utuh.
Bayinya bergerak di dalam perut, seperti merespons gejolak emosi ibunya. Maya menyentuh perut itu lagi, berbisik, "Kamu tau siapa papa kandung kamu, ya? Tubuh mama selalu reaksi beda kalau papa kandung yang pegang."
Kondisioner dibilas dari rambutnya, tapi pikiran Maya tak bisa dibersihkan. Kemarin di kamar mandi ini, setelah Pak Karyo membuatnya klimaks dengan jari, dia berbisik di telinga Maya: "Anak kita beruntung punya mama yang cantik gini." Anak kita. Bukan anak Bu Maya.
Maya menggosok tubuhnya dengan body wash, tapi yang terbayang adalah bagaimana Pak Karyo menggosoknya kemarin—mulai dari leher, turun ke payudara yang bengkak, perut yang bulat, hingga ke selangkangan yang tak pernah disentuh seintim itu oleh Irwan.
Aku jadi perempuan lain sama dia, Maya merenung sambil membasuh wajah. Perempuan yang bisa teriak, yang bisa minta, yang bisa... menikmati.
Air terakhir mengalir dari rambutnya. Maya mematikan shower, tapi pikiran tentang kemarin masih mengalir deras. Bagaimana Pak Karyo mengangkatnya ke wastafel, bagaimana dia memasukkan jari sambil berbisik kotor, bagaimana Maya menjerit sampai khawatir tetangga dengar.
Handuk memeluk tubuh hamilnya. Di cermin yang berkabut, Maya melihat bayangan perempuan yang berbeda—bukan lagi eksekutif sukses Maya Sari, tapi perempuan yang tunduk pada sentuhan seorang pembantu.
Saat keluar dari kamar mandi, Irwan sudah menunggu di tempat tidur, laptop terbuka di pangkuannya. Wajahnya berseri-seri—ekspresi yang membuat perut Maya bergolak.
"Sayang," Irwan menutup laptopnya. "Ceritain dong... gimana kemarin?"
Maya duduk di tepi ranjang, mengatur handuk di dadanya. "Irwan... aku perlu bicara sama kamu tentang sesuatu."
"Iya, silakan. Apa aja."
Maya menatap tangannya yang gemetar. "Kemarin itu... intense banget. Dan aku... aku bingung."
Irwan mendekat, mata berbinar dengan antusiasi yang salah. "Bingung kenapa? Kamu ngerasa apa?"
"Itu dia masalahnya," Maya mengangkat kepalanya. "Aku nggak tau itu aku ngerasa apa atau... aku cuma acting buat kamu."
Irwan mengabaikan kekhawatiran di suara Maya, fokus pada detail yang lain. "Detail-nya gimana? Kamu teriak nggak? Kayak yang di rekaman-rekaman sebelumnya?"
Maya mengernyitkan dahi. Dia nggak denger yang aku bilang? "Irwan, aku lagi bicara soal perasaan aku—"
"Iya, iya, aku tau. Tapi ceritain dulu dong, gimana kemarin. Dari pagi sampai malem."
Maya menarik napas panjang. Mungkin dengan menceritakan, dia bisa memahami sendiri apa yang terjadi. "Kemarin... begitu kamu pergi, aku masih tidur. Tapi Pak Karyo... dia naik ke kamar."
"Langsung?" mata Irwan berbinar, tubuhnya sedikit condong ke depan.
"Iya. Aku masih tidur, masih ada... bekas kamu di paha aku." Maya berhenti sejenak. "Dia duduk di tepi kasur, buka baju. Aku ngerasa ada yang sentuh, tapi masih setengah sadar."
Irwan menelan ludah, napasnya mulai berat. "Terus?"
"Tangannya... masuk ke celana dalam aku. Jarinya langsung ke..." Maya memerah. "Ke memek aku, Wan. Aku terbangun pas dia udah masukin jari. Bukan satu, tapi tiga sekaligus."
Irwan menggeser posisi, celana boxer-nya mulai sesak. "Kamu langsung sadar?"
"Setengah sadar. Tubuh aku udah basah duluan sebelum otak aku nyambung. Pas aku buka mata, dia udah bikin aku... ahhh..." Maya mendesah mengingat. "Klimaks kenceng banget. Sampai basah seprai."
"Aahhh fuck..." Irwan mengerang pelan, tangannya refleks menyentuh celana boxernya.
Maya melihat reaksi Irwan, suaranya mulai berubah. "Dia bilang mau lebih. Buka celana dalam aku, terus langsung... ngghh... masuk kontolnya yang besar itu."
Irwan tidak tahan lagi. Tangannya meraih Maya, menariknya ke pangkuan. "Lanjut cerita, say..."
"Wan... kita lagi ngobrol—ahh!" Maya terkejut saat Irwan langsung menyentuh payudaranya melalui baju tidur.
"Cerita terus..." Irwan berbisik di telinga Maya sambil tangannya meremas. "Dia masuk gimana?"
"Langsung... tidak pake persiapan. Aku udah siap soalnya... mmhh..." Maya mulai terpancing saat Irwan mengangkat baju tidurnya. "Sampai jam delapanan, Wan. Berkali-kali... lima kali aku klimaks..."
"Ahh shit..." Irwan sudah menarik celana boxer Maya, jarinya langsung menyelip. "Kamu bilang apa sama dia tentang aku?"
Maya mengejang saat jari Irwan menyentuh. "Aku bilang... ahhh... dengan kamu kayak riak kecil... oohhh... sama dia kayak ombak besar... ahh Wan!"
"Fuck, Maya..." Irwan sudah tidak tahan, dia angkat Maya dan posisikan di pangkuannya. Kontolnya yang keras langsung menekan. "Lanjut... setelah pagi itu gimana?"
"Dia... ahhh... turun duluan bikin sarapan..." Maya menggelinjang saat Irwan mulai masuk perlahan. "Masak tanpa baju... dadanya bidang berkeringat... oohhhh..."
"Terus?" Irwan mulai bergerak, tapi pelan.
"Dia minta aku... mmmhhh... panggil dia Papa... untuk bayi... ahhh Wan kenapa kamu masuk sekarang?"
"Nggak tahan, say... lanjut cerita..." Irwan mempercepat sedikit. "Kamu panggil dia Papa?"
"Iya... dan dia panggil aku... oohhh... Mama... rasanya kayak keluarga beneran... ahhh!"
Irwan semakin cepat, napasnya tersengal. "Terus gimana? Siang gimana?"
"Dia urut kaki aku... tangannya naik ke paha... ahhh Wan pelan... ke celana dalam aku yang udah basah..."
"Basah kenapa?"
"Karena... oohhhh... karena tubuh aku jujur sama dia... aku bilang mau lanjut... duduk di pangkuannya menghadap dia... ahh kayak gini..."
Irwan menggeram mendengar itu. "Posisi apa lagi?"
"Doggy di sofa... ahhh... missionary di karpet... dia suruh aku teriak bebas... oohhh Wan cepet banget..."
"Kamu teriak apa?"
"Mas Karyo... Papa... jangan berhenti... ahhh Wan kamu mau keluar ya?"
Irwan mengangguk tergesa, gerakannya semakin tidak terkontrol. "Terus... ahh... di dapur gimana?"
"Dia berdiri di belakang aku... kontolnya mendorong punggung... dia maksa aku bilang mau apa..."
"Bilang apa?"
"Mau dientot... ahhh... mau dientot di counter dapur... oohhh Wan..."
"AHHHH MAYA!" Irwan tidak tahan lagi, klimaks terlalu cepat, tubuhnya menegang lalu gemetar.
"Wan? Udah?" Maya menatap suaminya yang tersengal-sengal.
"Maaf say... terlalu... ahh..." Irwan menarik napas berat, masih di dalam Maya. "Lanjut cerita... berapa kali total kemarin?"
Maya merasakan sperma hangat Irwan di dalamnya, tapi dia masih belum klimaks. "Mungkin... sepuluh kali lebih, Wan. Nggak cuma penetrasi..."
"Kamu capek nggak?" Irwan mulai bergerak lagi meski baru saja klimaks, kontolnya masih setengah keras.
"Anehnya nggak... mmhh... malah semakin segar..." Maya mulai menggerakkan pinggulnya. "Kayak tubuh aku dirancang buat dia... oohhh..."
"Shit Maya... cerita terus..." Irwan mencoba bertahan lebih lama, tangannya meremas pinggang Maya.
"Sore kita mandi bareng... dia sabunin aku... ahhh... aku sabunin dia... kayak ritual intim..."
Irwan mempercepat, napasnya memburu. "Dia bilang apa?"
"Bilang sayang sama aku... bukan basa-basi... tulus banget... ooohhh Wan lebih dalam..."
"Kamu jawab apa?" Irwan menggeram, sudah mendekati puncak lagi.
"Aku juga bilang sayang... dan aku ngerasa... ahhh... bener-bener sayang... oohhh Wan aku mau keluar..."
"Malem gimana? Ahhh..."
"Makan malam... ngobrolin nama bayi... sekolah... kayak planning keluarga beneran... ahhhh Wan aku keluar!"
Maya mengejang di atas Irwan, klimaksnya membuat tubuhnya bergetar. Irwan ikut klimaks untuk kedua kali, lebih lama dari yang pertama.
"Haahh... haahh..." Maya tersengal di atas Irwan. "Dia nginep di kamar utama... bilang itu haknya sebagai suami aku..."
Irwan menarik Maya turun, memeluknya. "Kalian bercinta lagi?"
"Sampai tengah malem... posisi yang belum pernah kita coba... dia adjust buat perut aku..." Maya berbaring di samping Irwan. "Klimaks bareng... terus tidur pelukan."
"Terus pagi tadi?" Irwan sudah lemas, tapi masih ingin tahu.
"Jam lima subuh... aku terbangun karena dia udah masuk. Aku masih tidur, dia lepas celana dalam aku..." Maya mengelus dada Irwan. "Bangun-bangun udah dipenuhin..."
"Kamu marah?"
"Harusnya marah. Tapi tubuh aku malah suka. Langsung basah, langsung siap." Maya menggeleng. "Bercinta sampai jam setengah tujuh. Oral, penetrasi, semuanya."
Irwan menarik napas dalam, tubuhnya masih gemetar. "Terus?"
"Aku bersiap kerja. Dia masih di tempat tidur, cuma pakai boxer. Kayak suami beneran yang belum mau bangun."
Irwan perlahan menarik diri dari tubuh Maya, campuran cairan mereka menetes ke sprei. "Pas kamu mau pergi... dia nanya apa?"
Maya menatap mata Irwan, tiba-tiba wajahnya berubah serius. "Dia... dia nanya apakah kita bisa lanjutin hubungan ini. Meski kamu udah pulang. Secara rahasia."
Maya menatap Irwan, jantungnya berdebar kencang. Ini dia—momen yang dia takutkan. "Dia... dia mau lanjutin hubungan kita. Meski kamu udah pulang. Secara rahasia."
Mata Irwan melebar, dan untuk sesaat Maya berharap dia akan marah, akan mengatakan itu terlalu berbahaya. Tapi reaksi yang datang justru sebaliknya.
"Oh wow," Irwan mendesah, matanya berkabut. "Dia beneran udah tergila-gila sama kamu ya."
Maya menatapnya tidak percaya. "Irwan... itu artinya dia mau kita selingkuh. Di rumah kita sendiri. Saat kamu di rumah."
"Iya, aku tau." Irwan menyeringai. "Dan kamu jawab apa?"
"Aku bilang aku nggak bisa jawab langsung. Terlalu risky." Maya memperhatikan wajah suaminya. "Kamu... kamu nggak marah?"
Bukannya menjawab, Irwan malah bertanya, "Tapi kamu pengen nggak? Di dalam hati?"
Maya terdiam. Pertanyaan itu menusuk tepat ke jantung kebingungannya. "Aku... aku nggak tau. Itu yang bikin aku takut, Wan. Aku nggak tau mana yang akting, mana yang beneran."
"Sayang," Irwan meraih tangan Maya. "Kamu nggak perlu bingung. Kalau kamu pengen, ya lakukan aja."
"Apa?" Maya menarik tangannya. "Kamu serius?"
"Sangat serius." Irwan mendekat lagi. "Ini kan fase selanjutnya. Phase Three. Kita udah berhasil bikin dia tergila-gila, sekarang kita liat seberapa jauh dia mau."
Maya menatap suaminya dengan mata terbelalak. Dia nggak ngerti. Dia sama sekali nggak ngerti apa yang aku rasain.
"Tapi Irwan," Maya mencoba lagi, "aku takut aku... aku kehilangan diri aku sendiri. Kemarin, pas lagi sama dia, rasanya aku jadi orang lain."
"Orang lain gimana?" Irwan bertanya dengan antusias yang salah tempat.
"Aku... aku bilang hal-hal yang nggak pernah aku bayangin bakal aku bilang. Aku ngelakuin hal-hal..." Maya berhenti, frustasi dengan ketidakmampuannya mengungkapkan perasaan ini. "Rasanya kayak ada Maya lain yang keluar, dan aku nggak tau dia siapa."
Irwan menganggap kebingungan Maya sebagai tanda keberhasilan eksperimennya. "Itu bagus, sayang. Itu artinya kamu udah nyaman sama dia. Udah natural."
"Natural?" Maya menatapnya tidak percaya. "Irwan, aku panik! Aku nggak tau lagi mana batasan, mana yang boleh, mana yang nggak!"
"Ya udah, kalau gitu kita buat batasan baru," Irwan berkata enteng. "Misalnya, kamu sama dia cuma boleh di rumah. Nggak boleh keluar bareng. Dan kamu harus cerita semua ke aku."
Maya merasakan panik yang aneh di dadanya. Dia beneran ngasih izin. Gampang banget.
"Terus," Irwan melanjutkan dengan mata berbinar, "kamu bisa bilang ke Pak Karyo, kamu mau lanjut. Tapi dia harus hati-hati banget. Jangan sampai ketahuan sama tetangga atau siapa."
Maya merasakan sesuatu runtuh di dalam dadanya. Batas terakhirnya—persetujuan suami—baru saja diberikan dengan mudahnya. "Kamu... kamu beneran ngasih izin?"
"Tentu saja. Ini menarik banget, sayang. Phase Three bisa jadi yang paling seru."
Phase Three. Maya mendengar kata-kata itu dengan perasaan ngeri. Bagi Irwan, ini semua masih eksperimen. Bagi dia, ini sudah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit.
"Dan kamu bisa start dari besok," Irwan menambahkan. "Aku pengen lihat gimana dinamikanya kalau aku di rumah tapi kalian tetep... you know."
Maya mengangguk pelan, tapi di dalam hatinya dia berteriak. Dia nggak ngerti kalau aku kehilangan kontrol. Dia nggak ngerti kalau aku takut sama perasaan aku sendiri.
Tiba-tiba, sesuatu di dalam dada Maya pecah. Air mata mulai menggenang di matanya.
"Irwan..." suaranya gemetar. "Kamu... kamu masih sayang sama aku nggak?"
Irwan terdiam, kaget dengan pertanyaan tiba-tiba itu. "Hah? Kenapa kamu nanya gitu?"
"Kamu dengan gampangnya nyuruh aku sama dia lagi. Kayak... kayak kamu nggak peduli." Maya mengusap mata yang mulai basah. "Kayak kamu udah nggak cinta sama aku."
"Sayang..." Irwan meraih tangan Maya, tapi Maya menariknya.
"Jangan sentuh aku dulu." Maya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Jawab jujur. Kamu masih cinta sama aku? Atau sekarang kamu cuma lihat aku kayak... eksperimen?"
Irwan terdiam lama, wajahnya berubah serius. Untuk pertama kali hari ini, antusiasnya mereda. "Maya... dengar aku baik-baik."
"Aku dengar."
"Aku sayang sama kamu. Lebih dari yang pernah aku rasain sama siapa pun." Irwan duduk di tepi kasur, menghadap Maya. "Justru karena aku sayang, makanya aku... aku mau kamu bahagia."
Maya mengernyitkan dahi. "Maksudnya?"
"Enam tahun kita nikah, aku ngeliat kamu... frustrated. Secara seksual." Irwan menarik napas dalam. "Kamu nggak pernah bilang, tapi aku tau. Kamu nggak puas sama aku."
"Irwan—"
"Biarkan aku selesai dulu." Irwan mengangkat tangan. "Pas pertama kali aku denger kamu teriak kemarin... cara kamu teriak... itu bukan Maya yang aku kenal. Itu Maya yang... bebas."
Maya menatapnya dalam diam.
"Dan itu bikin aku sedih," Irwan melanjutkan, suaranya mulai serak. "Sedih karena aku nggak pernah bisa bikin kamu kayak gitu. Tapi... juga bikin aku seneng."
"Seneng?"
"Seneng karena akhirnya kamu bisa ngerasain... kepuasan beneran. Yang selama ini kamu cari tapi nggak pernah dapet dari aku."
Maya merasa dadanya sesak. "Tapi kenapa kamu nggak cemburu? Kenapa kamu malah... excited?"
Irwan terdiam lama, seperti mencari kata-kata yang tepat. "Aku cemburu, sayang. Cemburu banget. Sampe sakit di sini." Dia menunjuk dadanya. "Tapi... rasa sakit itu juga bikin aku... hidup."
"Hidup?"
"Selama ini aku merasa... datar. Kehidupan kita udah kayak rutinitas. Kerja, pulang, dinner, tidur. Berulang terus." Irwan menatap mata Maya. "Pas ngeliat kamu sama dia... pas ngedenger kamu teriak nama dia... aku merasa... aku nggak tau... kayak aku beneran ngerasain sesuatu lagi."
Maya mulai memahami, tapi masih bingung. "Jadi kamu... suka ngeliat aku sama dia?"
"Bukan suka. Aku... aku butuh." Irwan menggeleng. "Aku tau ini aneh. Aku tau ini nggak normal. Tapi pas aku ngeliat kamu bahagia sama dia, meski aku sakit, aku juga merasa... utuh."
"Utuh?"
"Kayak aku jadi suami yang bener. Suami yang bisa kasih apa yang istri butuhkan, meski nggak langsung dari aku." Irwan menelan ludah. "Dan pas kamu cerita ke aku... detail-detailnya... cara kamu teriak... itu bikin aku merasa... connected sama kamu lagi."
Maya merasakan sesuatu bergeser di dadanya. Bukan lagi kemarahan atau kebingungan, tapi... pemahaman aneh.
"Jadi... kamu nggak ngeliat aku kayak pelacur?"
"Tidak!" Irwan langsung meraih tangan Maya. "Kamu istri aku. Kamu perempuan yang aku cintai. Yang berubah cuma... cara aku nunjukkin cinta itu."
Maya membiarkan Irwan memegang tangannya kali ini. "Tapi Wan... aku takut."
"Takut apa?"
"Takut aku jadi terlalu suka sama dia. Takut aku lupa siapa suami aku." Maya menatap mata Irwan. "Kemarin, pas aku panggil dia 'Mas'... pas aku bilang sayang... rasanya tulus, Wan. Bukan akting lagi."
Irwan mengangguk pelan. "Aku tau."
"Kamu nggak marah?"
"Marah. Tapi juga... stolz." Irwan tersenyum tipis. "Stolz karena istri aku bisa bikin pria lain jatuh cinta."
"Jatuh cinta?"
"Liat aja cara dia ngeliat kamu sekarang. Cara dia ngelindungin kamu. Itu bukan cuma nafsu, sayang. Dia udah sayang sama kamu."
Maya merasa jantungnya berdebar. "Dan kamu... okay sama itu?"
"Aku belajar untuk okay." Irwan menggenggam tangan Maya lebih erat. "Karena aku ngeliat kamu hidup lagi. Aku ngeliat kamu jadi perempuan yang... utuh."
"Utuh gimana?"
"Kamu jadi ibu yang bahagia. Istri yang... complicated tapi jujur. Dan perempuan yang tau apa yang dia mau." Irwan menarik napas. "Selama ini kamu selalu nahan diri. Selalu jadi Maya yang sempurna, yang terkontrol. Sama dia, kamu jadi... kamu."
Maya merasakan air mata mulai turun lagi. "Tapi aku bingung, Wan. Aku nggak tau lagi mana yang bener."
"Yang bener itu..." Irwan mengusap pipi Maya. "Yang bikin kamu bahagia. Yang bikin kamu merasa kayak perempuan seutuhnya."
"Meski itu artinya aku selingkuh?"
"Itu bukan selingkuh kalau aku tau dan aku izinin." Irwan tersenyum sedih. "Itu... arrangement."
Maya terdiam lama, memproses kata-kata Irwan. "Kamu beneran nggak akan ninggalin aku?"
"Never. Kamu tetep istri aku. Tetep ibu dari anak kita." Irwan mencium kening Maya. "Yang berubah cuma... kamu juga punya seseorang yang bisa kasih apa yang aku nggak bisa kasih."
"Dan kamu... comfortable sama itu?"
"Aku lagi belajar. Tapi... yeah. Surprisingly comfortable." Irwan tersenyum. "Apalagi kalau kamu cerita ke aku. Kalau kamu bagi pengalaman kamu. Itu bikin aku merasa... involved."
Maya mulai memahami dinamika aneh ini. "Jadi kamu... pengen aku lanjut sama dia?"
"Aku pengen kamu bahagia. Kalau dia bikin kamu bahagia... ya."
Maya merasakan beban di dadanya mulai terangkat. "Tapi dengan aturan?"
"Dengan komunikasi. Kamu cerita semua ke aku. Aku pengen tau gimana perasaan kamu. Gimana perkembangan hubungan kalian." Irwan menelan ludah. "Dan... aku pengen tau detail-detailnya."
"Detail seks?"
Irwan mengangguk, wajahnya memerah. "Itu... itu yang bikin aku merasa connected sama kamu."
Maya akhirnya tersenyum tipis. "Kamu aneh, Wan."
"Aku tau." Irwan tersenyum balik. "Tapi aku aneh yang sayang sama kamu."
Maya terdiam sejenak, masih memproses seluruh percakapan ini. "Jadi... kalau aku bilang ke Pak Karyo aku mau lanjut... kamu beneran nggak akan marah?"
"Aku akan cemburu. Aku akan sakit. Tapi aku nggak akan marah." Irwan mengusap punggung tangan Maya. "Karena aku tau kamu tetep pulang ke aku. Kamu tetep tidur di samping aku. Kamu tetep cerita sama aku."
"Dan kamu akan... terangsang sama cerita itu?"
Irwan mengangguk, wajahnya memerah. "Itu yang paling aku nggak ngerti dari diriku sendiri. Tapi... yeah."
Maya merasakan sesuatu berubah di dalam dirinya. Bukan lagi ketakutan atau kebingungan, tapi... keingintahuan. "Kamu... kamu pengen aku jadi apa sih sebenarnya?"
"Aku pengen kamu jadi diri kamu yang sebenarnya. Tanpa harus nahan-nahan. Tanpa harus jaga image." Irwan menatap mata Maya intens. "Kemarin, waktu kamu teriak nama dia... itu Maya yang selama ini tersembunyi. Dan aku pengen Maya itu tetap ada."
"Meski itu artinya aku... milik dia juga?"
Irwan menelan ludah keras. "Kamu nggak akan jadi milik dia. Kamu cuma... berbagi diri kamu."
Maya merasakan jantungnya berdebar. Ada bagian dari dirinya yang mulai... penasaran. "Kalau... kalau aku setuju... gimana?"
"Kamu bilang ke dia. Tapi jangan bilang kalau aku yang nyuruh. Biar dia pikir kamu yang mau." Irwan menarik napas. "Dan... kamu harus berhati-hati. Jangan sampai tetangga curiga."
"Terus... kalau kamu di rumah?"
"Kita liat aja nanti. Mungkin... aku bisa pergi sebentar. Atau kalian bisa... kreatif." Irwan tersenyum nakal. "Yang penting kamu cerita ke aku."
Maya merasakan gairah aneh di perutnya. Bukan hanya karena bayangan bersama Pak Karyo, tapi juga karena... kepercayaan Irwan. "Kamu... kamu beneran trust aku?"
"Aku trust kamu untuk selalu pulang ke aku. Untuk selalu jujur sama aku. Dan untuk nggak ninggalin aku." Irwan menggenggam kedua tangan Maya. "Selain itu... kamu bebas."
Maya merasakan air mata mulai mengalir lagi, tapi kali ini bukan karena sedih. "Aku sayang sama kamu, Wan. Meski aku juga... confused sama perasaan aku ke dia."
"Aku tau, sayang. Dan aku nggak minta kamu pilih. Aku cuma minta kamu jujur."
Maya mengangguk perlahan. "Okay. Aku akan... coba bicara sama dia besok."
"Kamu mau?"
Maya tersenyum tipis, masih dengan mata berkaca-kaca. "Aku takut. Tapi... aku juga penasaran."
"Penasaran sama apa?"
"Sama... gimana rasanya jadi Maya yang beneran. Tanpa harus mikirin apa yang orang pikir. Tanpa harus jadi istri yang sempurna." Maya mengusap matanya. "Sama dia, aku bisa jadi... Maya yang nakal."
Irwan merasakan gairah mulai bangkit di celananya. "Maya yang nakal gimana?"
"Maya yang bisa teriak. Maya yang bisa minta. Maya yang bisa..." Maya berhenti, wajahnya memerah. "Maya yang bisa jadi perempuan seutuhnya."
"Dan kamu mau jadi Maya itu?"
Maya terdiam lama, kemudian mengangguk perlahan. "Yeah. Aku mau."
Irwan menarik Maya ke pelukannya, dan kali ini Maya tidak menolak. "Thank you, sayang. Thank you udah mau jujur."
"Thank you juga udah... ngerti aku." Maya membenamkan wajahnya di dada Irwan. "Meski ini aneh banget."
"Aneh tapi... somehow feels right?"
Maya mengangguk di dada Irwan. "Somehow... yeah."
Mereka berpelukan dalam diam, masing-masing memproses percakapan yang baru saja mengubah dinamika pernikahan mereka selamanya.
"Wan?" Maya berbisik.
"Hmm?"
"Besok... kalau aku bicara sama dia... aku nervous."
"Kamu mau aku kasih tips?"
Maya mengangkat kepalanya, menatap Irwan dengan mata berkaca-kaca tapi sudah tidak sedih lagi. "Tips gimana?"
Irwan tersenyum nakal. "Jangan terlalu formal. Bilang aja... kamu kangen sama kemarin."
Maya tersenyum tipis. "Kangen sama kemarin..."
"Dan kalau dia nanya kenapa... bilang aja tubuh kamu honest."
"Tubuh aku honest." Maya mengulangi, merasakan gairah mulai muncul di perutnya.
"Dan kalau dia ragu... sentuh dia. Biar dia tau kamu serius."
Maya merasakan jantungnya berdebar. "Sentuh gimana?"
Irwan menarik napas dalam. "Kayak kemarin. Natural. Biar dia tau... kamu masih mau dia."
Maya mengangguk perlahan. "Okay. Aku akan... coba."
"Dan ingat..." Irwan mengangkat dagu Maya. "Apapun yang terjadi besok... kamu tetep istri aku. Tetep perempuan yang aku cintai."
Maya merasakan kehangatan menyebar di dadanya. "Aku cinta sama kamu juga, Wan. Cara yang... complicated."
"Complicated tapi real."
"Complicated tapi real." Maya mengulangi, kemudian tersenyum. "I can live with that."
Irwan mencium kening Maya lembut. "Me too, sayang. Me too."
