𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟏𝟑𝟓

 

Ratih duduk di teras rumah, tubuhnya gemetar hebat. Pandangannya kosong menatap halaman kecil di depan rumah mereka, di mana Dani masih bermain dengan teman-temannya. Suara tawa anak-anak itu terdengar begitu asing di telinganya sekarang—seolah dari dunia lain yang jauh, dunia yang tidak terancam kehancuran seperti dunianya saat ini.

Bagaimana mungkin semuanya bisa berubah dalam sekejap seperti ini? Tadi pagi dia masih bahagia mendengar suara suaminya di telepon, bersiap-siap menyambut kepulangannya. Dan sekarang... sekarang dia tidak tahu apakah besok pagi mereka masih punya atap di atas kepala, masih bisa memberi makan Dani, masih bisa hidup dengan nama yang bersih di desa.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang mencekam. Ratih bahkan tak menyadari ketika Karyo keluar dari kamar dan duduk di ujung teras yang sama, menjaga jarak cukup jauh darinya. Keduanya terdiam, hanya suara tawa anak-anak yang bermain dan gemerisik daun yang terdengar—suara-suara kehidupan normal yang mungkin sebentar lagi tidak akan mereka miliki lagi.

"Terus piye?" (Terus bagaimana?) Akhirnya Ratih bertanya dengan suara serak, tanpa menoleh ke arah suaminya.

"Aku nyuwun ngapura, Dik. Aku sujud neng ngarep sikile, tak jaluk opo wae asal keluargane dewe ora dijamah." (Aku minta maaf, Dik. Aku sujud di depan kakinya, kuminta apa saja asal keluarga kita tidak dijamah.)

Karyo menarik napas dalam-dalam, matanya menatap kosong ke arah halaman kecil mereka. Suaranya pelan, hampir ragu, seperti dia sendiri masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang akan dia katakan. "Pak Irwan nawari... solusi aneh." (Pak Irwan menawarkan... solusi aneh.)

Ratih mengerutkan dahi, mencoba membaca ekspresi suaminya. Ada sesuatu dalam nada Karyo yang membuatnya tidak nyaman—seolah kata "solusi" itu sendiri sudah salah tempat untuk menggambarkan situasi mereka. "Maksude piye, Mas?" (Maksudnya bagaimana, Mas?)

Karyo menelan ludah, tangannya mengusap tengkuk berkali-kali. Dia terlihat seperti orang yang mencoba menyusun kata-kata untuk menjelaskan hal yang bahkan dia sendiri tidak paham. "Pak Irwan... nawari aku tetep kerjo karo dheweke. Nanging... aku kudu... nerusake... hubunganku karo Bu Maya." (Pak Irwan... menawarkan aku tetap kerja sama dia. Tapi... aku harus... meneruskan... hubunganku dengan Bu Maya.)

Ratih menatap suaminya lama, mencoba mencerna kalimat yang baru saja dia dengar. Kata-kata itu seperti teka-teki yang potongan-potongannya tidak pas satu sama lain. "Aku ora mudheng, Mas." (Aku tidak mengerti, Mas.) Suaranya pelan, tapi ada getaran di sana. "Sampeyan ketangkep lagi selingkuh karo bojone, terus malah dikongkon neruske?" (Kamu tertangkap sedang selingkuh dengan istrinya, terus malah disuruh meneruskan?)

Karyo mengangguk pelan, gerakan kepalanya terlihat berat. "Pak Irwan... duwe kelainan, Dik. Dheweke... seneng delok bojone digawe seneng wong liyo." (Pak Irwan... punya kelainan, Dik. Dia... senang lihat istrinya dibuat senang orang lain.)

Ratih terdiam, mencoba memproses informasi itu. Kelainan. Kata itu terasa asing, sesuatu yang hanya ada di televisi. Jadi, kemarahan Pak Irwan kemarin hanya pura-pura? "Dadi... dheweke ora nesu tenan? Mung sandiwara?" (Jadi... dia tidak benar-benar marah? Hanya sandiwara?)

"Ora, Dik. Dheweke nesu tenan," (Tidak, Dik. Dia marah sungguhan,) Karyo membantah dengan cepat, membuat Ratih semakin bingung. "Nesu banget. Nganti arep nglaporke aku neng polisi." (Marah sekali. Sampai mau melaporkanku ke polisi.)

"Lha terus kepiye?" (Lha terus bagaimana?) dahi Ratih berkerut semakin dalam. "Nek dheweke seneng, kenapa dheweke nesu? Aku ora nyambung, Mas." (Kalau dia senang, kenapa dia marah? Aku tidak nyambung, Mas.)

Karyo menggaruk-garuk kepalanya, terlihat sama bingungnya. "Sing aku ngerti, dheweke nesu mergo aku nyoba njaluk Bu Maya dadi bojoku sing kapindho. Dheweke ngomong aku nyoba nyolong bojone." (Yang aku tahu, dia marah karena aku mencoba meminta Bu Maya jadi istri keduaku. Dia bilang aku mencoba mencuri istrinya.)

Ratih menatap Karyo dengan tatapan kosong. Kepalanya mulai terasa ringan. Dia mengulang kata-kata itu dalam benaknya. Dia marah karena kamu mencoba mencuri istrinya. Tapi bukankah berselingkuh itu sendiri sudah seperti mencuri? "Opo bedane, Mas?" (Apa bedanya, Mas?) bisiknya, lebih pada dirinya sendiri. "Bedane 'nganggo' karo 'nyolong' kui opo?" (Bedanya 'memakai' dengan 'mencuri' itu apa?)

Karyo hanya bisa mengangkat bahu.

Ratih menggelengkan kepalanya pelan, mencoba menjernihkan pikiran. Dia harus mencari jalan keluar yang masuk akal. "Yowis, Mas. Rasah dipikir. Kowe metu wae seko kerjo. Awake dewe isoh golek dalan liyo. Pindah nek perlu." (Ya sudah, Mas. Tidak usah dipikirkan. Kamu keluar saja dari pekerjaan. Kita bisa cari jalan lain. Pindah kalau perlu.)

Wajah Karyo berubah muram. Dia menatap istrinya dengan tatapan yang membuat jantung Ratih berdebar tidak enak. "Aku wis ngomong ngono, Dik," (Aku sudah bilang begitu, Dik,) katanya pelan. "Pak Irwan ngomong, pilihane awake dewe mung telu. Siji, mlayu seko dheweke, ning dheweke bakal mburu awake dewe saklawase. Loro, ngadepi amukane, sing artine aku bakal dilaporake polisi. Utawa telu... aku nuruti penjaluke." (Pak Irwan bilang, pilihan kita hanya tiga. Satu, lari darinya, tapi dia akan memburu kita selamanya. Dua, menghadapi amarahnya, yang artinya aku akan dilaporkan ke polisi. Atau tiga... aku menuruti permintaannya.)

Keheningan yang aneh menyelimuti mereka. Ratih merasakan dunianya menyempit. Jadi, ini bukan lagi tentang pekerjaan atau kelainan aneh. Ini adalah ancaman. Mereka terperangkap. Rasa takut yang dingin mulai menjalar di punggungnya. Ini serius. Ini nyata.

Melihat wajah pucat Ratih, Karyo buru-buru menambahkan, seolah mencoba menawarkan setitik cahaya di tengah kegelapan. "Tapi... ana meneh, Dik. Nek aku gelem nuruti... dheweke janji arep nyekolahke Dani."

Ratih mengangkat kepalanya. "Nyekolahke piye?" (Menyekolahkan bagaimana?)

"Nganti lulus kuliah, Dik," (Sampai lulus kuliah, Dik,) suara Karyo terdengar seperti bisikan. "Kabeh biayane ditanggung." (Semua biayanya ditanggung.)

Hening.

Ratih menatap suaminya. Lalu dia menatap lantai tanah di bawah kakinya. Pikirannya mencoba menyusun semua potongan informasi itu untuk terakhir kalinya. Satu: Suaminya berselingkuh. Salah. Dua: Bosnya marah besar karena itu. Benar. Tiga: Tapi bosnya ternyata senang dengan perselingkuhan itu. Salah? Empat: Bosnya marah bukan karena selingkuh, tapi karena suaminya mencoba 'mencuri'. Tidak masuk akal. Lima: Hukumannya adalah... melanjutkan perselingkuhan itu, atau diburu selamanya. Tidak masuk akal. Enam: Dan jika suaminya patuh melanjutkan perselingkuhannya... anak mereka mendapat hadiah beasiswa sampai sarjana. Sama sekali tidak masuk akal.

Rangkaian logika itu berputar di kepalanya, semakin cepat, hingga menjadi sebuah gambar yang begitu absurd, begitu konyol... seperti sebuah lelucon. Seperti cerita yang ditulis oleh orang mabuk. Pencuri yang dihukum dengan perintah untuk terus mencuri, dan jika dia menjadi pencuri yang baik, anaknya akan diberi penghargaan.

Sesuatu pecah dalam diri Ratih. Bukan kesedihan. Bukan kemarahan. Sebuah suara keluar dari mulutnya. Kekehan kecil yang kering. Lalu satu lagi.

Karyo menatapnya cemas. "Dik?"

Tawa itu pecah. Bukan tawa histeris atau gila. Itu adalah tawa yang jujur, tawa seseorang yang baru saja mendengar lelucon paling tidak lucu sekaligus paling konyol di dunia. Dia tertawa sampai bahunya bergetar, menutupi mulutnya seolah tidak sopan.

"Iki... iki lelucon opo toh, Mas?" (Ini... ini lelucon apa sih, Mas?) katanya di sela tawa yang terdengar aneh itu. "Wong edan. Kabeh wong kutha kui edan!" (Orang gila. Semua orang kota itu gila!)

Perlahan, tawanya mereda. Wajahnya kembali kosong, matanya menatap ke kejauhan seolah leluconnya sudah selesai dan yang tersisa hanyalah kebenarannya yang pahit. Keheningan kembali menyelimuti mereka, kali ini lebih berat dari sebelumnya. Humor dari absurditas itu telah menguap.

"Kuwi dudu pilihan, Mas," (Itu bukan pilihan, Mas,) Ratih akhirnya berkata dengan suara datar, seolah semua emosinya sudah terkuras oleh tawa tadi. Dia menatap Karyo, dan tatapannya jernih. "Awake dewe ora iso nglawan wong sugih kaya ngono." (Kita tidak bisa melawan orang kaya seperti itu.)

Dia terdiam sejenak, membiarkan bobot dari kenyataan itu meresap.

"Tapi pilihan siji-sijine kui..." (Tapi pilihan satu-satunya itu...) Dia tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya sama sekali. "...dudu paukuman." (...bukan hukuman.)

Karyo mengerutkan dahi, tidak paham. "Maksude, Dik?" (Maksudnya, Dik?)

Ratih menatap lurus ke arah suaminya, matanya berkilat dengan pemahaman yang baru dan mengerikan.

"Kaya hadiah." (Seperti hadiah.)

Karyo menggeleng cepat, tangannya bergerak gelisah. "Dudu, Dik. Dudu hadiah." (Bukan, Dik. Bukan hadiah.) Suaranya terdengar seperti mencoba meyakinkan diri sendiri. "Iki ukuman. Aku ora bisa nglakoni apa wae sing takpenginke maneh." (Ini hukuman. Aku tidak bisa melakukan apa saja yang kuinginkan lagi.)

Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menjelaskan sesuatu yang bahkan dia sendiri masih bingung. "Sakdurunge, aku nglakoni apa wae... aku sing ngatur. Ning saiki, kabeh kudu nurut kersane Pak Irwan." (Sebelumnya, aku melakukan apa saja... aku yang mengatur. Tapi sekarang, semua harus menurut kemauannya Pak Irwan.)

Ratih menatapnya dengan tatapan skeptis yang membuat Karyo semakin defensif.

"Syarate, aku kudu nuruti kabeh penjaluke Pak Irwan ngenani... carane ngentot karo Bu Maya." (Syaratnya, aku harus memenuhi semua permintaan Pak Irwan tentang... caranya berhubungan dengan Bu Maya.) Karyo melanjutkan, suaranya hampir berbisik. "Aku ora iso kaya biyen, dominan lan nglakoni apa wae sing takpenginke marang Bu Maya." (Aku tidak bisa seperti dulu, dominan dan melakukan apa saja yang kuinginkan ke Bu Maya.)

Ratih menggelengkan kepala, benar-benar kewalahan dengan informasi ini. "Masio nganggo syarat kuwi, mesti akeh wong sing gelem njupuk kesempatan kuwi mung mergo pengen turu karo Bu Maya, lah iki sampeyan uga ditawari beasiswa nggo Dani? Aku ora mudeng karo wong kutha." (Bahkan dengan syarat itu, pasti banyak orang yang mau mengambil kesempatan itu cuma karena ingin tidur sama Bu Maya, lah ini kamu juga ditawari beasiswa untuk Dani? Aku tidak mengerti dengan orang kota.)

Karyo menatap Ratih dengan tatapan memohon. "Dik, aku mulih saiki kanggo njaluk restumu. Mergo saiki aku arep kanthi resmi selingkuh karo majikanku." (Dik, aku pulang sekarang untuk minta restumu. Karena sekarang aku akan dengan resmi selingkuh dengan majikanku.)

Ratih mendengus keras. "Opo dayaku? Bahkan sampeyan terakhir mulih SAWISE mbobot Bu Maya, tanpa njaluk restu. Kok saiki lagi njaluk?" (Apa dayaku? Bahkan kamu terakhir pulang SETELAH menghamili Bu Maya, tanpa minta restu. Kok sekarang baru minta?)

Kata-kata itu menusuk Karyo tepat di jantungnya.

"Mergo iki ukuman kanggo aku, Dik. Lan aku ora ngerti kapan iso leren saka 'ukuman' iki. Uripku, nasibku, lan nasib keluargane dewe saiki ing tangane Pak Irwan." (Karena ini hukuman untukku, Dik. Dan aku tidak tahu kapan bisa berhenti dari 'hukuman' ini. Hidupku, nasibku, dan nasib keluarga kita sekarang di tangan Pak Irwan.)

Ratih bangkit berdiri, matanya berkilat-kilat. "Saiki sampeyan wis nyusahke keluargane dewe, meh ngancurke masa depan anak bojomu, lagi njaluk ngapura lan njaluk izin?" (Sekarang kamu sudah menyusahkan keluargamu, hampir menghancurkan masa depan anak istrimu, baru minta maaf dan minta izin?)

"Aku njaluk ngapura, Dik," Karyo berkata dengan suara tercekat. "Aku ngerti aku salah. Tapi aku nglakoni iki kabeh kanggo awake dewe, anak bojoku. Sakdurunge aku wis cukup marem ngentot karo Bu Maya wae, tapi mikir masa depane Dani, lan mergo egoku, aku nyoba ngrebut Bu Maya saka Pak Irwan." (Aku minta maaf, Dik. Aku tahu aku salah. Tapi aku melakukan ini semua demi kita, anak istriku. Tadinya aku sudah cukup puas berhubungan dengan Bu Maya saja, tapi mikirin masa depan Dani, dan karena egoku, aku mencoba merebut Bu Maya dari Pak Irwan.)

Ratih masih terlihat marah, tetapi perlahan-lahan kemarahannya mereda. Benar juga, Karyo sudah pernah bilang padanya lewat telepon waktu dia memutuskan untuk merayu Maya menjadi istri keduanya.

"Nek mengko sampeyan wis ngentoti Bu Maya secara rutin, yakin ora bakal tresno maneh? Lan nyoba njaluk luwih saka sekadar ngentot marang Bu Maya? Lan nyoba ngrebut maneh? Eling-elingen nek kuwi kedaden, Pak Irwan mungkin ora bakal seapik iki maneh..." (Kalau nanti kamu sudah berhubungan dengan Bu Maya secara reguler, yakin tidak akan jatuh cinta lagi? Dan mencoba meminta lebih dari sekedar berhubungan ke Bu Maya? Dan mencoba merebutnya lagi? Ingat-ingatlah kalau itu terjadi, Pak Irwan mungkin tidak akan sebaik ini lagi...)

Pertanyaan Ratih membuat Karyo terdiam. Ini adalah kemungkinan yang belum dia pikirkan. Dengan suara pelan, dia mengakui, "Kuwi mungkin banget kedaden, Dik..." (Itu mungkin banget terjadi, Dik...)

Keduanya terdiam, Ratih membuang muka, kini menatap kosong ke halaman kering di luar jendela. Percuma. Ia sudah lelah memberi peringatan. Suaminya sendiri baru saja mengakui bahwa ia bisa jatuh ke lubang yang sama, dan tak ada lagi yang bisa Ratih katakan untuk mencegahnya. Ia membiarkan kekosongan di antara mereka menjadi jawaban.

Setelah beberapa saat, Ratih memecah keheningan, "Aku iso ngelingke sampeyan terus, tapi apa gunane? Aku wis ngelingke sampeyan kon ngati-ati pas ngentot karo Bu Maya maneh sawise meteng. Tapi apa sing kedaden? Tetep wae sampeyan mlaku karo rencanane..." (Aku bisa mengingatkan kamu terus, tapi apa gunanya? Aku sudah mengingatkan kamu untuk hati-hati waktu berhubungan dengan Bu Maya lagi setelah hamil. Tapi apa yang terjadi? Tetap saja kamu jalan dengan rencananya...)

Karyo sekali lagi meminta maaf. "Egoku mbutake pikiranku, Dik. Lan aku yakin tenan nalika kuwi yen Bu Maya gelem dadi bojoku sing kapindho." (Egoku membutakan pikiranku, Dik. Dan aku yakin betul saat itu kalau Bu Maya mau menjadi istri keduaku.)

Tiba-tiba Ratih bangkit dari duduknya. Wajahnya berubah serius, seperti baru mendapatkan suatu ide.

"Aku melu neng Jakarta, Mas. Gowo Dani, melu dadi pembantu neng kono senajan ora digaji. Supaya oleh manggon neng kono." (Aku ikut ke Jakarta, Mas. Bawa Dani, ikut jadi pembantu di sana walaupun tidak digaji. Supaya boleh tinggal di sana.)

Karyo menatap Ratih dengan tatapan tak percaya. "Apa?"


Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com