Pagi itu, sebagai perantau yang jarang pulang, Karyo sebetulnya sudah gelisah sejak malam sebelumnya. Beberapa jam sebelum kereta mendekati Yogyakarta, ia mendadak merasa harus mengabari Joko, anak sulungnya. Dengan tangan gemetar, ia menelpon dari kursi ekonomi yang sempit, suara kereta menggerung pelan di belakang.
"Halo, Joko? Iki Bapak..." (Halo, Joko? Ini Bapak...)
"Lho, Pak? Bapak arep mulih?" (Lho, Pak? Bapak mau pulang?)
"Iyo, Le. Bapak tekan Yogya sakjam meneh. Iso ndang jemput?" (Iya, Nak. Bapak sampai Yogya sejam lagi. Bisa jemput?)
"Ngko aku usahain, Pak..." (Nanti saya usahakan, Pak...)"Bapak ora popo, kan?" (Bapak nggak apa-apa, kan?)
"Ora popo, Le. Neng omah ketemu..." (Nggak apa-apa, Nak. Di rumah aja ketemu...)
Telepon ditutup, dan Karyo limbung di bangkunya. Udara dalam gerbong pengap, tapi pikirannya jauh lebih berat—penuh kecemasan, takut, dan malu. Ia kembali memandang ke luar jendela: hamparan sawah yang menguning, langit pagi yang pucat, burung-burung kecil yang hinggap di rumpun padi. Suasana damai, tapi hatinya berkecamuk. Kepalanya sibuk berputar, membayangkan ucapan pada Ratih.
"Dik, aku arep ngomong..." (Dik, aku mau bicara...)
Terlalu kaku.
"Dik Ratih, aku nduwe masalah..." (Dik Ratih, aku ada masalah...)
Terlalu mengambang.
Setiap bentuk kalimat seperti nggak ada yang pas. Yang terbayang selalu wajah Ratih yang teriris sakit—atau lebih parah, air matanya. Di sela-sela itu, bayangan Irwan dan Maya turut menghantuinya: wajah Irwan dingin waktu memergoki mereka di kamar, suara Maya yang setengah panik, setengah takut saat semuanya terbongkar.
Kadang bibirnya bergerak sendiri, gumam kecil lolos tanpa sadar.
"Mugo-mugo Ratih iso ngerti..." (Semoga Ratih bisa ngerti...)
Ia menggenggam dan membuka jari—berulang-ulang.
Beberapa penumpang di bangku seberang melirik, mungkin bertanya-tanya kenapa orang tua ini mondar-mandir gelisah. Karyo merapatkan kopiah, menekuk leher, menahan nafas panjang. Dunia di luar kereta terasa luar biasa jauh—dunia sawah, dunia keluarga, dunia yang harus ia hadapi dengan beban dosa di pundak.
Kereta mulai merangkak pelan ketika memasuki kota Yogyakarta. Stasiun ramai, suara pengumuman menggema, orang berlalu-lalang penuh semangat. Tapi Karyo masih seperti terkurung di kepalanya sendiri—langkahnya berat, tubuhnya terasa mati rasa. Ia berjalan keluar gerbong, tas kecil dijinjing, terombang-ambing oleh arus manusia.
Di bawah papan "Selamat Datang di Yogyakarta", Karyo berdiri kaku. Ia melangkah ke tepi, menghala nafas. Tiba-tiba sebuah tepukan di pundak membuatnya tersentak.
"Pak..."Karyo menoleh cepat. Di depan sudah berdiri Joko, tubuhnya kurus, kulit agak gelap, mengenakan jaket lusuh dan celana jeans belel. Di sampingnya, motor butut—tua tapi habis dicuci, bodi masih basah.
"Lho, Joko... kok cepet teko?" (Lho, Joko... kok cepat sampai?)
"Bapak ngapain ndelik koyo wong ilang gitu?" (Bapak ngapain bengong kayak orang lepas arah?)"
Iki... Bapak mikir akeh, Le. Mohon maaf nggedeni awakmu..." (Ini... Bapak banyak pikiran, Nak. Maaf repotin kamu...)
Joko mengambil tas dari tangan Bapaknya, lalu mengikatkan di bagasi. Ia bicara penuh aksen kampung Jawa, tanpa canggung.
"_Nek pengin pulang kok ndadak, Pak..._” (Kalau mau pulang kok dadakan, Pak...)
"Hehe, Bapak yo ora duwe rencana. Ono perkara kudu diomongke karo Ratih, Le." (Hehe, Bapak juga nggak ada rencana. Ada hal yang harus dibicarakan sama Ratih.)
Mereka berjalan pelan ke luar stasiun, menembus keramaian becak, bus, dan petugas parkir yang ribut. Joko sempat melirik Bapaknya, dahi mengernyit dengan rasa ingin tahu.
"Pak, aku krungu Bapak tadi kaya ngomong-ngomong dewe di telepon. Nanti kayaknya sempat nyeletuk soal gagal sama... ngentot?" (Pak, aku dengar tadi Bapak kayak ngomong sendiri di telepon. Barusan kayak ada sebutan soal gagal sama... ngentot?)
Karyo terkejut, wajahnya merah padam. Dia melambaikan tangan, mengelak.
"Ora, ora. Bapak cuma ngelamun. Wong tuwo koyo aku yo wis akeh sing lewat..." (Nggak, nggak. Bapak cuma melamun aja. Orang tua kayak aku udah biasa ngalamin macem-macem...)
Joko, tapi menerima alasan itu. Mereka naik motor, berdua, menembus lalu lintas Yogya yang mulai padat. Jalanan kota berubah pelan-pelan jadi pinggiran, sawah menguning, aroma pagi dan asap kayu bakar menempel di udara.
Selama perjalanan, Joko dan Karyo bicara pakai bahasa Jawa, kadang beralih ke Indonesia kalau obrolan jadi formal. Karyo diam kebanyakan waktu, hanya sesekali menanggapi.
"Dani piye kabare, Pak?" (Dani gimana kabarnya, Pak?)"Alhamdulillah, sehat. Dheweke saiki malah wis pinter cerewet, ngeloyor wae nek wong dolan. Sak meneh umure papat tahun." (Alhamdulillah, sehat. Dia sekarang makin cerewet, suka main ke mana-mana. Sebentar lagi umurnya empat tahun.)
"Cepet tenan, yo. Kayak baru kemarin Dani lahir..." (Cepet ya. Kayak baru kemarin Dani lahir...)Karyo cuma senyum tipis, sorot matanya sendu.
Jalan makin menyempit. Motor masuk ke gang kampung, melewati deretan rumah tembok bercat pudar yang berjejer rapat. Di tikungan terakhir, Karyo menoleh ke depan—halaman rumahnya tampak, Dani kelihatan main di tanah dengan anak-anak tetangga, tawa mereka pecah di udara pagi.
Jatung Karyo berdegup lebih keras. Ia belum siap, tapi waktunya sudah datang. Begitu motor berhenti di depan rumah, ia menarik nafas panjang—dalam hati masih mencari-cari kalimat yang paling pas untuk berkata jujur pada Ratih, meski sampai detik itu pun, belum ada satu skenario pun yang benar-benar terasa cukup aman.
"Mas?" Ratih berdiri terpaku di pintu rumah saat melihat Karyo turun dari motor Joko. Wajahnya menunjukkan keterkejutan yang jelas. "Kok ora ngabari yen arep mulih?" (Kok tidak memberi tahu kalau mau pulang?)
Karyo mencoba tersenyum meski terasa kaku. "Piye kabare, Dik?" (Bagaimana kabarnya, Dik?)
"Sehat, Mas. Tapi... ono apa? Kok ndadak?" (Sehat, Mas. Tapi... ada apa? Kok mendadak?)
Sebelum Karyo sempat menjawab, Dani menyadari kehadiran ayahnya dan berlari dengan penuh semangat.
"Bapaaak!" teriak Dani, melompat ke pelukan Karyo.
Karyo menangkap tubuh mungil itu dan memeluknya erat, mencium pipinya berulang kali. "Piye kabare, Le? Kangen karo Bapak?" (Bagaimana kabarnya, Nak? Kangen sama Bapak?)
"Kangen banget!" (Kangen sekali!) Dani memeluk leher ayahnya erat-erat, seolah takut Karyo akan segera pergi lagi.
Joko, yang memperhatikan interaksi keluarga kecil itu, pamit setelah menurunkan tas Karyo. "Pak, aku tak bali disik, ya. Sรฉsuk nรจk ana butuh, tilpun waรฉ." (Pak, aku pulang dulu ya. Besok kalau ada perlu, telepon saja.)
Setelah Joko pergi, Karyo perlahan masuk ke dalam rumahnya. Rumah sederhana dengan dua kamar tidur dan ruang tengah yang juga berfungsi sebagai ruang tamu. Semuanya tertata rapi dan bersih, menunjukkan betapa Ratih merawat rumah dengan baik selama ditinggal suaminya bekerja.
Ratih menyiapkan teh hangat dan sedikit makanan kecil di meja. Gerakannya terlihat sedikit gelisah, matanya sesekali melirik Karyo yang sedang bermain dengan Dani di lantai beralaskan tikar.
"Dik," Karyo akhirnya bersuara, "ono sing kudu takkandhakake." (Ada yang harus saya bicarakan.)
Ratih menelan ludah, wajahnya mendadak tegang. "Ono opo, Mas?" (Ada apa Mas?)
"Penting." (Penting.)
Kata itu menggantung di udara, menciptakan ketegangan yang nyaris terasa fisik. Ratih mengangguk pelan, kemudian mengalihkan perhatian ke Dani.
"Dani, kowe dolanan dhisik karo kancane neng ngarep ya? Bapak karo Ibu arep omong-omongan." (Dani, kamu main dulu sama temannya di depan ya? Bapak sama Ibu mau bicara-bicara.)
Dani masih meringkuk di pelukan ayahnya, tidak mau lepas. "Aku pengin karo Bapak terus," (Aku pengin sama Bapak terus,) rengekannya sambil menempelkan pipi ke dada Karyo.
Karyo merasakan hatinya mencelos. Selama ini dia hanya pulang sebentar, dan setiap kali harus pergi lagi, meninggalkan anak kecil yang paling membutuhkannya ini. "Dani, neng ngarep akeh kancamu sing lagi dolanan. Ayo gabung karo dheweke-dheweke dhisik. Mengko Bapak tukokke permen nek wis rampung omong-omongan karo Ibu." (Dani, di depan banyak temanmu yang lagi main. Ayo gabung sama mereka dulu. Nanti Bapak belikan permen kalau sudah selesai ngobrol sama Ibu.)
"Janji, Pak?" Mata Dani berbinar dengan harapan.
"Janji."
Dani akhirnya turun dari pangkuan ayahnya, tapi sebelum berlari keluar, dia menoleh sekali lagi. "Bapak ojo lungo maneh, yo." (Bapak jangan pergi lagi, ya.)
Pintu menutup dengan bunyi pelan. Suara tawa anak-anak di luar terdengar semakin jauh, meninggalkan keheningan tebal di dalam rumah. Karyo menatap pintu yang baru saja ditutup Dani, dadanya sesak. Ratih memperhatikan suaminya dari kejauhan—garis wajah yang tampak lelah, pundak yang sedikit membungkuk, dan tatapan mata yang berat dengan sesuatu yang belum dia ketahui.
"Mas," panggil Ratih pelan, membuat Karyo menoleh. Dia duduk di ujung dipan kayu, punggung tegak namun tangan saling meremas gelisah di pangkuan. "Aku ngerti yen sampeyan duwe perkara gedhe. Wajahmu wis bedo wiwit mau." (Aku tahu kalau kamu punya masalah besar. Wajahmu sudah beda sejak tadi.)
Karyo berdiri dari tempatnya, melangkah mondar-mandir di ruang sempit itu. Sesekali tangannya mengusap tengkuk, sesekali mengepal dan membuka jari. Ratih mengikuti gerak-geriknya dengan mata penuh kekhawatiran.
"Ning kamar wae, Dik. Ben ora keprungu tangga teparo." (Di kamar aja, Dik. Biar nggak kedengaran tetangga kanan-kiri.) Suara Karyo hampir berbisik.
Ratih bangkit mengikuti suaminya. Langkah mereka ke kamar terasa berat, seperti berjalan menuju sesuatu yang akan mengubah segalanya.
Di dalam kamar sederhana itu, dengan ranjang kayu berukuran sedang dan lemari pakaian tua, Karyo duduk di tepi ranjang. Tangannya bertumpu di lutut, kepala tertunduk. Ratih memilih berdiri di dekat pintu, tubuhnya menegang seperti siap lari jika berita yang dibawa suaminya terlalu menyakitkan. Jarak di antara mereka terasa seperti jurang.
"Dik, kowe eling ora, pas aku ngomong arep ndadekke Bu Maya bojo kapindho?" (Dik, kamu ingat tidak, waktu saya bilang mau menjadikan Bu Maya istri kedua?) Karyo memulai dengan suara pelan, mata masih tertuju ke lantai.
Jantung Ratih seolah berhenti berdetak sesaat. Tangannya gemetar halus saat mencengkeram ujung dasternya. Tentu saja dia ingat. Bagaimana mungkin melupakan malam itu? Suara Karyo di telepon yang berbeda—lebih percaya diri, lebih ambisius. "Aku bakal gawe Bu Maya semakin nggantungke uripe marang aku..." ("Aku akan buat Bu Maya semakin menggantungkan hidupnya padaku...") katanya saat itu. "Suwi-suwi, dheweke bakal milih aku tinimbang bojone." ("Lama-lama, dia akan memilihku daripada suaminya.")
Ratih ingat bagaimana dadanya sesak mendengar suaminya bicara tentang wanita kaya itu dengan nada yang tak pernah dia dengar—campuran antara kepercayaan diri dan hasrat. "Bu Maya wis muni 'sayang' karo aku, Dik. Dheweke ngundang aku 'Mas'. Iku ora mergo seks tok. Iku wis ono roso," ("Bu Maya sudah bilang 'sayang' sama aku, Dik. Dia panggil aku 'Mas'. Itu bukan karena seks saja. Itu sudah ada rasa,") Karyo waktu itu berkata, suaranya bangga.
Dan dia, Ratih, istri sah yang sudah melahirkan anak untuknya, malah memberikan izin. "Yen Bu Maya butuh aku terus-terusan, dheweke iso dadi bojo simpenanku," ("Kalau Bu Maya butuh aku terus-terusan, dia bisa jadi istri simpananku,") kata Karyo dengan yakin. Dan Ratih, entah kenapa, malah berkata, "Aku percoyo, Mas." ("Aku percaya, Mas.")
Sekarang, melihat wajah suaminya yang penuh kekhawatiran, Ratih merasa firasat buruk merayap di dadanya. Ada yang salah. Ada yang berbeda dari rencana mereka.
Dengan suara yang hampir tidak terdengar, dia mengangguk.
"Piye, Mas? Sampeyan wis rabi karo Bu Maya?" (Bagaimana, Mas? Kamu sudah menikah dengan Bu Maya?) Ada getaran dalam suaranya, campuran ketakutan dan kemarahan tertahan.
Atau mungkinkah lebih buruk lagi?
"Apa... sampeyan dipecat?" (Apa... kamu dipecat?) Ratih berbisik, matanya mulai berkaca-kaca.
Karyo menggeleng. "Ora, Dik. Luwih rumit saka kuwi." (Tidak, Dik. Lebih rumit dari itu.)
Dia menghela napas panjang, kemudian dengan berat memulai pengakuannya.
"Aku ketangkep basah karo Pak Irwan, Dik." (Aku tertangkap basah sama Pak Irwan, Dik.)
Ratih mengerutkan dahi. "Ketangkep piye?" (Tertangkap bagaimana?)
Karyo menelan ludah, suaranya bergetar. "Aku lagi... lagi nindakake Bu Maya. Pak Irwan ndadak mlebu kamar, ndelok kabeh." (Aku sedang... sedang meniduri Bu Maya. Pak Irwan tiba-tiba masuk kamar, lihat semuanya.)
Keheningan mencekam. Ratih menatap suaminya dengan mata membelalak, seolah tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
"Pak Irwan murka banget, Dik," Karyo melanjutkan dengan suara semakin lemah. "Dheweke ngancam arep lapor polisi, ngancam arep gawe aku dipenjara mergo nyolong bojone." (Pak Irwan marah sekali, Dik. Dia mengancam akan lapor polisi, mengancam akan buat aku dipenjara karena mencuri istrinya.)
Ratih masih terdiam, wajahnya perlahan berubah dari shock menjadi kepucatan yang mengerikan.
"Pak Irwan duwe koneksi akeh, Dik. Ora mung iso gawe aku dipenjara, tapi uga iso ngrusak masa depan awake dewe kabeh. Aku mung pembantu reged, ora duwe apa-apa. Dheweke sugih, duwe kuasa. Sak kepenake bae iso gawe aku ilang, ora ana sing peduli." (Pak Irwan punya banyak koneksi, Dik. Tidak hanya bisa buat aku dipenjara, tapi juga bisa merusak masa depan kita semua. Aku cuma pembantu kotor, tidak punya apa-apa. Dia kaya, punya kekuasaan. Seenak-enaknya bisa buat aku hilang, tidak ada yang peduli.)
Suara Karyo semakin bergetar saat melanjutkan. "Nek aku dipenjara, piye karo awakmu lan Dani? Sapa sing nyukupi? Dheweke uga iso gawe jeneng keluarga awake dewe reged, ora ana sing gelem ngapusi kita. Sak kabehe bakal ilang, Dik... sak kabehe." (Kalau aku dipenjara, bagaimana dengan kamu dan Dani? Siapa yang mencukupi? Dia juga bisa buat nama keluarga kita jelek, tidak ada yang mau kasihan sama kita. Semuanya akan hilang, Dik... semuanya.)
Seketika wajah Ratih berubah dari pucat menjadi merah padam. Tanpa peringatan, dia melangkah maju dan menampar pipi Karyo keras-keras.
"******!" teriaknya. "Aku wis ngomong kon ngati-ati! Kok yo isih wani! Sampeyan arep ngancurke kabeh-kabehe?!" (BODOH! Aku sudah bilang suruh hati-hati! Kok ya masih berani! Kamu mau menghancurkan semuanya?!)
Tamparannya mendarat lagi, kali ini di sisi wajah Karyo yang lain. Air mata mulai mengalir deras di pipi Ratih sementara tangannya terus memukuli dada dan bahu Karyo dengan emosi yang meledak-ledak.
"******! ******! Edan! Bodho! Kowe arep gawe aku lan Dani dadi apa?! Kowe arep gawe awake dewe dadi gembelengan neng desane dewe?!" (Bodoh! Bodoh! Gila! Tolol! Kamu mau bikin aku dan Dani jadi apa?! Kamu mau bikin kita jadi bulan-bulanan di desa sendiri?!)
Karyo hanya diam, tidak berusaha mengelak atau menangkis pukulan istrinya. Dia menerima setiap pukulan dan makian sebagai konsekuensi perbuatannya. Wajahnya sudah basah oleh air mata yang mengalir diam-diam, campuran rasa malu, takut, dan bersalah yang mencabik-cabik hatinya.
"Kowe mikir awakmu tok! Ora mikir anakmu sing isih cilik! Ora mikir bojone sing setia ngenteni kowe!" Ratih terus memukul dengan tenaga yang semakin melemah, suaranya berubah menjadi isakan. "Kowe mung mikir kontolmu! Mung mikir nafsumu! Bodho! Bodho!" (Kamu mikir dirimu saja! Tidak mikir anakmu yang masih kecil! Tidak mikir istrimu yang setia menunggu kamu! Kamu cuma mikir kontolmu! Cuma mikir nafsumu! Bodoh! Bodoh!)
Setelah beberapa menit, tenaga Ratih benar-benar terkuras. Pukulannya melemah hingga akhirnya berhenti sama sekali. Dia mundur dengan napas terengah-engah, air mata masih mengalir deras membasahi pipinya. Tubuhnya gemetar hebat, campuran kemarahan, ketakutan, dan kekecewaan yang mendalam.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Ratih berbalik dan keluar dari kamar, meninggalkan Karyo yang terduduk di tepi ranjang dengan wajah tertunduk dalam dan tubuh yang masih bergetar.
