𝐈𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥𝐢 𝐏𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮 𝐁𝐚𝐛 𝟗𝟓

Bulan purnama memancarkan cahaya keperakan melalui tirai jendela kamar Maya dan Irwan. Jalan raya Jakarta telah sunyi, meski sesekali masih terdengar deru kendaraan yang lewat. Maya berbaring menatap langit-langit, tangannya tanpa sadar mengelus perut yang kini semakin membuncit.

Jadi kita punya izin dokter sekarang...

Pikiran itu menghantuinya sejak mereka pulang dari klinik sore tadi. Dr. Ratna telah memberikan lampu hijau untuk hubungan intim, dengan beberapa catatan keamanan tentu saja. Tapi mereka bertiga tahu persis—Maya, Irwan, dan Pak Karyo—bahwa izin itu bukan hanya untuk sepasang suami istri yang sah.

Maya menoleh ke samping. Irwan masih terjaga, matanya fokus pada layar tablet yang menampilkan rekaman dari kamera tersembunyi di ruang tamu. Maya bisa menebak apa yang sedang dilihat suaminya—dirinya dan Pak Karyo dalam posisi intim di sofa sore kemarin.

"Nonton lagi?" tanya Maya pelan.

Irwan mengangguk tanpa mengalihkan pandangan. "Mmm. Mau liat lagi gimana badan kamu bereaksi sama dia."

Maya bergeser, mendekat ke suaminya. Aroma parfum Irwan samar tercium, memicu sedikit mual, tapi Maya menahannya. Dia mengintip layar tablet—benar saja, adegan dirinya dan Pak Karyo dalam posisi 69 di sofa ruang tamu.

"Kamu suka banget ya ngeliat aku sama dia?"

Irwan akhirnya menurunkan tablet, menatap Maya. "Awalnya aku pikir bakal sakit banget, Yang. Tapi..." dia menggelengkan kepala dengan heran, "aku nggak bisa ngejelasin. Ada sesuatu yang... yang bikin aku..."

"Terangsang?" Maya melanjutkan kalimat suaminya.

"Lebih dari itu," Irwan meletakkan tablet di nakas. "Seperti... aku bisa ngerasain kenikmatan kamu lewat dia. Aneh kan?"

Maya tersenyum kecil. "Nggak aneh. Dr. Andy udah bilang ini namanya cuckolding."

"Iya, tapi dia juga bilang biasanya ini muncul dari rasa sakit," Irwan mengusap wajahnya. "Dan aku emang sakit ngeliat kamu sama dia, tapi rasa sakit itu... somehow jadi sesuatu yang..." Irwan berhenti, tampak kesulitan menemukan kata-kata.

"Jadi sesuatu yang kamu nikmatin?" Maya membantu.

Irwan mengangguk pelan. "Dan sekarang, setelah dokter kasih lampu hijau..." dia melirik Maya, "aku penasaran seberapa jauh... seberapa jauh kita bisa explore."

Maya terdiam beberapa saat. Cahaya bulan menerangi wajah suaminya yang tampak lelah tapi juga penuh antisipasi. Ini adalah percakapan yang mereka tahu harus dilakukan—tentang batas, aturan, dan harapan.

"Irwan," Maya memulai dengan hati-hati, "kita perlu bicarain ini baik-baik. Soal... soal apa yang boleh dan nggak boleh."

Irwan mengubah posisi menjadi duduk bersandar di kepala tempat tidur, menarik Maya untuk bersandar di dadanya. "Aku tau. Aku udah mikirin ini sejak kita dari dokter."

"Dan?" Maya mendongak, menatap wajah suaminya.

"Aku mau..." Irwan menarik napas panjang, "aku mau kita tetap mengendalikan situasinya. Bukan Pak Karyo."

Maya mengangguk. "Aku setuju. Dia... dia udah mulai berubah, Wan. Kamu tau sendiri dari rekaman."

"Ya, dia semakin berani," Irwan membenarkan. "Semakin dominan."

"Dan posesif," tambah Maya. "Dia terus-terusan ngomong 'bayi kita' atau 'anakku'. Seperti..." Maya menelan ludah, "seperti dia yakin banget bayi ini punyanya."

"Secara biologis memang punyanya," Irwan berkata pelan, ada sedikit getir dalam suaranya meski ditutupi dengan baik.

Maya menyentuh tangan Irwan. "Tapi secara hukum dan secara... secara hati, ini anak kita, Wan."

Irwan tersenyum, mencium kening Maya. "Aku tau. Dan justru itu, kita perlu aturan yang jelas."

"Oke," Maya menegakkan tubuh. "Apa saja?"

Irwan tampak berpikir sejenak. "Pertama, ini semua harus di bawah pengawasan. Artinya, semua aktivitas kalian harus di tempat yang ada kameranya."

"Termasuk gudang?" Maya bertanya, teringat pertemuan terakhir mereka di sana.

"Aku akan pasang kamera di sana besok," jawab Irwan. "Tapi sampai dipasang, jangan di sana."

"Oke," Maya setuju. "Apa lagi?"

"Kedua," Irwan melanjutkan, "ini murni fisik. Nggak boleh ada... perasaan."

Maya terdiam. Dia tahu ini aturan paling sulit. Bagaimana memisahkan fisik dan perasaan? Terlebih dengan hormon kehamilan yang membuatnya lebih sensitif dan emosional.

"Aku akan coba," Maya akhirnya berkata, "tapi kamu tau hormones are crazy right now."

Irwan mengangguk. "Aku ngerti. Maksudku, jangan sampai ada omongan tentang... tentang masa depan atau apapun. Tetap ingat ini cuma temporary."

Maya mengangguk. "Apalagi?"

"Ketiga," Irwan melanjutkan, "Pak Karyo nggak boleh tau kalau aku tau dan setuju. Itu... itu penting buat fantasy-ku."

Maya menatap Irwan dengan heran. "Itu aneh, Wan. Kenapa?"

"Entahlah," Irwan mengangkat bahu, "tapi rasanya lebih... intens kalau dia mikir dia 'nyuri' kamu dari aku. Kalau dia tau aku tau, itu bakal... bakal ngerusak semuanya."

Maya tidak sepenuhnya mengerti, tapi dia mengangguk. "Oke. Apa lagi?"

"Keempat," Irwan terlihat lebih serius, "kita harus bisa stop kapan aja. Kalau salah satu dari kita—kamu atau aku—merasa ini udah terlalu jauh atau terlalu berbahaya, kita stop semuanya. No questions asked."

"Setuju," Maya langsung menjawab. Aturan ini membuatnya sedikit lega—ada jaminan keamanan.

"Dan kelima," Irwan menarik napas, "aku nggak akan beneran pergi. Maksudku, aku memang akan bilang ke Pak Karyo kalau aku pergi ke Surabaya, tapi sebenarnya aku tetap di Jakarta. Jaga-jaga kalau... kalau ada apa-apa."

Maya tersenyum tipis. "Itu bagus. Bikin aku ngerasa lebih aman."

Irwan mengelus rambut Maya. "Kita juga bisa bahas hal-hal spesifik yang boleh dan nggak boleh kalian lakukan."

Maya mengangkat alis. "Seperti?"

"Seperti..." Irwan tampak ragu sejenak, "posisi apa yang aman menurut dokter? Tempat yang boleh? Apa dia boleh... di dalam?"

Pipi Maya menghangat mendengar pertanyaan terakhir. "Aku... aku nggak tau, Wan. Ini... ini agak aneh dibahas segitu detailnya."

"Tapi perlu," Irwan bersikeras. "Kita perlu tau batasannya."

Maya mengangguk pelan. "Oke. Dokter bilang posisi yang nggak menekan perut. Jadi mungkin... mungkin dari samping atau aku di atas."

Irwan mengangguk, matanya sedikit menggelap mendengar deskripsi Maya. Namun ada keraguan di wajahnya, seperti ada sesuatu yang ingin dia tanyakan tapi ragu.

"Kenapa, Wan?" tanya Maya, menyadari ekspresi Irwan.

Irwan menggeser posisinya, tampak tidak nyaman. "Aku kepikiran sesuatu. Soal... ukuran."

"Ukuran?"

"Ukuran Pak Karyo," Irwan akhirnya mengatakannya. "Dari rekaman yang aku lihat... dia, uhm, dia lumayan... besar."

Pipi Maya langsung memanas. Dia tidak menyangka pembicaraan akan mengarah ke situ, meski dia sendiri sebenarnya juga sudah memikirkannya.

"Iya," Maya akhirnya mengakui dengan suara pelan. "Dia... cukup besar."

"Dokter bilang nggak boleh terlalu dalam," Irwan melanjutkan, matanya tidak lepas dari wajah Maya. "Apa menurutmu... dengan ukurannya... itu bisa jadi masalah?"

Maya menelan ludah, teringat sensasi penuh saat Pak Karyo pertama kali memasukinya. Selama program kehamilan mereka, ukuran Pak Karyo yang di atas rata-rata membuat Maya kewalahan di awal, tapi kemudian menjadi sumber kenikmatan yang tak terduga.

"Mungkin," Maya mengakui jujur. "Waktu program dulu aja, kadang rasanya terlalu... penuh. Apalagi kalau dia dorong sampai mentok."

Irwan menggeser tubuhnya lebih dekat, jelas tertarik. "Terus gimana? Apa dia bisa... nahan diri?"

Maya menggigit bibir bawahnya, teringat bagaimana Pak Karyo bisa sangat lembut tapi juga sangat kasar tergantung moodnya. "Kadang dia bisa nahan, tapi kalau udah... udah terlalu terangsang, dia suka lupa diri."

"Jadi kalau dia sampai terlalu dalam...?"

"Aku harus bilang," Maya menjawab. "Harus ngasih tau dia untuk pelan-pelan atau nggak terlalu dalam."

Irwan terdiam sejenak, tampak berpikir. "Tapi kamu... kamu suka kan? Maksudku, ukurannya?"

Maya tidak bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya. "Wan..."

"Aku cuma mau tau," Irwan bersikeras, tangannya meremas tangan Maya lembut. "Aku tau kamu nikmatin itu."

Maya menarik napas panjang. "Iya," akunya pelan. "Aku... aku suka. Rasanya beda. Tapi sekarang dengan kehamilan, mungkin perlu lebih hati-hati."

Irwan mengangguk, tampak puas dengan jawaban itu. Tapi kemudian ekspresinya berubah, seperti teringat sesuatu.

"Ngomong-ngomong soal hati-hati," Irwan melanjutkan, "Pak Karyo punya lima anak kan? Dia pasti punya pengalaman... maksudku, dengan istrinya waktu hamil."

Maya tertegun. Dia tidak pernah memikirkan itu sebelumnya. "Benar juga. Dia punya lima anak, jadi pasti pernah... melakukannya dengan istrinya saat hamil."

"Dan anaknya semua sehat-sehat," tambah Irwan. "Mungkin dia tau cara yang aman."

Maya mengangguk perlahan, pikirannya melayang ke percakapan singkat dengan Pak Karyo beberapa minggu lalu, saat pria itu dengan bangga menunjukkan foto anak-anaknya.

"Dia pernah cerita sedikit," Maya teringat. "Anak keempat dan kelima dari istri yang berbeda. Istri pertamanya meninggal saat melahirkan anak keempat. Lalu dia menikah lagi dan punya anak kelima."

"Jadi dia punya pengalaman dengan dua wanita hamil," Irwan menarik kesimpulan. "Itu... itu menarik."

"Kamu mau aku tanya dia?" Maya bertanya ragu.

Irwan tampak terkejut. "Tanya langsung? Nggak, nggak... itu bakal aneh. Tapi mungkin kamu bisa... mengamati. Lihat apakah dia punya cara khusus."

Maya menggelengkan kepala dengan heran. "Kamu benar-benar serius dengan ini ya?"

"Aku cuma mau semua aman," Irwan beralasan, meski matanya mengkhianati motif lain. "Dan kalau dia punya pengalaman yang bisa membantu..."

"Oke," Maya mengalah. "Aku bakal... perhatikan."

Mereka terdiam beberapa saat, masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri. Maya merasakan tangan Irwan bergerak gelisah dalam genggamannya.

"Jadi," Irwan akhirnya berbicara lagi, suaranya lebih rendah, "soal... soal di dalam?"

Maya langsung paham apa yang Irwan tanyakan. Ini pertanyaan yang kompleks. Secara teknis, Pak Karyo sudah "di dalam"—secara biologis, bayinya adalah hasil dari sperma Pak Karyo. Tapi Irwan bertanya tentang aktivitas seksual mereka ke depan.

"Maksudmu... dia boleh keluar di dalam?" Maya bertanya terang-terangan, memutuskan tidak ada gunanya berbasa-basi lagi.

Irwan menelan ludah, tampak kaget dengan keterusterangan Maya, tapi mengangguk. "Iya. Apa menurutmu itu... aman? Untuk bayi?"

"Secara medis, seharusnya nggak masalah," Maya menjawab, mengingat bacaannya tentang kehamilan. "Sperma nggak bisa mencapai bayi. Ada sumbat lendir di leher rahim yang melindungi."

"Bukan itu yang aku tanyakan," Irwan menekankan, matanya menatap Maya dalam-dalam. "Aku tanya... apa kamu mau dia... ngeluarin di dalam? Dan apa aku... apa aku boleh nonton?"

Jantung Maya berdebar kencang. Percakapan ini menjadi semakin intim dan eksplisit, melampaui batas yang dia bayangkan. Tapi anehnya, dia tidak merasa terganggu. Justru, ada sesuatu yang membuatnya... terangsang.

"Kamu... kamu mau nonton dia ngeluarin di dalem aku?" Maya bertanya pelan, hampir tidak percaya dengan apa yang dia ucapkan.

Irwan mengangguk, matanya menggelap oleh gairah. "Aku mau liat wajahmu waktu dia... waktu dia klimaks di dalem. Mau liat gimana rasanya buat kamu."

Maya merasakan gelombang panas menjalar ke seluruh tubuhnya. "Wan, ini... ini udah jauh banget dari awal kita mulai."

"Aku tau," Irwan mengakui. "Tapi aku nggak bisa bohong sama diri sendiri lagi, Maya. Aku... aku suka ngeliat kamu sama dia. Suka ngeliat bagaimana tubuh kamu bereaksi sama dia. Bagaimana kamu... lepas kendali."

Maya terdiam, mencoba mencerna pengakuan Irwan. Suaminya benar-benar telah berubah—atau mungkin, menemukan sisi dirinya yang selama ini tersembunyi.

"Dan Pak Karyo?" Maya bertanya lagi. "Menurutmu dia bakal... gimana?"

Irwan mendengus pelan. "Maya, dia udah nunggu kesempatan ini sejak awal. Kesempatan untuk benar-benar... memiliki kamu. Untuk klimaks di dalam kamu tanpa harus khawatir soal kontrasepsi atau apa pun. Aku yakin dia bakal sangat menikmatinya."

Maya menelan ludah, membayangkan ekspresi Pak Karyo saat melepaskan diri di dalam tubuhnya. Bagaimana sensasi hangatnya akan menyebar, bagaimana perasaan intim itu akan terasa berbeda karena dia sudah hamil—karena bayi dalam kandungannya adalah anak biologis Pak Karyo.

"Kamu nggak takut?" tanya Maya, memperhatikan wajah Irwan dengan seksama. "Nggak takut ini... terlalu jauh?"

Irwan tampak berpikir sejenak. "Ya, takut. Tapi juga... penasaran. Terangsang. Gila, kan?" Dia tertawa pahit. "Aku seharusnya marah, cemburu buta. Tapi malah, aku ngerasa... bergairah."

"Dr. Andy bilang ini normal," Maya mengingatkan, merujuk pada psikolog yang dikonsultasi Irwan. "Cuckolding, kan? Terangsang melihat pasangan dengan orang lain."

"Ya, tapi aku nggak tau bakal separah ini," Irwan menggelengkan kepala. "Makin jauh, makin... intens rasanya."

Maya meremas tangan Irwan. "Aku nggak mau kamu terluka, Wan."

"Aku juga nggak mau kamu terluka," balas Irwan. "Makanya kita perlu... aturan yang jelas. Batasan."

Maya mengangguk. "Oke. Jadi soal... dia keluar di dalam...?"

Irwan menarik napas panjang. "Aku... aku mau liat itu, Maya. Kalau kamu juga mau."

Maya terdiam, mencoba menjajaki perasaannya sendiri. Ide Pak Karyo melepaskan diri di dalam tubuhnya—sesuatu yang selama "program" mereka memang terjadi, tapi dengan tujuan pembuahan—terasa begitu intim, begitu... berbeda sekarang.

"Aku belum yakin, Wan," Maya akhirnya menjawab jujur. "Itu... itu kayak batas terakhir, tau nggak? Selama program dulu, dia emang keluar di dalam, tapi itu buat bikin hamil. Itu ada tujuannya. Tapi sekarang, kalo dia keluar di dalam, itu kayak... kayak..."

"Kayak dia benar-benar memiliki kamu?" Irwan menyelesaikan kalimatnya.

Maya mengangguk pelan. "Iya. Dan aku nggak tau apa aku siap untuk itu."

Irwan menggenggam kedua tangan Maya, menatapnya dalam-dalam. "Kita nggak perlu mutusin sekarang. Mungkin kita bisa... lihat dulu bagaimana nanti. Yang penting kamu nyaman."

Maya tersenyum lemah, bersyukur atas pengertian Irwan. "Makasih, Wan."

"Tapi," Irwan menambahkan, "kalau memang terjadi... aku mau ada di sana. Mau liat."

Maya mengangguk. "Oke. Kalau memang terjadi... kamu boleh liat sepuasnya."

Irwan mengangguk setuju. "Dan," dia menambahkan, "kamu boleh... eksperimen. Coba hal-hal baru yang mungkin belum pernah kita lakukan. Aku mau... mau tau apa aja yang kamu suka."

Maya menatap suaminya dengan takjub. "Kamu beneran ngasih aku izin buat... buat nyoba hal baru sama dia?"

"Dengan syarat," Irwan mengangkat jari, "kamu cerita semuanya ke aku. Detail. Dan kalau bisa, lakukan di depan kamera."

Maya menggigit bibir bawahnya. "Oke."

Keheningan menyelimuti mereka beberapa saat. Pikiran Maya melayang pada kemungkinan-kemungkinan yang terbuka dengan izin dokter dan persetujuan eksplisit Irwan. Dia tidak bisa menyangkal ada antisipasi yang menggelitik perutnya.

Tiba-tiba ponsel Maya berbunyi, memecah keheningan. Irwan meraih ponsel dari nakas dan menyerahkannya pada Maya. "Dari siapa?"

Maya menatap layar. Nomor tak dikenal, tapi dia langsung tahu siapa pengirimnya. "Pak Karyo."

Irwan langsung tampak tertarik. "Apa katanya?"

Maya membuka pesan itu dan membacanya keras. "Selamat malam, Bu Maya dan si kecil."

Irwan mengambil ponsel dari tangan Maya, membaca ulang pesan itu. Ekspresinya sulit dibaca—campuran cemburu, kesal, dan... gairah?

"Dia semakin berani ya," gumam Irwan. "Si kecil. Dia bahkan nggak nulis 'Pak Irwan'."

"Mungkin dia pikir aku udah tidur dan kamu nggak akan baca," Maya beralasan.

Irwan menggeleng. "Nggak. Dia sengaja. Dia makin posesif sama kamu dan..." dia menunjuk perut Maya, "sama bayi ini."

Jari Irwan bergerak di atas layar ponsel, mengetik sesuatu. Sebelum Maya sempat bertanya, Irwan sudah menekan tombol kirim.

"Kamu balas apa?" tanya Maya, setengah panik.

Irwan menyerahkan ponsel. Maya membaca balasan yang dikirim Irwan atas namanya: Makasih, Pak. Selamat malam juga.

"Cuma itu?" Maya bertanya, sedikit heran dengan balasan yang sangat formal.

"Ya," Irwan meletakkan ponsel kembali ke nakas. "Biar dia tetap penasaran. Biar dia nggak tau kamu udah dapat izin dokter."

Maya mengangguk mengerti. Irwan mematikan lampu nakas dan menarik Maya ke dalam pelukannya. Tapi alih-alih menunjukkan tanda-tanda mengantuk, tangannya mulai bergerak menelusuri tubuh Maya.

"Irwan..." Maya berbisik saat tangan suaminya menyusup ke balik kamisolnya.

"Hmm?" Irwan bergumam, bibirnya mulai menciumi leher Maya.

"Apa yang kamu lakukan?"

"Nggak boleh ya?" Irwan bertanya, tangannya berhenti sejenak. "Dokter udah kasih izin."

Maya tersenyum dalam gelap. "Boleh. Tapi... parfum kamu..."

Irwan terkekeh pelan. "Aku udah mandi dan ganti baju. Masih kerasa?"

Maya mengendus, mencoba mendeteksi aroma parfum Irwan. Ada sedikit, tapi tidak sekuat biasanya. "Masih sedikit."

"Kalau gitu," Irwan berbisik di telinga Maya, tangannya kembali bergerak nakal, "kita bisa coba cara lain."

Irwan menggeser tubuhnya turun, menjauhkan wajahnya dari leher Maya. Tangannya dengan lembut menyingkap kamisol Maya, mengekspos perutnya yang mulai membuncit.

"Mungkin dari sini," dia bergumam, bibirnya mengecup perut Maya dengan lembut.

Maya mendesah pelan, tangannya otomatis mengusap rambut Irwan. Sensasi bibir suaminya di perutnya terasa berbeda—lembut dan penuh kasih sayang, bukan gairah liar seperti yang dia rasakan dengan Pak Karyo.

Irwan terus bergerak turun, tangannya dengan hati-hati menarik celana dalam Maya. "Boleh?"

Maya mengangguk. Kehamilan membuat tubuhnya lebih sensitif, dan meskipun ada sedikit mual karena aroma parfum Irwan yang samar, gairahnya mulai tumbuh.

Tapi ketika wajah Irwan semakin mendekat ke area intimnya, gelombang mual mendadak menyerang Maya. Dia refleks menahan napas, tangannya mendorong bahu Irwan.

"Tunggu... Yang..." Maya berkata dengan napas terputus.

Irwan berhenti, menatapnya dengan khawatir. "Kenapa? Sakit?"

Maya menggeleng, wajahnya memerah karena malu. "Mual lagi. Maaf..."

Alih-alih kecewa, mata Irwan justru berkilat dengan pemahaman. Dia kembali naik, berbaring di samping Maya. "Bahkan untuk ini juga?"

"Iya," Maya menjawab dengan rasa bersalah. "Nggak tau kenapa..."

"Menarik," Irwan bergumam, tangannya masih mengelus perut Maya dengan lembut. "Benar-benar respons biologis yang kuat."

Maya menatap suaminya dengan takjub. "Kamu nggak marah?"

"Kenapa harus marah sama sesuatu yang nggak bisa kamu kontrol?" Irwan tersenyum tipis. "Lagipula..." dia mendekatkan bibirnya ke telinga Maya, "ini malah bikin aku penasaran. Seberapa jauh tubuh kamu... preferensinya."

Maya menelan ludah, jantungnya berdebar lebih kencang. "Irwan, kamu beneran nggak cemburu?"

Irwan terdiam sejenak, tatapannya menerawang. "Cemburu? Tentu saja. Tapi anehnya, cemburuku malah jadi... pemicu gairah baru." Dia menggelengkan kepala, seolah masih takjub dengan dirinya sendiri. "Aku nggak bisa ngejelasin, tapi aku mau eksplor ini lebih jauh."

Maya mengangguk pelan, menggenggam tangan Irwan di perutnya. "Kita akan jalan pelan-pelan, ya? Aku... aku nggak mau merusak apa yang kita punya."

"Nggak akan," Irwan meyakinkan, mencium kening Maya lembut. "Kita sekarang lebih jujur dari sebelumnya. Lebih terbuka. Itu yang penting."

Mereka berbaring dalam keheningan nyaman, tangan saling bertaut di atas perut Maya, tempat bayi mereka—bayi Pak Karyo—tumbuh. Sebelum tertidur, Maya berbisik, "Aku mencintaimu, Irwan."

"Aku juga mencintaimu," balas Irwan, memeluk Maya dari belakang. "Selalu."

Bermbung guys ...

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Categories

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

BTemplates.com

POP ADS

Blogroll

About

Copyright © Cerita Panas | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com